Klenong klenong di kota Malang

Bagian kedua: Minggu 15 Juni 2008 klenong klenong di Malang.

Esok harinya, Minggu tanggal 15 Juni 2008 dilanjut dengan klenong klenong ke kota Malang. Berangkat dari rumah pagi hari dengan rombongan ludruk se kelurahan dan nggak lupa membawa berbungkus bungkus semanggi buat ganjel perut di pagi hari.

Persinggahan pertama adalah depot HTS. Disini masih pemanasan karena yang kami makan juga masih berupa cemilan. Ada tahu petis (andalannya depot), serabi kuah kinca (kesukaan saya), ote ote Porong, tempe menjes (ah enaknya, sudah bertahun tahun nggak makan menjes), tempe kacang, lemper, kroket, risoles, lumpia, paru bacem. Minumnya teh botol dan es kelapa muda, slruppp….segerrrrr.

Selesai pemanasan di depot HTS, kamipun melanjutkan perjalanan dan tujuan berikutnya adalah toko Sensa. Toko yang menyebut dirinya sebagai pusat penjualan oleh oleh khas Malang. Disini kami membeli rengginang, kripik kentang khas Malang, kripik tempe, sambel goreng ebi, dan lagi lagi membeli aneka cemilan basah.

Puas mengubek ubek toko SENSA, kami melanjutkan perjalanan menuju alun alun kota Malang. Sementara rombongan singgah sejenak di mesjid sambil mengistirahatkan perut, sayapun mulai pecicilan melihat keadaan sekeliling. Ada penjual bakso pikulan yang sudah amat jarang di Surabaya. Ada penjual minuman yang saya duga legen. Saya tidak sempat berbicara kepada si bapak penjual tersebut sehingga tidak tahu pasti apa yang dijualnya.

Setelah dirasa cukup mengistirahatkan perut, kamipun melanjutkan perjalanan menuju warung nasi Buk Madura di kawasan Klenteng. Sayang kami datangnya kesiangan sehingga lauk pauknya sudah nggak lengkap lagi. Nasi buk ini berupa nasi yang dimasa pera (rada kering dan nggak kempel – khas Madura) ditemani daging sapi beserta jerohannya, serundeng dan lodeh encer. Enggak ketinggalan sambelnya karena makan serasa tidak lengkap tanpa sambal seperti hidup serasa hampa tanpa warna. Halah….

Kelar memanjakan diri dengan makanan tak sehat (full jerohan mbok. Udah tahu nggak sehat masih juga diembat. Enggak apa2 toh hanya sekali sekali) perjalanan dilanjutkan ke Pasar Besar. Saya memang hobi blusukan pasar. Pasar kecil, pasar besar, pasar bersih, pasar becek, pasar resmi, pasar krempyeng, pasar pagi, pasar malam, pasar lama, pasar baru, pasar senggol apa aja deh segala jenis pasar saya demen. Saking demennya dengan pasar, saya sampai bikin cerita yang cukup panjang mengenai pasar di awal mula ngeblog.

Di pasar ini jugalah saya menghabiskan waktu paling banyak selama klenongan di Malang. Disini saya membeli berbagai macam peralatan dapur dan peralatan makan berbahan tanah liat dan batok kelapa seperti misalnya wajan serabi dan anglonya, enthong (sendok) nasi, sendok sayur, cangkir batok kelapa yg biasanya dipake para penjual jamu gendongan, tampah (nyiru), suthil kayu kecil. Di pasar ini saya juga sempet mojok sama penjual jamu. Bukan kencan sama bakul jamunya, tapi membeli dagangannya karena lokasi jualannya emang di pojokan. Saya membeli segepok kayu manis yang ukurannya sepanjang kaki bayi.

Puas klenongan di pasar, kami meluncur pulang karena hari sudah menjelang sore. Di perjalanan nggak lupa mampir dong di Bakpao Telo. Incip sana incip sini, mencoba berbagai penganan berbahan dasar telo (ubi). Orang Indonesia emang kreatif. Dari bahan dasar ubi jalar (telo) bisa dibuat menjadi mi, es krim, brownies, bakpao, nugget dan lain lain. Rasanyapun tidak mengecewakan. Saya suka es krimnya. Rasa telonya terasa kuat dengan tekstur yang cukup lembut membelai lidah.

Selain tempat tempat tersebut di atas, ada beberapa yang ingin saya kunjungi seperti bakso khas Malang dan putu Lanang. Sayangnya karena keterbatasan waktu dan putu lanang juga nggak buka waktu itu sehingga saya belum berkesempatan menjajalnya.

Bersambung …

Advertisements

6 thoughts on “Klenong klenong di kota Malang

  1. cutyfruty said: Orang Indonesia kalau mudik yang dipikirin makanan ya. Aku juga gitu, maunya mencoba makanan terutama yang langka di sini…..cuma tetep aja ngga semua bisa dicicipin saking banyaknya makanan kita ya…..

    Itu dia mbak Sri. Kayaknya ini terkait dengan budaya yo. Apa aja kegiatan yang dilakukan di Indonesia hampir selalu berhubungan dengan makanan. Mengundang orang juga hubungannya dengan makanan. Mengenai banyaknya, emang betul sekali. Ya banyak dalam jumlah, dalam jenis, maupun rasa. Sugeh tenan.

  2. theresajackson said: Waduuuuh sedaaap nian semuanya!

    Orang Indonesia kalau mudik yang dipikirin makanan ya. Aku juga gitu, maunya mencoba makanan terutama yang langka di sini…..cuma tetep aja ngga semua bisa dicicipin saking banyaknya makanan kita ya…..

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s