[SAHABAT] SUMATRA BARAT DALAM KENANGAN

1 Desember 2008.

Musim dingin sudah mulai membayang di negeri Utara ini. Dinginnya begitu menusuk tulang dan saya tidak akan pernah bisa lupa dengan hari itu. Saat itu saya mengirimkan satu karya di sebuah jejaring sosial fotografi, hobi yang sedang ganas ganasnya saya tekuni. Kebiasaan saya bila ada yang memberi komentar dengan rinci akan saya buru si pemberi komentar tersebut supaya saya bisa mengorek informasi lebih lanjut sekaligus untuk belajar lebih dalam. Tak jarang hasil uberan tersebut berlanjut ke hubungan pertemanan yang akrab dan diskusi mengenai segala hal, jauh melebar tak hanya seputar hobi semata.

Tak dinyana sama sekali orang yang saya uber kali ini, sebut saja namanya mbok Paijo, ternyata urang awak yang bermukim di Sumatra Barat, sebuah provinsi yang bertetangga dengan provinsi Riau(1) dimana saya pernah nguli bertahun tahun yang silam. Sejak mengenal mbok Paijo, bisa dibilang hampir setiap hari kami berbincang mengenai Sumatra Barat selain juga hobi yang sama sama kami tekuni. Hampir setiap hari pula saya terbayang bayang dengan Sumatra Barat, tempat dimana saya sering menghabiskan waktu dan menyempatkan diri untuk kabur disela padatnya tugas.

Dua hari libur saja sudah cukup membuat saya melesat ke provinsi sebelah dengan ritual perjalanan yang hampir selalu sama. Sepulang bekerja dan biasanya tanpa mampir ke tempat kos lagi saya langsung menuju ke terminal bis. Dan tak lama kemudian pulas tertidur(2) tanpa memperdulikan guncangan bis Gumarang menembus pekatnya malam menyusuri jalanan menuju Bukittinggi, kota yang hampir selalu menjadi persinggahan awal sebelum menjelajah kota kota disekitarnya.

Dalam rentang waktu perjalanan yang lebih dari sepuluh jam menuju Bukittinggi bis Gumarang selalu singgah sejenak di tiga kota. Dua kota pertama adalah Kandis dan Pekanbaru yang masih berada di provinsi Riau dan satu kota lagi adalah Lubuk Bangku yang berada di provinsi Sumatra Barat sebelum memasuki lembah Harau. Karena perjalanan malam hari, lembah Harau tidak menampakkan keindahannya, melainkan keseraman bayang bayang jajaran batu hitam yang menjulang tinggi menantang langit di tengah pekatnya kesunyian malam seperti sekumpulan raksasa yang siap menelan siapapun yang lengah di jalan.

Sesampai di Bukittinggi, biasanya saya melanjutkan tidur yang terputus di mushola terminal bis karena hari masih gelap. Subuhpun belum juga menjelang. Bila matahari sudah mulai menampakkan diri mulailah saya menyusuri dinginnya kota Bukittinggi walau tanpa mandi. Bukan karena pengen cepat jalan tapi lebih karena malu menumpang tidur gratis di mushola terminal bis yang sempit. Cukup dengan basuhan air wudhu, saya sudah merasa segar kembali siap untuk menapaki jalanan. Mau bau kek, mau jorok kek, siapa juga yang mau perduli.

Terkadang perjalanan berlanjut ke kota kota sekitarnya tetapi tidak jarang saya berkutat di seputaran Bukittinggi. Saking seringnya saya menjejakkan kaki di Bukittinggi, seorang uni penjual karipik sanjai di pasar Ateh mengenali saya dengan baik. Begitu wajah saya muncul di lapaknya senyum lebarnya menyambut dengan sumringah sambil tangannya cekatan menimbang karipik sanjai yang berlumur bumbu merah pedas menggiurkan meskipun saya belum berkata sepatahpun. Selain sanjai yang merah merona itu, saya juga menyukai sanjai bumbu kuning yang gurih gurih pedas dengan bintik bintik hijau rajangan daun seledri.

