[ASL] Mengapa ASL?

Mengapa tidak?
 
***
ASL (American Sign Language) adalah bahasa isyarat Amerika untuk Tuna Rungu/Tuna Wicara.
 
Saya sangat suka mempelajari bahasa, apapun itu entah bahasa asing maupun bahasa daerah, termasuk juga bahasa isyarat. Awal ketertarikan saya dengan bahasa isyarat adalah sewaktu menonton pelantikan presiden Obama di tahun 2009. Disitu saya melihat ada penterjemah bagi Tuna Rungu/Tuna Wicara yang berada di tempat yang sama dengan presiden Obama alias live show. Aksi si penterjemah yang begitu ekpresif membuat saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut.
 
Pertengahan tahun 2010 saya melihat banyak pamflet mengenai program ASL di tempat saya menimba ilmu, kampus UMD (University of Minnesota Duluth). Tanpa menunggu lama sayapun mendaftar. Hari pertama belajar sudah langsung berkomunikasi dengan bahasa isyarat, tentunya dengan bantuan penterjemah. Dosennya juga seorang Tuna Rungu. Dia bercerita sekilas mengenai dirinya yang terlahir normal. Karena kecelakaan, iapun kehilangan kemampuan pendengaran di saat berusia sepuluh tahun.
 
Semakin lama saya belajar semakin saya tahu bahwa para Tuna Rungu/Tuna Wicara memiliki komunitas sendiri yang situasinya sangat mirip dengan komunitas etnik. Bahasa isyarat bahkan dianggap dan diperlakukan seperti bahasa bahasa asing lainnya.
 
Kalau boleh dianalogikan, komunitas Tuna Rungu/Tuna Wicara adalah seperti komunitas satu suku bangsa. Disana berkumpul orang orang yang menggunakan bahasa yang sama, memiliki keterikatan yang sama, mengikuti perkembangan tentang komunitas mereka dibelahan bumi yang lain dan juga berbagi informasi tentang apa saja yang berkaitan dengan komunitas mereka. Sama seperti komunitas orang orang Batak di Belanda umpamanya.
 
Apakah berarti orang orang bukan Tuna Rungu/Tuna Wicara tidak bisa masuk kesana? Oh siapa bilang. Boleh banget. Waktu program ASL baru diluncurkan di UMD musim gugur tahun 2008, peminatnya membludak. Bahkan banyak yang harus rela berada dalam daftar tunggu, meskipun pihak universitas telah membuka delapan kelas reguler yang tiap kelasnya berkapasitas 30 bangku. 8 x 30 = 240. Luar biasa antusiasmenya.
 
Mahasiswa tidak melulu belajar bahasa isyarat tetapi juga sejarah dan budaya ASL, sama seperti pelajaran bahasa bahasa lain. Sebagaimana mata kuliah mata kuliah lainnya, mahasiswa juga diberi pilihan untuk mengerjakan tugas tambahan diluar tugas wajib demi mendapatkan ekstra poin. Ekstra poin ini cukup membantu kalau nilai dari tugas tugas wajib kita jeblok. Tetapi kalau nilai kita sudah cukup bagus, dengan mengerjakan tugas tambahan tersebut tentunya poin kita juga lebih bagus.
 
Tujuan utama diadakannya ekstra poin ini adalah untuk lebih terbiasa dan lebih memahami budaya Tuna Rungu/Tuna Wicara. Demi supaya lebih memahami budaya Tuna Rungu/Tuna Wicara itulah, beberapa minggu lalu saya menonton film “See What I’m Saying” selain juga untuk mendapatkan ekstra poin. Film yang mengisahkan jatuh bangunnya perjuangan empat orang Tuna Rungu untuk mengadakan pertunjukkan di luar komunitas Tuna Rungu. Satu aktor, satu komedian, satu penyanyi rock dan satu drummer.
 
Sang aktor Robert DeMayo adalah seorang penterjemah panggung teater. Bayarannya sebagai penterjemah teater tak mencukupi untuk hidup sehari hari sehingga iapun menjadi homeless.
 
Sang komedian CJ Jones adalah Tuna Rungu berkulit hitam yang kiprahnya sudah dikenal di komunitas Tuna Rungu, namun tidak demikian di luar komunitas tersebut. Kekecewaan demi kekecewaan harus ditelannya sehingga iapun memutuskan tak akan mencoba lagi mengadakan pertunjukkan di luar komunitas Tuna Rungu/Tuna Wicara.
 
