Xi An – kota tua

Foto selengkapnya tentang Xian lengkap dengan dumplingnya yang cantik ada disini

Terinspirasi oleh tayangan film dokumenter berjudul “Journey into Islamic China” yang dalam terjemahan bebasnya “Kisah Penyebaran Agama Islam di Cina”, saya tertarik untuk menjelajahi tempat tempatdi Cina yang disebutkan dalam film tersebut, dimana banyak bermukim kaum muslim seperti Xinjiang, Xi’an, Henan. Karena keterbatasan waktu, saya memillih untuk ke Xi’an yang jaraknya relatif lebih dekat dari Shanghai dibanding ke Xinjiang yang berada di ujung sebelah Barat Cina.

SEKILAS TENTANG XIAN
Xian adalah kota yang sangat tua dan pernah menjadi ibukota negeri Cina selama ribuan tahun sebelum berpindah ke Nanjing dan Beijing. Selain itu Xian adalah ibukota provinsi Shaanxi yang terletak di sebelah Barat dari kota Shanghai. Dengan jumlah penduduk diperkirakan 7 juta jiwa dan sekitar 80ribunya memeluk agama Islam, kota ini merupakan kota dimulainya rute jalur sutera. Konon katanya jalur sutera membawa dampak penyebaran agama Islam, sehingga makin jauh rute Jalur Sutera makin banyak ditemukan komunitas Islam pada jalur jalur yang dilalui.

Rabu 29 Juni, 2005 sekitar pukul 03:00 siang saya berdua dengan anak berangkat menuju Xian dengan kereta api. Sengaja memilih kereta api, selain waktunya nggak mepet dan juga pengen merasakan kereta api di Cina untuk perjalanan jauh.

Rata rata kereta api disini terbagi dalam 4 kelas.
Yang paling mahal soft sleeper, dan tiap kamar terdiri dari 2 bunk bed atau tempat tidur bersusun dua. Dibawah kelas soft sleeper adalah hard sleeper yang tiap kamarnya terdiri 2 bunk bed juga yang tempat tidurnya bersusun tiga. Tentunya jarak antar tempat tidur di atasnya lebih mepet dibanding soft sleeper. Setelah itu ada soft seat dan hard seat yang hanya berupa kursi duduk saja. Karena kondisi kebersihan di Cina rata rata menyedihkan, kami memilih kelas yang paling mahal yaitu soft sleeper dengan harapan toiletnya bersih dan nggak bau dengan harga tiket 500 yuan (1 yuan kira kira = 1250 rupiah kurs waktu itu) untuk sekali jalan tanpa makan. Nyaman untuk perjalanan jauh. Kondisi toilet juga nggak jelek jelek amat, sesuailah dengan harga yang kita bayar.

Selama perjalanan, petugas kereta mondar mandir menawarkan makanan, buku bacaan dan sebagainya. Yang cukup mengagetkan kami adalah mereka juga menawarkan aneka mi instan yang berlabel halal. Kamipun juga tidak perlu kelaparan karena sudah mempersiapkan makanan dari rumah.

Kamis 30 Juni, 2005 sekitar pukul 08:00 pagi sampailah kami dikota tujuan Xian.
Langsung menuju hotel untuk mandi dan sarapan, siap untuk mengikuti tur hari pertama menjelajah bagian timur kota Xian yang berupa berbagai museum, mausoleum dan tentu saja tak ketinggalan terracotta warrior museum yang menjadi andalan mereka dan termasuk salah satu situs yang dilindungi UNESCO.

Malam harinya kami menuju kawasan perkampungan muslim yang dikenal dengan nama Hui Min Jie yang berlokasi di sekitar Mesjid Agung yang merupakan mesjid terbesar di Xian. Di siang hari lokasi ini cukup ramai dengan penjaja makanan, tetapi di malam hari lebih ramai lagi mirip pasar senggol. Hampir semua rumah membuka kedai atau restoran. Dari jalan besarnya sampai di gang gang sempit, wuah….bisa kalap deh kalau tidak memperhatikan kapasitas perut. Di tempat ini pulalah saya pertama kalinya selama tinggal di Cina bisa makan seenak udelnya tanpa takut terkontaminasi barang barang yang dilarang oleh agama saya, karena hampir tiap kedai dikelola atau dimiliki oleh muslim dan dimana mana terpasang tulisan besar besar mencantumkan label halal.

