Memperkenalkan Indonesia di kalangan pelajar Amerika

Postingan ini sekaligus menjawab pertanyaan Haley. Sambil menyelam minum dawet 🙂 Aku memang pendatang baru di kota Duluth. Kota kecil yang jauh dari hiruk pikuknya kota besar.

Gambar diunduh dari sini

Alhamdulillah, aku sangat betah tinggal di kota mungil ini. Seperti yang pernah aku ceritakan disini, bahwa beragam aktifitas yang bisa kita ikuti.

Salah satunya adalah sebuah program yang didanai pemerintah bernama “Desegregation / Integration Program” dan berada dalam lingkup “Public School” dengan maksud agar para pelajar memahami dunia di luar Amerika. Program ini terbagi dalam 4 grup yaitu American Indian, African American, Asia Pacific dan Latin. Tentunya Indonesia masuk dalam grup Asia Pacific. Banyak sekali kegiatan yang diadakan oleh program ini diantaranya adalah kelas memasak, pertunjukan kesenian, presentasi, bazaar dan lain sebagainya. Ajang yang pas untuk memperkenalkan tentang keragaman budaya negara negara lain termasuk Indonesia.

Secara kebetulan aku bertemu dengan sang koordinator program ini dan diriku ditawari untuk bergabung. Sebagai arek Suroboyo yang terkenal dengan boneknya (bondo nekat – modal nekat), tanpa berpikir panjang aku iyakan dong.. Mbuh ngko dikongkon opo dipikir mburi ae sing penting wis mlebu kene (Ntar disuruh ngapain dipikir belakangan yang penting dah gabung). Setelah berdiskusi dan mengikuti rapat yang mereka adakan, otak mulai menyusun rencana. Dengan keterbatasan tenaga dan dana, beberapa proposalku mendapat tanggapan positif. Syukur Alhamdulillah.

Setelah proposal ditanggapi dengan serius, sekarang giliranku yang mumet mencari sumber untuk bahan presentasi. Kalau untuk kelas memasak, Insya Allah bisa ditanggulangi. Untuk pertunjukan kesenian, anakku Menik mahir menari Jawa dan beberapa pakaian tari sempet dicangking kemari. Menampilkan batik? Insya Allah nggak ada masalah, secara hobiku membatik gitu loh. Yang repot adalah nyari gambar dan film yang bagus biar nggak malu2in ditampilkan. Kemana coba nyarinya? Ide presentasi ini dapatnya dari mbak Cahaya Hati. Sebetulnya, film dokumenter tentang Indonesia banyak terdapat di perpustakaan lokal, tetapi sayangnya film jaman kuda gigit pangsit. Jaman Megawati masih kampanye presiden. Kalau kepepet nggak ada yang lain, pake film ini deh daripada nggak ada blas.

Siapapun tahu negara kita tercinta ini sangatlah kaya. Sudah tak terhitung berapa banyak orang asing yang kepincut dan tinggal di Indonesia. Ribuan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke menawarkan kekayaan budayanya sering membuat saya sendiri sebagai bangsa Indonesia berdecak kagum. Tetapi kekaguman dan kebanggaan akan tanah air tercinta ini berubah menjadi ngenes membaca kabar yang banyak diulas media di luar negeri. Setiap kali pemberitaan tentang Indonesia yang muncul adalah bencana gunung meletus, tsunami, banjir bandang. Belum lagi bencana yg dibuat oleh ulah manusia seperti kasus bom, lumpur Lapindo. Serasa belum cukup, masih juga ditambah dengan tingginya tingkat korupsi di Indonesia. Masya Allah. Mengharapkan perubahan dari petinggi bangsa bagaikan pungguk merindukan bulan. Selain itu masih banyak orang yang mengernyitkan dahi mendengar nama Indonesia. Dimanakah itu?
Apakah Indonesia segitu jeleknya sih sampai nggak ada indah2nya blas buat diberitakan ke luar?

