KARYAKU – BATIK

Copyright © Evia Nugrahani W Koos

All photos in this album are taken by Evia N W Koos, all rights reserved.

FOTO #2 & #3. PETA INDONESIA dibatik di atas kain sutra. Dilengkapi dengan informasi dalam bhs Inggris, tentang populasi, jumlah pulau, jumlah propinsi dan luas area. Dengan pinggiran bermotif parang dan isen isen motif bervariasi sesuai jumlah propinsi. Pewarnaan menggunakan bahan pewarna alam yaitu kunyit untuk kuning, campuran secang dan tingi untuk coklat. Pengennya sih warna merah, apa daya secangnya kalah kuat dengan tingi. Waktu pengerjaan, hmmmm…lama juga sih. Soalnya disambi. Lagi mood, dikerjain, nggak mood, diklemprakno.

FOTO #4. BURUNG TERBANG DI ATAS TAMAN. Sedang dikerjakan proses pewarnaan dengan metode colet. Daun tom/nila untuk biru, secang untuk merah, secang dan nila untuk ungu, nila dan kunyit untuk hijau. Dibuat pada saat pameran kerajinan di Surabaya bulan April 2006.

Foto #5. NUSANTARA DI ATAS MERAH PUTIH. Dibatik saja tanpa proses warna. Kepulauan Indonesia yang dibatik di atas bendera Merah Putih. Dibuat pada saat workshop kesenian di Surabaya bulan Agustus 2006. Dalam rangka Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia.

Foto #6. KUPU KUPU. Salah satu karya pertamaku.. Dibuat dengan metode cap. Kunyit dipake untuk warna kuningnya, sedangkan warna coklat menggunakan kulit bawang merah. Hasil limbah dapurnya ibuku dilengkapi dengan omelan. Hihihi..Nyimpen kok nyimpen sampah. Ngebatiknya waktu belajar di Winotosastro tahun 2003. Selesainya? Hmm….3 tahun kemudian. Hahahaha. Lama yah. Ngerjainnya tergantung mood sih. Sebab kagak ngejar setoran. Hasilnya pun masih blang blontheng.

Advertisements

94 thoughts on “KARYAKU – BATIK

  1. mupengml said: sek mbak…peralatan, bahan dan panduannya aku durung moco…T^Tdulu jaman SMP diajarin teori doank sama guru Mulok…setelah itu….catetannya ilang…

    Yo alon alon disik. Sing penting diniati sing serius. Ojo anget2 tai ayam.

  2. enkoos said: Insya Allah planning selanjutnya emang begitu. Tapi sebagian besar alat2 masih di Surabaya. Banyaknya satu peti sendiri booo. Ntar kalau pindahan gede2an aku angkut. Elu punya peta Jerman kagak? Asik tuh kalau di batik. Jerman kan kecil, nggak se hohah Amrik. Dan nggak sesulit Indonesia yang boanyakkkk banget pulaunya yang cilik cilik.

    Hihihihik….rame 🙂

  3. cahayahati said: waduuhh mau komentar baca dulu komentar sebelum-sebelumnya ruamenya rek .. aku ke Surabaya umur balita deh … jadi nggak masih ada di ingatan puanasnya itu lainnya nol besar.Evia ternyata punya banyak bakat seni ya, 2 m motret dan mbatik heheh …. Si Raka sehari sebelum tes akhir semester keseniannya bulan Desember apa November ya tahun lalu, diminta mewarnainya pakai tumbuhan. Kunyit, daun pacar, daun jati muda, arang dan daun suji. Aku ya kewalahan sehari sebelumnya disuruh bawa daun jati muda … weleh, emangnya gampang di jabodetabek ini dapat jati muda. Akhirnya aku dapat jati tua, pulang dari tes dia marah-marah, kamu kasih daun apa sih mama … koq gak susah banget aku gerus itu daun dan sedikit keluar warnanya (kelihatannya bukan jati muda tapi jati tua) heheh

    enkoos belajar batik d mana? pengin belajar nih. thx

  4. cahayahati said: waduuhh mau komentar baca dulu komentar sebelum-sebelumnya ruamenya rek .. aku ke Surabaya umur balita deh … jadi nggak masih ada di ingatan puanasnya itu lainnya nol besar.Evia ternyata punya banyak bakat seni ya, 2 m motret dan mbatik heheh …. Si Raka sehari sebelum tes akhir semester keseniannya bulan Desember apa November ya tahun lalu, diminta mewarnainya pakai tumbuhan. Kunyit, daun pacar, daun jati muda, arang dan daun suji. Aku ya kewalahan sehari sebelumnya disuruh bawa daun jati muda … weleh, emangnya gampang di jabodetabek ini dapat jati muda. Akhirnya aku dapat jati tua, pulang dari tes dia marah-marah, kamu kasih daun apa sih mama … koq gak susah banget aku gerus itu daun dan sedikit keluar warnanya (kelihatannya bukan jati muda tapi jati tua) heheh

    wahhh bagus, aku lg nyari2 ini nihh .. dijual ga mbak ?

