Nasib si paspor ijo (2)

 
Begini kronologisnya

September 2005.

Beberapa bulan menjelang selesainya tugas suamiku di Shanghai, si bos bertanya ke suamiku, “eh gimana kalau penempatan berikutnya ke Belanda? Kira kira istrimu menemui kesulitan gak untuk ngurus surat ijin tinggalnya?”

Suamiku bilang, “menurut logika sih sepertinya gak bakal sulit bos. Kan Indonesia bekas jajahan Belanda. Kayaknya gak ada masalah deh. Biasanya negara negara bekas jajahan dengan mudah mendapatkan visa ke negara negara yang dulu menjajahnya.”

Logika yang masuk akal. Itu kalau melihat contoh negara negara bekas jajahan Perancis. Karena mendapat jawaban yang meyakinkan dari suamiku, maka ditugaskanlah beliau ke Belanda untuk jangka waktu sekitar dua tahun.

31 Desember 2005.

Proyek di Shanghai selesai, kami pulang ke Amerika. Belanja keperluan logistik untuk di Belanda seperti baju dingin, sepeda dan lain lainnya (di Belanda kan mahal), selain juga kangen kangenan dengan para ipar, bapak ibu mertua dan ponakan yang pada lucu imut imut menggemaskan. Suamiku diminta memilih oleh kantornya, mau riwa riwi Amerika – Belanda atau Indonesia – Belanda sambil menunggu pengurusan ijin tinggal sekeluarga di Belanda. Karena waktu itu aku belum memiliki PR alias masih visa Amerika, maka untuk pengurusan ijin tinggal di Belanda harus diurus dari Indonesia.

Tentunya suamiku memilih riwa riwi Indonesia – Belanda supaya bisa berkumpul dengan keluarganya. Sebagai warga negara Amerika, beliau tidak perlu memohon visa untuk bepergian ke banyak negara termasuk ke Belanda. Sebulan di Amerika, kamipun meluncur ke Indonesia.

Februari 2006.

Mulailah aku mengurus surat surat yang diperlukan untuk kepindahan kami ke Belanda. Selama di Indonesia, suami juga riwa riwi ke beberapa negara dalam rangka tugas. Kebayang gimana sedihnya kalau beliau harus riwa riwi dari Amerika, sendirian dan jauh dari keluarga. Karena kami tinggal di Surabaya maka langkah pertama adalah pergi ke Konsulat Belanda mencari informasi mengenai persyaratannya. Aku urus sendiri semua surat suratnya tanpa bantuan agen, calo, biro jasa, travel agent atau apalah namanya.

Disini aku memperoleh informasi bahwa aku harus apply MVV, entah singkatan dari apa, yang jelas adalah visa ijin tinggal sementara. Tentu ada syarat syarat yang diminta. Karena kejadiannya sudah lama, hanya tiga yang masih kuingat dan itupun karena membuat heboh.

Syarat pertama, bisa berbahasa Belanda.

Disini aku merasakan ada diskriminasi perlakuan karena suamiku yang warga negara Amerika tidak perlu bisa berbahasa Belanda sedangkan aku yang warga negara Indonesia diharuskan. Apa bedanya coba, wong sama sama orang asing? Merasa nggak puas dengan aturan tersebut, proteslah diriku dan ditanggapi dengan serius oleh kantor suamiku. Mereka mempertanyakan persyaratan tersebut kepada Konsulat Belanda di Surabaya dan beberapa perwakilan negara Belanda di Amerika Serikat. Akhirnya terbukti bahwa petugas Konsulat Belanda di Surabaya kurang jeli membaca peraturan.

Memang bagi pemohon MVV yang akan tinggal lebih dari enam bulan diharuskan bisa berbahasa Belanda tetapi dengan catatan apabila si pemohon menikah dengan warga Belanda dan atau akan menikah di Belanda dan atau mencari pekerjaan di Belanda dan atau membawa misi agama. Aku bukan termasuk salah satu dari kategori tersebut diatas. Itu yang bolak balik ditekankan oleh beberapa perwakilan negara Belanda di Amerika. Meskipun begitu, petugas di Konsulat Belanda ini masih aja ngeyel bilang, bahwa aku tetep harus bisa berbahasa Belanda. Kesel nggak sih, bikin gregetan. Kenapa peraturan yang sama bisa diartikan berbeda oleh mereka sendiri?

Karena lama lama capek juga gak ada titik temu, akhirnya aku kompromi dengan diri sendiri. Ambil positifnya, apa salahnya belajar bahasa mereka toh untuk kepentinganku sendiri. Tapi aku nggak mau ngambil yang intensif, kok enak sudah dipaksa, ngambil yang mahal pula. Ogah. Jadi aku ngambil kelas reguler yang rombongan dan tentunya jatuhnya lebih murah.

Selesai masalah bahasa, lanjut ke syarat berikutnya yang cukup aneh.

Bersambung – mengurus legalisasi akte lahir dan surat nikah

Advertisements

37 thoughts on “Nasib si paspor ijo (2)

  1. fendikristin said: nah ini Mbak Erji juga bilang kalo mau pindah ke belanda harus bisa bahasa belanda huaaaaa

    gak koq, itu bs setelah di sana, hya buat pengurusan MVV aja butuh sertifikat..kisi2 udh ada tinggal ujian Mom..setelahnya kita disekolahkan di sana .. 🙂

  2. fightforfreedom said: aamiin. melu ndongakno, mbak Evie, semoga juga mendapat kemudahan urusannya nanti.asline aku yo gak iso membayangkan betapa ribetnya dg paperwork itu.

    ra sah dibayangno. mumet dewe ngkok :)Suwun dongane yo cak

  3. enkoos said: Kami juga pengen tinggal di Indonesia. Tapi bukan saat ini. Insya Allah nanti, pada saat pensiun. Amin.

    aamiin. melu ndongakno, mbak Evie, semoga juga mendapat kemudahan urusannya nanti.asline aku yo gak iso membayangkan betapa ribetnya dg paperwork itu.

