Fotografer juga manusia

Bertahun tahun didera kebimbangan hingga akhirnya bencana tsunami Aceh tahun 2004 menyadarkan dirinya. Ia menemukan jawaban atas kegamangan yang mendera hidupnya selama bertahun tahun dan kemudian mantap menjejakkan langkah di jalur fotografi sebagai pewarta foto.

***
Setelah lulus dari pendidikan teknik sipil tahun 1988, pria berkacamata ini mulai menekuni dunia fotografi dan kemudian menjadi penulis serta fotografer lepas selama dua tahun. Sebagian besar tulisan dan foto fotonya mengenai petualangan, hobi yang sudah mengakar dalam jiwanya. Masukan dari beberapa media yang menilai bahwa foto fotonya lebih kuat dan berkarakter dibanding tulisannya membuatnya fokus ke fotografi.

Beberapa jalur fotografi ditekuninya seperti fashion, produk, iklan dan jurnalistik. Dari semuanya itu, ia memilih jurnalistik karena sesuai dengan jiwa petualangannya. Ternyata dunia jurnalistik yang penuh kejutan lebih cocok dengan jiwa petualangan yang saya miliki. Memotret produk, model, iklan yang berkesan statis (meski bayarannya lebih besar) tidak menarik lagi buat saya,” tutur pria kelahiran Malang ini.

Karirnya semakin mantap dan tahun 1998 mulai bergabung di salah satu kantor berita asing. Demi tugas, satu per satu negara di kawasan Asia dijelajahinya dan sebagian besar merupakan liputan konflik dan bencana alam. Mulai dari Thailand, Philipina, konflik di Aceh sepanjang darurat militer, perang agama di Ambon, lepasnya Timor Timur dari Indonesia hingga penugasan selama empat bulan ke Afghanistan dan Pakistan seusai tragedi WTC (World Trade Center di kota New York, Amerika Serikat). Semua itu tentu bukan tanpa risiko. Kakinya tertembak sewaktu bertugas di Timor Timur.

Bukan itu saja risiko yang dihadapinya, tetapi juga hujatan para korban konflik dan korban bencana alam yang menjadi bahan liputannya. Saya ikut merasakan kesedihannya sewaktu membaca ceritanya, “Aku sering dihujat orang, mereka (para korban konflik ato korban gempa bumi) selalu bilang bahwa aku mendapat duit dari kesengsaraan mereka. Setiap kali akan pergi liputan, selalu pertanyaan itu bergema di otakku.”

Pada mulanya pria berputra tiga ini hanya menanggapi dengan senyuman. Seiring dengan berjalannya waktu, hujatan senada semakin banyak dan membuatnya serba salah. Hati kecilnya mengakui bahwa apa yang mereka katakan adalah benar adanya “digaji karena memotret mereka.” Perang batinpun tak terelakkan. Selama bertahun tahun kegamangan melanda, benarkah ini karir yang tepat untuknya?

Hingga suatu saat, kantor berita dimana dirinya bernaung memberi tugas untuk meliput tsunami Aceh tahun 2004. Bersama dengan beberapa teman sejawat, mereka tiba di Aceh melalui udara pada tanggal 27 Desember 2004, sehari setelah bencana tsunami memporak porandakan Aceh dan 11 negara lainnya.

Saat itu mereka termasuk rombongan jurnalis pertama yang datang di Aceh. Lelaki inipun bahkan belum memiliki gambaran seperti apa tsunami itu. Bandar udara Sultan Iskandar Muda begitu sepi, hanya ada satu ambulans. Supirnya seorang perempuan yang akrab dipanggil kak Nur dan sedang bertugas membawa korban tsunami ke Medan. Merekapun mendekati ambulans untuk negosiasi.
Singkat cerita, kak Nur bersedia membawa mereka ke kota, bahkan mengantar mereka dengan gratis, tetapi dengan syarat.

“Kak Nur menanyai kami satu persatu, namanya siapa, wartawan apa, kapan bisa mengirim berita. Aku jelaskan aku bisa kirim berita setelah motret saat itu juga. Kak Nur gak percaya, ia bilang gak ada telpon gak ada internet. Aku bilang aku bawa satphones (satelite telpon). Setelah aku jelaskan satphone, kak Nur mau lihat alatnya. Aku tunjukkan 2 satphones, satu buat foto dsan satu buat tv. Tanpa banyak tanya, kak Nur langsung mengangkat alat-alat itu masuk ambulans. “Ayo aku antar,” katanya.

