Gayo punya kopinya, Belanda punya patennya

Apa jadinya kalau mangga harum manis yang sangat khas dan berasal dari Indonesia itu ternyata pada saat diekspor menghadapi tuntutan negara asing karena negara asing tersebut memiliki patennya? Mungkinkah itu terjadi?

Ya, kalau ACTA diberlakukan bisa saja terjadi. Sekarang aja ACTA belum dilaksanakan tetapi sudah terjadi pada beberapa hasil pertanian kita. Contoh kasus kopi Gayo beberapa tahun yang lalu. Gayo adalah sebuah tempat di Aceh yang terkenal dengan kopinya. Seorang eksportir kopi Gayo dari Indonesia menghadapi tuntutan dari perusahaan kopi dari Belanda. Perusahaan Belanda tersebut menuntut karena eksportir tersebut menggunakan kata Gayo yang mana menurut mereka adalah hak paten merek milik mereka. Padahal Gayo adalah nama tempat, bukan merek. Apa akibatnya kalau Gayo ini dipatenkan oleh yang bukan haknya? Tentu saja yang rugi adalah petani kopi di Gayo karena mereka tidak bisa menjual kopi mereka dengan sebutan kopi Gayo. Pilihannya, mereka menjual kopi ke perusahaan Belanda yang memiliki paten tersebut dan tentunya dengan harga yang ditentukan oleh perusahaan tersebut. Atau, menjual kopi Gayo dengan nama lain. Ya mana bisa, karena Gayo adalah geografis bukan merek.


Cuplikan beritanya adalah sebagai berikut:

“Keberhasilan Sadarsah, pemilik CV Arvis Sanada, mengekspor kopi Gayo ke berbagai negara memang tak semudah membalik telapak tangan. Berbagai rintangan harus ia lewati agar bisa menjajakan kopi tanah Andalas ke mancanegara.

Salah satu masalah terberat yang pernah dihadapi Sadarsah adalah keberatan atas merek gayo yang dilayangkan perusahaan kopi asal Belanda, Holland Coffee, pada 2008 silam. Perusahaan itu mengklaim, Sadarsah telah menjiplak merek kopi produksi mereka.

Holland Coffee secara terang-terangan melarang Sadarsah menggunakan kata Gayo pada merek kopinya, Arabica Sumatera Gayo. Apalagi kopi milik Sadarsah itu juga beredar luas di Negeri Belanda.

Perusahaan itu menyatakan, merek gayo pada kopi mereka itu sudah terdaftar dalam undang-undang merek di Belanda. Karena itu, penggunaan kata gayo oleh Sadarsah dinilai melanggar aturan merek di Belanda.

Tapi protes dari Holland Coffee itu sama sekali tidak digubris Sadarsah meski dia diancam bakal diseret ke pengadilan karena mencuri merek gayo milik Holland Coffee. Namun ancaman itu tak membuat Sadarsah menyerah dengan menghilangkan kata gayo.

Perusahaan Belanda itu sempat patah arang melihat semangat Sadarsah mempertahankan merek gayo. Mereka pun melunak tak akan lagi menuntut Sadarsah asal mengganti merek gayo dengan mandailing. Tapi Sadarsah tetap menolak permintaan itu.

Ia bilang, kata mandailing dan gayo adalah nama daerah di Sumatra. Jika kopi berasal dari Mandailing, kopi itu disebut dengan kopi mandailing. “Kalau kopi itu dari Tanah Gayo disebut kopi gayo,” terang Sadarsah.

Ia mengaku tetap akan mempertahankan kata gayo pada kopi yang ia produksi itu. Bagi Sadarsah, penggunaan kata gayo sangat penting karena bisa menentukan kualitas dan juga bisa mempengaruhi harga jual. “Bila kata gayo hilang, konsumen tidak mengetahui asal kopi itu sehingga harga kopi bisa jatuh,” jelas Sadarsah.

Ia menyatakan, sebagai warga negara Indonesia dirinya lebih berhak menggunakan kata gayo ketimbang orang Belanda yang menggunakan kata itu. Apalagi kata gayo adalah nama daerah di Indonesia bukan nama daerah di Belanda. “Saya lebih berhak memakai kata gayo ketimbang orang Belanda itu,” tegas Sadarsah.

Adanya klaim atas merek gayo milik pengusaha Belanda itu dinilai Sadarsah telah mendustai petani kopi gayo di Aceh. “Tidak ada alasan bagi pengusaha Belanda itu melarang saya menggunakan kata gayo,” ucapnya.

