Nasib si paspor ijo (4)

Lanjutan dari tulisan Nasib si paspor ijo (1), (2), dan (3)
 
Hari Senin pun tiba.
Surat yang dijanjikan oleh Agen Belanda tak kunjung tiba. Yang ada malah permintaan dari kantor PJ supaya aku mengirimkan buku nikah satunya yang aku pegang. Sebagaimana diketahui, bagi yang menikah secara Islam di KUA akan mendapat dua buku. Satu berwarna coklat untuk suami dan satu berwarna hijau untuk istri. Dua duanya sama persis isinya. Kata kantor PJ lagi, “pihak Kedutaan Belanda minta dua duanya, meskipun sudah dijelaskan kedua buku tersebut adalah identik sama.” Lha kalau aku serahkan juga, lantas bekalku untuk minta tanda tangan ke Catatan Sipil Surabaya apa? Apakah Catatan Sipil Surabaya bersedia menanda tangani surat tanpa bukti apa apa? Selain itu aku tidak mau begitu saja menyerahkan buku nikah karena ketidak konsistenan mereka. Hari ini bilang minta surat ke Catatan Sipil, besoknya bilang nggak perlu, eh hari berikutnya disuruh ngurus lagi, terus esoknya apa lagi?
 
Senin sore datang kabar bahwa pihak AB tidak bersedia membuat surat yang telah dijanjikan sebelumnya. Kami yang harus membuat konsep surat tersebut dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Harusnya ini adalah tanggung jawab AB dan PJ yang katanya sudah berpengalaman menangani pengurusan dokumen imigrasi. Mana buktinya?
 
Udah lempar tanggung jawab seperti itu, AB membuat pernyataan yang membuat suamiku naik darah, “udah deh kang, kamu berangkat aja dulu ke Belanda, ntar biar anak istrimu menyusul. Paling lama prosesnya tiga bulan”.
 
Dari Februari hinggal Juni 2006, pengurusan ijin tinggal kami tak kunjung selesai dan selama itu pula suamiku juga riwa riwi Indonesia Belanda menangani kerjaan di Belanda yang mulai berjalan. Wajar saja kalau suamiku marah, karena selama itu agen yang diharapkan bisa untuk membantu menyelesaikan perijinan tepat waktu malah mengulur ulur dengan kejadian yang sebetulnya gak perlu terjadi ditambah dengan janji janji gombal yang terkesan meremehkan persoalan.
 
Pernyataan AB diatas dibalas dengan pertanyaan oleh suamiku. Kira kira seperti ini percakapan mereka,
 
Kakang: Emang kau mau tinggal terpisah dengan keluargamu selama tiga bulan?
AB: Banyak kok orang yang commute (pulang pergi untuk bekerja).
Kakang: Emang kau pikir Indonesia Belanda jaraknya seperti Jerman Belanda yang bisa dikunjungi tiap minggu? Pernah baca peta dunia belum? Tahu jarak Indonesia Belanda gak?
AB: *Mingkem*
Kakang: Orang lain bisa begitu, aku nggak bisa. Emang duitnya embahmu dibuat riwa riwi Indonesia Belanda tiap minggu.
AB: *Mingkem tak bersuara*
Aku: *mengkeret liat suami marah marah ditelepon tapi dalam hati cekikikan. Nenek moyang dibawa bawa. Qeqeqeqeqe..*
 
Selasa keesokan harinya.
Aku pergi ke kantor Catatan Sipil untuk menemui Kasubdin Pencatatan. Sesampainya disana sudah ada yang nyanggong dan di dalam pun juga sudah ada tamu. Sejam menunggu, sang tamupun keluar dan bapak di sebelahku yang sudah lebih dulu datang dipersilakan masuk. Tinggallah aku yang diluar blingsatan mondar mandir melemaskan kaki yang sudah duduk menunggu tiga jam. Si bapakpun keluar, giliran aku yang dipersilakan masuk.
 