  5. cahayahati said: waduuhh mau komentar baca dulu komentar sebelum-sebelumnya ruamenya rek .. aku ke Surabaya umur balita deh … jadi nggak masih ada di ingatan puanasnya itu lainnya nol besar.Evia ternyata punya banyak bakat seni ya, 2 m motret dan mbatik heheh …. Si Raka sehari sebelum tes akhir semester keseniannya bulan Desember apa November ya tahun lalu, diminta mewarnainya pakai tumbuhan. Kunyit, daun pacar, daun jati muda, arang dan daun suji. Aku ya kewalahan sehari sebelumnya disuruh bawa daun jati muda … weleh, emangnya gampang di jabodetabek ini dapat jati muda. Akhirnya aku dapat jati tua, pulang dari tes dia marah-marah, kamu kasih daun apa sih mama … koq gak susah banget aku gerus itu daun dan sedikit keluar warnanya (kelihatannya bukan jati muda tapi jati tua) heheh

    Hehehehe…serasa nonton srimulat campur ludruk ya Angky?
    Waktu aku dan Menik main ke Tana Toraja, para tetangga temenku dan saudara2nya suka sekali dengan cara ngomong Menik. Menik kan masih kecil sekali, umur 4 tahun. Logatnya medok banget, dan komentar mereka "seperti nonton ketoprak humor". Kalau Menik lagi diem, disuruh ngomong. Terserah ngomong apa aja, pokoknya ngomong. hehehehehe…kok malah ditanggap.

    Bakat seni? hehehehehe…mbuh yo Angky, setelah jadi ibu rumah tangga penuh dan Menik sudah besar banyak sekali keinginanku yg sempet terpendam dan dulu nggak terwujud. Diantaranya ya membatik itu.

    Angky, kalau daun suji buat pewarna tekstil nggak bagus, soalnya luntur. Kalau metik daun untuk pewarna, yang paling bagus dipetik pas pagi hari. karena si daun sedang aktif berklorofil sehingga hasil warnanya bisa maksimal.
    Aku malah baru tahu kalau yg dipake daun jati muda, tak pikir yang tua juga bisa. Kalau di Sby, nyari daun jati gampang Angky, soalnya di sepanjang jalur hijau banyak ditanam jati emas buat penghijauan.

  6. iwanriswandi said: he…he…. wahai ibu pembatik…. apa kabar???? aku baca komen2nya semua bikin mata terbelalak…, karena banyak kata jawa (surabaya-an) yang tulisannya unik apalagi bunyinya…, apalagi kalau dilafalkan oleh arek surabaya…, he…he….. Teruslah membatik! biar hati tetap senang…!

    waduuhh mau komentar baca dulu komentar sebelum-sebelumnya ruamenya rek .. aku ke Surabaya umur balita deh … jadi nggak masih ada di ingatan puanasnya itu lainnya nol besar.

    Evia ternyata punya banyak bakat seni ya, 2 m motret dan mbatik heheh ….

    Si Raka sehari sebelum tes akhir semester keseniannya bulan Desember apa November ya tahun lalu, diminta mewarnainya pakai tumbuhan. Kunyit, daun pacar, daun jati muda, arang dan daun suji. Aku ya kewalahan sehari sebelumnya disuruh bawa daun jati muda … weleh, emangnya gampang di jabodetabek ini dapat jati muda. Akhirnya aku dapat jati tua, pulang dari tes dia marah-marah, kamu kasih daun apa sih mama … koq gak susah banget aku gerus itu daun dan sedikit keluar warnanya (kelihatannya bukan jati muda tapi jati tua) heheh

  7. iwanriswandi said: he…he…. wahai ibu pembatik…. apa kabar???? aku baca komen2nya semua bikin mata terbelalak…, karena banyak kata jawa (surabaya-an) yang tulisannya unik apalagi bunyinya…, apalagi kalau dilafalkan oleh arek surabaya…, he…he….. Teruslah membatik! biar hati tetap senang…!

    Ya Allah Iwannnnnn, kemana aja?
    Hehehe…lucu ya bahasanya. Gimana kabarmu? Kapan kesini lagi?

