Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah

Belasan tahun yang silam, seorang ibunda pernah sering bertanya pada anak gadisnya, ”Opo tho sing mbok goleki nduk?” (1) Sebuah tanya yang sepertinya tidak membutuhkan jawaban.

Sebuah tanya yang sering terucap lantaran hobi si nduk yang gemar naik turun gunung dan berkeliaran di hutan belantara. Di saat kebanyakan orang mencari hangatnya tempat tidur yang empuk dan nyaman, makan yang enak dan teratur, ini kok malah golek soro (2).

Larangan yang diberlakukan dengan berbagai cara oleh sang ibunda tidak mampu menghalangi gejolak keinginan anak gadis satu satunya itu. Selalu saja ada jalan bagi si nduk untuk melaksanakan keinginannya tersebut. Sang ibundapun pasrah dengan tetap melontarkan nada tanya “opo tho nduk sing mbok goleki kuwi?
——————————————————-
Bermula dari saat menginjak sekolah menengah atas. Adalah sebuah ajakan kawan kawan si nduk untuk melihat upacara Kasodo di gunung Bromo, salah satu ikon Jawa Timur yang sangat kesohor. Ajakan yang terlalu menggoda untuk ditolak.
Exit permit dari ibundapun sudah pasti tidak akan didapatkan bila meminta secara baik baik. Tak kurang akal, dibuatlah alasan belajar bersama.

“Bu, aku apene sinau bareng neng omahe konco yo. Nginep.“


(3) Namanya juga belajar bersama, tentu bekal yang dibawa nggak sebanyak bila menginap ke luar kota. Untuk mengatasinya, si nduk pun meraup tumpukan koran untuk dijadikan kantong kertas lantas dijual ke pasar. Sebetulnya bisa saja tumpukan koran tersebut dijual secara kiloan, namun nilai jualnya tidak setinggi bila dijual dalam bentuk kantong kertas. Hasil jualan tersebut lumayan untuk tambahan bekal. Untuk lebih menghemat pengeluaran, si nduk dan teman temannya sepakat untuk menumpang truk. Si nduk dan teman2 perempuan kebagian tugas untuk mencegat truk, sedangkan teman2 pria menunggu di sebuah warung.

Kenapa nggak sama sama mencegat? Menurut yang sudah berpengalaman, kalau perempuan yang mencegat, truk akan berhenti. Kalau pria yang mencegat, truk tetap berjalan dan hanya mengurangi kecepatan laju truknya. Repot nantinya bagi para perempuan melompat ke bak belakang. Selama berada di gunung Bromo, si nduk dan teman temannya menikmati petualangan mereka. Berkemah selama beberapa hari di tengah udara dingin yang menusuk tulang dengan bekal makanan seadanya. Sebagai anak yang baik, sepulangnya dari Bromo si ndukpun mengaku kepada ibunda bahwa sebetulnya dia tidak belajar bersama melainkan pergi mendaki gunung Bromo. Jelas saja sang ibunda marah luar biasa. Bukannya jera, si nduk malah mengulangi kenakalannya. Tak terhitung lagi petualangan apa saja yang dilakukannya semenjak itu. Napak tilas di hutan rimba, menyusuri gua dingin nan senyap, menjelajah pantai, dan sempat sempatnya mengikuti gerak jalan Mojokerto Surabaya. Dua kali malah. Bukan sendirian tentunya, melainkan bersama kawan kawan mewakili sekolahnya. Minimnya bekal yang memadai (baca: uang) tidak membuat si nduk patah semangat. Selain jualan kantong kertas berbahan koran, terkadang di beberapa kesempatan si nduk dan teman temannya mengamen. Tentu saja tanpa sepengetahuan sang ibunda. Transportasi andalannya apalagi kalau bukan tumpangan truk. Di suatu kesempatan, truk yang ditumpangannya sedang bermuatan beras. Jaman segitu belum ada karung plastik. Adanya karung goni. Bisa dibayangkan, duduk dan berbaring beralaskan karung goni. Garuk garuk sekujur badan setelah turun dari truk. Selama berpetualang, berbagai alasan sampingan telah dikemukakan untuk mendapatkan ijin dari ibunda. Ijin yang susahnya setengah modar. Sering sampai nyembah sekalipun nggak bakal dapat. Untungnya, hampir sebagian besar kegiatan petualangan itu dilakukan bersama kawan kawan sekolah dan salah seorang guru bersedia menjadi penanggung jawab. Seorang guru yang berjiwa muda dan bisa mengarahkan gejolak jiwa para anak didiknya. Ibunda agak sedikit melunak dan rela melepas kepergian si nduk dengan ikut sertanya guru sekolah. Di sebuah kota dibiarkannya kami mengamen. Melatih mental dan keberanian katanya. Sejatinya bukan uang tujuan utamanya meskipun kami senang mendapatkan receh demi receh.
—————————————————————————-

