Backpacking keliling Amerika: New York 3

Remah remah cerita yang tercecer di perjalanan backpacking keliling Amerika menyusuri jalur kereta selama 50 hari tahun 2009

JATUH CINTA DI KOTA NEW YORK (NYC) bagian 3

si pemuda Turkmenistan Tajikistan sang pengemudi becak

Untunglah kami tak harus keleleran semalaman di gedung itu. Salah seorang petugas dari sekian banyak yang telah dihubungi oleh petugas pertama memandu kami ke sebuah ruangan dimana tripod itu tersimpan. Alhamdulillah.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Hampir sejam kami berputar putar di dalam gedung. Kami sudah tak ada gairah melanjutkan perjalanan. Nguantuk pol polan. Pulang deh ke penginapan. Kali ini naik taxi lagi. Jadi ini yang ketiga kalinya naik taxi. Bukan dua kali, seperti yang sudah saya tulis di tulisan sebelumnya.

Selain banyak berjalan kaki, menggunakan kereta bawah tanah dan juga seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, kami juga menggunakan becak. Ah, New York…setelah gerobak makanan, kini becak yang membuat saya terpana. Setelah ini apalagi?

Persinggungan saya dengan becak sebetulnya karena iseng saja.

Sekeluarnya dari Empire State Building, serbuan gerombolan pengayuh becak menyambut kami menawarkan jasanya. Ini sebelum saya panik teringat tripod saya yang ketinggalan.

“Pedicab! Rickshaw! Time Square mam? Around New York?” Riuh rendah menawarkan jasanya seperti pasar malam.

Karena kami berniat menghabiskan malam dengan berjalan kaki menyusuri jalan, saya tolak dengan halus tawaran mereka. Merekapun menyingkir, mencari calon penumpang yang lain. Tetapi tidak dengan yang satu ini. Salah seorang pengayuh becak yang menyendiri di sudut sana menghampiri saya.

“A ride in the rickshaw, please. It’s cheap,” tawarnya membuka percakapan.

“No, thanks. I just want to walk,” saya menolak dengan senyum.

“It’s cheap, really. Go to Time Square just for 20 dollars sister,” rangseknya gigih.

Ah, meleleh hati saya dipanggil saudara. Senyum tak lepas dari bibirnya. Garis garis tegas tergambar jelas di wajahnya menyiratkan kerasnya hidup yang dihadapi meskipun umurnya masih muda.

“What about 10 dollars?” saya berusaha menawar.

“Oke, just for you 15 dollars. My rickshaw is right there. 15 dollars, okay?”

Saya sebetulnya lebih suka jalan kaki. Kalau saya menawar serendah itu maksudnya untuk menolak dengan halus. Tapi apa daya…

Karena pemuda itu tak menurunkan tawarannya dari 15 dolar, sayapun melenggang pergi.

Belum jauh kami melangkah, pemuda itu memanggil kembali.

“13 dollars, okay? It’s really cheap sister. I’m not lying,” suaranya terdengar seperti ratapan di telinga saya.

Tak tega saya menolaknya. Anggukan saya disambutnya dengan binar binar di matanya sembari menjemput becaknya di seberang jalan. Si pemuda yang ternyata adalah seorang pendatang dari Turkmenistan Tajikistan ini suka bercerita. Sepanjang perjalanan menuju Time Square, ada saja yang dibicarakannya. Tentang hidupnya sebagai mahasiswa perantauan. Setiap hari memasak, bergiliran dengan teman teman senasib untuk mengirit ongkos hidup di kota New York yang demikian mahalnya. Tentang sewa becaknya yang seminggu sekitar 100 atau 200 dolar. Saya lupa berapa tepatnya. Nggak dicatat sih ya. Saya juga lupa menanyakan berapa penghasilannya per hari. Yang jelas si pemuda mengayuh becaknya hanya di musim panas.

Kebayang sih kalau bukan musim panas, nggak ada penumpang yang mau. Siapa juga yang mau berdingin dingin naik becak? Kecuali kalau orang dimabuk cinta, naik becak serasa naik kereta kuda. Kasihan pengayuhnya dong, jadi obat nyamuk. 

