CACAR AIR

Eh ini bahasa Inggrisnya chickenpox bukan?

Beberapa minggu yang lalu temen sekelasnya Menik namanya Charles nggak masuk sekolah karena cacar air. Sejauh itu belum ada yang tertular. Menik jjuga baik baik saja. Sekolah juga mengeluarkan edaran sehubungan dengan hal tsb tentang apa itu cacar air, bagaimana penanganannya, apa yang harus dilakukan jika si anak terserang cacar air, tanda tandanya dan sebagainya. Sekilas sempat aku baca berdua sama Zane. Seingatku Menik sudah pernah kena waktu masih kecil, tapi lupa deh. Jadi kami ya tenang tenang saja. Belakangan guru kelasnya Menik melapor kalau Menik suka ngantuk di kelas, padahal tidurnya juga biasa biasa aja, nggak sampai larut malam. Wong anak kecil kan nggak kenal dugem begadang segala. Sampai disini, aku tenang aja. Menik sama aku tipe orang gampang tidur. Dimana saja, kapan saja tapi bukan siapa saja (emangnya iklan Coca Cola??) bisa tidur. Di perjalanan pulang ke rumah yang hanya makan waktu kurang dari sejam bisa tidur kok. Mungkin capek aja kali, begitu kataku ke gurunya. Hingga suatu hari Kamis sore, sepulang sekolah si Menik maunya langsung tidur. Katanya nggak enak badan dan ngantuk berat. Yo wis lah nak, tidur ae. Sampai keesokan harinya pules kalau nggak dibangunkan yo tetep tidur. Eh…di beberapa bagian tubuhnya bermunculan bintik bintik mirip jerawatan. Yang menemukannya si Zane. Ah…kena cacar air deh tuh anak. Ya udah, bolos sekolah deh. Itu hari Jumat, seminggu sebelum Thanksgiving. Aku yang panik bingung mau ke dokter, dicegah ama Zane. Katanya percuma juga. Paling ntar juga disuruh tidur, jangan kena angin. Ya sudahlah, jadinya selama beberapa hari tidur mulu kerjaannya. Makan minum di kamar, pipis dan be ol aja yang ke kamar mandi. Jalan boo, masak juga pake pispot, nggak perlu segitunya ah. Untung aja bolos sekolahnya nggak perlu lama lama karena bolosnya mulai hari Jumat, kemudian kepotong weekend 2 hari, dan hari Kamis dan Jumat minggu depannya adalah hari libur Thanksgiving dilanjut weekend. Praktis bolos sekolahnya hanya 4 hari.

Setelah si bruntus2 kulit ayam mulai bermunculan di awal awal sakit, beberapa hari kemudian mulai mongering. Nah….mulai deh si gatal menyerang. Aku bilang ke Menik,jangan digaruk deh, ntar sembuhnya kulitnya jadi burik. Kalau kain batik sih bagus, lha kalau kulit motif batik, hiyyy. Mau deh dia nurut dan kuku jari tangannya pada digunting biar tidak memancing keinginan untuk menggaruk. Karena bosan di kamar tanpa ngerjain apa apa, di hari ke empat Menik menggambar. Macam macam aja yang digambar dan juga merajut. Kebetulan di sekolahnya ada kegiatan ekstra kurikuler yang jumlahnya bejibun. Murid murid bisa memilih kegiatan mana yang disukainya. Dan Menik mengikuti beberapa diantaranya kelas memasak, animasi komputer, merajut dan main sepak bola. Memasaknya nggak yang ribet ribet banget, lha wong muridnya sak prentil prentil, paling tua ya Menik yang tahun ini berumur 10 tahun. Teman teman kelas memasaknya ada yang masih TK yang belum bisa baca tulis.

Alhamdulillah sekarang Menik sudah sembuh, sekolah lagi sejak Senin kemarin tanggal 28 November 2005. Ternyata, selain Menik ada lagi 2 orang yang terkena cacar air, salah satunya sobat kentelnya di kelas 2 yang juga ikutan kelas merajut. Nggak heran kalau tertular, wong runtang runtung (wira wiri) kemana mana berdua. Memang temen sekelasnya Menik cowok semua dan semuanya berdelapan. Jadilah dia mencari temen cewek di kelas lain. Beberapa hari kemudian 3 murid kakak beradik terkena cacar air. Untung yah cacar air hanya menimpa sekali seumur hidup dan lebih baik lagi kalau kita terkena pada saat masih kanak kanak.

Advertisements

3 thoughts on “CACAR AIR

  1. gamelan said: Ibunya sendiri ternyata juga blom pernah terkena cacar air. Tapi gimana wong anake dewe. Jadi dengan minggring2 dia bawa pulang anak itu.

    Lah..mustinya tambah dideketin, biar ketularan sisan. Abis itu enak tho, gak usah was was kalau deketan ama cacar air.

  2. Eeh, jadi ingat waktu Theresa yang di Sydney ditinggali anak temen yang lagi ke Melbourne bersama saya cari iklan untuk majalah Gamelan. Di jalan ada telepon katanya anaknya panas. Besoknya ke RS ternyata terkena cacar air. Ada perawat yang malah lari menjauh karena dia blom pernah terkena cacar air. Yah, tiga hari Theresa merawat anak itu. Tapi dengan rela dan senang kok ngrawatnya. Ibunya sendiri ternyata juga blom pernah terkena cacar air. Tapi gimana wong anake dewe. Jadi dengan minggring2 dia bawa pulang anak itu. Kasian masih 10 tahun dia harus bedaki bintul-2nya sendiri!

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s