Jadilah seharian kami semua berputar-putar di Banda Aceh diantar kak Nur dan s
uaminya. Meski aku sudah akrab dengan Banda Aceh tapi dia mengantar kami ke semua tempat terparah. Intinya Banda Aceh kota yang hampir hilang.
Kami bahkan mencuri bensin dari bangkai mobil yang berserakan. Disinilah aku baru tahu apa itu tsunami. Aku gak bisa memotret melihat ratusan mayat berserakan di tanah lapang. Aku shock.”
Butuh waktu dua jam baginya untuk menerima kenyataan tentang apa yang telah disaksikannya dan mencoba berpikir foto foto apakah yang bakal dibuatnya.
Singkat cerita, pada akhirnya pria tersebut mengirim enam buah foto. “Satu foto sebesar 250-300 kb membutuhkan waktu pengiriman 15-20 menit. Jadi ada dua jam lebih aku jongkok mengirim foto, ditemani Kak Nur, dicarikan minum, makanan seadanya. Aku diservis di situasi yang serba terbatas itu. Aku bilang diservis karena kak Nur dan suaminya berusaha keras membantu kami,” tuturnya lagi.

Setelah tugas selesai dan foto tersebar dimana mana, iapun bertanya kepada kak Nur, mengungkapkan rasa penasaran yang sudah dirasakannya pada saat kak Nur dan suaminya bersedia mengantarnya keliling Aceh bahkan menunggui foto-foto dan gambar tv itu terkirim. Jawaban kak Nur adalah, “kerusakan Aceh karena tsunami itu tidak mungkin diatasi orang Indonesia saja. Saya berpikir orang-orang di seluruh dunia harus tahu seperti apa tsunami itu karena (dia bilang) orang Aceh butuh orang-orang seluruh dunia untuk membantu mereka. Pertemuan saya dengan bapak di bandara merupakan jawaban dari Yang Maha Kuasa.”
Lebih lanjut kak Nur menambahkan bahwa itulah salah satu fungsi media.

“Aku seperti tersadarkan, itulah pekerjaanku, media penyampai. Aku sudah kemana-mana, tapi aku disadarkan oleh seorang sales obat di Aceh. Dunia memang penuh teka-teki. Kak Nur dan suaminya masih membantu kami hingga berbulan bulan kemudian.”
Semenjak itu, pria ini mantap dan tak gamang lagi dengan pilihannya sebagai jurnalis foto meskipun masih juga dimaki-maki ketika memotret konflik dan bencana. Setelah meliput bencana tsunami 2004 tersebut, ia mengalami gangguan psikologis, sering menangis sendiri. Meskipun sudah menjalani terapi, masih juga sering menangis sendiri meski gak separah dulu.
Bulan Desember 2009 pria ramah ini kembali lagi ke Aceh untuk merekam peringatan lima tahun bencana tsunami. Menyusuri jalan yang sama, rute yang sama dan mengunjungi tempat tempat yang sama seperti lima tahun sebelumnya namun dengan kondisi yang jauh berbeda. Tak lupa juga mengunjungi kak Nur dan suaminya.
Catatan:
Tokoh utama diatas adalah Beawiharta, seorang jurnalis foto kantor berita Reuters. Jalan karirnya menjadi bahan presentasi saya di mata kuliah News Photography jurusan Journalism. Karena ceritanya lain dari yang lain, mengulas sisi humanis si fotografer dan obyek liputannya serta berasal dari manca negara (semua mahasiswa di kelas saya mempresentasikan fotografer Amerika Serikat kecuali saya), maka saya mendapat nilai 41 dari total 40. Terima kasih mas Bea.
Foto foto dibawah adalah salah dua dari sekian banyak hasil karya Beawiharta. Foto paling atas adalah situasi di seputar masjid Baiturrahman sesaat setelah tsunami Aceh 2004, sedangkan foto kedua situasi di tempat yang sama lima tahun kemudian.