Konon kabarnya perkampungan ini lahir sejak adanya Jalur Sutra. Mayoritas muslim disini adalah dari suku Han. Makanan yang dijajakan disini sangat sangat beragam, mulai dari kebab kambing ayam dan sapi, bakpia, enting enting gepuk, lumpia, putu, mi goreng, dan…. aduh…banyak buanget dan saya nggak tahu namanya satu persatu. Banyak diantaranya yang mirip makanan di Indonesia. Konon kabarnya, para perantau kaum Cina yang sekarang beranak pinak di Indonesia umumnya berasal dari suku Han. Jadi ya nggak heranlah kalau makanannyapun banyak miripnya.

Pada hari pertama dan kedua kami ke kawasan Hui Min Jie ini dengan ditemani sang guide, jadi kami nggak kesulitan memilih makanan sedangkan di hari ketiga sampai hari kelima kami kesana berdua dengan Menik saja dan tiap kali menginginkan makanan kami tinggal tunjuk.

Kebab disini pake tusukan dari besi panjang yang kurus. Berbeda dengan kebab di Shanghai yang kebanyakan penjualnya adalah dari Xinjiang dimana tusukan satenya dari bambu yang panjangnya dua kali panjang tusukan sate di Indonesia.

Bakpia seperti di Jogja, disini nyebutnya bukan bakpia, tapi sebut aja seperti itu karena memang mirip banget sih.. Enting enting gepuk, entah disini namanya apa, karena makanan yang saya beli kebanyakan hanya pake tunjuk tunjuk. Kue putu sedikit lebih besar dari putu Indonesia dan isinya bukan gula merah tapi manis2an dan ditaburi gula pasir. Muanisnya bikin eneg deh, tapi anak saya suka banget. Disini dinamakan “mirror cake”.

Mi gorengnya juga seperti mi ala Chinese food di Indonesia. Sampai bebek panggang pun juga ada. Puas menikmati makanan disini, kami pulang ke hotel dengan naik ojek ala Xian yang di belakang motor ada tempat buat 2 penumpang. Ojek di Xian memang bentuknya macam macam, ada yang pake penutup diatasnya untuk mengantisipasi hujan atau kepanasan.

Jumat 01 Juli, 2005 tur hari kedua ke HuaShan atau Gunung Hua.
Dijemput sekitar jam 8pagi karena HuaShan berlokasi di luar kota Xian yang memakan waktu sekitar 2 jam. Sebelum memulai mendaki gunung, kami dibawa ke tempat penjualan obat tradisional Cina. Beberapa jenisnya mirip kencur laos jahe di kita, cuma mereka sudah dalam bentuk kering. Pendakian disini bisa milih, mau naik kereta gantung atau jalan kaki. Kalau jalan kaki sudah ada jalurnya, yang bila dilihat dari kereta gantung jalurnya meliuk liuk menyusuri gunung yang mayoritas berupa batu padas, sungguh pemandangan yang cantik.

Setelah kereta yang kami tumpangi mencapai puncak, kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke atas dimana bertengger kuil Budha. Sesampainya disana, eh….ternyata masih ada puncak lagi begitu seterusnya sampai saya nggak sempat menghitung berapa lagi puncak yang telah kami lalui. Dan beberapa puncak terselimuti kabut disekelilingnya bila dilihat dari puncak yang lain. Melihat pemandangan seperti itu mirip kisah kisah silat di dalam dongeng Mandarin.

Di beberapa lokasi, banyak terdapatan bentangan rantai sebagai pengaman dan di rantai tersebut banyak bergelantungan gembok yang digantung berpasangan. Lucu juga melihatnya. Setelah memperhatikan si gembok, ternyata banyak bergambarkan hati. Jadi inget kisah Pak Sindhiartha yang pernah ke sebuah gunung di Cina juga.

Di gunung ini saya bertemu seorang pekerja konstruksi yang sedang membawa sebilah pipa besi untuk dibawa ke atas, sedang ada pekerjaan konstruksi rupanya. Dengan berjalan kaki dari bawah gunung yang begitu curam dan membawa sebilah besi mendaki ke atas dengan bayaran tak lebih dari 10 Yuan untuk sekali jalan pulang pergi, tak nampak kesusahan tergambar di wajahnya, malahan si bapak menyanyi sepanjang perjalanan dengan suaraya yang sangat merdu. Tepukan dari para pendaki sepanjang perjalanan untuk sang bapak menambah semangatnya untuk terus bernyanyi. Sang bapak tahu bagaimana caranya menikmati hidup. Indahnya….

Kami berada di gunung ini sampai sekitar jam 6 sore dan sampai di kota Xian kembali sekitar jam 8 sore. Jam segitu langit masih terang benderang.

