[MUDIK 2008] Menjelajah Sulawesi [3]

ARUNG JERAM DI SALU MAI’TING DAN SALU SA’DAN

Beberapa bulan lalu (Maret 2011) salah seorang keponakan laporan bahwa dia barusan membaca artikel tentang arung jeram di Tana Toraja yang dibacanya di majalah Batavia Air. Yang membuat si keponakan jingkrak jingkrak seneng karena di artikel itu disertakan dua buah foto arung jeram dimana ada saya sekeluarga.

*bingung garuk garuk jidat* Foto yang mana ya? Setelah bongkar bongkar file di komputer, saya sodorin ke ponakan.

Apa betul foto yang ini?

Arung Jeram Salu Sa'dan

dan ini?

Arung Jeram Salu Sa'dan

dan dijawab oleh keponakan dengan teriakan kenceng “iyaaaaaaaaaaaa!!!” sampe saya kejengkang saking kagetnya.

Itu adalah foto foto saya sekeluarga sewaktu berarung jeram di Sulawesi bulan Juli 2008. Yang motret adalah Agustinus Lamba, seorang putra Toraja pemilik Indo Sella Expedition. Awal mula saya mengenal Agustinus Lamba atau lebih dikenal dengan Agus Lamba di pertengahan tahun 1999. Perjalanan kami ke Sulawesi tahun 2008 selain untuk napak tilas juga untuk bertemu dengan Agus yang sudah seperti saudara bagi saya.

Gara gara foto itu pula saya jadi keinget pernah posting tapi masih ngendon di draft alias belum di publish. Wuedehhh…

Cerita ini lebih ke perjalanan menuju pengarungan, bukan saat pengarungan.

24 Juli 2008.
Kami berarung jeram di salu Mai’ting. Pengarungan yang tidak terlalu panjang tetapi dengan pengalaman yang sangat seru karena perjalanan menuju sungainya juga menantang. Dengan penumpang penuh sesak yang berimpitan dengan peralatan arung jeram mobilpun asik bergoyang dombret sepanjang jalan yang berliku liku ajrut ajrutan. Bahkan di beberapa tempat kemiringannya mencapai hampir 45 derajat. Dan mobilnya bukan jip tetapi mobil angkutan pedesaan jenis L300. Meskipun begitu, pemandangan di sepanjang perjalanan Masya Allah cantik banget. Cantiknya tak hanya cukup dilukiskan dengan kata kata.

Beberapa kali mobil juga melintas masuk ke dalam pasar. Bener bener masuk pasar dan menyeruak diantara para pedagang yang menggelar dagangannya di tanah ataupun di meja. Para pedagang meminggirkan dagangan dan si sopirpun menanti dengan sabar. Gak ada yang menggerutu maupun mengeluh. Merekapun juga saling berbalas sapa dan senyum. Hidup berjalan sesuai garisnya tanpa ada yang perlu dikejar.

Sesampai di tempat yang dituju, kami masih harus berjalan selama 90 menit menuruni gunung untuk mencapai sungai, titik awal dimana kami akan memulai pengarungan. Sekali lagi, sepanjang jalan menuju sungai mata ini dimanjakan oleh kebesaran ciptaanNya. Undak undakan sawah diselingi hutan disana sini. Indonesia surga dunia.

Sepanjang pengarungan kami sempat menghitung bahwa ada sekitar 14 air terjun. Besar maupun kecil. Pengarungan usai sekitar jam 3 sore WIT. Dalam perjalanan pulang kami singgah di sebuah gudang penyimpanan vanili. Kami tahu kalau itu gudang vanili, karena di halamannya banyak terhampar vanili yang sedang dijemur. Harga sekilo vanili kering 200ribu. Sekilo isinya puluhan bahkan mungkin ratusan batang. Murahhhhh. Bungkus!!! Bandingkan dengan di Amiriki Semilikithi. Satu botol isi 6 batang harganya 12 dolar.

