BUDAYA MASYARAKAT LOKAL DIINTIP DARI PASARNYA

Dari jaman saya umbelen sampe sekarang detik ini ngetem di negeri pangsit, pasar menjadi kunjungan favorit saya.

Belakangan ini saya baru menyadari bahwa ternyata mengenal budaya dan kebiasaan masyarakat setempat bisa diteropong secara sepintas melalui pasar.

Selain karena alasan favorit, pasar juga mengingatkan saya tentang masa kecil saya sehingga otomatis selalu menjadi jujugan utama bila sedang mengunjungi suatu tempat dalam waktu lama.Tentunya yang dimaksud disini adalah pasar tradisional yang kondisinya di tanah air umumnya becek dan bukannya pasar modern seperti supermarket atau sejenisnya.

 

Hampir semua kota memilikinya, baik itu kota kecil apalagi kotabesar. Biasanya untuk kota kota di Jawa, penamaan pasar berdasarkan hari bukanya. Jadi kalau nama pasarnya Pasar Wage berarti bukanya pas Wage aja. Begitu juga kalau pasar Kliwon, bukanya pas Kliwon aja dong. Apakah itu berarti pasar–pasar di Jakarta seperti Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Jumat, Pasar Minggu, tadinya buka pada hari hari tertentu saja sesuai namanya? Walahualam. Mungkin ada yang tahu kisahnya.

 

Ibu sering mengajak saya ke pasar. Dan tentunya tidak lupa ibu membelikan jajanan pasar yang mungkin sekarang sudah mulai jarang dijual seperti gatot, tiwul, klanthing, ketan bumbu bubuk kedelai, lupis, gethuk, awug–awug, bubur Madura, jongkong. Beberapa jajanan masih bisa dijumpai sampai sekarang, yang terkadang dijajakan penjual dengan cara ngider (keliling) keluar masuk kampung dengan cara disunggi (disungun). Disunggi artinya ditaruh di atas kepala si penjual dan jajanan tersebut diletakkan dalam keranjang besar.

 

Pecel kampung juga mudah ditemui yang harganya lebih murah dibanding pecel di pinggir jalan, karena target pembeli mereka kebanyakan para pedagang di pasar tersebut. Buah–buahan yang sekarang sudah langka juga bisa ditemui di pasar seperti juwet (bentuknya bulat lonjong warna ungu hampir hitam, rasanya asam manis dan cara makannya dicocol garam dan gerusan cabe), kesemek dan masih banyak lagi yang saya sudah tidak ingat.

 

Jaman saya masih kecil, mereka masih menggunakan daun jati dan kadang kadang daun pisang sebagai pembungkus barang–barang yang kita beli. Sedangkan untuk barang–barang mracangan (sembako kali ya kalau istilah sekarang) seperti beras, tepung, telur, gula, kacang–kacangan dan sejenisnya, mereka menggunakan kantong kertas. Entah sejak kapan daun jati dan daun pisang diganti dengan plastik. Tetapi beberapa saat lalu tepatnya sekitar bulan Agustus 2005 waktu saya mengunjungi pulau Madura, penjual sayur keliling masih menggunakan daun jati sebagai pembungkus.

 

Sampai saat ini, apabila saya mudik ke Surabaya dan ibu yang sudah sepuh akan pergi ke pasar, saya kadang ngintil mengikutinya dan kadang–kadang diikuti pula dengan anak saya. Berendengan deh tiga manusia beda generasi beriringan ke pasar.

 

Setelah saya mandiri dan biasa pergi kemana mana sendirian mulailah petualangan jalan jalan dan tidak lupa menyempatkan diri mengunjungi pasar di masing masing kota yang saya kunjungi.

