[MUDIK 2008] – Menjelajah Sulawesi [1]

20 Juli – 5 Agustus 2008.

MAKASAR – RANTEPAO

Jelajah Sulawesi kali ini bisa dibilang perjalanan napak tilas bagi saya dan anak saya Menik. Sepuluh tahun yang silam (1999) disaat umurnya belum juga mencapai usia sekolah dan urat takutnyapun belum tumbuh, Menik sudah merasakan liarnya jeram jeram di salu (sungai dalam bahasa Toraja) Mai’ting Sulawesi.

Dunia petualangan memang tidak jauh dari hidupnya sejak usia dua tahun. Berhenti sejenak pada saat memasuki usia sekolah dikarenakan terbatasnya waktu liburan. Tetapi untuk selanjutnya sedikit demi sedikit kegiatan menjelajah menjadi kegiatan yang rutin. Tidak harus blusukan ke alam liar, tetapi bisa juga ke alam pedesaan dengan moda transportasi seadanya seperti angkutan pedesaan, bis kluthuk, bis rombeng, kereta rakyat bahkan juga mobil pick up yang disulap jadi angkutan penumpang.

Berbeda dengan sepuluh tahun yang silam dimana kami naik kapal PELNI, kali ini kami menggunakan kapal laut yang dikelola oleh perusahaan DLU (Dharma Lautan Utama) dengan harga tiket rute Surabaya Makassar jauh lebih murah dan waktu tempuh 1.5x lipat lebih lambat dibanding PELNI. Sistem tiketnya memang berbeda dengan PELNI. Bila di DLU, dalam satu kamar bisa terdiri dari dua atau tiga kelas yang berbeda. Tentunya hal ini banyak menghemat biaya perjalanan apabila kita bepergian secara berombongan.

Tiket seharga 820ribu rupiah untuk 3 orang sekali jalan, rasanya relatif lebih murah bila dibandingkan dengan harga tiket pesawat. Harga tersebut sudah termasuk makan 3x sehari selama 36 jam perjalanan. Berbeda dengan PELNI dimana dalam satu kamar hanya terdiri dari satu kelas, bahkan dalam satu lorongpun hanya terisi penumpang dari golongan kelas yang sama. Sepuluh tahun yang silam, tiket yang paling mahal adalah kelas VIP dimana dalam satu kamar berisi dua tempat tidur dan harga tiket adalah 250ribu rupiah per orang. Bandingkan dengan harga tiket pesawat waktu itu yang hampir mencapai 1juta rupiah per orang untuk sekali jalan.

Tertulis di tiketnya bahwa kapal berangkat tanggal 19 Juli 2008 pukul 6 sore. Kami tiba di pelabuhan pukul 4 sore. Ternyata kapalnya aja belum datang. Setelah bertanya ke kantor DLU, katanya kapal diperkirakan datang pukul 8 malam dan penumpang baru diperbolehkan masuk kapal di atas jam 12 malam. Setelah itu kapal diperkirakan berangkat pukul 6 pagi.

Daripada bengong nggak ada juntrungan mendingan ngetem di rumah ibu. Makanan terjamin, tidurpun bisa nyenyak. Selama kami menunggu di rumah, 2 kali saya menghubungi pihak DLU dan 2 kali pula saya mendapat jawaban yang berbeda mengenai jam berapa penumpang diperbolehkan masuk kapal. Gondes tenan.

Di tengah ketidak pastian itu, kami memutuskan untuk berangkat dari rumah pukul 12:30 malam daripada ketinggalan kapal. Tiba di pelabuhan jam 1 pagi. Di pelataran ruang tunggu sudah banyak penumpang yang keleleran. Dan anehnya, ruang tunggunya kosong melompong. Ternyata, ruang tunggu tidak boleh dimasuki sebelum kapal datang karena kami ditolak masuk oleh petugas pelabuhan. Logika yang aneh. Dua kali kami ditolak masuk.

Saya menghubungi pihak DLU di kantornya dan kami boleh menunggu di ruang tunggu. Kampret bener petugas pelabuhannya. Kali ini saya nggak mau mundur. Daripada kedinginan di luar berjam jam di dini hari pulak, keluarlah jurus ngeyel saya. Saya cecar mereka, apa fungsinya ruang tunggu kalau nggak digunakan? Fungsi ruang tunggu untuk menunggu bukan untuk dekorasi. Toh pihak DLU pun mengatakan kami bisa menunggu di ruang tunggu. Cep klakep mingkem mereka nggak bisa jawab. Akhirnya kamipun diijinkan masuk ke ruang tunggu dengan catatan nggak boleh riwa riwi. Edan po. Mendingan ndlosor di pagi buta gitu daripada riwa riwi nggak jelas.

Setelah menikmati tidur tidur ayam, akhirnya tanggal 20 Juli 2008 jam 7 pagi WIB kami bersiap siap memasuki kapal dan sekitar jam 10 pagi WIB kapalpun segera beringsut meninggalkan pelabuhan Tanjung Perak.

Tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai perjalanan di laut kecuali satu, dimana hampir saja terjadi adu fisik antara saya dengan seorang bapak tua. Apalagi kalau bukan masalah merokok sembarangan.

