Holocaust Asia

Kebiadaban bangsa Jepang di masa perang dunia kedua kurang terdengar gaungnya bila dibandingkan dengan kebiadaban Nazi Jerman terhadap Yahudi.Jepang memperlakukan tawanan perang betul betul tanpa perikemanusiaan. Ada unit yang namanya Unit 731 yang tugasnya adalah eksperimen biologi dan kimia terhadap manusia dan yang menjadi kelinci percobaannya adalah tawanan perang.

Video di bawah ini salah satu bentuk percobaan, dimana manusia ditempatkan dalam suhu yang ekstrim untuk melihat bagaimana suhu dapat merusak tubuh manusia dan melihat berapa lama manusia bertahan hidup sampai mati.

Peringatan keras bagi yang gampang mual jangan nonton, karena adegannya sangat menjijikkan. Tangan manusia disiram dengan air es berkali kali tanpa pelindung apa2 sampe tangannya terlapisi oleh es batu. Setelah itu tangan direndam dalam air panas, kemudian entah diapakan lagi *saya gak sanggup menontonnya* sehingga kulit meleleh hingga tinggal tulang belulang dan orangnya masih hidup dengan jejeritan.

Kekejaman tersebut hanyalah sebagian kecil dari kekejaman kekejaman lain. Ada lagi yang disebut Jugun Ianfu, dimana perempuan perempuan dipaksa untuk melayani nafsu bejat para tentara Jepang.

Saya kutipkan penuturan Mardiyem, salah satu korban kebiadaban tentara Jepang
========
Sumber: http:www.lensaindonesia.com/2011/08/16/mardiyem-jadi-momeye-setiap-hari-layani-birahi-10-tentara-jepang.html

Tiada yang menyangka, penderitaan lahir dan batin harus ditanggung oleh perempuan renta ini. Dulu, ia bercita-cita menjadi pemain sandiwara, tapi kemudian pupus oleh tipu daya Jepang. Ia pun harus rela dijadikan Jugun Ianfu, pemuas nafsu birahi serdadu Jepang. Benar-benar menyakitkan!

Sosoknya begitu bersahaja. Usianya tak lagi muda. Ia tinggal di salah satu gang di sudut kota Yogya, tepatnya di daerah Pathuk (yang terkenal dengan bakpianya). Rumahnya mungil. Orang-orang sekitar memanggilnya Mbah Mardiyem.

Mardiyem berusia 78 tahun. Tak ada yang tahu jika dirinya dulu pernah menjadi budak seks tentara Jepang. Dan karena itu ia memiliki nama panggilan semasa pendudukan Jepang di Indonesia. Ia, oleh tentara Jepang, dipanggil dengan �Momoye�. Panggilan itu merupakan panggilan bagi jugun ianfu yang dipekerjakan saat itu.

Tak banyak orang yang mengunjungi rumah Momeye. Ia telah banyak dilupakan. Dilupakan oleh negara dan dilupakan oleh teman-temannya. Bahkan, banyak dari teman-temannya yang sudah meninggal.

�Beginilah saya sekarang,� ungkapnya dalam bahasa Jawa sembari memperkenalkan diri.
Meski demikian, sosoknya masih kelihatan cantik. Wajah dan kulit yang terlihat putih menjadi penanda sisa-sisa kecantikan masa lalunya. Pendengarannya pun masih setajam dulu. Sepertinya tak banyak yang berubah dari perempuan tua ini, selain keriput yang makin melebar dan gerakannya yang terlihat lamban. Dan mulailah Mardiyem menuturkan pengalamannya.

Mardiyem lahir di Yogyakarta pada tahun 1929. Saat itu, Mardiyem kecil hanya mengecap pendidikan hingga kelas II sekolah rakyat (SR) di Yogyakarta. Dan ia memiliki bakat di bidang seni. Mardiyem sejatinya terlahir sebagai seniman handal. Ia mahir menyanyi keroncong dan sering tampil di pergelaran sandiwara di kampungnya.

Suatu hari di jaman penjajahan di tahun 1942, Mardiyem ditawari main sandiwara oleh seorang Jepang. Waktu itu umurnya baru 13 tahun, ayah dan ibunya sudah meninggal. Kakak yang saat itu tinggal dengannya pun mengizinkan untuk menerima tawaran itu.

Saat itu ada 48 perawan Yogyakarta yang diangkut dengan kapal Nichimaru milik Jepang menuju Telawang, Kalimantan Selatan. Di pulau seberang itu mereka dibagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama ditempatkan di restoran Jepang. Kelompok kedua dipekerjakan sebagai pemain sandiwara. Kelompok ketiga, termasuk Mardiyem, dibawa ke sebuah asrama tentara Jepang yang dipagari bambu tinggi. Orang menyebut tempat itu ian jo. Di area itu terdapat puluhan kamar berjejer teratur.

Cikada, pengurus asrama itu, segera menemui para gadis, termasuk Mardiyem. Para gadis itu diberi nama Jepang. Mardiyem pun menjadi Momoye, setelah terinspirasi cantiknya bunga kembang kertas yang dalam bahasa Jepang disebut Momoye. Setelah diperiksa dokter, para gadis diperintahkan menempati kamar masing-masing. Kamar itu sempit, luasnya tak lebih dari dua meter persegi.
Mardiyem ditempatkan di kamar nomor 11. �Dindingnya masih tercium ada bau cat,� tuturnya.

Gadis remaja itu terhenyak. Ia merasa ditipu, karena ternyata pekerjaan menjadi pemain sandiwara muslihat belaka. Mulai saat itu ia resmi menjadi jugun ianfu, budak seks bagi tentara Jepang. Sejak itu pula Mardiyem tak akan pernah bisa melupakan pengalaman duka tersebut.

Pada hari pertama �kerja� tiba-tiba seorang pria Jepang nyelonong ke kamarnya. Lelaki berewok itu membawa karcis. �Saya tendang. Saya lawan. Tapi, seberapa sih kekuatan anak umur 13 tahun?� ujar Mardiyem.

Benteng itu hancur lah sudah. Air matanya mengucur deras menahan pedih. Sakit! Dia tak pernah lupa pada derita perih saat kegadisannya direnggut.
Ternyata lelaki berewok itu baru permulaan, pembuka petaka. Siang itu pula enam laki-laki bergiliran mendatangi kamarnya. Kamar sempit itu segera menjadi neraka bagi Mardiyem. Kemaluan remaja yang belum mendapat haid itu mengalami perdarahan hebat. �Saat berjalan saja darahnya sampai netes. Kain saya basah jadinya,� ujarnya lirih seperti yang dikutip dalam sebuah situs berita.

Selama tiga tahun Mardiyem dikurung di kamar nomor 11. Siang-malam dia harus melayani birahi tentara Jepang. Waktunya habis dalam kamar �pemerkosaan� itu. Bahkan, untuk makan yang hanya dijatah satu kali sehari pun sering tak sempat.

Bukan hanya kekerasan seksual yang dialami Mardiyem selama tiga tahun itu. Pukulan, tamparan, dan tendangan menjadi makanan sehari-hari. Para tamu ataupun pengelola ian jo begitu ringan tangan setiap Mardiyem menolak melayani. Setiap hari Mardiyem harus menjadi Momoye dan dipaksa melayani sedikitnya 5 hingga 10 lelaki.