Bercerita lagi dari awal seperti sebelumnya udah macem kaset aja diputar berulang ulang. Tidak lupa akupun juga menunjukkan contoh attestation letter yang dibuat oleh Catatan Sipil Jakarta. Si bapak Kasubdin menjelaskan dengan sabar apa dan bagaimana sistem pernikahan di Indonesia dan juga kasusku ini bukanlah yang pertama kali. Ditambahkan lagi bahwa beliau sudah pernah berbicara kepada Departemen Luar Negeri supaya menjelaskan kepada perwakilan perwakilan negara asing di Jakarta mengenai sistem pernikahan di Indonesia. Selanjutnya si bapak juga menjelaskan dengan suara yang masih sabar tetapi cukup membuatku lunglai bahwa Catatan S
ipil tidak mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan ataupun menandatangani surat keterangan semacam attestation letter. Buntu mbokkkk.
 
Wira wiri hampir dua minggu dengan hasil akhir seperti ini, emosiku serasa sudah nangkring di puncak. Ya marah, ya terpojok, ya putus asa tercampur aduk, jebol sudah pertahananku. Sambil nangis aku masih berusaha bertanya apa langkah selanjutnya yang harus aku lakukan. Apakah akan berhenti disini saja tanpa ada penyelesaian? Apa berarti kami tidak bisa berkumpul sebagaimana layaknya keluarga utuh? Dua negara dengan aturan yang berbeda dan masing masing bertahan dengan aturannya. Lemessss rasanya, sudah terbayang kehidupan macam apa yang akan kami jalani terpisah dari keluarga selama berbulan bulan.
 
Sesampainya di rumah, kami melaporkan ke AB mengenai hasil dari perjuanganku hari itu. Dan kemudian mereka memberikan tiga pilihan jalan keluar yaitu:
 
Pilihan kesatu,
Suamiku berangkat sendirian ke Belanda, dan kemudian keluarganya akan menyusul paling lama tiga bulan kemudian. Dasar kepala batu, udah dijelasin kemaren kemaren masih juga kagak ngarti. Dijawab oleh suamiku, “apa bedanya sekarang dengan tiga bulan lagi? Lha wong emang suratnya kagak bisa keluar. Kalau sekarang kagak bisa keluar, sampai kapanpun juga kagak bisa keluar meski seribu tahun lagi kalau emang aturannya begitu.” Pilihan ini ditolak mentah mentah oleh suamiku.
 
Pilihan kedua,
Meminta PJ untuk mengurus attestation letter di Catatan Sipil Jakarta, kalau memang Catatan Sipil Jakarta bisa. Yang menjadi pertanyaan adalah di dalam contoh surat tersebut disebutkan bahwa si perempuan adalah warga negara Indonesia dengan bukti identitas paspor Belanda. Masuk akal nggak sih? Lha wong pemerintah Indonesia belum mengakui Dual Citizenship kok. Perlu dipertanyakan tuh contoh suratnya.
 
Pilihan ketiga,
Menikah lagi di hadapan Catatan Sipil sehingga pencatatannya akan dikenal oleh pihak Belanda. Hadehhhh…capek deh menjelaskan berkali kali ke AB tentang sistem pernikahan di Indonesia. Seperti kaset diputar berulang ulang dan yang dengerin orang idiot. Itu sama artinya kami bercerai dulu, kemudian menikah secara agama lain. Big no no no hanya untuk cari makan lantas mengorbankan segala galanya. Lain soal kalau dari awal kita menikah, selain menghadirkan petugas dari KUA juga mendatangkan petugas dari Catatan Sipil sebagai saksi. Lha tapi kami mana ngerti apa yang bakal terjadi nantinya?
 
Sempat terpikir oleh kami untuk mencatatkan pernikahan kami di Catatan Sipil Amerika. Setelah bertanya ke beberapa pihak terkait di Amerika, hal ini ternyata ilegal. Nah lho…Alasannya adalah, pernikahan kami yang sah di mata hukum Indonesia telah diakui oleh pemerintah Amerika. Kalau kami mencatatkannya ke Catatan Sipil Amerika, itu artinya pernikahan dobel.

Oleh karena itu pelajaran juga bagi yang lain, untuk mencegah hal hal seperti ini terjadi, bagi pasangan beda bangsa yang beragama Islam sewaktu akan menikah sebaiknya selain
menghadirkan petugas dari KUA juga mendatangkan petugas dari Catatan Sipil sebagai saksi.
 