Akan halnya penyanyi rock TL Forsberg, perjuangannya tak kalah dahsyatnya. Cemooh dari kalangan Tuna Rungu karena dia tidak terlalu deaf dan tidak terlalu mendengar. Saya kurang tau apa terjemahan yang baik untuk deaf dalam bahasa Indonesia. Mereka (kaum Tuna Rungu di Amerika) lebih suka menyebut dirinya deaf ketimbang istilah lain seperti hearing impaired. Dosen saya pernah menjelaskan tapi saya lupa apa.
 
Terakhir adalah sang drummer Bob Hiltermann. Terlahir tuna rungu, Bob kecil sering mendengar kata kata ibunya “su
dahlah kamu gak bisa mendengar ngapain juga main band.” Begitu juga lingkungannya yang meremehkan keinginannya untuk bermain musik sehingga diapun beranggapan tak bakal bisa sampai kapanpun bermain musik akibat keterbatasannya tersebut. Siapa sangka di usianya yang termasuk senja keinginan masa kecilnya bisa tercapai. Menjadi drummer. Tentu bukan jalan mudah. Penuh onak dan duri tetapi bukan berarti tidak mungkin. Kata kata yang melecut semangatnya adalah “musik lahir dari hati bukan dari telinga.” Dibawah ini adalah trailer fom “See What I’m Saying” sedangkan di bawahnya lagi adalah soundtrack film yang ditulis oleh grup musik Powder dan diperankan oleh beberapa aktor tuna rungu termasuk pemeran ciliknya.
 
Advertisements

76 thoughts on “[ASL] Mengapa ASL?

  1. enkoos said: kwkwkwkwwkwkw…..mau saya bawain dari sini? tinimbang tuku bajakan mas, sakno produser’e.nggawe filme ampek ngemis2 golek dana. Aktornya sebagian besar tuna rungu. Mereka berjuang supaya diterima dikalangan orang normal. Begitu film jadi, malah dibajak. Gak sakno tah?

    Nah, ketemu nih, bisa di download di http://www.torrentreactor.net/torrents/3295321/DO-YOU-SEE-WHAT-I%27M-SAYING%3F-Secrets-of-Body-Language-Made-Simplepake uTorrent yak downloadnya… 😉

  2. enkoos said: kwkwkwkwwkwkw…..mau saya bawain dari sini? tinimbang tuku bajakan mas, sakno produser’e.nggawe filme ampek ngemis2 golek dana. Aktornya sebagian besar tuna rungu. Mereka berjuang supaya diterima dikalangan orang normal. Begitu film jadi, malah dibajak. Gak sakno tah?

    hahaha, bukan bajakan sih, tetap asli biasanya, tapi “dipinjamkan” oleh mereka yang sudah punya, via online gitchu *beda kan… hehehe….bolehlah saya dikirimkan filenya-nya mba 😀

  3. subhanallahu said: iyak, muahal amat…hehecoba saya cari bajakan di dunia torrent/p2p, mungkin udah ada 😀

    kwkwkwkwwkwkw…..mau saya bawain dari sini? tinimbang tuku bajakan mas, sakno produser’e.nggawe filme ampek ngemis2 golek dana. Aktornya sebagian besar tuna rungu. Mereka berjuang supaya diterima dikalangan orang normal. Begitu film jadi, malah dibajak. Gak sakno tah?

  4. subhanallahu said: o, dari sini toh, asal obrolan ASL…. pelem See What I’m Saying udah ada di Indo belum ya?

    Saya gak tau filmnya udah beredar atau belum di Indonesia tetapi di Amerika DVDnya sudah beredar awal Feb 2011. Flmnya sendiri launching tanggal 19 Maret 2010.Kalau mau beli DVDnya, ada info disini: http://www.seewhatimsayingmovie.com/Harganya mahal, USD 29.95 USD. Gak rekomen beli disana deh. Mending cari di Amazon. Yang baru USD 12.94 dan yang bekas lebih murah lagi, USD 11.68. http://www.amazon.com/See-What-Im-Saying-Jones/dp/B0044M2OSG

  5. luqmanhakim said: He he he, iya, bener. Btw tumben Irma belom nongol. Jam segini masih siang di sonoh, ya Mbak?Irma blanja dulu ngkali…

    o, dari sini toh, asal obrolan ASL…. pelem See What I’m Saying udah ada di Indo belum ya?