 

Waktu kunjungan ke sebuah pasar di Bandung akan mudah dijumpai berbagai jenis dedaunan untuk dimakan yang bagi saya terasa aneh. Cocok kan dengan kebiasaan suku Sunda yang gemar akan lalapan, sampai sampai ada anekdot yang saya dengar dari kakak sepupu yang menikah dengan orang Sunda, katanya “lepas aja orang Sunda di kebon dengan secobek sambel. Pasti abis dah dedaunan di kebon”. He.he..he.. Maap bagi orang Sunda, jangan marah ya. Sekedar guyonan. Pantesan orang Sunda kulitnya terlihat segar dan sehat, karena banyak makan lalap.

 

Lain lagi cerita waktu kunjungan ke pasar di Jogjakarta dan Magelang dimana terdengar orang orang bercakap dengan bahasanya yang halus dan santun, seperti orang Jawa Tengah pada umumnya. Seperti contohnya pasar Beringharjo di Jogjakarta dan Pasar Klewer di Solo yang terkenal, dan saking terkenalnya sampai dijadikan tujuan wisata. Kalau sedang berkunjung ke Jogja atau Solo, bukannya Malioboro yang menjadi kunjungan keharusan bagi saya, tetapi justru Pasar Beringharjo dan Pasar Klewer. Selain menjual segala kebutuhan sehari hari seperti sayur–sayuran, daging, barang pecah belah, kebutuhan pokok sampai jajanan kecil, kitapun bisa menemukan bahan bahan jamu, baju dan batik, bahkan bahan bahan untuk membuat batik pun ada. Mudah sekali mendapatkan batik disana, karena memang Jogja dan Solo kota batik toh. Kenapa dinamakan Klewer? Entahlah. Yang paling berkesan bagi saya adalah menikmati sego (nasi) gudeg depan pasar Beringharjo sambil ndodok (jongkok) dan juga kalau mau milih kain batik, dibeber(digelar) di depan kita sambil tercium samar–samar wanginya malam batik. Andok (makan di tempat) sego liwet depan pasar Klewer, wuah jangan sampai terlewatkan. Di dalam pasar Klewer, buanyak sekali ayam penggeng yang penampilannya mlekoh(menggiurkan) dengan warnanya coklat berkilat agak sedikit gosong. Uh…sedapnya.

 

Waktu saya bekerja di Duri, sebuah kota kecil di propinsi Riau Sumatra, pasarnya berbeda lagi. Kotanya memang kecil namun termasuk salah satu penghasil minyak terbesar di Indonesia. Suku asli yang berada di kota tersebut adalah suku Melayu, tetapi karena di Duri beroperasi perusahaan penambang minyak, maka banyak dijumpai pekerja dari bermacam suku terutama dari Jawa, Batak dan Minangkabau. Jenis sayur yang kebanyakan tersedia adalah daun singkong. Memang menu sayur di dapur Minang kebanyakan adalah daun singkong dengan berbagai olahan seperti digulai, dikare ataupun direbus begitu saja. Bayam dan tempejuga ada, tetapi kebanyakan penjualnya adalah orang Jawa. Bumbu bumbu yang mudah ditemui adalah yang biasa dipakai dalam kuliner Minangkabau, seperti asam kandis, anis atau bunga lawang dimana bumbu–bumbu tersebut belum pernah saya jumpai di pasar di kota Surabaya kecuali
di pasar yang besar. Kudapan yg paling saya suka adalah ketan dibungkus seperti ketupat dan luarnya penuh lumuran santan yg (melimpah dan menggiurkan) . Karena nggak tahu namanya, setiap kali titip beli sama ibu kos, saya bilangnya kupat ketan yg bumbunya diluar. Jajanan yang mudah ditemui setiap bulan puasa adalah lamang ketan yang dijual lengkap dengan wadah bumbung bambunya. Baunya merangsang gurih sekali…, dimakan dengan tapai ketan.