Balik ke beberapa pilihan yang ditawarkan AB tadi. Dari tiga pilihan itu, satu satunya yang memungkinkan adalah pilihan kedua.
 
Advertisements

65 thoughts on “Nasib si paspor ijo (4)

  1. wayanlessy said: Iya mbak..tapi dlm keadaan ekonomi gini..kerjaan sulit.jadi agak lain..kerjaan ‘agak kasar’ mereka udah mulai kerjain. Tapi banyak juga siy mbak yg baik..banyak banget malah. (paling nggak di depanku gak punya kaca spion harian siy hihihihi)Udah agak lama aku gak ke Belanda, mbak. Terakhir th 2010. Cuma 2 hari hihihi..Jadi pendapatku subjektif bgt siy ini hihihi..Cinta sejati yo mbak..dan Alhamdulillah hikmahnya ternyata langsung kelihatan jelas ya mbak?

    hehehehehehehe….tahun 2005, ekonomi masih bagus. Kalau sekarang emang iya, ekonomi lagi ajrut2an. Temenku yang tinggal di Belanda juga cerita, mereka gak milih2 kerjaan. gak seperti dulu.Iya, selalu ada hikmah di setiap peristiwa. Kurang dari sebulan setelah suamiku resign, perusahaan itu bangkrut.

  2. enkoos said: Imigran dianggap merepotkan tapi kebanyakan orang Belanda gak mau mengerjakan pekerjaan kasar yang biasanya hanya imigran yang mau melakukannya, itu yang aku pernah dengar. Bener gak Les?Gara gara kejadian ini, suamiku sampe rela resign dari perusahaan. Karena pengurusan dokumen gak selesai2.

    Iya mbak..tapi dlm keadaan ekonomi gini..kerjaan sulit.jadi agak lain..kerjaan ‘agak kasar’ mereka udah mulai kerjain. Tapi banyak juga siy mbak yg baik..banyak banget malah. (paling nggak di depanku gak punya kaca spion harian siy hihihihi)Udah agak lama aku gak ke Belanda, mbak. Terakhir th 2010. Cuma 2 hari hihihi..Jadi pendapatku subjektif bgt siy ini hihihi..Cinta sejati yo mbak..dan Alhamdulillah hikmahnya ternyata langsung kelihatan jelas ya mbak?

  3. wayanlessy said: Bisa jadi itu juga merupakan “pernyataan sikap” yang…mau nggak bilang SARA..tapi kok ya sepertinya memang gitu….grrr…Memang sejak imigran makin dirasa merepotkan dan paranoid thdp Islam makin kuat di parlemen, Belanda makin ketat ya?..Jerman juga. Tapi menurutku…Jerman lebih fair, takut bgt mereka dibilang SARA.

    Imigran dianggap merepotkan tapi kebanyakan orang Belanda gak mau mengerjakan pekerjaan kasar yang biasanya hanya imigran yang mau melakukannya, itu yang aku pernah dengar. Bener gak Les?Gara gara kejadian ini, suamiku sampe rela resign dari perusahaan. Karena pengurusan dokumen gak selesai2.

  4. enkoos said: Berarti attestation letter itu aturan baru dong. Aturan yang tidak menghormati sistem di negara lain. Percuma aja ada perwakilan negeri Belanda di Indonesia kalau gitu. Tendyanggggg!!!

    Bisa jadi itu juga merupakan “pernyataan sikap” yang…mau nggak bilang SARA..tapi kok ya sepertinya memang gitu….grrr…Memang sejak imigran makin dirasa merepotkan dan paranoid thdp Islam makin kuat di parlemen, Belanda makin ketat ya?..Jerman juga. Tapi menurutku…Jerman lebih fair, takut bgt mereka dibilang SARA.

  5. wayanlessy said: Sistem pernikahan negara kita seperti ini karena Indonesia bukan negara yg sekuler, dan dalam hal perdata ini, sebagai negara dengan mayoritas Muslim, walau Indonesia bukan negara Islam, perlu untuk memfasilitasi perkawinan Islam yg sistem perdatanya unik. Aku baru inget tadi pas sambil nyapu2 barusan….th 2002 rasanya attestation letter ini gak diminta mbak..kalo nggak salah inget.. temenku yg menikah dengan orang asing di KUA juga proses legalisasinya sama kayak aku.Jangan2 memang ada aturan baru yg sengaja meremehkan keberadaan KUA. yg jelas jelas dalam hukum positif Indonesia setara dengan Catatan Sipil….Nah..kalo ini bener..berarti pemerintah Belanda th 2005 bener2 kurang ajar dalam hal ini.

