Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara

Sebuah tagline mampu membuat saya merenung cukup lama.
Indonesia: Mencintaimu dengan sederhana.
Tagline yang merupakan judul buku dua orang wartawan pelaku ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Mencintaimu dengan sederhana. Itulah yang sedang saya rasakan.

***

Ahmad Yunus adalah salah satu penulis dan wartawan idaman saya. Bukan sekedar favorit tapi sudah ke level idaman karena saya selalu mengikuti, mencari cari tulisannya dan Insya Allah sedang mengikuti jejaknya sebagai petualang yang menjelajah sudut sudut Indonesia yang terlupakan. Ahmad Yunus mampu membawa saya ke suasana yang dibangunnya melalui tulisan tulisannya tanpa harus lebay dan menye menye. Tipikal buku yang Yunus suka, ternyata juga saya suka. Tipikal perjalanan yang Yunus suka, ternyata juga kami (suami, saya dan anak) sukai banget. Perjalanan kere diistilahkan Yunus dengan perjalanan romantis. Ahhhh…sukaa dengan istilah itu.

Menemukan Ahmad Yunus dan partner ekspedisinya, wartawan senior Farid Gaban, adalah secara tak sengaja sewaktu saya berdua suami sedang melakukan riset perjalanan keliling Indonesia dengan moda transportasi murah meriah. Dan bertemulah kami dengan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Tanpa menunggu lama, berhasil juga saya menghubungi Ahmad Yunus yang ternyata orangnya ngocol abis, dan yang penting rendah hati, tidak sombong serta tidak pelit ilmu. Jauh sebelum mengenal sosoknya secara pribadi, saya mengikuti dengan setia kisah perjalanan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, membaca blognya Ahmad Yunus yang sudah berdebu karena kesibukan pemiliknya. Setelah mengenalnya secara pribadi, mulai terungkap satu demi satu mimpi mimpinya yang berawal dari rasa prihatin sekaligus bangga akan kekayaan Indonesia. Salah satu mimpi tersebut terwujud dalam bentuk “Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Indonesia” yang merupakan catatan perjalanan mereka berdua keliling Indonesia di pulau pulau terluar selama hampir satu tahun.

Buku tersebut ditulis dari perspektif personal Ahmad Yunus selama melakukan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa dan akan segera terbit bulan Juli 2011. Pengalaman pengalaman mereka yang mendebarkan, mengharukan sekaligus menyesakkan dada dibagikan kepada kita. Saya teringat bagaimana mereka harus berkemah di pinggir jalan yang sepi di sebuah provinsi di Kalimantan. Bagaimana mereka menumpang kapal angkutan sayur antar pulau pulau kecil di kawasan kepulauan Riau lengkap dengan sepeda motor mereka dan mendapati bahwa kapal tersebut dipalak oleh tentara Angkatan Laut yang seharusnya melindungi rakyat kecil. Bagaimana mereka dengan biaya minim memodifikasi motor bekas menjadi motor trail yang tangguh melintasi jalanan di pelosok pelosok terpencil Indonesia yang lumayan ganas. Bagaimana mereka kehabisan sangu saat sedang di perjalanan dan harus pulang kembali ke Jakarta dengan duit pinjaman. Lantas kembali melakukan perjalanan setelah bekerja serabutan mengumpulkan modal kesana kemari. Toh mereka masih setia mengupload cerita cerita terbaru di situs Zamrud Khatulistiwa maupun di facebook. Karena anggapan mereka dengan mengupdate cerita terbaru, mereka sering mendapat masukan.

Seperti pengakuan Farid yang saya baca di situs Majalah Madina:

“Setiap selesai satu perjalanan, kita langsung upload foto di facebook. Dari sanalah kita mendapatkan reaksi. Reaksi inilah yang kemudian menyemangati kami untuk terus menceritakan lebih banyak, lagi, dan lagi” tutur Farid.

“Kami juga mendapat masukan tentang lokasi mana yang sebaiknya dikunjungi atas saran teman-teman di facebook. Saya pikir ini adalah ekspedisi pertama yang dilakukan secara interaktif,” tutur Farid.