Walaupun dilawan pengusaha setempat, Sadarsah tetap ekspor kopi gayo ke Belanda. Saban bulan CV Arvis Sanada mengekspor empat kontainer kopi gayo. “Saya tetap ekspor walaupun Holland Coffee menuntut saya,” ungkap Sadarsah.”


Itu baru satu contoh kasus. Ada beberapa yang pernah mencuat seperti dipatenkannya karya perak ukir seniman Bali oleh pengusaha dari Amerika, kopi Toraja yang dipatenkan oleh perusahaan dari Jepang.

Baru baru ini saya juga mengalami hal yang kalau tidak diantisipasi dari awal akan mengalami hal serupa. Saya rebutan angklung dengan tim dari Malaysia dalam sebuah festival kesenian, seperti yang saya ceritakan di postingan “Rebutan Angklung” Hanya karena di Sabah Malaysia ada angklung, tim Malaysia merasa berhak untuk menaruh angklung di lapak mereka meskipun sejarah dan asal muasal angklung dari Indonesia. Ketidak tahuan tim Malaysia akan sejarah angklung ini bisa jadi akan memicu keributan di kemudian hari karena mereka menganggap bahwa angklung berasal dari Malaysia.

Lucunya lagi, Lion Dance yang berasal dari negeri Cina dan di Malaysia juga sudah menjadi budaya, kenapa gak sekalian diklaim sebagai budaya Malaysia?

Perkiraan saya, karena Lion dance sudah sangat terkenal di seluruh dunia sebagai tarian yang berasal dari Cina dan etnis Cina bermigrasi hampir di segala penjuru dunia. Sedangkan angklung termasuk kesenian baru.

Apa tindakan kita untuk mencegah hal tersebut?

1. Mencegah diloloskannya undang undang ACTA dengan cara bergabung dalam petisi yang menolak diberlakukannya ACTA

disini:


dan


Lebih lanjut mengenai ACTA bisa dibaca di postingannya cak Iwan (ID fightforfreedom) : Ancaman itu kini bernama ACTA.

2. Mencintai dan menggunakan produk dalam negeri.

3. Merawat kekayaan seni dan budaya kita dan salah satunya dengan mempelajarinya dan mengajarkan kepada anak cucu kita. Jangan sampe anak cucu kita lebih fasih dengan seni dan budaya asing dan melupakan seni budaya sendiri. Bukan berarti kita menolak mentah mentah kesenian asing tetapi akrabilah dahulu seni budaya sendiri sebelum mengakrabi seni budaya asing. Kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi?

Advertisements

82 thoughts on “Gayo punya kopinya, Belanda punya patennya

  1. Pingback: Prestasi Indonesia dalam Jumlah Paten Internasional « Fight For Freedom

  2. eddyjp said: Malaysia emang gak tau malu yah…

    Emang Edi. Menyebalkan sekali. Dan yang ngaku ngaku itu kok ya gak mau baca sejarahnya. Jangan mentang mentang di tempatnya ada lantas bisa klaim kalau itu dari Malaysia.

  3. nonragil said: Done, mbak.Suka sedih, membaca atau mendengar hasil karya anak bangsa, dicuri dan dipatenkan oleh orang luar/asing.

    iya Helene. Aku sempet googling beberapa kasus hak paten dan nyangsang di postingannya Helene yang seniman ukir Bali itu.

  4. ohtrie said: Hahaha, dan sayangnya yang ngerebut itu juga sohib sampean, yang seudah akrab, hanya saja beda sedikit daerah asalnya.. :PHemm,Iya sih mBakk, ku bisa memahami sikap “ketidakrelaan” sampean. Karena di kondisi itu sampean tak juga omong doang, melainkan ada tindak nyata mempublikaiskannya.Namun aku hanya bisa tersenyum ketika orang-orang sok ribut merasa kecolongan akibat hak paten, padahal sebelum-sebelumnya tak pernah mau nyenggol n peduli dengan yang dipatenkan pun yang dicurinya itu….Untuk itu, yang tak kalah pentingnya adalah harus memikirkan tentang adanya banyak esensi yang butuh dipahami dari konsep “Total diplomacy” ini.