  6. luqmanhakim said: He he he, iya, bener. Btw tumben Irma belom nongol. Jam segini masih siang di sonoh, ya Mbak?Irma blanja dulu ngkali…

    lagi asik ngegowes dia. cari bunga2. iya, jam 2 siang. lagi bikin soto.sapa juga yang nanya. yah sapa tau minta suguhan :))

  7. enkoos said: yaela Man, tenang aja. bahkan sampe OOT berpanjang riapun gak masalah. Eh, aku pernah juga dilapakmu, berOOT sama Irma. ampun de.

    He he he, iya, bener. Btw tumben Irma belom nongol. Jam segini masih siang di sonoh, ya Mbak?Irma blanja dulu ngkali…

  8. revinaoctavianitadr said: Eh, sempet nyobain ICQ enggak, Man?

    Nggak seasyik MIRC, Vin, lagian dulu itu jaman aku masih jadi kuli tinta di Jawa Pos, tiap chatting diteriakin redaktur melulu, tulisan belom kelar padahal udah mau deadline, malah asyik ngegombal di MIRC…

  9. enkoos said: praktek sendiri aja, kalau masih punya bukunya. aku juga belajar sendiri di rumah. waktu ujian kemarin, anakku tak suruh ngetes. Ada imbasnya, anak dan suamiku bisa ngerti dikit2 ASL. Oh iya, kalau masih minat, bisa juga belajar online lewat beberapa situs, salah satunya http://www.aslpro.com/

    bukunya udah gak ada mba, entah kemana… makasih infonya mba.. aku cek ke tkp ^_^

  10. iahsunshine28 said: blum mba… dulu pernah liat sekilas buku petunjuknya, tapi gak diterusin, gak ada teman belajar… sedangkan temanku itu udah keburu pindah rumah ^_^

    praktek sendiri aja, kalau masih punya bukunya. aku juga belajar sendiri di rumah. waktu ujian kemarin, anakku tak suruh ngetes. Ada imbasnya, anak dan suamiku bisa ngerti dikit2 ASL. Oh iya, kalau masih minat, bisa juga belajar online lewat beberapa situs, salah satunya http://www.aslpro.com/

  11. iahsunshine28 said: emm…memang menarik mempelajari berbagai bahasa ya mba… termasuk bahasa isyarat… aku pernah juga mau belajar bahasa isyarat, karena waktu kecil punya teman sepermainan yang tuna rungu, supaya bisa ngobrol sama dia ^_^

    udah bisa bahasa isyarat mbak?

  12. tintin1868 said: apalagi dunia pekerja.. tapi biar gitu banyak kog yang peduli.

    emm…memang menarik mempelajari berbagai bahasa ya mba… termasuk bahasa isyarat… aku pernah juga mau belajar bahasa isyarat, karena waktu kecil punya teman sepermainan yang tuna rungu, supaya bisa ngobrol sama dia ^_^

  13. yenisfamilyblog said: kalo orang bukan tuna rungu masuk kesana,yang kebingungan siapa ya..??yg asl tuna rungu atay yg gak,hihi

    gak ada yang bingung Yen. Yang baru masuk (non tunarungu) sering takjub, yang sudah lama masuk ikut berbaur, ngobrol dan menyapa kiri kanan dengan bahasa isyarat.

  14. debapirez said: dulu, di stasiun2 TV Indonesia pernah digalakan program spt itu di pjok bawah deh khusus utk mengakomodir Tuna Rungu utk setiap program berita. skrg malah ga ada lg…

    kalo orang bukan tuna rungu masuk kesana,yang kebingungan siapa ya..??yg asl tuna rungu atay yg gak,hihi

  15. debapirez said: dulu, di stasiun2 TV Indonesia pernah digalakan program spt itu di pjok bawah deh khusus utk mengakomodir Tuna Rungu utk setiap program berita. skrg malah ga ada lg…

    tambah mundur ya.