25 Juli 2008
Kami berarung jeram lagi, kali ini ke salu Sa’dan yang kelasnya di atas salu Maiting, kelas 4. Salu ini juga sangat panjang sehingga membutuhkan waktu 2 hari untuk mengarunginya. Hari pertama banyak menghadapi jeram jeram berbahaya yang menantang. Untuk itulah perahu yang digunakan lebih besar dan dilengkapi dengan dayung oar.

Rafting @ Salu Sa'dan

Rafting @ Salu Sa'dan

Rafting @ Salu Sa'dan

Hari pertama pengarungan kami akhiri sekitar pukul 3 sore. Membuka tenda di pinggir salu yang pada akhirnya hanya untuk menyimpan timbunan drybag dan backpack. Kami semua berenam (saya, suami, anak, Agus, Obeth dan Sonda) malah tidur diluar tenda beratapkan langit bertabur bintang, beralaskan tikar dan ditemani suara merdu binatang malam serta gemericik salu Sa’dan. Damai dan sahdu sekali.

tenda

Sebelum tidur, kami menyantap makan malam berupa cah buncis dan nasi merah campur jagung. Tidak ketinggalan sambel segar yang cabenya metik dari kebun di pinggir salu di tanah milik keluarga Sonda. Agus juga mengeluarkan andalannya, pahpiong kerbau dan daging kerbau asap buatannya sendiri. Selesai makan kami tidur tiduran menanti datangnya kantuk. Menatap langit jernih tanpa polusi. Bintang seolah hanya tinggal diraih karena begitu dekatnya.

Dinner

Sambel

Beginilah cara memasak pahpiong. Mirip dengan cara memasak lemang ketan ala Minang, yaitu dimasukkan ke dalam bambu kemudian dibakar.

DSC_0265edit

Setelah matang, bambu dibelah

DSC_0555edit

Karena dimasak lama dengan menggunakan api unggun dan dibungkus dalam bambu yang lapisan dalamnya diberi daun pisang, jus dagingnya terperangkap di dalam dan daging tetap lembab. Rasanya? Jangan ditanya enaknya. Jos gandos pokoke.

DSC_0552edit

26 Juli 2008
Pagi pagi buta kami bangun. Kicauan burung sahut sahutan dengan iringan derasnya salu Sa’dan di tengah belantara, suasana yang mewah sekali. Semua pada cibang cibung mandi di sungai. Sarapan pagi itu adalah nasi goreng sisa dari nasi jagung semalam, irisan buah nanas, oseng oseng buncis wortel dan lagi lagi daging kerbau asap. Aduhh..sedap sekali. Seandainya boleh membawa daging ke USA, saya ingin membawanya berkilo kilo. Kenyang dengan asupan mewah penuh gizi tersebut dan sebelum terkantuk kantuk kekenyangan kami mulai trekking menjelajah kawasan sekitar, daerah milik keluarga Sonda.

Jarak dari satu rumah ke rumah yang lainnya bisa berkilo kilometer. Tidak ada mobil, hanya ada sepeda motor dan kuda. Sejauh mata memandang hanya gunung, sungai, gunung, sungai, gunung dan sungai lagi. Setiap rumah yang kami lewati selalu kami singgahi karena ternyata semua adalah saudara Sonda. Mereka berteman baik dengan Agus sejak lama, sehinga tidaklah heran bila kedatangan kami disambut seperti menyambut saudara jauh yang baru pulang merantau.

Kami juga banyak menemui pohon pohon coklat, kemiri, dan sulur sulur vanili. Usai trekking jam 1 siang, kami bermain main di sungai. Teman teman masa kecil Sonda mulai berdatangan mengunjungi Sonda hingga larut malam. Maklumlah mereka sudah lama tidak saling berjumpa. Malam itu menu makan malam kami adalah ubi rambat (telo) bakar, oseng buncis wortel, ayam panggang dan oseng ayam serta nanas potong. Ayamnya masih hidup, dikirim oleh kakek Sonda yang datang berkunjung ke tenda kami. Kami sembelih dan bersihkan sesaat sebelum diolah. Tak lupa sambal dan kerbau asapnya. Daging asapnya enak juga dicemil. Manis, sedikit sangit dan semriwing gurih.

