Menghitung hari

Kurang dari sepuluh hari lagi kami akan menginjak negeri surga. Penantian panjang selama hampir dua tahun.

Bukan karena kami tak cinta negeri sendiri bila tidak pulang setiap tahun, bukan juga karena kesibukan yang dibuat buat. Tetapi saya tidak ingin membuat suami cemburu karena negerinya tidak pernah dijelajahi.

“Setiap kali liburan kok selalu ke Indonesia, negeriku kapan?” begitu protesnya. Oke deh kangmas, kalau gitu pulangnya setiap dua tahun sekali. Dan dua tahun sekali menjelajah negerimu ya.

Jadiiii …tahun kemarin (2009) kami menjelajah negerinya kangmas untuk yang pertama kalinya. Enggak tanggung tanggung. Keliling Amerika dengan cara nggembel pol. Mengandalkan angkutan umum, mulai dari kereta, bis bahkan hitchhike. Menginap di penginapan murah, dari hostel, perkemahan bahkan ndlosor di stasiun. Dan itu cuma berdua saja, saya dan Menik. Kangmas nggak bisa ikut karena perjalanan ambisius ini cukup lama dan juga karena kesibukan pekerjaan beliau. Sebagai gantinya kami janjian bertemu di beberapa titik yang telah disepakati bersama

Pengennya bawa sepeda juga, tapi sepedanya musti dikardusin karena tidak semua kereta ada rak sepedanya. Yah…enggak jadi deh. Tetapi impian menjelajah Amerika dengan bersepeda masih saya pelihara. Semoga Allah mengabulkan impian saya ini. Amin.

Balik ke urusan mudik. Kulkas sudah mulai dikosongin. Tumpukan daging di freezer juga mulai banyak berkurang. Kalau laper tinggal beli sandwich. Satu satunya pot bunga dititip ke ibu mertua.

Saya bukan tipe orang yang telaten merawat tanaman. Tapi entah kenapa bunga yang satu ini seperti berjodoh dengan saya. Pot bunga ini hadiah ulang tahun dari kakak ipar. Bunga anggrek bulan yang ditetapkan sebagai puspa pesona oleh pemerintah Indonesia ini telah mengisi rumah kami sejak 2007. Hingga kini si anggrek tak henti hentinya berbunga. Foto foto si anggrek ada disini.

Mudik kali ini saya santai saja, nggak ada persiapan heboh seperti tahun tahun sebelumnya. Hanya membawa dua ransel. Satu berisi pakaian dan satunya peralatan kamera. Tiketpun hanya sampai Singapura. Dari Singapura mampir dulu ke Penang, mengunjungi seorang bandit yang dari dulu pengen ketemu belum kesampaian. 🙂

Dari Penang ke Indonesia naik apa dan lewat mana gimana nanti aja. Mengikuti kemana angin bertiup dan kemana kaki melangkah.

Advertisements

16 thoughts on “Menghitung hari

  1. enkoos said: Tah, jarang online disebelah ya? Banyak nih yg mau aku ceritain.

    Iya,Mbak.Jarang OL di YM.Jarang pula sekarang nongkrong di perpus sampai tengah malam…Mbak masih tetap ya??? Kalo iya, pengen nanti sesekali cerita2 lagi :))

  2. lafatah said: ditunggu kehadirannya di Indonesia, Mbak :)akan menjalankan ibadah puasa juga kah di negeri yang ‘dangerously beautiful’ ini? 🙂

    Insya Allah. Sebagian disini sebagian disana.Eh, aku sudah menyiapkan amunisi buat presentasi di kampusmu. Suasananya informal aja ya?

  3. elkaje said: piye carane nek aku pingin ketemu sampeyan Vi?

    SMS yo mbak? tapi aku ndak punya hape Indonesia. Handsetnya ada, tapi mungkin nomernya dah matek. Lama nggak dibeliin pulsa, lha wong disini nggak nyaut blas. Tak PM aja nanti ya kalau udah dapet nomer?

  4. mbak mengko njajal es kopi di Penang, ditanggung mata dikau jadi 100 watt seharian… hahaha :)) tulung diuyel2ke boss kecil di warung kopi, ning ojo keliru nguyel2 bapake lhoo…!!!

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s