Makan malamnya, tentu saja kami kembali menjelajahi Hui Min Jie dengan mencoba berbagai macam makanannya yang menggiurkan mata ini. Kami mencoba semangkuk sup yang warnanya merah pedas cenderung coklat yang berisi potongan kedelai yang diolah mirip kikil. Rasanyapun mirip kikil kenyil kenyil pas banget dengan kuah supnya yang pedas. Dan tentu saja lagi lagi kami menyantap satenya dalam jumlah banyak, karena emang satenya kurus macam cacing letoy. Setelah memuaskan perut, kamipun pulang ke hotel. Di perjalanan si guide menawarkan untuk pijat kaki dan badan untuk melemaskan badan. Nyaman sekali rasanya setelah seharian mendaki gunung dan dan semalaman menjelajah Pasar Senggol.

Sabtu 02 Juli, 2005 tur hari ketiga yang menjelajah kawasan kota Xian dan sekitarnya. Diantaranya yang kami lakukan adalah mengunjungi Mesjid Agung yang telah berusia ratusan tahun (didirikan pada tahun 742). Di sekujur dinding dalam masjid, terdapat tulisan suratsurat yang terdapat dalam Al Quran dalam 2 bahasa, Mandarin dan Arab. Begitupun juga untuk ukiran dan berbagai hiasannya, mewakili berbagai dinasti sesuai jamannya, mulai dari Dinasti Tang, Song, Yuang, Ming dan Qing.

Kompleks mesjid ini cukup luas, dan pada waktu waktu sholat cukup banyak jemaah berdatangan baik itu warga lokal maupun dari mancanegara. Bangunannyapun cukup unik karena khas Cina banget, berbeda dari kebanyakan mesjid yang kubahnya berbentuk bulat dan puncaknya ditenggeri bullan sabit. Dari depan mirip dengan bangunan rumah Betawi. Selain itu kami juga mengunjungi Museum Lukisan, Bell Tower, Drum Tower, Ancient City Wall, Wild Goose Pagoda. Ancient City Wall dulunya dipakai untuk pembatas kota dimana disana prajurit di kota bisa melihat apabila ada tamu ataupun musuh yang akan datang. Seperti benteng gitu lah. Benteng ini cukup besar dan panjang, hampir membelah kota sehingga bila cuaca cukup cerah bisa bersepeda di atasnya. Saya melihat banyak orang mengendarai sepeda kembar. Itu lho sepeda yang dikendarai dua orang dan dua duanya mengayuh pedal. Karena waktu itu angin berhembus cukup kencang dan hujan yang kadang turun rintik rintik, kami tidak punya nyali untuk bersepeda ria.

Siang harinya kami makan siang di sebuah restoran muslim yang untungnya merekapun juga menyediakan dumpling yang konon katanya bila mengunjungi Xian makanan yang harus dicoba adalah dumplingnya. Per orang harus membayar 100 yuan untuk satu set dumpling yang saya pikir kok mahal juga ya. Tapi nggak papa lah pengen tahu seperti apa sih bentuknya si dumpling ini, apa seperti dimsum pada umumnya? Sambil menyantap hidangan lainnya yang sudah dipesan, sayapun menunggu dengan penasaran. Keingin tahuan sayapun akhirnya terjawab dengan datangnya setumpuk nampan bambu dimsum yang berisi dua tingkat. Isinya lumayan banyak mulai dari siomay isi daging sapi, daging ayam, daging ikan.

Rasanya juga lumayan enak, tetapi yang unik adalah tampilan si dumpling ini. Ada yang dibentuk burung, ayam, bebek, kelinci, kura kura, ikan, keranjang, bahkan yang mirip kantungpun juga ada. Lebih merupakan karya seni yang cukup sulit dari pada sekedar makanan. Sayapun tidak merasa sayang membayar 100 yuan untuk karya seni seperti itu. Setelah kenyang menghabiskan semua dumpling itu, eh…ternyata masih datang makanan lain yang rupanya satu paket dengan dumpling tersebut, yaitu semangkok besar sup sayur yang dihidangkan lengkap dengan kompor mininya, beserta tumisan sayur kailan dan jamur. Hampir meledak rasanya perut ini menerima semua makanan ini. Batal deh mencicipi makanan di pintu masuk restoran yang tampak menggoda dipajang di balik lemari kaca. Diantaranya yang bisa saya kenali adalah hakau goreng, roti yang mirip paratha, sup kepiting, pastel mini, nasi goreng, bihun goreng. Kelar makan di restoran ini, kamipun kembali ke hotel untuk bersiap siap menonton pertunjukan teater tentang kejayaan dinasti Qing.

