Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.

Pepatah yang sangat tepat untuk menggambarkan keluarga Hedquist, sebuah keluarga petani yang saya wawancara beberapa saat yang lalu. Hasil wawancara tersebut bisa dibaca di koran kampus UMD.

Adalah sang ayah yang terketuk hatinya untuk memiliki ladang pertanian. Tahun 1981 ditinggalkannya kehidupannya yang telah mapan di sebuah areal elit pinggir danau menuju ladang pertanian. Masih di kawasan negara bagian Minnesota. Dengan pengetahuan nol besar mengenai pertanian, jatuh bangun selama bertahun tahun membangun 160 acre ladang (kira kira setara dengan 64 hektar). Dari areal seluas itu, 40 acre (kira kira setara dengan 16 hektar) diantaranya berupa ladang rumput untuk makanan sapi sapi mereka.

“Beralih dari kehidupan mapan sebagai CEO perusahaan besar lantas menjadi petani susu dan tanpa pengetahuan memadai sama sekali, membutuhkan perjuangan yang sangat besar. Tak terhitung lagi berapa tetesan keringat dan airmata serta pembelajaran seiring dengan berjalannya waktu,” sendu si pembuat keju Joy Hedquist. Joy adalah salah seorang putri Hedquist, si ayah yang CEO tersebut.

Tahun 1981 mereka boyongan ke Cloquet. Dan 4 tahun kemudian mulai berjualan susu sapi yang berasal dari tujuh sapi milik mereka. Beberapa tahun kemudian mereka memutuskan untuk hanya memberi makan sapi sapi mereka dengan rumput, setelah sebelumnya tergantung dengan pellet. Pilihan full rumput itu bukannya tanpa alasan, tetapi telah melalui riset bertahun tahun. Hasilnya? Biaya lebih murah, umur para sapi menjadi lebih panjang dan sehat bagi semua pihak. Ya sapinya ya manusia yang mengkonsumsinya ya tanahnya.

Biaya lebih murah karena sapi tidak membutuhkan perawatan khusus. Selain itu karena sapi lebih sehat, otomatis biaya dokter juga kecil atau kalau tidak mau dibilang tak ada sama sekali. Ibarat manusia, lebih sehat makan masakan rumah yang dimasak dari bahan bahan pilihan tinimbang makan makanan awetan yang dari kaleng.

Karena keuntungan menjual susu sangatlah tipis dan tidak memadai untuk menutupi biaya hidup mereka sehari sehari, maka di tahun 2001 mereka melebarkan sayap dengan memproduksi keju, produk lanjutan dari susu. Apalagi umur susu juga sangat terbatas. Paling banter seminggu, kalau masuk kulkas.

Hanya sepuluh persen dari susu yang terkonsolidasi menjadi keju. Sedangkan 90 persen sisanya dalam bentuk whey. Karena kandungan nutrisi dalam whey ini masih tinggi, oleh mereka dijadikan pakan ternak. Peliharaan merekapun juga bertambah. Tidak melulu sapi, tetapi juga ada babi, kalkun, ayam dan bebek. Semua peliharaan tersebut terkecuali sapi akan disembelih untuk dijual dagingnya bila menjelang Thanksgiving. Sapi sapi akan disembelih bila masa produksi susu telah usai. Begitu juga ayam, apabila masa bertelor telah usai.

Keju keju produksi mereka selain yang berlabel gouda, juga ada yg berbumbu merica, jalapeno (sejenis cabe), ada pula yang campuran bawang putih dan jalapeno dan masih banyak yang lain. Untuk lebih lengkapnya, bisa dilihat di website mereka.

Saat ini, keju adalah penghasilan terbesar mereka. Hasil produksinya tersebar di seantero Amerika dan kebanyakan dijual di toko toko organik dan koperasi koperasi lokal.

Selain itu, di pertengahan tahun 2008 salah satu lumbung mereka disulap menjadi kedai kopi, tempat yang nyaman dan hangat untuk menikmati secangkir kopi.

Keluarga Hedquist termasuk salah satu diantara sedikit petani di Minnesota yang menggantungkan hidupnya secara penuh dari pertanian. Para keponakan Joy, yang tertua berusia 12 tahun, sudah mahir membantu orang tuanya mengelola ladang pertanian ini. Tugas mereka diantaranya adalah: membuat keju, memungut telor2 ayam dan memberi makan ternak mereka. Mereka tidak memperkerjakan orang luar sama sekali. Betul betul murni usaha keluarga yang terdiri dari satu kakek – ya si Hedquist itu (yang meninggal di tahun 2006), satu nenek, satu anak perempuan (Joy Hedquist) yang masih lajang dan satu anak lelaki dengan keluarganya yang memiliki 6 anak.

Joy berharap, kelak para ponakan ini akan menggantikan tugas para orang tua untuk meneruskan usaha keluarga ini. Di usia mereka yang masih sangat muda ini, mereka sudah mahir memproduksi keju. Bukan karena mereka harus melakukannya tetapi karena mereka mencintai kegiatan itu. Satu modal besar untuk memulai sebuah kegiatan. Apapun kegiatan tersebut.