Ternyata para pengunjung ian jo harus membeli karcis untuk bisa memperkosa Mardiyem dan kawan-kawannya. Semakin malam, harga karcisnya kian mahal. Setiap jugun ianfu harus mengumpulkan karcis yang dibawa para tamu. Menurut pengelola ian jo, karcis-karcis itu akan ditukarkan dengan uang di kemudian hari. Tiga tahun berlalu, namun para gadis itu tidak menerima satu sen uang pun.

Padahal, selama tiga tahun menjadi Momoye, Mardiyem mengumpulkan satu keranjang karcis.

Dua tahun berlalu. Suatu hari, Cikada, pengelola ian jo, memanggil Mardiyem ke kantornya. Mardiyem dibawa ke rumah sakit, karena gadis yang baru menginjak usia 15 tahun itu hamil. Petugas rumah sakit menggugurkan paksa kandungannya tanpa bius. Seorang perawat menekan perut gadis malang itu kencang-kencang. Mardiyem pun menjerit keras. Janin yang berusia 5 bulan itu keluar dari rahimnya. Akhirnya, janin yang berwujud manusia itu hanya sesaat merasakan dunia.

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, Mardiyem dan rekan-rekannya lepas dari cengkeraman tentara Jepang. Tak lama setelah mereka lari, pasukan Sekutu menghujani asrama itu dengan bom.

�Aku semakin sedih jadinya, kalo ingat masa-masa itu�, tutur Mardiyem.

Setiap malam tiba, penderitaan selama menjadi Momoye selalu terbayang. Air matanya pun menetes. Semua kenangan sedih itu terurai kembali.

Bagaimana sikap pemerintah Jepang? Jumawa tak mau meminta maaf. Bahkan kebiadaban merekapun dihapus dalam sejarah. Dalam pelajaran sejarah di sekolah sekolah di Jepang kebiadaban mereka ditiadakan dan dipelintir menjadi Jepang adalah pemersatu bangsa Asia. Enggak heran bahwa orang orang Jepang masa kini tak mengetahui kebiadaban bangsanya
di masa lalu.

Di thread yang saya baca di kaskus, banyak kesaksian yang mereka dengar dari kakek nenek mereka tentang kebiadaban tentara2 Jepang. Selain itu mereka juga mendengar penyangkalan tentang kebiadaban tentara tentara Jepang ini dari generasi muda Jepang. Karena selama ini pemerintah Jepang menjejalkan bahwa bangsa mereka adalah bangsa pemersatu.

Di bawah ini adalah penuturan lagi lagi dari Mardiyem mengenai penyangkalan pemerintah Jepang tentang Jugun Ianfu.

Sumber: http:www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/jugun-ianfu-kesaksian-mardiyem. 28 Maret 2007

Tiada yang lebih menyakitkan dan merendahkan ketika pengalaman pribadi seseorang dinyatakan tidak benar dan bahkan diingkari. Namun itulah yang terjadi dengan para perempuan eks Jugun Ianfu, para perempuan yang dipaksa menjadi budak seks oleh militer Jepang pada masa Perang Dunia II.

Awal bulan Maret, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan tidak ditemukan bukti-bukti terjadinya pemaksaan terhadap para perempuan untuk menjadi budak seks. Itu merupakan pernyataan yang menyakitkan dan sekaligus mengingkari pengalaman para perempuan itu. Bukan hanya itu saja, pernyataan tersebut juga mengingkari bukti-bukti sejarah yang ada.

Pernyataan Perdana Menteri Abe ini menyulut kemarahan di negara-negara seperti Cina, Korea, Filipina, dan juga Belanda yang sejumlah warganya dulu di Indonesia juga menjadi korban. Sejarawan menyatakan sekitar 200 ribu perempuan dari Korea, Cina, Filipina, Taiwan, dan Indonesia dipaksa menjadi budak seks untuk melayani tentara Dai Nippon pada waktu itu. Apabila Perdana Menteri Abe sekarang menyatakan tidak ada paksaan, berarti 200 ribuan perempuan itu semuanya berbohong berramai-ramai tentang pengalaman mereka?

Jugun Ianfu Indonesia
Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 1500 perempuan eks jugun ianfu yang sebagian besar dari mereka sudah berusia lanjut bahkan telah meninggal dunia. Perjuangan yang mereka lakukan untuk menuntut keadilan serta pengakuan tidak saja melelahkan dan lama, tapi mereka juga nyaris berjuang sendirian karena sampai saat ini tidak nampak adanya dukungan dari pemerintah terlebih pengakuan terhadap mereka.

‘Mungkin ini disebabkan isu ini sangat politis sekali karena berkaitan dengan pemerintah Jepang yang tidak dipungkiri lagi memberi bantuan dan hibah terbesar buat Indonesia. Jadi mungkin pemerintah takut apabila menyikapi isu ini maka bisa berdampak pada sisi policy Jepang sebagai negara pendonor terbesar bagi Indonesia’. Demikian tanggapan Estu Fanani dari LBH Apik, anggota Jaringan Advokasi Jugun Ianfu.

Kisah ‘ Momoye’
Salah satu eks Jugun Ianfu di Indonesia yang masih gigih berjuang untuk mendapatkan pengakuan dan keadilan adalah Ibu Mardiyem. Tahun 1943, Mardiyem ketika itu masih seorang remaja berusia 13 tahun. Ia telah yatim piatu pada waktu itu. Ibunya meninggal ketika ia masih bayi dan ayahnya menyusul sepuluh tahun kemudian. Mardiyem kecil yang hobi menyanyi ini menyangka akan diajak masuk dalam kelompok sandiwara ketika tentara Jepang melakukan pendaftaran untuk anak-anak perempuan. Mardiyem kecil tidak merasa curiga ketika ia harus menjalani pemeriksaan kesehatan.

Mardiyem bersama 48 anak perempuan lainnya dibawa ke Kalimantan atau Borneo pada waktu itu. Seminggu sesampainya di Banjarmasin Mardiyem tidak dipekerjakan di kelompok sandiwara tapi dimasukkan ke hotel Tlawang yang sebenarnya adalah rumah bordil. Mardiyem ditempatkan di kamar nomor 11 dan iapun diberi nama baru, nama Jepang �Momoye’. Baru Mardiyem menyadari bahwa ia dan teman-temannya dijadikan apa yang disebutnya �orang nakal’.

Oleh karena itu Mardiyem sangat marah apabila dikatakan bahwa dirinya adalah pelacur sebelum dijadikan Jugun Ianfu itu. Mardiyem selanjutnya bertutur bahwa teman-temannya yang dimasukkan di hotel tersebut semuanya menangis. �Hati saya remuk. Saya ini dari keluarga baik-baik, lingkungan saya priyayi, kok bisa saya jadi orang nakal’, begitu kata Mardiyem sambil menghela napas.

Dari kamar nomor 11 itulah, penderitaan demi penderitaan dialami oleh Mardiyem. Tendangan dan pukulan seringkali diterima dari para tamunya apabila ia berani menolak permintaan tamu Jepangnya. �Perlakuan seperti binatang, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa’, demikian Mardiyem. Bahkan perlakuan seperti ini masih saja berlangsung ketika ia telah hamil lima bulan dan ia sendiri tidak mengetahuinya. Ia harus menggugurkan kandungannya itu. �Perut saya ditekan, sakitnya bukan main dan ketika keluar ia masih menggeliat-geliat’, demikian tutur Mardiyem sambil matanya menerawang ke langit-langit rumahnya di Yogyakarta. Akibatnya, kandungan Mardiyem rusak sehingga ia tidak bisa lagi menghasilkan keturunan.