Menyusuri pasar Ateh, menapaki jalan menurun ke Ngarai Sianok, menjelajah kawasan danau Maninjau yang harus melewati kelok 44 yang sangat masyhur itu, termenung berjam jam di Lembah Anai sambil merendam kaki di air terjunnya, berburu ikan bilih yang hanya tersedia di danau Singkarak, menikmati jajaran rumah gadang nan tua yang masih terawat cantik di kawasan Batusangkar, melamun dan terpesona dengan keindahan Lembah Harau, menjelajah ruang demi ruang di istana Pagaruyung(3), berpindah dari angkot satu ke angkot yang lain di kawasan Bukittinggi, ah…semuanya itu nampak menari nari dengan jelas di pelupuk mata saya sekarang ini. Terasa pas membayangkan semua itu dengan diiringi lantunan Ayam Den Lapeh yang disenandungkan dengan memelas oleh Elly Kasim. Simaklah bait demi baitnya yang bercerita tentang seseorang yang kehilangan ayam. Tempat tempat yang disebutkan dalam senandung tersebut dimana si pemilik ayam mencari ayamnya membuat benak ikut berkelana menapak tilas ke perjalanan bertahun tahun yang silam.

Belum lama saya sendirian menikmati kecantikan panorama Sumatra Barat, salah seorang teman baik yang juga seorang dedengkot arung jeram di Indonesia berbaik hati mengangsurkan sebuah nama untuk dihubungi. Sebuah nama yang mengingatkan saya akan merek minyak goreng terkenal. Kesana jualah akhirnya saya terbiasa singgah. Bersama dengan kawan kawan sang minyak goreng, kami mengarungi sungai demi sungai yang menjadi daerah jajahannya. Tak banyak yang saya ingat karena lamanya waktu tlah lalu, hanya dua yang menancap di otak saat ini adalah Batang(4) Tarusan dan Batang Sangir selain karena lumayan sering mengarungi dua sungai tersebut juga karena nyawa saya hampir terenggut di dua sungai tersebut.

Kejadian pertama adalah di Batang Tarusan dikarenakan kami nekat berangkat ke sungai di saat langit sudah mulai pekat pertanda hujan akan turun dengan deras. Benar saja, pengarungan baru berjalan beberapa menit hujan turun dengan derasnya seperti ditumpahkan dari langit. Keputusan untuk menepi segera diambil yang hampir saja terlambat. Di saat kami berusaha menepi perahu sangat sulit dikendalikan di tengah sungai yang sudah mulai bergolak liar sehingga semua anggota tim kocar kacir tumpah ke sungai yang sedang bergemuruh dengan ketinggian air yang meningkat secara tajam. Dengan susah payah kami semua berhasil mencapai tepian sungai dengan menggapai apa saja yang bisa digapai untuk menyangkutkan diri. Syukur Alhamdulillah tak ada korban jiwa. Dalam sepersekian detik kemudian air bah meluncur deras dari atas dengan suara bergemuruh memekakkan telinga menghanyutkan kayu dan batu kali sebesar kerbau dalam jumlah yang banyak. Semua anggota tim hanya bisa saling berpandangan dengan miris. Syukur Alhamdulillah tak putus putus kami sebut dalam hati. Beberapa saat kami hanya sanggup terpekur diam di tengah deraian hujan deras sebelum memunguti perlengkapan perahu yang masih bisa diselamatkan.

Kejadian kedua adalah di Batang Sangir dimana kecelakaan hampir saja terjadi bukan pada saat pengarungan
tetapi disaat ngebut dalam perjalanan pulang seusai pengarungan. Ngebut di saat lelah bukanlah keputusan yang bijaksana. Kenapa ngebut? Karena hari sudah menjelang siang dan kami masih berkutat di kawasan Danau DiAtas sedangkan keesokan harinya saya harus nguli. Saya harus segera tiba di Padang untuk mengejar angkutan umum ke Riau. Jip yang kami tumpangi cukup sesak untuk dimuati empat orang dengan perlengkapan arung jeram yang segambreng itu. Dua penumpang yang salah satunya adalah saya duduk di atas perahu karet yang dilipat di bangku belakang. Berhubung saya termasuk golongan pelor(2), nggak lama kemudian sayapun tertidur pulas dengan posisi badan mepet dengan atap mobil dan badan ditekuk sedemikian rupa. Tak berapa lama kemudian saya dibangunkan teman sebelah bahwa jip hampir saja nyelonong ke jurang karena si minyak goreng sang supir sedang mengantuk. Sudah berusaha ngebut sedemikian rupa, sesampai Padangpun juga hampir tengah malam. Untuk berburu angkutan menuju ke Riau sudah terlambat. Terpaksa saya harus menghubungi kantor untuk ijin bolos sehari.

