IBU RUMAH TANGGA – KARIR YG TIDAK BERGENGSI?

Adalah sebuah kenikmatan, bila kita bisa memilih pekerjaan yang sesuai dengan cita cita.

Belasan tahun aku berkutat di segala bidang pekerjaan. Dari tempat kursus bahasa Inggris kelas teri sampai hotel mewah. Dari kota besar gemerlap sampai tempat sunyi sepi di tengah hutan. Dari posisi jongos sampe jadi bos tapi nggak bossy lho. Semuanya itu memperkaya pengalaman yang tak ternilai rasanya.

Dan setelah memasuki gerbang pernikahan, aku memilih berkarir sebagai Ibu Rumah Tangga dengan sadar dan tanpa paksaan.

Salahkah bila kita memilih berkarir sebagai Ibu Rumah Tangga?

Sekolah tinggi tinggi, akhirnya jadi Ibu Rumah Tangga doang?

Komentar yang tanpa pikir panjang dan terus terang (maaf) cupet. Dipikirnya Ibu Rumah Tangga adalah pekerjaan tanpa otak? Pekerjaan yang isinya ngegosip dan nguplek urusan logistic doang. Gimana jadinya generasi penerus kalau ibunya ber IQ jongkok dan ber EQ amburadul?

Aku tidak mengecilkan arti seorang ibu yang juga wanita karir yang bekerja kantoran. Tanggung jawabnya berat, dan masih ditambah dengan tugas yang sudah menanti di rumah.

Tetapi please deh ah, jangan juga mengecilkan arti seorang Ibu Rumah Tangga. Karir yang menyangkut tunas bangsa dan pekerjaan yang tidak ada selesainya.

Karir yang berjam kerja fleksibel. Menikmati pertumbuhan si kecil yang tidak akan terulang. Mendampinginya tumbuhBereksperimen di dapur yang terkadang menemukan kejutan menyenangkan. Terlebih bila seluruh keluarga menikmati hasil eksperimen dengan lahap. Mengikuti kegiatan dan menekuni hobi yang rasa rasanya tidak akan mungkin bisa dilakukan bila aku bekerja di kantor yang nine to five. Mengatur jalannya Rumah Tangga supaya bisa berjalan sesuai dengan visi seisi rumah.

Siapa bilang Ibu Rumah Tangga di rumah saja? Semua berpulang ke individu masing masing. Kalau dasarnya emang nggak kreatif, mau jadi pekerja kantoran pun juga nggak akan maju maju. Sebaliknya kalau emang kreatif dan smart, seorang Ibu Rumah Tangga akan bermanfaat bagi keluarganya, Insya Allah di dunia dan di akherat. Amin.

Advertisements

15 thoughts on “IBU RUMAH TANGGA – KARIR YG TIDAK BERGENGSI?

  1. kuenogosari said: ya bener film nya Julia Robert, bagus ya, motivatif. Sebenarnya banyak ya Erin-Erin yang lain yang tak terekspos, masih banyak perempuan yang jadi subordinat laki-laki dan tersembunyi potensinya, bahkan di minangpun yang ikut garis ibu, keadaannya masih sama.

    hihihi.. kayak niken, mba..(telat hehe)

  2. kuenogosari said: ya bener film nya Julia Robert, bagus ya, motivatif. Sebenarnya banyak ya Erin-Erin yang lain yang tak terekspos, masih banyak perempuan yang jadi subordinat laki-laki dan tersembunyi potensinya, bahkan di minangpun yang ikut garis ibu, keadaannya masih sama.

    Setelah aku googling, ternyata film ini berdasarkan kisah nyata Erin sendiri. Karena film ini pulalah, si Erin di kenal luas, dan direkrut oleh sebuah organisasi pecinta lingkungan or something like that. Erin pernah berkunjung ke Indonesia lho. Banyak memang, perempuan2 seperti yang Hany bilang, jadi subordinat laki2 dan tersembunyi potensinya. Bagaimanapun, perempuan adalah sosok yang tangguh, sering jadi panutan, kan calon ibu. Makanya ada pepatah, kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.

  3. kuenogosari said: Si Erin terpaksa harus bekerja untuk menghidupi 4 anaknya setelah ditinggal minggat sama suaminya yg gak bertanggung jawab. Kerja di kantor pengacara, tanpa titel, modal kerja keras dan otak. Konsekwensinya dia harus banyak ninggalin anaknya di rumah yang dijaga pacarnya yang baik hati, berkorban jagain anak Erin. Ini berdasarkan kisah nyata si Erin yang mantan miss entah America atau miss state apa, lupa, pokoknya mis-misan deh.

    Iya bener film nya Julia Robert, bagus ya, motivatif. Sebenarnya banyak ya Erin-Erin yang lain yang tak terekspos, masih banyak perempuan yang jadi subordinat laki-laki dan tersembunyi potensinya, bahkan di minangpun yang ikut garis ibu, keadaannya masih sama.

  4. kuenogosari said: Si Erin terpaksa harus bekerja untuk menghidupi 4 anaknya setelah ditinggal minggat sama suaminya yg gak bertanggung jawab. Kerja di kantor pengacara, tanpa titel, modal kerja keras dan otak. Konsekwensinya dia harus banyak ninggalin anaknya di rumah yang dijaga pacarnya yang baik hati, berkorban jagain anak Erin. Ini berdasarkan kisah nyata si Erin yang mantan miss entah America atau miss state apa, lupa, pokoknya mis-misan deh.