Paksaan
Mungkin saja paksaan seperti yang dimaksudkan Perdana Menteri Abe itu berbentuk laras senjata yang diacungkan di depan kepala. Memang hal seperti itu tidak dialami oleh para korban yang pernah memberi kesaksian seperti Mardiyem dari Indonesia atau Zhu Qiaomei dari China. Namun ada perempuan-perempuan Jugun Ianfu dari negara-negara lain yang bersaksi tentang perkosaan beramai-ramai terhadap mereka sebelum dijadikan Jugun Ianfu seperti kesaksian Hwang Geun Joo dari Taiwan. Atau mereka diculik oleh tentara Jepang dan dipaksa menjadi Jugun Ianfu seperti Prescila Bartonico dan Maxima Reagala de La Cruz dari Filipina.

Paksaan dapat mengambil berbagai bentuk yang lebih halus seperti janji-janji akan diberi pekerjaan. Bukankah hal seperti inipun seringkali kita dengar saat ini? Perempuan-perempuan muda yang dijanjikan pekerjaan di luar negeri tapi kemudian dipaksa atau terpaksa masuk dalam pelacuran? Atau dalam situasi serupa tapi tak sama hubungan antara majikan dengan bawahan, penguasa dengan yang bawahan. Apakah dalam relasi yang tidak seimbang seperti ini pihak bawahan berani menentang perintah atasannya?

Sikap Jepang
Sesudah munculnya reaksi keras dari berbagai negara atas pernyataannya itu, maka Perdana Menteri Abe kembali mengeluarkan pernyataan untuk meredam kemarahan. Di depan komisi parlemen pekan ini, Abe mengatakan tetap berpegang pada pernyataan pemerintah tahun 1993 yang diucapkan oleh Kepala Sekretariat Kabinet Yohei Kono pada waktu itu. Pernyataan itu mengakui keterlibatan langsung tentara Jepang dalam mengadakan tempat-tempat penghibur dan memaksa para perempuan menjadi Jugun Ianfu. Sehubungan dengan itu Kono menyatakan maaf.

Perdana Menteri Abe menyatakan tetap berpegang pada pernyataanSikap Jepan Kono itu tapi menambahkan pula bahwa Jepang tidak akan minta maaf lagi mengenai masalah Jugun Ianfu ini. Tidak berselang lama penjabat Kepala Sekretaris Kabinet Hakubun Shimomura kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial. Ia menyatakan keyakinannya bahwa tentara Jepang tidak terlibat dalam memaksa para perempuan menjadi budak seks. Sebagian pendukung Abe yang konservatif berpandangan bahwa para Jugun Ianfu itu adalah pelacur yang dibayar untuk pelayanannya.

Kurang ajarnya, pemerintah Jepang yang tak kunjung meminta maaf ini mengucurkan dana kompensasi ke para korban melalui Mensos Inten Supeno sebesar 38juta yen yang lantas digunakan untuk membangun panti jompo. Meskipun demikian, penggunaan dana itu tidak melibatkan para korban. Kantor Departemen Sosial di Yogyakarta membenarkan adanya dana sebesar Rp 285 juta untuk pembangunan panti jompo bagi para eks jugun ianfu.

Bu Mardiyem dan 12 kawannya menolak, karena selain tidak ingin tinggal di panti jompo, kala itu, permintaan maaf itu tidak kunjung datang. Sampai sekarang aliran dana itu ke mana, tidak ada kejelasan, padahal pengucuran dana AWF itu masih berlangsung hingga tahun 2007 ini.”

Belum lagi mengenai penulisan buku tengan kisah hidupnya yang ternyata tidak mendapatkan royalti. Penulisnya hanya memanfaatkan Mardiyem. Menyedihkan.
Seperti dituturkannya di sini: http:kelana-tambora.blogspot.com/2007/08/sepenggal-kisah-jugun-ianfu.html

Refe
rensi film:
1. City of Life and Death yang berkisah tentang kekejaman Jepang di Nanjing.
2. The Rape of Nanking.
3. Man behind the Sun.
4. Dokumentasi kejahatan perang Jepang

Advertisements

155 thoughts on “Holocaust Asia

  1. subhanallahu said: contoh yang sederhana diberikan oleh bapak saya sendiri, sebagai PNS (sekarang pensiun) di depsos, pernah jadi ka. bagian (lahan basah juga kan) sampe sekarang ya melarat, jadi ketua RT pun pantang menerima sogokan bahkan hadiah semisal rokok dan sejenisnya, pasti dilabrak itu orang yang coba ngasih dia sogokan/hadiah. Duit bagi-bagi ga jelas dibiarin saja di laci kerjanya. *duh, kangen bapak…

    Bapak di Riau ya mas?

  2. subhanallahu said: menurut saya pemerintah bukan dibuang, tapi ya terus direformasi, kita ga boleh hilang harapan, putus asa atau malah lari, nyatanya ya swasta ya ada juga yang korup. Maksud saya kita ga boleh antipati misal dengan pemilu, politik, PNS (saya pribadi sih emang ga niat), dan sejenisnya, semakin banyak orang yang baik di pemerintah, akan semakin baik negara. Saya dengar partisipasi politik dari sebuah riset bahwa keinginan partisipasi politik warganegara kita sudah menurun drastis, apa tinggal 30 persen gitu (saya lupa) untuk pemilu berikutnya. Karena kita kadang mikir sudah nyoblos dan milih orang ato partai yang benar, ya kok masih gitu aja negaranya, padahal klo mau berpikir itu masalah kuat-kuatan jaringan dan kuantitas saja. Yang korup masih banyak dan bukan sekedar oknum.

    Udah males sama pemerintah. Mending usaha sendiri gimana caranya supaya perjuangan para korban perang ini mendapatkan haknya. Gak usah cari dukungan dari pemerintah. Swasta maksud saya, dikerjakan sendiri, bukan tergantung sama pemerintah.Putus asa sih enggak, tapi malessssssssssss taukkkkkkk!!!Hihihihihihi….emosi bener kalau ngomongin pemerintah.Kalau putus asa tuh ya, gak bergerak melakukan apa apa. Tapi ini kita tetep bergerak namun gak melalui pemerintah. Begono. Banyak cara untuk melakukannya, tapi sekali lagi TIDAK LEWAT PEMERINTAH.

  3. enkoos said: Makanya gak perlu menggantungkan pada pemerintah. Pemerintahnya digantung aja.

    menurut saya pemerintah bukan dibuang, tapi ya terus direformasi, kita ga boleh hilang harapan, putus asa atau malah lari, nyatanya ya swasta ya ada juga yang korup. Maksud saya kita ga boleh antipati misal dengan pemilu, politik, PNS (saya pribadi sih emang ga niat), dan sejenisnya, semakin banyak orang yang baik di pemerintah, akan semakin baik negara. Saya dengar partisipasi politik dari sebuah riset bahwa keinginan partisipasi politik warganegara kita sudah menurun drastis, apa tinggal 30 persen gitu (saya lupa) untuk pemilu berikutnya. Karena kita kadang mikir sudah nyoblos dan milih orang ato partai yang benar, ya kok masih gitu aja negaranya, padahal klo mau berpikir itu masalah kuat-kuatan jaringan dan kuantitas saja. Yang korup masih banyak dan bukan sekedar oknum.contoh yang sederhana diberikan oleh bapak saya sendiri, sebagai PNS (sekarang pensiun) di depsos, pernah jadi ka. bagian (lahan basah juga kan) sampe sekarang ya melarat, jadi ketua RT pun pantang menerima sogokan bahkan hadiah semisal rokok dan sejenisnya, pasti dilabrak itu orang yang coba ngasih dia sogokan/hadiah. Duit bagi-bagi ga jelas dibiarin saja di laci kerjanya. *duh, kangen bapak…

  4. subhanallahu said: saya masih SD atu SMP kayaknya ini, pernah datang bu inten datang ke komplek dinas bapak saya, tangan beliau klo ga salah salah satunya artifisial…sayang sekali klo dana itu di korup, dan itu sudah lumrah di negara ini 😦

    Makanya gak perlu menggantungkan pada pemerintah. Pemerintahnya digantung aja.