    Tulisan menarik ini, saya link-an dengan artikelku ya, mbak Evia. Tengkyu 🙂

  5. ohtrie said: Hahaha, dan sayangnya yang ngerebut itu juga sohib sampean, yang seudah akrab, hanya saja beda sedikit daerah asalnya.. :PHemm,Iya sih mBakk, ku bisa memahami sikap “ketidakrelaan” sampean. Karena di kondisi itu sampean tak juga omong doang, melainkan ada tindak nyata mempublikaiskannya.Namun aku hanya bisa tersenyum ketika orang-orang sok ribut merasa kecolongan akibat hak paten, padahal sebelum-sebelumnya tak pernah mau nyenggol n peduli dengan yang dipatenkan pun yang dicurinya itu….Untuk itu, yang tak kalah pentingnya adalah harus memikirkan tentang adanya banyak esensi yang butuh dipahami dari konsep “Total diplomacy” ini.

    Done, mbak.Suka sedih, membaca atau mendengar hasil karya anak bangsa, dicuri dan dipatenkan oleh orang luar/asing.

  6. ohtrie said: Hahaha, dan sayangnya yang ngerebut itu juga sohib sampean, yang seudah akrab, hanya saja beda sedikit daerah asalnya.. :PHemm,Iya sih mBakk, ku bisa memahami sikap “ketidakrelaan” sampean. Karena di kondisi itu sampean tak juga omong doang, melainkan ada tindak nyata mempublikaiskannya.Namun aku hanya bisa tersenyum ketika orang-orang sok ribut merasa kecolongan akibat hak paten, padahal sebelum-sebelumnya tak pernah mau nyenggol n peduli dengan yang dipatenkan pun yang dicurinya itu….Untuk itu, yang tak kalah pentingnya adalah harus memikirkan tentang adanya banyak esensi yang butuh dipahami dari konsep “Total diplomacy” ini.

    Bukan sohib, tetapi teman di komunitas di mesjid gitu deh. Dan karena masih serumpun, interaksinya lebih dekat ketimbang sesama muslim dari negara2 lain. Sebetulnya enggak terlalu susah dalam melakoni “total diplomacy” seperti yang Gotrek bilang. Yang lebih penting adalah niat, niat dan niat. Aku pernah posting mengenai salah satu cara untuk memperkenalkan Indonesia di luar negeri. Enggak muluk2, dimulai dari yang kecil kecil. Rasa bangga sebagai orang Indonesia gak cuma di bibir, tapi ada tindakan nyata sekecil apapun itu. http://enkoos.multiply.com/journal/item/35/MERANTAU_MEMPERKENALKAN_INDONESIA_DI_KALANGAN_PELAJAR

  7. ohtrie said: Bahkan sangat disayangkan ternyata banyak dari masyarakat kita malah sok bangga mengimpor -dan bukannya mengexplore-

    Nanti kalau kesenian itu dimainkan orang dari negeri lain, baru deh menghujat rame2, sedangkan diri sendiri tak ada tindakan apa apa. Sebaiknya sebelum menghujat, tengok ke diri sendiri, apa yang sudah dilakukan. Melestarikan gak hanya di bibir tapi dalam tindakan nyata.

  8. enkoos said: Kasus rebutan angklung, menurutku yang mengklaim itu yang gak berpengetahuan. Dupeh di salah satu provinsinya ada bukan lantas itu kebudayaannya dia. Boleh boleh saja mempelajarinya tapi ya jangan mengaku aku kalau itu budayanya Malaysia. Aku gak rela.

    Hahaha, dan sayangnya yang ngerebut itu juga sohib sampean, yang seudah akrab, hanya saja beda sedikit daerah asalnya.. :PHemm,Iya sih mBakk, ku bisa memahami sikap “ketidakrelaan” sampean. Karena di kondisi itu sampean tak juga omong doang, melainkan ada tindak nyata mempublikaiskannya.Namun aku hanya bisa tersenyum ketika orang-orang sok ribut merasa kecolongan akibat hak paten, padahal sebelum-sebelumnya tak pernah mau nyenggol n peduli dengan yang dipatenkan pun yang dicurinya itu….Untuk itu, yang tak kalah pentingnya adalah harus memikirkan tentang adanya banyak esensi yang butuh dipahami dari konsep “Total diplomacy” ini.

  9. enkoos said: Betul banget Tri, dan itu artinya ciri khasnya akan tetap melekat bahwa itu dibawa oleh imigran dari Cina. Duniapun juga sudah mengakuinya meskipun imigran Cina tersebut sudah beranak pinak dalam sekian generasi.