Tanpa terasa ngobrol ngalor ngidul sampailah kami di Time Square. Si pemuda menawarkan untuk foto foto.

“This building as a background!” “In a rickshaw from behind.” “Oh, again from the side!”

Hadohhhh, heboh bener tho le. Lebih heboh dia deh daripada kami. Entah berapa jepretan dengan berbagai sudut pengambilan. Kalau saya hitung hitung dari hasil fotonya, lebih dari sepuluh jepretan. Beberapa foto saya hapus, karena ada blocking dari tudung lensa yang memantul dari lampu flash. Nggak enak banget diliatnya.

Usai foto foto, saya mengulurkan sejumlah dolar untuknya. Tentunya bukan 13 dolar seperti permintaanya. Saya belum sebengis itu. Apalagi saya juga mendapat pelajaran berharga darinya berupa cerita, sisi lain kota New York yang keras di balik semarak lampu lampu di sekujur jalanan.

Kami melanjutkan perjalanan, menyusuri jalanan yang tak pernah tidur. Di depan saya nampak seorang fotografer yang sedang sibuk mengarahkan kameranya yang ditopang tripod. Dan sayapun *tepok tepok jidat teringat tripod yang ketinggalan di Empire State Building*. Balik lagi ke Empire State Building dan nyegat taxi dengan panik seperti yang saya ceritakan di episode sebelumnya.

Bersambung.

Bagi teman teman yang tinggal di kota New York, kalau ketemu pengemudi becak ini, sampaikan salam persahabatan saya.

Related posts

 

Advertisements

33 thoughts on “Backpacking keliling Amerika: New York 3

  1. penuhcinta said: Iya Mbak, bisa ngebayangin. Wong aku kalo liburan pendek2 dan bukan backpacking aja perencanaannya lama banget. Tapi kendalaku kalo backpacking ya ndak bisa ninggal anak2. Yang paling realistis ya kita ketemuan aja Mbak di salah satu kota tujuan itu terus jalan bareng.

    Anak2 diajak. Pasti mereka suenengggg buanget. Naik kereta api, duduk di Observation Car yang dindingnya kaca sampe atap. Duduknya ngadep samping. Ihhh asik buanget. Kalau summer, banyak banget penumpang anak2.

  2. enkoos said: Adalagi imigran dari Afrika Ir. Aku ketemu di Seattle. gak mau dibayar duit meskipun aku udah maksa. Karena sama sama ngeyel, akhirnya dia minta dibayar do’a. Duhh gak bisa ngomong deh. Padahal dia sendiri hidupnya susah.

    Heleh… minta dibayar pake doa…hiks.

  3. enkoos said: Hayukkkkkkk. aku pengen keliling lagi, dengan cara menggembel (lagi). Risetnya setahun Ir meskipun jalan nggembel.

    Iya Mbak, bisa ngebayangin. Wong aku kalo liburan pendek2 dan bukan backpacking aja perencanaannya lama banget. Tapi kendalaku kalo backpacking ya ndak bisa ninggal anak2. Yang paling realistis ya kita ketemuan aja Mbak di salah satu kota tujuan itu terus jalan bareng.

  4. penuhcinta said: Oalah, kisahnya ini tho. Mengharukan Mbak… begitu gigihnya perjuangan si pemuda ini.

    Adalagi imigran dari Afrika Ir. Aku ketemu di Seattle. gak mau dibayar duit meskipun aku udah maksa. Karena sama sama ngeyel, akhirnya dia minta dibayar do’a. Duhh gak bisa ngomong deh. Padahal dia sendiri hidupnya susah.

  5. penuhcinta said: Mbak, barengan sama aku yok! Aku jg pengen ke situ lagi dan menelusuri dengan semaksimal mungkin.

    Hayukkkkkkk. aku pengen keliling lagi, dengan cara menggembel (lagi). Risetnya setahun Ir meskipun jalan nggembel.