  5. fightforfreedom said: Pemerintah kita memang inferior banget ya.

    Selain inferior, kuatir gak dapet bagian. Kalau masalah ini gak diungkap, pemerintah kan masih bisa meneruskan kerja sama dalam bidang apa saja dengan Jepang. Pemerintah kan dapat bagian juga, yang masuk kantong pribadi. Kaitannya sangat panjang. Kalau hubungan diputus oleh Jepang, pemasukannya bisa berhenti kan.Jadi bukan masalah inferior saja.

  6. enkoos said: Inten Suweno

    saya masih SD atu SMP kayaknya ini, pernah datang bu inten datang ke komplek dinas bapak saya, tangan beliau klo ga salah salah satunya artifisial…sayang sekali klo dana itu di korup, dan itu sudah lumrah di negara ini 😦

  7. enkoos said: Ada orang yang frustasi karena telah menjanjikan kompensasi dengan meminjam uang untuk adminstrasi. Tiap kali ada orang yang datang ke kampung, maka orang-orang akan berkata: Wah kamu nanti jadi kaya-kaya ya?; Dapat apa dari mereka?,

    Memang berat perjuangan Hilde Janssen untuk menggali informasi, ketika jurnalis Belanda itu punya niatan baik, tapi banyak keluarga korban udah kadung trauma gara-gara yayasan semprul dan abal-abal yg cuman nyari duit. Padahal report yg dihasilkan Hilda ini dibukukan & dijadikan film dokumenter dan kemudian dikabarkan ke seluruh dunia, untuk menekan Jepang. Sementara pemerintah kita adem ayem, menganggap masalah ini selesai, takut mengganggu hubungan bilateral. Pemerintah kita memang inferior banget ya.

  8. enkoos said: Ada kasus di suatu pulau pembunuhan massal akibat balas dendam dari Jepang karena penolakan masyarakat terhadap permintaan Jepang yang meminta menyerahkan perempuan. Demikian juga di daerah Sumatera.

    Holocaust spt ini harus diungkap.

  9. fightforfreedom said: Menjadi jelas ketika menggali lebih jauh sikap pemerintah Indonesia (sampai saat ini), yaitu menganggap persoalan ini selesai. Woww… parah banget !