Karena udah bener bener kepepet, akupun menghubungi berbagai sumber ke kiri kanan muka belakang segala penjuru mata angin saking paniknya, dan ALhamdulillah seorang teman di Jalansutra berbaik hati mempertemukanku dengan pihak KBRI. Gusti Allah masih sayang sama aku.

Oleh pihak KBRI malah ditantang, mau dikirim berapa ratus set brosurnya supaya bisa dibagikan ke anak anak disini? Alamakkkkk…..tantangan yang menyejukkan.

Brosurnya sangat bagus dan profesional mbok. Berupa film format DVD dengan durasi kurang lebih 15 menit dan disertai peta Indonesia ukuran kurang lebih 52cm x 82cm. Bukan peta sembarang peta lho, tapi peta yang dilengkapi dengan foto foto flora dan fauna khas Indonesia, informasi geografis dan produk ekspor dan juga gambar gambar baju serta rumah adat. Peta dan DVD tersebut dikemas dalam folder cantik nan elegan berwarna bendera Merah Putih dan terdapat untaian kepulauan Indonesia berwarna hijau di tengahnya. Cantik deh pokoknya. Karena Indonesia banyak memiliki tempat yang menarik untuk dikunjungi, waktu tayang 15 menit terasa singkat karena yang diambil hanya sekilas sekilas. Filmnya pun juga sangat ciamik.

Mau tahu petanya kayak apa? Kunjungi websitenya KBRI di http://www.embassyofindonesia.org.

Aku digelontor brosur sebanyak lebih dari seratus. Banyak yah? Lha wong emang jumlah murid yang akan aku kasih presentasi ada 75, belum lagi guru2nya.

Sebelum presentasi berlangsung, aku latihan dulu di depan kamera. Jieee. Abis itu di komentari gimana bagusnya apanya yang kurang dsb. Komentatornya siapa lagi kalau bukan rakyatku berdua – suami dan anak.

Karena peserta presentasi adalah murid2 sekolah kelas 5 SD, Zane ngasih usul supaya topiknya difokuskan di bagian flora dan fauna. Dan ternyata taktik tsb memang jitu.

Aku dikasih waktu untuk presentasi 45 menit per kelas. Alokasinya 10 menit untuk perkenalan tentang Indonesia, 15 menit pemutaran film yang dari KBRI dan sisanya adalah tanya jawab. Sesi perkenalan belum sepenuhnya selesai, pertanyaan demi pertanyaan silih berganti sampai2 aku kewalahan. Pandangan kekaguman dan komentar2 seperti “wow / awesome / cool” nggak henti2nya terdengar sewaktu aku bercerita mengenai komodo, Rafflesia Arnoldi si bunga raksasa, Bunga Bangkai si jangkung berbau busuk, gunung Krakatau. Belum lagi pada saat ditayangkan foto2 diriku di Taman Safari waktu memeluk harimau, singa dan orangutan. Binatangnya masih kanak2 sih, tapi kan tetep aja suatu hal yang langka bagi anak2 disini.

Waktu 45 menit yang disediakan untuk tiap kelas tidak mencukupi karena banyaknya pertanyaan. Pertanyaan2 yang belum sempat terjawab, aku bawa pulang untuk dikerjakan di rumah. Punya Pe eR mbok. Baru aja selesai dikerjakan dan semuanya total ada 10 halaman ukuran A4.

Karena presentasi ini pulalah, aku jadi lebih tahu tentang Indonesia, bahwa kita punya lebih dari 17ribu pulau, bahwa kita punya lebih kurang 400 gunung berapi dan 100 diantaranya masih aktif, bahwa kita ternyata memiliki lebih dari 700 bahasa, bahwa di Indonesia ada lebih dari 500 suku bangsa, bahwa Indonesia merupakan 10% paru paru dunia, bahwa yang lain dan yang lainnya lagi.

Setelah presentasi yang pertama tersebut, sudah 2 undangan presentasi yang mampir untuk ditindak lanjuti. Kegiatan ini sangat aku nikmati, meskipun pada awalnya sempet grogi. Melihat muka2 cilik yang antusias bertanya membuat presentasi ini menjadi sangat hidup. Mudah2an kegiatan ini nggak berhenti sampai disini saja. Insya Allah.