Dengan bantuan tim pendukung ekspedisi ini, seluruh hasil liputan Farid dan Yunus yang telah terdokumentasikan di website menjadi karya jurnalistik yang dapat digunakan oleh siapa pun, tanpa kecuali. Syarat penggunaannya hanya satu; mencantumkan nama dan sumber. Farid menyatakan bahwa tidak ada hak cipta (copyright) untuk seluruh hasil ekspedisi ini. Semua digratiskan untuk digunakan oleh masyarakat.

“Semua bisa menyebarluaskan. Kami tidak mencari uang dari hasil ekspedisi ini. Kami yakin kami bisa menghasilkan uang dari sisi yang lain. Biar miskin, tapi sombong,” kelakar Farid yang disambut gelak tawa dan riuh tepuk tangan para undangan yang hadir malam itu.

Saya sangat setuju dengan mereka bahwa silakan mencomot foto dan tulisan dari internet asal mencantumkan linknya. Bukan mengaku ngaku sebagai hasil karya sendiri apalagi sampai mengkomersilkan. Akan lebih baik lagi bila minta ijin terlebih dahulu. Itu etikanya.

Selain buku Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara”, masih akan ada rekaman jejak jejak perjalanan ekspedisi mereka yang mengantri untuk diluncurkan. Ide dan semangat berjejalan di benak mereka dan menunggu untuk direalisasikan. Baik yang akan dibuat secara perorangan oleh Farid Gaban atau Ahmad Yunus, maupun secara mereka berdua.

Di bawah ini saya kutipkan kata pengantar dari buku Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Indonesia

HIKAYAT DARI JALANAN: INDONESIA

(Bagian pertama dari pengantar buku saya “Meraba Indonesia”. Buku ini akan terbit pada Juli 2011 oleh penerbit Serambi Ilmu Semesta. Buku ini merupakan catatan personal dari perjalanan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa Juni 2009 – Juni 2010. Selamat membaca).

PADA sebuah jendela gerbong yang buram dan sedikit pecah di ujung sudutnya, saya duduk melepaskan pandangan. Di luar, suasana Stasiun Bandung begitu riuh demikian penuh. Para penumpang dan orang-orang yang tidak bisa lepas oleh keseharian di bangunan yang didirikan pada 1870 itu. Tentu saja, wajah bangunan itu sudah berubah sejak pertama kali berdiri. Namun yang tak bisa diubah adalah sebuah fakta bahwa ini bagian penting dari tongak perubahan Kota Bandung. Bahkan sejak Daendels menancapkan tongkatnya di bumi Parahyangan. Dan mengatakan “coba usahakan bila aku datang kembali di tempat ini dibangun sebuah kota,”. 200 tahun kemudian, Kota Bandung menjelma menjadi salahsatu kota terpenting di Indonesia.

Dengan menumpang kereta api ini saya hendak menuju Jember, Jawa Timur. Tapi, tak ada kereta api langsung menuju ke sana. Karena itu, saya naik kereta api Malabar jurusan Bandung – Malang.

Kereta api yang saya tumpangi mulai melaju pelan untuk selanjutnya melewati kota-kota kecil. Ia singgah di setiap stasiun kota yang menawarkan ayam goreng, nasi pecal, dan segelas kopi murah. Kereta api yang saya tumpangi tampak lapuk. Ia melewati setiap meter jarak dengan ringkih, tertatih-tatih.

Dan, saya duduk di salah satu bangku di pojok gerbong sepuh itu. Berdesakan. Padahal tubuh dan pikiran saya masih lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Bersama wartawan senior, Farid Gaban, saya baru saja mengelilingi Indonesia dengan mengendarai motor selama hampir setahun. Bayangan perjalanan masih lekat menempel dalam benak dan terus berkelebat seperti potongan adegan film yang terputus-putus.

Tak berapa lama, mata mulai dirampok kantuk. Untuk mengatasinya, saya mengedarkan pandangan ke sekujur gerbong. Menatap gerbong seakan melemparkan imajinasi saya ke masa lalu. Ada semacam romantisme di sana. Di dalam gerbong, saya membayangkan secuil potret kejayaan Jawa pada masa silam. Sebuah masa saat Belanda membangun infrastruktur jalur kereta api di Hindia Belanda, terutama di Jawa.