Tidak hanya si kakek yang datang berkunjung tetapi salah satu bibi dan keponakan Sonda juga ikut nimbrung. Ngobrol ngalor ngidul bersama kami bahkan hi
ngga keesokan harinya. Yang diobrolin macem macem diantaranya masa sekolahnya Sonda. Malam itu kami tidur agak larut, karena ingin menikmati bintang bintang yang bertaburan begitu dekat bisa dlihat jelas dari kaki bukit. Dengan jalan menanjak sekitar 2 menit sampailah kami di padang rumput yang luas di kaki bukit. Indah nian ciptaanMu ya Allah. Sukar dilukiskan dengan kata kata segala yang tersaji menghampar di depan mata.

Daerah itu adalah areal milik keluarga Sonda yang meliputi dua gunung. Masa kecil Sonda dilewatkan di tempat itu sebelum merantau ke Rantepao. Sonda dan juga anak anak lain harus berjalan selama 2 jam melintasi gunung dan menyeberangi sungai untuk pergi dan pulang sekolah. Sebelum jembatan dibangun, anak anak sekolah berenang menyeberangi sungai. Buku buku dan tas ditaruh di atas kepala sementara mereka menyeberang. Total jendral dibutuhkan waktu 4 jam pulang pergi untuk sekolah. Dan itu dijalani Sonda sampai kelas 5 SD. Sekarang jembatan itu sudah ada sehingga anak anak sekolah tidak perlu berenang menyeberang sungai.

27 Juli 2008
Kami melanjutkan pengarungan dan tak banyak jeram yang kami temui. Salu cenderung flat tapi pemandangannya luar biasa cantik. Kami makan siang di salah satu air terjun yang tersembunyi. Kenapa tersembunyi? Karena tak terlihat sama sekali dari badan sungai. Kami harus berjalan lebih kurang 15 menit untuk mencapainya.

Catatan:
Salu = sungai dalam bahasa Toraja
Vanila yang saya beli tahun 2008, sampe saat tulisan ini dipublish (5 September 2011) masih banyak sekali. Itupun sebagian besar sudah dibagi bagi ke beberapa saudara, tetangga, teman, handai taulan sekampung, senegara nyata maupun maya.

Advertisements

76 thoughts on “[MUDIK 2008] Menjelajah Sulawesi [3]

  1. myelectricaldiary said: hahahahahaaa..sulsel ama sulteng spupuan sihhh ;-pjadi rada mirip

    Udah diganti yaaaaaa. Makasih sudah meralatnya. xixixixixiixix.Muah muah, gak rugi punya temen dari Sulawesi.Tator posisinya di perbatasan sih ya. Bukan ngeles lho ya. Jalan sedikit ke utara udah nyampe Poso.

  2. debapirez said: kayaknya kita bs duet bareng neh. tp….jujur aja, saya agak takut pas mau dibalikkin. saya ga bs berenang haha…

    Kan pake pelampung Ded, mosok kalah sama anak umur 4 tahun *melet*Menik aja dah ngerasain arung jeram umur 4 tahun, belum bisa berenang lagi.

  3. itsmearni said: arusnya nantang banget tuhkerennnnnnnnnmakanannya juga kerenselain ikan, nasi bambu toraja juga maknyus lhowuih inget dulu temen bapak orang torajatiap natalan yang aku cari dirumahnya adalah nasi bambu hehehe

    nasi bambu? namanya apa? iya jeramnya memang gede. sungainya antara grade 4 – 5. Di foto yang paling atas, rawan kebalik kalau perahunya gak besar. Arusnya kenceng.