Dua tahun menyusuri lekuk liku Sumatra Barat terasa pendek tetapi bukanlah waktu yang sebentar. Lingkungan kerja, suasana rumah kos, bahasa percakapan yang terdengar setiap hari bahkan helaan napas yang kental beraroma Sumatra Barat membuat saya merasa bahwa Sumatra Barat adalah rumah kedua saya.

Kegiatan saya yang rajin menyusuri jalanan tersebut membuat atasan saya mendapat ide untuk memberi tugas tambahan kepada saya menerbitkan sekaligus mengelola sebuah buletin kantor. Bukan buletin yang njelimet ndakik ndakik yang berurusan dengan pekerjaan kantor melainkan catatan ringan keseharian masyarakat lokal beserta kebiasaannya. Begitu juga mengenai tempat tempat menarik yang saya temukan tersembunyi jauh di pelosok. Untuk selanjutnya buletin tersebut disebarkan ke kantor pusat di kota Denver negara bagian Colorado USA. Gara gara tugas tambahan tersebut, saya semakin keblusuk mencintai hobi menggaruk jalanan. Akibat lanjutan lainnya yang membuat saya terperosok semakin dalam adalah permintaan beberapa petugas dari kantor pusat di Denver untuk sama sama menyusuri hutan tropis di kawasan Kerinci. Permintaan yang tabu untuk ditolak oleh seorang mbambunger (backpacker) seperti saya. Tetapi sayangnya hingga proyek berakhir, niatan untuk menyusuri hutan tropis belum sempat terwujud karena keterbatasan waktu.

Setelah menyelesaikan tugas di Riau, sayapun pulang ke Jawa. Terputus sudah hubungan secara fisik dengan rumah kedua saya, namun begitu saya masih sering memantau kabar secara berkala. Yang membuat saya terkejut kemudian adalah kabar bahwa Batang Tarusan diterjang banjir besar yang menghanyutkan beberapa hunian di tepiannya yang bisa jadi rumah salah satu teman pengarungan saya yang tinggal disana. Ah..mudah mudahan perkiraan saya salah.

Sepuluh tahun telah lalu, si minyak goreng teman setia dalam menyusuri sungai pun juga hilang tanpa kabar. Beberapa tahun sebelum saya terdampar di negeri paman Sam, tiba tiba si minyak goreng muncul di Surabaya dan mengabarkan sudah tidak berkecimpung di dunia arung jeram lagi, melainkan berkutat di bidang kayu manis, sebuah komoditas yang cukup berlimpah di Sumatra Barat sana. Setelah pertemuan yang terakhir kalinya tersebut, beliaupun menghilang lagi bagaikan ditelan bumi.

Menyesalkah saya telah menguber mbok Paijo? Ah…pertanyaan yang sulit saya jawab dengan ya atau tidak. Satu demi satu wajah teman teman sepengarungan mulai membayang jelas. Teman teman pengarungan yang juga merupakan teman teman di masa sulit sehingga makin mempererat hubungan persaudaraan kami. Melacak mereka bukanlah perkara gampang dikarenakan sudah menghilang selama belasan tahun. Dengan setitik harapan melalui mbok Paijo, Insya Allah jalan akan lebih mudah.

Ahh….indahnya persahabatan dan bersyukurnya saya dengan teknologi. Satu lagi teman saya dapatkan meskipun kami belum bertemu secara fisik. Tekad saya yang sudah pasti, di mudik berikutnya yang Insya Allah tahun 2010 Sumatra Barat akan menjadi salah satu tujuan utama saya sekaligus untuk bernapak tilas. Tentunya kali ini bersama dengan sang buah hati dan belahan hati. Mudah mudahan masih bisa ditempuh dengan cara mbambunger seperti biasanya.

Sebenarnya, tahun 2008 kemarin hampir saja Sumatra Barat menjadi salah satu kunjungan utama kami, tetapi karena informasi salah yang saya dapatkan membuat saya salah pengertian dan akhirnya membatalkan kunjungan kesana.

1Dulunya memang bernama provinsi Riau sebelum dipecah dua menjadi provinsi Riau daratan dan Riau kepulauan.

2Itulah kenapa saya sering mendapat julukan Pelor yang artinya nempel molor. Gampang banget tidurnya.

3Saya beruntung bisa menikmati Istana Pagaruyung yang asli sebelum musnah dilalap api.

4Batang dalam bahasa Minang yang artinya sungai.