Tak bisa dimungkiri, kereta api menggerakkan dan mengubah dengan cepat arus lintas kehidupan Jawa. Kereta api mendorong para pedagang dan banyak profesi lain di seluruh penjuru Nusantara untuk berhamburan menuju Jawa. Ada persinggungan lalu lintas budaya, bahasa, ekonomi dan politik dalam kereta api. Namun, di atas semua itu keberadaan kereta api adalah tanda kekokohan kolonialisme Belanda di negeri ini. Kendati mulai menginjakkan kaki pertama kali pada akhir abad 15, Belanda mulai memancangkan tiang kolonialisme secara politis pada abad ke-18. Di sisi lain, Inggris berhasil membangun koloninya di Malaysia dan Singapura, dan menandatangani sejumlah perjanjian penting dengan Belanda yang menguasai Nusantara.

Sejak itu, Belanda mulai menciptakan kawasannya. Belanda juga mengatur perangkat lain berupa kesamaan mata uang, administrasi, hingga pranata hukum yang terpusat. Perubahan keadaan ini membentuk satu model pembangunan ala Jawa. Maka, Jawa menjadi daerah yang terpusat, birokratis, dan kuat secara politis. Tentu tak ada yang salah dengan soal keterpusatan. Namun bila keterpusatan itu menggadaikan daerah lain, apalagi terpencil tentu ini keliru. Dan inilah yang tengah berjalan di Indonesia.

Sayangnya, kekeliruan ini terus berlanjut setelah negeri ini merdeka. Sungguh sayang. Pasalnya, keterpusatan Jawa ini melahirkan ironi?? untuk tidak menyebutnya sebagai musibah. Jawa yang diwakili Jakarta terlalu pongah untuk menetapkan aturan. Ada banyak peraturan yang jika diterapkan sungguh tidak sesuai dengan kondisi di luar Jakarta. Dan, selama perjalanan ke pulau-pulau terluar dan sejumlah daerah lain di luar Jawa saya melihat ketidaksesuaian itu dengan mata kepala sendiri, dengan gamblang.

“Tetapi Indonesia bukan hanya Jakarta,” kata Iwan Fals. Selain Jawa negara ini masih memiliki tujuh belas ribu pulau lain. Hati bisa ciut jika melihat fakta betapa besarnya luas wilayah republik ini. Luas kepulauan Nusantara ini membentang sejauh 4.000 mil dari timur ke barat. Dan jarak antara utara ke selatan sekitar 1.300 mil. Luas kepulauan ini sama dengan luas Eropa dari ujung barat sampai Asia Tengah. Jumlah itu menandakan kekayaan bangsa ini. Begitu kaya, bukan? Ah, bukankah pernyataan ini klise belaka. Memang. Namun, saya tak bisa menghindarinya. Dengan menghindarinya, justru seperti menutupi kenyataan. Setidaknya, dengan mengungkap terus-menerus, walaupun berakibat kita terlihat sangat cerewet, bahwa kita memang kaya akan membangkitkan semangat kita untuk kembali menengok Indonesia dan terus mencintai negeri ini. Dan, saya, sialnya, jatuh cinta ke Indonesia. Berkali-kali.

Saya yakin, saya tidak sendirian. Masih banyak orang yang memiliki perasaan yang sama. Maka, tentu tak aneh bila ada banyak orang yang berhasrat untuk mengelilingi Indonesia. Mengembara. “Berkelana,” kata Rhoma Irama. Mereka bermimpi dan ingin tahu bagaimana wajah Indonesia yang sebenarnya. Menyusuri perjalanan dari Sabang hingga Merauke. Bahkan, sampai kapan pun keindahan Nusantara akan melekat pada kesadaran orang yang pernah dan punya pengalaman berkeliling Indonesia. Beruntung saya pernah melihat Indonesia dari dekat dan meleburkan khayalan tentangnya.

Sebetulnya sudah ada empat buku plus satu film dokumenter yang telah diluncurkan. Karena saya sedang tidak bermukim di Indonesia dan keempat buku tersebut ditulis oleh Farid Gaban (kecuali buku “Indonesia: Mencintaimu dengan sederhana” yang ditulis berdua), serta email saya belum mendapat jawaban dari Farid, maka saya tidak bisa memastikan apakah keempat buku tersebut memang sudah ada di pasaran. Yang bisa saya paparkan adalah judul dari buku buku tersebut.

1. Buku dan DVD “Indonesia: Mencintaimu dengan sederhana” oleh Farid Gaban dan Ahmad Yunus yang diterbitkan oleh Yayasan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa.

