LEBARAN DAN KUPATAN DI SHANGHAI

Maraknya cerita teman teman di tanah air tentang Lebaran, membuat saya tercekat rindu akan tanah air. Terbayang bayang suasana Lebaran yang cukup kental. Sepertinya hanya di Indonesia, hari raya Idul Fitri dirayakan besar besaran sampai cuti berhari hari. Hiruk pikuknya kota besar seolah olah terhisap pindah ke kota kota kecil.


Pada malam terakhir bulan puasa, kami bertiga – saya, Menik dan Anne – sepulang dari mesjid Fu You Lu – Shanghai, bertakbir sepanjang jalan menuju pulang. Kalau capek, mulut ini berenti sambil diselingi minum. Lumayan nyonyor nih mulut, apalagi diliatin orang orang, cuek bebek dah. Kadang kami juga menyanyikan lagu lagu perjuangan Indonesia seperti Bagimu Negeri, Rayuan Pulau Kelapa dan Indonesia Raya. Apa hubungannya coba? Nggak ada sih, tapi kuangen banget sama Indonesia deh. Setelah mendekati rumah, di sekitar jembatan penyeberangan di kawasan padat Xujiahui ada 2 orang Maroko mendatangi kami menanyakan apakah betul besok adalah Eid Mubarak, karena di negaranya Lebaran baru tanggal 4 sedangkan di Shanghai tanggal 3. Yah…karena kita di Shanghai, ikut lebarannya ya tanggal 3.
Sesampai di rumah kami terkapar kecapekan.


Esok paginya sekitar jam 7:30 kami berangkat ke mesjid tua Xiao Tao Yuan di kawasan jalan Fuxing untuk sholat Ied yang diadakan jam 9 pagi. Sedikit berbeda dengan kebiasaan di tanah air. Disini, pada saat kita datang disambut dengan semangkok bubur ketan hitam dan sepiring kecil bakpao. Kitapun bisa langsung ke dalam mesjid ataupun ngobrol ngobrol dulu dengan yang lain sambil mendengarkan ceramah yang tentunya dalam bahasa Cina. Untuk sholatnyapun bukan di lapangan terbuka seperti di tanah air, tetapi di dalam mesjid. Setelah selesai sholat, para jemaah bersalam salaman dan kamipun bersiap untuk unjung unjung ke rumah warga Indonesia yang dituakan, sesepuh maksudnya, sesuai dengan kebiasaan yang kami lakukan bila di tanah air, tapi eittt….tunggu dulu.


Lha kok di depan mesjid ada yang nggelar lapak dikerubuti orang banyak. E..lha dalah ternyata jualan barang2 kerajinan khas Cina tapi bernafaskan Islam. Welah kesempatan nih, mana ada di Shanghai barang begituan. Mulai deh kami ikut ikutan ngedeprok sambil odal adul jualannya si bapak selama lebih dari sejam, …duh ampe pegel dan njarem sikilku. Macam macam yang dijual dari kalung yang bisa menyala kalau gelap, gantungan untuk hiasan rumah, tempelan untuk pintu luar yang warnanya khas Cina merah ngejreng bertuliskan kalimat Syahadat, tasbih dari batu berukiran asma Allah, kalung, gelang, sampai hiasan dinding. Semuanya berhiaskan kaligrafi dengan pernak pernik khas Cina. Heboh deh pokoknya. Dan si bapak penjual ternyata menempuh perjalanan jauh dari Provinsi Hunan di selatan sono dan jualannya hanya hari itu saja. Abis itu, ya pulang balik ke Hunan.


Puas nongkrongin si bapak, baru deh unjung unjung ke rumah sesepuh warga Indonesia. Disana kami disuguhin ketupat, sambel goreng hati, sate ayam, emping…wuah…Indonesia banget. Setelah kenyang sambil sempet sempetnya mbungkusi makanan (lha emang disuruh dan rejeki pantang ditolak), aku ngantar Menik ke sekolah. Udah ijin sih sebelumnya untuk masuk siang.


Esok malamnya ada undangan kupatan di salah satu warga Indonesia yang itungannya masih sesepuh. Hidanganya alamak lebih beragam lagi, ada siomay, sate kambing, sop kaki sapi, lemper, lumpia, dan tentu saja ketupat dan jodohnya seperti sambel goreng hati, sambel goreng manisah (apa sih bahasa Indonesia untuk jenis makanan ini yang terdiri dari labu siam trus sayurnya santan mlekoh kemerah merahan). Si tuan rumah nggak pede menghidangkan sop kaki sapi, dan menyingkirkan onggokan kaki sapi di dapur. Begitu juga dengan sate kambingnya yang udah dilolosin dari tusuknya. Katanya sih karena tampilan lengkap dengan tusuknya bikin ngeri. Walah, saya jadi malah rugi nggak ngambil lha wong nggak keliatan kalau itu sate. Tahu kalau itu sate, embat aja bleh. Setelah puas incip sana incip sini, baru beramah tamah dengan yang lain. Pulangnya kami masih juga disuruh mbungkusi. Wah…rejeki masak ditolak ya. Lumayan buat sangu besoknya, karena akan pergi rame rame ke Yiwu.