    Wawancara dengan Hilde Janssen juga bisa dibaca disini: (barusan googling). Kejadiannya masih relatif baru (Juli 2011)http://etnohistori.org/pragmatisme-kekuasaan-dan-kegagalan-sistem-jugun-ianfu-wawancara-dengan-hilde-janssen.html===========Pragmatisme Kekuasaan dan Kegagalan Sistem Jugun Ianfu: Wawancara dengan Hilde JanssenPenulis dan pewawancara: Anna Mariana*Dalam kurun waktu hingga 66 tahun pasca kemerdekaan, nasib para perempuan yang pernah diculik dan dipaksa untuk menjadi tenaga kerja paksa seksual pada masa Jepang masih belum mendapatkan keadilannya, baik di dalam negeri apalagi di dunia Internasional. Para perempuan yang saat ini telah menjadi nenek-nenek itu, adalah saksi tentang bagaimana penegakkan HAM di negeri ini masih jauh panggang dari api. Hal ini membuktikan bahwa persoalan pelanggaran HAM tidak pernah menjadi agenda yang diprioritaskan oleh pemerintah, maka dapat dilihat, kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya semakin merajalela dan tak pernah diselesaikan secara serius di negeri ini.Tak banyak yang mencoba menelusuri sejarah Jugun Ianfu dan perjuangan mereka untuk mendapatkan keadilan. Meski demikian, usaha untuk menolak lupa atas peristiwa pelanggaran HAM masa lalu tersebut, mulai didobrak melalui usaha merekam kisah mereka sedikit demi sedikit. Salah satunya adalah keradaan sebuah buku yang ditulis oleh seorang jurnalis kewarganegaraan Belanda yang berjudul Schaamte en Onschuld, yakni Hilde Janssen.Penulis dalam buku itu memuat kesaksian para perempuan yang harus berada dalam situasi kerja paksa seksual, dan mengungkapkan pula bahwa para perempuan yang menjadi korban, bukan hanya yang masuk ke dalam asrama atau bordir, yang biasanya hadir dalam narasi selama ini. Tetapi juga para perempuan yang menjadi korban dalam barak-barak militer, pabrik- pabrik, gerbong kereta api, hingga rumah dinas perwira. Hal ini terjadi disebabkan sebuah kegagalan sistem pragmatis pemerintah pendudukan Jepang atas kebutuhan seksual para tentara-nya. Pemerintah Jepang mendirikan dan turut memberi restu atas sistem perbudakan seksual yang terwujud dalam ianjo-ianjo. Namun, aturan-aturan sebagai upaya menertibkan dan mengelola tindakan pemuasan seksual itu gagal. Maka, yang terjadi adalah perbudakan seksual liar terjadi dimana-mana dengan varian yang berbeda. Buku Janssen muncul seolah menjadi oase dalam perjalanan terik para perempuan yang senantiasa menuntut atas pelanggaran HAM di masa lalu dan belum diselesaikan hingga hari ini. Buku itu melalui proses penelitian yang panjang, memakan waktu hingga dua tahun. Tidak hanya karya literer yang dihasilkan, namun karena melibatkan kerja bersama dengan seorang fotografer dan film maker, Jan Banning, maka penelitian itu menghasilkan pula katalog foto dan sebuah film dokumenter.Kepada awak etnohistori.org, Anna Mariana, Hilde Janssen menguraikan banyak hal mengenai kisah para perempuan korban sistem Jugun Ianfu, yang menurutnya lebih tepat disebut kerja paksa seksual ini. Dalam perbincangan ini, ia menguraikan beberapa hal terkait akar persoalan kemandegan perjuangan HAM para penyintas Jugun Ianfu di Indonesia, lalu seperti apa sistem Jugun Ianfu dan akibat yang ditimbulkannya, hingga kisah mengenai para penyintas, baik semasa perang berlangsung dan masa sesudahnya. Wawancara ini dilakukan di sela- sela acara Pameran Foto Troostmeisjes yang diadakan 26 Maret11 April 2011 di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta beberapa waktu lalu. Berikut adalah petikan wawancaranya.Bagaimana awal mula anda mulai tertarik dengan isu Jugun Ianfu?Saya tertarik secara khusus mulai tahun 2007, ketika pertama kali adanya permintaan dari koran saya bekerja (Algemene Dagbladred) yang meminta saya untuk mencari tahu tanggapan pemerintah Indonesia atas Isu jugun ianfu. Pada tahun itu, kasus jugun ianfu sedang menjadi berita internasional yang mencoba melihat sampai sejauhmana pihak Jepang mau mengakui kejahatan perang. Sedangkan untuk pertama kali tertarik masalah ini, yakni pada tahun 2004, ketika saya ikut bersama Mbak Nur (Nursyahbani Katjasungkanared), berkeliling di beberapa daerah untuk mengikuti Pemilihan Umum. Kami waktu itu sempat mampir di Blitar dan menemukan seorang mantan jugun ianfu yang masih hidup dan kami mewawancarainya. Pada waktu itu, saya sangat tertarik, karena wow, ternyata saya masih dapat bertemu dengan mantan jugun ianfu. Saya menjadi lebih tahu banyak sejarah mereka. Saya mulai mencari berbagai informasi dari Mbak Nur, karena ia pernah terlibat dalam isu jugun ianfu. Mbak Nur mengatakan bahwa pemerintah Indonesia tidak mau tahu atas kasus ini. Tentu saja saya heran karena pada umumnya pemerintah yang pernah di duduki Jepang, mereka marah. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia ternyata memilih melindungi hubungan baik dengan Jepang. Indonesia sangat tergantung terhadap Jepang sampai sekarang ini terutama dalam ekonomi, dan juga karena Jepang dianggap memiliki peranan dalam kemerdekaan. Pemerintah merasa harus berterima kasih lewat perjuangan pada masa lalu.Dari situ saya semakin tertarik karena respon tersebut di luar dugaan saya. Begitu pula ketika saya mencari informasi di dalam pers Indonesia pada saat itu, ternyata tidak muncul kisah mengenai korban-korban. Akhirnya, saya merasa sangat ingin sekali bertemu dengan mantan jugun ianfu, namun hal ini ternyata tidak gampang. Sehingga dua bulan kemudian saya berdiskusi dengan Jan Banning, ia juga seorang sejarawan, dan saya berdiskusi bahwa banyak orang yang tidak mau tahu korban masa Jepang. Maka kami memutuskan untuk mencari kisah para korban ini. Meski orang tidak mau tahu, tetapi kami mau mencari kesaksian, merekam kesaksian nenek-nenek ini dengan pendekatan ambil foto dan ambil cerita mereka. Saya yang riset, melaksanakan penelitian dan ia (Jan Banning) lebih fokus pada ide-ide untuk visualisasi, namun ia juga banyak baca buku dan mewawancarai juga. Kami hanya berfikir, sebelum semuanya terlambat, kita harus merekam mereka.Berapa banyak Jugun Ianfu yang anda wawancarai?Wawancara para ibu itu sampai 50 orang lebih. Namun, di antara mereka ada yang tidak mau difoto, ada juga yang sudah pikun. Maka kami harus memilih di antara para ibu itu untuk kami tulis maupun untuk pameran. Pada awalnya saya fokus pada para ibu yang masuk bordir resmi, namun pada saat saya bertemu para ibu itu, ada banyak kasus ibu-ibu yang masuk ke dalam kamp dan mengalami perbudakan. Ada pula yang diambil dari rumah mereka setiap hari untuk melayani para tentara, ada pula yang bekerja secara paksa, dan pada malam hari harus melayani tentara. Saya melihat hal-hal demikian merupakan bagian dari sistem perbudakan juga. Hal ini terjadi karena didorong oleh sistem yang dibentuk oleh Jepang. Tentara yang tidak sempat masuk bordir, akhirnya melakukan berbagai pelanggaran disiplin militer. Mereka menganggap berhak untuk mendapatkan perempuan. Kadang-kadang yang membawa perempuan itu adalah komandan tangsi sendiri. Atas inisiatif sendiri, para perempuan itu dijadikan budak seks di dalam barak militer dan komandan bisa melihat. Bila berdisiplin, hal itu tentunya tidak diperbolehkan. Saya pikir pendekatan itu bisa dipakai untuk melihat kasus di beberapa tempat, terutama untuk daerah di Jawa Barat banyak sekali yang dijadikan seperti itu, seperti terjadi perbudakan yang terjadi di pabrik-pabrik. Hal ini dapat pula di lihat di bagian Timur Indonesia, biasanya di pulau-pulau kecil. Ada kasus di suatu pulau pembunuhan massal akibat balas dendam dari Jepang karena penolakan masyarakat terhadap permintaan Jepang yang meminta menyerahkan perempuan. Demikian juga di daerah Sumatera.Bagaimana background antropologi anda membantu dalam riset sejarah ini? Dan hal yang menarik adalah mengajak seorang fotografer ikut terlibat dalam proyek bersama. Bagaimana sebenarnya proses kreatif ini berlangsung?Saya pikir pengaruh antropolog selalu ada. Cara untuk mendekati isyu dan orang, saya b
