Backpacking keliling Amerika: New York 2

Remah remah cerita yang tercecer di perjalanan backpacking keliling Amerika menyusuri jalur kereta selama 50 hari tahun 2009

JATUH CINTA DI KOTA NEW YORK (NYC) bagian 2

Salah satu kios penyemir sepatu di emperan toko.

Barisan semut itu berjalan beriringan dengan teratur membentuk jalur jalur yang rapi seolah ada yang mengomando.
 
Disini, ditengah belantara beton Manhattan kami tak ubahnya seperti dua ekor semut diantara ribuan semut dalam barisan yang mengikuti arus langkah langkah di jalanan. Sekali kita berhenti atau melawan arus buyar sudah barisan itu. Hanya sedetik. Karena sedetik kemudian semuanya berjalan normal kembali seperti tak terjadi apa apa.
 
Kami yang salah tingkah hanya bisa cengar cengir berujar “ayam sori” yang dibalas dengan senyum maklum. Turis kesasar, mungkin begitu dalam benak mereka.
 
Di sudut sana seorang perempuan muda menjajakan air minum dingin dalam kemasan.
 
“cold water one dollar”, serunya berulang ulang, menawarkan kepada para pejalan kaki yang lalu lalang bergegas tak perduli.
 
Di sebuah emperan toko nampak berjejer kursi tinggi. Di salah satu kursinya duduk seorang lelaki paruh baya dengan dandanan rapi. Di ujung kakinya seorang lelaki muda sibuk menggosok gosok sepatu si lelaki perlente.
 
Kami sendiri, berjalan kaki tak tentu arah keluar masuk stasiun menyusuri jalan mengamati lalu lalang manusia dengan hanya bermodal 8.25 dolar per orang. Seperti umumnya kota kota lain di Amerika, kota New York menyediakan transportasi masal dengan harga tiket relatif murah. Ada yang jam jaman, ada yang harian bahkan berlangganan secara bulanan. Dan masing masing kota harga tiketnya juga berbeda, tergantung kebijaksanaan pemkotnya dan besar kecil kotanya. Di kota Duluth negara bagian Minnesota dimana kami tinggal harga tiket bis yang harian adalah tiga dolar yang berlaku selama 24 jam. Jauh lebih murah dibanding kota New York karena Duluth kota kecil. Jauh lebih kecil dibanding megapolitan New York.
 
Selama di kota New York, hampir sebagian besar kami berjalan kaki, dan naik kereta bawah tanah. Hanya dua kali menggunakan taxi. Itupun karena kepepet.
 
 
Yang pertama sewaktu baru tiba di kota New York.

Stasiun Penn berada di 33th street dan penginapan kami berada di 49th street. Pemikiran saya,”ah, jalan kaki 16 blok tidak masalah, meskipun di malam hari. Kota New York nggak pernah tidur, siang maupun malam.”

Namun ada detil yang tidak saya perhatikan. Stasiun Penn berada di Barat (West 33st street) dan penginapan saya berada di Timur (East 49th Street). Walhasil, sesampainya di 49st street, saya masih harus berjalan kaki lagi sejauh enam blok menuju Timur. Coba bayangkan, sudah kereta nyampenya telat, berjalan kaki sejauh 16 blok dengan kondisi badan ajrut ajrutan, memanggul ransel muka belakang, kaki serasa gempor. Okelah kalau saya masih nekat berjalan kaki lagi, tetapi bagaimana dengan Menik. Tampangnya sudah kuyu dan jalannya terseok seok. Rambutnya basah oleh keringat seperti tikus kejebur got. Jarum jam sudah hampir berada di kisaran 12. Sebentar sebentar brenti mengatur napas. Ya sudahlah, kamipun akhirnya naik taxi dari persimpangan blok 49st street dan 7th Ave menuju penginapan.
 
Yang kedua sewaktu berada di Time Square.
 
Waktu itu kami baru saja meninggalkan gedung Empire State. Sepuluh menit lagi jam berada di angka satu dini hari, waktu gedung ditutup. Tripod kamera saya tertinggal disana, di tempat penitipan. Blaik…
Pemeriksaan untuk pengunjung gedung itu memang sangat ketat, seperti akan memasuki pesawat terbang di bandara. Pengunjung harus melewati pintu detektor dan barang bawaan digeledah. Tripod termasuk barang larangan. Tetapi mereka bersedia menerima barang titipan dengan secarik kertas sebagai bukti penitipan.
 
Dengan panik kami mencegat taxi. Sesampainya di Empire State Building saya menemui petugas dan mengemukakan masalah saya. Ternyata kami tidak sendirian. Ada pasangan turis dari Swiss yang juga mengalami hal serupa. Mereka akan mengambil tripod di tempat penitipan sesaat akan keluar gedung. Tidak seperti saya yang gampang lupa. Mereka sudah lebih dulu dengan petugas itu dan sampai kami datang, petugasnya belum tahu kemana harus mengambil.
 
