INTO THE WILD

Sutradara: Sean Penn
Pemeran Chris McCandless: Emile Hirsch
Pemeran Billie McCandless alias emaknya Chris: Marcia Gray Harden
Pemeran Walter McCandless atau biasa dipanggil Walt alias bapaknya Chris: William Hurt
Pemeran Carine, adiknya Chris sekaligus sahabat karibnya: Jena Malone
Pemeran Jan Burrey: Catherine Keener
Pemeran Ronz: Hal Holbrook
Pemeran Wayne Westerberg: Vince Vaughn
Wayne Wsterberg yang asli diangkat Penn jadi konsultan film ini, karena hubungannya yang dekat dengan Chris.

Saya sangat tergila gila dengan kisah Into The Wild. Saking demennya sampe nonton filmnya berkali kali tanpa bosan lantas berlanjut dengan membaca bukunya berkali kali, membeli CD soundtrack filmnya dan diputar berulang ulang dan yang lebih gila lagi bikin reviewnya untuk tugas kuliah.

Alamak jannnnnn……

Film ini diangkat dari kisah nyata, penggalan kehidupan seeorang pemuda yang bernama lengkap Christopher Johnson McCandless. Pemuda pandai yang lulus dengan sangat memuaskan dari Universitas Emory di Atlanta dan meninggalkan kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Universitas Harvard yang sangat prestisius.

Kecewa dan muak akan paparan gaya hidup orang tuanya yang borjuis dan sangat materialistis, Chris memutuskan lari dari keluarganya tanpa kabar sama sekali meskipun kepada adik kandung satu satunya yang merupakan sahabat setianya selama ini. Tabungan pribadinya sebanyak $24,000 disumbangkan sepenuhnya ke yayasan sosial Oxam yang tadinya akan digunakan untuk mendaftar di Universitas Harvard. Segala macam kartu identitas dirinya digunting dan dibakar dan itu termasuk kartu kredit, kartu mahasiswa, kartu bank.

Pengembaraan Chris dimulai dengan mengendarai mobil Datsun kuning kesayangannya yang dianggap sampah dan kurang aman oleh orangtuanya untuk anak lelakinya itu. Mobil tsb sudah pernah dibawa berkelana oleh Chris sampai ke Alaska tanpa kesulitan yang mengganggu sebelum pengembaraannya kali ini. Sayangnya dalam pengembaraan kali ini, mobil kesayangannya ini diterjang oleh banjir bandang di sebuah gurun di negara bagian Nevada. Chris pun tetap melanjutkan perjalanannya dengan hitchhiking (mengacungkan jempol jarinya di pinggir jalan untuk mendapatkan tumpangan kendaraan).

Karena Chris tidak mau terlacak oleh siapapun, plat nomer mobilnya dicopot dan dibuang ke tempat sampah yang cukup jauh. Selain itu Chris juga membakar sisa uang tunai yang masih dimilikinya. Chris juga mengganti namanya menjadi Alexander Supertramp sesuai dengan pilihan hidupnya karena Tramp berarti menggembel, bahasa halus untuk mengembara.

Banyak orang yang ditemuinya dalam pengembaraan ini dan interaksi mereka dengan Chris cukup dalam dan akrab. Sangat berlawanan bila dibandingkan dengan interaksi Chris dan orangtuanya. Kelak, interaksi dengan beberapa orang yang ditemuinya di jalanan ini bisa mengubah cara pandang hidupnya.

Beberapa orang yang ditemuinya adalah sepasang hippies Rainey dan Jan Burres. Jan teringat akan anak lelakinya yang seumuran dengan Chris yang juga menghilang tanpa kabar. Chris berteman baik dengan pasangan ini dan tetap berkirim kabar secara berkala dalam perjalanannya ini. Sewaktu ditanya tentang orang tuanya, Chris hanya menjawab “rather than love, than money, than fame, give me truth” yang Chris cuplik dari buku tulisan Henry David Thoreau berjudul “Walden, or Life in the Woods”. Chris memang penggemar buku Thoreau disamping juga Leo Tolstoy, Boris Pasternak dan Jack London. Beberapa buku mereka menemani perjalananan Chris.

Selain pasangan Rainey dan Jan Burres ada lagi petani gandum bernama Wayne Westerberg yang bermukim di Carthage, South Dakota yang sudah dianggap orangtua kedua bagi Chris. Bila ditanya, Chris selalu mereferensikan South Dakota sebagai tempat tinggalnya. Di ladang gandum ini Chris juga bekerja untuk mengongkosi pengembaraannya.

