[Lebaran di perantauan] Shanghai, Republik Rakyat Cina (2)

Sambungan dari cerita sebelumnya disini: [Lebaran di perantauan] Shanghai, Republik Rakyat Cina (1)

Ibadah taraweh biasa kami lakukan di mesjid Fu You Lu karena naik bis cukup sekali meskipun jaraknya lumayan jauh dari apartemen kami. Sebagian besar jamaahnya adalah para senior. Para jama’ah perempuan sering mengagumi mukena yang kami kenakan. Indah dan halus kata mereka meskipun yang kami punya adalah yang murahan. Kekaguman mereka mengundang simpati teman saya, Anne, untuk memesan mukena dalam jumlah banyak dan dibagikan kepada mereka dengan gratis. Harganya juga gak terlalu mahal.

Anne adalah salah satu teman baik yang saya kenal di Shanghai. Hubungan kami sudah seperti saudara. Saya pernah bercerita tentangnya disini [QN Ala Tobie] Lupa pembawa bencana.

***
2 Nopember 2005
Sepulang dari mesjid Fu You Lu di malam terakhir bulan puasa kami bertiga – saya, Menik dan Anne (suami saya masih berkutat di kantor) – bertakbir sepanjang jalan menuju pulang. Kalau capek, mulut ini berenti sambil diselingi minum. Lumayan nyonyor juga, apalagi diliatin orang orang, cuek aja. Kadang kami juga menyanyikan lagu lagu perjuangan Indonesia seperti Bagimu Negeri, Rayuan Pulau Kelapa dan Indonesia Raya. Apa hubungannya coba? Namanya juga kangen berat dengan Indonesia, jadi ya sah sah aja takbirnya dicampur dengan lagu lagu perjuangan.

Setelah mendekati rumah, di sekitar jembatan penyeberangan di kawasan padat Xujiahui kami dihampiri 2 orang Maroko yang menanyakan apakah betul besok adalah Eid Mubarak. Identitas kami sebagai muslim cukup mencolok. Selain karena saya menggunakan hijab, kami juga bertakbir lumayan kenceng. Di negaranya sendiri Lebaran tanggal 4 Nopember sedangkan di Shanghai Lebaran tanggal 3 Nopember. Karena sedang di Shanghai, ya ngikut tanggal 3 Nopember. Sesampai di rumah kami terkapar kecapekan.

Sekitar jam 7:30 keesokan paginya kami berangkat ke mesjid Xiao Tao Yuan untuk sholat Ied yang diadakan jam 9 pagi. Kami memilih ke sana karena angkutannya lebih mudah. Hanya cukup satu kali bis sudah bisa mencapai mesjid. Sedikit berbeda dengan kebiasaan di tanah air, pada saat kita baru datang di masjid di Shanghai, disambut dengan semangkok bubur ketan hitam dan sepiring kecil bakpao. Kita bisa langsung masuk ke dalam mesjid atau ngobrol ngobrol dulu dengan yang lain sambil mendengarkan ceramah yang tentunya dalam bahasa Mandarin.

Sholatnya bukan di lapangan terbuka seperti di tanah air, tetapi di dalam mesjid. Waktu itu sudah memasuki musim gugur. Dinginnya manatahan meskipun bila dibandingkan dengan Duluth gak ada apa apanya. Setelah selesai sholat, para jemaah bersalam salaman dan kamipun bersiap untuk unjung unjung ke rumah warga Indonesia yang dituakan, sesuai dengan kebiasaan yang kami lakukan bila di tanah air.

Tapi eittt….tunggu dulu. Lha kok di depan mesjid ada yang nggelar lapak dikerubuti orang banyak. Eeee ternyata jualan barang barang kerajinan khas Cina dengan bernafaskan Islam. Welah kesempatan nih, mana ada di Shanghai barang begituan. Mulai deh kami ikut ikutan ngedeprok sambil odal adul jualannya si bapak selama lebih dari sejam. Ampe pegel dan njarem sikilku. Untung suami saya nggak ikut, bisa ngomel ngomel nungguin istrinya ngedeprok milih barang yang gak jelas gini.

Jenis barang yang dijual bermacam macam seperti kalung yang bisa menyala kalau gelap, gantungan untuk hiasan rumah, tempelan untuk pintu luar yang warnanya khas Cina merah ngejreng bertuliskan kalimat Syahadat, tasbih dari batu berukiran asma Allah, aneka kalung, gelang, sampai hiasan dinding. Semuanya berhiaskan kaligrafi dengan pernak pernik khas Cina. Heboh deh pokoknya.

Si bapak hanya berjualan pada hari itu saja dan menempuh perjalanan jauh dari Provinsi Hunan di selatan sono. Jaraknya sekitar 1.000 km lebih dari Shanghai. Abis itu, ya pulang balik ke Hunan. Puas nongkrongin si bapak, baru deh unjung unjung ke rumah sesepuh warga Indonesia. Disana kami disuguhin ketupat, sambel goreng hati, sate ayam, emping, wah…Indonesia banget. Setelah kenyang sambil sempet sempetnya mbungkusi makanan – lha emang disuruh, rejeki pantang ditolak dong 😛 – saya mengantar Menik ke sekolah. Udah ijin sebelumnya untuk masuk siang.

Esok malamnya ada undangan kupatan di salah satu warga Indonesia yang itungannya masih sesepuh. Hidanganya lebih beragam lagi, ada siomay, sate kambing, sop kaki sapi, lemper, lumpia, dan tentu saja ketupat dengan jodohnya seperti sambel goreng hati, sambel goreng manisah (labu siam). Tuan rumah enggak pede menghidangkan sop kaki sapi, dan menyingkirkan onggokan kaki sapi di dapur. Begitu juga dengan sate kambingnya yang udah dilolosin dari tusuknya. Katanya sih karena tampilan lengkap dengan tusuknya bikin ngeri. Walah, saya jadi malah rugi nggak ngambil lha wong nggak keliatan kalau itu sate. Tahu kalau itu sate, embat aja ya. Setelah puas incip sana incip sini, baru beramah tamah dengan yang lain. Pulangnya kami masih juga disuruh mbungkusi. Wah…rejeki masak ditolak ya. Lumayan buat sangu besoknya, karena akan pergi rame rame ke Yiwu.

Nah…karena tadi semua itu adalah komunitas Indonesia, saya pengen juga mengadakan halal bihalal atau kupatan dengan tamu dari berbagai bangsa. Itung itung mengenalkan kekayaan kuliner Indonesia. Sambil muter otak gimana ya caranya, lha wong kami tinggalnya di apartemen kecil dan nggak ada pembantu.


Bersambung
Advertisements