Nah…karena tadi semua itu adalah komunitas Indonesia, saya pengen juga ngadain halal bihalal atau kupatan dengan tamu dari berbagai bangsa. Itung itung ngenalin kekayaan kuliner Indonesia. Sambil muter otak gimana ya caranya, lha wong kami tinggalnya di apartemen kecil dan nggak ada pembantu. Akhirnya diputuskan mengundang kalangan terbatas yang penting semua komunitas terwakili. Bukan berarti kami pilih pilih tapi karena emang tempat dan tenaga yang terbatas. Dari komunitas teman teman kantor suami, komunitas Cina Muslim, dan tentu juga komunitas Indonesia.


Dengan bantuan sumbangan makanan dari teman teman seperti bakso yang didatangkan dari Indonesia, martabak telor dan puding, mulailah saya menyiapkan menu ketupat yang dipersiapkan seminggu sebelumnya. Ketupat yang saya pesan dari seorang teman dan tentunya menggunakan janur, ogah ah kalau pakai plastik, nggak seru. Untungnya janur banyak di jual di pasar bunga dan untungnya lagi ibu si teman yang mahir bikin ketupat ini sedang berada di Shanghai jadi nggak susah susah deh. Biar nuansa Lebaran ala Indonesia makin terasa, saya minta disisain ketupat kosongnya buat hiasan disana sini yang ternyata kagak disanggupi, cuma diusahain kalau bisa. Katanya, bikinnya susah euy…. Ngulak ngulik di internet, aha…nemu deh cara bikin ketupat. Mulailah saya asik mengotak atik pita dimanapun berada, nggak di bis nggak di rumah.


Alhamdulillah akhirnya bisa setelah beberapa hari asik berkutat. Tanpa menunggu waktu lama terpasanglah ketupat pita disana sini. Sekarang urusan teman makan ketupat. Seperti sambal goreng hati, sayur labu siam, sate ayam, dan tidak lupa jajanannya seperti risoles, pastel, bika ambon, brownies dan untuk seger segernya es dawet dan buah buahan. Sengaja nggak pake opor ayam, karena masakannya pada bersantan semua seperti sambel goreng hati dan sayur labu siam, biar nggak eneg. Untuk isi pastel dan risoles dipersiapkan sehari sebelumnya dan esoknya tinggal bikin kulit. Begitu juga untuk brownies, bika ambon dan es cendol dibuat beberapa hari sebelumnya.


Urusan beli daging halal emang rada ribet disini, apalagi yang namanya jerohan. Untungnya masih bisa beli hati sapi di tukang daging di mesjid Hu Xi, meskipun harus pesan beberapa hari sebelumnya. Dan hati sapinya masih suegerrr banget. Saking suegernya, si hati masih hangat lho. Sapinya baru dibeleh kali ya. Begitu juga untuk isian sayur labu siam, rasanya lebih afdol kalau dikasih pete dan krupuk kulit. Untungnya beberapa minggu menjelang Lebaran ada kiriman harta karun dari ibu tercinta di Surabaya berupa krupuk kulit mentah, daun salam, tepung untuk bikin lapis Surabaya (itu tuh yang tinggal dikasih telor ama mentega yang merknya P*****), tepung bika ambon, bawang goreng, bawang putih goreng, kripik ceker ayam, wuah banyak deh pokoknya. Banyak teman yang hadir pada kalap mengetahui bahwa di sayur labu siam nampak pete bertebaran. Kadang kalau beruntung, di supermarket khusus ada juga pete yang didatangkan dari Thailand, baik yang sudah dikupas ataupun yang masih dalam selongsongnya.


Tentang pete ini ada cerita lucu. Seorang teman yang pengen sambel pete, menanyakan dimana bisa mendapatkan pete di Shanghai, karena bahasa Inggrisnya mboten weruh apalagi bahasa Cinanya. Lagian persediaannya belum tentu ada. Daripada sudah datang jauh jauh mendingan telpon aja dulu. Saya yang amat sering mengunjungi superkampret tsb karena dekat dengan lokasi sekolahnya Menik, menelpon kesana menanyakan apakah sang pete ada. Tentunya si penerima telpon yang orang lokal nggak ngerti, menanyakan si pete itu ada di daftar katalog nomer berapa. Karena mas pete ini barang baru, jadi belum tercetak. Saya akhirnya minta ngomong sama orang Singapore yang cukup banyak bekerja di superkampret tsb. Dan bingo….tanpa penjelasan panjang lebar si Singapore ini mengerti. Malah dia tanya balik ke saya ” The one that has strong smelly, right?”. Hi…hi…hi..jadi malu….deh. Cewek cewek kok nyarinya pete. Belum tahu dia enaknya pete. Saya sih juga bukan penggemar pete, cenderung nggak suka malah. Karena saya udah merasakan buktinya, bahwa dengan tambahan pete si sayur labu siam rasanya jadi tambah mantap dan sedap. Karena saya ngasihnya lumayan banyak, jadi ya kesendok lah ke piring saya. Kalau nggak sengaja masuk mulut, apa daya emplok aja deh.