  4. fightforfreedom said: kok sepertinya hidup di bumi pertiwi ini cuman ngontrak

    Sopo sing ngontrak? Aku tah perwakilan Londo?Yen aku, lah aku kan sik nyekel paspor ijo tho yo. Wajar yen ngurus opo opo melalui Indonesia. Klau saat ini aku tinggal di Amerika, itu bukan murni keinginanku semata. lha wong suamiku kerja di Amerika. Coba kalau ada lapangan pekerjaan di Indonesia, beliau mau kok kerja di Indonesia. Tinggal di Indonesia itu biayanya mahal untuk orang asing. Paperwork yang harus diurus setumpuk cak kalau dirimu tahu.Harus lapor polisi, harus ke Imigrasi, ngurus visa (yang bukan visa kunjungan biasa) dan itu harus diperbaharui setiap beberapa bulan sekali. Udah gitu, harus ada yang memberi sponsor. Pilihan pekerjaan juga gak bisa pekerjaan biasa. Harus pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus. Perkaraya biaya hidup, Insya Allah kami mau hidup sederhana. Tetapi dengan banyaknya paperwork yang harus kami urus, tentunya biaya hidup jadi membengkak. Belum lagi masalah sekolah anak. Sekolah di Indonesia mahal. Hadehhhh…biaya hidup plus biaya sekolah, plus urusan paperwork. Puzingggggggg.Kami juga pengen tinggal di Indonesia. Tapi bukan saat ini. Insya Allah nanti, pada saat pensiun. Amin.

  5. tintin1868 said: mmhh ribet.. tapi bagus juga ambil sisi positifnya.. belajar bahasa belanda..

    belajar dengan perasaan gak rela karena dipaksa. pada dasarnya aku suka belajar bahasa, tapi kalau belanda, dan dipaksa pula, mualessssssss.

  6. myshant said: oh ….ini ternyata poin penting nasib si paspor ijo …susah kalau mau maknyuk pindah/berkunjung ke negara lainribeeeeettt ngurus ijin tinggalnya ya mbak ?weleh-weleh…sampe’ harus kursus bahasa dulu

    iye betul, sesuai dengan judulnya kan 😛 Nasib si paspor ijo. Kalau ngurus paspornya Insya Allah gak seribet dulu dan gak sesulit yang dibayangkan. Meskipun terkadang musti berani ngotot dulu.

  7. srisariningdiyah said: peraturan yang aneh… *orangnya*

    oh ….ini ternyata poin penting nasib si paspor ijo …susah kalau mau maknyuk pindah/berkunjung ke negara lainribeeeeettt ngurus ijin tinggalnya ya mbak ?weleh-weleh…sampe’ harus kursus bahasa dulu

  8. enkoos said: Gimana nggak mumet. Bolak balik ijin dari kantor sampe sungkan. Lama2 diserahin aja ke agen. Jatuhnya lebih murah dibanding ngurus sendiri

    Kepikir pake agen juga waktu itu Via ?

  9. enkoos said: Surat surat penting seperti KTP, paspor, akte lahir diterbitkan di Surabaya mbak. Jadi ngurusnya ya di Surabaya. Begono.

    Ada temenku yang akan menikah dengan warga Jerman. Ngurus suratnya ribet amat. Dan si temen domisilinya di Surabaya, kelahiran Jombang. Dia sering riwa riwi Jombang Surabaya Jakarta dan semuanya diurus sendiri. Gimana nggak mumet. Bolak balik ijin dari kantor sampe sungkan. Lama2 diserahin aja ke agen. Jatuhnya lebih murah dibanding ngurus sendiri. Kebayang aja riwa riwi gitu ongkosnya berapa, waktu banyak terbuang, duit juga gak sedikit. Kalau tinggal di Jakarta dan kelahiran Jakarta mungkin masih bisa diminimalisir. Indonesia sih boleh bilang mengetrapkan sistem otonomi, tapi nggak seluruhnya. Apa apa masih Jakarta, dikit dikit Jakarta. Beda dengan Amerika, sekecil kampung Duluth urusan dokumen gak usah ngurus ke ibukota St Paul apalagi ke Washington DC.

  10. enkoos said: Surat surat penting seperti KTP, paspor, akte lahir diterbitkan di Surabaya mbak. Jadi ngurusnya ya di Surabaya. Begono.

    keliatannya Belanda emang paling ribet diantara negara-negara Eropa lainnya. Ada temen yang juga ampe mumets ngurus persyaratan sebelum menuju ke Belanda. Temannya kakak juga demikian ribet nian..

  11. nitafebri said: jiaah..gak acii bgt seeh…masa WN lain gak mesti belajar bhs londo.. orang kita WAJIb.. nungguin lanjutannyaaa…

    Iya Nit, keliatan banget diskriminasinya. Kata bojoku, “kalau diliat positifnya, itu artinya Belanda nganggep orang orang Indonesia pada pinter makanya disuruh belajar bahasa dan menganggap orang orang Amerika gak pinter belajar bahasa.” hihihihihi….

  12. rengganiez said: Menunggu lg sambungannya….Knp gak ngurus neng Jakarta, mbak?

    Surat surat penting seperti KTP, paspor, akte lahir diterbitkan di Surabaya mbak. Jadi ngurusnya ya di Surabaya. Begono.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s