Nasib si paspor ijo (1)

Beberapa saat lalu aku ngobrol dengan mbah dukun di lapaknya. Topiknya mengenai pengurusan dokumen dokumen penting di Indonesia yang birokrasinya astaganaga minta ampun mbuletnya sangat seperti entute tentara. Udah acak adut, orang orangnyapun juga banyak yang malas ngantri. Umpel umpelan seperti pasar malam. Itu makanya aku gak begitu menyalahkan orang orang Indonesia yang pindah kewarganegaraan karena salah satu alasannya adalah capek berurusan dengan birokrasi di Indonesia.

Toh nasionalisme seseorang tidak dinilai dari sebuah buku bernama paspor. Seorang kawan pernah berkeluh kesah kepadaku. Rumah tangganya sedang kacau, anaknya dua dan masih kecil kecil. Posisinya lemah dan terjepit. Menjadi warga negara asing adalah salah satu solusi untuk memecahkan masalahnya.

Namun begitu aku belum berpikiran untuk pindah kewarganegaraan. Paling tidak untuk saat ini karena aku nggak mau takabur. Saat ini aku ogah surogah wegah tenan pindah warga negara. Titik habis perkara. Besok besok ya urusan nanti gimana besok saja. Aku malas pindah kewarganegaraan karena,

Alasan pertama

Ngurus visa ke Indonesia bakalan ribet. Bila perginya lebih dari sebulan harus apply di kantor Kedutaan / Konsulat dan itu harus direncanakan dengan matang. Bila perginya kurang atau sama dengan sebulan bisa apply VOA (Visa On Arrival) di bandara. Tetapi sayangnya VOA hanya bisa diperpanjang maksimal 30 hari. Dan ngurusnya lumayan ribet. Harus datang ke kantor Imigrasi, ngisi formulir, bikin surat sponsor dan kemudian menunggu kabar beberapa hari. Ribet sekali. Kalau pengen gak ribet, keluar aja sebentar dari Indonesia terus masuk lagi. Gimana kalau kita pas lagi enak enak angon kebo dan makan pahpiong di pedalaman Sulawesi, ndilalah dua hari kemudian baru sadar visa habis. Musti meluncur ke negara terdekat kemudian masuk Indonesia lagi. Tetep gak seru dong. Mana asik perjalanan terputus putus.

Alasan kedua

Aku memiliki harapan bahwa suatu saat Indonesia akan menerapkan sistem dwi kewarnanegaraan kepada rakyatnya. Bukan hal yang mustahil. Beberapa undang undang keimigrasian yang terkait dengan pernikahan campuran sudah ada yang direvisi.

Seperti misalnya,

a. Anak yang lahir dari pernikahan campuran bisa memiliki dwi kewarga negaraan dimana yang tadinya hanya satu dan berdasarkan warga negara ayahnya.

b. Warga asing yang menikah dengan orang Indonesia bisa mendapatkan ijin tinggal menetap.

c. Pemegang Ijin Tinggal Tetap karena pernikahan campuran dapat melakukan pekerjaan dan atau usaha di Indonesia.

Alasan ketiga

Aku terlalu cinta dengan Indonesia sejelek apapun keadaannya. Ini alasan yang mungkin dianggap lebay dan keterlaluan. Makan tuh cinta. Biar saja. Aku mencintai Indonesia apa adanya dan dengan cara sederhana, mengutip jargonnya Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa “Indonesia, mencintaimu dengan sederhana.” Saat ini sebagai pemegang PR (Permanent Resident) atau greencard aku sudah cukup puas. Hak dan kewajibanku hampir sama dengan warga negara Hamiriki Similikithi. Bedanya adalah sebagai pemegang greencard aku nggak bisa milih dan gak bisa bekerja di pemerintahan. Ndak apa gak bisa milih dan ndak apa juga gak bisa bekerja di pemerintahan. Banyak pilihan untuk bekerja di sektor lain.

