Berlari menuruni gunung

Saya pandangi kemeja biru itu lekat lekat. Warnanya telah memudar seiring dengan usianya yang semakin tua. Mungkin 15 tahun atau malah lebih? Entahlah. Robekannya yang panjang di bagian lengan masih nampak jelas meski telah tertutup rapi oleh jahitan, menyisakan cerita dibaliknya yang membuat saya tak habis pikir bagaimana bisa senekat itu.

***

Sirene berbunyi tanda usai jam kantor. Semua pegawai dikantor itu bergegas meninggalkan kota Tuban Jawa Timur menuju bis perusahaan untuk pulang ke Surabaya. Kecuali saya. Seperti Jumat Jumat yang lalu setiap dua minggu sekali saya minta turun di rumah makan Rindu Alam dan dari sana bis malam akan membawa saya ke Bandung.

Masih ada secuil sisa Subuh sewaktu bis memasuki terminal bis Cicaheum di kota Bandung. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan angkutan lain menuju Cibodas, salah satu pintu masuk ke gunung Gede. Kali ini saya memang ingin ke gunung Gede, tetapi bukan untuk mendaki sampai puncaknya. Saya cukup tahu diri, dua hari tidaklah cukup untuk mendaki gunung. Itupun masih harus dipotong dua malam perjalanan Tuban Bandung pulang pergi. Oleh sebab itulah saya hanya mengenakan sandal gunung, pakaian hangat sekedarnya tanpa jaket dan tanpa makanan. Toh nanti bisa membeli di warung warung yang ada.

Sesampainya di kantor jagawana, oi oi oi…saya tertahan disana. Sesuai aturan yang baru saya ketahui waktu itu, petugas tidak mengijinkan saya mendaki sendirian. Minimal harus tiga orang.

“Nggak sampai puncak kok pak. Lihat nih saya cuma pakai sendal gunung kan,” saya masih mencoba negosiasi.

“Tetep nggak boleh mbak. Ini kan demi keselamatan mbak sendiri. Kalau kesasar atau kenapa kenapa ada yang membantu.”

Saya terdiam. Pilihannya hanya ada dua, pulang atau bergabung dengan rombongan lain.

Pulang? Wah udah jauh jauh kemari masak pulang lagi.

Kurilingan di kota Cibodas? Itu artinya musti nginep, mana duit pas pasan pula.

Ya sudahlah, saya tongkroning kantor jagawana itu. Menunggu rombongan pendaki yang lain, siapa tahu ada yang membolehkan saya bergabung.

Satu menit, dua menit, sepuluh menit, lima belas menit telah berlalu. Ah lapar perut saya. Daripada termangu manyun sendirian saya keluar dari bangunan itu dan mencari warung yang banyak bertebaran di pintu masuk.

Sekembalinya ke kantor jagawana sudah ada beberapa orang yang mendaftar. Ada yang bertiga, ada yang berlima ada pula yang hanya berdua. Rata rata membawa ransel besar.

“Wah mereka pada mau ke puncak nih,”pikir saya. Boleh nggak ya kalau saya gabung meskipun nggak sampe atas?,” saya masih menimbang nimbang. Ah, sudahlah. Yang penting coba dulu.

“Mas, boleh gabung nggak?”sapa saya ke salah satu rombongan. Lumayan banyak jumlah mereka. Mungkin lebih dari lima orang.

“Boleh mbak. Silakan. Sendirian aja toh?”

“Iya nih.”

“Wah, berani bener mbak. Emang dari mana?”

“Dari Surabaya.”

“Wow pantesan, bonek. Anak arek toh.”

Saya cuma cengar cengir saja.

Begitulah awal mulanya. Kami memperkenalkan diri masing masing. Hampir semuanya di bawah usia saya. Ada yang baru lulus SMA, ada yang baru kuliah, ada yang memiliki usaha sablon. Kamipun beriringan menyusuri hutan di kawasan gunung Gede. Ngobrol ngalor ngidul sambil sesekali berhenti dan foto foto. Tanpa terasa keakrabanpun mulai terjalin.

“Eh, tapi saya nggak sampai atas lho. Ntar saya brenti di Kandang Badak terus turun lagi.”

“Lho mbak, udah jauh jauh kesini tapi nggak ke atas rugi lho. Bukan bonek namanya,” mereka mengompori saya.