  4. itsmearni said: mbak itu selama arung jeram, siapa yang motoin?

    haishhhh, gak baca jurnal dengan lengkap, skimming doang ya *melet*.Yang motret Agus Lamba. Kalau pas ada pinggir sungai yang memungkinkan untuk motret, baru ada yang turun cari posisi motret. Setelah itu perahu baru meluncur. Karena gak semua lokasi bisa untuk motret. Gimana mau turun, jeramnya nonstop gak brenti brenti hampir sepanjang pengarungan di hari pertama.

  5. debapirez said: kayaknya lbh seru ini drpd Citarik neh ;-)Jeung, dah nyobain patin bambu belum?patin-nya dimasaknya kayak gt jg. dan enak banget…

    arusnya nantang banget tuhkerennnnnnnnnmakanannya juga kerenselain ikan, nasi bambu toraja juga maknyus lhowuih inget dulu temen bapak orang torajatiap natalan yang aku cari dirumahnya adalah nasi bambu hehehe

  6. debapirez said: kayaknya lbh seru ini drpd Citarik neh ;-)Jeung, dah nyobain patin bambu belum?patin-nya dimasaknya kayak gt jg. dan enak banget…

    aku ketinggalan jurnal iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiwaaaaaaaaa kudu baca komen2nya dulu dah

  7. debapirez said: kayaknya lbh seru ini drpd Citarik neh ;-)Jeung, dah nyobain patin bambu belum?patin-nya dimasaknya kayak gt jg. dan enak banget…

    Belum pernah Ded. Musti nyari bambu dulu.Arung jeram di luar pulau Jawa memang seru sangat, karena hutannya masih terjaga. Sedangkan di Jawa, hutannya udah banyak yang gundul, kalau musim kemarau sungainya kering gak bisa diarungi. Mengenai Citarik, liat liat operatornya juga Ded. Aku kalau gak punya waktu banyak, mainnya ke Citarik. Bukan main sungai tapi trekking ke Cipta Gelar, dan desa2 sekitar lokasi Citarik. Temenku ada yang operator di Citarik. Selain operasional di Citarik, juga ada di beberapa sungai lain di Jawa Barat. Cukup menantang. Aku belum pernah nyobain sih, dulu waktu ditawarin untuk njajal waktunya gak keburu.

  8. enkoos said: iya dunks. masak mau beli tukang makanan lewat. Masakan ala anak kemping. Pake kompor api unggun.

    kayaknya lbh seru ini drpd Citarik neh ;-)Jeung, dah nyobain patin bambu belum?patin-nya dimasaknya kayak gt jg. dan enak banget…

  9. enkoos said: iya dunks. masak mau beli tukang makanan lewat. Masakan ala anak kemping. Pake kompor api unggun.

    keren keren…jadi inget dulu ikut pramuka yo masak sendiri gitu, haha masak nasi jadi gosong bau sangit, tapi tetep aja enak rasanya…

  10. estiningtyas said: wow..menik hebattt. aku ajah yg tuwek gini ga berani kalo disuruh ikutan arung jeram…

    Hehehehhee…tiap orang punya kelebihan masing masinglah.sampeyan pinter dalam hal lain, sedangkan menik dalam hal berani arung jeram.

  11. nonragil said: Menarik sekali perjalanan ke Tana Toraja, ngiler beneran baca pengalaman mbak Evie.

    Sulawesi banyak tempat keren. Siap siap menghadapi susah transportasi aja, tapi sebanding kok dengan kesulitannya.

  12. sepasangmatabola said: Mbak Via, moco tentang mbak Via makan telo, aku jadi inget ASu (Arek Suroboyo) lek arepe ngomong, “Sontoloyo” diganti ambek “Ah.. telooo koen…” Hahahaha… Tapi daging asapnya itu kayaknya guriiihhh yaa… kebayang deh kayak apa rasanya dibakar di dalam bambu dan dibungkus daun pisang… :))

    Iyo. hahahhaha.Telo, gak maen koen iku. Gak ning (lho sejak kapan aku nyeluk ning), daging asep’e gurih legi. Nek pahpiong gak diasep, tapi dimasak neng njero bambu.