Beberapa foto hasil karya Bea yang lain bisa dilihat disini: www.boston.com, dan disini totallycoolpix.com. Pria baik hati ini juga memiliki galeri di lightstalkers.org namun masih belum banyak diisi meskipun saya yakin karyanya sudah ribuan.

Advertisements

120 thoughts on “Fotografer juga manusia

  1. enkoos said: Iya, Alhamdulillah banget. Syukurnya lagi, mas Bea bisa tenang dan kemudian mainkan kamera. Duh tuh orang nyalinya berlapis lapis.

    Dapat referensi dari sahabat. Luar biasa ceritanya. Sukaa… 🙂

  2. mellyheaven said: Ya amppuuuuunnn…. alhamdulillah gak kenapa2 yaa…

    Iya, Alhamdulillah banget. Syukurnya lagi, mas Bea bisa tenang dan kemudian mainkan kamera. Duh tuh orang nyalinya berlapis lapis.

  3. mellyheaven said: Ooohhh… Ya ampuuunnn…Ok, nanti kalo ketemu aku salamin dari mba Evia ya??

    Ho oh. Evia. O iya, waktu di pesawat itu mas Bea sekeluarga komplit. tiga anak dan istrinya. Duhh..baca ceritanya miris.

  4. enkoos said: kasian. mas Bea barusan naik pesawat yang nyaris kecelakaan. mesinnya kebakar. di dalam pesawat masih sempat bikin liputan. Salam buat mas Bea yoo..

    Ooohhh… Ya ampuuunnn…Ok, nanti kalo ketemu aku salamin dari mba Evia ya??

  5. mellyheaven said: Akuh kenal mas Bea…Satu gedung soale, dia di lantai 16, aku di 18, hehe…tp jarang ketemu =PKatanya, kmrn sempet bedrest juga karena tulang belakangnya kejepit gara2 keseringan bawa2 kamera segede2 gaban -___-

    kasian. mas Bea barusan naik pesawat yang nyaris kecelakaan. mesinnya kebakar. di dalam pesawat masih sempat bikin liputan. Salam buat mas Bea yoo..

  6. moestoain said: Awak kumus kepanasan..sampek mampus ra gelem tukaran hahaha

    Akuh kenal mas Bea…Satu gedung soale, dia di lantai 16, aku di 18, hehe…tp jarang ketemu =PKatanya, kmrn sempet bedrest juga karena tulang belakangnya kejepit gara2 keseringan bawa2 kamera segede2 gaban -___-

  7. moestoain said: Awak kumus kepanasan..sampek mampus ra gelem tukaran hahaha

    mesem thok? kecutiwak kothok? kebacutraine pucet ketemu gurumotoku mbleret wayahe turukomat kamit gombal mukiyoaku tak pamit sik yo

  8. moestoain said: Gak usah adoh adoh.. lha kie sing dijak ngomong sering ngerasakno masiyo gak tau dibayar, soale ancen gak kerjo gawe sopo2 hehehe

    betul. berbagi dan mengabarkan. apapun medianya. lak ngono yo, jarene cak Kartolo.

  9. moestoain said: Gak usah adoh adoh.. lha kie sing dijak ngomong sering ngerasakno masiyo gak tau dibayar, soale ancen gak kerjo gawe sopo2 hehehe

    Hehehe.. mbuh opo sebutane.. sing penting nulis lan njepret..walah pean yo seneng nulis lan njepret lho.. brarti pean yo jurnalis..intine berbagi lan mengabarkan..

  10. enkoos said: nek kasuse jurnalis sing tak critakno iku, dudu apatis kata sing tepak. tapi tabah. nek mas Bea masa bodoh, acuh tak acuh dekne ra bakal mengalamai gangguan psikologis. Atine remuk. Akeh contone jurnalis sing terkena gangguan psikologis mergo tugase.

    Gak usah adoh adoh.. lha kie sing dijak ngomong sering ngerasakno masiyo gak tau dibayar, soale ancen gak kerjo gawe sopo2 hehehe

  11. moestoain said: Owalah lek iku onoke nanggone njetis hehehetapi lek apa.tis iku[a] acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodohJarene kamus tapi jyeh mbuh lek jare wong liyoo hehehe

    nek kasuse jurnalis sing tak critakno iku, dudu apatis kata sing tepak. tapi tabah. nek mas Bea masa bodoh, acuh tak acuh dekne ra bakal mengalamai gangguan psikologis. Atine remuk. Akeh contone jurnalis sing terkena gangguan psikologis mergo tugase.