  16. eddyjp said: Eh pemain filemnya TR beneran nggak Via ?

    dulu, di stasiun2 TV Indonesia pernah digalakan program spt itu di pjok bawah deh khusus utk mengakomodir Tuna Rungu utk setiap program berita. skrg malah ga ada lg…

  17. eddyjp said: Eh pemain filemnya TR beneran nggak Via ?

    Beneran Ed. Crew filmnya juga banyak yang TR. KEren abis film ini. aku mau bikin reviewnya nih. Biar informasinya lengkap.

  18. lafatah said: Jadi, memang, kalau dipikir-pikir kuliah 3-4 tahun lebih pada untuk mengasah kemampuan berpikir, berorganisasi, menelaah, dan melebarkan jejaring.

    Mendingan kuliah aja sekalian di ilmu perbankan. Tujuan kuliah gak cuma itu thok.

  19. enkoos said: pendidikan di Indonesia emang gak berpihak kepada orang orang dengan kebutuhan khusus

    apalagi dunia pekerja.. tapi biar gitu banyak kog yang peduli.. ada loh kantor yang isinya khusus untuk tunarungu.. lupa dimana..

  20. enkoos said: “kudu pake teori” Kalau teorinya gak bisa diaplikasikan ya percuma dong.

    Iya nih, Mbak. Mungkin karena social science, jadi teorinya dipakai lebih kepada bagaimana kita memahami suatu fenomena. Jadi, memang lebih banyak berkutat pada ranah pemikiran… 🙂 Makanya, kalau lulus kuliah nggak sebagai akademisi, peneliti, atau analis, ya… kerja sebagai PR. Dan, herannya teman-teman saya (melihat senior) banyak yang ngebet kerja di bank. Sementara, pas wawancara kerja, mereka tidak paham benar dengan mekanisme perbankan beserta istilah-istilahnya. Di kelas memang diajarkan, cuma sepintas lalu saja dalam mata kuliah Bisnis Internasional. Tapi, mereka ini pada ngebet masuk bank karena selain iming-iming gaji besar juga karena bank menerima segala jurusan dan ada ‘training’nya. Jadi, memang, kalau dipikir-pikir kuliah 3-4 tahun lebih pada untuk mengasah kemampuan berpikir, berorganisasi, menelaah, dan melebarkan jejaring. Teori hanya jadi sekadar ‘penambah rasa’ dalam kuliah. Dan, hanya benar-benar berguna saat penyusunan skripsi.Sedikit berbeda dengan natural science 🙂

  21. nitafebri said: Mba evi tau sendiri gimana sulitnya sekeedar mendapatkan pendidikan yg layak. Bahkan bs sekolah d SDN yg gratis susah bgt itu buat ATR.

    Iya Nit, ngerti banget pendidikan di Indonesia emang gak berpihak kepada orang orang dengan kebutuhan khusus. Jangankan kebutuhan khusus, untuk anak normal aja juga sulit kalau nggak ada duit. Berapa juta anak2 yang gak sekolah dan ujung2nya berakhir jadi anak jalanan? Banyak sukarelawan yang mencoba membantu kaum terpinggirkan ini dengan membuka sekolah2 gratis. Banyak juga yang bergerak secara non formal, membuka kelas2 di emperan gedung, mengajar di sela sela gedung diantara lalu lalang orang. tapi jumlahnya masih jauh dari mencukupi.Enggak salah kok Nit mengusahakan si anak utk bisa menjalin komunikasi verbal dengan non TR. Justru kondisi seperti ini malah membuat para TR menjadi tertantang untuk masuk di lingkungan hearing community. Kalau misalnya anak anak TR yang bisa SL nantinya kelak bisa menjadi pelopor dengan mengajarkan dan mempopulerkan SL, tentunya generasi mendatang (para TR) juga merasa diuntungkan. Satu lagi Nit, kalau permasalahannya cuma TR, bisa diajarkan komunikasi verbal. Yang repot kalau seseorang itu ya tunarungu, ya tunawicara. Mereka mereka ini yang sangat membutuhkan SL. Semoga ke depannya, pendidikan di Indonesia lebih baik dan memiliki keberpihakan kepada kita kita yang memiliki kebutuhan khusus.

