Backpacking keliling Amerika: New York 4

Remah remah cerita yang tercecer di perjalanan backpacking keliling Amerika menyusuri jalur kereta selama 50 hari tahun 2009

JATUH CINTA DI KOTA NEW YORK (NYC) bagian 4

Pernahkah anda melihat gerombolan bebek yang lagi diangon di sawah sawah? Sawah yang tentunya habis dipanen dan menyisakan bulir bulir gabah yang menjadi makanan bebek. Tak jarang gerombolan bebek tersebut jumlahnya mencapai ratusan dan hanya diangon oleh satu orang saja.

Kata orang, ke NYC tanpa melihat patung Liberty seperti belum ke NYC. Dan yeah, kamipun seperti bebek. Berduyun duyun mengantri dengan sabar untuk menuju patung Liberty. Bedanya dengan gerombolan bebek yang diangon, kami pergi tanpa pemandu wisata dan tanpa rencana perjalanan. Mengalir begitu saja dengan bermodal peta.

Karena mengalir dan tanpa rencana itulah saya tak memperhatikan detil. Apalagi dengan sifat saya yang pelupa. Ini musim panas, musimnya turis. Otomatis tempat tempat wisata menjadi penuh pengunjung. Begitu juga patung Liberty. Antrian sudah panjang seperti ular naga. Dari jalan hingga mencapai loket diperkirakan butuh waktu dua jam jam. Itu baru antri buat beli tiket. Belum antri buat masuk kapalnya. Mau berapa jam lagi?

Balik kanan? Apa kata dunia. Masak sudah nyampe sini, ngantri beberapa jam aja enggak mau. Penunggu kios foto di depan saya memberi saran.
“Instead of buying the ticket there, why don’t you buy the ticket from that guy with the red uniform. In the mean time, your daughter can be in line for ferry.”

Hmm, saran jitu. Beli tiket di calo jek. Tapi ini calo legal lho. Harga tiketnya juga udah dipatok resmi. Bedanya hanya 2 dolar dibanding tiket yang dijual di loket. Calonya mengenakan baju seragam. Biasanya tiket yang dijual adalah tiket gabungan. Maksudnya, bukan hanya tiket patung Liberty tapi juga tiket tempat tempat wisata lain. Tapi kita masih bisa beli tiket per satuan.

Sementara anak saya masuk antrian untuk ke kapal, saya nyari calo buat beli tiket. Menghemat waktu karena nggak perlu antri dua kali. Dah beres. Tapi enggak juga ternyata.
Memasuki kapal ferry, seperti memasuki pesawat terbang di bandara. Lagi lagi lewat pintu detektor. Digeledah lagi. Hadoh..matek. Saya emang nggak bawa tripod. Tapi barang yang lebih gawat. Pisau lipat.

Saya lupa meninggalkan pisau lipat di penginapan. Sekarang saya sudah terjebak disini. Di tengah antrian yang kurang dari sejam lagi sudah masuk kapal. Meninggalkan antrian, itu artinya uang 24 dolar melayang sia sia. Ikut masuk kapal, mau nggak mau harus merelakan pisau lipat itu disita. Arghhh, pisau lipat hadiah dari suami belasan tahun silam. Sudah menemani petualangan saya di segala suasana, saksi bisu belasan cerita nekat. Haduh gimana dong?

Saya bulatkan keputusan, enggak jadi ke patung Liberty. Biarin deh. Insya Allah kalau ada umur panjang, bisa kesini lagi. Tapi saya juga enggak mau begitu saja kehilangan 24 dolar. Lantas saya datangi calo itu lagi.

“I can’t go inside the ferry because I bring along the knife. And I don’t want to give this away. So, it’s possible if I return the ticket and get my money back?’
“My friend, easy solution. Just give me your knife and go to see Liberty. But, you have to be here before 4 pm. I only be here until 4 pm.”

Wow….semudah itukah? Ini calo yang mangkal di pojokan taman pinggir jalan dan berdiri dekat tempat sampah. Nggak ada bangunan nggak ada meja. Di dekat tempat si calo berdiri ada bis tingkat yang atasnya nggak beratap. Di bis itulah wisatawan yang membeli tiket dari si calo akan berkeliling kota dan tentunya ada pemandu wisata. Bis kayak gini jumlahnya mungkin puluhan.

Bisnya seperti gambar di bawah ini

Bis wisata, bukan di New York City tetapi di Seattle.

Kalaupun pisau lipat saya dibawa lari, sulit ngelacaknya.

Tapi kok ya ndilalah saya manut begitu saja. Tanpa selembar kertaspun sebagai bukti penitipan. Hanya bermodal omongan. Air mukanya yang membuat saya percaya. Dan, tadi bilang my friend? Wow, saya betul betul merasa at home. Beberapa kali dipanggil saudara dan sekarang dipanggil sobat.

Bersambung

Related posts

Advertisements

22 thoughts on “Backpacking keliling Amerika: New York 4

  1. enkoos said: jiaqaqaqaqa…koyok bebek diangon. Larang yo mbak, aku seh wegah.

    O…sekarang mahal ya? Dulu perasaan ngga terlalu mahal, kalau dibandingkan aku naik metro dan bis gonta-ganti ke berbagai tempat, biayanya tidak terlalu beda jauh….makanya aku pilih ini karena aku ngga punya waktu banyak tapi kemaruk pengin lihat macem-macem. he…he…he….Selain itu kapan lagi aku ke NYC, lha wong saiki wis luwih 10 tahun masih juga ngga ke sana…..

  2. cutyfruty said: Percoyo ora, aku yo numpak bis yang modelnya kayak gitu di NYC. he…he…he…waktu itu aku pokoknya pengin nyobain semuanya….dasar kemaruk…hi…hi…hi…..

    jiaqaqaqaqa…koyok bebek diangon. Larang yo mbak, aku seh wegah.

  3. erm718 said: hahaha… kaget yo mbak ning NY diundang my friend? buat NYers sendiri malah merasa aneh dgn perlakuan baik dr orang2 yg mbakyu temui… wis kadung parno sik :))

    kaget tapi seneng lho.eh kenapa parno? karena kota besarnya itu kah? Tapi emang NY bukan tipikal kota besar. Orang2nya maksudku. Menurutku lho ya. Beda dengan di Chicago, LA, SF dll. Opo maneh Jakarta. Tangeh rek :))

  4. hahaha… kaget yo mbak ning NY diundang my friend? buat NYers sendiri malah merasa aneh dgn perlakuan baik dr orang2 yg mbakyu temui… wis kadung parno sik :))

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s