Kami berjalan beriringan dengan ditemani petugas naik entah ke lantai berapa kemudian turun lagi, naik lagi, berputar kesana dan kemari untuk mencari petugas yang tepat. Setengah jam sudah berlalu, pintu masuk sudah lama terkunci. Tetapi kami masih saja berputar didalam gedung tanpa hasil. Petugas yang menemani kami nampak putus
asa. Berkali kali napasnya mendesah menyiratkan kegelisahan. Kasihan saya melihatnya. Tetapi saya tak ada pilihan lain. Pulang kembali ke penginapan melupakan tripod dan kembali lagi keesokan harinya? Siapa yang menjamin kalau tripod saya masih disana?
 
Seandainya diminta semalaman menunggu di dalam gedungpun saya rela, asal tripod saya kembali.
 
Bersambung
Advertisements

18 thoughts on “Backpacking keliling Amerika: New York 2

  1. erm718 said: eeeh lupa mau komen kemarinnya, bar mbaca langsung diganggu krucils yo wis ngalah… hehe!wealah petualangan di NY bener2 seru nih, aku dewe durung pernah munggah Empire State mbakyu… hahaha 😀

    ra sah munggah. ra ono apa2ne. Luwih apik dideleng soko kadohan, opo maneh yen bengi. Aku sempet mampir neng souvenir shop di dalam Empire State Building dan beli buku fotonya Lewis Wickes Hine. Buku tentang proses pembangunan ESB yang direkam Lewis dengan kameranya. Sayangnya nggak dijual di tempat lain. Bukune tak ongkreh2 kok ra ono yo? Mbuh ketlingsut, mbuh tak hibahno.

  2. si3rra5 said: ya ampuuun kus…. gw masih inget elu nyari tiket parkir di mobil pas baru jemput kita di bandara 😀

    eeeh lupa mau komen kemarinnya, bar mbaca langsung diganggu krucils yo wis ngalah… hehe!wealah petualangan di NY bener2 seru nih, aku dewe durung pernah munggah Empire State mbakyu… hahaha 😀

  3. si3rra5 said: ya ampuuun kus…. gw masih inget elu nyari tiket parkir di mobil pas baru jemput kita di bandara 😀

    Ya ampunnn, masih aja diinget kejadian itu. Kesan pertama yg begitu melekat. Susah dilupakan ya cong? hehehehehe…

  4. lafatah said: Iya, Mbak, saya tunggu deh.Kamis kemarin kelas saya mbahas tentang kota2 kosmopolitan di dunia: New York, London, dan Paris.Sisi manusiawi??? Wiiiwww…

    Saking semangatnya ada yg kelupaan. NYC nggak seperti kota kota besar yang lain.

  5. enkoos said: asik Tah terlantar di New York. Kota New York nggak seperti kota kota besar. Banyak sisi manusiawinya. Tunggu lanjutan ceritaku. Yaelaa…

    ya ampuuun kus…. gw masih inget elu nyari tiket parkir di mobil pas baru jemput kita di bandara 😀

  6. enkoos said: asik Tah terlantar di New York. Kota New York nggak seperti kota kota besar. Banyak sisi manusiawinya. Tunggu lanjutan ceritaku. Yaelaa…

    Iya, Mbak, saya tunggu deh.Kamis kemarin kelas saya mbahas tentang kota2 kosmopolitan di dunia: New York, London, dan Paris.Sisi manusiawi??? Wiiiwww…

  7. asripamuncar said: tripod oh tripod…..tibane duduk motret badokan tok nganggo tripot hihihihiaku seneng gambar e

    gak cumak gae motret yuk. gawe alat bantu jalan alias tongkat alias teken yo keno. nek gawe aku, gawe nggebug maling. :))

  8. lafatah said: Keren.Aku suka, Mbak.Kayaknya asyik terlantar di New York, one of the most cosmopolitans city in the world 😀

    asik Tah terlantar di New York. Kota New York nggak seperti kota kota besar. Banyak sisi manusiawinya. Tunggu lanjutan ceritaku. Yaelaa…

  9. cutyfruty said: Engko dhisik yo moconé, aku tak nang pasar ndhisik. Aku yo durung nggawe critanné dadi anak ilang nang New York….he..he..he..

    dikumplukno disik mbak memorine, mengko kan moro2 mecungul. Diriku akan sabar menanti. taela….

  10. enkoos said: Tetapi kami masih saja berputar didalam gedung tanpa hasil. Petugas yang menemani kami nampak putus asa. Berkali kali napasnya mendesah menyiratkan kegelisahan. Kasihan saya melihatnya. Tetapi saya tak ada pilihan lain. Pulang kembali ke penginapan melupakan tripod dan kembali lagi keesokan harinya? Siapa yang menjamin kalau tripod saya masih disana?

    Iki marai penasaran waé….

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s