Bukan cuma kambing yang suka sayur

Mata saya belum juga terpejam meskipun sudah lewat tengah malam. Dan akibatnya perutpun meronta kelaparan. Melongok ke dapur masih ada sebutir telor rebus dan setengah biji kentang kukus sisa dari racikan gado gado tadi siang. Di lemari pendingin masih ada setengah ikat kangkung dan sejumput tauge. Tinggal mengukus dua sayuran itu untuk menemani irisan telor rebus dan kentang kukus. Tak ketinggalan krupuk mlarat sebagai pendampingnya. Lantas siram dengan bumbu gado gado. Dan perut sayapun bahagia tiada tara.

Sebagai pecinta berat sayur mayur, saya tidak pernah merasa bosan (paling tidak sampai saat ini) menyantap pecel dengan segala variasinya. Seperti gado gado, ketoprak, karedok, lontong sayur, semanggi bahkan rujak cingur. Saya menganggap mereka masih satu keluarga karena berbahan utama sayuran dengan toping krupuk yang kadang diremet remet lantas disiram dengan saus berbahan kacang. Hmmmmm….cleguk cleguk.

Rekor saya yang paling nggilani adalah menghabiskan semanggi lima pincuk sekaligus. Pincuk adalah sebutan di Jawa untuk piring yang terbuat dari daun pisang. Sedangkan semanggi adalah makanan khas Surabaya yang terdiri dari daun semanggi kukus, toge dan terkadang sedikit kangkung kemudiah diguyur saus kacang berbahan ketela rambat yang dominan.

Saat itu saya dan seorang kawan menyusuri kota Surabaya dengan berboncengan sepeda motor. Ndilalah ada penjual semanggi, salah satu dari sekian banyak makanan khas Surabaya yang menjadi kegemaran saya. Waktu itu jajanan semanggi hanya dijual ngider keluar masuk perkampungan dan perumahan. Belum ada yang menjajakan di foodcourt seperti sekarang. Kami lantas meminggirkan motor di tempat aman. Pesan semanggi, duduk di sadel motor dan makan semanggi bersendokkan krupuk puli selebar daun jati. Biasanya saya menghabiskan semanggi dua pincuk, paling banyak tiga pincuk. Tapi saat itu saya sanggup melahap lima pincuk semanggi sekaligus.

Waktu sedang hamil anak kedua, makanan harian saya adalah pecel. Harian dalam arti yang sebenarnya, setiap hari tanpa jeda menyantap pecel. Saat itu masih tinggal di Indonesia sehingga tidak susah kalau pengen makanan Indonesia. Pagi sarapan pecel yang dibeli di pasar lantas dimakan di kantor. Siang hari ngemil jajan yang dijual ibu ibu bawa tenong. Malam hari makan pecel di warung warung kakilima yang banyak bertebaran di seputar Kertajaya secara saya tinggal di kawasan itu. Dari pecel gagrak Madiun, pecel aliran Ponorogo, sampai pecel Kediri dengan sambel tumpangnya.

Sewaktu nguli di Duri sarapan harian saya juga sami mawon. Kalau bukan lontong sayur ya lontong pical. Iya betul pical dan bukan pecel. Saya tidak sedang salah nulis, mereka memang menyebut pical untuk sayuran rebus bersiram saus kacang. Beda di krupuk pendampingnya saja. Kalau pecel menggunakan rempeyek sedangkan pical menggunakan krupuk.

Menjelang akhir bulan November yang baru saja berlalu, seorang kawan baik mengunjungi buah hatinya yang sedang menuntut ilmu di kota Duluth Minnesota, kota yang menjadi tempat tinggal saya saat ini. Karena sekota mampirlah beliau ke rumah saya dengan membawa jinjingan buah tangan satu tas penuh. Ada kerudung aneka warna, ada selendang cantik untuk penutup kerudung dan ada satu lagi yang mampu membuat hati saya meleleh saking terharunya.

Bumbu gado gado

Huaaaaa……

Tidak begitu sulit sebenarnya membeli bumbu gado gado di Amerika. Bahkan kitapun bisa memesan online. Tapi buatan pabrik alias produksi masal meskipun masih made in Indonesia. Sedangkan bawaan sang kawan baik ini adalah bumbu gado gado rumahan dengan jumlah sealaihim grambreng. Aishh… kalau gak malu, mau deh saya nangis di tempat saking terharu biru.

Dari tampilannya aja udah beda. Coba bayangkan, bumbu gado gado ini warnanya coklat muda semburat merah dengan serpihan lembut cabe yang rata menyebar hasil ulekan sempurna antara kacang dan cabe. Rasanya? Ya jelas beda dong dengan buatan pabrik. Pedasnya cabe yang rada nyodok bercampur pas dengan royalnya bumbu. Kerasa loh kalau bumbunya sueger. Hmm…lidah saya sanggup bergoyang dangdut dibuatnya. Teksturnya lembut tapi kalau dikunyah masih kerasa butiran kacang yang menyebar ke segala penjuru mulut. Ah….menulisnya aja sudah mampu membuat saya clegak cleguk.

Selain lembut, bumbu gado gado itu bertekstur mengkilap dan masih terlihat genangan minyak kacang. Itu sebabnya dibungkus dengan plastik berlapis lapis, dan terakhir masih harus ditutup dengan kertas koran yang sudah basah kuyup karena rembesan minyak.