  12. enkoos said: apatis kuwi bumbune khas suroboyo. tahu apatis, apatis udang.

    Owalah lek iku onoke nanggone njetis hehehetapi lek apa.tis iku[a] acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodohJarene kamus tapi jyeh mbuh lek jare wong liyoo hehehe

  13. enkoos said: iku ngono jenenge dudu apatis rek, tapi tataq. apatis ki pasrah ra gelem usahahahaha…Ha ne akeh soale ancen kudu usaha keras.

    Coba didelok disek opo makna apatis hahaha… *dikeplaki wong suroboyo

  14. moestoain said: Lha iku.. buktinya yo kudu tak acuh karo kejadian sing onok.. masiyo ta mblenek ndelok wong mati kembang kembung tapi demi sebuah niat baik gelem gak gelem kudu dijalani.. masyo kudu muntah geteh

    iku ngono jenenge dudu apatis rek, tapi tataq. apatis ki pasrah ra gelem usahahahaha…Ha ne akeh soale ancen kudu usaha keras.

  15. moestoain said: Hmm seorang jurnalis harus apatis kritis.

    Lha iku.. buktinya yo kudu tak acuh karo kejadian sing onok.. masiyo ta mblenek ndelok wong mati kembang kembung tapi demi sebuah niat baik gelem gak gelem kudu dijalani.. masyo kudu muntah geteh

  16. ohtrie said: huuuu….beneran tingkat tinggiiii… le munggah nganggo andhaaa…. *munggah temangsang ndhuwur kulkas Hongkong maksude, wakakakak….#mlayuuuuuuuu

    hahahahahaha…kurang dukurrrrrrrnganti ndukur gentheng.

  17. enkoos said: soale wis suwe ra chating. hihihihi..Ge eR tingkat tinggi.

    huuuu….beneran tingkat tinggiiii… le munggah nganggo andhaaa…. *munggah temangsang ndhuwur kulkas Hongkong maksude, wakakakak….#mlayuuuuuuuu

  18. ohtrie said: wong siji iki ngapa ta kok nyasar nyusur tekan keneeeeeee……meshi nginthil terusssss, pingin diphoto yaa..? :))

    dekne kangen karo aku, soale wis suwe ra chating. hihihihi..Ge eR tingkat tinggi.

  19. rieblora said: membaca ini ga sadar melu brebes mili…membayangkan aq dicacimaki korban tsunami…hiks…

    wong siji iki ngapa ta kok nyasar nyusur tekan keneeeeeee……meshi nginthil terusssss, pingin diphoto yaa..? :))

  20. rengganiez said: masalahnya apakah yang dipilih ada yang pantas untuk kita??…bicara politik bukan hanya soal pilihan rakyate mbak..tapi sistem juga dan permainan politik yang main didalamnya. Sekarang saja nih lg rame soal korupsi di kementerian pemuda dan olahraga. Jelas2 melibatkan bendahara partai demokrat..jelang 2014 pada sibuk nyari dana, salah satunya main di proyek2 pemerintah. Begitu kasusnya terungkap dan ada partai besar yang main, KPK-nya gak berani..sekarang sibuk nutupin aip buat menyelamatkan partai. Akhirnya yahhh banyak adegan lucu2 bin miris..bin marai misuh.

    haduhhhhh mumet mbak. akar permasalahannya KORUPSI. Diberantas sampe abis seperti di Cina itu. Caranya begitu kejem tapi lumayan bisa bikin keder.

  21. enkoos said: iya, masyarakat sekarang makin pinter. jadi mikir juga, pemilu berikutnya, apakah masyarakat juga pinter untuk memilih siapa yang pantas untuk mewakili kita? sistem pemilihan di Indonesia ini tak roso mbulet dan gak transparan. Partai itu apa, dan mekanismenya gimana gak jelas sama sekali. Ini kalau dibandiingkan dengan sistem di US yang menurutku simpel.