Sumber: zamrud-khatulistiwa.or.id

Indonesia: Mencintaimu Dengan Sederhana - Farid Gaban dan Ahmad Yunus

2. Buku “MANGROVE: Merawat Pesisir, Merawat Hidup” oleh Farid Gaban.

Sumber: zamrud-khatulistiwa.or.id

Mangrove: Merawat Pesisir, Merawat Hidup - Farid Gaban

3. Buku “INDONESIA: Jantung Terumbu Karang Dunia” oleh Farid Gaban.

Sumber: zamrud-khatulistiwa.or.id

Indonesia: Jantung Terumbu Karang Dunia - Farid Gaban

4. Buku “Di Kolong Langit Khatulistiwa” oleh Farid Gaban.

Sumber: zamrud-khatulistiwa.or.id

Di Kolong Langit Khatulistiwa - Farid Gaban

Trailer film dokumenter yang juga telah diluncurkan

Advertisements

82 thoughts on “Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara

  1. idachairunnisa said: Reviewnya bikin aku ‘meleleh’ …. *mau nabung buat beli bukunya, maturnuwun untuk sharingnya ya mbak via

    bulan Juli untuk pertama kalinya bertemu dengan mas Farid Gaban di Wonosobo (Festival Film Wonosobo). Ternyata di festival film itu diputar juga videonya Zamrud Khatulistiwa. Dari ketemu secara tidak sengaja itu akhirnya di ceritakan juga tentang buku Meraba Indonesia-nya mas Ahmad Yunus. Tapi ketika itu belum tau kapan bukunya akan diterbitkan. Beberapa hari kemudian, tanpa sengaja juga pergi ke pameran buku di Senayan. Ternyata hari itu ada launching buku Meraba Indonesia. Plus ada mas Ahmad Yunus juga.Bukunya luar biasa. Begitu “memprovokasi” untuk berpetualang. Setelah membaca buku itu, beberapa hari kemudian di awal Agustus 2011. Saya dan kedua teman saya mencoba keliling Sumatra dengan jalan darat dari Lampung sampai Pulau Weh kemudian balik lagi sampai Pekanbaru. Namun karena keterbatasan biaya dan persiapan, kami hanya melalui kota-kota besarnya saja. Tapi itu sungguh pengalaman luar biasa kami, karena baru pertama kalinya kami melakukan perjalanan jauh ke suatu tempat dari tempat tinggal kami. Dengan selalu menenteng buku Zamrud Khatulistiwa akhirnya kami sampai juga di ujung Sumatra. Bahkan karena saking sukanya kami dengan buku itu, disetiap tempat kami foto bersama buku itu. Termasuk foto di tugu KM.0 Indonesia di Sabang lalu kami kirimkan ke mas Farid Gaban via twitter. πŸ™‚

  2. bundakirana said: wah saya udah lama pengen baca buku ini, malah sempet email ke kang FG, trus, lupa lagi gimana lanjutannya.. skrg baru teringatkan lagi soal buku ini, thanks mba,,:)

    Reviewnya bikin aku ‘meleleh’ …. *mau nabung buat beli bukunya, maturnuwun untuk sharingnya ya mbak via

  3. bundakirana said: wah saya udah lama pengen baca buku ini, malah sempet email ke kang FG, trus, lupa lagi gimana lanjutannya.. skrg baru teringatkan lagi soal buku ini, thanks mba,,:)

    samo samo uni. Insya Allah sudah mulai di jual di toko toko buku.

  4. iahsunshine28 said: wah asyik nih mba…. petualangan yang sebenarnya… merasakan hidup dengan penduduk setempat… aku mau kapan-kapan ^_^

    wah saya udah lama pengen baca buku ini, malah sempet email ke kang FG, trus, lupa lagi gimana lanjutannya.. skrg baru teringatkan lagi soal buku ini, thanks mba,,:)

  5. fendikristin said: waaah menarik banget ya Mbak πŸ˜€ cita2ku juga nih pengen keliling indonesia sama suami kalo uda pensiun buku ini bisa jadi referensi nih πŸ™‚

    waaaaaaaaaku mupeng banget nehbeneran pengen punya semua buku2 dan DVD ituh

  6. fendikristin said: waaah menarik banget ya Mbak πŸ˜€ cita2ku juga nih pengen keliling indonesia sama suami kalo uda pensiun buku ini bisa jadi referensi nih πŸ™‚