    Berarti attestation letter itu aturan baru dong. Aturan yang tidak menghormati sistem di negara lain. Percuma aja ada perwakilan negeri Belanda di Indonesia kalau gitu. Tendyanggggg!!!

  6. wayanlessy said: Hmm..begini ya ternyata jalan keluarnya. TFS mbak.Cuma memang aneh siy..memaksakan sesuatu yg tidak ada dalam sebuah sistem hukum negara lain. KUA kan di Indonesia fungsi dan tingkatnya sederajat dengan Catatan Sipil. Kebangetan banget ya…Prinsip Hukum Perdata Internasional bener2 dinafikan Belanda.

    Sistem pernikahan negara kita seperti ini karena Indonesia bukan negara yg sekuler, dan dalam hal perdata ini, sebagai negara dengan mayoritas Muslim, walau Indonesia bukan negara Islam, perlu untuk memfasilitasi perkawinan Islam yg sistem perdatanya unik. Aku baru inget tadi pas sambil nyapu2 barusan….th 2002 rasanya attestation letter ini gak diminta mbak..kalo nggak salah inget.. temenku yg menikah dengan orang asing di KUA juga proses legalisasinya sama kayak aku.Jangan2 memang ada aturan baru yg sengaja meremehkan keberadaan KUA. yg jelas jelas dalam hukum positif Indonesia setara dengan Catatan Sipil….Nah..kalo ini bener..berarti pemerintah Belanda th 2005 bener2 kurang ajar dalam hal ini.

  7. wayanlessy said: Hmm..begini ya ternyata jalan keluarnya. TFS mbak.Cuma memang aneh siy..memaksakan sesuatu yg tidak ada dalam sebuah sistem hukum negara lain. KUA kan di Indonesia fungsi dan tingkatnya sederajat dengan Catatan Sipil. Kebangetan banget ya…Prinsip Hukum Perdata Internasional bener2 dinafikan Belanda.

    Itulah Lessy yang bikin aku jengkel luar biasa. Apa gunanya Belanda punya perwakilan di Indonesia kalau mereka gak mau mengakui KUA sebagai lembaga yang sah di Indonesia untuk menikahkan?Pernah ada yang bilang kalau sistem pernikahan di Indonesia termasuk aneh. Lah, aneh atau tidak, sistem kita memang begitu. Wong banyak negara lain mengakui kok, Belanda aja yang songongnya keterlaluan.

  8. enkoos said: Oleh karena itu pelajaran juga bagi yang lain, untuk mencegah hal hal seperti ini terjadi, bagi pasangan beda bangsa yang beragama Islam sewaktu akan menikah sebaiknya selain menghadirkan petugas dari KUA juga mendatangkan petugas dari Catatan Sipil sebagai saksi.

    Hmm..begini ya ternyata jalan keluarnya. TFS mbak.Cuma memang aneh siy..memaksakan sesuatu yg tidak ada dalam sebuah sistem hukum negara lain. KUA kan di Indonesia fungsi dan tingkatnya sederajat dengan Catatan Sipil. Kebangetan banget ya…Prinsip Hukum Perdata Internasional bener2 dinafikan Belanda.

  9. enkoos said: Oleh karena itu pelajaran juga bagi yang lain, untuk mencegah hal hal seperti ini terjadi, bagi pasangan beda bangsa yang beragama Islam sewaktu akan menikah sebaiknya selain menghadirkan petugas dari KUA juga mendatangkan petugas dari Catatan Sipil sebagai saksi.

    klo beda bangsa seperti itu yah aturannya….baiklah2 makasi buat sharingnya…bisa jd bahan antisipasi soal pencatatan..