Tak heran, bumbu yang belum dilumat dengan air tidak akan mengering meskipun didiamkan berhari hari dalam suhu ruang. Begitu lumer dan manut kalau disendok. Beda dengan bumbu gado gado buatan pabrik dimana menyendoknya harus dengan sekuat tenaga karena padat dan keras setelah lama dibiarkan berhari hari terbuka dalam suhu ruang. Sendok saya malah ada yang sempat bengkok. Udara disini memang kering, beda dengan di Indonesia yang lembab. Saya memang sedang lalai waktu itu. Lupa membungkus rapat bumbu gado gado yang sudah dibuka.

Menu makan siang saya hari ini adalah gado gado (lagi). Sama seperti menu makan siang saya sejak tiga hari yang lalu. Berturut turut. Sayur sayuran yang dikukus berupa bayam, taoge, rajangan kol, potongan buncis sebagai pengganti kacang panjang ditemani irisan tahu goreng, kentang rebus dan telor rebus. Ditutup dengan emping goreng serta remetan krupuk bawang. Terakhir diguyur dengan bumbu gado gado. Makin sempurna dengan taburan bawang merah goreng dan sesendok dua sambal ulek racikan sendiri. Ahhh…nikmat sekali. Dan saya masih belum juga bosan menikmati gado gado. Sesuap demi sesuap yang membahagiakan. Lupakan sejenak salju yang menggunung dan angin yang mendesah gelisah di luar sana.

Advertisements

26 thoughts on “Bukan cuma kambing yang suka sayur

  1. eddyjp said: Wadoh…..*langsung ngences* daku paling suka minta bumbu kacangnya biarin masih kasar dan banyak biar diggit lebih berasa…ha.ha.ha.

    aku juga demen sayurannnnnnnnmau pecel, gado-gado, karedok, salad ala barat juga mauuuuuuu*temenan ama kambing*

  2. eddyjp said: Wadoh…..*langsung ngences* daku paling suka minta bumbu kacangnya biarin masih kasar dan banyak biar diggit lebih berasa…ha.ha.ha.

    daku penggemar makanan enak enak Evia, asalkan bumbu kacangnya pas, maka daun apapun pasti jadi enaks..ha.ha.ha.

  3. eddyjp said: Wadoh…..*langsung ngences* daku paling suka minta bumbu kacangnya biarin masih kasar dan banyak biar diggit lebih berasa…ha.ha.ha.

    loh, penggemar semanggi juga ya? Di Jakarta ada yang jual Ed?Gak salah kalau aku bisa menghabiskan 5 pincuk toh.qiqiqiqiqi…wong liat gambarnya aja udah bisa ngences. Nulis ceritanya juga bisa clegak cleguk.

  4. eddyjp said: semanggi 5 pincuk itu seberapa banyaknya evia ?

    Wadoh…..*langsung ngences* daku paling suka minta bumbu kacangnya biarin masih kasar dan banyak biar diggit lebih berasa…ha.ha.ha.

  5. ningnong said: Aaahhh baca tulisannya aja bikin ngiler… Slllrruuuupppp. *udah pesan ibu minta buatin pecel + bacem tempe tahu buat siang ini*

    aduhhh bacem..tanggung jawab woyy, kirim kemari *tes tes tes….ilere*

  6. ohtrie said: wediiiiiiii, ndak di pupuri bumbu pecel, wakakak… mlayuuuuuuuuuu

    nguber kotrik nyincing nyincing bumbu pecel. ojo gae pupuran, tak dublakno kene xixixixixix….duhhhh kasar men tho yo. didublakno

  7. lafatah said: aku juga suka makan pecel, mbaaaaaaak… :))btw, aku durung2 ae bales PM sampeyan… hehehe… malasnya nggak ketulungan.karena CE di Unair belum ada. Kalo di universitas swasta kayak Pelita Harapan (apa Petra, ya?) itu udah ada.coba sampeyan googling, nggih 🙂

    lebih enak tanya ke sumbernya langsung dong karena lebih valid. kalau googling mah gak usah tanya dirimu :PMasak sih cuma swasta? Sayang sekali kalau gitu. Bayarnya pasti lebih mahal deh.

  8. nur4hini said: penggemar gadho gadho juga nih mbak, kalo kepepet, kadang saya bikin bumbunya dari peanut butter, dikasih daun jeruk biar wangi, dan ditambahi cabe:)

    kalau kepepet sih sering. hihihihi…ini kan langka, dapet bumbu gado gado homemade, dibawa dari Indonesia dan bumbu bumbunya masih seger pula.

  9. rengganiez said: btw kebalikan ma saya…hemmm gak terlalu suka gado2…kalo pecell hayukkkkkk

    penggemar gadho gadho juga nih mbak, kalo kepepet, kadang saya bikin bumbunya dari peanut butter, dikasih daun jeruk biar wangi, dan ditambahi cabe:)

  10. rengganiez said: btw kebalikan ma saya…hemmm gak terlalu suka gado2…kalo pecell hayukkkkkk

    aku juga suka makan pecel, mbaaaaaaak… :))btw, aku durung2 ae bales PM sampeyan… hehehe… malasnya nggak ketulungan.karena CE di Unair belum ada. Kalo di universitas swasta kayak Pelita Harapan (apa Petra, ya?) itu udah ada.coba sampeyan googling, nggih 🙂

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s