  8. ciscagreen said: buagusssss sekaliiii

    he…he…. wahai ibu pembatik…. apa kabar???? aku baca komen2nya semua bikin mata terbelalak…, karena banyak kata jawa (surabaya-an) yang tulisannya unik apalagi bunyinya…, apalagi kalau dilafalkan oleh arek surabaya…, he…he….. Teruslah membatik! biar hati tetap senang…!

  9. putri06 said: dijual nggak ? kayaknya susah dapat yang kayak gini sekarang ya. Saya dulu liat punya bude saya, udah kuno banget tapi malah jadi antik.

    Wah sayang mbak, masih belum dijual. Hanya ada satu. Belum tahu kapan bikin lagi. Proyek berikutnya Insya Allah mau bikin peta Amerika. Mungkin kalau bikin lagi, bisa dijual kayaknya. Sebenernya nggak susah dapet ginian. Bikinnya pake pewarna alam sehingga kesannya kuno.

  10. makdemplon said: Cantik sekali! Kombinasi warnanya juga cantik…

    ini bagus mbak, hebat euy … dijual nggak ? kayaknya susah dapat yang kayak gini sekarang ya. Saya dulu liat punya bude saya, udah kuno banget tapi malah jadi antik.

  11. makdemplon said: Cantik sekali! Kombinasi warnanya juga cantik…

    Terima kasih. Nyoklat ya, kesannya koyok barang lawas. Entah kenapa ya kalau pake pewarna alam hasilnya cenderung nyoklat dan terkesan barang kuno. Padahal sih nggak bermaksud gitu.

  12. makdemplon said: Beli alat-alat Batik di mana mbak? Dulu saya pernah belajar membatik, sekarang berhubung lagi libur kerja, jadi pingin membatik lagi…

    Kebanyakan beli di Pekalongan. Disana banyak toko yang jualan peralatan batik. Bahkan di pasar tradisional pun ada kios canthing lho. Segala jenis kain untuk dibatik juga komplit pilihannya. Udah nyoba mbathik di kayu? Kan enak tuh, medianya lebih kecil. Lebih cepet ngerjainnya. Nyari kayu unfinished disini lumayan banyak, meskipun pilihannya nggak sebanyak di Indonesia.

  13. haleygiri said: aku yo ra ono darah batik kok mbak, kebetulan aja pernah kerja diantara pembatik, dan ibuku dulu bakul jarik. Klo darah seni, mungkin rodo duwe sithik2… aku anggap batik itu bagian dari seni aja, makane tertarik banget…Kapan2 ngbrol lagi soal batik mbak, klo aku dah mulai mbatik lagi. Seneng aku kenal njenengan…

    salut buat karyamu Via..keren banget yg kupu2!!!

  14. haleygiri said: aku yo ra ono darah batik kok mbak, kebetulan aja pernah kerja diantara pembatik, dan ibuku dulu bakul jarik. Klo darah seni, mungkin rodo duwe sithik2… aku anggap batik itu bagian dari seni aja, makane tertarik banget…Kapan2 ngbrol lagi soal batik mbak, klo aku dah mulai mbatik lagi. Seneng aku kenal njenengan…

    Hu uh mbak ngko sepur2an ke solo… aku yo seneng mbadog kok… wakakakaka…
    Trus golek batik nang Bantul, aku rung patio kenal batik Bantul…

  15. haleygiri said: aku yo ra ono darah batik kok mbak, kebetulan aja pernah kerja diantara pembatik, dan ibuku dulu bakul jarik. Klo darah seni, mungkin rodo duwe sithik2… aku anggap batik itu bagian dari seni aja, makane tertarik banget…Kapan2 ngbrol lagi soal batik mbak, klo aku dah mulai mbatik lagi. Seneng aku kenal njenengan…

    Wah Haley, lingkunganmu lebih mbathik timbang aku. Darah batik ra ono, tapi sekelilingmu mambu bathik, dadine ketularan. Lha aku, ra ono ambune bathik blas ki, opo maneh getih batik.
    Disini aku demen banget pake batik. Kayak waktu winter, tak usahakan pake sarung. Ben wae, kan rangkepane sing akeh, nganti koyok lapis legit.

    Insya Allah nanti kalau aku mudik, aku sempetin kopdaran yah. Surabaya Solo kan nggak adoh. Opomaneh iso numpak sepur. Aku demen numpak sepur tujuan Jogja, soale sing diliwati akeh dodolan panganan enak. Weh, kok sing diomongno badogan.
    Ngko awake dewe berburu batik neng kampung2, sing batike digarap mbah mbah. Neng Solo masih ada ya kayak gitu? Wektu neng Pekalongan tempo hari, pengen sih hunting gitu, tapi ra sempet mergo waktune mefet.