  13. tintin1868 said: wah pasti happy jadi tamu pertama.. semoga tamunya lancar datang ya sekarang.. *ga jadi minta gratis baca penjelasan ini deh..setidaknya sekarang ga ngaisngais botol bekas ya.. jadi belajar saat susah turis dan saat booming.. ada tabungan gitu, jangan langsung boros.. sama kasusnya dengan cerita m.helene di ambon.. karena perang sodara mulu, jadi sepi deh pariwisata.. rasa aman juga yang kudu di jaga..

    Mbak Via, moco tentang mbak Via makan telo, aku jadi inget ASu (Arek Suroboyo) lek arepe ngomong, “Sontoloyo” diganti ambek “Ah.. telooo koen…” Hahahaha… Tapi daging asapnya itu kayaknya guriiihhh yaa… kebayang deh kayak apa rasanya dibakar di dalam bambu dan dibungkus daun pisang… :))

  14. tintin1868 said: wah pasti happy jadi tamu pertama.. semoga tamunya lancar datang ya sekarang.. *ga jadi minta gratis baca penjelasan ini deh..setidaknya sekarang ga ngaisngais botol bekas ya.. jadi belajar saat susah turis dan saat booming.. ada tabungan gitu, jangan langsung boros.. sama kasusnya dengan cerita m.helene di ambon.. karena perang sodara mulu, jadi sepi deh pariwisata.. rasa aman juga yang kudu di jaga..

    salut buat agus.. memberdayakan warga desanya.. jaid samasama makmur.. bisa jadi kepala desa tuh agus..

  15. tintin1868 said: wah pasti happy jadi tamu pertama.. semoga tamunya lancar datang ya sekarang.. *ga jadi minta gratis baca penjelasan ini deh..setidaknya sekarang ga ngaisngais botol bekas ya.. jadi belajar saat susah turis dan saat booming.. ada tabungan gitu, jangan langsung boros.. sama kasusnya dengan cerita m.helene di ambon.. karena perang sodara mulu, jadi sepi deh pariwisata.. rasa aman juga yang kudu di jaga..

    Ya ampun Tintin, quote se postingan kabeh. Hayo betulin. hihihihihi…Amiin!Tabungan sih ada. Dulu waktu rame2nya pariwisata, punya jip, punya penginapan, bangun fasilitas di desa2 yng dilewati pengarungan. Tapi ya gitu deh, bangkrut. Sekarang mulai bangun pelan pelan. Dan aku salutnya sama Agus, merangkul orang orang desa untuk pemberdayaan. Itu makanya dia disenengin penduduk dan kawan2nya banyak.

  16. tintin1868 said: artinya banyak draft kan?

    wah pasti happy jadi tamu pertama.. semoga tamunya lancar datang ya sekarang.. *ga jadi minta gratis baca penjelasan ini deh..setidaknya sekarang ga ngaisngais botol bekas ya.. jadi belajar saat susah turis dan saat booming.. ada tabungan gitu, jangan langsung boros.. sama kasusnya dengan cerita m.helene di ambon.. karena perang sodara mulu, jadi sepi deh pariwisata.. rasa aman juga yang kudu di jaga..-edited, ga tahu napa jadi segambreng gitu..

  17. tintin1868 said: asik kalu kesana tinggal sebut engkoos, semoga gratis.. *ih ngelunjak..

    sebetulnya aku malah gak tega untuk minta gratis.waktu pariwisata sedang booming2nya, Toraja banjir turis. Nyari penginapan aja susahnya setengah modar. Calon tamu aja sampe harus nongkrong di depan penginapan untuk nungguin sapa tahu ada yang check out. Dalam seminggu Agus bisa 2x bawa tamu rafting. Semenjak kasus bom Bali, wisatawan yang datang melorot drastis. Penginapan kosong melompong. Tamu juga jarang. Dari yang seminggu 2x tiba tiba menjadi 6 bulan sekali. Bayangkan Tin. Di suatu masa, mereka sampe kais kais gudang nyari botol bekas softdrink buat dijual untuk makan sehari hari. Sedihhhh sekali dengernya. Waktu kami kesana, kami adalah tamu (kalau boleh dianggap tamu) pertama di tahun 2008. Bayangkan, itu sudah menginjak bulan Juli.