Hingga suatu saat, … Si nduk berangkat mendaki gunung Gede di Jawa Barat. Dengan ditemani salah seorang saudara sepupu berangkatlah si nduk menjauh dari hiruk pikuknya kota besar menghabiskan akhir minggu yang damai dan tenang di kesunyian gunung Gede. Bekal yang dibawa tidak begitu banyak. Hanya sebuah ponco sebagai pengganti tenda, dan masing masing sebuah kantong tidur serta makanan secukupnya. Setelah berada di puncak gunung dan bersua dengan sesama pendaki, poncopun mulai dipasang. Karena hari sudah malam, keadaan sekitar tak diperhatikan. Tak berapa lama si nduk masuk kedalam ponco dan tidur dalam kelelahan setelah mendaki seharian. Sedangkan sang adik sepupu masih betah bercengkerama, menghabiskan sisa malam yang semakin dingin, duduk mengitari hangatnya api unggun bersama dengan para pendaki yang lain. Belum juga sepenuhnya terlelap, si nduk berteriak sekuat kuatnya. Tapi anehnya, suaranya tak keluar sama sekali. Setelah mencoba berteriak berkali kali, akhirnya muncul juga suaranya dan membuat si adik sepupu datang tergopoh gopoh memasuki ponco. “Ono opo mbak?”(4) si adik bertanya dengan nada cemas yang tidak bisa disembunyikan. “Awakku koyok ono sing narik mengisor ki ye,”(5) si nduk menjawab dengan napas memburu dan mata yang memancarkan rasa panik luar biasa. Merasa bertanggung jawab akan keselamatan kakak sepupunya, sang adik sepupu akhirnya tidur di bekas tempat si nduk barusan terlelap. Akan halnya si nduk sendiri, pindah ke sisi satunya. Apa yang membuat si nduk berteriak ketakutan? Hal itu baru terjawab keesokan paginya sesaat setelah mentari bangun dari peraduannya. Tanah dimana ponco mereka berada tidak rata, miring menjorok ke arah jurang. Si nduk yang memang tidurnya tidak bisa diam, lama lama melorot mengikuti gravitasi bumi. Sepulang dari perjalanan pendakian itu, si nduk bercerita kepada ibunda. Seusai bercerita, hening sesaat. Hanya terdengar helaan napas selama beberapa detik. Sejurus kemudian, sang ibunda berujar “mene mene maneh ki yo mbok sing ngati ati.” (6) Semenjak itu, pantun wajib “opo tho nduk sing mbok goleki kuwi?“ yang selalu berdengung, tak terdengar sama sekali. Sebagai gantinya, tatapan teduh dan do’a pengiring perjalanan selalu menyertai. Ibunda jualah salah seorang pendengar setia celotehan si nduk sebagai oleh oleh selama perjalanan petualangannya. Restu dan do’a membuat langkah si nduk menjadi jauh lebih ringan dalam menapak jalanan. Di kelak kemudian hari, jauh setelah kejadian di gunung Gede itu, sang ibunda m
engaku mungkin karena selama ini tidak merestui kegiatan si nduk, sehingga sering terjadi hal hal yang hampir merenggut nyawa si nduk.