  16. haleygiri said: Oiya ya, biasanya kan klo mori yg udah dibatik, tapi gak segera diwarnai dan dilorot, disimpennya dilipat sepanjang lebar kain dengan lipatan gede2 (kira2 30 – 50 cm). Sebelumnya, tu kain dilambari mori kasar biar malamnya gak saling nempel ke kain yang putih… Habis itu digantung.Duh, diskusinya tentang batik keterusan yaaa… hehehe…

    aku yo ra ono darah batik kok mbak, kebetulan aja pernah kerja diantara pembatik, dan ibuku dulu bakul jarik. Klo darah seni, mungkin rodo duwe sithik2… aku anggap batik itu bagian dari seni aja, makane tertarik banget…

    Kapan2 ngbrol lagi soal batik mbak, klo aku dah mulai mbatik lagi. Seneng aku kenal njenengan…

  17. haleygiri said: Oiya ya, biasanya kan klo mori yg udah dibatik, tapi gak segera diwarnai dan dilorot, disimpennya dilipat sepanjang lebar kain dengan lipatan gede2 (kira2 30 – 50 cm). Sebelumnya, tu kain dilambari mori kasar biar malamnya gak saling nempel ke kain yang putih… Habis itu digantung.Duh, diskusinya tentang batik keterusan yaaa… hehehe…

    Ooo…malah dilipat ya? Lagek ngerti iki. Sak weruhku dibeber trus dilemeki kain njur ditumpuk neh karo kain sing wis dibatik liyane.

    Asik nih bisa diskusi batik sing suwi. Aku nduwe konco, mulai lair ceprot nganti wis mbojo, uripe ora adoh soko batik. Lingkungan dan keluarganyapun juga ngrunthel neng batik. Jangan jangan darahnyapun mengandung batik. Hihihihi….
    Maklum jeh, wong Pekalongan. Kalau ngobrol tentang batik sama dia, sanggup deh berjam jam nggak putus putus. Kalau temenku nih, nyegur neng batik karena kebiasaan dan lingkungan dan keluarga. Selain itu juga demen. Meski kebiasaan kalau nggak demen, yo ra kelakon.
    Lha kalau aku, lingkungan batik kagak, keluarga pembatik yo gak blas. Mbuh karena apa, kok cinta banget ama batik sampai mbelani mbathik dewe nganti njegluk ra mentas2. mlenceng dewe soko keluarga. Eh…eyang uti ku deng, juga suka mbathik. Itupun aku tahunya belakangan, jauhhh setelah eyangku meninggal. Taunya setelah diceritain ibuku setelah ngeliat diriku yg gampang bosen ini, bisa mendadak tekun dan sabar menghadapi canthing.
    Jadi melenceng deh

  18. haleygiri said: Btw, nglorot bukannya cuman pake air panas?Mbak, klo habis dibatik trus kelamaen disimpen kan batikane (malam-e) bisa rusak…

    Hmmm…bener juga.. wong bak buat nglorot di industri batik biasanya kan minimal 1 m2 lebarnya. Atau pake kenceng tembaga yang diameternya 1 meter juga….
    Oiya ya, biasanya kan klo mori yg udah dibatik, tapi gak segera diwarnai dan dilorot, disimpennya dilipat sepanjang lebar kain dengan lipatan gede2 (kira2 30 – 50 cm). Sebelumnya, tu kain dilambari mori kasar biar malamnya gak saling nempel ke kain yang putih… Habis itu digantung.
    Duh, diskusinya tentang batik keterusan yaaa… hehehe…

  19. haleygiri said: Btw, nglorot bukannya cuman pake air panas?Mbak, klo habis dibatik trus kelamaen disimpen kan batikane (malam-e) bisa rusak…

    Air panas thok nggak cukup. Air mendidih sing nganti muleg muleg kae. Udah gitu, airnya dikasih soda abu. Kalau kainnya kecil, pake kompor rumah tangga sudah cukup. Lha kalau kainnya gede, pake kompor rumah tangga dan panci biasa, liline mbalik maneh neng kain, ra bar bar.

    Aku pernah ngobrol sama orang sini yang lagi pameran lukisan pake metode batik. Mbathiknya nggak pake canthing, tapi pake kuas. Katanya nglorodnya disetriko. Mbuh bener opo ora, aku tau njajal, malame isih nemplek. Atau mungkin mereka pake malam yg bahannya beda ama malam kita. Mbuh maneh.

    Habis dibatik terus bar kuwi disimpen suwi gak ndang diproses, rusak sih enggak. Malamnya aja mungkin yg pada mrotholi. Apalagi kalau nyimpen kainnya dilipet, dan bukan digantung, malamnya bisa nempel2 di kain yg nggak bermotif. Pating ndemblok.