    elajar banyak dari riset antropologi. Dalam antropologi, untuk melihat dalam suasana kampung, situasi kontemporer dapat langsung ditangkap, tetapi hal yang tampak saat ini selalu dipengaruhi oleh masa lalu mereka. Jadi, walaupun fokus saya adalah antropologi feminisme ekonomi, namun, selalu saja tidak bisa tutup mata dari sejarah. Sejarah menjadi salah satu bagian dari budaya, bagian dari masyarakat. Sejarah selalu menjadi bagian dari masa saat ini. Maka, penelitian ini adalah oral history, dan saya menggabungkan keduanya antara sejarah dan antropologi. Tentang bagaimana keadaan sekarang saat ini dan bagaimana dampaknya dari sejarah terhadap situasi mereka saat ini. Sejauhmana kemudian akibat dari masa lalu itu masih menjadi diskusi. Yang penting untuk kami adalah merekam kesaksian mereka, supaya sejarah mereka tercatat. Supaya tidak akan dilupakan. Juga untuk menyadarkan banyak orang, bahwa ada dampak walaupun sudah lebih dari 60 tahun, bahwa masa lalu masih berdampak, dan ada keterkaitan dengan situasi bahwa kekerasan seksual dalam konflik senjata, dengan situasi kontemporer tetap terjadi, diulangi-ulangi seperti sebuah konspirasi kebisuan. Kami berharap dengan langkah ini, hal itu bisa dipecah, dibongkar, menjadi diskusi bersama. Maka kami berpendapat melalui pameran ini bisa menjangkau lebih luas perhatian lagi, kesadaran banyak orang dibandingkan hanya tulisan.**Apa saja kesulitan yang dihadapi dalam riset ini?Mencari mantan jugun ianfu, tidak mudah karena ada persoalan sensifitas dan juga bukan kasus suatu fenomena dalam satu kampung saja, namun juga di banyak tempat. Bagaimana saya harus mulai? Apalagi, pada tahun 1990 organisasi yang membela jugun ianfu sudah tidak ada, karena jaringan yang terbentuk mulai tahun 1995 itu telah terpecah dan kehilangan kontak. Saya lalu mulai mengumpulkan informasi dari Mbak Nur, dan ia mengatakan bahwa ia masih mengenal seorang mantan jugun ianfu. Dari Mbak Nur, saya bertemu ibu Emah di Bandung. Ibu Emah adalah salah satu mantan jugun ianfu yang ikut ke Tokyo dan Belanda. Banyak orang yang sudah kenal dia, itu merupakan kemudahan saya, karena saya bisa mulai bekerja dari Jakarta. Jadi itu tinggal satu kontak saja. Lalu saya mendekati pula, yang terkenal ibu Mardiyem. Kemudian saya ke LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Yogyakarta, karena mereka terlibat banyak. Ternyata Pak Budi Hartono sudah menyerahkan kasus ini kepada generasi selanjutnya, tetapi beliau membantu saya untuk bertemu dengan ibu Mardiyem. Mereka membantu saya menemui satu kontak di daerah Jogja, mengunjungi satu kampung, menemui empat mantan jugun ianfu. Melalui ini, basis pengetahuan sudah saya dapatkan, menjadi starting point tentang apa yang terjadi pada mereka.Oke, saya sudah memiliki pengetahuan awal. Tetapi ini tidak cukup karena untuk mengambil foto, karena minimal kita harus bertemu sekitar 20 atau 15 orang. Targetnya adalah untuk wawancara dan pameran. Pada awal, kegiatan masih lumayan gampang. Setelah itu kita mulai stag. Mau kemana lagi? Saya mencari informasi lewat teman-teman yang masih punya kontak. Dari situ saya ketemu Eka Hindra, terutama ia fokus ibu Mardiyem. Ia memberikan kontak seseorang di daerah Magelang, tapi ternyata orang itu kena stroke, tidak dapat bicara, dan banyak dokumen sudah dimakan rayap. Lewat informasi dari istrinya, kami mulai berkeliling mencari yang masih hidup. Dari situ kita ngga dapat siapa-siapa. Ya, memang kebanyakan dikarenakan banyak orang yang tidak mau untuk wawancara. Ada pula para ibu yang sebenarnya ia adalah korban, namun mereka tidak mau mengakui. Kami punya daftar mantan jugun ianfu, namun mereka tidak tahu masuk daftar. Banyak sekali alasan yang dikemukan. Lalu kami mendapatkan informasi dari Pak Mudiyanto, ia masih memiliki kontak di daerah lain. Dari situ kami bertemu dengan banyak sekali mantan jugun ianfu, seperti ibu Paini, ia cukup terbuka, dan kami senang sekali.Ada satu peristiwa dalam pencarian dan meyakinkan untuk proses wawancara dengan para jugun ianfu ini yang cukup berliku. Waktu itu seharian kami mencari sebuah alamat tidak ketemu. Bersama dengan Pak Mudiyanto, dalam keadaan sakit, ia mau ikut bersama kami mencari alamat suatu kontak. Lalu melalui dokumen yang ia punya, kami mencari kontak melalui salah satu kepala kampung. Kepala kampung itu mengatakan ya, ada yang tinggal di sana, orang itu masih ada. Dan pak Mudiyanto ingat, ya..ya ini kampungnya. Orang-orang disana terkejut melihat Pak Mudiyanto, mereka menangis, emosi keluar. Namun orang itu berkata, semua baik saja tapi ngga akan membantu lagi, mereka bilang Saya sudah bosan, saya sudah investasi uang, tapi gimana hasilnya, tidak mendapat apa-apa. Orang-orang kampung selalu menanyakan hal itu. Percuma saja membantu. Perlu diskusi yang melelahkan untuk meyakinkan bapak itu. Kami lalu mengatakan yang diinginkan oleh para tentara Jepang itu akan terwujud. Bahwa semua orang lupa yang terjadi kalau anda tidak mau membantu. Kami tidak akan mendapatkan sejarah, maka Jepang senang. Dari pernyataan itu, bapak tersebut malah langsung mau membantu. Oke, saya bantu, karena saya tidak ingin Jepang senang. Perjuangan saya agar tidak sia-sia.Persoalan kompensasi selalu muncul hampir di semua tempat saat kami menelusuri untuk mewawancarai para korban. Setiap kali kami ke suatu tempat, orang-orang yang kami temui selalu mengatakan, apa yang dapat kami dapatkan? Ada satu cerita, di suatu tempat ada seseorang yang setuju akan menceritakan apa yang ia alami. Pada hari kedua, kami datang ke situ, kami juga bawa kamera, sedang siapkan studio, tiba-tiba sang suami datang sambil marah-marah. Kalau anda mau bicara dengan istri saya, harus minta ijin saya, ini rumah saya, begitu katanya. Saya bilang kami minta maaf, namun ia mengatakan, Saya tuntut anda, saya tidak beri ijin, anda harus bayar dua juta., ancamnya. Kami lalu bilang bahwa kami tidak punya uang. Ini sudah jelas menuntut masalah uang, sehingga kami menolak permintaannya. Kami tidak mau membeli cerita mereka, karena kami merasa sama saja dengan menghina mereka.Apakah penolakan itu terkait dengan pengalaman atas kegagalan advokasi?Iya, itu juga termasuk. Ada orang yang frustasi karena telah menjanjikan kompensasi dengan meminjam uang untuk adminstrasi. Tiap kali ada orang yang datang ke kampung, maka orang-orang akan berkata: Wah kamu nanti jadi kaya-kaya ya?; Dapat apa dari mereka?, semua menjadi pengetahuan banyak orang, terutama mereka yang berada di Jogja, karena telah tersebar luas di media massa. Ada memang yang menjanjikan uang, seperti kasus di Jawa Barat, pada saat saya minta tunjuk suatu alamat, lalu orang tersebut tiba-tiba saja berkata: oo…anda yang membawa uang Jepang? hal ini dikarenakan saat para ibu itu mendaftar, mereka dijanjikan akan mendapatkan uang dan nanti jalan yang melalui kampungnya akan diaspal.Bagaimana dengan dana AWF (Asia Womens Fund) yang sempat dikucurkan oleh pemerintah Jepang?Dana itu bukan kompensasi secara resmi. Masalah itu bukan hanya menjadi perdebatan di Indonesia, tetapi di negara lain. Seperti di Korea, ada sekelompok yang menerima dana, dan ada pula gerakan yang menolak, karena dianggap sebagai uang tutup mulut. Dan uang ini bukan dari pemerintahan secara resmi, hanya dari sebuah yayasan. Bagi para ibu-ibu yang butuh, mereka tetap menerima uang tersebut, di Korea dan di Belanda ada dua kelompok yang menolak. Namun, apapun pilihan para ibu itu, isu tetap bergulir, tetap diperjuangkan dan bisa menuntut pemerintah untuk mengakui secara langsung, sehingga gerakan tidak pecah. Hal inilah yang berbeda di Indonesia dan menjadi persoalan besar karena akhirnya banyak kontak tidak dapat dihubungi. Maka tak heran setiap kali wawancara di beberapa tempat selalu muncul persoalan dana kompensasi.Bagaimana dengan stigma-stigma yang dirasakan para ibu itu? Apakah masih dirasakan hingga hari ini pada saat anda bertemu mereka?Di tiap daerah, stigma yang paling sering dilontarkan adalah sebutan bekas Jepang. Ada pula yang putus hubungan dengan pasangan mereka dengan alasan tersebut. Akibat itu pula, banyak para perempuan yang tidak pulang