Ternyata uenake….rekk..Tapi saya nggak mau makan banyak banyak dan sering sering. Bikin (maaf) kentut baunya Masya Allah.


Puas rasanya bisa mengadakan kupatan sendiri dengan hidangan yang sebagian besar buatan sendiri, meskipun ala kadarnya. Hikmah yang saya dapatkan, pada saat kepepet, motivasi dan keinginan yang kuat yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu sehingga apa yang tadinya nggak kepikiran bisa melakukan ternyata bisa meskipun dengan tertatih tatih.


Wassalam

Evia – Shanghai

LagiManggangBikaAmbonSambilNgetikPostingIni

SakingAsiknyaLupaNengokAmpeBikanyaAmpirGosong

Advertisements

12 thoughts on “LEBARAN DAN KUPATAN DI SHANGHAI

  1. Ass..
    Wah seru banget baca postingan mba ngerayain lebaran di shanghai…
    Saya baru taun ini insyaallah ngerayain lebaran di shanghai…
    Mba via apa masih tinggal di shanghai?

    Wass..

    • Wa’alaikumsalam Ratih.
      Sebaiknya salamnya jangan disingkat ya. Kalau mau menyingkat, tulisannya Salaam, bukan Ass, maknanya berbeda lho.

      Ini postingan tahun 2005, waktu masih tinggal di Shanghai. Sekarang sudah gak di Shanghai lagi, akhir tahun 2005 sudah pindah Ratih.
      Ratih tinggal di Shanghai? Atau berkunjung saja?

      • Ooh maknanya beda ya mba..makasih udah dikasih tau karena masih kebawa budaya smsan di indo seperti itu…hehe
        Saya tinggal di shanghai..baru awal bulan juli kemarin tiba di shanghai mbak..

        Mba via sekarang sudah balik k indo?

        • Yoi, maknanya beda.
          Kalau Assalamualaikum mau disingkat, baiknya Salaam, itu masih ada maknanya. Kalau disingkat Ass gak ada artinya, malah kalau di bahasa Ingrris artinya bok*ng.

          Eh tinggal di Shanghai berapa lama? Tinggalnya dimana? Tugas atau sekolah?
          Aku dulu di kawasan Xujiahui.
          Sekarang aku tinggal di Amerika.

  2. sepasangmatabola said: Hwa… mbak Via, asik banget ceritanya. Oh ya, sugeng riyadi ya, mbak, maaf lahir batin dariku. Oh ya, boleh dong minta alamat rumahnya di MN via PM, mbak. :))Foto-foto Lebarane tak tunggu lho, mbak, apa lagi karena foto-foto jepretan mbak Via selalu bagus… :))

    Sugeng Riyadin buat mbak Sri sekeluarga. Maaf lahir batin kalau ada salah salah kata selama kita berteman. Foto2 Lebaran, Insya Allah nanti diupload. Kalau ada mood dan gak males. xixixixixix..

  3. gamelan said: Wis, nek baca tulisane selalu pingin makan! Eeehm uenake.

    Hwa… mbak Via, asik banget ceritanya. Oh ya, sugeng riyadi ya, mbak, maaf lahir batin dariku. Oh ya, boleh dong minta alamat rumahnya di MN via PM, mbak. :))Foto-foto Lebarane tak tunggu lho, mbak, apa lagi karena foto-foto jepretan mbak Via selalu bagus… :))

  4. lamien said: wedang jae siapkan…

    Alhamdulillah suka. Sebenernya dikukus lebih uenakkk lagi, rasanya lebih maknyussss (pinjem istilahnya kepala suku jalansutra). Mesjid kuno Songjiang udah punya. Wedang jahe?? Uh…untung masih ada sekoteng siap seduh. Emang dingin dingin gini muantap yah, apalagi kalau minum wedang ronde. Mau bikin wis gak ono mood. Sebentar lagi dah minggat. Pikiran udah nggak di SH lagi.

  5. Wah Evy, bika ambonny ueeannakkkk… ga sempat di kukus tandas blasss blasss bablasss sak angine..Emang di Tiongkok ini enak kalau ada kanca..Besok mo nyoba resto Padang di Xujiahui..Eh photo photo di masjid kuna di Songjiang udah punya ta?Aku juga ada moto beberapa saudara Muslim Tionghoa disana.. Kalau durung tak kirim ntar by email..Salam dan selamat berdingin dingin ya.. Sesuk -1 Celcius.. wedang jae siapkan…

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s