Sahabatku, belum sempat kita bertemu, engkau telah pulang dulu…

Rasanya belum lama aku menulis kisah itu. Sebuah episode yang banyak mempengaruhi jalan hidupku. Penggalan kisah yang telah lama berlalu dan Insya Allah akan selalu kukenang sepanjang sejarah hidupku. (Sumatra Barat Dalam Kenangan).

Adalah seorang sahabat yang akrab kupanggil dengan mbokdhe Paijo, yang telah berjasa mempertemukan diriku kembali dengan para sahabat dari penggalan sejarah hidupku itu sehingga tali silaturahmi tersambung lagi.

Memang bukan hal yang mudah meskipun saat ini dunia teknologi begitu canggihnya. Hal itu disebabkan karena para sahabat itu adalah orang orang yang tidak bersinggungan dengan teknologi tinggi dan hidup jauh di pelosok kampung.

Aku hargai kerja kerasmu sahabat. Engkau memang berhati mulia dibalik celetukan celetukanmu yang segar dan semau gue. Engkaupun juga tak pelit berbagi ilmu, hal yang makin mengukuhkan kebaikan hatimu.

Tidak berhenti disitu saja, kesamaan minat dan hobi membuat kami sering mengobrol dan membicarakan segala hal membuat jarak Indonesia Amerika serasa tak berarti. Sempat tertulis undangan darimu “mbokdhe, kalau pulang ke Indonesia harus mampir ke Padang!”

Wah, ya jelas itu sobat. Bagaimana bisa aku nggak mampir ke Sumatra Barat yang sudah kuanggap kampung halaman kedua. Bagaimana bisa tidak mengagendakan dirimu sebagai salah satu tujuan mudik.

Waktu berjalan begitu cepat, hingga suatu hari aku tersadar, sudah lama kami tidak ngobrol. Dalam hitungan lebih dari sebulan malah. Tidak biasanya seperti ini. Akupun tidak berusaha untuk mencari tahu dikarenakan kesibukan mengerjakan tugas tugas kuliah yang serasa tak pernah berhenti. Ditambah lagi dengan rutinitas lainnya sebagai ibu dan istri, lengkap sudah kealpaanku.

Pagi ini (22 Jan’10 pagi waktu Amerika Serikat = 22 Jan ’10 malam waktu Padang) tiba tiba aku dikejutkan oleh berita yang dirilis seorang kawan di jejaring sosial sebelah. Ingin aku tak percaya, tetapi itulah kenyataannya. Tanpa ragu kuputar nomer itu. Sesaat kemudian isak tangis tertahan menyambutku di seberang sana. Berita itu benar adanya.

Ini kali kedua aku menghubungi nomer itu. Yang pertama adalah sewaktu Padang diguncang gempa bulan September 2009. Setelah berbilang bulan kami saling mengenal, itulah pertama kalinya kami bertukar lisan sekaligus juga untuk terakhir kalinya.

Sahabat, aku masih ingat obrolan terakhir sebelum aku bertualang keliling Amerika bulan Juni 2008:

Aku (A): mbokkkkdhe, aku off dulu yakkkkk.
banyak yg harus dipersiapkan sebelum nggembel.

mbokdhe Paijo (MP): wokehhh..aku juga mau off

A: mungkin ini sepertinya terakhir kalinya kita chat

MP: Oyaa??

A: ya kan aku dijalan. nggak bawa laptop. berat.

MP: ati ati di jalan ya mbok dee..

A: makasih ya. Do’akan kami yaaaa

MP: tetapi ketika pulang masih chat kan?

A: Insya Allah. itu artinya 50 hari lagi

MP: kok chating terakhir??? tadi dadaku berdesir mbacanya.

A: lha iya lah, mana tahu nasib kita ke depan kan

MP: oke dehh..
ati ati yaa..

A: nggihhhhhh
Makasih yaaaaa

MP: semoga selamat kembali ke rumah..

A: Amien

MP: salam juga buat menik…dari omok

Hidup, jodoh dan mati adalah rahasia Allah. Rencana bertemu sudah disusun. Apa daya engkau telah lebih dulu pulang menemui Sang Khalik tanpa menunggu kedatanganku. Innalillahi Wa Inna Illaihi Roji’un.

Selamat jalan sahabatku. Semoga dilapangkan jalanmu, diampuni dosa dosamu dan diterima amal ibadahmu oleh Allah.

Amin ya Robbal Alamin.

Duluth 22 Januari 2010.

Advertisements

10 thoughts on “Sahabatku, belum sempat kita bertemu, engkau telah pulang dulu…

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s