Minggu 03, 2005 merupakan acara bebas dan kamipun kembali menjelajahi kawasan Hui Min Jie sejak pagi hingga siang hari. Bukankah sebelumnya penjelajahan di kawasan ini dilakukan pada waktu malam hari? Kami mulai dari ujung yang satunya sambil berjalan pelan pelan. Bisa dikatakan sebagian besar mereka berjualan makanan. Untuk sarapan kami mencoba jajanan yang mirip lumpia. Bahan isi sudah tersedia matang, sedangkan kulitnya dibuat pada saat ada pembeli. Rasanya?? Asam manis dan tentunya sehat gitu loh karena isinya sayur sayuran doang dan tanpa saus seperti lumpia semarang. Lumpia ini basah alias tidak digoreng.

Setelah menyelesaikan sang lumpia basah kamipun melanjutkan perjalanan lagi, eh…ketemu kios bebek panggang. Aha…kapan lagi menikmati bebek panggang kalau bukan disini, ya nggak? Kamipun memesan beberapa potong untuk dimakan sambil jalan. Perjalananpun dilanjutkan lagi sambil mata masih jelalatan tengok kiri dan kanan. Beberapa penjual daging nampak sibuk dan saya perhatikan jualannyapun bukan melulu daging tapi ada jerohan sapi juga yang di Shanghai tidak dapat kami temui terkecuali kalau pesan beberapa hari sebelumnya. Tapi untung juga susah mendapatkan jerohan sapi di Shanghai, lha kalau gampang saya jadinya pesen sesering mungkin kan. Duh…gudang penyakit nih ya kolesterol, ya asam urat…mana tahan.

Setiba di persimpangan gang sempit, kamipun belok ke kanan menuju ke arah Mesjid Agung dimana sepanjang gang banyak bertebaran kios kios suvenir. Mirip banget dengan suasana mesjid Ampel di kampung Arab di Surabaya. Bedanya mungkin kalau di Surabaya yang bertebaran tampang orang orang Timur Tengah, sedangkan di Xian bermata sipit.

Disini pula saya menemukan kios seniman kaligrafi yang terdapat dalam cuplikan film dokumenter yang saya sebutkan di awal postingan ini. Setelah saya telusuri sampai habis, kios ini merupakan satu satunya kios yang menjual kaligrafi. Lukisan kaligrafi yang dibuatnya khas Cina banget tanpa meninggalkan nilai nilai Islam. Sayapun membeli beberapa lembar untuk oleh oleh maupun untuk saya sendiri. Sebetulnya kami belum puas menjelajah kawasan ini apa daya waktu sudah hampir menunjukkan pukul 3 sore dan kamipun harus berkemas kemas untuk ke stasiun kalau tidak mau ketinggalan kereta yang akan berangkat menuju Shanghai sekitar jam 04:00 sore.

Kali ini perjalanan pulang cukup lama dan kami tiba di Shanghai keesokan harinya (Senin) pukul  jam 11 malam, karena keretanya beda dengan kereta pada waktu kami berangkat. Bukan kereta ekspress karena tiap stasiun brenti. Apa boleh buat, karena memang hanya itu yang tersisa dan waktunya juga pas libur panjang. Untung aja kami masih bisa mendapatkan soft sleeper sehingga tidak terasa melelahkan.

Advertisements

12 thoughts on “Xi An – kota tua

  1. gamelan said: Wah menarik sekali ceritanya. Jadi pingin nengok ke sana … ya kapan2 klo bisa. Thanks untuk sharing cerita.

    Meski belum pernah berziarah kesana……..cerita tirai bambu begitu tergambar elok……..Bikin setiap orang memecah celengan bambu tuk terbang kesana hehehe……… Kakak pertama Vie, Apa kabarnya?

  2. gamelan said: Wah menarik sekali ceritanya. Jadi pingin nengok ke sana … ya kapan2 klo bisa. Thanks untuk sharing cerita.

    Iya mbak Ratri. Nggak rugi deh kalau kesana. Paling pas kalau lagi musim semi. Nggak terlalu panas, juga nggak terlalu dingin. Makasih udah mau pinarak di rumahku

  3. sintalucia said: Saya menduga.. dimsum yang terkenal di Indonesia dibawa dari Guangzhou — sehubungan dengan banyaknya WNI Keturunan yang berasal dari Guangzhou. Dimsum sejauh ini paling banyak ditemui di Gz, di tempat lain susah carinya…

    Wah menarik sekali ceritanya. Jadi pingin nengok ke sana … ya kapan2 klo bisa. Thanks untuk sharing cerita.

