Ada apa dengan Indonesiaku?

Sejak reformasi digulirkan, bertubi tubi rasanya bencana demi bencana melanda Indonesia. Bencana alam, bencana moral, bencana politik. Kita memang menjadi bebas. Bebas mengkritik pemerintahan. Jaman Suharto mana bisa kayak gitu. Salah2 malah menghilang kena petrus (penembak misterius).

Karena kita dikungkung selama puluhan tahun, setelah kita bebas, bebasnya jadi keblinger. Kesenggol dikit udah bisa bikin beringas. Keberingasan ini juga sedikit banyak mendapat kompor dari media yg bukannya mendidik, malah menayangkan hal hal yg tidak patut seperti sinetron sampah yang merajalela. Kita bisa aja bicara, “kalau nggak suka ya nggak usah nonton”. Tetapi berapa persen masyarakat yang bisa memilih? Televisi bisa jadi adalah satu satunya hiburan bagi kebanyakan rakyat Indonesia. Rakyat yang merasa berpendidikan, bisa aja memilih nggak nonton televisi. LHa yang nggak berpendidikan? Udah nggak punya pilihan, tontonannya itu itu melulu. KOk kayak lingkaran setan ya. Menurut pendapat saya yang awam, yang punya wewenang menayangkan programlah yang tidak punya nurani. Udah rakyatnya banyak yang bodo, dikasih tayangan yang bikin tambah bodoh.

Belakangan ini juga bertubi tubi pencurian budaya kita oleh negara tetangga sebelah yang mengaku negara serumpun. Belum kelar satunya, udah disusul dengan pencurian yang lain. Protes bertubi tubi dari pihak Indonesia. Ada yang menghujat, mencaci maki bahkan sampai mengeluarkan kata kata kotor. Perlukah itu? Protes memang perlu, untuk mempertahankan hak milik kita. Apakah cuma itu? Dipertahankan doang tanpa tindakan lanjut?

Di kota kota besar, makanan asing banyak bertebaran dan banyak yang ngantri sampai mengular, sedangkan makanan tradisional kelas pasar sudah mulai terpinggirkan. Waktu aku mencari sekolah membatik puluhan tahun yang silam, susahhhhh banget. Kalaupun ada peminatnya malah orang asing. Aku satu satunya calon murid Indonesia, nggak sanggup mengikuti karena biayanya mahal dan harus ditanggung sendiri. Heran ya, mempelajari budayanya sendiri di tanah sendiri malah nggak mampu. Syukurlah, tekadku nggak padam sampai beberapa tahun kemudian menemukannya di Museum Tekstil Jakarta.

Pertunjukan ludruk dan wayang orang kembang kempis karena nggak ada penontonnya. Sebaliknya konser musik dari luar negeri menangguk untung besar. Sanggar tari tradisional juga sudah mulai kurang populer di kalangan anak2 dibandingkan sanggar tari modern. Memakai kain tradisional – batik maupun kain tenun – hanya di waktu waktu tertentu. Lebih asyik ber play station daripada ber gobak sodor atau main congklak .
Nggak salah kok semua itu. Mau demen pizza kek, suka game watch kek, nonton konser musik asing kek dan yang lain lain, bagus kok sebagai selingan.

Tetapi jangan lupakan budaya sendiri. Cintailah budaya kita dengan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari hari. Batik bisa kok dipake sebagai baju sehari hari begitu juga kain tenun. Gobak sodor dan engkle adalah permainan seru yang melibatkan banyak orang. Tarian Indonesia banyak ragamnya dan setiap gerakannya mengandung makna.

Nah, daripada menghujat rame2, kenapa kita nggak mulai mempelajarinya sebelum diserobot? Simpen deh energi caci makinya. Protes lah yang keras, tetapi dengan cara yang elegan.

Kalau pemerintahnya melempem, kita sebagai rakyatnya jangan ikut ikutan melempem dan pasrah. Apa yang kita bisa lakukan, sekecil apapun itu, Insya Allah ada gunanya daripada hanya mencaci dan mengeluh yang tidak bisa memecahkan masalah.

Advertisements

19 thoughts on “Ada apa dengan Indonesiaku?

  1. enkoos said: Hany, salut salut. Materi presentasimu piye? Minta materi ke KBRI deh, biar lebih asik lagi

    Kemarin itu dadakan, awalnya temnaku gak mau ikut karena harus packing, tapi daripada sendiri dirumah, aku paksain aja ikut. Terus pas sampai disekolah aku kenalin sama rekan-rekan, terus diajakin utk cerita tentang Indonesia, gak pake persiapan langsung “action” aja, ide demo bahasa juga mengalir begitu aja. Makasih sarannya Vi.