  6. lenadougherty said: Mba Evi ceritanya menarik. Di awal saya tertarik mengenal kota NYC (Time square, central park, Rockefeller center, chinatown etc),hampir tiap minggu mampir kesini tp saya sendiri merasa tidak pernah bisa menyatu dengan kota satu ini. Perasaan selalu gelisah karena telalu ramai dan ruwet. sirena ambulan atau polisi yg ga pernah berhenti, org jalan hilir mudik ga tentu, calo travel,pengemudi Newyorker yg cuek, susah nya cari tempat parkir dan butuh satu harian untuk mengunjungi satu tempat saja. hahaha….panjang keluhan nya. Untuk menyatu dengan satu tempat mmg harus menggali lebih dalam bukan hanya melihat di permukaan saja. spt cerita mas Tigun sangat menarik. Lain waktu akan mampir di Hub station. TFS

    Hmm..mungkin karena saya berpikir di setiap tempat pasti ada sisi kemanusiaan nya.NYC dengan kekontrasan nya, antara kelas atas yg snob dan kelas bawah yg berjuang utk hidup…ada yg ramah tp banyak yg jutek juga. Di Jkt, di Philly pun begitu. Di awalnya mungkin menarik tp kesana nya mjd hal yang biasa. IMO ya mba.Yang menarik adalah kisah perjalanan tiap org yg berbeda2 ttg suatu tempat dan sy tertarik dg kisah di balik rikshaw itu ternyata ada suatu misi 🙂

  7. lenadougherty said: Mba Evi ceritanya menarik. Di awal saya tertarik mengenal kota NYC (Time square, central park, Rockefeller center, chinatown etc),hampir tiap minggu mampir kesini tp saya sendiri merasa tidak pernah bisa menyatu dengan kota satu ini. Perasaan selalu gelisah karena telalu ramai dan ruwet. sirena ambulan atau polisi yg ga pernah berhenti, org jalan hilir mudik ga tentu, calo travel,pengemudi Newyorker yg cuek, susah nya cari tempat parkir dan butuh satu harian untuk mengunjungi satu tempat saja. hahaha….panjang keluhan nya. Untuk menyatu dengan satu tempat mmg harus menggali lebih dalam bukan hanya melihat di permukaan saja. spt cerita mas Tigun sangat menarik. Lain waktu akan mampir di Hub station. TFS

    Pada dasarnya semua tempat itu menarik. Cara pandangnya aja yg perlu dirubah. Kota New York nggak seperti kota2 besar lain di negara Amerika. Gemerlap iya, bising iya, tapi tidak kehilangan sisi manusiawinya. Itulah yang menarik dari kota New York. Saya aja yg nggak suka sama sekali dengan kota besar, bisa klepek klepek sama New York.

  8. erm718 said: lha iyo ning NY kok mung 3 hari 2 malem…. kurang dong, belum nglayap ke Queens… hehe!ayo kapan nih mbak Sri sisan kopdaran, sing jelas tiketnya dulu utk akomodasi aku tahu ada tempat murmer tp bersih, makanan juga ga semahal makanan di Times Square… haha :Dmbak Evia, nanti kalo aku ketemu si mas tukang becak ntar tak sampein salam darimu… cuma dia mangkalnya dimana? aku cukup sering ke daerah Times Square tapi didaerah 50th Street aja.

    Mba Evi ceritanya menarik. Di awal saya tertarik mengenal kota NYC (Time square, central park, Rockefeller center, chinatown etc),hampir tiap minggu mampir kesini tp saya sendiri merasa tidak pernah bisa menyatu dengan kota satu ini. Perasaan selalu gelisah karena telalu ramai dan ruwet. sirena ambulan atau polisi yg ga pernah berhenti, org jalan hilir mudik ga tentu, calo travel,pengemudi Newyorker yg cuek, susah nya cari tempat parkir dan butuh satu harian untuk mengunjungi satu tempat saja. hahaha….panjang keluhan nya. Untuk menyatu dengan satu tempat mmg harus menggali lebih dalam bukan hanya melihat di permukaan saja. spt cerita mas Tigun sangat menarik. Lain waktu akan mampir di Hub station. TFS