    *nyimak aja ya :)termasuk komen2nya

  22. enkoos said: iya, masyarakat sekarang makin pinter. jadi mikir juga, pemilu berikutnya, apakah masyarakat juga pinter untuk memilih siapa yang pantas untuk mewakili kita? sistem pemilihan di Indonesia ini tak roso mbulet dan gak transparan. Partai itu apa, dan mekanismenya gimana gak jelas sama sekali. Ini kalau dibandiingkan dengan sistem di US yang menurutku simpel.

    *nyimak aja ya :)termasuk komen2nya

  23. enkoos said: iya, masyarakat sekarang makin pinter. jadi mikir juga, pemilu berikutnya, apakah masyarakat juga pinter untuk memilih siapa yang pantas untuk mewakili kita? sistem pemilihan di Indonesia ini tak roso mbulet dan gak transparan. Partai itu apa, dan mekanismenya gimana gak jelas sama sekali. Ini kalau dibandiingkan dengan sistem di US yang menurutku simpel.

    masalahnya apakah yang dipilih ada yang pantas untuk kita??…bicara politik bukan hanya soal pilihan rakyate mbak..tapi sistem juga dan permainan politik yang main didalamnya. Sekarang saja nih lg rame soal korupsi di kementerian pemuda dan olahraga. Jelas2 melibatkan bendahara partai demokrat..jelang 2014 pada sibuk nyari dana, salah satunya main di proyek2 pemerintah. Begitu kasusnya terungkap dan ada partai besar yang main, KPK-nya gak berani..sekarang sibuk nutupin aip buat menyelamatkan partai. Akhirnya yahhh banyak adegan lucu2 bin miris..bin marai misuh.

  24. rengganiez said: itulahhh….makane ngenes…tergantung juga sama konsumennya, nah skg sudah mulai tuh sedikit demi sedikit pada protes kalo media sudah kebangeten. Pas merapi meletus khn tipi banyak yang diprotes karena mengumbar dramatisasi. Meski masih bandel, tapi gak separah dulu..hanya masyarakat yang bisa membuat perubahan.

    iya, masyarakat sekarang makin pinter. jadi mikir juga, pemilu berikutnya, apakah masyarakat juga pinter untuk memilih siapa yang pantas untuk mewakili kita? sistem pemilihan di Indonesia ini tak roso mbulet dan gak transparan. Partai itu apa, dan mekanismenya gimana gak jelas sama sekali. Ini kalau dibandiingkan dengan sistem di US yang menurutku simpel.

  25. enkoos said: Betul ada kode etiknya. Aku belajar kode etik setelah disini terus aku bandingkan juga dengan liputan media media di Indonesia. Ming iso gedeg2 mbak. Secara kode etik, mayat gak boleh diperlihatkan cetho welo welo, tapi di media Indonesia yang aku liat, jangankan mayat, wong mayat remuk ki digambarkan dengan jelas sekali. Belum lagi acara tivi opo kuwi sing maling digebuki. Ya ampun Gustiiiiii..

    itulahhh….makane ngenes…tergantung juga sama konsumennya, nah skg sudah mulai tuh sedikit demi sedikit pada protes kalo media sudah kebangeten. Pas merapi meletus khn tipi banyak yang diprotes karena mengumbar dramatisasi. Meski masih bandel, tapi gak separah dulu..hanya masyarakat yang bisa membuat perubahan.

  26. rengganiez said: Kevin Frayer anak AP ketemu pas training soal trauma dan journalist…pas banget sama tema yang sampeyan angkat itu mbak..huhuhuhu…poto2nya yang gak dipublish ngeri2 pisan. Khan ada kode etiknya juga, jika tak semua poto bisa naik cetak..tapi tetep dipoto buat dokumen. si Kevin ini juga finalis Pulitzer untuk liputan Libanon ama Afganistan. Sekarang masih di kashmir

    Betul ada kode etiknya. Aku belajar kode etik setelah disini terus aku bandingkan juga dengan liputan media media di Indonesia. Ming iso gedeg2 mbak. Secara kode etik, mayat gak boleh diperlihatkan cetho welo welo, tapi di media Indonesia yang aku liat, jangankan mayat, wong mayat remuk ki digambarkan dengan jelas sekali. Belum lagi acara tivi opo kuwi sing maling digebuki. Ya ampun Gustiiiiii..

