MUDIKNYA SAYA 2008 – JELAJAH PULAU JAWA (1)

26 Juni – 13 Juli 2008

Surabaya – Cilacap

Terlalu lama berkubang dalam kenyamanan dan memperoleh kemudahan fasilitas hidup terkadang membuat hati memberontak. Apakah ini yang dinamakan kurang bersyukur? Ampuni saya ya Allah, bukah hamba tidak bersyukur. Hamba yang hina ini hanya ingin mengasah nurani yang rasanya sudah mulai tumpul di tengah gempuran kenyamanan hidup yang melenakan. Adalah seorang McCandless yang telah menjawil saya untuk segera bangun dari tidur panjang dan mengingatkan diri akan mimpi silam yang hampir saja terkubur secara perlahan tanpa disadari. Sosok yang saya kagumi sekaligus juga saya sesali kenaifannya. Apapun kata orang, saya menghormati jalan hidup yang dipilihnya.

Karena ingin mengasah nurani itulah, paling tidak menurut cara saya, di pertengahan tahun 2008 saya melakoni hobi lama tersebut. Niat awalnya menyusuri keseluruhan pulau Jawa, tetapi karena ada beberapa hal yang terlalu panjang bila diungkapkan disini, saya akhirnya berkompromi dengan keadaan untuk memperpendek waktu penjelajahan. Ibunda tersayang yang sangat mengerti dengan gejolak jiwa anak perempuan satu satunya ini tidak menghambat langkah garuk garuk jalan ini, bahkan sebaliknya. Beliau sangat antusias menyimak celotehan saya mengenai tempat tempat yang saya datangi ataupun orang orang yang saya temui di jalanan. Tidak lupa dalam setiap mengakhiri pembicaraan beliau membisikkan sebaris nasehat untuk selalu berhati hati dan berlarik larik do’a yang mengiringi setiap langkah saya. Jangan pula ditanya bagaimana besarnya dukungan sang belahan hati yang sama sama berjiwa petualang yang membuat kaki semakin ringan melangkah.

Bersama buah hati tersayang, kami mengawali perjalanan dengan kereta api Logawa, kereta kelas rakyat dengan tiket 33ribu rupiah per orang yang berangkat pukul 09:30 pagi dari stasiun kereta api Gubeng Surobajul dengan tujuan Cilacap. Tidak tertulis nomer tempat duduk sehingga penumpang bebas memilih mau duduk dimana. Di saat musim liburan sekolah bila kita beruntung bisa mendapatkan tempat duduk yang dekat dengan toilet yang berbau “harum” dan “kebersihan” diluar harapan siapapun.

Karena kereta kelas rakyat, segala asongan masuk dan mereka sibuk berteriak mempromosikan dagangannya. Mulai dari pedagang makanan (ini yang paling banyak), pedagang koran, tukang sapu, tukang ngamen, pedagang buku, pedagang AC manual, gunting jenggot, mainan anak anak, voucher hape, penyapu lantai, tambal panci, bahkan ada juga tukang pengharum ruangan yang sibuk mnyemprotkan tabung pewangi. Tentunya dengan imbalan seikhlas yang ngasih dan itupun juga bila kita mau ngasih. Betapa kreatifnya orang Indonesia. Tukang ngamen aja jenisnya macam macam, ada usia anak anak, ada yang kakek kakek, ada yang bermodal tabung kaleng seadanya yang bila digoyangkan secara teratur akan keluar bunyi “kricik kricik” sember, ada yang bermodal karaoke set. Ada juga bencong yang selalu menyisipkan senandung “ewer ewer ewer” dalam nyanyiannya. Para asongan tersebut datang silih berganti mempertontonkan keahliannya dalam ilmu pemasaran.

Diantara semuanya itu, terselip tontonan yang menyesakkan saya. Penumpang yang duduk di depan saya dengan santainya merokok di tengah pengapnya gerbong kereta yang jendelanya hanya bisa terbuka sedikit. Yang lebih menjengkelkan sewaktu saya tegur untuk mematikan rokoknya, jawabnya “saya tidak bisa kalau nggak merokok”. Dasar perokok dodol egois yang hanya memikirkan jidatnya sendiri. Bagaimana dengan penumpang lainnya yang juga berhak menikmati udara bersih tanpa nikotin? Walaupun saya bukan perokok tetapi saya tidak membenci perokok. Yang saya tidak suka adalah perokok yang tidak tahu tata krama dan hanya memikirkan diri sendiri. Karena teguran saya tidak diindahkan maka dengan cueknya saya mengambil gambar orang yang bersangkutan. Setiap kali orang tersebut merokok, sayapun juga ancang ancang memotret. Dengan terang terangan. Kalaupun nanti ditanya maka jawaban saya adalah “saya nggak bisa kalau nggak motret”. Impas kan. Lama kelamaan orang tersebut gerah juga, sehingga mengungsi ke tempat lain setiap kali merokok.