Ceritanya begini.
Saya salut dengan tegasnya para ABK (Anak Buah Kapal) yang menegur siapapun yang merokok tidak pada tempatnya. Banyak tanda peringatan dilarang merokok di dalam kapal, tapi tahu sendirilah betapa “disiplinnya” bangsa kita. Saya sendiri sudah males bersikap, tetapi demi melihat para anak buah kapal yang nggak segan segan menegur, sayapun jadi semangat.

Beberapa kali saya ikut ikutan menegur perokok bandel sampai sampai saya dijuluki polisi rokok oleh suami saya. Bukan ngerokoknya yang menyebalkan, tapi tempat ngerokoknya yang nggak tahu aturan. Jangan salah, meskipun saya bukan perokok tetapi saya bukan anti rokok.

Salah satu yang bandel adalah seorang bapak tua. Diberi tahu secara halus enggak mempan. Jawabannya menyebalkan sekali, “tinggal sedikit nih”. Kalau sayang rokoknya, pindah aja ngerokok diluar. Tinggal melangkah sebentar keluar, kok malas sekali. Kalau terjadi apa apa, kapal ini terbakar yang celaka semua penumpang bukan bapak doang. Dengan lagaknya yang makin cuek dan menjengkelkan, si bapak tetap merokok.

Saya nggak mau kalah. Rokok yang masih bertengger manis di mulutnya, saya cabut. Tentu si bapak tidak menduga sama sekali kelakuan saya ini. Dengan muka menahan amarah, kata kata yang tidak pantas keluar dari mulutnya. Saya sih cuek aja. Pasang muka tanpa ekspresi sambil menginjak rokok yang barusan saya rampas. Puasssss!!! Tapi sebaliknya si bapak makin panas. katanya gini “kalau kamu laki laki akan saya tantang kelahi.”

Halah pak, saya juga nggak takut kelahi asal sama sama tangan kosong, sini aku adepin. Tapi males ah ngeladeni orang gila, mendingan saya laporkan aja ke anak buah kapal. Untungnya kejadian itu dilihat orang banyak dan si bapak pun dilerai. Ada yang bilang gini, malu maluin kelahi ama perempuan. Rasain.

Untungnya lagi suami saya nggak ada disitu. Coba kalau ada, tambah rame.

Setelah insiden itu, saya dan Menik terkapar tak berkutik di dalam kamar karena diserang mabuk laut hingga kapal tiba di Makassar. Memalukan sekali sebagai orang Indonesia asli yang lahir dan dibesarkan di kota pelabuhan dan anaknya pelaut pulak. Masak ya kalah dengan suami saya yang bukan orang laut, lahir dan dibesarkan di negara daratan. Suami saya malah sibuk jalan jalan di dalam kapal tanpa kendala mabuk laut sama sekali seolah olah ngeledek kami berdua.

Setiba di Makassar tanggal 21 Juli 2008 dan sudah hampir tengah malam. Kami lantas menginap di hotel Agus yang terletak persis di depan pelabuhan.

Bersambung

Foto foto bisa dipantengin di sebelah ye.

Advertisements

5 thoughts on “[MUDIK 2008] – Menjelajah Sulawesi [1]

  1. gadogadobetawi said: Bravo…deh Via…benar sih nyebelin tuh ngerokok bukan di luar.. ngenyel jg tuh Bapak dibilangi kagak mempan..berani2 nantang mpok via h..h.. Kali kudu sediain ruangan khusus kayak di airport..biar pada nyedot asep rokok rame2 ama sesama perokok…jangan yg kagak rokok ikutan ngisep asepnya.

    Iye mpok. Negur gaya preman udah, gaya alus apalagi. Kalau nggak mempan masih ada cara lain sekalian menyalurkan hobi. Nih baca disini.

  2. haleygiri said: lha wong aku nyebrang Lombok-Bali ae mabok laut… sungguh memalukaaannn… :pPadal jaman muda dulu naik Lawit dari Tj Priok ke Padang, 2 malam 1 hari yo teges ae… Tapi mungkin krn kapal besar dan kapal feri beda ya goyangannya…Btw, terong belanda juga banyak di daerah Kintamani

    Bravo…deh Via…benar sih nyebelin tuh ngerokok bukan di luar.. ngenyel jg tuh Bapak dibilangi kagak mempan..berani2 nantang mpok via h..h.. Kali kudu sediain ruangan khusus kayak di airport..biar pada nyedot asep rokok rame2 ama sesama perokok…jangan yg kagak rokok ikutan ngisep asepnya.

  3. haleygiri said: lha wong aku nyebrang Lombok-Bali ae mabok laut… sungguh memalukaaannn… :pPadal jaman muda dulu naik Lawit dari Tj Priok ke Padang, 2 malam 1 hari yo teges ae… Tapi mungkin krn kapal besar dan kapal feri beda ya goyangannya…Btw, terong belanda juga banyak di daerah Kintamani

    bukan masalah feri atau kapal gede, tapi PU. Paktor Umur mbakyu. Hehehehe…aku dulu juga sering kok naik kapal laut. Dumai – Jakarta, Surabaya – Makasar, nggak kenapa kenapa.

  4. enkoos said: karena diserang mabuk laut hingga kapal tiba di Makassar.

    lha wong aku nyebrang Lombok-Bali ae mabok laut… sungguh memalukaaannn… :pPadal jaman muda dulu naik Lawit dari Tj Priok ke Padang, 2 malam 1 hari yo teges ae… Tapi mungkin krn kapal besar dan kapal feri beda ya goyangannya…Btw, terong belanda juga banyak di daerah Kintamani

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s