    Ini tugas kebersamaan kita sebagai manusia yang memiliki budaya juga lho mBakk…So ku salut dengan usaha panjenengan saat kemarin ikut serta dalam pameran itu, itulah bagian dari sharing sebagai wujud total diplomacy yang masih teramat jarang dimiliki oleh masyarakat berbudaya. Bahkan sangat disayangkan ternyata banyak dari masyarakat kita malah sok bangga mengimpor -dan bukannya mengexplore-#miris

  10. ohtrie said: Sama-sama melihat bahwa budaya bukan merupakan milik personal, lebih dari itu adalah milik bersama yang sifatnya cair, dinamis serta mengalir. Sehingga bukan tidak mungkin budaya akan selalu melekat yang selanjutnya berdiaspora dalam kebersamaan sekelompok manusia -dan atau masyarakat- tersebut.

    Betul banget Tri, dan itu artinya ciri khasnya akan tetap melekat bahwa itu dibawa oleh imigran dari Cina. Duniapun juga sudah mengakuinya meskipun imigran Cina tersebut sudah beranak pinak dalam sekian generasi.Kasus rebutan angklung, menurutku yang mengklaim itu yang gak berpengetahuan. Dupeh di salah satu provinsinya ada bukan lantas itu kebudayaannya dia. Boleh boleh saja mempelajarinya tapi ya jangan mengaku aku kalau itu budayanya Malaysia. Aku gak rela.

  11. enkoos said: Lucunya lagi, Lion Dance yang berasal dari negeri Cina dan di Malaysia juga sudah menjadi budaya, kenapa gak sekalian diklaim sebagai budaya Malaysia? Perkiraan saya, karena Lion dance sudah sangat terkenal di seluruh dunia sebagai tarian yang berasal dari Cina dan etnis Cina bermigrasi hampir di segala penjuru dunia. Sedangkan angklung termasuk kesenian baru.

    Ku sepakat dengan perkiraan mBak Evia itu…Dan ketika harus berpangkal pada “keterkenalan” di seluruh dunia itu, pola pikir kita untuk melawan kapitalis juga harus dirapatkan. Pasalnya sebagaimana berbicara tentang budaya, budaya bisa dipandang sebagai cara sekelompok manusia dalam menyelesaikan segala problematika hidup ini. Nah dari situlah budaya tak bisa dipisahkan dan bahkan bakal selalu melekat, berdiaspora bersama sekelompok manusia tadi. Dalam hal ini, bahkan tetua Jawa sekalipun telah berpikir jauh sebelum kita ada, yaitu sebagaimana argumen berikut ini; Rumangsa handarbèni wajib melu hanggondhèli..! “Merasa memiliki dan wajib ikut memberikan perawatan…!” . “Rumangsa mèlu duwé iya wajib mèlu tanggung jawab..!” “Merasa ikut memiliki dan wajib ikut bertanggungjawab..!”Kita tahu bahwa Lion Dance yang berasal dari negeri China atau perayaan Cap Go Meh yang melekat pada masyarakat Tionghoa, di mana pun berada -termasuk di Indonesia-, tak bisa lagi dikatakan sebagai hak ekslusif milik Negara China, lantaran sudah tercipta kesadaran atas kebersamaan dalam handarbeni sehingga timbul sense of belonging. Sama-sama melihat bahwa budaya bukan merupakan milik personal, lebih dari itu adalah milik bersama yang sifatnya cair, dinamis serta mengalir. Read more: http://ikanmasteri.com/archives/3967

  12. fightforfreedom said: ACTA di Indonesia sepi-sepi aja, padahal dampaknya mendunia. Ada apakah dg media kita?Global protes akan melanda negeri-negeri di Eropa tgl 11 Februari nanti.Terimakasih sharingnya, mbak Evia.

    Betul cak Iwan, global protes akan dilangsungkan 11 Februari. Iya yah, kenapa kita anteng2 aja padahal dampaknya lebih mengglobal ketimbang SOPA PIPA.

  13. mahasiswidudul said: Ternyata sudah terselesaikan masalah kopi gayo itu mbak.. lega dengernya :DHak paten nya orang belanda itu gak berarti apa2 karena si pengusaha kopi gayo udah berhasil mengantongi sertifikat IG (indikasi geogafis) dari International Fair Trade Organization (IFTO)… hooohohoho :D*ceklik link dari om trie : http://www.lintasgayo.com/14694/sadarsah-gayo-itu-milik-indonesia-bukan-belanda-3.html

    Yang kopi Gayo memang sudah terselesaikan, ini juga atas kegigihan eksportirnya. Masih banyak lagi kasus yang tidak terselesaikan dan mengakibatkan banyak seniman Indonesia enggan berkreasi.

  14. rengganiez said: Done Selain itu yang tak kalah pentingnya di dalam negeri kudu responsif juga melindungi “milik” sendiri…soale ak pernah ngobrol sama peneliti Indonesia yang mematenkan hasil karyanya ke Jepang. Karena ketika mengajukan ke kementerian hukum dan HAM, biayanya muahallll dan birokrasi yang ribet.