  18. grasakgrusuk said: vanili batangan buat apa mbak? biasanya kan bubuk bukan?

    bubuk warna putih ya? kalau iya, itu palsu. vanila yang asli warnanya justru item. udah pernah lihat belum?seperti ini:yang digunakan, bagian dalamnya. bentuknya serbuk halus dan bau wangiiiiiii sekali.

  19. faridm88 said: Itu pahpiong kalau di Manado seperti nasi jaha, sambelnya juga mirip dabu2 iris Manado, tapi kalau dabu2 iris manado tidak pakai kecap, cuman cabe, bawang, dan tomat diiris2 kasar. Kebayang uenake :-)Ngecess

    nasi jaha dimasak di buluh juga?

  20. miapiyik said: senangnya berani arung jeram, makan pa’ppiong kerbau dan oleh2 vanila segarjaman di sulawesi masa kecil, temen2 toraja ku selalu larang aku makan pa’piong, karena non halal :)jd sampe sekarang ga kebayang rasanya, cuma bisa mencium harumnyaambil fotonya mba Evia ijin dulu ga itu majalah Batavia Air?

    memang ada yang babi. Kalau yang dibawain temenku Agus ini Insya Allah halal. Waktu mau makan ayam, suamiku sendiri yang sembelih. Yang motret bukan aku tapi Agus Lamba. Meskipun menggunakan kameraku tapi Agus yang lebih berhak akan foto foto tersebut. Sepertinya Agus yang setor ke Batavia Air.

  21. tintin1868 said: kalu gitu jualan vanili seger disana.. keren ya jadi iklan pesawat.. pariwisata yang heboh..itu papiong jadi kangen deh.. keboh dibuluh, ayam dibuluh, ikan dibuluh emang mantap rasanya..sonda gila juga ya, jadi pewaris 2 gunung nih.. masih kontak sama mereka semua mbak?

    Ya..gak jadi 😦

  22. tintin1868 said: kalu gitu jualan vanili seger disana.. keren ya jadi iklan pesawat.. pariwisata yang heboh..itu papiong jadi kangen deh.. keboh dibuluh, ayam dibuluh, ikan dibuluh emang mantap rasanya..sonda gila juga ya, jadi pewaris 2 gunung nih.. masih kontak sama mereka semua mbak?

    Pertamax?

  23. tintin1868 said: kalu gitu jualan vanili seger disana.. keren ya jadi iklan pesawat.. pariwisata yang heboh..itu papiong jadi kangen deh.. keboh dibuluh, ayam dibuluh, ikan dibuluh emang mantap rasanya..sonda gila juga ya, jadi pewaris 2 gunung nih.. masih kontak sama mereka semua mbak?

    ogah ah jualan vanila disini. mending dibuat suvenir ke temen2ALhamdulillah masih kontak, mereka udah seperti sodara.

  24. enkoos said: Ini yang bakal kita datengin Insya Allah tahun depan. Ke desanya Sonda. Gak ada mobil. Adanya kuda dan motor. Keren coyyyyy. Jangan harap ada listrik, apalagi sinyal henpon. Nehik. Kecuali telpon satelit.