 

Jengkol juga merupakan barang yang mudah ditemui di pasar di Duri karena disana memang banyak penggemarnya, tidak seperti petai yang mudah ditemui di pasar di Jawa Timur, karena di Jawa Timur petai memang lebih digemari ketimbang jengkol. Ikan juga banyak tersedia di pasar di Duri tetapi terbatas hanya ikan air tawar karena Duri jauh dengan pantai. Kalaupun ada, harganya relatif cukup mahal.

Beda dengan Surabaya sebagai kota pantai, dimana ikan air tawar apalagi ikan laut tersedia cukup berlimpah, dan harganyapun relatif lebih murah.

 

Ada pasar yang cukup besar di Surabaya namanya Pasar Pabean yang cukup terkenal dengan ikannya dan saat ramainya adalah menjelang tengah malam karena ikan segar mulai berdatangan pada saat itu. Berbagai macam ikan mulai dari yang sebesar teri sampai ikan sebesar becakpun ada. Pasar tersebut sebetulnya bukan cuma pasar ikan, karena di siang hari di bagian lain dari pasar tersebut juga tersedia barang barang lain seperti pada umumnya sebuah pasar. Dan juga bila mau mencari batik Madura dan Sidoarjo, disinilah tempatnya kalau tak ada waktu pergi ke Madura maupun Sidoarjo.

Nah…lain lagi pasar di kota Tuban di Jawa Timur, yang bisa dicapai kira kira 3 jam perjalanan ke Barat agak naik dari Suroboyo. Karena posisinya di pantai, ikan lautnya banyak sekali dan tentu saja harganya relatif murah. Pasar di Tuban tidak begitu banyak yang bisa saya ceritakan disini, karena memang pasarnya buka sampai sore saja, sedangkan siang harinya saya nguli dan setiap minggu saya pulang ke Surabaya sehingga jarang berkunjung ke pasarnya. Yang bisa saya ingat adalah pasarnya berlokasi di atasnya Goa Akbar.

Saat lain sewaktu kunjungan ke kota Rantepao Tana Toraja di Propinsi Sulawesi Selatan. Buah terong belanda tersedia dimana mana sepanjang tahun, begitu juga buah markisa. Markisanya berkulit hijau yang enak sekali kalau dibuat jus. Beda dengan markisa yang saya temui di sebuah pasar dekat Danau Atas Danau Bawah di Sumatra Barat yang kulitnya berwarna kuning ranum cenderung oranye. Markisa oranye tersebut bisa langsung dimakan dengan dipijet kulitnya agak keras sampai pecah, plop…keluarlah isinya yang berair dan manis itu. Disedot atau bisa juga disendok dan dimakan sama bijinya, ah….seger sekali dimakan di hawa dingin. Kalau sedang musimnya, harganya bisa cuma Rp 2.000 perkilo kalau sudah sampai Duri. Bandingkan dengan harga markisa di Pulau Jawa yang bisa sampai Rp.12.000 per kilonya. Itu harga waktu saya liat di supermarket. Tapi kalau sedang tidak musim, selain jarang yang jual, harganyapun berkisar 5 sampai 6 ribu perkilo, masih lebih murah dibanding di pulau Jawa. Itu semua harga–harga antara tahun 1998 – 2000.

 

Di saat bulan puasa beberapa tahun yang lalu, saya sedang berkunjung ke kota Padang. Waktu itu diajak teman ke sebuah pasar kaget. Wuaduh…isinya…membuat saya lapar mata. Menjelang buka puasa, segala jenis makanan ada dan terutama tentunya makanan khas Padang seperti tapai lamang, ketupat ketan dengan bumbu kari, martabak Kubang, kupat sayur, dan masih banyak lagi yang tidak sempat saya inget. Wong sudah beberapa tahun yang lalu.