    Itulah mbak Niez, ngurus paten birokrasinya ribetttt banget. Dan itu baru tingkat Indonesia. Belum tingkat internasional.

  15. isaanshori said: Tempe dipatenkan Jepang.. aseeemm…. -___-Paten itu merusak. Kalau udah skala negara begini, harusnya pemerintah udah turun tangan, ntar yg back up seluruh warga negara Indonesia. kapan ya pejabat negara ini bisa lumayan bener?*ikut petisi

    Setauku, tempe yang dipatenkan Jepang itu bukan tempe seperti yang kita makan sehari hari. Di Jepang ada makanan yang terbuat dari kedele di fermentasi. Itu kali yang dimaksud?

  16. aghnellia said: udah sign petisi mbaa..cara pembrian hak paten HAKI tuh kaya gimana sih?cuma dulu-duluan gitu ? emang gak ada pembuktiannya yah kalo karya cipta nya itu bener2 milik mereka?! secara logika aja kan gak mungkin toh masa orang asing yang nguasai hak cipta budaya bangsa orang sini

    Sip sip..Aku juga gak ngerti gimana caranya pemberian paten. Tentunya ada pembuktian dan melalui riset yang memakan waktu gak sebentar. Secara logika enggak mungkin. Tapi kenyataan di lapangan sudah banyak membuktikan. Contohnya seperti seniman seni ukir perak di Bali. Dia sering dapet order dari pengusaha asing. Dan si pengusaha asing ini diam diam mendaftarkan paten atas beberapa motif ukirnya. Akibatnya, si seniman enggak bisa membuat ukiran dengan motif seperti itu ke pasaran bebas. Beritanya bisa dibaca di sini: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/08/24/lqflxu-waduh-600-kerajinan-asli-bali-mau-dipatenkan-oleh-negara-asingIni cuma contoh kecil. Masih banyak kejadian serupa.

  17. meandmydream said: Ntar lebih jago ngomong korea dari pada bahasa indonesia.*mengingat badai K-POP yang semakin meluas di Indo*

    sebetulnya enggak apa apa belajar bahasa lain. Yang penting kita gak melupakan bahasa sendiri.

  18. depingacygacy said: duwe kopi gayo ora mba? njaluk no…kapan kae, diicipi kopi lampung nek ga salah. jebul kopi eksport, ra didol nang ngindonesiya. mlayune lungo itali…pingin neh mung iso ngiwis :((

    Aku gak ngopi jee…Lha trus entuk soko endi nek ra didol neng Indonesia? Diwenehi koncone po piye?

  19. shedariy said: masih banyak lagi mba aneka minyak atsiri dan plasma nutfah yang dipatenkan pihak asing, padahal itu kekayaan hayati Indonesia

    Nah kan, kalau digali lebih dalam, banyak sekali kekayaan kita yang dipatenkan pihak asing.

  20. dadibagongsik said: betul….empon2, tempe, ukiran jepara…bla3x….dan mirisnya lagi…masyarakat yg lebih berharak sepertinya berjuang sendiri…. kemana tuh orang kementrian yg mengurusi soal itu? Apa perlu jadi “hot news” dulu baru mereka turun tangan?

    banyak sekali mas bagong.kopi Gayo hanya sedikit contoh. Pemerintah lelet dalam bertindak.

  21. penuhcinta said: Mbak… udah kok tanda tangan petisinya. Sebagai setengah Aceh, sedih yo baca kopi gayo kok diklaim org Belanda. Proses hak paten itu pakai bayar2 dan rumit gak ya? Kalau akses mengenai hak paten baik informasi maupun cara mendapatkannya dibuka lebar2, mungkin bisa lebih banyak orang kita yang bisa memperjuangkan hak paten untuk karya2 mereka.

    Hak paten itu fungsinya apa sih sebetulnya? Rasanya kok keblinger ya apa apa dipatenkan.

  22. enkoos said: Siapa yang daftar duluan, itu yang dapet.

    ACTA di Indonesia sepi-sepi aja, padahal dampaknya mendunia. Ada apakah dg media kita?Global protes akan melanda negeri-negeri di Eropa tgl 11 Februari nanti.Terimakasih sharingnya, mbak Evia.

  23. enkoos said: Siapa yang daftar duluan, itu yang dapet.