    Amin. Semoga terwujud cita citanya πŸ™‚

  7. tianarief said: jadi, mau keliling indonesia juga bersama suami? kira-kira rencananya kapan? nanti aku ikut meliput. hehehe. πŸ˜€

    waaah menarik banget ya Mbak πŸ˜€ cita2ku juga nih pengen keliling indonesia sama suami kalo uda pensiun buku ini bisa jadi referensi nih πŸ™‚

  8. tianarief said: jadi, mau keliling indonesia juga bersama suami? kira-kira rencananya kapan? nanti aku ikut meliput. hehehe. πŸ˜€

    belum tahu kapan. kan gak bisa dilakukan dalam waktu sebulan dua bulan. setahun adalah waktu minimal. nunggu pensiun kaleee. hehehehe.Yah paling tidak, sekarang sudah mulai dicicil. Setiap mudik ngere ke satu provinsi. Tahun 2005 ngere di Madura dan Jabar, tahun 2008 ngere ke sebagian pulau Sulawesi. Tahun 2010 ngere ke Sumbar. Masih pake angkutan umum khas pedesaan ditambah kapal laut ekonomi. Kadang sewa mobil juga sih, karena kepepet. Makanya lagi sibuk nanya kiri kanan mengenai dirt bike biar lebih leluasa waktu dan tempat jelajahnya.

  9. enkoos said: Khansa dijak sisan. Umurnya 2 tahun kan? Menik mulai bertualang umur 2tahun.

    jadi, mau keliling indonesia juga bersama suami? kira-kira rencananya kapan? nanti aku ikut meliput. hehehe. πŸ˜€

  10. enkoos said: Khansa dijak sisan. Umurnya 2 tahun kan? Menik mulai bertualang umur 2tahun.

    khansa sekarang umurnya 3 tahun 4 bulan mbak. mulai tak ajak jalan-jalan sebelum 2 tahun, tapi gak jauh-jauh :)hihihi jadualnya belum gathuk mbak, tahun depan belum ada rencana pulang ke indonesia. mubeng kanada yuk mbak πŸ™‚

  11. muhammadhusnil said: makasih banget, Mbak. Semoga buku itu terus menginspirasi siapa pun untuk mencintai Indonesia apa adanya. mencintai indonesia apa adanya lebih realistis. dari cinta itu, setidaknya kita bisa melakukan sesuatu untuk apa yang kita cintai. πŸ™‚ matur suwun sanget…. πŸ™‚

    Sama sama mas Husnil :)Hukumnya harus untuk mereview bukunya Ahmad Yunus. Cerita petualangan “romantis” alias kere yang ditulis dengan gaya sastra sederhana. Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa membukakan mata kita semua bahwa di halaman rumah kita sendiripun banyak yang bisa dinikmati. Semoga sukses πŸ™‚

  12. enkoos said: Mereka jalan jalan dengan memiliki visi, menyuarakan yang tak mampu bersuara, menerima apa adanya kondisi yang dihadapi, tidur di tengah hutan bahkan di jalan, motor yang digunakan adlah motor bekas dengan modifikasi sana sini supaya tangguh digunakan di tempat terpencil. Biaya modifikasi juga gak terlalu mahal.

    makasih banget, Mbak. Semoga buku itu terus menginspirasi siapa pun untuk mencintai Indonesia apa adanya. mencintai indonesia apa adanya lebih realistis. dari cinta itu, setidaknya kita bisa melakukan sesuatu untuk apa yang kita cintai. πŸ™‚ matur suwun sanget…. πŸ™‚

  13. enkoos said: Mereka jalan jalan dengan memiliki visi, menyuarakan yang tak mampu bersuara, menerima apa adanya kondisi yang dihadapi, tidur di tengah hutan bahkan di jalan, motor yang digunakan adlah motor bekas dengan modifikasi sana sini supaya tangguh digunakan di tempat terpencil. Biaya modifikasi juga gak terlalu mahal.

    seandainya khansa wis iso ditinggal, pengin melu mbak πŸ™‚

  14. enkoos said: Mereka jalan jalan dengan memiliki visi, menyuarakan yang tak mampu bersuara, menerima apa adanya kondisi yang dihadapi, tidur di tengah hutan bahkan di jalan, motor yang digunakan adlah motor bekas dengan modifikasi sana sini supaya tangguh digunakan di tempat terpencil. Biaya modifikasi juga gak terlalu mahal.

    iya sih dibanding semua itu.. yang penting itu, VISI.. juga idealis.. dulu ku pengen banget gini keliling indonesia dan bercerita mengenai negri dari kacamata sendiri, bukan dari omongan koran2.. visi berubah karena kerjaan huhuhu.. parah..

