BILA PERANTAU PULANG KAMPUNG

Salah satu angkutan penduduk di Madura, difoto pada saat melakukan perjalanan kesana – Juni 2008.

Pulang kampung ibarat nyanyian merdu yang mengkilik kilik kuping hampir semua perantau. Segala daya upaya diusahakan agar bisa mudik ke kampung halaman. Jangankan yang negerinya sedang aman tenteram, yang negerinya sedang dilanda konflik parahpun tidak menghalangi keinginan seorang perantau untuk mudik meskipun dengan cara sembunyi sembunyi.

Seperti kisah seorang kenalan saya yang berasal dari negeri tetangga. Kenalan saya ini dulunya seorang mahasiswa yang menuntut perbaikan sistem pendidikan di negerinya. Demo deh istilahnya. Negerinya yang memang saat itu sedang diperintah oleh tirani yang kejam (bahkan sampai sekarang) tidak bisa menerima tindakan demo penduduknya, sehingga kenalan saya ini terpaksa melarikan diri ke negeri tetangga untuk mencari perlindungan.

Terlunta lunta menjadi pengungsi selama hampir 3 tahun sampai akhirnya diselamatkan oleh sebuah badan dunia untuk dipindahkan ke sebuah negara. Kenalan saya diberi 3 pilihan negara untuk menetap oleh badan dunia tersebut dan dipilihlah Amerika Serikat.

Tahun demi tahun berlalu, membanting tulang untuk bisa hidup secara layak di negeri asing jauh dari sanak keluarga hingga pada saatnya sang kenalan berhasil hidup layak menurut ukurannya dengan identitas yang sama sekali berubah. Perubahan identitas ini bukannya tanpa sebab tetapi untuk melindungi dirinya dari pelacakan sang tirani.

Merasa sudah mapan, kerinduan untuk mengunjungi kampung halaman dan sanak saudaranya bisa terwujud. Sayangnya karena negerinya masih juga dicengkeram tirani yang sama, sang kenalan inipun tidak bisa mengunjungi sanak saudaranya dengan terang terangan, sehingga setiap kali mudik selalu dilakukan di malam hari dengan cara mengendap endap dan melakukan perjalanan dari negeri tetangga yang relatif lebih aman. Risikonya sangat tinggi karena bila sampai tertangkap habislah dia. Amerika sebagai negara barunya tidak bisa melindunginya karena sang kenalan masuk ke negara asing tanpa kulunuwun dan ini melanggar aturan. Untuk mengajukan visapun juga tidak mungkin, karena salah satu persyaratannya adalah menunjukkan sertifikat lahir. Dari sertifikat lahir ini akan ketahuan negeri asal sang kenalan ini. Serba salah memang.

Jalan satu satunya ya harus mengendap endap seperti itu untuk bertemu keluarganya. Keterikatan dengan akarnya yang membuat seorang perantau selalu ingin pulang kampung. Orang Amerika saja yang terhitung negara imigran masih juga terlihat bangga dengan nenek moyangnya. Yang dari Jerman bangga dengan ke-Jerman-annya, yang dari Skandinavia bangga dengan identitas Skandinavia-nya meskipun keterikatan mereka tidak sekuat orang orang yang perantauannya masih dalam hitungan satu generasi. Pada umumnya orang Amerika bermigrasi dari tanah asalnya di Eropa di sekitar abad 18 – 19. Ini bukan riset ilmiah, hanya berdasarkan cerita yang sering saya dengar.

Barusan ini saya mudik ke tanah kelahiran setelah selama hampir 2 tahun nggak pulang. 2 tahun mah masih sebentar, ada lho yang 10 tahun nggak pulang pulang. Beruntung saya bermukim di negari yang mengalami liburan sekolah sampai 3 bulan, sehingga pulang kampungnya bisa dioptimalkan.

Berapa lama dan kemana?

Dua bulan saja dan berkutat di seputaran Jawa dan Sulawesi seperti:

  1. Surabaya (ya tentu dong, lha wong ibuku dan keluarga besar di Surabaya)
  2. Ke Madura dengan sekumpulan perempuan gahar berani mati.
  3. Keliling Jawa sendiri dan berdua dengan Menik berbackpacking atau kalau istilah saya mbambung alias nggembel.
  4. Keliling Sulawesi setengah mbambung dengan keluarga.

Insya Allah kalau ada umur panjang saya akan menulis lanjutannya dengan catatan bila mood menulis juga masih ada.

Sekarang saya pamit dulu. Mau mbabu bersihin rumah dan juga persiapan buat kemping 2 hari.

Advertisements

24 thoughts on “BILA PERANTAU PULANG KAMPUNG

  1. si3rra5 said: Kuuuuus…. *peluk muah-mwuah*Met lebaran… gimana ketupatnya di sonoh ? :))…ayooo poto-potonya di upload cepet2, yg sulawesi dan ujung genteng bikin penasaran….

    Hehehehe…Sienny *pelukk rafetttttt*Makasih ya. Kagak ada kupat. Adanya lontong.Foto foto belum sempet di upload. Jangankan upload, diutak atik aja belon. Ntar yah kalau udah agak lowong (halah..sok sibuk).