    Ternyata sudah terselesaikan masalah kopi gayo itu mbak.. lega dengernya :DHak paten nya orang belanda itu gak berarti apa2 karena si pengusaha kopi gayo udah berhasil mengantongi sertifikat IG (indikasi geogafis) dari International Fair Trade Organization (IFTO)… hooohohoho :D*ceklik link dari om trie : http://www.lintasgayo.com/14694/sadarsah-gayo-itu-milik-indonesia-bukan-belanda-3.html

  24. enkoos said: Dibandingkan dengan lion dance tentunya lebih tua lion dance. Kalau angklungnya sendiri baru ada di abad 20 sedangkan musik yang memakai bambu dimana induk dari angklung memang sudah lama.

    Oh gitu yah mbak.. makasi info nya 🙂

  25. enkoos said: Jangan sampe anak cucu kita lebih fasih dengan seni dan budaya asing dan melupakan seni budaya sendiri.

    Done Selain itu yang tak kalah pentingnya di dalam negeri kudu responsif juga melindungi “milik” sendiri…soale ak pernah ngobrol sama peneliti Indonesia yang mematenkan hasil karyanya ke Jepang. Karena ketika mengajukan ke kementerian hukum dan HAM, biayanya muahallll dan birokrasi yang ribet.

  26. enkoos said: Jangan sampe anak cucu kita lebih fasih dengan seni dan budaya asing dan melupakan seni budaya sendiri.

    Tempe dipatenkan Jepang.. aseeemm…. -___-Paten itu merusak. Kalau udah skala negara begini, harusnya pemerintah udah turun tangan, ntar yg back up seluruh warga negara Indonesia. kapan ya pejabat negara ini bisa lumayan bener?*ikut petisi

  27. enkoos said: Jangan sampe anak cucu kita lebih fasih dengan seni dan budaya asing dan melupakan seni budaya sendiri.

    udah sign petisi mbaa..cara pembrian hak paten HAKI tuh kaya gimana sih?cuma dulu-duluan gitu ? emang gak ada pembuktiannya yah kalo karya cipta nya itu bener2 milik mereka?! secara logika aja kan gak mungkin toh masa orang asing yang nguasai hak cipta budaya bangsa orang sini

  28. enkoos said: Jangan sampe anak cucu kita lebih fasih dengan seni dan budaya asing dan melupakan seni budaya sendiri.

    Ntar lebih jago ngomong korea dari pada bahasa indonesia.*mengingat badai K-POP yang semakin meluas di Indo*

  29. enkoos said: Kenyataan di lapangan berbicara lain. Seorang seniman seni ukir perak di Bali pernah menghadapi tuntutan dari pengusaha Amerika. Artikelnya bisa dibaca di sini: http://beritabali.com/index.php/page/berita/gyr/detail/30/06/2008/Motif-Bali-Warisan-Leluhur-Dipatenkan-Warga-Asing/200806300005Makanan dan minuman, kopi Gayo sudah membuktikan sebagai salah satu contoh.

    Kaya banget sebetulnya indonesia itu. Betul, kalo bukan kita yg merawat siapa lagi?

  30. enkoos said: Kenyataan di lapangan berbicara lain. Seorang seniman seni ukir perak di Bali pernah menghadapi tuntutan dari pengusaha Amerika. Artikelnya bisa dibaca di sini: http://beritabali.com/index.php/page/berita/gyr/detail/30/06/2008/Motif-Bali-Warisan-Leluhur-Dipatenkan-Warga-Asing/200806300005Makanan dan minuman, kopi Gayo sudah membuktikan sebagai salah satu contoh.

    gawat bangets klo hak paten hanya berdasarkan siapa paling cepat mendaftarkan :(ayo cintai produk dlm negeri ^___^

  31. enkoos said: Kenyataan di lapangan berbicara lain. Seorang seniman seni ukir perak di Bali pernah menghadapi tuntutan dari pengusaha Amerika. Artikelnya bisa dibaca di sini: http://beritabali.com/index.php/page/berita/gyr/detail/30/06/2008/Motif-Bali-Warisan-Leluhur-Dipatenkan-Warga-Asing/200806300005Makanan dan minuman, kopi Gayo sudah membuktikan sebagai salah satu contoh.

    duwe kopi gayo ora mba? njaluk no…kapan kae, diicipi kopi lampung nek ga salah. jebul kopi eksport, ra didol nang ngindonesiya. mlayune lungo itali…pingin neh mung iso ngiwis :((