Saat ini, karena sedang berada di Shanghai untuk waktu yang cukup lama, tentunya sempat dong berkunjung ke pasar–pasarnya, meskipun tidak bermaksud membeli sesuatu. Apa saja yang bisa ditemui di pasar sini? Selain mi, hal yang mudah ditemui adalah tahu. Aneka macam tahu dari yang berwarna putih bersih sampai coklat muda, dari yang mulus sampai yang berblentong blentong hitam, dari yang halus sampai yang kasar berlubang lubang, dari yang bulet gepeng, bulet bunder sampe kotak ataupun bentuk lembaran, tapi bukan kembang tahu loh. Dari yang tak berbau sampai yang berbau menyengat kayak comberan. Heran deh…apa enaknya makan makanan bau comberan. Eh…orang Indonesia pun juga begitu ya, lha terasi itu buktinya? Saya kalau lagi manggang terasi, baunya bisa sampai berhari hari seisi rumah. Baunya seperti kaos kaki yang nggak pernah dicuci kata suami saya. Meskipun begitu, masakan kalau sudah dikasih terasi bisa bikin merem melek makannya saking enaknya.

Dan yang tidak ketinggalan di pasar sini adalah selalu ada wow….daging babi jrengg….. Ya nggak heran lah kalau daging tersebut amat sangat mudah ditemui, wong sangat populer disini mirip selebritis deh. Kalau kita pergi ke restoran dan tidak tercantum nama dagingnya, tapi di makanan tersebut ada potongan daging kecil kecil sudah bisa dipastikan bahwa dagingnya adalah daging babi.

Yang menyenangkan di pasar sini adalah cara menjual ikan yang dalam keadaan hidup di bak air. Udang dan kepitingpun juga begitu. Asik juga melihat ikan ikan bersliweran dan udang saling meloncat pengen kabur kali. Sayuran segar banyak ragamnya, cuma karena aku nggak tahu namanya yah ngak bisa disebut, sedang sayuran yang diasin juga banyak. Aneka jamur segar juga tersedia.

Oh ya.., pasar disini buka sampai malem lho. Di pasar yang lebih besar ada kios yang khusus jualan teh. Saya pernah beli teh yang bukan dikilo, tapi yang sudah dibungkus rapih. Setelah sampai di hotel, saya buka, lha kok bentuknya bunder padat kayak konde cepol emak emak? Gimana nih minumnya? Duh…yang mboten mboten mawon. Karena nggak tahu, akhirnya waktu check out kami tinggal aja di kamar. Rejeki dah buat yang ngebersihin kamar. Belakangan setelah saya tanyakan pada pakar teh, ternyata teh konde cepol tersebut dikenalkan pada jaman perang, dimana si teh bisa dibawa kemana mana tanpa merepotkan. Caranya adalah dengan diiris kecil kecil pada saat akan disedduh.

Nah sekarang tentang menu sarapannya. Kitapun juga bisa mengintip dari pasarnya tentang kebiasaan makan orang orang lokal lho.

Di kota asal saya, Surabaya, nasi pecel dan sate sapi adalah menu yang biasanya disantap untuk sarapan. Satenya dilumuri dengan parutan kelapa yang sudah dibumbui dengan bumbu kuning kunyit dan lebih populer disebut sate klopo (sate kelapa). Tetapi di kampung Kertajaya tempat saya pernah tinggal, keluarga saya menyebutnya sate laler (sate lalat). Bukan karena dari lalat, tapi karena potongannya sebesar lalat saking kecilnya. Selain menu tersebut, me
nu sarapan yang cukup populer adalah lontong mie dan lontong balap.