  2. irma303 said: waduh, naik beginian keliling daerah :Dsalut berat, aku ngga berani 😀 😀

    Kuuuuus…. *peluk muah-mwuah*Met lebaran… gimana ketupatnya di sonoh ? :))…ayooo poto-potonya di upload cepet2, yg sulawesi dan ujung genteng bikin penasaran….

  3. irma303 said: waduh, naik beginian keliling daerah :Dsalut berat, aku ngga berani 😀 😀

    Kalau nggak hobi emang berat ngliatnya. APalagi dengan kondisi umur yg udah nggak muda lagi, bisa rontok tulang2nya. Hehehehe…Tapi asik kok Irma, ngobrol2 dengan mereka menyatu dengan kehidupan mereka.

  4. tigun said: Bicara soal pulang kampung, aku malah buinun, ning. Lha kampungku iki ndik endi? Wong asli Jawa Timur, tapi sing ndik Ja-Tim wis bablas kabeh. Transmigrasi ke Jekerte semua. ke Jawa Tengah jugak cumak nyekar or-tu aja. Ke Jekerte, tapi itu bukan kampung asli aye. Cuman pernah idup da sono aje. Beginilah nasib orang yang besarnya keleleran da mana-mana. Mbambungan asli. Boso londonya ‘pure bohemian’ .. 😦

    Kuwi jenenge global kampung tak iye cak…:)

  5. anikduewer said: Blm pernah ke Madura,tp bs bahasa Madura. Pernah sewaktu smp…numpang truk/ cevrolet waktu itu[ sangune enthek+ panas bgt arep mlaku hahahaha].

    Hahahaha….dewean opo rombongan An?Sakalangkong nggeh….

  6. cahayahati said: waduh seru banget mbambung-rianya … nunggu aaahhh ceria kelanjutannya.Potret kehidupan di kendaraan seperti di atas emang ngenes ya …

    Seru banget Angky, nunggu mood nya dulu neh buat ditulis. Potret diatas banyak aku temui dimana mana, bukan cuma mobil malah ada sepeda motor segala. Terkadang ada rasa rindu ngliat yg kayak gitu, tapi juga sedih sebenernya.

  7. didihan said: LHO LHO LHO<mulih tah iki wah senenge rek, nggak ketemu ambe Bowo tah?nang madura saiki gampang yoh jarene ono jembatanne teko suroboyo yoh?wah wetengku malih krenyeng2 rek pingin mudik juga he he he

    Ra kelakon ketemu Bowo. Mung klepon2an bae. Masiyo klepon2an sik pancet edan. Meh ndanio yen ketemu, tambah gendeng bekneJembatan meduro durung dadi cak. Kuwi ket jaman tahun 90an nganti saiki ra mari mari.Terkena sindrom Madura kali. Lagek masang cagak siji wis ilang dikilo. Huahahahaha….

  8. erm718 said: mampir Parakan ndak? 😉

    Pengennya sih mampir mbak, wong kuwi nggone mbahku mbiyen meskipun simbah wis ra ono dan juga asal mula aku mengenal permbambungan. Tapi ra kelakon mrono. Banyak hil hil yg mustahal yen dicritakno dowo koyok sepur kluthuk

  9. haleygiri said: ih, aku rung kelakon mbambung nang madura, padal sing pengen sejak 4 tahun lalu…

    Gek ndang mbambung neng kono. Wong nggone cedak banget kuwi. 3 dino cukup. Nek pengen puas dan dimat matke 4 dino lah, opo mesisan seminggu?Ngenteni aku mudik maneh po? Soale aku jik pengen mrono maneh tapi dengan model mbambung. Ra model koyok wingi perempuan2 perkasa. Hihihihihi…

  10. yenisfamilyblog said: Jadi ingat aku masih sekolah dan Kuliah dulu mbak,kalo mudik tahan ngantri nunggu bus sehari sebelumnya,karna kalo ngga gitu ngga kebagian bus..

    Haiyaaaa…kalau masih muda kayaknya tahan banting ya. Ngantri seharian di jalan nungguin bis asik asik aja. Met lebaran ya. Dah baca PM nya belum?

  11. Bicara soal pulang kampung, aku malah buinun, ning. Lha kampungku iki ndik endi? Wong asli Jawa Timur, tapi sing ndik Ja-Tim wis bablas kabeh. Transmigrasi ke Jekerte semua. ke Jawa Tengah jugak cumak nyekar or-tu aja. Ke Jekerte, tapi itu bukan kampung asli aye. Cuman pernah idup da sono aje. Beginilah nasib orang yang besarnya keleleran da mana-mana. Mbambungan asli. Boso londonya ‘pure bohemian’ .. 😦

  12. LHO LHO LHO<mulih tah iki wah senenge rek, nggak ketemu ambe Bowo tah?nang madura saiki gampang yoh jarene ono jembatanne teko suroboyo yoh?wah wetengku malih krenyeng2 rek pingin mudik juga he he he

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s