    Ooooo..film yang itu. Pernah Han, pernah nonton di TV. Pemeran Erin si Julia Robert ya? Samar samar inget, si Erin pontang panting kerja tapi nggak dihargai ama bosnya. Sampai suatu saat, si Erin lagi keluar urusan kerja, pulang kantor dipecat ama bosnya. Belakangan si bos sadar, kalau Erin tuh gawenya bagus, tahu segala info urusan kerjaan. Didatangi lagi ama bosnya untuk diminta balik kerja. Erinnya pinter, nggak mau balik begitu aja. Maunya, gajinya dinaikin, fasilitas ditambah, bonus juga minta. Tadinya si bos enggak mau, Erin juga nggak mau kalah. Take it or leave it. Huh…mampus tuh si bos. AKu liat bosnya, benci banget. Ngasih gaji murah tapi tanggung jawabnya Erin gede nggak dihargai. Akhirnya sambil ngomel2, permintaan Erin diturutin. Lanjutannya, aku udah lupa. Film yang itu bukan? Aku nggak inget apa judulnya.

  5. banyumili said: kalo di Indonesia mungkin dipengaruhi juga oleh pandangan masyarakat yang menilai lebih bagi wanita bekerja dibanding IRT. Jadi wanita lebih cenderung untuk berkarier di luar rumah.

    Si Erin terpaksa harus bekerja untuk menghidupi 4 anaknya setelah ditinggal minggat sama suaminya yg gak bertanggung jawab. Kerja di kantor pengacara, tanpa titel, modal kerja keras dan otak. Konsekwensinya dia harus banyak ninggalin anaknya di rumah yang dijaga pacarnya yang baik hati, berkorban jagain anak Erin. Ini berdasarkan kisah nyata si Erin yang mantan miss entah America atau miss state apa, lupa, pokoknya mis-misan deh.

  6. banyumili said: kalo di Indonesia mungkin dipengaruhi juga oleh pandangan masyarakat yang menilai lebih bagi wanita bekerja dibanding IRT. Jadi wanita lebih cenderung untuk berkarier di luar rumah.

    Itu dia. Tapi untungnya aku nggak gampang terpengaruh pandangan dan pendapat orang lain. Kalau mikirin pendapat mereka, nggak maju maju entar.

  7. mamieksyamil said: suami saya sering lupa kalau habis ngasih cash dalam jumlah besar, eh…dikasih lagi (padahal udah ngantongin credit+debit card), hihihi…ya udah diem aja. Whuaaa….! Matree kelas berat…!

    Nah….kalau ini namanya overpaid. Hihihi….Kalau orang kerja, udah dapet gaji, bonus, fasilitas, bagi hasil, wuah…..sedapppp.

  8. kuenogosari said: Udah nonton Erin Brocovich kan? (nulisnya bener gak sih?), adegan pas dia di kasih tahu kalo anak bungsunya sudah bisa bilang mama yang bikin dia nangis karena gak mengalaminya secara langsung, bener-bener menyentuh, jadi bersyukur deh para ibu yang bisa mendampingi anak-anak, bu RT tanggung jawabnya gede lo, jangan salah!!!

    Belum tuh Han. Ceritanya, si Erin wanita karir ya?

  9. mamahanna said: aku ni ngerasa underpaid

    kalo di Indonesia mungkin dipengaruhi juga oleh pandangan masyarakat yang menilai lebih bagi wanita bekerja dibanding IRT. Jadi wanita lebih cenderung untuk berkarier di luar rumah.

  10. mamahanna said: aku ni ngerasa underpaid

    Saya juga ngerasa underpaid, tapi nggak bisa usaha. Bisanya cuman ngomel hehehe…Anehnya, ibu saya bilang saya istri yang beruntung, karena suami saya sering lupa kalau habis ngasih cash dalam jumlah besar, eh…dikasih lagi (padahal udah ngantongin credit+debit card), hihihi…ya udah diem aja. Whuaaa….! Matree kelas berat…!

  11. enkoos said: …aku juga matre mbak. Gajinya dari suami

    Udah nonton Erin Brocovich kan? (nulisnya bener gak sih?), adegan pas dia di kasih tahu kalo anak bungsunya sudah bisa bilang mama yang bikin dia nangis karena gak mengalaminya secara langsung, bener-bener menyentuh, jadi bersyukur deh para ibu yang bisa mendampingi anak-anak, bu RT tanggung jawabnya gede lo, jangan salah!!!

  12. mamahanna said: api apa daya nih aku matre berat &suami kaga ngari kalo istrinya matre,jadi musti gawe deh tinimbang stress mikirin duit hehe…

    Hahaha…aku juga matre mbak. Gajinya dari suami. Ibu Rumah Tangga kan karir juga.

  13. jaman gini bisa jadi total IRT tuh menurutku luxury lho……aku juga pengen bisa gitu,tapi apa daya nih aku matre berat &suami kaga ngari kalo istrinya matre,jadi musti gawe deh tinimbang stress mikirin duit hehe…

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s