  10. enkoos said: Oleh karena itu pelajaran juga bagi yang lain, untuk mencegah hal hal seperti ini terjadi, bagi pasangan beda bangsa yang beragama Islam sewaktu akan menikah sebaiknya selain menghadirkan petugas dari KUA juga mendatangkan petugas dari Catatan Sipil sebagai saksi.

    oooh aku baru tau nih Mbak..aku pikir semua pernikahan pasti dihadiri si petugas catatan sipil, soalnya begitu aku selesai pemberkatan di gereja, langsung tanda tangan catatan sipil-nya di gereja juga

  11. enkoos said: Generasi tuanyapun masih memandang bahwa Belanda membawa keberuntungan dan kemajuan bagi Indonesia. Menyakitkan sekali bukan?

    Bersenang senang diatas darah dan penderitaan orang lain, mukenya kudu dikepret.

  12. eddyjp said: Sukurin, kalo bangsa jepang selalu dicecer sama negara bule karena tindakannya dimasa perang, apa bedanya sama kompeni korbannya lebih banyak deh rasanya, kok nggak tau malu yah..

    Betulll banget Ed.Apapun negaranya, yang namanya penjajahan tetep jahat. Kalau aku googling Ed, generasi muda di Belanda banyak yang gak tau mengenai masa lalunya Belanda yang kelam itu. Generasi tuanyapun masih memandang bahwa Belanda membawa keberuntungan dan kemajuan bagi Indonesia. Menyakitkan sekali bukan?

  13. enkoos said: KUA: wah ndak bisa itu.aku: ya udin, bapak aja pake seragam Catatan Sipil. Sama aja kan?KUA: oya boleh boleh. ntar dicap jempol tangan apa jempol kaki?aku: terserah bapak, cap jidat juga bole

    Berarti udah pernah dipikirkan jg yah Via :))

  14. enkoos said: Kalau di Jakarta, mana berani Ed. Di Belanda dirayakan dan mereka juga mengundang pihak KBRI or KJRI. Ya jelas aja gak mau datang. Trus yang datang Kwik Kian Gie sebagai pribadi. Pidatonya pedes mbookkk.

    Sukurin, kalo bangsa jepang selalu dicecer sama negara bule karena tindakannya dimasa perang, apa bedanya sama kompeni korbannya lebih banyak deh rasanya, kok nggak tau malu yah..

  15. nur4hini said: berharap juga suatu saat akan ada dual kewarganegaraan amin…:)

    Amin aminnnn. Lagi digodog RUU nya. ada beritanya di facebook. punya facebook gak? Dual Citizenship bukan hanya untuk pelaku pernikahan campuran, tapi juga pekerja Indonesia yang merantau di negeri asing termasuk TKI. Ntar aku ubek2 lagi beritanya. Insya Allah.

  16. beautterfly said: ah,mumet. Sik tak gocekan cagak karo nunggoni sambungane crito

    baca mulai seri 1, komennya mesisan disini ajah *borongan*sampai sekarang, saya juga gak pernah mencatatkan pernikahan kami di indonesia dulu di pemerintahan kanada. kata suami, surat nikah yang kami punya, sudah cukup buat bukti kalo kita suami istri. satu yang sama mbak, sampi sekarang belum pernah terbetik niat untuk ganti kewarga-negaraan. berharap juga suatu saat akan ada dual kewarganegaraan amin…:)*komen bersambung, athena dah berdiri di depan kelas* 🙂

  17. hblinka said: Vie.. waktu gw nikah dulu itu… secara agama jadi ada pendeta plus petugas catatan sipil… Jadi pertama2 di nikahkan sama Pendeta..ada akte nikah dari gereja tsb. kemudian bagian si catatan sipil itu… kita musti ttd lagi akte yang di keluarkan catatan sipil. Setau gw… catatan sipil itu mendaftarkan perkawinan secara kenegaraan. Emang sih.. karena kristen gak seperti KUA.. yang tidak bisa mensahkan perkawinan secara kenegaraan.

    ah,mumet. Sik tak gocekan cagak karo nunggoni sambungane crito

  18. hblinka said: Vie.. waktu gw nikah dulu itu… secara agama jadi ada pendeta plus petugas catatan sipil… Jadi pertama2 di nikahkan sama Pendeta..ada akte nikah dari gereja tsb. kemudian bagian si catatan sipil itu… kita musti ttd lagi akte yang di keluarkan catatan sipil. Setau gw… catatan sipil itu mendaftarkan perkawinan secara kenegaraan. Emang sih.. karena kristen gak seperti KUA.. yang tidak bisa mensahkan perkawinan secara kenegaraan.