Sayapun terdiam bimbang. Betul juga apa kata mereka.

Tapi gimana nanti pulangnya? Saya sudah harus berada di Bandung hari Minggu jam 2 siang untuk mengejar bis malam yang akan ke Tuban. Waktu itu hari Sabtu. Besok hari Minggu. Dan Seninnya saya sudah harus masuk kerja.

Rombongan itu mengetahui kebimbangan saya lantas berujar menenangkan, ”udahlah mbak. Bisa kok kita nyampe atas malam ini. Besok pagi pagi aja turunnya. Pasti bisa kekejar. Dari bawah ke Bandung banyak angkutan. Paling cuma makan waktu sejam dua jam.”

Ya sudahlah. Sayapun mengikuti apa kata mereka.

Benar saja, kami mencapai puncak menjelang sore. Hari hampir gelap. Mereka mulai sibuk memasang tenda dan menyiapkan makanan. Saya jadi tak enak hati. Cemilan dan makanan yang sempat saya beli tadi, saya buka dan dimakan rame rame. Hanya itu yang saya punya.

“Nggak bawa apa apa nih. Wong emang niatnya nggak mendaki sampai puncak. Jadi ya cuma ada ini”.

“Udahlah mbak, tenang aja. Kami bawa banyak makanan. Nambah satu orang aja mah nggak ada apa apanya.”

Terharu saya menerima kebaikan hati mereka. Bukan hanya itu saja. Mereka juga meminjami saya topi kupluk dan juga jaket serta kaos kaki. Udara di atas begitu dingin. Jari jari kaki saya hampir membeku kedinginan. Selain kami, di puncak gunung itu ada banyak tenda terpasang. Antara satu dengan yang lainnya tidak saling mengenal, namun kami berbincang bincang berbagi cerita layaknya tetangga sebelah rumah. Dalam sekejab, hampir semua penghuni tenda disana mengetahui saya satu satunya pendaki dari Surabaya, sendirian dan perempuan pula. Rame rame mereka memanggil saya mbak arek yang bonek. Ketawa geli saya mendapat julukan itu.

Malam semakin larut, dan kantuk mulai menyerang. Satu per satu kami memasuki tenda masing masing merenda mimpi. Ada juga beberapa yang begadang mengitari api unggun. Akan halnya rombongan teman baru saya, di dalam tenda kami tidur berdesak desakan saling memunggungi.

Keesokan paginya, keributan khas pagi mulai menyemarakkan hari. Ada yang main musik, ada yang menyiapkan sarapan, ada yang membuat minuman hangat, ada yang hanya duduk diam. Matahari semakin beranjak naik. Saya bertanya pada kawan kawan jam berapa akan turun.

“Santai dulu mbak. Sarapan dan ngupi ngupi dulu. Agak siangan dikit deh. Belum juga jam tujuh.”

Iya deh. Lagi lagi saya manut. Pemandangan dari puncak gunung begitu indah, sayang kalau dilewatkan begitu saja. Sesekali saya melirik jam di tangan. Detik demi detik berlalu, berganti menjadi menit. Tanpa terasa menit telah beranjak dan berganti menjadi jam. Dua jam telah terlewati. Tendapun belum mereka beresin. Aduh bagaimana ini.

“Woi sudah jam setengah sembilan ini. Turun jam berapa?” saya mulai panik.

“Mbak tenang tho. Siangan dikit deh. Menikmati pemandangan puncak gunung dulu. Cakep banget.”

Aduh ni orang dari kemaren santai bener ya. Tenang, tenang mulu jawabannya. Bisa dimengerti sebetulnya, karena mereka tinggal di Jakarta. Jaraknya relatif lebih dekat dibanding dengan saya yang harus pulang ke Tuban. Saya sendiri juga heran dengan diri say
a sendiri. Tumben tumbennya tergantung sama orang lain. Tetapi ini beda, bukan di kota melainkan di puncak gunung. Turun sendiri saya belum punya nyali. Bagaimana kalau saya kesasar? Bagaimana kalau saya salah jalur? Sudah banyak cerita pendaki gunung tersasar di hutan yang berakhir dengan maut karena kelaparan. Aduh….

