Luruh di batas kerinduan

Kukayuh sepeda tua di jalanan nan sepi
Gerimis merintih membasahi bumi
Mengoyak bisu, merejam resah jiwa

Kucari bayangmu di ujung telaga
Kunanti sapamu tak kunjung tiba

Hari berganti
Bulan menjelang
Tanpa terasa seribu purnama telah lalu

Kukayuh sepeda tua di jalanan nan bisu
Tangis tersamar rinai gerimis
Luruh menyatu di telaga tak bertepi
Hilang tenggelam tak berbekas

Kucari jejak rindumu
dikedalaman telaga kata katamu

Bayangmu begitu nyata namun tak tersentuh

Biarlah kupendam kerinduan ini
dan kan kunikmati sendiri

Keterangan foto:

Atas: becak di kota Medan provinsi Sumatra Utara
Bawah: Danau Kerinci di provinsi Jambi
Advertisements

15 thoughts on “Luruh di batas kerinduan

  1. enkoos said: Biarlah kupendam kerinduan inidan kan kunikmati sendiri

    KAPAN KU DAPAT?.Biarkah rindu tu mrebak mluascoba mbentang di kluasan alamcoba nyisiki hati bbrapa makhlukria, duka, rasa, harapan dan yakin mreka.Habis tu akan ada lagi rindu,lagi dan lagi slama kita masih punya pikir dan rasa. Rindu dapat bak penyiram dan penyehat atau penyayat merihkan hatiyang bertahan sampai mati. Rindu tu akan dapat menukik dalam mlebar luas dan mbubung tingginyelinap jauh dan tinggal di hati-sanubari. Rindu-dendam tu pun hanya terpuaskanoleh keindahan Sang Tersuci,Sang Terbijak, al Haq, ketika kita tlah dapat dan sempat natap/rasa-pastihadiranNya dima-mana.Kapan ku dapat?.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s