Advertisements

35 thoughts on “Memperkenalkan Indonesia di kalangan pelajar Amerika

  1. ohtrie said: Wowwwwwwww……Bonex yang berguna bagi nusa dan bangsaaaa… bukan bonek yang kerjaannya nggrenjeng di kereta n ngompas di tiap stasiun yang dilaluinya..So awesome n mboksum mbokkk…….. tahun 2007 lho mbokk, saluteeeeeeeeee

    hihihihihi…..bonek itu sebetulnya maksudnya baik, kepanjangan dari bondo nekad. yang suka ngompas di tiap stasiun itu bukan bonek, tapi preman.

  2. erm718 said: akhirnya piye mbak? sudah diterima brosur2nya?melu seneng bocah2 di Duluth jadi kenal dgn Indonesia 🙂

    Wowwwwwwww……Bonex yang berguna bagi nusa dan bangsaaaa… bukan bonek yang kerjaannya nggrenjeng di kereta n ngompas di tiap stasiun yang dilaluinya..So awesome n mboksum mbokkk…….. tahun 2007 lho mbokk, saluteeeeeeeeee

  3. erm718 said: akhirnya piye mbak? sudah diterima brosur2nya?melu seneng bocah2 di Duluth jadi kenal dgn Indonesia 🙂

    mataku berkaca2, luar biasa kesempatan yang allah beri buat mbak. semoga Indonesia makin baik lagi di mata dunia.

  4. erm718 said: akhirnya piye mbak? sudah diterima brosur2nya?melu seneng bocah2 di Duluth jadi kenal dgn Indonesia 🙂

    ALhamdulillah iso, leren ditilpon disik. Dikirim nganggo Fedex ground sing luwih murah.

  5. iwanriswandi said: ha…ha…ha… aku bisa ngebayangin sibuknya waktu persiapan presentasi… udah kebayang lah…, waktu itu bowo aku kasih juga brosur2 tentang indonesia, bahkan dengan filmnya segala (dan aku pikir barang yang sama yang mbaE dapetin dari KBRI), cuman gak tahu sampe apa tidak. Aku saat itu gak bisa kirim langsung ke mbaE, aku di luar jawa terus.Tahun lalu aku juga mempersiapkan hal yang sama, presentasi tentang Indonesia, di salah satu Summer Camp di Springfield, MA. Tapi aku lebih beruntung karena aku nyiapinnya di kandang sendiri, bahan banyak, belajar tari dulu, belajar angklung dulu, belajar nge-dalang dulu, dan belajar bikin ketupat dari janur. Hasilnya luar biasa…, mereka antusias dan seneng banget, dan aku jadi lebih sayang Indonesia dengan segala kondisinya. Dan di sudut sana, di negeri yang dingin, ribuan mil jaraknya dari sini, di pinggir danau Superior, ada seorang ibu pembatik (he..he….), yang telah menyalakan pelita tentang Indonesia di depan anak2 itu, yang mungkin para pembawa perubahan. Congratulation!

    akhirnya piye mbak? sudah diterima brosur2nya?melu seneng bocah2 di Duluth jadi kenal dgn Indonesia 🙂

  6. iwanriswandi said: ha…ha…ha… aku bisa ngebayangin sibuknya waktu persiapan presentasi… udah kebayang lah…, waktu itu bowo aku kasih juga brosur2 tentang indonesia, bahkan dengan filmnya segala (dan aku pikir barang yang sama yang mbaE dapetin dari KBRI), cuman gak tahu sampe apa tidak. Aku saat itu gak bisa kirim langsung ke mbaE, aku di luar jawa terus.Tahun lalu aku juga mempersiapkan hal yang sama, presentasi tentang Indonesia, di salah satu Summer Camp di Springfield, MA. Tapi aku lebih beruntung karena aku nyiapinnya di kandang sendiri, bahan banyak, belajar tari dulu, belajar angklung dulu, belajar nge-dalang dulu, dan belajar bikin ketupat dari janur. Hasilnya luar biasa…, mereka antusias dan seneng banget, dan aku jadi lebih sayang Indonesia dengan segala kondisinya. Dan di sudut sana, di negeri yang dingin, ribuan mil jaraknya dari sini, di pinggir danau Superior, ada seorang ibu pembatik (he..he….), yang telah menyalakan pelita tentang Indonesia di depan anak2 itu, yang mungkin para pembawa perubahan. Congratulation!