  20. haleygiri said: meski di mori katun, bukan sutra, warnanya gampang masuk juga mbak?

    Pernah juga mbatik di kain sutra, baik sutra pabrik ataupun ATBM. Emang enak sih krn mudah nyerap malam, tapi kudu ati2 juga biar gak mblobor… klo di katun kan kudu didobeli mburine (nerusi).
    Btw, nglorot bukannya cuman pake air panas?
    Mbak, klo habis dibatik trus kelamaen disimpen kan batikane (malam-e) bisa rusak…

  21. haleygiri said: meski di mori katun, bukan sutra, warnanya gampang masuk juga mbak?

    Insya Allah bisa Haley. Kabeh serat kain berbahan alami seperti katun, sutra, serat nanas, serat kayu, gedebok pisang, enceng gondok, dll bisa menyerap pewarna alam yang pelarutannya menggunakan air. Kalau serat sintetik seperti polyester, licra dll, aku ra iso njawab. Jangankan diwarna, untuk membatik di serat sintetis kayaknya juga perlu perlakuan khusus.Wis ono sing mbathik ning licra – Carmanita. Ini butuh perlakukan khusus, mbuh piye carane.

    Udah pernah nyoba mbathik di kain sutra? Uenakkkk deh. Menurutku lebih sip mbathik di kain sutra, soale mlakune canthing iso nlunyur, ser ser ngono kuwi. Aku saiki luwih seneng mbathik neng sutra tinimbang neng katun, yo mergo kuwi. Dengan ukuran lubang canthing yang sama, tIbone lilin luwih gedhe neng sutra tinimbang neng katun.
    Neng kene, aku luwih akeh mbathik neng kayu tinimbang neng kain, soale proses nglorod di kayu relatif luwih gampang. Kan gak gedhe2 banget. Biasane nek neng Indonesia, aku titip koncoku nek apene nglorod. Padahal aku nduwe bahan sutro uakeh tenan, mulai sutro ATBM, sutro ATM, serat nanas campuran sutro, sutro sing ono motif tenunane dll. Eman2 nek ra digarap. Satu2nya pilihan, ngenteni muleh ae nek apene dilorod.

    Eh…koreksi nih, nama kimia untuk Tunjung yg bener adalah FeSo4. BUkan H2SO4. Pfuih…bedone adoh. .

  22. haleygiri said: well, aku punya rencana meh mbatik selendang ni. Ntar pewarnaan aku belajar dari njenengan ya mbak!

    Asikkkk mbatik lagi. Wis gek ndang digarap. Ngko nek wis asik mbatik, iso lali liyane, njenggluk sedino muput.

    Menurutku pewarnaan dengan bahan pewarna alam relatif lebih gampang daripada pake kimia. Kalau pewarna kimia, Istilahe njlimet dan pake rumus, utekku wis gak sanggup mikir. Enak pake pewarna alam karena: 1- banyak sumbernya di Indonesia, 2- ramah lingkungan.
    Biasanya kalau bisa dipake buat pewarna makanan, juga bisa dipake mewarna kain. Contohnya: daun jati, kunyit (sayangnya kalau dicuci, banyak lunturnya), daun apokat, daun mangga, akar mengkudu, kulit kayu mengkudu, bagian dalamnya kulit manggis (dadi kelingan jaman isih cilik dulinan pasaran), kulite brambang, kulite bawang bombay abang, kulite bawang bombay putih (sakjane putih opo kuning yo?), jalawe (tukune neng bakul jamu), kubis ungu dan lain lain.
    Pandan ora iso yo, soale begitu keno banyu, langsung wes ewes ewesss bablas.

    Bar diwerno, ojo lali dikunci, ben wernone ora luntur nek diumbah. Bahan2 buat ngunci warna (istilahe wong tekstil – fiksasi atau mordant) buanyakkkk, contohnya: cuka, jeruk nipis, tawas, tunjung (istilah kimiane FeSO4. nama lainnya copperas – mbuh bener opo gak tulisane), kapur, dan lain lain.

    Neng kene, aku golek2 info maneh, mergo bahan2 pewarna alamnya jauhhhh berbeda dengan Indonesia, seperti macem2 tanaman berry, kulit pohon yg nggak ada di Indonesia dsb. Musti riset lagi dari awal. Kalau mendatangkan bahan2 dari Indonesia, jebol kanthonge, kecuali kalau mudik.

    Selamat berkarya nggihhh. Kalau ada yg mau ditanyakan, monggo pinarak. Tak aturi mampir, japri boleh, di forum ini juga boleh.