  2. tigun said: Juga jangan lupa, bahwa kekuatan lama Or-Ba sebagain besar masih terus mengobok-obok kolam lumpur Indonesia hingga sa’at ini. Orang-orang mereka masih banyak yang di-indekos-kan ke dalam partai-partai yang ada di dalam tubuh pemerintahan RI. Maklum saja, Indonesia ini negara terkaya di dunia dengan hasil bumi yang ikut menghidupi dunia. Yang ingin mengangkangi kita, buanyak sekali. Sampai Colombus-pun kesasar-sasar ke benua Amerika, demi mencari di mana itu Nusantara.

    Aku curiganya juga begitu. Indonesia carut marut, karena kekuatan Orba belum rela lepas dari tangan mereka. Wong dulu Maluku aman tentram puluhan tahun, lha kok sekarang gontok2an konflik agama. Pasti ada provokatornya. Begitu juga kasus Poso sing gak mandeg2.Masih banyak konflik2 di tanah air yang kok tiba2 muncul belakangan ini dan sewaktu Orba adem ayem.

  3. tigun said: Karena memang teknologi diciptakan, pada dasarnya untuk membangun sebuah “peradaban-modern” yang sehat. Bukan modernisasi membabi buta.

    Akur cak Tigun. Teknologi modern yang membabi buta tanpa mengindahkan budaya, nggak beda dengan robot yang tidak memiliki nurani.

  4. enkoos said: Karena kita dikungkung selama puluhan tahun, setelah kita bebas, bebasnya jadi keblinger. Kesenggol dikit udah bisa bikin beringas.

    Juga jangan lupa, bahwa kekuatan lama Or-Ba sebagain besar masih terus mengobok-obok kolam lumpur Indonesia hingga sa’at ini. Orang-orang mereka masih banyak yang di-indekos-kan ke dalam partai-partai yang ada di dalam tubuh pemerintahan RI. Maklum saja, Indonesia ini negara terkaya di dunia dengan hasil bumi yang ikut menghidupi dunia. Yang ingin mengangkangi kita, buanyak sekali. Sampai Colombus-pun kesasar-sasar ke benua Amerika, demi mencari di mana itu Nusantara.

  5. hblinka said: kayanya itu masalah semua semua negara. Menurut ku sih konsekuensi dari kemajuan teknologi yang terus berkembang.

    Betul juga soal ini. Kehidupan ini memang selalu berkembang dari masa ke masa. Tapi itu tidak berarti teknologi harus merusak lingkungan hidup yang ada. Justru teknologi seharusnya bisa melestarikan kehidupan yang damai dan sehat. Seperti dengan adanya internet, informasi pendidikan semakin mudah tersebar. Pengurangan akan penggunaan kertas semakin berkurang. Muncul sampah elektronik memang. Tapi itupun sekarang ini juga sedang dipelajari terus penanganannya. Karena memang teknologi diciptakan, pada dasarnya untuk membangun sebuah “peradaban-modern” yang sehat. Bukan modernisasi membabi buta.

  6. hblinka said: cuma mau komen ttg hilangnya atau menipisnya kebudayaan Indonesia.. kayanya itu masalah semua semua negara. Menurut ku sih konsekuensi dari kemajuan teknologi yang terus berkembang. Mau gak mau.. mayoritas terkonsentrasi ke hal2 yang baru dan yang lama terlupakan.

    Bukan berarti lantas kita berpangku tangan jadi penonton hilangnya kebudayaan. Berbuat sesuatu untuk melestarikan adalah lebih baik daripada cuma mengeluh dan mencaci maki. Itu pointnya. Kemajuan teknologi bisa hidup berdampingan dengan budaya lama. Contohnya, televisi dan internet bisa jadi alat propaganda untuk mempromosikan budaya dan adat. Bukankah televisi dan internet adalah produk kemajuan teknologi?Bikin empek2 atau sambel pake food processor. FP kan produk kemajuan teknologi bukan? Huruf Jawa hanacaraka sudah ada programnya di komputer dan bisa dipake mengetik di MS WOrd. Bukankah komputer adalah produk teknologi modern? Masih banyak lagi contoh di kehidupan sehari hari yang membuktikan keselarasan antara teknologi modern dengan kebudayaan lama.

  7. haleygiri said: Siap mbak! Sekarang ku mo sering2 bikin kue2 tradisional… lha wis piye, ternyata emang susah je bikin jajanan pasar, tinimbang bikin cake atawa ruti… Tapi klo gak dimulai belajar, kapan bisa? Gimana bisa lestari ni kekayaan kuliner kita?