Sarapan ala Minang? Yang cukup populer adalah lontong sayur. Seperti gudeg Jogja karena memang sama sama berbahan nangka muda tapi lebih pedas dan lebih berair. Sedangkan makan pagi di Shanghai menunya cukup beragam. Selain dimsum yang sudah terkenal dimana mana, juga ada beberapa diantaranya yang cukup dikenal di Indonesia seperti cakwee (dalam bahasa lokal dinamakan yu tiao), bakpao (atau baozhi dalam bahasa Mandarin) dengan berbagai macam isinya. Ada pula beberapa jenis makanan yang dibuat pada saat dipesan. Semacam adonan campuran tepung dan air yang dituang ke wajan datar tanpa minyak. Seperti adonan martabak telur, tapi adonan ini nggak bisa dipulung ditangan, harus dituang ke wajan dengan bantuan sendok. Diatas adonan yang melebar tersebut dipecahkan sebutir telur mentah yang juga diaduk merata kemudian ditaburi daun bawang, daun ketumbar dan bumbu bumbunya. Setelah matang adonan tersebut disisipin cakwe kemudian dilipat. Siap santap. Adalagi adonan tepung seperti martabak yang digoreng berbentuk bulat. Sebetulnya nggak pas kalau dikatakan digoreng. Apa ya…namanya, ditaruh di wajan datar yang lebar trus diberi minyak dikit. Kemudian dengan alat khusus berbentuk pipih digencet sampai gepeng. Mirip roti paratha–nya Singapura. Adalagi mi pangsit yang pembuatan mi–nya langsung dibuat saat itu juga dalam jumlah banyak mulai dari masih berbentuk tepung sampai menjadi mi dan itu tanpa alat bantu sama sekali. Hanya dengan tangan si pembuatnya. Ini nih atraksi yang sungguh menarik. Saya sendiri setiap lewat pasar, sering sekali berhenti cukup lama untuk menikmati atraksi pembuatan mi tersebut. Juga ada semacam adonan mi tapi bentuknya besar dipotong potong langsung di atas dandang besar berisi air mendidih.

Memang mi amat populer di kuliner Cina, dan itu bisa dilihat di pasarnya juga. Setiap pasar biasanya selalu ada kios yang menjual mi dalam berbagai ukuran yang biasanya juga menjual kulit pangsit. Beda dengan kedai mi yang pembuatan mi–nya tanpa alat bantu, kalau di tempat tersebut, pembuatan mi menggunakan alat, tapi tetap menarik juga untuk melihat atraksi mereka. Setelah mi selesai dibuat, mi tersebut digantungkan persis seperti menggantung baju. Pembuatan kulit lumpia juga begitu. Kadang di depan kedai penjual mi mentah, ada penjual kulit lumpia yang dibuat di tempat. Pembuatannya cukup unik. Adonan dipegang dengan tangan, kemudian adonan tersebut dijebrot jebrotkan di wajan datar yang panas tanpa minyak. Karena sudah terbiasa, selain mereka sudah tidak merasakan panas lagi, mereka juga melakukannya cukup cepat. Seorang teman mengatakan bahwa cara pembuatan kulit lumpia ini sama dengan cara pembuatan kulit lumpia di Semarang.

Jajanan pasar ataupun makanan kecil yang menjadi kudapan selain makanan utama, di pasar di Indonesia cukup beragam. Mulai dari yang kecil kecil sekedar pengganjal perut seperti martabak mini, lemper, kue lumpur, pastel, klanthing, ongol ongol, klepon, lupis dan lain lain sampai yang besar dan cukup mengenyangkan seperti tapai lamang, ketan, lumpia, risoles, lapis legit dan lain lain yang kalau disebutkan semuanya disini…wah capek nulisnya, karena memang tiap daerah di Indonesia banyak ragam jajanannya.

Eh..barusan saya berkesimpulan tentang susahnya mencari hand mixer. Bayangkan kota sebesar Shanghai, nyari hand mixer kayak nyari kutu aja. Rupanya ini karena orang sini nggak suka bikin roti sendiri. Beda dengan kita orang Indonesia, meskipun banyak tukang jual roti, tapi tetep suka bikin roti sendiri sehingga toko kelontong aja jual hand mixer.

Kalau berniat tinggal relatif lama di suatu tempat, pasar juga tempat yang tepat untuk memulai belajar bahasa lokal. Percakapan sehari hari, menghafalkan angka angka dalam bahasa lokal (karena ada tawar menawar harga toh), menanyakan nama nama sayuran dalam bahasa setempat dan lain lain bisa didengarkan dan dipraktekkan di pasar seperti yang biasa saya lakukan disini.