Saya tak membawa persediaan makanan secuilpun. Hanya sebotol air minum. Apalagi saya teringat dengan perkataan sang jagawana di awal perjalanan. Enggak boleh mendaki sendirian, demi keselamatan kita sendiri. Belum lagi nanti sesampainya di bawah masih harus mencari angkutan ke Bandung. Dan dari Bandung masih naik bis malam ke Tuban. Bis malam dari Bandung berangkat jam dua siang. Bagaimana saya nggak ketar ketir dikejar panik?

Hati dan pikiran saya ribut berdiskusi sendiri. Sedangkan waktu juga tak berhenti berdetak. Tahu tahu saja jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Dan saya masih di puncak gunung. Whoaaaa……

Saya harus segera mengambil keputusan. Tak ada pilihan lagi. Terpaksa saya harus turun gunung sendirian. Setelah berpamitan ke teman teman baru, saya turun dengan berlari. Benar benar berlari karena dikejar rasa panik yang luar biasa tanpa memperdulikan akibatnya.

Tiba tiba, bretttt…..

Ranting pohon itu begitu rendah sehingga merobek lengan baju saya menembus kulit dan darahpun mengucur dari lengan saya. Ah, cuma ranting. Saya segera bangun dan berlari lagi. Tak menghiraukan tetesan darah yang mengucur. Tak banyak. Perihpun tak terasa karena tertutupi oleh rasa panik yang luar biasa. Jatuh, terantuk batu, menabrak pohon yang melintang, semua itu tak saya rasakan sama sekali. Pikiran saya hanya satu, harus nyampe di bawah secepat mungkin supaya tidak ketinggalan angkutan ke Tuban.

Sekali saya salah jalur, membelok ke arah yang bukan semestinya. Belasan tahun yang lalu belum banyak rambu rambu di gunung itu. Untung saya masih ingat, jalan ini bukanlah jalan yang biasanya saya lalui dan bukan pula jalur yang kami lewati kemarin siang. Sayapun berbalik arah.

ALhamdulilah, saya tiba di bawah sebelum pukul 12 siang. Kurang dari tiga jam menuruni gunung Gede. Meskipun napas ngos ngosan, saya berusaha berlari lagi untuk ke jalan besar mencari angkutan. Hanya sebentar saya berdiri di tepi jalan. Begitu ada bis yang menuju Bandung, dengan cepat saya melompat ke dalam bis. Sepanjang jalan saya berdoa semoga bis datang tepat waktu, semoga tidak terhalang macet, semoga bis tidak sering brenti brenti menaikturunkan penumpang, semoga bis malamnya terlambat datang, bla bla bla bla.

Mulut sibuk komat kamit ndremimil dan saya sudah tak sempat merasakan lapar dan kondisi badan yang babak belur.

Sukurlah, bis memasuki terminal Cicaheum bersamaan dengan masuknya bis malam tujuan Tuban yang biasa saya naiki. Dan dalam hitungan menit bis malam itu berangkat. Fiuhhh…..Terlambat sedikit, lewat sudah.

Di bis saya membayar utang. Tidur nyenyak.

Gelap masih setia menyelimuti kota sewaktu bis memasuki Tuban. Saya masih ada waktu sekejab untuk merebahkan tubuh yang babak bundas sebelum bersiap siap berangkat tugas. Akibat tubuh dipaksa berlari menuruni gunung, selain badan babak belur selama empat hari kaki saya susah ditekuk. Dari posisi duduk ke posisi berdiri harus pelan pelan kalau tak ingin berteriak kesakitan. Sakitnya luar biasa di belakang dengkul. Kalau orang Jawa bilang, njarem. Jalanpun juga musti pelan pelan seperti nenek nenek, terbungkuk menahan sakit.

***

Sekali lagi saya pandangi kemeja biru itu. Masih layak pakai walaupun warnanya sudah mbladhus.

Advertisements

31 thoughts on “Berlari menuruni gunung

  1. mmamir38 said: Dijual bersama tulang belulang saya?

    Dan masuk museum, ntar labelnya gini:Chef era 2000, mangkok sompel sebagai jawaban dari ucapan terima kasih. Hehehehehe..Sapa tahu seribu tahun lagi trendnya bukan mangkok tapi sandal.

  2. tintin1868 said: ku terakhir naik gede 2006 deh, 5 taon lalu sampe puncak.. 2009 ke cibereum doang..

    kagak juga Tin. Tergantung sungainya juga kan. Kalau sungainya panjang dan di pedalaman, bisa makan berhari hari. Aku pernah mengarungi sungai di Sulawesi yang makan waktu tiga hari. Di sungai Sa’dan. Tenaga bener2 terkuras. Musti ngecamp.Ada lagi sungai Rongkong, wah itu bener bener uji nyali. Sungainya ganas katanya. Aku belum pernah, baru diceritain aja. Weh jam segini belum bobo. Ngalong nih?