    Jajan tradisional banyak yang gampang kok cara bikinnya. Kayak bikin klanthing, lupis, gronthol. Halah…gronthol lagi gronthol lagi. Ngidam kali ye..

  8. kuenogosari said: kebetulan lagi karena aku kerjanya dilingkungan sekolah, aku bawa temanku ke sekolah dan sempat tatap muka dengan 2 kelas dari grade 8 dan 1 kelas grade 5. Lumayan juga Vi! Sebelumnya pas kami diundang makan malam thanksgivingan kami berdua juga ditanya macam-macam sampai sistem kasata di Bali segala. Ditunggu postingannya tentang presentasimu di kalangan pelajar, mungkin nanti aku copy juga buat disini.

    Hany, salut salut. Materi presentasimu piye? Minta materi ke KBRI deh, biar lebih asik lagi

  9. shedariy said: Setuju mba Vi, simpan energi buat caci maki, mari kita menolong diri kita sendiri, kita harus mulai dari sekarang kalo institusi yang berkepentingan melempem…

    Siap mbak! Sekarang ku mo sering2 bikin kue2 tradisional… lha wis piye, ternyata emang susah je bikin jajanan pasar, tinimbang bikin cake atawa ruti… Tapi klo gak dimulai belajar, kapan bisa? Gimana bisa lestari ni kekayaan kuliner kita?

  10. shedariy said: Setuju mba Vi, simpan energi buat caci maki, mari kita menolong diri kita sendiri, kita harus mulai dari sekarang kalo institusi yang berkepentingan melempem…

    kebetulan lagi karena aku kerjanya dilingkungan sekolah, aku bawa temanku ke sekolah dan sempat tatap muka dengan 2 kelas dari grade 8 dan 1 kelas grade 5. Lumayan juga Vi! Sebelumnya pas kami diundang makan malam thanksgivingan kami berdua juga ditanya macam-macam sampai sistem kasata di Bali segala. Ditunggu postingannya tentang presentasimu di kalangan pelajar, mungkin nanti aku copy juga buat disini.

  11. shedariy said: Setuju mba Vi, simpan energi buat caci maki, mari kita menolong diri kita sendiri, kita harus mulai dari sekarang kalo institusi yang berkepentingan melempem…

    cuma mau komen ttg hilangnya atau menipisnya kebudayaan Indonesia.. kayanya itu masalah semua semua negara. Menurut ku sih konsekuensi dari kemajuan teknologi yang terus berkembang. Mau gak mau.. mayoritas terkonsentrasi ke hal2 yang baru dan yang lama terlupakan.

  12. shedariy said: Setuju mba Vi, simpan energi buat caci maki, mari kita menolong diri kita sendiri, kita harus mulai dari sekarang kalo institusi yang berkepentingan melempem…

    Akur. Daripada energi terbuang sia sia buat hil yang nggak perlu, mending dialihkan ke hal yg positif. Ya ndak?

  13. kuenogosari said: kalau begini kayaknya perlu juga tuh departemen penerangan, asal berfungsi sebagaimana mestinya.

    Setuju mba Vi, simpan energi buat caci maki, mari kita menolong diri kita sendiri, kita harus mulai dari sekarang kalo institusi yang berkepentingan melempem…

  14. kuenogosari said: sepakat! Minggu lalu kami kedatangan tamu teman sekolahku dulu, bersama-sama kami berusaha menjadi duta bangsa “partikelir” menjelaskan tentang negara dan bangsa kita kepada teman-teman disini, bukan hal yang besar tapi paling tidak satu langkah awal sudah dilakukan

    Salut…salut atas usahamu Han. Mau nyobain promosi tentang Indonesia di sekolah2 nggak? Bahan2nya bisa minta ke KBRI. Indonesia ki jane sugih mbrewu. Promosinya aja yg kurang gencar ditambah pula berita2 negatif yang lebih disorot, jadinya tambah terpuruk. Nanti Insya Allah aku ceritakan pengalamanku ngasih presentasi di kalangan pelajar di kotaku

  15. enkoos said: Nah, daripada menghujat rame2, kenapa kita nggak mulai mempelajarinya sebelum diserobot? Simpen deh energi caci makinya. Protes lah yang keras, tetapi dengan cara yang elegan.

    sepakat! Minggu lalu kami kedatangan tamu teman sekolahku dulu, bersama-sama kami berusaha menjadi duta bangsa “partikelir” menjelaskan tentang negara dan bangsa kita kepada teman-teman disini, bukan hal yang besar tapi paling tidak satu langkah awal sudah dilakukan.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s