  32. enkoos said: Kenyataan di lapangan berbicara lain. Seorang seniman seni ukir perak di Bali pernah menghadapi tuntutan dari pengusaha Amerika. Artikelnya bisa dibaca di sini: http://beritabali.com/index.php/page/berita/gyr/detail/30/06/2008/Motif-Bali-Warisan-Leluhur-Dipatenkan-Warga-Asing/200806300005Makanan dan minuman, kopi Gayo sudah membuktikan sebagai salah satu contoh.

    masih banyak lagi mba aneka minyak atsiri dan plasma nutfah yang dipatenkan pihak asing, padahal itu kekayaan hayati Indonesia

  33. enkoos said: Kenyataan di lapangan berbicara lain. Seorang seniman seni ukir perak di Bali pernah menghadapi tuntutan dari pengusaha Amerika. Artikelnya bisa dibaca di sini: http://beritabali.com/index.php/page/berita/gyr/detail/30/06/2008/Motif-Bali-Warisan-Leluhur-Dipatenkan-Warga-Asing/200806300005Makanan dan minuman, kopi Gayo sudah membuktikan sebagai salah satu contoh.

    postingan yang mangstab mBakkk… segera menyusul juga wis… tapi ini baru bubaran dr HoR je, so ntar malem br sempet keknya, brg Cak Iwan…Enyahkan ACTA…!

  34. enkoos said: Kenyataan di lapangan berbicara lain. Seorang seniman seni ukir perak di Bali pernah menghadapi tuntutan dari pengusaha Amerika. Artikelnya bisa dibaca di sini: http://beritabali.com/index.php/page/berita/gyr/detail/30/06/2008/Motif-Bali-Warisan-Leluhur-Dipatenkan-Warga-Asing/200806300005Makanan dan minuman, kopi Gayo sudah membuktikan sebagai salah satu contoh.

    sudah isi petisi.. wuih banyak banget yang daftar, kalah deh detik jamnya..

  35. enkoos said: Kenyataan di lapangan berbicara lain. Seorang seniman seni ukir perak di Bali pernah menghadapi tuntutan dari pengusaha Amerika. Artikelnya bisa dibaca di sini: http://beritabali.com/index.php/page/berita/gyr/detail/30/06/2008/Motif-Bali-Warisan-Leluhur-Dipatenkan-Warga-Asing/200806300005Makanan dan minuman, kopi Gayo sudah membuktikan sebagai salah satu contoh.

    6 seconds agotintin syamsuddin, Indonesia6 seconds agojacqueline schwenger, Germany7 seconds agoSiegfried Henschel, Germany9 seconds agoDavid, Germany11 seconds agoBina Ionut Titel, Romania

  36. enkoos said: Kenyataan di lapangan berbicara lain. Seorang seniman seni ukir perak di Bali pernah menghadapi tuntutan dari pengusaha Amerika. Artikelnya bisa dibaca di sini: http://beritabali.com/index.php/page/berita/gyr/detail/30/06/2008/Motif-Bali-Warisan-Leluhur-Dipatenkan-Warga-Asing/200806300005Makanan dan minuman, kopi Gayo sudah membuktikan sebagai salah satu contoh.

    betul….empon2, tempe, ukiran jepara…bla3x….dan mirisnya lagi…masyarakat yg lebih berharak sepertinya berjuang sendiri…. kemana tuh orang kementrian yg mengurusi soal itu? Apa perlu jadi “hot news” dulu baru mereka turun tangan?

  37. bambangpriantono said: Pantes gerakan anti kapitalis makin marakCapitalist mengong!

    Mbak… udah kok tanda tangan petisinya. Sebagai setengah Aceh, sedih yo baca kopi gayo kok diklaim org Belanda. Proses hak paten itu pakai bayar2 dan rumit gak ya? Kalau akses mengenai hak paten baik informasi maupun cara mendapatkannya dibuka lebar2, mungkin bisa lebih banyak orang kita yang bisa memperjuangkan hak paten untuk karya2 mereka.

  38. bambangpriantono said: Pantes gerakan anti kapitalis makin marakCapitalist mengong!

    ebuset dahitu yang ngasi hak paten jugaemang gak ada risetnya apa gitu buat nerbitin hak patenmain ngeluarin aja….bukannya buat mendapatkan hak paten itu banyak syaratnya ya?klo angklung atau perak mungkin ada peluang buat negara lain ngeklaim secara tak ada penyebutan daerah asal, nama daerah dalam namnya jadi negara lain bisa seenak jidatnya mematenkan, wlopun hal ini tetap sih harus diperjuangkan juga oleh kita. Enak aja mematenkan hasil karya bangsa lain, bener2 gak punya etika dehLha ini jelas2 nama Gayo itu merujuk ke nama daerahyang tentu saja tak ada di Belandakok ya masih bisa dipatenkan juga disana duh………………..