  3. tintin1868 said: ku terakhir naik gede 2006 deh, 5 taon lalu sampe puncak.. 2009 ke cibereum doang..

    hahaha lain selera lah ya kalu ngarung.. cepet soale kalu ngarungjeram mah.. langsung gitu aja.. beda dong sama naik bisa seharian.. padahal jalan doang ya.. bobo dulu, tapi tanggung subuh ya..

  4. tintin1868 said: ku terakhir naik gede 2006 deh, 5 taon lalu sampe puncak.. 2009 ke cibereum doang..

    popeye the sailor man, qu qukkkkk…hehehehe…film gituan masih populer gak ya dikalangan anak2?dulu gak bisa cepet2 karena emang lelet dan seneng mengamati. sekarang makin lelet aja karena faktor umur. Perjalanan itu kan untuk dinikmati toh.itu kalau udah kenal, kalau belum kenal gimana? tetep aja musti ngetem, gabung ama rombongan lain. rasanya lebih asik arung jeram Tin. lebih kerasa uji nyalinya, dan juga gak kerasa capek. kalau pas ketemu air tenang, bisa nyebur, mandi di sungai. Wah sedappp.

  5. tintin1868 said: ku terakhir naik gede 2006 deh, 5 taon lalu sampe puncak.. 2009 ke cibereum doang..

    aha obatnya bayam, penggemar popeye ternyata.. itu mo nulis 4jam kog jadi 4hari.. telat kantor di tuban dong ya.. cuma ku kagum aja, dari tuban mo ke gede.. iya ga bisa cepat2 sekarang, faktor umur pula.. ku juga sukanya pelan2..selabintana dari sukabumi nih.. jaoh aja jalannya.. sekarang iya ketat, tapi tetap minimal bertiga.. boleh kog kalu udah kenal dan biasa kita naik, langsung naik..

  6. tintin1868 said: ku terakhir naik gede 2006 deh, 5 taon lalu sampe puncak.. 2009 ke cibereum doang..

    udah lama gak naik gunung. sejak kenal arung jeram, males naik gunung. Soalnya kalau sendirian gak bisa karena alasan safety. Kalau berombongan sering gak cocok misinya. Mencapai puncak memang menjadi tujuan, tapi bukan semata mata bukan. Aku tipe pejalan pelan. Ada yang menarik, brenti untuk mengamati. Perjalanan menuju puncak gunung kan juga asik untuk dinikmati. Aku sering disuruh ” buru buru kalau jalan, diminta cepetan, duh lelet amat sih.”Hadehhh, males banget.

  7. srisariningdiyah said: April 2001

    kandang badak, gunung putri, selabintana. dah pernah semua. sekarang katanya lebih ketat ya Tin? mau naik musti daftar jauh jauh hari. bukan 4 hari, 4 jam. ampun deh. dipikir pikir nekat bener. gak mau lagi deh. nama2 mereka wah gak inget lagi. padahal udah tuker2an nama dan alamat. Jaman segitu mana ada hape dan fisbuk. Catatan ilang, ya bablas deh. Aku gak terbiasa ngobatin luka. kegores, didiemin aja, kadang dibersihin air mengalir. ntar lama2 juga kering. Abis luka, aku makan bayam yang banyak karena terinspirasi Popeye. Luka cepet kering kan.

  8. srisariningdiyah said: wahahahahhaha ini mirip sama akuuwww!!!GUE BANGET LO MBAKKKKK…April 2001 itu aku terakhir kali menuruni gunung dengan berlari…. dan itu adalah gunung Gede, dalam waktu sama seperti dirimu, kurang dari 3 jam sajaaa… habis itu aku dah gak bisa lagi lari turuni gunung hahahaha wes tuweeekkkkk… dan Juli 2002 aku got injured in Slamet mountain, sampe kudu merangkak menuju puncak… habis itu kalo naik gunung mesti perlu porter hahahahha lha wong kudu terapi kaki nggak aku jalani hohohoho… emang, kita musti ketemu!