    Hen, sistem pernikahan di Indonesia emang begitu. Yang Islam dicatatankan oleh KUA. Gak perlu lewat Catatan Sipil karena melalui KUA sudah sah secara agama dan hukum.Sedangkan yang non Islam (apapun agamanya) dicatatkan oleh Catatan Sipil untuk sah secara hukum.

  19. susyphotography said: di Indo kami masih di bilang kumpul kebo karena ga nikah di KUA/ agama..

    yang ngomong itu berarti gak tau sistem pernikahan di Indonesia. KUA itu untuk pernikahan secara Islam dan sah secara hukum dan agama. Sedangkan yang non Islam dicatatkan di Catatan Sipil. Sah secara hukum.Udah gak usah didengerin, asbun tuh.

  20. iahsunshine28 said: hhmmmm…. bener-bener ribet ya mba… keras kepala banget petugasnya…

    *jawaban asbun cuci*lapor ke polisi, dibuatin surat laporan, meluncur ke KUAaku: pak, buku nikah kami ilang. bisa buatin buku baru pak?KUA: oh bisa bisa. minta dibuatin tanggal berapa?aku: enaknya tanggal yang unik aja ya pak. oi ya trus minta disaksikan petugas Catatan Sipil juga ya pak?KUA: wah ndak bisa itu.aku: ya udin, bapak aja pake seragam Catatan Sipil. Sama aja kan?KUA: oya boleh boleh. ntar dicap jempol tangan apa jempol kaki?aku: terserah bapak, cap jidat juga boleh.*tulisan iseng, baru bangun tidur*

  21. eddyjp said: Masih ? kudu di demo tuh pas dihari yang sama di kedubesnya.

    Kalau di Jakarta, mana berani Ed. Di Belanda dirayakan dan mereka juga mengundang pihak KBRI or KJRI. Ya jelas aja gak mau datang. Trus yang datang Kwik Kian Gie sebagai pribadi. Pidatonya pedes mbookkk.Baca deh disini: http://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/arsipaktua/belanda/400_tahun_voc.html-redirectedWaktu aku memproses ijin tinggal ini juga sempat ketemu orang Belanda yang ngomongnya menghina bangsa Indonesia. Ntar deh Insya Allah aku tulis di jilid berikutnya. Kejadian ini udah lama sekali, tahun 2006. Ada bagusnya gak aku tulis langsung setelah kejadian karena isinya begitu emosional. Setelah mengendap bertahun tahun, banyak yang gak pantas untuk dipublish. Jadi aku edit disana sini.

  22. enkoos said: Beres apa’an. Tambah rempong iya. Permintaan mereka makin aneh saja. Tunggu jilid berikutnya ya.

    Vie.. waktu gw nikah dulu itu… secara agama jadi ada pendeta plus petugas catatan sipil… Jadi pertama2 di nikahkan sama Pendeta..ada akte nikah dari gereja tsb. kemudian bagian si catatan sipil itu… kita musti ttd lagi akte yang di keluarkan catatan sipil. Setau gw… catatan sipil itu mendaftarkan perkawinan secara kenegaraan. Emang sih.. karena kristen gak seperti KUA.. yang tidak bisa mensahkan perkawinan secara kenegaraan.

  23. enkoos said: Beres apa’an. Tambah rempong iya. Permintaan mereka makin aneh saja. Tunggu jilid berikutnya ya.

    say, emang ga gampang ya kalo nikah beda negara itu.. saya nikah di State.. lalu 3 bulan kemudian kami melakukan lagi pernikahan di catatan sipil Perancis, nah sekarang, di Indo kami masih di bilang kumpul kebo karena ga nikah di KUA/ agama.. capeee dehh..hehehhehe

  24. enkoos said: Beres apa’an. Tambah rempong iya. Permintaan mereka makin aneh saja. Tunggu jilid berikutnya ya.

    aduuuuuuuuuhhhhhhhhhhbeneran makin puyeng deh*megangin kepala yang mule cenut-cenut**nunggu sambungannya*–>edit hurup

  25. enkoos said: Beres apa’an. Tambah rempong iya. Permintaan mereka makin aneh saja. Tunggu jilid berikutnya ya.

