Backpacking keliling Amerika [8] New York 6

Remah remah cerita yang tercecer di perjalanan backpacking keliling Amerika menyusuri jalur kereta selama 50 hari tahun 2009

JATUH CINTA DI KOTA NEW YORK (NYC) bagian 6 (terakhir)

Kamis 23 Juli 2009. Kami memulai hari dengan ogah ogahan. Mengemasi barang barang dan bersiap untuk check out dari penginapan. Waktunya meninggalkan kota New York.

Taman dimana kami ketemu si bapak.

Kereta api berangkat pukul 4 sore. Masih lama sekali. Dan waktu check out adalah maksimum pukul 12 siang. Lebih dari itu dikenakan biaya tambahan.
 
Kami berdiskusi enaknya ngapain selama menunggu kereta api berangkat. Nongkrong di penginapan? Mana asik. Check out dari penginapan lantas jalan jalan? Lah gembolan segambreng gimana? Berat euy. Gembolan dititipin di penginapan sementara kami jalan dan nanti diambil lagi kalau sudah mau ke stasiun? Wah, nggak efisien. Rira riwi buang waktu.
 
Kamipun sepakat check out dari penginapan dan memanggul gembolan sambil jalan jalan. Tak ada pilihan yang lebih baik dari itu.
 
Keluar dari penginapan kami berjalan kaki ke arah stasiun. Santai saja karena toh masih pagi. Belum juga jam 10. Belum jauh melangkah sudah nampak jejeran gerobak makanan di ujung sana. Ada yang jualan berbagai macam roti. Muffin, croissant dan entah apalagi. Masih hangat dan siap disantap untuk sarapan. Di sebelahnya ada gerobak nasi. Dan sebelahnya lagi gerobak buah segar. Kita juga bisa memesan jus buah.
 
Di setiap blok kami berhenti, mengatur napas. Berat mbokkk. Ransel belakang 35 pounds. Belum ransel depan.
 
Kami akhirnya memutuskan istirahat di sebuah taman yang tak jauh dari stasiun. Belum banyak orang disana. Ah…nikmat rasanya mendaratkan tubuh di kursi taman. Leyeh leyeh tak perduli dengan seliweran manusia ddengan beragam warna kulit, beragam bahasa yang terdengar dan baju warna warni pula. Tak jauh dari sana adalah kantor badan dunia, PBB. Bukan Persatuan Babu Babu tentunya. Tak jauh dari tempat kami merebahkan tubuh penat ini, ada seorang perempuan paruh baya yang sibuk mencari sesuatu di gerobak sampah. Gembolannya tak kalah heboh dengan kami. Beberapa langkah dari perempuan paruh baya itu nampak lelaki klimis dengan rambut berwarna perak, duduk melamun di kursi taman. Sesekali tangannya melemparkan jagung segenggam. Dalam sekejab gerombolan merpati gemuk langsung menyerbu.
 
Tanpa terasa, sayapun molor.
 
“Bunda, kita serasa gembel beneran ya. Lontang lantung nggak jelas, tiduran di taman, kayak orang homeless di depan itu,” tiba tiba si Menik ngoceh membangunkan saya.
 
Sayapun langsung duduk dan mata jelalatan mencari orang yang dimaksud si Menik, yang ternyata duduknya persis di bangku sebelah kami.
 
Taman itu sudah mulai ramai. Satu demi satu bangku taman terisi orang. Bahkan ada yang duduk menggerombol di atas semen di pinggiran semak perdu. Begitu beragamnya manusia disini. Sekelompok pekerja bank di depan taman menggerombol disudut dan membuka bekal makannya masing masing. Baju mereka rapih serta licin. Beberapa pekerja bangunan juga mulai berdatangan. Celana mereka belepotan cat. Ada yang sedat sedut menikmati rokok dengan nikmat. Banyak juga yang membuka kotak makan mereka. Oh…rupanya sudah memasuki jam makan siang.
 
Semuanya sibuk dengan kegiatan masing masing yang kebanyakan sedang makan siang itu. Baik itu yang gembel, yang homeless, yang pekerja bank, yang kuli bangunan, yang pekerja PBB, tumplek blek nyampur di taman itu. Nggak ada yang merasa risih. Pemandangan yang betul betul saya kagumi.
 
Menik yang jahilnya lagi kumat, meraih kamera. Memotret sana dan sini. Tiba tiba kecetus ide dari saya.
 
“Kenapa nggak diri kita aja dipotret di tengah taman ini? Kita yang lagi kleleran dan sedang tidur tiduran di taman?,” celetuk saya.
 
“Yuk yuk yuk,” samber si Menik.
 
Segera saya mengeluarkan tripod. Sebetulnya bisa aja sih minta tolong orang buat motretin kita. Tapi isin. Nggak bisa berpose sesuai keinginan. Musti jaim. Duduk manis. Idih banget kan. Tripod segera terpasang, kamera nangkring dengan manis di posisinya. Remote control dimainkan. Cekrek, cekrek. Wah…ada berapa jepretan ya
h? Nggak ngitung.
 