Catatan:

1. opo tho sing mbok goleki kuwi nduk? Apa yang sedang kau cari nak?

Nduk adalah panggilan untuk anak gadis di Jawa.

2. golek soro = cari sengsara

3. Bu, aku apene sinau bareng neng omahe konco yo. Nginep. = Bu, saya mau belajar bersama di rumah teman.

4. Ono opo mbak? = ada apa kakak?

5. Awakku koyok ono sing narik mengisor ki ye = Badanku terasa seperti ada yang menarik kebawah.6. Mene mene maneh ki yo mbok sing ngati ati = besok besok lebih ati ati lagi.

Advertisements

21 thoughts on “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah

  1. ohtrie said: dan kepercayaan adalah rohnya…Itu yang sejak awal dipesanke simbok nang aku mBakk……thats why i’ve taglin “kanca iku donga”tos mBak Eviiiiiiii……………!!! ngulungke gelas wedang jahe… :)) buka bukaaaa, balang bakwan ke mbak Evi….. ngiler yaa…? syukurrr… :))

    yeeee disini abis sahur, udah waktunya puasa dunks.*simpen bakwan di laci dapur*

  2. ohtrie said: Dan semua itu tak pernah lepas dari didikan simbok ta mBak, secara meh sekolah we ra nduwe ragat…

    didikan dan juga do’a yang tak putus putus. pungguk memang merindukan bulan, namun bila tiba masanya dan dengan usaha keras , punggukpun bisa menjejakkan kaki di bulan. Tak ada hal yang tak mungkin di dunia ini. Orang yang lahirnya kena polio, jalan gak sempurna, lahir dari keluarga miskin, anak ke 20 dari 22 bersaudara, bapaknya kuli ibunya buruh cuci kalau jalan dibantu dengan kursi dorong. Dokter yang menangani dah angkat tangan, si anak gak bakal bisa jalan. Tapi atas kuasa Allah dan semangat yang gak pantang mundur, bisa menjadi pemain basket, meraih 3 medali emas di cabang olah raga lari sprinter di olimpiade 1960. Bayangkan. Penyandang polio gak bisa jalan di masa kecil, setelah gede malah jadi pelari. Subhanallah. Dan si ibu menjawab “kamu pasti bisa” waktu ditanya anaknya, “apakah saya bisa berjalan?”Tahu siapa dia? Wilma Rudolph. Kalau Gotrek gugel namanya, infonya pating tlecek. Orang hebat dia.

  3. enkoos said: teman nilainya jauh diatas harta benda apapun karena ketulusan pertemanan tak bisa dinilai dengan materi.

    dan kepercayaan adalah rohnya…Itu yang sejak awal dipesanke simbok nang aku mBakk……thats why i’ve taglin “kanca iku donga”tos mBak Eviiiiiiii……………!!! ngulungke gelas wedang jahe… :)) buka bukaaaa, balang bakwan ke mbak Evi….. ngiler yaa…? syukurrr… :))

  4. ohtrie said: ohhh…hihii… yawis jalin pertemenan mbak kalo mang bisa diajak sbg teman n sahabat wiss. Itu bagian dari bandha kita….:)

    teman nilainya jauh diatas harta benda apapun karena ketulusan pertemanan tak bisa dinilai dengan materi.

  5. enkoos said: ndilalah dapat kontak baru yang seumuran sama simbok, obrolannyapun nyenggol2 simbok.

    ohhh…hihii… yawis jalin pertemenan mbak kalo mang bisa diajak sbg teman n sahabat wiss. Itu bagian dari bandha kita….:)

  6. enkoos said: Bener Trek. Mendidik anak dengan baik, setelah besar bisa mandiri dan punya kehidupan sendiri. Tapi kalau orangtua lagi tak berdaya, mesakke. Aku bar telpon simbok.