Keterangan foto: Gedung Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau di Padang Panjang yang berbentuk rumah gadang – bangunan khas Minangkabau hasil bidikan teman baik saya, seorang fotografer yang sering jadi jujugan saya dalam bertanya segala hal sekaligus saling bantai :)).

Tulisan ini diikutkan dalam lomba menulis dengan tema Sahabat.

Advertisements

30 thoughts on “[SAHABAT] SUMATRA BARAT DALAM KENANGAN

  1. bambangpriantono said: Nempel molor? itu juga gelarku tuh, asal ada sandarannya pasti isok tidur..malah pernah dulu tidur ndlosor mak nyus di lantai kereta ekonomi..untung barang2 gak ilang

    welah..pelor juga toh? Tosss…hehehehehedimana saja kapan saja.

  2. lafatah said: “Wow! Sumatera Barat. Hmmm… kapan ya saya bisa ke sana??? Oh, Bumi Andalas, tunggulah kedatanganku! Hehe…”

    Nempel molor? itu juga gelarku tuh, asal ada sandarannya pasti isok tidur..malah pernah dulu tidur ndlosor mak nyus di lantai kereta ekonomi..untung barang2 gak ilang

  3. lafatah said: “Wow! Sumatera Barat. Hmmm… kapan ya saya bisa ke sana??? Oh, Bumi Andalas, tunggulah kedatanganku! Hehe…”

    perjalanan yang mengasyikkan. Akan lebih mantap lagi kalau dituangkan dalam bentuk BUKU! Selamat ya Mbak…masuk session kedua.

  4. lafatah said: “Wow! Sumatera Barat. Hmmm… kapan ya saya bisa ke sana??? Oh, Bumi Andalas, tunggulah kedatanganku! Hehe…”

    main gih kesana, mumpung tinggal di Indonesia. Indonesia emang cuakep

  5. sripd said: Tentu aja Mbok Paijo buaeeek banget ya MbaE. Emang dasar ‘blm waktunya’, jadi kita masih bisa hirup udara sampai sekarang. Masih ingatkan waktu ngerjain si Sulawesi gendut? Ngebiarin dia minum air untuk cuci tangan?

    aku berhasil menemukan lagi si gendut. sering chat sekarang.begitu juga si kutu kupret Delfi. Doi mencelat di Lampung sekarang Sri. Begitu dapet nomer hapenya, langsung aku telpon. hampir 2 jam. Duileee…kuping ampe panas. Kamu ditanyain tuh ama si kupret ama si gendut. Si gendut ada MPnya lho. ada foto2 jaman kuda, waktu arung jeram disono.

  6. bundaelly said: mampir lagiiiii

    Tentu aja Mbok Paijo buaeeek banget ya MbaE. Emang dasar ‘blm waktunya’, jadi kita masih bisa hirup udara sampai sekarang. Masih ingatkan waktu ngerjain si Sulawesi gendut? Ngebiarin dia minum air untuk cuci tangan?

  7. alin83 said: eeeee… 2010 mo mudik ya mba..

    Luruhlah jalan Payakumbuh, babelok jalan Kayujati. Dimaatiin dak karusuah awak takicuah..ay ay ayam den lapeh…Mandaki jalan Pande Sikek, basimpang jalan Ka Biaro…enak emang menyusuri tempat2 di lagu itu hehehe…

  8. iniaku said: hihihihihi… sip sipbtw, aku lagi ngantuk berat tapi gak bisa tidur nih, kemarin aku masak dirumah temen dari jam 9 sampe jam 10 malem, trus abis gitu ngobrol sampe jam 2 pagi, sampe rumah jam 3 dan bablas gak bisa tidur sampe jam 6skg rasanya melayang euyyyyyyyyyy

    yeeeee… 2010 mo mudik ya mba.. hm hm hm…hehe..aku pernah ke sumbar termasuk bukit tinggi, mba. tapi ga bawa kamera, hufff nysel. padahal pengen banget foto di depan bangunan rumah adat mreka yang unik. hmmmm… nyesel se nyesel-nyesele..