  27. enkoos said: sopo mbak? wong Indonesia kah?Aku tahu seorang fotografer yang banyak meliput perang dan konfilik. Sudah ada film dokumenternya. Tahu bukan berarti kenal tapi sering baca dan sempat jadi bahan diskusi di kelas. Tapi entah kenapa sepertinya bukan bahasan yang menarik. Apa karena mengumbar kesedihan atau gimana, mbuh. Si fotografer ini udah gaek, umurnya diatas 60 tahun tapi belum menikah. Alasannya, karena nggak mau menyakiti orang yang mencintainya. Duhh…*terguguk diam*Pekerjaannya penuh risiko, kalau sewaktu waktu mati di medan perang gak ada yang harus kehilangan. Meskipun gak ikut perang, tapi toh sama saja taruhannya nyawa. Namanya James Nachtwey.

    Kevin Frayer anak AP ketemu pas training soal trauma dan journalist…pas banget sama tema yang sampeyan angkat itu mbak..huhuhuhu…poto2nya yang gak dipublish ngeri2 pisan. Khan ada kode etiknya juga, jika tak semua poto bisa naik cetak..tapi tetep dipoto buat dokumen. si Kevin ini juga finalis Pulitzer untuk liputan Libanon ama Afganistan. Sekarang masih di kashmir

  28. rengganiez said: kemarin ngobrol hal yang sama dengan salah satu fotografer perang…dan kami lebih banyak terdiam..

    sopo mbak? wong Indonesia kah?Aku tahu seorang fotografer yang banyak meliput perang dan konfilik. Sudah ada film dokumenternya. Tahu bukan berarti kenal tapi sering baca dan sempat jadi bahan diskusi di kelas. Tapi entah kenapa sepertinya bukan bahasan yang menarik. Apa karena mengumbar kesedihan atau gimana, mbuh. Si fotografer ini udah gaek, umurnya diatas 60 tahun tapi belum menikah. Alasannya, karena nggak mau menyakiti orang yang mencintainya. Duhh…*terguguk diam*Pekerjaannya penuh risiko, kalau sewaktu waktu mati di medan perang gak ada yang harus kehilangan. Meskipun gak ikut perang, tapi toh sama saja taruhannya nyawa. Namanya James Nachtwey.

  29. enkoos said: Setelah meliput bencana tsunami 2004 tersebut, ia mengalami gangguan psikologis, sering menangis sendiri. Meskipun sudah menjalani terapi, masih juga sering menangis sendiri meski gak separah dulu.

    *terdiam*

  30. myshant said: maturnuwun ya mbak, jadi nambah wawasan tentang dunia perpotoanmb Evia bisa aja nyari bahan penelitian, jempol …keren banget nilai presentasinya, jadi inget Jack di Junior masterchef yg masakannya dapet nilai 11 dari skala 1-10 🙂

    Sama sama Shanti. Nyarinya pake network, temennya temennya temen. Syukurlah mas Bea bersedia diwawancarai. Orangnya baik dan ramah.

  31. anotherorion said: durung e

    maturnuwun ya mbak, jadi nambah wawasan tentang dunia perpotoanmb Evia bisa aja nyari bahan penelitian, jempol …keren banget nilai presentasinya, jadi inget Jack di Junior masterchef yg masakannya dapet nilai 11 dari skala 1-10 🙂

  32. ohtrie said: n minggu2 ini sepertinya mulai bergerak demi dinamisnya suasana mBakkk, tak memandang hanya di satu sisi OS pun di satu sisi blogger, namun keduanya tetap berkiprahdan bersinergi… moga terjaga eksistensinya wiss..

    bagus deh kalau gitu. wong sebetulnya OS maupun non OS saling tergantung.

  33. enkoos said: taun iki aku ra mudik. Insya Allah taun ngarep. taun iki kopdar perdana karo empi rep yo?

    nice story mba,trnyta seorang Fhotografer itu bukannya enak ya mba..terharu ples merinding lihat gambar tsunami itu mba

  34. enkoos said: taun iki aku ra mudik. Insya Allah taun ngarep. taun iki kopdar perdana karo empi rep yo?

    rencananya begitu mBak…n minggu2 ini sepertinya mulai bergerak demi dinamisnya suasana mBakkk, tak memandang hanya di satu sisi OS pun di satu sisi blogger, namun keduanya tetap berkiprahdan bersinergi… moga terjaga eksistensinya wiss…

  35. ohtrie said: hemmmm…so amazingg…..makasi berbaginya mBakk…..sukses ya… tahun ini gak bisa ketemu lagi yaa…?

    taun iki aku ra mudik. Insya Allah taun ngarep. taun iki kopdar perdana karo empi rep yo?