Kereta kami akhirnya tiba di Cilacap menjelang tengah malam setelah menyinggahi puluhan stasiun kecil. Terkadang pula kereta harus berhenti diantara dua stasiun karena harus mengalah dengan kereta lain yang akan lewat dimana kelasnya lebih tinggi seperti lazimnya rakyat yang harus selalu mengalah dan petinggi negara yang harus selalu dilayani di negeri ini. Pretttt.

Di Cilacap kami menginap selama 3 hari 2 malam di rumah saudara sepupu untuk memuaskan rindu yang tertahan bertahun tahun. Setelah itu dengan berat hati saya melanjutkan perjalanan ke Barat sendirian sedangkan buah hati kembali pulang ke Surabaya bersama dengan ibunda sang sepupu. Bayang bayang petualang yang mulai mengalir dalam tubuhnya terpaksa harus ditahan demi untuk menemani ibunda saya di Surabaya yang belum tuntas menumpahkan kerinduan pada sang cucu. Toh masih ada episode Sulawesi yang sudah menanti untuk kami tapaki.

Saya meninggalkan terminal bis Cilacap menuju Pangandaran dengan menumpang bis tiga perempat pada pukul 11:37 pagi. Bis rute pendek Cilacap – Sidareja – Pangandaran dengan ongkos 25ribu rupiah sekali jalan. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 2.5 jam terasa tidak membosankan dengan celotehan kocak pak supir yang wajahnya mirip Indro Warkop. Diselingi berhenti sejenak di kota Sidareja untuk memberi kesempatan penumpang dan supir menunaikan kewajiban, upload(1) atau hanya sekedar dowload(2), sang supir menuturkan cerita demi cerita yang berhubungan dengan kota kota yang kami lalui. Rute bis yang sudah dihapalnya di luar kepala dan kota kota yang kami lewati menyimpan puluhan cerita yang dialirkan dengan lancar melalui celotehnya membuat saya takjub dengan pengalaman hidup sang supir. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan saya, tetapi pengalaman hidupnya yang kaya membuat saya seperti anak kecil berhadapan dengannya. Terbiasa hidup keras membanting tulang dengan bekerja apa saja untuk membantu ibunya menghidupi lima orang anak, sehingga satu demi satu mereka menjadi orang terpandang di masyarakat. Bahkan salah seorang adiknya berhasil menjadi dokter sedangkan sang kakak, SMP aja nggak tamat. Demikian pengakuannya. Berat sekali pengorbananmu kawan, namun hal itu tak nampak tergambar di wajahmu. Dengan ceria sang supir melanjutkan bercerita bagamana hormatnya para adik kepadanya yang telah berhasil mengentaskan mereka dari kemiskinan akut. Satu hal lagi yang membuat say
a semakin salut adalah pak supir ini tidak merokok atau lebih tepatnya sudah berhenti merokok. Jarang jarang saya bertemu seorang supir bis umum yang tidak merokok.

Bersambung….

(1) upload = makan gitu lho.

(2) download = lawan katanya makan alias urusan pintu belakang maksudnye.

Keterangan foto:

1. Salah satu adegan dalam film Into The Wild, disaat McCandless sedang mencari tumpangan (hitchike). Film yang mengangkat kisah hidup McCandless yang diperankan oleh Emily Hirsch. Berbeda dengan McCandless yang mencegat segala jenis kendaraan, saya dulunya hanya mau mencegat truk sebagai tumpangan. Foto diambil dari situs resmi Into The Wild.

2. Perokok yang nggak tahu tata krama yang duduk didepan saya dalam kereta api Logawa.

Advertisements

24 thoughts on “MUDIKNYA SAYA 2008 – JELAJAH PULAU JAWA (1)

  1. didihan said: iki jenenge petulang sejati seneng moco ceritanetibakno pinter cerito harene sampeyan iki rek he he he heawak awak nggak iso cerito harene mek ces pleng tok wes mariapik perjalanan ne rek he he he

    likes this!aku juga pernah memotret terang2an mereka para perokok egois di tempat umum sampai mereka jengah, tapi perjuangan memang masih panjang untuk negara tercinta ini ya mbak *sigh*

  2. didihan said: iki jenenge petulang sejati seneng moco ceritanetibakno pinter cerito harene sampeyan iki rek he he he heawak awak nggak iso cerito harene mek ces pleng tok wes mariapik perjalanan ne rek he he he

    wehhh sampeyan iki…..crito sampeyan luwih seru. ayo kapan2 ndang dibagi, mosok disimpen thok neng laci.Lha aku tulis neng kene kan idep2 gawe catatan pribadi juga. Ben gak ilang wes ewes ewes….Anakku malah nganggo tulisan2 neng kene gawe referensi tugas neng sekolahe.