    ke kampung halamannya. Mereka akhirnya memilih tinggal di kota, karena mereka menjadi lebih anonim, karena tetangga tidak tahu latar belakang mereka. Semua nikah di tempat pada saat Jepang hengkang. Banyak yang bersiasat langsung untuk mencari suami kala perang usai. Kalau ada suami, keluarga tidak akan tanya macam-macam apa yang menimpa mereka saat mereka pergi. Dan ada juga, seperti ibu Mardiyem, kirim uang kepada kelurga. Hal ini untuk menunjukkan bahwa saya bekerja. Mereka menjaga image mereka dengan mengirimkan uang tersebut. Mereka berangkat dari rumah-rumah mereka adalah bekerja, kebanyakan dari mereka dihinakan. Kadang-kadang mereka boleh pula keluar dari bordir, lalu jalan-jalan sedikit, paling tidak mereka mendapatkan uang sedikit, mereka bisa merokok dan hal seperti itu, bagi orang luar di luar bordir, terlihat menyenangkan. Mereka akhirnya dihinakan karena mereka adalah ransum Jepang. Kehidupan gampang yang dilihat orang luar, padahal sebagian besar orang-orang di luar para perempuan itu sangat susah, dari situlah mereka sudah mendapatkan stigma sosial. Para perempuan itu terlihat terawat.Kadangkala ada juga usaha untuk menghilangkan stigma atas diri perempuan muda usia yang tak paham apa-apa. Mereka mengatakan apa yang terjadi pada saya? Anaknya itu tidak sadar, apa artinya diperkosa, lalu mereka dimandikan oleh kyai-kyai, mereka telah dibersihkan. Seringkali stigma itu dari awal, karena tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadap para perempuan itu. Jika seorang gadis tidak muncul lagi saat hilang dari rumahnya, maka dapat dipastikan, mereka telah diperkosa. Diambil oleh Jepang artinya adalah diperkosa. Karena kehidupan mereka terlihat lebih baik dari dunia luar, tetapi juga, karena melanggar dari norma-norma setempat, bahwa perawan harus utuh sebelum ia mendapatkan suami, maka stigma menjadi berkembang. Mulai dari situ penghinaan secara terus menerus terjadi. Agar orang tidak tahu lagi siapa mereka dengan sebutan mereka bekas, menyebabkan mereka tidak menceritakan pengalaman mereka sendiri. Mereka tidak mau membicarakan pengalaman pahit mereka.Kadangkala ada suami yang terima dengan keadaan itu, tetapi kemudian, harus menanggung beban-beban berat dari masyarakat. Saya sangat sedih ketika membayangkan kondisi mereka waktu itu ketika mendengar kisah-kisah mereka. Mereka sendirian harus menghadapi peristiwa tersebut dalam usia muda, tak mengerti apa-apa, kebigungan. Tiba-tiba saja ada orang lelaki dewasa, mereka terlalu kecil, mereka tidak dapat ditolong siapapun. Ketika mereka akan menceritakan apa yang terjadi ssst, jangan bilang siapa-siapa, lalu dikatakan seolah-olah ia yang bersalah. Kisah seorang ibu yang mengatakan bahwa pada waktu ia tidur, ketika suami mendekat ia selalu secara otomatis menolak suaminya dengan memukulnya, secara instingtif. Ia kemudian berdalih bahwa saat itu ia bermimpi.Ada banyak orang yang di kemudian hari, tidak bisa hamil, tidak memiliki keturunan. Mereka kemudian menjadi semakin tertekan dengan tidak dapat memiliki keturunan. Mereka menjadi teringat terus akan peristiwa masa lalu itu karena di Indonesia, anak sangat penting. Ada beberapa suami yang menceraikannya, ataupun para ibu itu yang mencerai suami mereka. Tapi bisa dilihat, mereka diceraikan karena tidak memiliki anak. Pada umumnya orang yang tidak memiliki anak, mereka miskin. Ada yang dibantu oleh anak angkat. Pada umumnya tidak punya anak, dan juga tidak selalu dibantu oleh keluarga. Akhirnya ketika diajak untuk meregistrasi diri, mereka mencoba bangkit, namun kemudian ketika mereka mulai menceritakan apa yang terjadi, pemerintah mengatakan ini aib, jangan diceritakan! Tentu saja ini telah memukul mereka. Mereka merasa hanya diajak, namun kemudian dihina oleh pemerintah mereka sendiri. Mereka akhirnya frustrasi, tidak dapat uang, malah punya utang.Istilah Jugun ianfu, adalah sebutan yang eufemistik, kira-kira menurut ibu istilah apa yang lebih tepat untuk menggantikan ini?Ada banyak kata dan istlilah untuk menggambarkan situasi ini secara pas, namun banyak sekali istilah-istilah tersebut yang ditolak oleh para perempuan sendiri. Seperti contoh kata penghibur yang diartikan sebagai pelacur. Kata penghibur sebenarnya mengaburkan karena menghiburkan seseorang sama dengan comfort atau trooit dalam bahasa Belanda, dan hal itu sangat eufemistik. Siapa sebenarnya yang dihibur? Siapa yang menghibur? Ini tentu saja penghinaan besar. Kalau disebut dengan prostitusi terpaksa, orang juga tidak sependapat dengan kata prostitusi, karena kata tersebut dianggap konotasi negatif. Ada pula istilah sex slave, budak seksual, namun posisi statusnya seperti budak dengan istilah itu, mereka juga tidak mau dianggap budak. Banyak kata, bagi mereka sendiri agak sulit diterima, mulai dari karena konotasi sangat negatif, lalu ada juga kata tersebut tidak mencerminkan situasi yang sebenarnya. Seringkali jika melihat dari penyataan dari para ibu itu mereka memiliki kosakata sendiri seperti gini-gini (dengan posisi tangan mengusap-usap tangan), ada pula istilah perselingkuhan. Istilah ini digunakan karena perselingkuhan adalah kata yang biasa disebut bagi orang yang melakukan hubungan suami-istri tanpa ikatan pernikahan. Hal ini tentunya sangat tidak tepat karena posisi mereka adalah korban. Tidak ada rasa suka sama suka yang biasanya mendasari seorang pelaku perselingkuhan. Mereka ini dalam posisi dipaksa. Dilihat dari situ, maka mereka tidak memiliki kata-kata sendiri untuk menggambarkan kondisi mereka. Kata-kata yang dapat mereka kemukakan biasanya yang terus terang menjelaskan apa yang terjadi, langsung menekankan seksualitas yang ada di situ.Adapun menurut saya, sesuai dengan apa yang saya dapat dan juga cari-cari dari buku-buku referensi, mengenai kondisi yang dialami para ibu itu, kata yang paling netral adalah kerja paksa seksual. Kerja paksa ditekankan karena lebih netral dari pada budak, dan seksual lebih netral daripada prostitusi. Seperti kalimat dalam buku saya memang masih menggunakan trootmeijes, hanya karena sudah menjadi istilah yang terkenal, memudahkan orang untuk mendefinikan meski sebenarnya kurang tepat. Namun saya mencoba menghindari kalimat- kalimat yang menghinakan. Maka saya menggunakan kalimat dengan Mevrouw, yang berarti ibu, jadi bukan dengan dia ataupun kata lain. Bagi saya kerja paksa seksual lebih tepat untuk istilah ini. Karena dalam banyak kasus, kata ini pun untuk menggambarkan para jugun ianfu yang juga melakukan kerja paksa. Mereka