  15. shesleep said: siaaap!!! *langsung berdoa…mudah2an gak gagal&hasilnya mirip2 foto itu*

    Insya Allah gak gagal. nggak baking nggak perlu ngadon nggak perlu ngocok. cuma cemplang cemplung leppp.

  16. enkoos said: lah roti sumbu butuh resep?sederhana saja. dikukus dulu sampe empuk. abis itu direndem bumbu semalaman. setelah itu digoreng. simpel kan?bumbu rendemannya ulekan bawang putih, garam dan ketumbar. Udah gitu aja.

    habis itu posting yabiar aku bisa nyomot. qeqeqeqeqe…

  17. enkoos said: lah roti sumbu butuh resep?sederhana saja. dikukus dulu sampe empuk. abis itu direndem bumbu semalaman. setelah itu digoreng. simpel kan?bumbu rendemannya ulekan bawang putih, garam dan ketumbar. Udah gitu aja.

    *tepok jidat* …ketauan nih gak bisa masaknya..xixixi. Thx, mbak…sepertinya besok ke pasar beli roti sumbu…prakteek langsuung ;))

  18. shesleep said: wekss…itu foto bikin ngiler aja….ada resep-nya gak,mbak? *ngarep*

    lah roti sumbu butuh resep?sederhana saja. dikukus dulu sampe empuk. abis itu direndem bumbu semalaman. setelah itu digoreng. simpel kan?bumbu rendemannya ulekan bawang putih, garam dan ketumbar. Udah gitu aja.

  19. enkoos said: hadehhh….mumet. xixixixixikemampuan bisa diatur oleh kemauan. Yang mengatur jalan hidup adalah diri kita sendiri, mau dibawa kemana. (ngeyel)

    wkwkwkwk…sama2 ngeyel….baiklah suhu, suatu saat nanti saya pasti keliling Indonesia (pengen jln2 ala kere gitu tuh) …di kasih bonus dong dikit biar bs keliling dunia…halaaagh

  20. shesleep said: kemauan=keinginan >< kemampuan+kesempatan (keukeuh)kemampuan=biaya,waktu yg kadang terbentur pd jln hidup (apaan siiihh ^_^ v)

    hadehhh….mumet. xixixixixikemampuan bisa diatur oleh kemauan. Yang mengatur jalan hidup adalah diri kita sendiri, mau dibawa kemana. (ngeyel)

  21. shesleep said: *mupeng* … ngelihat org2 bs keliling Indonesia (cita2 yg blm kesampaian… πŸ˜› kemampuan+kesempatan kadang tdk berbanding lurus dg keinginan)…tapi…buku itu…harus kumiliki!..hehehehe

    tergantung kemauan, bukan kemampuan.

  22. tintin1868 said: menurutku sih mencintai indonesia ala mereka ga sederhana.. karena mereka jalanjalan, yang tentu saja keluar ongkos juga mental.. mengeksploitasi indonesia dengan keindahannya.. apalagi sampe dipalak tentara angkatan laut.. huhuhu.. kudu dilaporkan nih.. nama tentaranya inget ga mereka?