  22. anotherorion said: yo bedane ono visualisasine dadi nggak abstrak banget ;D

    Soal SL lg deeh back to topic.Karena keterbatasan penggunaan dan cm dikiiit bangeet yg paham SL, saya bs ngerti kenapa d Indonesia bnyak ortu ATR mengusahakan anaknya bs berbahasa secara verbal. Soalnya dg berbahasa verbal di harapkan anaknya gak terbatas komunikasinya dg non deaf.Mba evi tau sendiri gimana sulitnya sekeedar mendapatkan pendidikan yg layak. Bahkan bs sekolah d SDN yg gratis susah bgt itu buat ATR.Lalu untuk SL, biasanya ortu mengusahakan dulu anaknya bs komunikasi scr verbal, baru setelah itu anak akan di bebaskan bila memang tertarik dg SL. Mksdmya SL bs jd bhs kedua setelah bhs verbal.

  23. anotherorion said: ra seneng aku. toh misale adegan aktore nyanyi pasti dibalikin ke suara asli lha beda cengkok beda suara,

    mbuh sih mbak, rata2 film cino sik dubbingan ning aku tetep ga iso menikmati film2 ngono kuwi, nek bengi trimo silent n moco tulisane wae hahahaha pekok yo film kok diwoco 😀

  24. anotherorion said: lagian suarane sik ndubbing tak rungokne dari film ke film orang2 kuwi wae,

    ra seneng aku. toh misale adegan aktore nyanyi pasti dibalikin ke suara asli lha beda cengkok beda suara, kecuali nonton film anak2 power ranger aku gak masalah coz itu buat anak2 yang penting anak2 bisa nangkep cerita, tapi nek sik wis bujangan2 yo tetep golekane donlot versi jepang yang subtitle e linggis

  25. anotherorion said: lagian suarane sik ndubbing tak rungokne dari film ke film orang2 kuwi wae,

    Bosen yo Pri, Film apik malih mboseni nek ngene carane. nek sing wedok biasane sing paling sering suarane Maria Oentoe. Apik sih suarane tapi kan monoton.

  26. anotherorion said: tapi sayang sik bilingual ki rata2 film cino e dadi malah tambah ra mudeng babarblas

    iyolah beda banget, lagian suarane sik ndubbing tak rungokne dari film ke film orang2 kuwi wae, gak ngerti sih sopo tapi sik jelas wis apal kerep krungu suarane neng film lain

  27. anotherorion said: tapi sayang sik bilingual ki rata2 film cino e dadi malah tambah ra mudeng babarblas

    yo aluwung ngono Pri. dikasih text (subtittle) aja. mending bahasa asline masiyo ra ngerti artine. Suasanane kuwi sing gak iso ditangkep kalau filmnya dubbingan.

  28. lafatah said: Mencari sisi aplikatifnya, bukan semata memburu teori saja 🙂

    hooh males aku malah klo bilingual trimo ngrungokne versi asli, tapi sayang sik bilingual ki rata2 film cino e dadi malah tambah ra mudeng babarblas

  29. lafatah said: Mencari sisi aplikatifnya, bukan semata memburu teori saja 🙂

    Itu makanya aku bingung waktu chating sama Fatah kemaren mengenai paper, essay dan thesis. “kudu pake teori” Kalau teorinya gak bisa diaplikasikan ya percuma dong.

  30. anotherorion said: idem aku sebel film dubingan trimo moco teks percakapane wae 😀

    Iyo Pri, aku yo sebel yen nonton film dubbingan ngono. Gak asik blas. backsoundnya juga beda kan. Mending nonton yang ada subtitle nya

  31. lafatah said: saya penasaran dengan motivasi para mahasiswa yang berjumlah sekitar 240an itu mengambil mata kuliah ini? Apakah karena benar-benar ingin memahami ASL atau gimana? Biasanya kan awal kuliah, mahasiswa akan ditanya motivasinya ambil matkul bersangkutan.

    Menarik!Salah satu keuntungan kuliah di luar, menurut saya, karena mata kuliahnya yang unik-unik, menarik, dan benar-benar spesifik. Jadi, lulusan dari mata kuliah itu pun bakal punya keterampilan lebih.Mencari sisi aplikatifnya, bukan semata memburu teori saja 🙂

  32. lafatah said: saya penasaran dengan motivasi para mahasiswa yang berjumlah sekitar 240an itu mengambil mata kuliah ini? Apakah karena benar-benar ingin memahami ASL atau gimana? Biasanya kan awal kuliah, mahasiswa akan ditanya motivasinya ambil matkul bersangkutan.