  36. mychocolatebox said: jempol utk mba ev n mas bea….suka fotografi tp blm mampu beli alatnya nih..mau nyumbang dana? hihihihi..

    hemmmm…so amazingg…..makasi berbaginya mBakk…..sukses ya… tahun ini gak bisa ketemu lagi yaa…?

  37. mychocolatebox said: jempol utk mba ev n mas bea….suka fotografi tp blm mampu beli alatnya nih..mau nyumbang dana? hihihihi..

    boleh, dananya kuanter langsung di depan rumah ya? Kutunggu kiriman tiket Duluth – Jogja pp :))

  38. aniadami said: kasian banget mba, kenapa? masih tetap berkarya kah beliau?

    Alhamdulillah mas Bea masih berkarya. Sering menangis, ya karena melihat dengan mata kepala sendiri kerusakan yang terjadi di Aceh akibat tsunami. Bukan cuma rusak, tapi menyaksikan ratusan mayat yang tergeletak tak terurus dimana mana, tumpang tindih dengan barang apa saja, dari mobil, bangkai binatang ternak, sampah, duhhhh…Miris.

  39. anazkia said: Anaz masih patokan make M aja, Mbakbelum bisa eksplore ke yang A, S dan P

    P hampir seperti AutoA dan S biasanya berguna kalau kondisi butuh cepet dan gak mau melewatkan momen. Aku sering pake untuk menghasilkan efek panning.

  40. enkoos said: Setelah meliput bencana tsunami 2004 tersebut, ia mengalami gangguan psikologis, sering menangis sendiri. Meskipun sudah menjalani terapi, masih juga sering menangis sendiri meski gak separah dulu.

    kasian banget mba, kenapa? masih tetap berkarya kah beliau?

  41. zaffara said: Tidak cm mas Bea yg hebat, mb.Evi jg hebaaattt…..aku kagum mb.Evi bisa punya ide mengangkat sisi humanis fotografernya.Salut ! ^^

    mmmmm… gimana ya *garuk garuk kepala*karena obyeknya (mas Bea) keren, siapapun yang mempresentasikan ya ikut terangkat. Jadi intinya, mas Bea ah yang hebat.

  42. anazkia said: Anaz tuh mbayangin kalau nggak biasa setting, kan susahkayaknya kalau yang dah profesional ngelihat situasi udah bisa langsung setting yah, Mbak?

    Kameranya disetting A (apperture priority) atau S (Shutter priority) atau P (Programmed) atau Auto sekalian. Yang dicari adalah momen dan sudut pandangnya (angle). Itu yang aku pelajari di kampus.Beda dengan foto salon yang mengedepankan keindahan. Gak ngerti apa tepatnya istilah untuk foto foto keindahan, tapi begitulah aku mengistilahkan. Foto Salon yang termasuk di dalamnya adalah pemandangan, foto still life, foto makanan.

  43. enkoos said: Tuntutan tugas Naz, wajar itu. Persiapan dan peralatan harus siap kalau mau memburu berita. Kan gak lucu kalau pas ada momen di depan mata, lensa harus diganti. Sepersekian detik momen tak akan terulang lagi. Aku pernah melihat cara kerja fotografer khusus Gedung Putih. Tangan sudah gak liat lagi waktu ganti lensa, saking udah biasanya tetapi itupun masih terlambat.

    Iya yah, Mbak?Untuk media malah lebih susah :(Butuh kecekapan, ketelitian..Anaz tuh mbayangin kalau nggak biasa setting, kan susahkayaknya kalau yang dah profesional ngelihat situasi udah bisa langsung setting yah, Mbak?

  44. mayamulyadi said: speechless… memang benar ya, mba.. kadang jadi fotografer sering dimaki2…*aku baru tahu mba Evi ikut kelas fotografi. keren 🙂

    fotografer didalam naungan sebuah media atau kantor berita dimaki maki, kebayang aja gimana fotografer freelance, sering ditanya tanya dari media mana. Bingung jawabnya. Kalau di Amerika, udah biasa dengan fotografer freelance, kalau di Indonesia (di pelosok) banyak yang belum tahu dan gak paham dengan fotografer freelance. Mereka sering minta bukti, padahal foto foto terkadang belum tentu dimuat.