Beberapa kali aku dikompori sejumlah teman untuk pindah kewarganegaraan. Katanya supaya bisa pergi kemana mana dengan mudah sebab paspor ijo dikenal susah untuk mendapatkan visa di banyak negara. Apalagi dengan tugas suamiku yang sering dikirim ke berbagai negara, membuat kami sering kesulitan mendapatkan visa. Sekali waktu bahkan paspor ijoku membuat karir suamiku tertahan.

Kejadiannya di tahun 2006.

Bersambung – mengurus visa ijin tinggal

Advertisements

20 thoughts on “Nasib si paspor ijo (1)

  1. srisariningdiyah said: betul, hehe…caranya memang kudu sabar sih…soalnya gak keluar duit sogokan…pertama dateng setor bawa dokumen, tunggu sepekan untuk wawancara, foto, jadi dehhhh… xixixiix

    kalo mo pindah warga negara ada test nya lagi gak? Atau cuma apply isi formulir?

  2. srisariningdiyah said: betul, hehe…caranya memang kudu sabar sih…soalnya gak keluar duit sogokan…pertama dateng setor bawa dokumen, tunggu sepekan untuk wawancara, foto, jadi dehhhh… xixixiix

    “Aku mencintai Indonesia apa adanya dan dengan cara sederhana”Mbak Evi..salut banget sama perasaan cinta indonesah-nya walau uda diribetin secara birokrasi dan kadangkala mendengar cerita2 menyebalkan dari tanah tercintah ini..go go Indonesaaahhhhhh

  3. srisariningdiyah said: betul, hehe…caranya memang kudu sabar sih…soalnya gak keluar duit sogokan…pertama dateng setor bawa dokumen, tunggu sepekan untuk wawancara, foto, jadi dehhhh… xixixiix

    cerbung yah…..okeh mau baca sambungannya ahhhhhhhhhhh

  4. srisariningdiyah said: betul, hehe…caranya memang kudu sabar sih…soalnya gak keluar duit sogokan…pertama dateng setor bawa dokumen, tunggu sepekan untuk wawancara, foto, jadi dehhhh… xixixiix

    iya mbak. aku juga ngurus sendiri. datang sesuai prosedur.tapi pake berantem dan adu argumen sama petugasnya.aku bukan mau cerita proses paspor ijonya tapi si paspor ijo di luaran. Ini ceritanya belum selesai.Dokumen penting kan bukan cuma paspor mbak, ada KTP, SIM, Akte Lahir dsb.

  5. tintin1868 said: sebenernya ngurus paspor ijo ga ribet kog.. ku urus tanpa calo juga selese seminggu.. kita aja yang “berfikir” ribet..

    bukan ngurus paspor ijonya yang ribet. tapi nasib si paspor ijo diluar.aku ngurus paspor juga sendiri kok, gak pake calo. Dan melalui berantem dulu sama petugas. Tapi disini aku bukan mau cerita tentang proses paspor ijo, tapi proses apply visa di negara asing. Dan ini bukan cuma ngomongin ribetnya ngurus paspor lho ya. Dokumen penting kan banyak, ada SIM, KTP, Akte Lahir dan sebagainya.

  6. myshant said: kalau masa berlaku paspor ijo udah mau habis, harus cepet2 ngurus di kbri ya mbak ?tetep harus perpanjangan tiap 5thn tho ?

    selama ini aku belum pernah perpanjangan di kbri. Aku ngurus di Indonesia pas kebetulan mudik.

  7. tintin1868 said: sebenernya ngurus paspor ijo ga ribet kog.. ku urus tanpa calo juga selese seminggu.. kita aja yang “berfikir” ribet..

    betul, hehe…caranya memang kudu sabar sih…soalnya gak keluar duit sogokan…pertama dateng setor bawa dokumen, tunggu sepekan untuk wawancara, foto, jadi dehhhh… xixixiix

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s