    ukuran sederhana memang relatif. Tapi dibandingkan pemerintah kita yang datang ke pelosok dengan sambutan protokoler yang tidak pada tempatnya ditengah kemiskinan rakyat, itu termasuk sederhana. Dibandingkan dengan orang orang yang sibuk mengomel dengan minimnya fasilitas dan infrastruktrur di Indonesia, itu termasuk sederhana. Dibandingkan dengan sibuknya orang2 yang melancong ke luar negeri, tapi ditanyain negeri sendiri malah plonga plongo, itu termasuk sederhana. Mereka jalan jalan dengan memiliki visi, menyuarakan yang tak mampu bersuara, menerima apa adanya kondisi yang dihadapi, tidur di tengah hutan bahkan di jalan, motor yang digunakan adlah motor bekas dengan modifikasi sana sini supaya tangguh digunakan di tempat terpencil. Biaya modifikasi juga gak terlalu mahal. Farid Gaban adalah wartawan senior, mantan redaktur majalah Tempo, sudah pernah kemana mana, 1992 ke Jerman untuk meliput pasca perang Bosnia, tahun 1988 keliling Amerika untuk liputan pemilihan Presiden, tapi toh Farid mau keliling Indonesia dengan modal kere.Jalan jalan memang keluar ongkos, tapi apa sih di dunia ini yang gak keluar ongkos?

  23. fightforfreedom said: Mumpung libur, ntar coba nyari di Gramed ah..

    *mupeng* … ngelihat org2 bs keliling Indonesia (cita2 yg blm kesampaian… πŸ˜› kemampuan+kesempatan kadang tdk berbanding lurus dg keinginan)…tapi…buku itu…harus kumiliki!..hehehehe

  24. fightforfreedom said: Mumpung libur, ntar coba nyari di Gramed ah..

    menurutku sih mencintai indonesia ala mereka ga sederhana.. karena mereka jalanjalan, yang tentu saja keluar ongkos juga mental.. mengeksploitasi indonesia dengan keindahannya.. apalagi sampe dipalak tentara angkatan laut.. huhuhu.. kudu dilaporkan nih.. nama tentaranya inget ga mereka?

  25. enkoos said: Bagaimana mereka menumpang kapal angkutan sayur antar pulau pulau kecil di kawasan kepulauan Riau lengkap dengan sepeda motor mereka dan mendapati bahwa kapal tersebut dipalak oleh tentara Angkatan Laut yang seharusnya melindungi rakyat kecil.

    Ckckckc…Sangaaaarrrr!Kudu moco bukune iki.

  26. enkoos said: Bagaimana mereka menumpang kapal angkutan sayur antar pulau pulau kecil di kawasan kepulauan Riau lengkap dengan sepeda motor mereka dan mendapati bahwa kapal tersebut dipalak oleh tentara Angkatan Laut yang seharusnya melindungi rakyat kecil.

    wah, ada DVD-nya… !

  27. enkoos said: Bagaimana mereka menumpang kapal angkutan sayur antar pulau pulau kecil di kawasan kepulauan Riau lengkap dengan sepeda motor mereka dan mendapati bahwa kapal tersebut dipalak oleh tentara Angkatan Laut yang seharusnya melindungi rakyat kecil.

    Wah, bagian ini pasti seru. Secara saya tinggal di daerah Kepulauan Riau pasti juga ingin nambah wawasan soal situasi di Kepri..Gak sabar nunggu terbitnya, mbak πŸ™‚

  28. ohtrie said: ypohhh..aku tak ndonga mBakk, selak tokone totoppp….wakakka, mlayuuuuu….

    waqaqaqaqa….kalimat sakti. dudu toko, tapi mon royale (bayangkan kalau logat Jowo medok ngomong mon royal tambahi e ndek mburine, top markotop wis).

  29. penuhcinta said: Tahan banting gitu lo Mbak, jadi situasi kayak apa gak pantang menyerah. Ada juga si hubungannya dengan kepedean. Kalo minderan kan pasti udah mundur dari kapan2 begitu bertemu kesulitan di jalan.

    O I see. Iya, tahan banting. Mau berada di situasi apapun dan bagaimanapun. Berada di tempat asing, sendirian pede jaya dan gak celingak celinguk kayak orang bingung. Takut masih ada tapi gak diperlihatkan terang terangan.

  30. enkoos said: Mental baja maksudnya? Berani gitu yah? Enggak juga sih. Aku orangnya penakut, tapi percaya dirinya tinggi.

    Tahan banting gitu lo Mbak, jadi situasi kayak apa gak pantang menyerah. Ada juga si hubungannya dengan kepedean. Kalo minderan kan pasti udah mundur dari kapan2 begitu bertemu kesulitan di jalan.

  31. afriantodaud said: cool and inspiring ^^

    mbaak makasih udah diconfirm..sukaa baca tulisanmu. bener banget jadi pingin wisata keliling indonesia dulu nanti sama anak2.Panorama Indonesia gak kalah kok sama singapore, HK,dll.

