Ada yang punya majalah Kartini?

Ada yang punya majalah Kartini nomer 486 tahun 1993, edisi tanggal 5 s/d 18 Juli 1993?


DSC_0800edit


DSC_0036edit

Aku lagi mencari artikel yang ada di halaman 72.

DSC_0795edit
Advertisements

36 thoughts on “Ada yang punya majalah Kartini?

  1. enkoos said: Waktu mereka tau aku mau menulis kisah mereka, mereka bilang “Kami malu dianggap hidup di bawah tanah. Kami dikucilkan masyarakat.” Ah ngenes dengernya Ed.Postingan baru, ntar masih bertapa dulu yeeeee. Cari pangsit. xixixixixi…

    mbak e.udah dapet majalahnya belon?

  2. enkoos said: Waktu mereka tau aku mau menulis kisah mereka, mereka bilang “Kami malu dianggap hidup di bawah tanah. Kami dikucilkan masyarakat.” Ah ngenes dengernya Ed.Postingan baru, ntar masih bertapa dulu yeeeee. Cari pangsit. xixixixixi…

    Kudu dibela *dukung* cari pangsit jangan lupa baksonya sekalian..he.he.he.

  3. eddyjp said: Kok majalah bisa eror gitu ? eh mana postingan baru..he.he.he..sepi amat nih.

    ada pihak keluarga yang cerita. kata mereka (ibu dan anak tsb) cerita yang ditulis di majalah itu tanpa sepengetahuan mereka dan tanpa konfirmasi dulu. artikel yang kupotret ada di halaman 72 & 73. Ternyata masih ada lagi di halaman sebaliknya, dan aku nggak tahu. Mau tulis cerita versi ibu dan anak tsb, aku juga mesti tau artikel itu secara lengkap supaya berimbang. Waktu mereka tau aku mau menulis kisah mereka, mereka bilang “Kami malu dianggap hidup di bawah tanah. Kami dikucilkan masyarakat.” Ah ngenes dengernya Ed.Postingan baru, ntar masih bertapa dulu yeeeee. Cari pangsit. xixixixixi…

  4. enkoos said: gak ada mbah. itu makanya aku disuruh masuk untuk ngeliat. gak tega mbah ngeliat kondisi rumahnya. 😦

    Kok majalah bisa eror gitu ? eh mana postingan baru..he.he.he..sepi amat nih.

  5. nur4hini said: gak punya mbak evi, maaf gak bisa bantu. ibu itu, orang yang mbak evi temui?

    iya mbak Nur. mereka cerita gimana hidupnya terlunta lunta selama puluhan tahun. tinggal di gubuk yang gak layak huni. berdinding anyaman bambu yang bolong2. kalau hujan bocor, ditambal plastik. gak ada penerangan. cuma pake lampu teplok. pas masuk gelap sekali, padahal siang hari. ada yang loncat2 aku jejeritan, kupikir tikus. Ternyata iya. tapi mereka gak mengeluh, cuma menyayangkan kenapa masyarakat sekitar mengucilkan mereka. Dibilang gila, dibilang tinggal di bawah tanah, Masya Allah. Waktu aku kesana tatapannya rada curiga, setelah aku mengutarakan maksudku, cerita ngalor ngidul, airmukanya sedikit demi sedikit berubah menjadi semakin adem dan bersahabat. Makin nyerocos bercerita dan malah aku diundang masuk ke gubuknya. Tadinya cuma berdiri di luar gubuk.

  6. eddyjp said: tentang apa yah Via ?

    ada ibu dan anak tinggal di rumah gubuk. hidupnya terlunta lunta diisukan tinggal di bawah tanah. padahal nggak begitu. katanya karena tulisan di majalah itu, dampaknya terasa sampe sekarang. mereka berdua disingkirkan masyarakat, dianggap orang gila. makanya aku pengen baca, seperti apa tulisan di majalah itu.

  7. anazkia said: Nggak pernah langganan kartini, Mbak.Maaf, itu siapa tho, Mbak?kenapa nggak nanya redaksi?

    salah satu pemilik rumah gadang yang terbengkalai itu. orang yang terlunta lunta itu Naz.Dia yang nyimpan majalah itu. Aku pengen mencocokkan apa yang ada di majalah itu dengan apa yang diceritakan langsung oleh mereka. Mesakke tenan. Tinggalnya di rumah yang gak seharusnya untuk manusia. :((

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s