    Wan, Bowo nggak ngirim materi yang kamu maksud. Makanya aku kelimpungan cari kesana kemari dan Alhamdulillah ada yg mengarahkan u/ menghubungi KBRI. Yang lebih asiknya lagi, film yg aku dapat dari KBRI adalah untuk dibagi bagikan ke para siswa. Keren kan? Barusan aku minta 500 biji lagi, soalnya dapet undangan presentasi lagi. Tepatnya sih bukan undangan ya, lha wong aku yang ngoyak jeh..Hehehehehe…Nggak apa apa ngoyak demi tanah air tak iye. Bowo dah lama nggak bales emailku, kayaknya emailku ketlingsut lagi deh. Lha wong tadinya rajin berkirim kabar bales2an, tiba tiba ngilang. Kamu belajar ngedalang? Heibat joooo. Wayang golek Sunda pastinya ya? elu kan Sunda tea

  7. tsuroiya said: Mbak….meski persiapan presentasiku di kelas anak2 minim, tapi reaksi mereka sama, takjub dan kagum sama kekayaan bangsa kita. Priceless yaa?

    ha…ha…ha… aku bisa ngebayangin sibuknya waktu persiapan presentasi… udah kebayang lah…, waktu itu bowo aku kasih juga brosur2 tentang indonesia, bahkan dengan filmnya segala (dan aku pikir barang yang sama yang mbaE dapetin dari KBRI), cuman gak tahu sampe apa tidak. Aku saat itu gak bisa kirim langsung ke mbaE, aku di luar jawa terus.Tahun lalu aku juga mempersiapkan hal yang sama, presentasi tentang Indonesia, di salah satu Summer Camp di Springfield, MA. Tapi aku lebih beruntung karena aku nyiapinnya di kandang sendiri, bahan banyak, belajar tari dulu, belajar angklung dulu, belajar nge-dalang dulu, dan belajar bikin ketupat dari janur. Hasilnya luar biasa…, mereka antusias dan seneng banget, dan aku jadi lebih sayang Indonesia dengan segala kondisinya. Dan di sudut sana, di negeri yang dingin, ribuan mil jaraknya dari sini, di pinggir danau Superior, ada seorang ibu pembatik (he..he….), yang telah menyalakan pelita tentang Indonesia di depan anak2 itu, yang mungkin para pembawa perubahan. Congratulation!

  8. tsuroiya said: Mbak….meski persiapan presentasiku di kelas anak2 minim, tapi reaksi mereka sama, takjub dan kagum sama kekayaan bangsa kita. Priceless yaa?

    Iya ya, Indonesia itu jian sugih tenan. Dengan modal presentasi seadanya aja udah bisa bikin mereka melongo terkagum2. Tetapi meskipun persiapan seadanya, kita melakukan dengan sepenuh hati.

  9. rinis said: Selamat ya Vie atas usahanya memperkenalkan Indonesia di USA. Jujur aja saya ini susah pisah dari Indonesia, biar de apa kata orang. Kalau udah beberapa hari ninggalin Indonesia kayanya ada sesuatu yang “hilang”. Tapi jujur juga ati mulai tergoda dengan ajakan saudara ato temen yang udah mengais untung di luar. Kalau diberi kesempatan tinggal/bekerja di luar, saya cenderung memilih negara2 Eropa Barat. Bener ga pemikiran saya ni?

    Sori Rini, aku kelewatan ngliat yang ini. Namanya merantau jauh dari tanah kelahiran biasanya emang gitu, terasa ada yang hilang. Tetapi kalau nggak ada pilihan lain selain merantau, ya harus itu yg kita jalani. Itung2 menambah wawasan biar nggak seperti katak dalam tempurung.Eropa bagus, kendalanya di bahasa. Karena sebagian besar mereka menggunakan bahasa masing2 meskipun generasi mudanya sudah pandai berbahasa Inggris.