    Ini lho mBak Point nya…ku yaqinb sampean bisa ngerasain apa yang kurasakan owkk….Kapan ta wong ra nduwe bandha kaya awake dhewe iki kepikiran bisa ketemu Presiden bahkan Jimmy Carter sekalipun…? Dulu bilangnya bagai pungguk merindukan bulan taa…???Tapi ternyata keberuntungan itu menaungi kita, meski hanya sebagai jongos hotel tapi kita bisa bertemu orang2 hebat n punya prestasi tur kalo pas waktunya kadang ya isa sharing juga.Dan semua itu tak pernah lepas dari didikan simbok ta mBak, secara meh sekolah we ra nduwe ragat…

  7. ohtrie said: wis jian nek kelingan ki ya mesakke piye, tapi awake dhewe khan ya kudu surive ta mBakk….

    Bener Trek. Mendidik anak dengan baik, setelah besar bisa mandiri dan punya kehidupan sendiri. Tapi kalau orangtua lagi tak berdaya, mesakke. Aku bar telpon simbok. Hari ini kok ya gak sengaja ada beberapa kejadian yang mengingatkanku akan simbok. ndilalah dapat kontak baru yang seumuran sama simbok, obrolannyapun nyenggol2 simbok. Dan sekarang awakmu. 😦

  8. enkoos said: Ya sudah, aku yang ngalah. Setiap 6 bulan sekali pulang kampung di serebeje.

    Rencana abis Lebaran yang kemarin sempet aku ceritakan itu ya salah satu ertimbangane masalah ini je mBakkk….wis jian nek kelingan ki ya mesakke piye, tapi awake dhewe khan ya kudu surive ta mBakk….

  9. ohtrie said: Gak mau mBakk…..ku dah bolak balik tawarin…..Yups nyuuwn dongane wae mBakk, itu obat mujarab jee…

    njih Insya Allah diparingi slamet dan seger waras. Amin.Dulu waktu aku kerja di Duri, simbokku yo gak mau. Padahal persiapan udah mateng, cari sewa rumah yang memadai, sampe bosku ikut cawe2. Tapi akhirnya mentah lagi, karena urusannya sama Menik. Susah dokter kalau lagi sakit, begitu juga angkutan umumnya gak menjangkau pelosok. Gak ada becak, gak ada ojek (tahun segitu lho ya, kalau sekarang katanya sudah banyak ojek). Kontur tanah juga naik turun seperti berbukit. Mesakke simbok kalau harus jalan kaki kerepotan ngurus menik. Ya sudah, aku yang ngalah. Setiap 6 bulan sekali pulang kampung di serebeje.

  10. ohtrie said: Dan justru pagi ini aku dapet kabar simbok hospitalized aku ya blas ra isa mulih jee….

    titip ndungo yo Trek.Gak bisa diboyong ke Jakarta? Lebaran dan Tahun Baru emang masa panennya. Kebayang dulu sempet tidur di tempat kerja. Udah kayak rumah kedua saja.

  11. enkoos said: Tilik simbok?

    sering banget tilik mBakk, ku usahakan minimal sebulan sekali….Tapi justru bulan ini susah banget, tahu ndiir kerjaanku jelang Lebaran gini mBakk… :(Dan justru pagi ini aku dapet kabar simbok hospitalized aku ya blas ra isa mulih jee….

  12. ohtrie said: ahhh….akhire aku maca kisah iki secara gak sengaja blusukan mlebu pawon smapean mBakkk…..#mrebesmili oleh kabar simbok nembe ngedropp meneh, nursed

    semoga simbok diparingi waras Trek. Amin. Itu sebabnya awakmu ke Yojo dek kapan kae? Tilik simbok?

  13. asripamuncar said: weleh..lek aku koyok e tipe seng nggolek i empuk e kasur hihihi….tfs yuk, aku iso merasakan petualangan itu ( sekiranya sudah cukup nggo aku seng ora hobi blusukan hehehehe )

    ahhh….akhire aku maca kisah iki secara gak sengaja blusukan mlebu pawon smapean mBakkk…..#mrebesmili oleh kabar simbok nembe ngedropp meneh, nursed

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s