  9. erm718 said: lha iyo ning NY kok mung 3 hari 2 malem…. kurang dong, belum nglayap ke Queens… hehe!ayo kapan nih mbak Sri sisan kopdaran, sing jelas tiketnya dulu utk akomodasi aku tahu ada tempat murmer tp bersih, makanan juga ga semahal makanan di Times Square… haha :Dmbak Evia, nanti kalo aku ketemu si mas tukang becak ntar tak sampein salam darimu… cuma dia mangkalnya dimana? aku cukup sering ke daerah Times Square tapi didaerah 50th Street aja.

    nyesel mbak ming 3 hari. opo maneh sampeyan inggati, tak pikir nyangopo suwi2 neng NYC. :))panganan tuku neng gerobak2 ae. murah meriah iso lesehan. iso milih sisan. ono sego goreng, ono muffin, ono spaghetti, ono sate, ono sawarma, wah asik tenan yo.mas becaknya biasa mangkal di depan Empire State Building. Suwun yo mbak.

  10. enkoos said: mbak, sampeyan baca infonya mas Tigun diatas? Ternyata becaknya baru dimasalkan tahun 2000. Yo gak heran sampeyan tahun 1996 durung ngonangi becak. Kesana lagi aja mbak, kopdar karo Elika *kompor kompor*… 🙂

    lha iyo ning NY kok mung 3 hari 2 malem…. kurang dong, belum nglayap ke Queens… hehe!ayo kapan nih mbak Sri sisan kopdaran, sing jelas tiketnya dulu utk akomodasi aku tahu ada tempat murmer tp bersih, makanan juga ga semahal makanan di Times Square… haha :Dmbak Evia, nanti kalo aku ketemu si mas tukang becak ntar tak sampein salam darimu… cuma dia mangkalnya dimana? aku cukup sering ke daerah Times Square tapi didaerah 50th Street aja.

  11. enkoos said: mbak, sampeyan baca infonya mas Tigun diatas? Ternyata becaknya baru dimasalkan tahun 2000. Yo gak heran sampeyan tahun 1996 durung ngonangi becak. Kesana lagi aja mbak, kopdar karo Elika *kompor kompor*… 🙂

    Karepe yo pengin kopdar karo Elika, tapi dompet kok yo durung gelem kompromi ki piye…ha..ha..ha…

  12. cutyfruty said: Lha wong aku juga ke Empire State Building kok. Waktu itu Juni 1996…..

    Tahun 1996 kalau tidak salah hanya sekitar 8 becak saja. Itupun mangkalnya kalau siang hanya di sekitar Central Park dan kalau malam mangkal di depan beberapa teater di Broadway. Orang2 seperti George Bliss di NYC cukup buanyak sebenarnya. Orang2 muda yg sangat New Yorker dan peduli kehidupan di sekitarnya. Kebanyakan mereka tinggal di daerah Tribeca, SoHo, DUMBO Brooklyn dsk. Mereka2 inilah yg berjuang keras di masa lalu, untuk menuntut pemerintah membangun fasilitas2 untuk non-motoris. seperti jalur sepeda yg mengitari pulau Manhattan yg bisa kita nikmati sekarang ini. Mereka jugalah yg memperjuangkan agar Central Park bebas dari kendaraan bermotor sepenuhnya. Perjuangan mereka masih berlangsung hingga kini dan nanti.

  13. cutyfruty said: Lha wong aku juga ke Empire State Building kok. Waktu itu Juni 1996…..

    mbak, sampeyan baca infonya mas Tigun diatas? Ternyata becaknya baru dimasalkan tahun 2000. Yo gak heran sampeyan tahun 1996 durung ngonangi becak. Kesana lagi aja mbak, kopdar karo Elika *kompor kompor*… 🙂