  10. cahayahati said: Selamat ya mbak Evie … semoga sukses selalu dengan presentasinya.

    Mbak….meski persiapan presentasiku di kelas anak2 minim, tapi reaksi mereka sama, takjub dan kagum sama kekayaan bangsa kita. Priceless yaa?

  11. cahayahati said: Selamat ya mbak Evie … semoga sukses selalu dengan presentasinya.

    Sukses ya….tnyata di negeri orang mengajarkan qt untuk lebih mencintai negeri sendiri…trm ksh dah mampir di MP saya dan ngusulin dakon/congklak…hwehehe….siapa tahu kelak ada olimpiade permainan tradisional Indonesia sedunia….ganbatte!

  12. enkoos said: Kalau berminat bikin presentasi tentang Indonesia, ntar aku japri ya alamat emailnya staf KBRI yang nangani Public Affair. Orangnya buaikkk banget.

    Selamat ya mbak Evie … semoga sukses selalu dengan presentasinya.

  13. enkoos said: Kalau berminat bikin presentasi tentang Indonesia, ntar aku japri ya alamat emailnya staf KBRI yang nangani Public Affair. Orangnya buaikkk banget.

    Selamat ya Vie atas usahanya memperkenalkan Indonesia di USA. Jujur aja saya ini susah pisah dari Indonesia, biar de apa kata orang. Kalau udah beberapa hari ninggalin Indonesia kayanya ada sesuatu yang “hilang”. Tapi jujur juga ati mulai tergoda dengan ajakan saudara ato temen yang udah mengais untung di luar. Kalau diberi kesempatan tinggal/bekerja di luar, saya cenderung memilih negara2 Eropa Barat. Bener ga pemikiran saya ni?

  14. mimiallen said: Salut deh gw sama elu Evia…gw belum sempat ngomong sama si Mike, tapi gw mau coba tuk usulin doi spy gw bisa bawain ttg indo bagi anak2 elementary di Peoria sini, krn Mike udah ada channel, krn dia pernah jadi volunteer ngajar juga….thank u buat informasi obatnya n juga ttg usulan utk ngajar ttg indonesia bagi londo2 cilik…

    Kalau gerilyanya dah berhasil, tinggal cari materinya. Dari tempatmu lebih deket ke KJRI Chicago kan ya? Minta brosurnya ke sono aja, kali aja mereka punya stok banyak. Daripada kejauhan di Washington DC.

  15. snataly said: Sukses ya jenk.. semoga tetap antusias mempromosiin Indonesia tercinta.. bangga loh baca ceritamu say..bantu doa ajah ya say..semoga semakin banyak aja yg kenal negri kita dgn pandangan yg positif (ga cuma yg jeleknya ajah ).. salam dari jauh..

    Makasih Susy. Makasih doanya, semoga nggak brenti sampai disini.

  16. shedariy said: Fotonya bu guru mana?…pasti “awesome” juga……cool mba Vi, langkah kecil yang besar maknanya….keep moving ya…..

    Hahahaha….presentasine single fighter. Njaluk tulung moto neng sopo? WOng guru2ne yo melu ngrungokno presentasi. Presentasi sing pertama diewangi bojo. Bar kuwi d’e muleh rek, kerjo. Nek KBRI, presentasine rombongan. Ono sing moto, ono sing nggowo angklung, ono sing nyekeli peta. Langkahku iki kecil saja. Masih butuh dukungan teman2 dan saudara sebangsa di tanah air maupun di luar negeri.

  17. niezniez said: “wuaaaa ikutan bangga bacanya Vi 🙂 “

    Niz, mau ikutan promosi juga nggak di sekolah anakmu? Di Shanghai masih mending, karena Indonesia masih agak dikenal disana. orang2 di KBRI Beijing baik2 nggak?

  18. elkaje said: Sukses ya Vi… biarpun kelihatan usaha kecil dibanding kebesaran negara kita…tetep akan berguna nih.