    naek kandang badak turun kandang badak.. ku biasanya naik dari gunung putri, turun kandang badak, mampir ke cibereum dulu, jibangjibung..pantensan njarem turun dikebut gitu.. gilani.. ku pernah turun kebut gitu gegara ditungguin jeep di ranupane.. dari puncak semeru udah meluncur sampe aus tuh celana terkikis.. sempet guling2 segala.. kena badai abu pula.. dari sana langsung njarem 2 minggu.. ini nkoos cuma 4 hari kebut2an turun gede? wuih deh..sesama pecinta alam baik hati ya, semua dipinjemin padahal baru juga kenal.. nama2 mereka masih ingat?eh iya ga kerasa gitu tangan sakit berdarah sampe tuban? ga diobati dulu? gitu aja naik bus langsung bobo? *takjub..

  9. srisariningdiyah said: wahahahahhaha ini mirip sama akuuwww!!!GUE BANGET LO MBAKKKKK…April 2001 itu aku terakhir kali menuruni gunung dengan berlari…. dan itu adalah gunung Gede, dalam waktu sama seperti dirimu, kurang dari 3 jam sajaaa… habis itu aku dah gak bisa lagi lari turuni gunung hahahaha wes tuweeekkkkk… dan Juli 2002 aku got injured in Slamet mountain, sampe kudu merangkak menuju puncak… habis itu kalo naik gunung mesti perlu porter hahahahha lha wong kudu terapi kaki nggak aku jalani hohohoho… emang, kita musti ketemu!

    qeqeqeqeqe…..Tossssss yg ke *lagi ngitung ngitung*……sejutaaaaa :))harus banget kalau dah gini. *catet di agenda*

  10. haleygiri said: duuuuhhh, marakne kangen gunung tenan kiii… kangen turun sambil berlari… terakhir kulakoni di rinjani… juga kangen kebersamaan dan solidaritas anak2 gunung…. ooooooohh…

    wahahahahhaha ini mirip sama akuuwww!!!GUE BANGET LO MBAKKKKK…April 2001 itu aku terakhir kali menuruni gunung dengan berlari…. dan itu adalah gunung Gede, dalam waktu sama seperti dirimu, kurang dari 3 jam sajaaa… habis itu aku dah gak bisa lagi lari turuni gunung hahahaha wes tuweeekkkkk… dan Juli 2002 aku got injured in Slamet mountain, sampe kudu merangkak menuju puncak… habis itu kalo naik gunung mesti perlu porter hahahahha lha wong kudu terapi kaki nggak aku jalani hohohoho… emang, kita musti ketemu!

  11. haleygiri said: duuuuhhh, marakne kangen gunung tenan kiii… kangen turun sambil berlari… terakhir kulakoni di rinjani… juga kangen kebersamaan dan solidaritas anak2 gunung…. ooooooohh…

    bukan cuma anak2 gunung. Solidaritas para petualang bener2 tanpa pamrih. Enak berteman dengan mereka. Tulus, apa adanya.

  12. si3rra5 said: Kuuuuusssss, uedaaaan, gilaaaaa….. speechless gw

    duuuuhhh, marakne kangen gunung tenan kiii… kangen turun sambil berlari… terakhir kulakoni di rinjani… juga kangen kebersamaan dan solidaritas anak2 gunung…. ooooooohh…

  13. erm718 said: heibats tenan sampeyan mbak… bener2 mbak arek bonek… hehe! trus klambi birunya masih disimpen ya?

    bukan hebat, tapi nekat. darah mudanya masih menggelegak makanya nggak pake perhitungan. Untung muleh slamet. Klambine isih disimpen. Ora mung disimpen, sering digawe masiyo wis mblawuk. Jahitan neng suwekkane kuwi dadi hiasan. hihihihih…

  14. cahayahati said: Lho … dari perjalanan backpacking 4 koq loncat ke 7, 5 dan 6 ke mana nih Via ??

    heheheheh….mbakkkkk!!moa’afffffffff.Lima dan enam emang untuk New York yang tinggal dua episode. Kerangka cerita sudah ada. Tapi idenya mandeg greggggg. Padahal itu gongnya. Gimana saya kleleran di taman kota dan berkenalan dengan kuli bangunan. Gimana saya bisa percaya begitu saja menitipkan pisau lipat ke orang yg baru dikenal. Fiuh….Nunggu pangsit..eh wangsit dulu nih.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s