  23. haleygiri said: bak, njenengan seneng mbatik ya?Aku pernah mbatik juga, bikin stola motif liris, tapi gak isoh mewarnai… jadi aku serahkan tukang celup aja… Sekarang lagi pengen mbatik lagi…

    well, aku punya rencana meh mbatik selendang ni. Ntar pewarnaan aku belajar dari njenengan ya mbak!

  24. haleygiri said: bak, njenengan seneng mbatik ya?Aku pernah mbatik juga, bikin stola motif liris, tapi gak isoh mewarnai… jadi aku serahkan tukang celup aja… Sekarang lagi pengen mbatik lagi…

    Bukan seneng lagi, tapi udah taraf cinta yg mendalam. Halah…bahasane. Soale aku bosenan, ra sabaran. Tapi nek mbatik ra bosen dan pernah dalam beberapa hari sanggup njeglug di depan komplor mbathik mulai dari terang tanah nganti srengenge angslup.

    Sakjane nek proses mewarna luwih gampang tinimbang proses nglorod. Opo maneh nek mewarna karo bahan pewarna alam, sok sok nemu kejutan. Uakeh bahan2 sekitar kita di Indonesia sing iso digawe bahan pewarna. Kalau nglorod, nganti saiki aku ra sanggup, kecuali nek barang cilik2.

  25. masoye said: "NUGRAHANI"..maksudnya apa mbak Evia…?…sugeng tatepangan..;-)

    Mbak, njenengan seneng mbatik ya?
    Aku pernah mbatik juga, bikin stola motif liris, tapi gak isoh mewarnai… jadi aku serahkan tukang celup aja… Sekarang lagi pengen mbatik lagi…

  26. masoye said: "NUGRAHANI"..maksudnya apa mbak Evia…?…sugeng tatepangan..;-)

    Nugrahani kuwi jenengku. Yo kuwi tanda tanganku ket mulai iso tanda tangan (jaman SMP) nganti saiki, nganggo honocoroko. Bojoku nek moco M M M M. Hehehehe…Kan koyok huruf M kabeh.

  27. n4il4 said: Mbak aku denger soal sate laler, tapi belum pernah beli. Sate laler itu maksudnya dagingnya kecil-2 banget ya "seukuran laler" iya ? Sate ayam ya ? Wah jadi ngiler nih pingin pulkam ayoooooo pulkam bareng mbak, traktiren sego pecel, sate laler mmmmmmm opo maneh yooooooooo seneng ae aku :))

    Mbak….anda kan bisa mbatik ya..berarti bisa ngelukis di baju, ngelesi aja deh pasti banyak yang minat. Tulis aja di koran advertisingnya. Skr lagi tren tuh. Good luck.

  28. n4il4 said: Mbak aku denger soal sate laler, tapi belum pernah beli. Sate laler itu maksudnya dagingnya kecil-2 banget ya "seukuran laler" iya ? Sate ayam ya ? Wah jadi ngiler nih pingin pulkam ayoooooo pulkam bareng mbak, traktiren sego pecel, sate laler mmmmmmm opo maneh yooooooooo seneng ae aku :))

    wahh… batik2nya bagus ya…. ck ck

    "NUGRAHANI"..maksudnya apa mbak Evia…?…sugeng tatepangan..;-)

  29. n4il4 said: Mbak aku denger soal sate laler, tapi belum pernah beli. Sate laler itu maksudnya dagingnya kecil-2 banget ya "seukuran laler" iya ? Sate ayam ya ? Wah jadi ngiler nih pingin pulkam ayoooooo pulkam bareng mbak, traktiren sego pecel, sate laler mmmmmmm opo maneh yooooooooo seneng ae aku :))

    Iya betul Naila. Dibilang laler, karena seukuran laler saking kecilnya. Kalau di Surabaya masih mendingan ukurannya. Di Pamekasan, ada kedai sate laler juga, alamak, irisannya nggak lebih besar dari kuku jari kelingking saya. Sekali gigit, 3 tusuk sate langsung hap. Makan 10 tusuk rasane slilit thok. Kalau pengen kenyang mantep, 50 tusuk baru puas deh.
    Kapan pulkam? Kalau sama sama pas di Surabaya, kopdaran yuk sambil berburu makanan. Rujak tolet, semanggi, rujak manis, jajan tenongan, lonthong mi, lonthong balap, ote ote, gado gado, wualah……Ngomongno batik kok mbleber mblarah tekan panganan. Hihihihi…

  30. enkoos said: Lagi mewarna dengan COLET. Merah dari secang, biru dari daun nila, hijau dari campuran nila kunyit secang

    Mbak aku denger soal sate laler, tapi belum pernah beli. Sate laler itu maksudnya dagingnya kecil-2 banget ya "seukuran laler" iya ? Sate ayam ya ? Wah jadi ngiler nih pingin pulkam ayoooooo pulkam bareng mbak, traktiren sego pecel, sate laler mmmmmmm opo maneh yooooooooo seneng ae aku :))

  31. n4il4 said: Wah bener ya arek suroboyo, liat judulnya Rek Ayo Rek. Saya juga lho, lulusan FKH Unair, mbak dari mana ? Sudah lama disini ? Gimana kabar Surabaya ?