Jalan yang cukup berliku, tetapi dengan usaha yang tak kenal lelah Insya Allah semuanya itu akan terwujud.

Where there’s a will, there’s a way.

Advertisements

23 thoughts on “Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.

  1. penuhcinta said: Helegh… jangan2 anjing? Loh kok jauh? Kan kalo anjing bisa galak dan gonggong kalau ada srigala untuk mengingatkan hewan ternak lainnya.

    Hehehehe….mbuh opo yo. Tapi bukan anjing kok. Semacam kuda tapi bukan. Ya mungkin keledai itu tadi. Cuma aku sudah lupa. Mungkin di voice recorder masih ada.

  2. enkoos said: Iya ya, kok bisa keledai jadi pengusir serigala. Atau mungkin maksudnya kuda? Lupa dweh, ini liputan taun 2009.

    Helegh… jangan2 anjing? Loh kok jauh? Kan kalo anjing bisa galak dan gonggong kalau ada srigala untuk mengingatkan hewan ternak lainnya.

  3. penuhcinta said: Donkey=keledai mbak. Eh, keledai bisa mengusir srigala? Jago banget yak. Padahal kalau di film2 kartun dan pepatah, keledai ini identik dengan kebodohan dan kemalasan.

    Iya ya, kok bisa keledai jadi pengusir serigala. Atau mungkin maksudnya kuda? Lupa dweh, ini liputan taun 2009.

  4. enkoos said: Untuk melindungi areal pertanian mereka, keluarga ini memelihara donkey. Aku nggak tau bhs Indonesianya. Sejenis kuda gitu. Konon katanya si donkey sanggup mengusir serigala.Begitu.

    Donkey=keledai mbak. Eh, keledai bisa mengusir srigala? Jago banget yak. Padahal kalau di film2 kartun dan pepatah, keledai ini identik dengan kebodohan dan kemalasan.

  5. tintin1868 said: wow ini toh ceritanya.. kaya pernah dengar kapan ya? itu bus sekolah jadi tempat ayam? dan foto ini pernah diposting dimana ya?hebat ya keluarga itu.. full bertani.. ini lagi senandung: old mcdonald had a farm e i e i o.. 160acre itu bukannya sama dengan 100x100x160? 1 acre itu ukurannya 100 meter persegi kan ya?

    foto pernah diposting tentang lomba foto mahasiswa internasional: http://enkoos.multiply.com/journal/item/127/SATU_LAGI_TONGGAK_SEJARAH1 acre = 4,046.856 422 4 square meter (sumber dari sini: http://www.onlineconversion.com/area.htm)

  6. hildahilda said: semuanya setelah dirintis bertahun-tahun ya Mba…:)

    wow ini toh ceritanya.. kaya pernah dengar kapan ya? itu bus sekolah jadi tempat ayam? dan foto ini pernah diposting dimana ya?hebat ya keluarga itu.. full bertani.. ini lagi senandung: old mcdonald had a farm e i e i o.. 160acre itu bukannya sama dengan 100x100x160? 1 acre itu ukurannya 100 meter persegi kan ya?

  7. haleygiri said: pengen jadi petani, gak punya lahan, pengen beli lahan gak punya duit, pengen punya duit gak punya kerjaan yg gajinya cukup ditabung… wah, piye kiiii???

    nglumpukne duit disik. dikit dikit, lama lama jadi bukit toh.golek lahannya yo ojo sing larang.

  8. shedariy said: jadi keinget sama keluarga Almazo Wilder suaminya Laura Ingalls, mereke juga petani tulen menggantungkan hidup sepenuhnya dari pertanian dan sanggup berswasembada….cerita yang gak pernah bosen kubaca

    Jaman Laura Ingalls masih hidup, mata pencarian sebagai petani masih jamak dan wajar. Sedangkan petani yang aku ceritakan ini adalah petani abad sekarang dimana kehidupan sekitar sudah amat sangat modern. Anak2 merekapun nggak sekolah di sekolah umum tapi sekolah di rumah. Yang ngajar ibunya sendiri. Sumber makanan mereka full dari alam sekitar mereka. Begitu juga sumber pakan buat para ternak mereka. Ternaknya dibiarkan berkeliaran di ladang pertanian mereka. Terutama kalkun, ayam dan bebek cari makan sendiri di ladang mereka.Kalau babi dan sapi masih dikasih pakan, itupun dari sisa sisa pembuatan keju. Untuk melindungi areal pertanian mereka, keluarga ini memelihara donkey. Aku nggak tau bhs Indonesianya. Sejenis kuda gitu. Konon katanya si donkey sanggup mengusir serigala. Begitu. Itulah yang membedakan cerita Laura Ingalls dan Hedquist.

  9. jadi keinget sama keluarga Almazo Wilder suaminya Laura Ingalls, mereke juga petani tulen menggantungkan hidup sepenuhnya dari pertanian dan sanggup berswasembada….cerita yang gak pernah bosen kubaca

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s