  39. dadibagongsik said: Ada sebuah thesis dari seorang mahasiswa Indonesia yg kuliah di Sobrone Perancis. Judulnya ” Budaya tidak dapat dicuri dan tidak dapat di-Patent-kan”Semoga dia sudah lulus S2-nya. Amiin.Jadi warisan budaya bisa diakui melalui sertifikasi dari Unesco misalnya dan memang sudah dilakukan. Jadi warisan2 budaya dari” negara tertentu” sebagai warisan budaya dunia.Tapi kalau makanan dan minuman? mungkinkah bisa dimasukkan dalam budaya?Sehingga tidak ada “paten-patenan?” Dan semua orang didunia bisa menikmati kelezatan minuman dan makanan itu tanpa harus melanggar “Patent”

    Kenyataan di lapangan berbicara lain. Seorang seniman seni ukir perak di Bali pernah menghadapi tuntutan dari pengusaha Amerika. Artikelnya bisa dibaca di sini: http://beritabali.com/index.php/page/berita/gyr/detail/30/06/2008/Motif-Bali-Warisan-Leluhur-Dipatenkan-Warga-Asing/200806300005Makanan dan minuman, kopi Gayo sudah membuktikan sebagai salah satu contoh.

  40. rawins said: buset dah…trus gimana atuh kalo begitu caranyajangan jangan tar nama rawin aja harus dipatenin bir bebas tuntutan…kok rasanya aneh di kata dipatenin..?

    kalau gak salah dulu Sony pernah menuntut orang orang yang namanya Sony. Aneh ya.

  41. mahasiswidudul said: Kok dibilang kesenian baru mbak?? Kan udah lama ini mah?? T^T

    Ada sebuah thesis dari seorang mahasiswa Indonesia yg kuliah di Sobrone Perancis. Judulnya ” Budaya tidak dapat dicuri dan tidak dapat di-Patent-kan”Semoga dia sudah lulus S2-nya. Amiin.Jadi warisan budaya bisa diakui melalui sertifikasi dari Unesco misalnya dan memang sudah dilakukan. Jadi warisan2 budaya dari” negara tertentu” sebagai warisan budaya dunia.Tapi kalau makanan dan minuman? mungkinkah bisa dimasukkan dalam budaya?Sehingga tidak ada “paten-patenan?” Dan semua orang didunia bisa menikmati kelezatan minuman dan makanan itu tanpa harus melanggar “Patent”

  42. mahasiswidudul said: Gila!!! Itu hak paten gak ditinjau dulu sebelum dikasi?? Asal doank! Gimana kalo kita tuntut balik karena sudah menggunakan nama daerah di indonesia?? Parah nih kapitalis =_____=

    buset dah…trus gimana atuh kalo begitu caranyajangan jangan tar nama rawin aja harus dipatenin bir bebas tuntutan…kok rasanya aneh di kata dipatenin..?

  43. mahasiswidudul said: Gila!!! Itu hak paten gak ditinjau dulu sebelum dikasi?? Asal doank! Gimana kalo kita tuntut balik karena sudah menggunakan nama daerah di indonesia?? Parah nih kapitalis =_____=

    Siapa yang daftar duluan, itu yang dapet.

  44. enkoos said: 3. Merawat kekayaan seni dan budaya kita dan salah satunya dengan mempelajarinya dan mengajarkan kepada anak cucu kita. Jangan sampe anak cucu kita lebih fasih dengan seni dan budaya asing dan melupakan seni budaya sendiri. Bukan berarti kita menolak mentah mentah kesenian asing tetapi akrabilah dahulu seni budaya sendiri sebelum mengakrabi seni budaya asing. Kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi?

    Gila!!! Itu hak paten gak ditinjau dulu sebelum dikasi?? Asal doank! Gimana kalo kita tuntut balik karena sudah menggunakan nama daerah di indonesia?? Parah nih kapitalis =_____=

  45. enkoos said: 3. Merawat kekayaan seni dan budaya kita dan salah satunya dengan mempelajarinya dan mengajarkan kepada anak cucu kita. Jangan sampe anak cucu kita lebih fasih dengan seni dan budaya asing dan melupakan seni budaya sendiri. Bukan berarti kita menolak mentah mentah kesenian asing tetapi akrabilah dahulu seni budaya sendiri sebelum mengakrabi seni budaya asing. Kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi?

    Setujuuuuuuu

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s