    Kekekekek nampaknya serial ini bakalan ngalahin Kho Ping Hoo nih..hi.hi.hi..

  26. enkoos said: “jangan sampe anak keturunanku ngemis cari makan sama Belanda.”

    eh mbahku juga pesan gitu.. kakek kita sama2 veteran yaaaa..duh kebangetan.. tapi punya temen2 belanda kog baik2 hati semua ya..

  27. enkoos said: Oleh karena itu pelajaran juga bagi yang lain, untuk mencegah hal hal seperti ini terjadi, bagi pasangan beda bangsa yang beragama Islam sewaktu akan menikah sebaiknya selain menghadirkan petugas dari KUA juga mendatangkan petugas dari Catatan Sipil sebagai saksi.

    MUlesssssssss bacanya…

  28. enkoos said: Oleh karena itu pelajaran juga bagi yang lain, untuk mencegah hal hal seperti ini terjadi, bagi pasangan beda bangsa yang beragama Islam sewaktu akan menikah sebaiknya selain menghadirkan petugas dari KUA juga mendatangkan petugas dari Catatan Sipil sebagai saksi.

    Jadi inilah pokok persoalannya Via, bisa nggak buku KUAnya ” dihilangkan ” 22nya lalu ulang lagi bikingnya, kali ini pake saksi catatan sipil ? *asbun*

  29. tintin1868 said: belanda kog masih arogansi soal begitu?bercerita begini kita2nya jadi tahu siap2 gitu..

    Aku baru nyadar kok, ternyata (pemerintah) Belanda arogan sekali. Tau kan kalau Kemerdekaan kita baru diakui tahun 1949? Tau juga kan mereka merayakan VOC setiap tahun? Dengan adanya kejadian ini, aku jadi tahu banyak kelakuan Belanda. Ibuku juga cerita kalau kakekku pernah ujar “jangan sampe anak keturunanku ngemis cari makan sama Belanda.”Kakekku kan pejuang Tin, dendam sekali sama Belanda.

  30. tintin1868 said: kenapa gitu ga pake “prinsip” dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.. jadi dimana kita menikah disitu kita pake buktinya.. sama2 menghormati toh..

    bersambungnya pilihan kedua, akhirnya beres?

  31. tintin1868 said: kenapa gitu ga pake “prinsip” dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.. jadi dimana kita menikah disitu kita pake buktinya.. sama2 menghormati toh..

    belanda kog masih arogansi soal begitu?bercerita begini kita2nya jadi tahu siap2 gitu..

  32. tintin1868 said: kenapa gitu ga pake “prinsip” dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.. jadi dimana kita menikah disitu kita pake buktinya.. sama2 menghormati toh..

    Itu juga yang sempat jadi bahan perdebatan kami. Apa gunanya Belanda memiliki perwakilan negaranya di Indonesia kalau aturan aturan di Indonesia gak dipahami? Amerika aja mengenal sistem pernikahan di Indonesia dan itu dibuktikan dengan diakuinya pernikahan kami yang dilakukan di Indonesia.

  33. tintin1868 said: pilihan ketiga,Menikah lagi di hadapan Catatan Sipil sehingga pencatatannya akan dikenal oleh pihak Belanda.>> sama pilihan ini mbakyuuuu.. kayanya kog ga masuk akal toh..

    Itulah yang aku bicarakan sama kangmas. kalau sebelumnya kami belum bercerita ke AB mengenai sistem pernikahan di Indonesia, lantas mereka mengajukan option itu, masuk akal mereka bilang begitu.Lha wong kami sudah bolak balik cerita sampe dower, udah macem kaset aja berulang ulang diputar.

  34. rengganiez said: emang mbulet mirip entut tentara beneran dehhh

    kenapa gitu ga pake “prinsip” dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.. jadi dimana kita menikah disitu kita pake buktinya.. sama2 menghormati toh..

  35. rengganiez said: emang mbulet mirip entut tentara beneran dehhh

    pilihan ketiga,Menikah lagi di hadapan Catatan Sipil sehingga pencatatannya akan dikenal oleh pihak Belanda.>> sama pilihan ini mbakyuuuu.. kayanya kog ga masuk akal toh..

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s