  9. iniaku said: hihihihihi… sip sipbtw, aku lagi ngantuk berat tapi gak bisa tidur nih, kemarin aku masak dirumah temen dari jam 9 sampe jam 10 malem, trus abis gitu ngobrol sampe jam 2 pagi, sampe rumah jam 3 dan bablas gak bisa tidur sampe jam 6skg rasanya melayang euyyyyyyyyyy

    wadoh pantesan tumben jam segini masih gentayangan dan rajin reply. Biasanya besokannya baru muncul. Ternyata lagi melayang. Bisa lanjut ke Minnesota dong buat ngejemput mie goreng :))

  10. enkoos said: qiqiqiqiq…si gahar bawel bisa tersipu malu juga. huahahahaha, haduh aku jatuh terpelanting.Yo wis, ntar Insya Allah bisa pergi bareng. Nggak perlu planning yg ribet sih secara angkutan umum di Indonesia jadwalnya sangat bisa diandalkan skedulnya, nggak perlu ribet pesen tempat jauh jauh hari sebelumnya. Bila perlu tinggal ngacungin jempol aja sambil berdiri di pinggir jalan.

    hihihihihi… sip sipbtw, aku lagi ngantuk berat tapi gak bisa tidur nih, kemarin aku masak dirumah temen dari jam 9 sampe jam 10 malem, trus abis gitu ngobrol sampe jam 2 pagi, sampe rumah jam 3 dan bablas gak bisa tidur sampe jam 6skg rasanya melayang euyyyyyyyyyy

  11. iniaku said: hehehehe… hidup bawel :))ehem… ini foto tahun kemarin, yg motret suami *tersipu malu* wakakakakakakakaksip sip…. dirimu aja deh Mbak yg bikin planing, aku ngikut aja dehhhhhhhhhhhhhh

    qiqiqiqiq…si gahar bawel bisa tersipu malu juga. huahahahaha, haduh aku jatuh terpelanting.Yo wis, ntar Insya Allah bisa pergi bareng. Nggak perlu planning yg ribet sih secara angkutan umum di Indonesia jadwalnya sangat bisa diandalkan skedulnya, nggak perlu ribet pesen tempat jauh jauh hari sebelumnya. Bila perlu tinggal ngacungin jempol aja sambil berdiri di pinggir jalan.

  12. enkoos said: Iyaaaaa, satu lagi yg bikin kita makin nyambung (selain sama sama gila dan sama sama bawel qiqiqiqiqiq…..)Eh…itu Headshot ganti lagi, menyesuaikan dengan musim yg sedang berjalan :)) Centil.Bikin planning mulai dari sekarang Sef, aku mau menyusuri pesisir Utara Jawa sampe ke Sumbar sekaligus untuk napak tilas. Ikut yukkkkkk. Naik bis rombeng dan kereta rakyat yaaaaaaaaa.

    hehehehe… hidup bawel :))ehem… ini foto tahun kemarin, yg motret suami *tersipu malu* wakakakakakakakaksip sip…. dirimu aja deh Mbak yg bikin planing, aku ngikut aja dehhhhhhhhhhhhhh

  13. iniaku said: Mbak…. baca tulisan ini, aku jadi tau why we are connected, pan aku orang Minang ;;)love you more Mbak and so proud of what you had been and what you are now2010? ikutttttttttttttttttttttttttttttttt

    Iyaaaaa, satu lagi yg bikin kita makin nyambung (selain sama sama gila dan sama sama bawel qiqiqiqiqiq…..)Eh…itu Headshot ganti lagi, menyesuaikan dengan musim yg sedang berjalan :)) Centil.Bikin planning mulai dari sekarang Sef, aku mau menyusuri pesisir Utara Jawa sampe ke Sumbar sekaligus untuk napak tilas. Ikut yukkkkkk. Naik bis rombeng dan kereta rakyat yaaaaaaaaa.

  14. bundakirana said: sumbar kan kampungku.. jadi malu nih, mba Evia kayaknya jauh lebih banyak keliling sumbar dibnding saya:D

    hehehehehe….lha kok malu mbak. Saya mungkin juga malu kalau ada orang cerita detil mengenai Jatim lha wong saya sendiri juga kurang begitu mengenal Jawa Timur meskipun asalnya dari sana bahkan tinggal bertahun tahun. Malu2in yah.Mungkin pemikiran kita, karena berasal dari sana, perginya bisa sewaktu waktu. Nah kalau pas dapat penempatan tugas di tempat jauh, jadinya mumpung kan. Digeber semaksimal mungkin.

  15. jumiartiagus said: makasih postingannya,.. jadi ingek kampuang,.. he..he…

    Mbak…. baca tulisan ini, aku jadi tau why we are connected, pan aku orang Minang ;;)love you more Mbak and so proud of what you had been and what you are now2010? ikutttttttttttttttttttttttttttttttt

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s