  3. cahayahati said: MUI sekarang mengharamkan merokok di tempat umum lho ..

    iki jenenge petulang sejati seneng moco ceritanetibakno pinter cerito harene sampeyan iki rek he he he heawak awak nggak iso cerito harene mek ces pleng tok wes mariapik perjalanan ne rek he he he

  4. rudiegusteno said: Apa aja..yg penting ditemanin ama Nikon D3 lensa 70-300 mm, Lensa wide 12-24 mm dan Lensa 50mm Macro 🙂

    Hahahahaha….keren sekali mbok. Hitchike numpang truk dengan baju tembelan dan ransel bolong disana sini tapi isi ranselnya kayak gitu. Sedap sekali. Mau dwong. Trus tidurnya ngemper di mesjid mesjid dan mandinya dua hari sekali. Hadohhhhh gue banget gituloh. Tsah..opo seh

  5. iniaku said: wakakakaka… masih bagus sebelahnya Menik, coba sebelahnya diriku… bakalan gawat :))btw, ada perubahan konsep utk pameran, si pemilik tempat mau melibatkan sponsor… jadi nantinya aku bakalan motret produkhaduhhhhhhhhhhhhhhh…. deg degan, tapi waktunya jadi diperpanjang*nulis disini gpp, wong aku udah publish juga di MP*

    bakalan gawat kenapa? pasti deh motret juga. Secara close up pulak dan nggak lupa ngeluarin lensa makro. wuahahahahaha…..Alhamdulillah ALhamdulillah sekali lagi Alhamdulillah buat adikku yg pantang mundur ini (pantang mundur biasanya sepaket ama bawel). Aku ngirim do’a dari sini Sef. Udah dipublish? waduh aku kok ketinggalan, kebanyakan ngumpet di pojokan. Meluncur ah kesana.

  6. enkoos said: Menik udah jowal jawil mengingatkan supaya aku nggak kebangetan

    wakakakaka… masih bagus sebelahnya Menik, coba sebelahnya diriku… bakalan gawat :))btw, ada perubahan konsep utk pameran, si pemilik tempat mau melibatkan sponsor… jadi nantinya aku bakalan motret produkhaduhhhhhhhhhhhhhhh…. deg degan, tapi waktunya jadi diperpanjang*nulis disini gpp, wong aku udah publish juga di MP*

  7. iniaku said: wakakakakaka…. memang deh, hebat kakakku yg satu inicara mengusir perokoknya itu loh, cuma milik dirimu

    bwhahahahaha….Menik udah jowal jawil mengingatkan supaya aku nggak kebangetan. Liat kan tuh tampangnya si perokok, nyureng kayak mau nelen sapi.Nggak tahunya…..Doi juga ngingetin teman sebelahnya (yg pake baju putih dan lagi baca koran tuh) supaya ngungsi juga kalau mau ngrokok. Aku tahunya karena si temen sebelahnya dikit dikit pergi, setelah aku intip ealahhh…tibake ngrokok. Hihihihihi…

  8. alin83 said: mba.. mba…ko nekat banget sih hehe.untuk yang di kreta, emang gt lah di negara kita, naik KRL yang rute pendek aja dibetah-betahin karena banyak yang ngerokok, hmm.. pusing aku ngisep asapnye.untuk bang supir, subhanallah, keren banget beliau..

    wakakakakaka…. memang deh, hebat kakakku yg satu inicara mengusir perokoknya itu loh, cuma milik dirimu

  9. alin83 said: mba.. mba…ko nekat banget sih hehe.untuk yang di kreta, emang gt lah di negara kita, naik KRL yang rute pendek aja dibetah-betahin karena banyak yang ngerokok, hmm.. pusing aku ngisep asapnye.untuk bang supir, subhanallah, keren banget beliau..

    Apanya yg nekat Lin?

  10. tsuroiya said: Mbak..aku ingat waktu naik KA ekonomi ke Surabaya (dr Yogya) beberapa tahun yl: uang yg dkeluarkan buat jajan jauh lebih banyak dari harga tiket KA..hehhe..soalnya tiap kali ada pdagang jual makanan, kita beli: gorengan, pecel, nangka…dll..

    Bener banget Nas. Nggak takut kelaparan deh. AKu paling seneng niruin mereka jualan. Iramanya khas. Hehehehe…Nasi ayam nasi ayam, yang anget yg anget, ikan telor ikan ayam. Apalagi kalau brenti di kota yg ada makanan khasnya. Wow….Wingko babat, nopia nopia nopia. hahahahaha….Kuangennnn deh. Mana ada disini.

  11. yenisfamilyblog said: asik banget mudiknya mba,berjalan lancar dan Pulau jawa terjelajah semuakan..??

    mba.. mba…ko nekat banget sih hehe.untuk yang di kreta, emang gt lah di negara kita, naik KRL yang rute pendek aja dibetah-betahin karena banyak yang ngerokok, hmm.. pusing aku ngisep asapnye.untuk bang supir, subhanallah, keren banget beliau..

  12. yenisfamilyblog said: asik banget mudiknya mba,berjalan lancar dan Pulau jawa terjelajah semuakan..??

    Mbak..aku ingat waktu naik KA ekonomi ke Surabaya (dr Yogya) beberapa tahun yl: uang yg dkeluarkan buat jajan jauh lebih banyak dari harga tiket KA..hehhe..soalnya tiap kali ada pdagang jual makanan, kita beli: gorengan, pecel, nangka…dll..

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s