    Macem2 motivasinya. 1. Murni tertarik.2. Bagian dari jurusan yang diambil si mahasiswa seperti speech theraphy. Sebetulnya gak harus ngambil ASL tapi si mahasiswa pengen supaya bisa komunikasi langsung dengan pasiennya kelak, ketimbang harus melalui penterjemah.3. Keluarganya ada yang Tuna Rungu/Tuna Wicara, jadi supaya bisa berkomunikasi dengan keluarganya.4. Temannya ada yang Tuna Rungu/Tuna Wicara, jadi supaya bisa komunikasi dengan temannya itu.5. Adik mantan pacarnya Tuna Rungu/Tuna Wicara. Alasan yang aneh ya tapi ini benar terjadi. Ada temen sekelasku yang begitu. Dia kasihan melihat adik mantan pacarnya sulit berkomunikasi karena nggak bisa ASL. Ini yang memicu dia untuk belajar ASL, meskipun sekarang udah putus sama kakaknya si Tuna Rungu.4. Pernah dapat ekstra kurikuler ASL waktu SD – SMA dan tak ingin kemampuannya ber ASL ilang begitu saja.5. Syarat untuk lulus. 6. Pengen jadi penterjemah ASL.7. Kebanyakan mahasiswa medis yang ngambil ASL karena salah satu syaratnya bisa dasar2 ASL.8. Apalagi ya?Kalau yang Tuna Rungu/Tuna Wicara, kebanyakan pengen ngelanjutin ke Gallaudet University, seperti salah satu anaknya dosenku.

  33. nitafebri said: Dubbing juganyebelin looh bagi para deaf..kan biasanya baca gerak bibir yaa klo gak di dubinglaah ini jd amburaduljd inget bencinya saya sama telenovela macem maria mercedes hahahaabis saya nangkepnya bahasa spanyol laah yg di denger bhs Indo

    Iya, bener kata Mbak Anies. Dulu TVRI menyediakan penerjemah berupa inset di pojok gambar (lupa, atas bawah kiri atau kanan, ya). Terus, diilangin.Mbak, saya penasaran dengan motivasi para mahasiswa yang berjumlah sekitar 240an itu mengambil mata kuliah ini? Apakah karena benar-benar ingin memahami ASL atau gimana? Biasanya kan awal kuliah, mahasiswa akan ditanya motivasinya ambil matkul bersangkutan.

  34. nitafebri said: Dubbing juganyebelin looh bagi para deaf..kan biasanya baca gerak bibir yaa klo gak di dubinglaah ini jd amburaduljd inget bencinya saya sama telenovela macem maria mercedes hahahaabis saya nangkepnya bahasa spanyol laah yg di denger bhs Indo

    dubbing nyebelin juga buat yang bisa denger Nit. Suaranya jadi aneh, budayanya gak bisa ketangkep. Mending dikasih sub title daripada dubbing. Ancur minah.

  35. rengganiez said: padahal mendapatkan informasi adalah salah satu hak bagi semua warga negara..

    betul sekali. dan ada disebutkan di UUD. Informasi dan pendidikan adalah hak bagi semua warga negara.

  36. enkoos said: eman banget yo, kok malah mundur gitu.

    Dubbing juganyebelin looh bagi para deaf..kan biasanya baca gerak bibir yaa klo gak di dubinglaah ini jd amburaduljd inget bencinya saya sama telenovela macem maria mercedes hahahaabis saya nangkepnya bahasa spanyol laah yg di denger bhs Indo

  37. tianarief said: mbak, kalau bahasa isyarat tuna rungu di tiap negara itu berbeda-beda? misalnya, kaum tuna rungu di usa sama di indonesia?

    iya betul. sama aja kayak bahasa inggris. Inggris British dengan Inggris Amerika beda dialek. ASL dengan FSL (France Sign Language). Bedanya dimana, seberapa besar bedanya, nah ini aku yang gak tau.