  4. sintalucia said: Saya menduga.. dimsum yang terkenal di Indonesia dibawa dari Guangzhou — sehubungan dengan banyaknya WNI Keturunan yang berasal dari Guangzhou. Dimsum sejauh ini paling banyak ditemui di Gz, di tempat lain susah carinya…

    Denger denger sih katanya Dimsum dari Hongkong ya? Aku nggak tahu yang mana yang bener.

  5. bookshop said: Ternyata jauh lebih banyak yg menarik di Xian.

    Emang betul. Aku justru lebih tertarik hal hal beginian. Waktu dijadwalkan sama tour guide-nya ke museum2, aku minta ganti. Kebanyakan sih. Bosen jadinya menguap melulu. Waktu aku minta ke kawasan Hui Min Jie, doi rada nggak yakin. Soalnya katanya tempatnya kotor, makanannya juga nggak higienis. Dalam hatiku, belum tahu Indonesia ya, makanan AMIGOS (Agak MInggir GOt Sedikit) banyak penggemarnya tuh. Dan ternyata tempatnya nggak jorok kok. Kayak warung tenda di Jakarta yang banyak banyak bertebaran di pinggir2 jalan. 3haripun nggak bakal kelar menjelajah daerah ini, saking guedenya dan banyaknya yang dijual. Nggak Hui Min Jie aja yang musti didatangi, banyak deh pokoknya.

  6. enkoos said: Konon kabarnya, para perantau kaum Cina yang sekarang beranak pinak di Indonesia umumnya berasal dari suku Han. Jadi ya nggak heranlah kalau makanannyapun banyak miripnya.

    Iya Mbak… yang beranak pinak itu asalnya kebanyakan dari Xiamen (Fujian), Hainan dan Guangzhou (Guandong) — mungkin karena lokasi yang lebih dekat dengan laut sehingga gampang kabur dari China (pada waktu Revolusi Kebudayaan waktu itu)…Saya menduga.. dimsum yang terkenal di Indonesia dibawa dari Guangzhou — sehubungan dengan banyaknya WNI Keturunan yang berasal dari Guangzhou. Dimsum sejauh ini paling banyak ditemui di Gz, di tempat lain susah carinya…Jadi pengen liat Xi’an hehehe…

  7. enkoos said: Sekalian nih mau nagih lanjutan cerita elu yang tentang apply visa US itu lho.. :). Judulnya kalau nggak salah “USA: Non-Immigrant Visa Application”.

    Wah, thanks ceritanya yg menarik. Saya pernah ke Xian cuma yg ada di kepala saya wkt itu adalah Terracotta warriornya. Ternyata jauh lebih banyak yg menarik di Xian. Wkt ke sana, mereka senang sekali tahu bhw saya dari Indonesia karena mereka tahu Indonesia adalah negara muslim terbesar.

  8. enkoos said: Sekalian nih mau nagih lanjutan cerita elu yang tentang apply visa US itu lho.. :). Judulnya kalau nggak salah “USA: Non-Immigrant Visa Application”.

    waaaaa saya aja udah lupa :))entar saya liat ya, yang bagian #1 nya sampe di manaok saya tunggu foto2 nya !

  9. bataviarose said: wah, ada fotonya gak? saya belum pernah lihat yg spt gitu. thanks utk cerita nya yang menarik

    Tunggu yaaaa. Lagi dipilih pilih nih mana yang paling komplit buat ditampilkan. Thanks juga nggihhh udah mampir. Sekalian nih mau nagih lanjutan cerita elu yang tentang apply visa US itu lho.. :). Judulnya kalau nggak salah “USA: Non-Immigrant Visa Application”.

  10. enkoos said: Keingin tahuan sayapun akhirnya terjawab dengan datangnya setumpuk nampan bambu dimsum yang berisi dua tingkat. Isinya lumayan banyak mulai dari siomay isi daging sapi, daging ayam, daging ikan. Rasanya juga lumayan enak, tetapi yang unik adalah tampilan si dumpling ini. Ada yang dibentuk burung, ayam, bebek, kelinci, kura kura, ikan, keranjang, bahkan yang mirip kantungpun juga ada. Lebih merupakan karya seni yang cukup sulit dari pada sekedar makanan. Sayapun tidak merasa sayang membayar 100 yuan untuk karya seni seperti itu.

    wah, ada fotonya gak? saya belum pernah lihat yg spt gitu. thanks utk cerita nya yang menarik

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s