Backpacking keliling Amerika: Seattle

Remah remah cerita yang tercecer di perjalanan backpacking keliling Amerika menyusuri jalur kereta selama 50 hari tahun 2009

Bayarlah aku dengan doa, please

Panggil saya Abdullah. Demikian ia memperkenalkan dirinya. Nama yang sederhana, sesederhana penampilannya. Ia adalah seorang imigran yang sedang mencoba peruntungan nasib di Seattle. Datang dari negeri gurun di benua Afrika yang tak henti bergejolak karena perang saudara. Kerjanya serabutan, 18 jam perhari. Terkadang di restoran tetapi lebih sering menjadi supir taksi. Seperti pada saat bertemu saya di stasiun kereta api Seattle.

***

Sebelum bis yang kami tumpangi memasuki stasiun kereta api Seattle, saya bertanya ke salah satu penumpang bagaimana caranya menuju sebuah alamat yang saya sebutkan. Kami tidak membawa peta. Toh nanti di stasiun bisa mendapatkan peta kota dengan gratis sebagaimana biasanya, demikian pikir saya. Rupanya alamat penginapan saya berada di kawasan pusat kota dan letaknya tak begitu jauh dari stasiun. Saya hanya perlu berjalan kaki tak lebih dari sepuluh blok. Untuk lebih meyakinkan lagi, si ibu yang saya tanyai menunjukkan peta besar di halaman depan stasiun sesaat setelah kami tiba di stasiun.

Nampaknya itu belum cukup bagi si ibu. Salah satu taksi yang berbaris rapi mengantri penumpang dihampirinya, untuk menanyakan alamat yang saya tuju. Setelah yakin dengan arah yang kami tuju, kami berjalan keluar dari bangunan tua itu.

Belum jauh kami melangkah, sebuah taksi menjejeri langkah kami.

“Come inside. I’ll bring you to that address,”ujarnya mengejutkan kami. Saya menengok sekeliling. Mencari siapakah yang diajaknya bicara. Tak ada siapapun di trotoar itu. Hanya kami berdua.

“Yes, you both. Come inside to my taxi,” ujarnya lagi seolah mengerti kebingungan kami.

“Ow, thank you. But we just want to walk. That’s not far, isn’t it?” saya menolak tawarannya.

“Yes, not far. But your backpacks seem heavy. And too big for you. Come on. And don’t worry, I won’t charge you.”

Ah…rupanya bawaan kami mengundang simpatinya. Bukannya kami tak mau naik taxi, tetapi karena letak penginapan tak terlalu jauh, sekitar 16 blok. Lagipula tujuan kami berbackpacking adalah melakukan perjalanan dengan budget seminimal mungkin dan mengoptimalkan angkutan masal. Naik taksi tidak termasuk dalam hitungan kecuali kepepet keadaan seperti pengalaman kami di belantara beton kota New York hampir kehilangan tripod dan kelelahan di tengah malam.

Jalan raya itu tak terlalu ramai, namun taksi itu berhenti di tempat yang tidak seharusnya dan kami tak ada waktu untuk berdebat panjang. Masuklah saya dan Menik di jok belakang setelah sebelumnya menyorongkan empat ransel kami ke bagasi mobil.

Di dalam taksi sang supir mulai memperkenalkan diri dan terjadilah percakapan seperti yang saya tulis di awal tulisan ini. Belum berapa lama ia berada di negeri ini. Pekerjaan apapun dilakoninya asal tak melanggar aturan. Seringkali waktu tidur hanya empat jam dalam sehari demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Serabutan menjadi tenaga cuci piring, cleaning service di sebuah restoran dan supir taksi sekaligus. Itu masih jauh lebih baik dibanding hidup penuh ketakutan di negerinya yang dilanda perang saudara, begitu ujarnya ringan.

Setelah mengetahui perjalanan hidupnya, saya berniat untuk membayar ongkos begitu taksi tiba di tujuan. Tetapi apa daya, dengan halus ditolaknya lembaran dolar dari tangan saya sembari berkata “I keep my promise that I won’t charge you. My niyat is to help you.”

Sekeras apapun saya memaksanya, sekuat itu pula kepalanya menggeleng kekeuh menolak. Perdebatanpun berakhir dengan ucapannya yang menyentak kalbu saya,

“please sister, please pray for me in your du’a as a payment.”

Tak mampu berkata apa apa, hingga aliran hangat memenuhi ruang kalbu hati saya menyertai ucapan terima kasih yang terdengar lirih.

(Seattle, 20 Juni 2009)

 

very kind taxi driverNote:

Di sela sela perjalanan ini (backpacking keliling Amerika menyusuri jalur kereta api selama 50 hari, 14 Juni – 1 Agustus 2009) dan segera sesudahnya, saya ceritakan kisah
ini ke suami dan sanak saudara, mohon mereka untuk mendo’akan Abdullah.

Related posts:

  1. Jatuh cinta di kota New York [6]
  2. Jatuh cinta di kota New York [5]
  3. Jatuh cinta di kota New York [4]
  4. Jatuh cinta di kota New York [3]
  5. Jatuh cinta di kota New York [2]
  6. Jatuh cinta di kota New York [1]
  7. Saat saat keberangkatan
  8. Persiapan backpacking
Advertisements

27 thoughts on “Backpacking keliling Amerika: Seattle

  1. @ srisariningdiyah: ngedegno perusahaan dewe ae. perusahaan jalan2. @ rengganiez: he eh. akeh ketemu wong apik. ono sing mbagei aku maem barang. @ bambangpriantono: Insya Allah your dream will come true. Amin.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s