  38. mahasiswidudul said: Nin juga penasaran sama itu.. sama braille juga.. ternyata ada banyak bentuk komunikasi yah selain tulisan dan suara.. salut sama mbak evia 😀

    ngeliat bahasa isyarat, keren Nin. Coba klik youtubenya, ada anak kecil menyanyi.

  39. tintin1868 said: asik.. kapan2 kita bisa ngobrol pake tangan..btw, tadinya ku pikir itu singkatan age sex location.. biasa deh kalu ditanyain di ym.. 😀

    hehehehehe…bahasa chating jaman dulu ya? aku malah baru tau.Iya Tin, ntar ketemuan ngomong pake tangan. Aku disini malah sering ngomong dua duanya, ya tangan ya ngomong biasa, buat latihan.

  40. intan0812 said: Tp sejak sd dia msk sekolah khusus..krn dia jg tuna wicara.. Shg sekolah biasa sulit menerimanya.

    Kalau hal spt itu terjadi di US, sekolahnya bisa dituntut tuh. Disini pihak sekolah harus menyediakan penterjemah. Kalau anaknya gak mau sekolah umum, itu lain soal. Setiap negara bagian ada sekolah khusus untuk Tuna Rungu/Tuna Wicara. Di US bahkan ada universitas khusus buat Tuna Rungu/Tuna Wicara. Orang normal hanya boleh masuk sana 10%nya. Banyak yang kepincut pengen kesana, termasuk orang normal. Jurusannya juga macem2, seperti universitas umum gitu.

  41. beautterfly said: Uhuy, ASL.. Btw, aku blm nyari yg deaf n hearing-impaired itu. Peer deh ;pKapan tesnya? Smg nilainya A+ aminnn

    Ntar kalau sempet, coba aku tanya dosenku lagi ya. Exam dah lewat. Belum tau dapet apa, tapi dah kebayang. Nggak A+ sih kayaknya, A aja deh kayaknya. Atau jangan2 malah B doang.Pernah nggak ngerjain pe er gara2 begadang ngempi pas rame2nya jurnal 23 itu. hihihihihi…..

  42. nitafebri said: dulu thn 90an di setiap kali acara berita baik di TVRI maupun tv swasta di bagian bawah pojok kiri tipi ada orang yg sekalian memperagakan bhs isyarat. Tapi kayaknya percuma juga sebab memang raut wajah n tangan gak menarik, n seuprit pulak tampilannya.klo di Indonesia saya taunya SL yaa cm ada di SLB, padahal klo mau menarik juga yaa banyak kok yg mau belajar..saya pun liatnya kebanyakan lewat kompie youtube.klo dalam kampanye??yaa ampuun boro2 saat kampanye mau begitu..

    di youtube keren2 ya Nit, kayak orang pantomim. Robert DeMayo jago banget, dia nerjemahin film sampe ke backsound segala waktu aku liat film ini. Apalagi drummernya itu, haduhh sampe merinding aku ngliatnya. Keren abis pokoknya.

  43. enkoos said: empat saya menimba ilmu, kampus UMD (University of Minnesota Duluth).

    mbak, kalau bahasa isyarat tuna rungu di tiap negara itu berbeda-beda? misalnya, kaum tuna rungu di usa sama di indonesia?

  44. Iya bener kt nita…. Jaman dulu tiap acara siaran berita di tvri ada yg pake bhs isyarat… Tp entah knp… Ga lanjut lg. Di tk rafi dulu ada murid yg tuna rungu… Tp entah gimana bisa dia ngikutin… Krn ibunya ingin anaknya bergaul dg org normal. Tp sejak sd dia msk sekolah khusus..krn dia jg tuna wicara.. Shg sekolah biasa sulit menerimanya.Aku pernah tertarik belajar bahasa isyarat ketika sma…. Tp ga lanjut

  45. dulu thn 90an di setiap kali acara berita baik di TVRI maupun tv swasta di bagian bawah pojok kiri tipi ada orang yg sekalian memperagakan bhs isyarat. Tapi kayaknya percuma juga sebab memang raut wajah n tangan gak menarik, n seuprit pulak tampilannya.klo di Indonesia saya taunya SL yaa cm ada di SLB, padahal klo mau menarik juga yaa banyak kok yg mau belajar..saya pun liatnya kebanyakan lewat kompie youtube.klo dalam kampanye??yaa ampuun boro2 saat kampanye mau begitu..

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s