Cerita di atas adalah pasar–pasar yang sudah pernah saya kunjungi selama ini. Pasar bukan sekedar tempat untuk belanja kebutuhan sehari hari ternyata. Meskipun becek tetap menarik untuk dikunjungi bagi saya. Membawa saya bernostalgia tentang masa kecil, mengenal kebiasaan masyarakat dan tentunya makanan, sayuran, dan buah–buahan lokal.

Advertisements

11 thoughts on “BUDAYA MASYARAKAT LOKAL DIINTIP DARI PASARNYA

  1. cutyfruty said: Lha esuk-esuk kok moco tentang pasar en panganan. Jadi luaper….hiks…hiks…hiks…Orang Indonesia memang demen sama pasar. Paling engga keluarga dan teman-teman yang berkunjung kemari, selalu semrinthil kalau diajak ke pasar. Mungkin ngga orang Indonesia aja ya, orang Asia juga penggemar pasar.Pasar tidak saja menggambarkan kuliner suatu suku atau etnik, tapi juga menggambarkan perekonomian setempat. Itu kata temanku. Nek tak pikir-pikir yo bener kok.

    Sebenernya orang sini juga seneng pasar. Farmer Market pasar juga kan. Cuma karena masalah cuaca aja, sehingga bukanya hanya di musim anget. Di Twin Cities ada farmer market yg buka sepanjang tahun karena tempatnya didalam ruangan. Pasar di Belanda gimana mbak Sri?

  2. yummymummy said: Ning, kapan2 nek ada kesempatan, dolano nang London….pasare unik, ceritane intriguing tenan dan dijamin bisa ngeceng gitoo…

    Lha esuk-esuk kok moco tentang pasar en panganan. Jadi luaper….hiks…hiks…hiks…Orang Indonesia memang demen sama pasar. Paling engga keluarga dan teman-teman yang berkunjung kemari, selalu semrinthil kalau diajak ke pasar. Mungkin ngga orang Indonesia aja ya, orang Asia juga penggemar pasar.Pasar tidak saja menggambarkan kuliner suatu suku atau etnik, tapi juga menggambarkan perekonomian setempat. Itu kata temanku. Nek tak pikir-pikir yo bener kok.

  3. yummymummy said: Ning, kapan2 nek ada kesempatan, dolano nang London….pasare unik, ceritane intriguing tenan dan dijamin bisa ngeceng gitoo…

    Maksute Farmer Market yo ning? Aku yo seneng sobo Farmer Market. Tapi saiki lagi winter, gak ono Farmer Market sing buka, kecuali nek neng njero gedung.

  4. bundakirana said: saya pernah dibikinin mie beginian oleh tetangga saya, Chinese asli:) enak juga ya..

    Pasar, tempat pertemuan segala nafsu dan keinginan……..ingin lihat-lihat, ingin lihat-lihat lebih dekat , ingin memegang, dan akhirnya ketika kepincut, ingin membeli deh……….hehehe…..selamat Mbak Evie, truskan adventurnya dipasar-pasar belahan bumi ini……..

  5. bundakirana said: saya pernah dibikinin mie beginian oleh tetangga saya, Chinese asli:) enak juga ya..

    Suka ya? Murah lagi, cuma 3 yuan (kira kira setara dengan 3ribu rupiah) seporsi, banyak kimplah kimplah. Enaknya mungkin karena bahan2nya fresh.

  6. Adalagi mi pangsit yang pembuatan mi–nya langsung dibuat saat itu juga dalam jumlah banyak mulai dari masih berbentuk tepung sampai menjadi mi dan itu tanpa alat bantu sama sekali. Hanya dengan tangan si pembuatnya——-saya pernah dibikinin mie beginian oleh tetangga saya, Chinese asli:) enak juga ya..

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s