Tanpa kami sadari, ada yang memperhatikan tingkah kami. Tetangga sebelah menyapa kami.
 
“Would you like to take a picture of me?” Saya menoleh ke asal suara dan ternyata si pekerja bangunan.
 
Cekrek, cekrek….
 
Sudah? Rupanya itu baru permulaan. Si bapak penasaran dengan kami. Turis tapi tampilan bukan seperti turis. Dibilang turis soalnya bawa kamera. Dibilang bukan turis soalnya kok tidur tiduran di kursi taman. Tebak tebak buah manggis. Dalam hati saya bilang,”nggak usah sungkan bilang kami kayak gembel pak. 🙂 “
 
 Obrolan penasaran berkembang menjadi obrolan pekerjaan. Si bapak menunjuk ke bangunan di depan taman yang diselimuti tiang tiang besi berjaring. Salah seorang kawannya mendadak menjadi jutawan semenjak jatuh dari lantai lima. Enggak meninggal, hanya kehilangan kaki. Si kawan menuntut perusahaan yang mengerjakan perbaikan gedung itu. Beberapa kawan si kolega juga kecipratan menjadi jutawan, tetapi yang menikmati keluarganya karena kawan kawannya itu tinggal nama. Si kawan beruntung karena hanya kehilangan kaki sebab sewaktu jatuh tidak langsung menimpa tanah tetapi ke lembaran papan kayu.
 
Si bapak sempat bercerita asal negaranya. Entah Bolivia entah Chili. Saya lupa mencatatnya, yang jelas nggak jauh dari Brazil. Beliau bercerita sudah di kota New York selama lebih kurang sepuluh tahun. Bekerja serabutan, dari gedung ke gedung. Si bapak yang berasal dari Bolivia, dan juga teman temannya yang lain biasanya mendapatkan pekerjaan melalui kawan kawannya sesama imigran. Berita dari mulut ke mulut.
 
Si bapak juga sempat bertanya dari negara mana kami berasal. Matanya membesar demi mendengar jawaban saya. Dengan antusias beliau bercerita bahwa kami memiliki banyak persamaan. Berasal dari tempat yang sama sama berdekatan dengan garis khatulistiwa, memilliki kemiripan jenis jenis makanan berbumbu pedas, persis seperti makanan yang sedang disantapnya sekarang.
 
Tanpa terasa obrolan ngalor ngidul harus diakhiri karena si bapak harus kembali bekerja. Tangannya mengulurkan kartu nama sambil berpesan untuk mengirimkan foto barusan melalui surat elektronik. Si bapak meninggalkan bangku taman itu diikuti dua orang kawannya. Meninggalkan saya yang duduk termangu. Takjub dengan kota besar yang menyimpan sisi manusiawi di tiap sudutnya.

The smiling face. Friendly kan wajah si bapak

Segera kami meninggalkan taman itu dan bergegas menuju stasiun kereta Penn. Meningalkan kota New York dan bertekad dalam hati “Insya Allah kami akan kembali. Bukan untuk beberapa hari. Melainkan beberapa minggu bila situasi memungkinkan.”
Amin.
 
Yang penting, exit permit dari suami dong.

Selesai.

Related posts

  1. Membayar ongkos taksi dengan do’a di Seattle
  2. Jatuh cinta di kota New York [5]
  3. Jatuh cinta di kota New York [4]
  4. Jatuh cinta di kota New York [3]
  5. Jatuh cinta di kota New York [2]
  6. Jatuh cinta di kota New York [1]
  7. Saat saat keberangkatan
  8. Persiapan backpacking
Advertisements

15 thoughts on “Backpacking keliling Amerika [8] New York 6

  1. srisariningdiyah said: tukang bangunan disana bersih ya…kecian disini…

    selain bersih, juga ngikutin aturan safety. Pake sepatu, pake helm, sarung tangan, kaca mata. Kalau lagi kerja di jalan, pake baju yang ada bling blingnya, sehingga bila kesorot lampu bisa nyodok mata. Gara2 bling bling ini, aku pernah terkecoh. Waktu itu ada petugas pemkot lagi bersih2 got depan rumah. Si petugas pake rompi oranye. Penglihatanku bermasalah, harus menggunakan kacamata untuk melihat jarak jauh. Aku ngliat dari balik jendela rumah kok koyok bakul semanggi yo. Lumayan jauh jaraknya dan omahku nggak berpagar.Aku tenan ki, nganti kaget njomblak. Kok neng kene ujug2 ono bakul semanggi. Aku nganti towel2 bojoku, kok ono bakul semanggi. Setelah kacamatanya dipake, elha dalahhhhh. Tibake petugas resik2 dalan. Ngakak guling gulingan nganti weteng loro.