    Mudah2an pas saya sudah di Makassar, jadi bisa ikutan hehehehe

  25. enkoos said: aslinya kepingin yaaaaaaa.Ini yang bakal kita datengin Insya Allah tahun depan. Ke desanya Sonda. Gak ada mobil. Adanya kuda dan motor. Keren coyyyyy. Jangan harap ada listrik, apalagi sinyal henpon. Nehik. Kecuali telpon satelit.

    kereeen banget mbak evia, iriiiiiiiii… :)))

  26. enkoos said: aslinya kepingin yaaaaaaa.Ini yang bakal kita datengin Insya Allah tahun depan. Ke desanya Sonda. Gak ada mobil. Adanya kuda dan motor. Keren coyyyyy. Jangan harap ada listrik, apalagi sinyal henpon. Nehik. Kecuali telpon satelit.

    vanili batangan buat apa mbak? biasanya kan bubuk bukan?

  27. enkoos said: aslinya kepingin yaaaaaaa.Ini yang bakal kita datengin Insya Allah tahun depan. Ke desanya Sonda. Gak ada mobil. Adanya kuda dan motor. Keren coyyyyy. Jangan harap ada listrik, apalagi sinyal henpon. Nehik. Kecuali telpon satelit.

    Itu pahpiong kalau di Manado seperti nasi jaha, sambelnya juga mirip dabu2 iris Manado, tapi kalau dabu2 iris manado tidak pakai kecap, cuman cabe, bawang, dan tomat diiris2 kasar. Kebayang uenake :-)Ngecess

  28. enkoos said: aslinya kepingin yaaaaaaa.Ini yang bakal kita datengin Insya Allah tahun depan. Ke desanya Sonda. Gak ada mobil. Adanya kuda dan motor. Keren coyyyyy. Jangan harap ada listrik, apalagi sinyal henpon. Nehik. Kecuali telpon satelit.

    mbak evia yang manaaaaa.. *clingukan*

  29. enkoos said: aslinya kepingin yaaaaaaa.Ini yang bakal kita datengin Insya Allah tahun depan. Ke desanya Sonda. Gak ada mobil. Adanya kuda dan motor. Keren coyyyyy. Jangan harap ada listrik, apalagi sinyal henpon. Nehik. Kecuali telpon satelit.

    senangnya berani arung jeram, makan pa’ppiong kerbau dan oleh2 vanila segarjaman di sulawesi masa kecil, temen2 toraja ku selalu larang aku makan pa’piong, karena non halal :)jd sampe sekarang ga kebayang rasanya, cuma bisa mencium harumnyaambil fotonya mba Evia ijin dulu ga itu majalah Batavia Air?

  30. enkoos said: aslinya kepingin yaaaaaaa.Ini yang bakal kita datengin Insya Allah tahun depan. Ke desanya Sonda. Gak ada mobil. Adanya kuda dan motor. Keren coyyyyy. Jangan harap ada listrik, apalagi sinyal henpon. Nehik. Kecuali telpon satelit.

    kalu gitu jualan vanili seger disana.. keren ya jadi iklan pesawat.. pariwisata yang heboh..itu papiong jadi kangen deh.. keboh dibuluh, ayam dibuluh, ikan dibuluh emang mantap rasanya..sonda gila juga ya, jadi pewaris 2 gunung nih.. masih kontak sama mereka semua mbak?

  31. enkoos said: aslinya kepingin yaaaaaaa.Ini yang bakal kita datengin Insya Allah tahun depan. Ke desanya Sonda. Gak ada mobil. Adanya kuda dan motor. Keren coyyyyy. Jangan harap ada listrik, apalagi sinyal henpon. Nehik. Kecuali telpon satelit.

    *berdoa khusyuk*

  32. rengganiez said: barusan diceritain ama yang baru pda mudik susur gua ada arung jeramnya…pada berseri2 ceritanya….akunya pura2 gak denger saja ndak kepingin

    aslinya kepingin yaaaaaaa.Ini yang bakal kita datengin Insya Allah tahun depan. Ke desanya Sonda. Gak ada mobil. Adanya kuda dan motor. Keren coyyyyy. Jangan harap ada listrik, apalagi sinyal henpon. Nehik. Kecuali telpon satelit.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s