    Makasih mbak Ine. Iya mbak, usaha iki mek sakuprit seujung kuku. Sementara hanya sebatas ini yang aku bisa lakukan.

  19. haleygiri said: Wah, sukses mbak! Ikut seneng deh…Klo jauh di negara orang, mungkin krasa ya klo tanah air kita ini begitu indah dan kaya… tapi klo di negeri sendiri kek gini, kadang banyak mengeluh deh… :p Ya pemerintah yg korup lah, hutan yg habis digunduli, kemiskinan dimana-mana… Huwaaaaaa…Tahu gak, meski gak serius, kadang terbersit keinginan pindah warga negara… kukukukuk…Meski demikian, tanah airku tetep Indonesia kok… tak kan kuingkari itu!

    Itulah yang aku rasakan waktu masih di tanah air. Stress wis. SIng penting, kita mulai dari hal kecil dan dari diri kita sendiri. Nek wong liyo ketularan, ALhamdulillah. Nek gak ketularan, yo wis. Nulari sing gelem ditulari ae. Pindah neng luar negeri ae. Biasane justru tambah cinta lho. Huhuy. Koyok pepatah, jauh dimata dekat di piring. huahahahaha…

  20. kuenogosari said: aku melu muni “wow” pisan Vi. Mungkin kalau aku mengajukan ide untuk kegiatan seperti ini pasti (insyaAllah ding) dapat tanggapan positif. Kemarin waktu kami ngomong didepan kelas 8 sekalian mendemonstrasikan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa yang bikin mereka melongo, rekan yang mengkoordinir leadership group disini sempat bikin dokumentasi tentang kegiatan kami. Kami lebih banyak berbicara tentang sistem pendidikan di Indonesia, khususnya utk pelajar.

    Insya Allah bisa Hany. Kalau nggak bisa tembus, gerilya sendiri ke guru Geografinya langsung. Banyak kok guest speaker yg berbicara di sekolah sekolah dengan topik macem2. Ada yg berbicara tentang global warming, ada mantan pecandu narkoba jadi guest speaker di kelas kesehatan. Kalau berminat bikin presentasi tentang Indonesia, ntar aku japri ya alamat emailnya staf KBRI yang nangani Public Affair. Orangnya buaikkk banget.

  21. Salut deh gw sama elu Evia…gw belum sempat ngomong sama si Mike, tapi gw mau coba tuk usulin doi spy gw bisa bawain ttg indo bagi anak2 elementary di Peoria sini, krn Mike udah ada channel, krn dia pernah jadi volunteer ngajar juga….thank u buat informasi obatnya n juga ttg usulan utk ngajar ttg indonesia bagi londo2 cilik…

  22. Sukses ya jenk.. semoga tetap antusias mempromosiin Indonesia tercinta.. bangga loh baca ceritamu say..bantu doa ajah ya say..semoga semakin banyak aja yg kenal negri kita dgn pandangan yg positif (ga cuma yg jeleknya ajah ).. salam dari jauh..

  23. Wah, sukses mbak! Ikut seneng deh…Klo jauh di negara orang, mungkin krasa ya klo tanah air kita ini begitu indah dan kaya… tapi klo di negeri sendiri kek gini, kadang banyak mengeluh deh… :p Ya pemerintah yg korup lah, hutan yg habis digunduli, kemiskinan dimana-mana… Huwaaaaaa… Tahu gak, meski gak serius, kadang terbersit keinginan pindah warga negara… kukukukuk… Meski demikian, tanah airku tetep Indonesia kok… tak kan kuingkari itu!

  24. aku melu muni “wow” pisan Vi. Mungkin kalau aku mengajukan ide untuk kegiatan seperti ini pasti (insyaAllah ding) dapat tanggapan positif. Kemarin waktu kami ngomong didepan kelas 8 sekalian mendemonstrasikan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa yang bikin mereka melongo, rekan yang mengkoordinir leadership group disini sempat bikin dokumentasi tentang kegiatan kami. Kami lebih banyak berbicara tentang sistem pendidikan di Indonesia, khususnya utk pelajar.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s