    Hoiiii, betul sekale. Aku arek Serebeje, tak iye. Lahir, tumbuh, sekolah ampe bangkotan di Serebeje. Tetapi lebih dari sepuluh tahun terakhir berubah status jadi perantau, meski KTP masih Serebeje.
    FKH Unair? Wah, cedek omahku la’an. Omahku mbiyen neng Kertajaya 2, cedek pasar. Ngarep gang ono bakul sate laler, pecel dan gado gado. Sate laler langgananku ket SD. Bakule wis kewut, kadang2 diganteni anakke. Nek baklu gado gado wis dut. .

  32. enkoos said: Selama disini, belum pernah ngebatik. Alat2 masih ngendon di Surabaya, belum sempet keangkut. Planningnya sih ntar aja, kalau mudik baru diangkut Insya Allah. Kalau painting kain, asik juga tuh. Langsung keliatan hasilnya. Kan kayak melukis yah.

    Wah bener ya arek suroboyo, liat judulnya Rek Ayo Rek. Saya juga lho, lulusan FKH Unair, mbak dari mana ? Sudah lama disini ? Gimana kabar Surabaya ?

  33. enlightenment said: Pengen loh….belajar membatik..

    Di Bali juga ada loh. Motifnya udah beda ama yang di Jawa. Warnanya lebih berani dan ada ciri Balinya. Cantik deh pokoknya. Entah canthingnya sama nggak ya, dengan canthing di Jawa.

  34. n4il4 said: Rajin amat mbak, saya belum ambil kursusnya nih disini ada kursus painting di kain. Pasti menarik ya mbak, cuma bukan batik sih caranya beda alatnya juga beda.

    Selama disini, belum pernah ngebatik. Alat2 masih ngendon di Surabaya, belum sempet keangkut.
    Planningnya sih ntar aja, kalau mudik baru diangkut Insya Allah.
    Kalau painting kain, asik juga tuh. Langsung keliatan hasilnya. Kan kayak melukis yah.

  35. estherlita said: hebat banget, baru lihat neh saya..

    Rajin amat mbak, saya belum ambil kursusnya nih disini ada kursus painting di kain. Pasti menarik ya mbak, cuma bukan batik sih caranya beda alatnya juga beda.

  36. estherlita said: hebat banget, baru lihat neh saya..

    Nggak hebat kok mbak. Siapa aja bisa ngebatik kok. Mbak Esther juga bisa, kalau mau.
    Yang hebat nenek moyang kita, yang menciptakan batik dan motif2 yang cantik.

  37. aasep said: .. Clinton aja waktu berkunjung ke Istana Bogor jaman APEC gaya banget dia pake Batik hehehe :D.

    Iya Sep, aku masih inget. batiknya motif burung kalau nggak salah. Disesuaikan sama lambang negaranya.

  38. 3astwest said: aih cantiknya….*two tumbs up*

    Waaaah kreatip n’ keren banget Mba :D… seneng banget ada yg terus mempopulerkan batik… Clinton aja waktu berkunjung ke Istana Bogor jaman APEC gaya banget dia pake Batik hehehe :D.

  39. lienott said: Ajarin dong Vie… atow boleh ga Lien beli kain ini??? pppliiisss…*penggemar kupu²*

    Mau banget kalau ngajarin Lien. Tapi kalau kainnya dibeli? Waduh..salah satu karya pertamaku jek, meskipun uelekkkk, disayang sayang. Mending aku ajarin ya. Udah ada alat2 batik lengkap neng?

  40. tigun said: Bener, mbak. Peta Indonesia ancen angel di gambar. Koyok ‘marning’ direncek-rencek terus di gambar. Opo’o ndak mumet….hehehe

    Wow!!!! Keren banget… 😉
    Ajarin dong Vie… atow boleh ga Lien beli kain ini??? pppliiisss…
    *penggemar kupu²*

  41. tigun said: Bener, mbak. Peta Indonesia ancen angel di gambar. Koyok ‘marning’ direncek-rencek terus di gambar. Opo’o ndak mumet….hehehe

    Yo mumet mas. Nggarape pas lagi mood. Kalau lagi modd, wadohhh, dari pagi, njengglut sampai hampir maghrib nggak beranjak dari dingklik untuk membatik. Boyok sampek pegel. Nggambari pulau yg cuiliknya seperti marning jagungpun telaten. Tapi kalau lagi keluar malesnya, booooo ngelirik aja kagak. Tapi biasanya sih yg males ngegambarnya. Ngebatiknya belum pernah males, apalagi kalau ada teman membatik, semangat deh. Waktu diajak temen untuk pameran, wuihh semangat deh tiap hari datang. Duluan aku datangnya daripada yg punya stand. Keranjingan dah.
    Cak Tigun, email sampyen wis tak bales. Ada PR nya. Dikerjain nggihhhh.

