PHALAENOPSIS AMABILIS

Copyright Β© Evia Nugrahani W Koos

All photos in this album are taken by Evia N W Koos, all rights reserved.

Lebih dikenal dengan nama anggrek bulan, sebuah spesies anggrek yang sangat populer di Indonesia bahkan ditetapkan sebagai puspa pesona sejak tahun 1993 melalui
Keputusan Presiden berdampingan dengan bunga melati (Jasminum sambac) sebagai puspa bangsa dan Padma Raksasa (Rafflesia arnoldii) sebagai puspa langka.

DSC_0053 label1

Di ujung tahun 2007, seorang kakak ipar menghadiahkan sang puspa pesona yang sedang berbunga dengan suburnya. Hadiah yang tentu saja saya terima dengan perasaan suka cita dan sedikit terselip rasa kuatir yang menyeruak. Suka cita karena mengingatkan saya akan tanah air tercinta, sedangkan rasa kuatir yang menyeruak karena sedih bila tidak bisa merawatnya dengan baik dan telaten sebagaimana ibunda tercinta.

Saya memang tidak setelaten ibunda dalam merawat tanaman. Di halaman rumah beliau yang mungil penuh sesak dengan aneka tanaman yang sering menjadi bumbu sehari hari di dapur kami, sehingga ibunda tidak perlu kerepotan untuk menunggu tukang sayur atau harus pergi ke pasar untuk mendapatkannya. Di halaman belakang nampak berderet deret tanaman kunyit, jahe, kencur, jeruk nipis, semak pandan, rambatan sirih, rimbunan sereh yang cukup membuat nyamuk ogah mendekat. Begitu juga halaman depan yang rimbun dengan tanaman blimbing wuluh, blimbing biasa, salam, dan lagi lagi rimbunan sereh. Belum lagi beberapa pokok anggrek yang selalu rajin berbunga meskipun tanpa perawatan khusus.

Kembali ke anggrek hadiah kakak ipar saya.

Di pojok dapur tempatnya bermukim kini, tentunya dengan harapan sang puspa pesona tidak akan merasa sunyi dengan lalu lalangnya anggota keluarga dan segala kegiatannya. Tempat yang menurut saya sangat pas karena dapur merupakan pusat kegiatan sehari hari di keluarga kami. Hangatnya mentari masih bisa dirasakan di musim dingin yang membekukan tulang belulang melalui sorotan sinar yang berpendar melalui jendela kaca lebar yang berada di sisi sang puspa pesona.

Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berganti dan hingga kini tak terasa sang puspa pesona telah menemani hari hari kami selama hampir dua tahun. Rasa takjub dan kegembiraan luar biasa bagi saya selama mengamati perkembangannya. Umur maksimal sang puspa pesona sejak kuncup hingga gugur adalah tiga bulan. Sebelum waktunya gugur, kuncup kuncup yang lain bersiap siap untuk memamerkan keindahannya. Subhanallah, betapa indahnya ciptaanMu ya Allah. Praktis selama hampir dua tahun, sang puspa pesona tidak henti hentinya memamerkan keelokannya dan menampakkan kekokohan daun daunnya yang menunjukkan betapa sehatnya sang tanaman.

Saya meniru cara ibunda dalam merawat tanaman. Menyiraminya dengan penuh kasih sayang dan mengajaknya bicara di segala kesempatan sebagaimana kita berkomunikasi dengan orang orang yang kita kasihi. Sayapun juga menyempatkan diri untuk berpamitan bila bepergian untuk jangka waktu lama. Air siraman bukan yang aneh aneh, hanya sekedar kopi sisa minuman kekasih hati yang peminum kopi, terkadang diselingi air teh sisa. Begitu juga susu bekas minuman buah hati yang tidak habis terminum.

Mengutip kata kata ibunda : tanaman juga mahluk hidup yang membutuhkan kasih sayang. Bila kita tulus menyayanginya, tanaman akan membalas kasih sayang kita. Masya Allah, betapa indahnya hubungan timbal balik ini. Tanaman aja bisa mengerti kasih sayang, apalagi manusia. Seandainya semua umat di dunia ini bisa hidup damai alangkah indahnya.

Advertisements

19 thoughts on “PHALAENOPSIS AMABILIS

  1. rudiegusteno said: Hahahahahaha…orang nanyain nya BG dijawabnya WB…hahahahahahahahahahaha, ngakak aku, dasar orang sedeng :Dtapi aku suka fotomu yg ini….. πŸ™‚

    iya, ini angle nya lain sendiri. Bosen ah dari depan semua

  2. rudiegusteno said: Hahahahahaha…orang nanyain nya BG dijawabnya WB…hahahahahahahahahahaha, ngakak aku, dasar orang sedeng :Dtapi aku suka fotomu yg ini….. πŸ™‚

    Wah…iya ya..Nggak perhatiin. qiqiqiqiqi…Swori dori mori Haley.
    BG nya pake ukiran Toraja.

  3. enkoos said: Di Exif kecatat Fine Weather. Padahal di kameraku WBnya ada: Mulai bawah yg paling anget: shade, cloudy, flash, direct sunlight, fluorescent, incandescent. Paling bontot ya paling biru.Jadi Fine Weather masuk mana, aku nggak mudeng. Sepertinya mungkin direct sunlight. Kali lho.

    suka yang ini jugaaa, mbok πŸ™‚ lebihnya kurang demen…wakakakakaka

  4. enkoos said: Di Exif kecatat Fine Weather. Padahal di kameraku WBnya ada: Mulai bawah yg paling anget: shade, cloudy, flash, direct sunlight, fluorescent, incandescent. Paling bontot ya paling biru.Jadi Fine Weather masuk mana, aku nggak mudeng. Sepertinya mungkin direct sunlight. Kali lho.

    Hahahahahaha…orang nanyain nya BG dijawabnya WB…hahahahahahahahahahaha, ngakak aku, dasar orang sedeng πŸ˜€
    tapi aku suka fotomu yg ini….. πŸ™‚

  5. haleygiri said: Mbak pake BG apa?

    Di Exif kecatat Fine Weather. Padahal di kameraku WBnya ada:
    Mulai bawah yg paling anget: shade, cloudy, flash, direct sunlight, fluorescent, incandescent. Paling bontot ya paling biru.
    Jadi Fine Weather masuk mana, aku nggak mudeng.
    Sepertinya mungkin direct sunlight. Kali lho.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s