  32. ohtrie said: syukur isa bareng Menik.. wakakakk… #pamrihhh…

    bwhahahahahhaa…ra sah ngenteni ngetan nek ngono. aku tekone liwat darat. Soko Spore mlipir ke Tanjung Penang, nyebrang Medan njuk ngidul tekan Lampung trus nyebrang Jowo. Dongakne wae lah.

  33. ohtrie said: Digawe penak wae mBakk, nek planning seka saiki ki isih kadohan jee, ku ya lagi mikir nyawa kanggo urip ik, mulih ngomah kudu isa nggolek duit juga… tapi pokmen kudu join ngono wae wiss…tahun wingi wus ngulon, njuk critane tahun ngarep meh ngetan pa mBak..?

    insipirasional…mencintai indonesia dengan cara unik…:)nice share….**nunggui gratisan buku**

  34. ohtrie said: Digawe penak wae mBakk, nek planning seka saiki ki isih kadohan jee, ku ya lagi mikir nyawa kanggo urip ik, mulih ngomah kudu isa nggolek duit juga… tapi pokmen kudu join ngono wae wiss…tahun wingi wus ngulon, njuk critane tahun ngarep meh ngetan pa mBak..?

    mang mulo digawe fleksibel ae. piye ngkok wae, sing penting wis ono gambaran kasare. Iyo taun wingi ngulon, taun ngarep ngetan.

  35. enkoos said: Piye?

    Digawe penak wae mBakk, nek planning seka saiki ki isih kadohan jee, ku ya lagi mikir nyawa kanggo urip ik, mulih ngomah kudu isa nggolek duit juga… tapi pokmen kudu join ngono wae wiss…tahun wingi wus ngulon, njuk critane tahun ngarep meh ngetan pa mBak..?

  36. ohtrie said: ha nek wus luwih seka rong wulan ya beneran kere ra duwe gawean ta mBakk, edyan ik…yawis, muga tahun ngarep fixed wis nang Yoja (Jogja) n bisa ngatur….Siap mBakk…

    Gini aja, dibikin fleksibel. Isone pirang ndino or pirang minggu. Ketemu di titik mana trus gabung. Pulangnya terserah kapan, gak usah bareng ra popo. Piye?Aku yo pengen mampir ke Gunung Kidul, Temanggung, Parakan.

  37. enkoos said: Opo sisan melu ngere sekeluarga?

    ha nek wus luwih seka rong wulan ya beneran kere ra duwe gawean ta mBakk, edyan ik…yawis, muga tahun ngarep fixed wis nang Yoja (Jogja) n bisa ngatur….Siap mBakk…

  38. ohtrie said: program pirang ndina iki mbakkk…?kayane bakal meluuu…

    Pirang ndino? Pirang minggu kaleeee. Mana cukup sekian hari. Paling tidak sekian minggu atau bahkan sekian bulan. Mungkin sebulan, mungkin dua bulan. Insya Allah gak lebih dari dua bulan karena bojoku menyusul Insya Allah bulan ketiga. Dan aku harus segera mengakhiri petualangan ngere kalau bojoku wis teko dan kemudian ngere sekeluarga. Opo sisan melu ngere sekeluarga?

  39. ohtrie said: mBok aku meluuuu… #mupeng je

    Serius? Tahun depan Insya Allah ngere wong loro karo mbak Niez. Tujuannya belum dipastikan. Kira2 Madura trus bablas ke Sulawesi. Dari Madura turun ke Jawa lewat Kalianget Situbondo trus melipir ke timur sampe Lombok trus numpak kapal laut ke Sulawesi. Maunya begitu. Melu?

  40. enkoos said: Perjalanan kere diistilahkan Yunus dengan perjalanan romantis. Ahhhh…sukaa dengan istilah itu.

    ahh, jadi keingetan perjalanan ngere mBak Evi Agustus tahun lalu…Kapan melakukannya lagi mBakk…? mBok aku meluuuu… #mupeng je

  41. penuhcinta said: Harus bermental baja ya kalau mau jd backpacker atau petualang seperti ini.

    Mental baja maksudnya? Berani gitu yah? Enggak juga sih. Aku orangnya penakut, tapi percaya dirinya tinggi.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s