  14. tigun said: Tak tambahi sedikit catatan tentang becak NYC, ya mbak Evie. Becak di NYC dimulai oleh seorang sahabat saya (-yg juga seorang pergerakan lingkungan hidup-) bernama George Bliss dari Downtown Manhattan. Awalnya George yg juga seorang bicycle designer menciptakan tricycle untuk keperluan pribadi dan juga mengangkut sampah. Sekitar tahun 1995, beliau mulai membuat ‘Pedicab’ yg inspirasinya dari rickshaw. Uang dari penyewaan pedicab alias becak NYC ini untuk membiayai pergerakan lingkungan hidup yg dikelolanya. Dimulai dng hanya beberapa becak. Baru sekitar akhir tahun 2000 produksi becak ini mulai bertambah dng sangat pesat. Bahkan George yg nasibnya harus berpindah tempat terus, ( -lantaran landlord ‘jancukan’ yg seenaknya mengusir George yg seringkali dianggap sbg seorang hippy kumuh-) sekarang sudah bisa menyewa sebuah gedung tua untuk studio sepedanya di 73 Morton Street – Downtown Manhattan.Namanya The Hub Station. Kalau ke NYC, silahkan mengunjungi studio George dan melihat kerja dan komitmen George tentang lingkungan hidup yg begitu kukuh & tanpa pamrih.

    Maturn nuwun infonya yang sangat berguna itu cak. Segera setelah dapat info sampeyan ini, saya tanya ke mbah gugel. Ternyata perjuangannya luar biasa. Seseorang membuat tulisan di blognya mengenai George Bliss dengan The Hub Station disini. Beberapa artikel yg saya klik melalui mbah gugel juga menyebutkan kalau The Hub sempet beberapa kali dibuka tutup karena ongkos rentalnya yang dinaikkan.Tukang becak yg menyewa becaknya, bukan sekedar nyewa. Tapi juga diberi training dan salah satu aturan yang ditetapkan oleh George adalah: “”Love thy passengers.”Ada saya baca disini. Enggak heran kalau saya diperlakukan oleh si pemuda itu seperti long lost friend. Tambah satu alasan buat saya untuk nyambangi NYC.

  15. enkoos said: lewat mana mbak? Pas musim apa?Sepertinya kalau bukan musim panas, nggak ada becak. Mereka banyak yang mangkal di depan Empire State Building.

    Lha wong aku juga ke Empire State Building kok. Waktu itu Juni 1996…..

  16. cutyfruty said: Wah aku dadi mbayangké numpak becak nang NYC….dulu jalan yang aku lalui kok ora ono becak yo…..

    Tak tambahi sedikit catatan tentang becak NYC, ya mbak Evie. Becak di NYC dimulai oleh seorang sahabat saya (-yg juga seorang pergerakan lingkungan hidup-) bernama George Bliss dari Downtown Manhattan. Awalnya George yg juga seorang bicycle designer menciptakan tricycle untuk keperluan pribadi dan juga mengangkut sampah. Sekitar tahun 1995, beliau mulai membuat ‘Pedicab’ yg inspirasinya dari rickshaw. Uang dari penyewaan pedicab alias becak NYC ini untuk membiayai pergerakan lingkungan hidup yg dikelolanya. Dimulai dng hanya beberapa becak. Baru sekitar akhir tahun 2000 produksi becak ini mulai bertambah dng sangat pesat. Bahkan George yg nasibnya harus berpindah tempat terus, ( -lantaran landlord ‘jancukan’ yg seenaknya mengusir George yg seringkali dianggap sbg seorang hippy kumuh-) sekarang sudah bisa menyewa sebuah gedung tua untuk studio sepedanya di 73 Morton Street – Downtown Manhattan.Namanya The Hub Station. Kalau ke NYC, silahkan mengunjungi studio George dan melihat kerja dan komitmen George tentang lingkungan hidup yg begitu kukuh & tanpa pamrih.

  17. cutyfruty said: Wah aku dadi mbayangké numpak becak nang NYC….dulu jalan yang aku lalui kok ora ono becak yo…..

    lewat mana mbak? Pas musim apa?Sepertinya kalau bukan musim panas, nggak ada becak. Mereka banyak yang mangkal di depan Empire State Building.

  18. tigun said: Banyak orang yg mengira, bahwa NYC adalah kota besar yg maha kejam. Mbak Evie sudah membuktikan sendiri khan, betapa pedulinya masyarakat kota besar NYC terhadap sesama hidup. Kota besar yg sangat bersahabat dan ramah. Tidak ada kota besar lain di Amerika Serikat yg kehidupannya begitu ramah & hangat seperti di NYC ini.