  42. theresajackson said: Ayo kapan-kapan mbathik bareng, waktu pulang aku beli bumbu bathik lengkap..

    Bener, mbak. Peta Indonesia ancen angel di gambar. Koyok ‘marning’ direncek-rencek terus di gambar. Opo’o ndak mumet….hehehe. Hebat dah..ketemu temen yang pinter mbatik. Terharu saya. Jaman begini masih ada orang muda yang belajar membatik, demi meneruskan tradisi. Bukan hanya sekedar iseng.

  43. theresajackson said: Ayo kapan-kapan mbathik bareng, waktu pulang aku beli bumbu bathik lengkap..

    Mau bangettttt. Terus ntar berburu batik tua di pelosok pelosok. Di Jogja masih ada nggak mbak? Kata sobatku yg orang Pekalongan, di Pekalongan masih ada mbah mbah yg membatik tanpa ngejar setoran. Yang mbah putri membatik, dan mbah kakungnya bikin alat capnya. Batiknya bukan semata mata dijual. Kalau ada yang beli, dilepas dengan harga sesuai kesepakatan. Tapi kalau nggak pengen dijual, meskipun ditawar mahal, ya nggak dilepas. Yg kayak gini nih, aku belum pernah liat. Penasaran euy. Ada nggak mbak yang kayak gini?

  44. gadogadobetawi said: Hebring mpok bisa kepikiran bikin peta…ape abis ini peta amrik h..h..

    Insya Allah planning selanjutnya emang begitu. Tapi sebagian besar alat2 masih di Surabaya. Banyaknya satu peti sendiri booo. Ntar kalau pindahan gede2an aku angkut. Elu punya peta Jerman kagak? Asik tuh kalau di batik. Jerman kan kecil, nggak se hohah Amrik. Dan nggak sesulit Indonesia yang boanyakkkk banget pulaunya yang cilik cilik.

  45. bundakirana said: salut deeeh..cantik2 karyanya Mbak:)

    Ma acih mbak Dina. Gambar tinggal ngeblat aja kok mbak. Mbak Dina juga bisa kalau mau. Mbathik yukkkkk. Aku lagi pengen belajar menenun nih. Ngliat kain tenun di Koto Gadang, ambooooi rancak bana.

  46. krisnadiantha9 said: wah aku diajari yo

    Kris, diajari mbathik e opo ngewarna? Kalau ngewarna, nyari sumber alam di sono. Kan asik tuh, batik dengan pewarna alam dari Swiss. Cita citaku juga pengen bikin batik dengan pewarna alam nya orang Indian. Kalau pengen diajari mbathik, hmmmm…kapan ya kita bisa ketemu? Ada triknya supaya malamnya nggak tumpah mbleber. Janjian yukkkkk.

  47. ibujempol said: saranku : upload ke multiply foto yg lain (yg gak sama dgn ygdiliat org di albummu) ; set yg view hanya dirimu aja (set ke individual terus gak usah ngisi siapa2) ; terus upload foto itu ke jurnal spt yg dirimu udah lakukan. Moga2 bisa

    O gitu ya. Aku coba deh. Tapi tetep aja aku ngliatnya sama yah? Kalau diliat orang lain sih tampilannya beda. Matur nuwun ya Jul.

  48. ibujempol said: hihihi foto buat nakutin tikus, hasil jepretan anakku Richard

    saranku : upload ke multiply foto yg lain (yg gak sama dgn ygdiliat org di albummu) ; set yg view hanya dirimu aja (set ke individual terus gak usah ngisi siapa2) ; terus upload foto itu ke jurnal spt yg dirimu udah lakukan. Moga2 bisa

  49. ibujempol said: hihihi foto buat nakutin tikus, hasil jepretan anakku Richard

    Ya amplop. Tikus nyasar kali yee..Aku kok ndak bisa upload foto buat jurnalku yah? Bisanya upload dari album di multiply. Kalau dari komputer, macet mulu. Makanya kan foto di jurnal juga ada di album foto. Padahal sih maunya, foto di jurnal beda ama foto di album. Piye yo enake? Ada saran Jul?

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s