Selain itu masih ada lagi seorang pensiunan militer bernama Ronald A Franz yang dimainkan dengan sangat apik oleh aktor Hal Holbrook. Ron begitu terkesan dengan Chris dan mereka bisa berinteraksi dengan akrab selama berhari hari. Di saat perpisahannya dengan Chris, Ron menyampaikan niatnya untuk mengadopsi Chris sebagai cucunya. Ron adalah pensiuan tentara, ia kehilangan anak istrinya pada sebuah kecelakaan mobil di Amerika di saat Ron sedang bertugas di Jepang puluhan tahum sebelumnya dan hingga pertemuannya dengan Chris, Ron tidak juga menikah lagi.

Pada satu titik, setelah mengembara ke beberapa tempat Chris memutuskan untuk menuju Alaska, tinggal disana dan meninggalkan semua kenyamanan dunia selama beberapa waktu. Hanya berbekal senjata berburu bekas, 10 pound beras, beberapa buku bacaan, dan buku petunjuk tentang locally edible plants yang dibelinya di sebuah toko di Alaska dimulailah petualangan yang sesungguhnya. Tanpa kompas, peta dan tetek bengek peralatan survival di alam bebas.

Berbulan bulan dalam kesendiriannya di tengah kelebatan hutan Taman Nasional Denali – Alaska, Chris akhirnya menyadari makna hidup yang sesungguhnya sebagai mahluk sosial “happines only real when shared” yang dikutipnya dari buku Doctor Zhivago karangan Boris Pasternak.

Sayang sekali, hidup Chris harus berakhir secara tragis di sebuah bis rongsok yang menjadi tempat tinggalnya dalam kesendirian di dalam Taman Nasional tersebut. Mayatnya ditemukan oleh sekelompok pemburu moose hanya selang kurang dari seminggu setelah kematiannya dan dalam keadaan berbaring didalam kantong tidur yang dijahit oleh ibunya. Akhir hidup yang tak disesali oleh Chris yang tergambar dari tulisannya di secarik kertas “I have had a happy life and thank the Lord. Goodbye and may God bless all”

Kematiannya diduga akibat keracunan kentang liar yang dimakannya. Kenapa diduga? Karena sampai saat ini masih belum terkuak apa sebenarnya yang menyebabkan kematiannya. Kentang liar tsb apabila dimakan oleh orang normal, kadar racunnya masih bisa dinetralisir oleh sistim kekebalan tubuh kita. Tetapi dengan kondisi tubuh Chris yang kekurangan nutrisi penting selama berbulan bulan, sistem kekebalan tubuhnya tidak bisa menolak racun sekaliber kentang liar tsb. Dugaan lainnya, kentang liar tsb ditumbuhi kapang yang beracun, dan racun itulah yang meracuni tubuh Chris dan mengakibatkan kematiannya. Tetapi pada saat dilakukan otopsi, tidak ditemukan racun ditubuhnya. Besar kemungkinan kematiannya disebabkan oleh kelaparan yang akut.

Sebagai pengagum Chris, Penn tidak terjebak untuk menokohkan Chris sebagai pahlawan. Disini Chris digambarkan apa adanya sebagai seorang pemuda naif yang kecewa lalu melakukan pengembaraan tanpa perhitungan yang matang sehingga berakibat fatal.

Seperti banyak terjadi pada beberapa film yang diadaptasi dari buku, sulit untuk menterjemahkannya dalam film dengan durasi yang terbatas. Saya duga, untuk mengantisipasi hal ini, Penn mengambil gambar layaknya seperti film dokumenter ala Discovery Channel ataupun sekelas National Geographic.

Nggak heran, film ini banyak menyabet sederet penghargaan, seperti Golden Globe 2008 untuk Eddie Vedder sebagai Best Original Song, Gotham Award 2007 sebagai Best Film, Sao Paolo International Film Festival 2007 sebagai Best Foreign Language Film dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk 33 nominasi yang masih sedang berlangsung saat resensi ini saya tulis.

Disarankan untuk menonton filmnya dulu baru setelah itu membaca bukunya dibanding sebaliknya. Banyak dari cerita di buku yang tidak terdapat di film karena keterbatasan durasinya meskipun film ini cukup panjang 148 menit.