    Wah aku dadi mbayangké numpak becak nang NYC….dulu jalan yang aku lalui kok ora ono becak yo…..

  19. tigun said: Banyak orang yg mengira, bahwa NYC adalah kota besar yg maha kejam. Mbak Evie sudah membuktikan sendiri khan, betapa pedulinya masyarakat kota besar NYC terhadap sesama hidup. Kota besar yg sangat bersahabat dan ramah. Tidak ada kota besar lain di Amerika Serikat yg kehidupannya begitu ramah & hangat seperti di NYC ini.

    Itulah yang membuat saya menyesal, kenapa hanya menghabiskan 2 hari 3 malam di NYC. Cerita ini belum selesai. Rencananya masih ada dua episode lagi yang bakal saya tulis dan penuh dengan cerita sisi humanisnya NYC. Bagaimana saya bisa begitu saja percaya menitipkan pisau lipat saya ke orang yang baru dikenal, perkenalan saya dengan tukang bangunan di sebuah taman kota dan lain lain.Ah NYC, I shall return. Someday. Not for days. Probably for weeks.

  20. lafatah said: kalo abang becaknya kayak gini di Indonesia, pasti laku keras yang pada naek…Hahah

    Banyak orang yg mengira, bahwa NYC adalah kota besar yg maha kejam. Mbak Evie sudah membuktikan sendiri khan, betapa pedulinya masyarakat kota besar NYC terhadap sesama hidup. Kota besar yg sangat bersahabat dan ramah. Tidak ada kota besar lain di Amerika Serikat yg kehidupannya begitu ramah & hangat seperti di NYC ini.

  21. enkoos said: opo’o kok dadi bintang sinetron? mergo perjuangane tah yuk? opo mergo ngguanthenge :))

    kalo abang becaknya kayak gini di Indonesia, pasti laku keras yang pada naek…Hahah

  22. enkoos said: opo’o kok dadi bintang sinetron? mergo perjuangane tah yuk? opo mergo ngguanthenge :))

    weh, podo yo karo nang endonesa, tukang becak podo ngrubung… lan pake nyang2an…. 😀

  23. enkoos said: opo’o kok dadi bintang sinetron? mergo perjuangane tah yuk? opo mergo ngguanthenge :))

    koyok e dadi bintang sinetro gak perlu perjuangan xixixixi, seng penting tampang lan penampilan ( bek e lho 😀 )

  24. didihan said: waduh namanya nasib jauh jauh ke NY jd tukang becak,that’s life just follow your hart he he he, hidup seperti roda pedati kadang kadang diatas kadang kadang dibawahurip iku wes ono tekeranne. lek takeranne cilik yo tetep ae cilik, lek kakean yo meluber he he he koyok aku nggak gede gede takerane . lek wes pol ditambahi yo ilang meluber he he he

    coro wong indonesia, tukang becak iku wes dadi bintang sinetron xixixixixi

  25. didihan said: waduh namanya nasib jauh jauh ke NY jd tukang becak,that’s life just follow your hart he he he, hidup seperti roda pedati kadang kadang diatas kadang kadang dibawahurip iku wes ono tekeranne. lek takeranne cilik yo tetep ae cilik, lek kakean yo meluber he he he koyok aku nggak gede gede takerane . lek wes pol ditambahi yo ilang meluber he he he

    jiakakakakaka….sampeyan iku ono ono ae.iku ngono jenenge berjuang tho cak. kedungsangan seprono seprene gawe mbandani sekolah.

  26. waduh namanya nasib jauh jauh ke NY jd tukang becak,that’s life just follow your hart he he he, hidup seperti roda pedati kadang kadang diatas kadang kadang dibawahurip iku wes ono tekeranne. lek takeranne cilik yo tetep ae cilik, lek kakean yo meluber he he he koyok aku nggak gede gede takerane . lek wes pol ditambahi yo ilang meluber he he he

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s