Lanjutan kisah pelaut Bugis yang sedang dirawat di rumah sakit di Duluth

Cerita sebelumnya bisa dibaca disini.

Keterangan foto: sekumpulan burung camar laut yang sedang bergerombol. Seperti juga manusia yang merupakan mahluk sosial, selalu ingin bergabung bersama kelompoknya. Adalah sebuah kebahagian tersendiri bagi saya, bertemu dengan sesama Indonesia di perantauan.


18 November 2009.
Hari ketiga si bapak NH berada di rumah sakit. Berarti sudah tiga kali saya berkunjung menengok beliau. Biasanya saya berkunjung saat anak saya sedang belajar di sekolah. Tetapi udara dingin yang menggigit tulang membuat saya enggan menyibakkan selimut. Musim dingin sudah di ambang pintu. Meskipun salju belum menampakkan wujudnya, suhu udara mulai turun secara perlahan.

Saat hari mulai gelap, saya memaksakan diri untuk berangkat ke rumah sakit. Kali ini ditemani oleh anak saya. Alhamdulillah kondisi kesehatannya semakin membaik. Kamarnyapun bukan di ICU (Intensive Care Unit) lagi. Sudah bisa mengkonsumsi makanan dimana tadinya asupan nutrisi hanya berasal dari infus.

Belum lama berada di rumah sakit, telepon genggam saya berbunyi. Tumben sekali berbunyi. Biasanya saya matikan bila berada di rumah sakit, karena ada larangan menghidupkan telepon genggam di rumah sakit. Kuatir mengganggu jalannya peralatan medis di rumah sakit.

Tanpa saya duga ternyata dari pihak keluarga pak NH di Indonesia. Subhanallah. Kok ya pas kebetulan saya berada di rumah sakit. Selama ini berita sakitnya si bapak, diketahui oleh keluarga beliau di Indonesia melalui perusahaan pak NH di Indonesia. Dan juga melalui saya lewat pembicaraan telpon di rumah.

Mereka belum pernah berbicara secara langsung selama pak NH dirawat di rumah sakit. Pihak rumah sakit sudah menawarkan kepada bapak NH untuk menghubungi keluarganya di Indonesia tanpa dipungut bayaran sepeserpun selama pembicaraannya dalam waktu yang wajar. Karena kuatir akan membuat cemas keluarganya, pak NH menolak dengan halus tawaran pihak rumah sakit.

Sebetulnya sejak hari pertama bertemu bapak NH, saya sudah berkeinginan untuk menyampaikan berita kepada keluarga beliau di Indonesia. Tetapi dicegah oleh beliau karena kuatir akan membuat rasa cemas yang tidak perlu. Setelah kondisinya semakin membaik, barulah saya memberanikan diri untuk menghubungi keluarganya. Tentunya atas seijin bapak NH. Dari situlah, mereka menanyakan nomer telpon genggam saya.

Keengganan saya berangkat di pagi hari ternyata berbuah keberuntungan bagi keluarga pak NH. Seperti yang sudah saya sebut di awal tulisan ini, semua kejadian, baik maupun buruk sudah diatur olehNya.

Advertisements

6 thoughts on “Lanjutan kisah pelaut Bugis yang sedang dirawat di rumah sakit di Duluth

  1. enkoos said: PIhak rumah sakit sudah menawarkan kepada bapak NH untuk menghubungi keluarganya di Indonesia tanpa dipungut bayaran sepeserpun selama pembicaraannya dalam waktu yang wajar

    subhanallah ya pelayanan RS sana.. kemaren beli obat buat istri di salah satu apotek, udah pelayanan ga memuaskan sama sekali, harganya 150% lebih mahal, dan uda gitu, abal-abal pula..gimana pak NH nya sekarang mba?

  2. cutyfruty said: Semoga blio cepet sembuh…………

    Alhamdulillah sudah sembuh. Baru aja tadi pagi keluar dari rumah sakit mbak. Aku pas kebetulan kesana jadi sempet nungguin sampe agen kapalnya ngejemput. Disanguin segepok obat sama rumah sakit. Dan harus habis dalam 7 hari.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s