Awal mulanya, cerita ini ditulis Jon Krakauer di majalah Outside tahun 1993 secara berseri beberapa bulan setelah kematian Chris. Kemudian di tahun 1995, Jon Krakauer menulis buku dengan cerita yang lebih detail. Tidak lama setelah itu Sean Penn berminat untuk memfilmkan kisah ini dan lantas meminta ijin kepada keluarga McCandless. Sean Penn harus bersabar menunggu selama 10 tahun, waktu yang dibutuhkan bagi keluarga McCandless untuk memulihkan rasa kehilangan anggota keluarga dengan cara menyakitkan seperti ini. Setelah ijin keluar di tahun 2005 mulailah proses pembuatan film tsb di bulan Januari 2006 yang memakan waktu sekitar 8 bulan. Film ini pertama kali dirilis bulan September 2007 dan sekarang bisa ditonton melalui DVD.

Tanggapan saya secara pribadi, saya sangat memahami kekecewaannya terhadap tatanan sosial lingkungannya. Untuk itulah saya menaruh simpati pada Chris atas keberaniannya mengambil langkah yang sangat ekstrem untuk ukuran normal.

Jadi kenapa saya sampai tergila gila dengan film ini karena kehidupan saya di masa muda (berarti sekarang sudah tuwir mbok) sedikit banyak seperti Chris. Kehidupan yang anti kemapanan, sering melakukan pengembaraan dengan hitchhike dan hampir saja memutuskan untuk hidup mengembara dengan alasan yang sama muak dengan tatanan kehidupan sosial di lingkungan sekitar saya yang cenderung materialistis tapi nggak kecewa dengan orang tua lho. Wong hubungan saya dengan ortu saya cukup harmonis dan sangat dekat. Kalau friksi mah biasa itu, bumbunya kehidupan tapi nggak sefrontal hubungan Chris dengan orang tuanya.

Karena satu dan lain hal yang nggak mungkin saya ungkapkan disini, maka saya berubah haluan untuk hidup menjadi orang normal, sampai akhirnya film ini membangkitkan kembali impian lama yang sudah mulai sayup sayup ditelan keseharian dan hampir aja terkubur. Rasanya nyaman hidup mengembara seperti itu, tiada beban untuk memiliki barang barang yang tak perlu yang hanya memberatkan perjalanan kita. Tidak perlu memiliki rumah yang hanya kita perlukan untuk sekedar singgah dan istirahat. Dunia ini sebenarnya sudah cukup makmur untuk menghidupi semua mahluk hidup yang mendiaminya. Hanya karena keserakahan kitalah yang membuatnya terjadi ketimpangan disana sini.

Advertisements

22 thoughts on “INTO THE WILD

  1. fendikristin said: wah sayang sekali saya nga ntn film ini..kemaren liat sekilasan di HBO seperti-nya 😦 mudah2an ada siaran ulang

    berharap menemukan postinganmu tentang pengalaman pengembaraanmu yg kayak Chrisor, will you help me show which is which? heheheheaku juga suka banget film ini, sempet nulis reviewnya tapi pendek ajah.

  2. fendikristin said: wah sayang sekali saya nga ntn film ini..kemaren liat sekilasan di HBO seperti-nya 😦 mudah2an ada siaran ulang

    waaaahh saya dipinjemin film ini sama tmn saya…tapi belom sempat ngeliat….wiken ini kudu ditonton nih 😀

  3. enkoos said: iya. ini memang fakta. ngapain juga punya rumah dengan puluhan kamar kalau kita cuma butuh satu kamar. ngapain juga punya rumah dimana mana kalau satu saja sudah cukup. ngapain juga punya rumah kalau cuma buat sekedar ngaso.

    iya iya

  4. rengganiez said: saya suka kata2 ini mbakkk

    iya. ini memang fakta. ngapain juga punya rumah dengan puluhan kamar kalau kita cuma butuh satu kamar. ngapain juga punya rumah dimana mana kalau satu saja sudah cukup. ngapain juga punya rumah kalau cuma buat sekedar ngaso.