  2. enkoos said: Ikut masuk gedung nggak mbak? Aku dah mau masuk waktu itu, pengen ikut tur keliling gedung ternyata jamnya dah tutup.

    Aku ngga masuk gedung karena waktunya mepet….yo wislah piye maneh…..

  3. srisariningdiyah said: coba langsung tayang aja mbak gambare….

    Dah ditayangkan. Ada di paling bawah. Yang duduk di sebelahnya, temennya si bapak. Ini motretnya waktu si bapak minta dipotret. Abis itu, ya aku njejeri di sebelahnya, makanya bisa liat isi lunch boxnya apa’an.

  4. cutyfruty said: Baru aja mau tak tanya di wall nya fesbuk….kapan jeng Evie neruské nulis NYC…eh….ternyata sudah ditulis…..untung di-cek dhisik…he….he…he…untung ora sido protes (jadi inget ada yang protes tentang tips nyimpen jahe di fesbuk….(sambil nglirik emaknya Menik)….hi…hi…hi…).Ceritanya sangat menarik…serasa ikut tiduran di taman. Terus mata ikutan kriyep-kriyep ketika dibangunin Menik…… Sayang waktu itu aku cuma liwat thok di depan gedung PBB, ngga sampe ikut tiduran di taman seberangnya…..

    coba langsung tayang aja mbak gambare….

  5. cutyfruty said: Baru aja mau tak tanya di wall nya fesbuk….kapan jeng Evie neruské nulis NYC…eh….ternyata sudah ditulis…..untung di-cek dhisik…he….he…he…untung ora sido protes (jadi inget ada yang protes tentang tips nyimpen jahe di fesbuk….(sambil nglirik emaknya Menik)….hi…hi…hi…).Ceritanya sangat menarik…serasa ikut tiduran di taman. Terus mata ikutan kriyep-kriyep ketika dibangunin Menik…… Sayang waktu itu aku cuma liwat thok di depan gedung PBB, ngga sampe ikut tiduran di taman seberangnya…..

    huahahahaha…ada yg protes nyimpen jahe? gak liat2 maen protes dulu. Sopo kuwi *karo plingak plinguk*Ikut masuk gedung nggak mbak? Aku dah mau masuk waktu itu, pengen ikut tur keliling gedung ternyata jamnya dah tutup.

  6. srisariningdiyah said: hahaaaa bapake ra peka…

    Aku sekarang inget, makanannya ampe hampir tumpah lho. Grogi kali makanannya dilirik terus. Hihihihi…..Sing dijak omong nggragas. Doh, si bapak kok nggak bales2 email ya? Apa aku tayang aja gambarnya. Diliat dari tampangnya, si bapak orangnya humoris.

  7. srisariningdiyah said: *menyelesaikan baca dlm trans jakarta*Wah si bapak nggak nawarin makanannya mba? Hihihi

    Baru aja mau tak tanya di wall nya fesbuk….kapan jeng Evie neruské nulis NYC…eh….ternyata sudah ditulis…..untung di-cek dhisik…he….he…he…untung ora sido protes (jadi inget ada yang protes tentang tips nyimpen jahe di fesbuk….(sambil nglirik emaknya Menik)….hi…hi…hi…).Ceritanya sangat menarik…serasa ikut tiduran di taman. Terus mata ikutan kriyep-kriyep ketika dibangunin Menik…… Sayang waktu itu aku cuma liwat thok di depan gedung PBB, ngga sampe ikut tiduran di taman seberangnya…..

  8. erm718 said: hehe… minta ijin dulu mengko ndak diminta royalti ya? :))

    minta ijin soale ra ngerti wonge gelem ra dadi selebritis dadakan :))Nek perkoro royalti, sing motret kan aku. Aku ra golek royalti, pengene roti regal :))

  9. erm718 said: potone si bapak ngendi mbakyu??? hehe… akhirnya tamat nih cerita petualangan di NYC :)itu taman kayaknya Dag Hammarskjold Plaza, tempat yg pernah buat Asia Pacific festival…

    si Dag kan sekjend PBB kedua kalo ga salah… Aspac Fest biasanya di Union Square tapi bbrp kali diadakan di situ krn Union Square lagi direnovasi.hehe… minta ijin dulu mengko ndak diminta royalti ya? :))

  10. erm718 said: potone si bapak ngendi mbakyu??? hehe… akhirnya tamat nih cerita petualangan di NYC :)itu taman kayaknya Dag Hammarskjold Plaza, tempat yg pernah buat Asia Pacific festival…

    Jenenge kok mambu londo yo? Trus Asia Pacific Festival tempatnya nggak selalu sama setiap tahun?Potone bapake pengen diupload, tapi tak njaluk ijin disik neng wonge. Wis tak kirimi email rung dibales bales.

  11. potone si bapak ngendi mbakyu??? hehe… akhirnya tamat nih cerita petualangan di NYC :)itu taman kayaknya Dag Hammarskjold Plaza, tempat yg pernah buat Asia Pacific festival…

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s