  45. anazkia said: Weh, make dua kemare tiga lensa

    Tuntutan tugas Naz, wajar itu. Persiapan dan peralatan harus siap kalau mau memburu berita. Kan gak lucu kalau pas ada momen di depan mata, lensa harus diganti. Sepersekian detik momen tak akan terulang lagi. Aku pernah melihat cara kerja fotografer khusus Gedung Putih. Tangan sudah gak liat lagi waktu ganti lensa, saking udah biasanya tetapi itupun masih terlambat.

  46. lafatah said: Tapi, kalo boleh milih (ini sih masalah selera), saya masih lebih cinta sama karya-karya fotografi sampeyan 🙂

    weqeqeqeqeqe….aku juga lebih pede motret dibanding nulis. Tulisanku masih suka belepotan, gak jelas apa maunya. Nulis juga masih tergantung mood.

  47. penuhcinta said: Lebih luar biasa lagi karena bisa mengangkat fotografer Indonesia.

    Nah itu dia tujuan utamaku Ir, mengangkat fotografer Indonesia supaya lebih dikenal. Selain itu, sisi humanisnya juga sangat kental dibandingkan dengan temen2 sekelas. Mereka kebanyakan mempresentasikan fotografer olahraga, majalah makanan dan landscape. Fotografer liputan tragedi ming aku thok, itupun yang aku ulas lebih ke sisi personalnya si fotografer.

  48. anazkia said: Wehh, seriyus kie, Mbak Yu?Murahe…*ngutek2 file, itu bisa dipake NIKON gak?*Kayaknya enggak Fuji Finepix, beda kan sama Tokina?

    Kameranya merk Fuji Finepix, bukan lensanya yang merek Fuji Finepix. Karena kamera prosumer, lensanya juga khusus, yang model ditempel le bodi kamera Naz. Kameranya kan bukan SLR jadi lensanya gak bisa dilepas. Bisa dipake Nikon? Wah gak bisa jawab, karena kami cuma punya satu prosumer, ya punya suamiku itu. Fuji Finepix beda dengan Tokina.

  49. beautterfly said: gandeng m.anaz

    Kalo Mbak Evia, tulisan maupun fotonya berimbang kekuatannya.Tapi, kalo boleh milih (ini sih masalah selera), saya masih lebih cinta sama karya-karya fotografi sampeyan 🙂 Hidup!

  50. enkoos said: eh kapan hari suamiku beli lensa fish eye untuk kamera prosumernya. Fuji Finepix. Lensa murah cuma 39 dolar.

    Mba anaz, plis deh jgn begitu, wong sudah keliatan bgt hasil poto2nya bagus, lha kalo mba anaz ga bs, sy apa dong? Buta fotografi ;p. Sama2 belajar aja gituu, yukk *gandeng m.anaz* hehehewaw! Keren mba ev essaynya. Pantes dpt 41. Well done..

  51. enkoos said: eh kapan hari suamiku beli lensa fish eye untuk kamera prosumernya. Fuji Finepix. Lensa murah cuma 39 dolar.

    Wehh, seriyus kie, Mbak Yu?Murahe…*ngutek2 file, itu bisa dipake NIKON gak?*Kayaknya enggak Fuji Finepix, beda kan sama Tokina?

  52. anazkia said: Banting kamera boleh, Mbak? :((Masih terpaku pada alat huaaaa

    mbok ya jangan dibanting, sini kasih ke aku aja :))Kamera itu sekedar alat. Yang penting the person who push the shutter, the person behind the viewfinder.eh kapan hari suamiku beli lensa fish eye untuk kamera prosumernya. Fuji Finepix. Lensa murah cuma 39 dolar.

  53. anazkia said: Meratapi diri yang gak bisa fotografi 😦

    haishh kok malah meratap, usaha Naz usaha. Belajar. Mas Bea ini juga otodidak lho. Latar belakang pendidikannya bukan fotografi. Dikasih tulisan ini salah satu maksudnya kan buat membangkitkan semangat. Ayo jangan meratap lagi.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s