  5. enkoos said: Tidak perlu memiliki rumah yang hanya kita perlukan untuk sekedar singgah dan istirahat. Dunia ini sebenarnya sudah cukup makmur untuk menghidupi semua mahluk hidup yang mendiaminya. Hanya karena keserakahan kitalah yang membuatnya terjadi ketimpangan disana sini.

    saya suka kata2 ini mbakkk

  6. iwanriswandi said: Mba Evi, Into The Wild, pertama baca ya dari buku yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Pendapatku lebih seru baca di buku daripada filmnya…Hari ini di Jakarta sedang diputar film perdana Laskar Pelangi, pasti sudah baca tetraloginya Andrea Hirata; Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov (yang ini belum terbit)…, Deg-degan juga apakah filmnya se hebat bukunya…, walaupun kata sang Penulis, mungkin lebih hebat film-nya…

    Nggak sulakarena jagoannya mati…:((

  7. iwanriswandi said: Mba Evi, Into The Wild, pertama baca ya dari buku yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Pendapatku lebih seru baca di buku daripada filmnya…Hari ini di Jakarta sedang diputar film perdana Laskar Pelangi, pasti sudah baca tetraloginya Andrea Hirata; Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov (yang ini belum terbit)…, Deg-degan juga apakah filmnya se hebat bukunya…, walaupun kata sang Penulis, mungkin lebih hebat film-nya…

    Hai Iwan, kumaha damang?AKu baca bukunya yg versi bhs Inggris dan belum baca yg versi Indonesia. Kadang suka kecewa sih ya kalau baca versi Indonesianya karena terjemahannya nggak pas.Mengenai lebih seru bukunya, makanya aku sarankan nonton filmnya dulu baru baca bukunya. Aku tulis kan di review di atas. Karena filmnya emang bagus, aku nggak merasa rugi nonton filmnya. Memang banyak detil yg nggak ditampilkan di film tapi tetep aja angle pengambilan gambarnya dan ekspresi para pemainnya yang bener2 total dalam membawakan perannya masing2 enak untuk ditonton. Nggak heran sih karena sutradaranya Penn yang kondang dengan perfeksionisnya. Belum lagi ilustrasi musiknya yang cocok banget dengan filmnya. Bener2 seperti mewakili perasaan Chris, karena Eddy Vedder yg bikin ilustrasi musiknya punya visi yg sama dengan Penn dan Chris meskipun nggak se naif Chris. Sangat layak kalau film ini meraih banyak penghargaan kelas dunia. Udah nonton belum?

  8. haleygiri said: Kucatat!!! Harus nonton niii… Pilem-nya Sean Pean sealalu beda

    Udah keluar toh di Indonesia filmnya Haley? Sean Penn emang beda, dia punya pemikiran yg tidak biasa. Ada filmnya yang tentang perang Irak dan shootingnya juga beneran di Irak sana, entah apa judulnya.

  9. Mba Evi, Into The Wild, pertama baca ya dari buku yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Pendapatku lebih seru baca di buku daripada filmnya…Hari ini di Jakarta sedang diputar film perdana Laskar Pelangi, pasti sudah baca tetraloginya Andrea Hirata; Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov (yang ini belum terbit)…, Deg-degan juga apakah filmnya se hebat bukunya…, walaupun kata sang Penulis, mungkin lebih hebat film-nya…

  10. DVDnya belum keluar ya di Indonesia? Padahal bisa dibilang film lama lho itu. Rilis tahun kemaren. Nonton aja dulu filmnya, baru baca bukunya biar nggak kecewa. Kalau baca dulu bukunya baru nonton biasanya sih kecewa karena ada beberapa yang dilewati karena keterbatasan waktu tayang. Oh udah pernah bikin coretannya ya? Boleh baca dong?

  11. aku juga tahu nih soal ini, aku pernah juga menulis tentang Chris di salah satu coretanku. Aku nonton interview Oprah dengan Sean Penn, pemeran Chris, John Krakauer dan adiknya. Sayang di sini belum main … pengen nonton jugaaaaaa

  12. Naila, selamat melaksanakan ibadah puasa ya. Semoga diterima amalannya. AmienFilm ini bagus banget Naila. Aku bukan penggermar film dan nggak suka nonton. Tapi film ini ceritanya membumi sekali. Potret kehidupan orang2 di sekitar kita yang mungkin aja luput dari pandangan.Kuliahnya? hehehehehe…ngambil mata kuliah yang ada hubungannya ama bidang tulis menulis. Siswa diminta nyari artikel untuk dibuat reviewnya. Bisa berita hangat, berita basi. Lha aku teringat film ini, ya aku bikin reviewnya.

  13. Pingin nonton mbak jadinya. BTW kuliah apa nih mbak kok pake bikin review film ? Hebat….semoga sukses ya mbak. Ramadhan Mubarrak dan Selamat Menyambut Idul Fitri ya, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s