ada yang harus bekerja di dapur, kerja paksa dalam pembuatan gorong-gorong, namun pada malam hari juga melakukan keja paksa dalah pelayanan seksual. Adapun istilah jugun ianfu hanya dipakai untuk gadis-gadis yang masuk bordir resmi saja, dimana ada karcis, sistem antre dan adanya pemeriksaan kesehatan.Hal ini sebenarnya dapat dimengerti karena pada waktu kita dikenalkan dengan istilah itu, sebagai bagian dari strategi untuk memperjuangkan hak keadilan di pengadilan internasional. Dan untuk menuntut tanggungjawab Jepang, maka harus ada bukti keterlibatan tentara Jepang. Sehingga kisah yang selama ini muncul selalu yang berada dalam bordir resmi. Fokus terhadap kasus perbudakan bentuk yang lain tidak pernah ada kisahnya. Para tentara Jepang telah menciptakan sistem perbudakan yang harapan mereka dapat mendisiplinkan perilaku tentara mereka. Namun pada kenyataannya mereka telah menciptakan sistem yang gagal. Ada bordir-bordir agar seks terkontrol, supaya bersemangat berdisiplin, namun mereka tetap saja memperkosa secara luas, massal dan brutal di luar sistem yang mereka ciptakan. Dan itu terjadi di setiap tempat dan tentara-tentara yang tidak masuk bordir, benar-benar melakukan kekerasan seksual secara nyata. Mereka menculik, mengancam, membawa orang-orang dan itu tetap terjadi. Para perempuan itu benar-benar dikejar, seperti anjing.Ada cerita di Sumatera, seorang perempuan tinggal di daerah perbukitan, daerah hutan. Ketika para tentara-tentara itu naik daerah atas tersebut mereka menangkap para perempuan dan membawanya dengan mengikatkan rambut para perempuan itu yang panjang di tangan mereka, dan menjinjingnya s
    eperti membawa barang. Para tentara tersebut dengan santai naik ke pohon-pohon dengan tangan terikat rambut perempuan tersebut. (Kisah perkosaan liar tidak hanya terjadi terhadap orang Indonesia pada masa Jepang. Kisah dari Aceh, saat para TNI masuk ke dalam rumah penduduk dan jika hanya ada perempuan mereka langsung memperkosanya).Saya juga mendengar kesaksian dari orang Australia, ketika mereka bagian dari Palang merah. Mereka berasal dari Swiss, lalu pada masa perang itu mereka masuk ke dalam internering Belanda. Sebelumnya mereka tinggal di Sumatera, lalu tiba-tiba ada tiga orang militer masuk ke rumah, ayah ibunya lalu dibawa ke internering, sedangkan anak mereka masuk ke rumah sakit. Ayahnya tidak dapat berbuat apa-apa. Anaknya kemudian diperkosa, masuk rumah sakit, selama perang tinggal di sana. Peristiwa itu dilakukan oleh sikap tentara-tentara yang secara liar yang mencari kesenangan di luar bordir. Hal itu menujukkan kegagalan sistem, yang tidak dilihat dan dikoreksi oleh Jepang. Jepang melakukan pembiaran karena tentaraseharusnya selalu mengecek semua perilaku para tentaranya. Kemungkinan akan adanya resiko luas yang ditimbulkan dari sistem bordir yang dibangun oleh tentara Jepang tidak diantisipasi. Bagi saya, kisah para perempuan ini tidak dapat dibiarkan apakah mereka bagian dari bordir resmi atau tidak. Mereka diperkosa, dihina sedalam-dalamnya, paling besar, intim sekali penghinaannya. Secara teoritis, ini semua adalah jugun ianfu, karena sistemnya gagal, ini hanya untuk klasifikasi pengalaman mereka, karena pekosaan itu terjadi tidak hanya yang terjadi di bordir. Ini bukan ulah oknum, tapi sebab ada pembiaran, Jepang harus bertanggung jawab!Apakah ibu menemukan ada yang menjadi korban seksual di waktu yang lain akibat adanya stigma tersebut?Saya tidak pernah dengar. Mereka berkisah bahwa mereka selalu merasa dihargai, meski ada istilah bekas jepang. Namun ada suatu kisah, pada saat itu mereka masih tinggal di dekat bordir saat perang usai, ada pasukan Amerika masuk, tentara itu meminta dilayani. Mereka lalu menolak untuk melayani dengan melakukan berbagai perlawanan dan melarikan diri.***Adakah perubahan sosial yang signifikan yang terjadi pada diri perempuan itu, sebagaimana para perempuan kelas menengah yang dijanjikan untuk sekolah, namun ternyata menjadi budak seks dan bertemu dengan para Tapol 65 di Pulau Buru sebagaimana yang ditulis Pramoedya Ananta Toer mengenai Jugun Ianfu?Satu catatan ya, Pram tidak pernah bertemu langsung para ibu itu. Pram tidak mewawancarai mereka. Sumber Pramoedya adalah tangan kedua, bahkan tangan ketiga. Pengalaman saya dalam menelusuri para ibu itu, saya tidak mendapatkan informasi khusus mengenai kelas sosial mana asal para perempuan itu. Ya, itu mungkin karena banyak orang yang saya wawancara bukan bekas anak bupati, akhirnya saya tidak menemukan seperti yang Pram tulis. Saya kira yang terjadi, yang masih dapat kita temukan dan terbuka melalui kesaksian mereka saat ini adalah golongan kelas menengah ke bawah. Seperti di Sumatera, di situ mantan eks Heiho yang mencoba untuk mencari mereka juga tidak berhasil dikarenakan stigma begitu besar, maka tidak ada seorang pun yang menceritakan kisah hidup mereka. Mereka lari dari tempat asalnya. Merasa tidak bisa pulang lagi ke kampungnya. Melalui kisah orang- orang yang saya temui, ya ada yang susah, ada yang lumayan pasca perang usai.Memang ada beberapa kisah yang saya temui menyebabkan perubahan sosial yang besar bagi para perempuan itu. Salah satunya seorang survivor yang saat ia direkrut, masih duduk di sekolah. Ia diambil dari sekolah, lalu dibawa ke tangsi oleh tentara. Lalu papa nya mencari ke tangsi, dia meminta kembali anaknya, tapi tidak dikasih. Setelah ia keluar, dia tidak mau menikah, ia hanya hidup dengan papanya. Ia selalu bekerja bersama ayahnya, mengurus keuangan pekerjaan papa-nya. Ia sempat menikah beberapa kali, tetapi akhirnya dia dicerai dan hidup sendiri. Setelah papa-nya meninggal, uangnya mulai kurang, hingga akhirnya sekarang ia tinggal di tempat yang tidak layak, sangat miskin. Sekarang dia hidup dari belas kasihan keponakan-keponakan. Dari situ dapat dilihat bahwa ia dulu orang yang cukup. Ada kasus juga orang yang diambil, ketika berada di jalan, orangtua punya toko, ada perampokan, dia dibawa ke jakarta, setelah dua tiga bulan, ia benar-benar seperti sampah, dia dikelurkan dari bordir itu. Lalu ada seorang haji yang membawanya ke Karawang dan dipekerjakan sebagai pembantu. Haji itu mencoba mencari papa-nya, namun tidak ketemu. Akhirnya ia dianggap angkat anak meski menjadi pembantu. Sampai kemudian pernikahanya pun diurus oleh haji. Ia adalah contoh yang kehilangan semuanya. Bukan hanya pengalaman traumatis dipekosa, namun juga ia tidak pernah bertemu kembali dengan orangtuanya sesudah perang usai. Bagi keluarga yang mau menerima mereka, setidaknya bisa mempertahankan yang mereka punya, mereka punya sesuatu. Seperti kasus Ibu Emah dari Bandung, ia adalah dari keluarga petani yang cukup punya, lama-lama menjadi orang miskin.Apa saja profesi yang dilakoni para ibu itu setelah masa perang?Untuk itu saya masih belum dapat menganalisis, riset saya baru awal, ini sebuah kesaksian. Ya, kadang kala kebanyakan para ibu itu menjadi buruh harian, atau yang memiliki lahan, menggarap lahan. Atau seringkali kombinasi keduanya. Ada yang menjadi pemijat seperti ibu Emah, dan juga salah satu ibu di Kalimantan. Ada juga yang berjualan apa adanya di kampung, seperti jualan gorengan. Bila tidak punya modal, mereka cari pekerjaan harian, seperti pembantu. Ada kelompok yang menikah dengan mantan tentara, kehidupan mereka cukup baik, karena mereka terima pensiun. Setidaknya menjadi basis dari pendapatan mereka, sehingga mampu menyekolahkan anak mereka. Seperti kasus di Kalimantan, dimana kehidupan cukup baik, seorang ibu mempunyai anak yang menjadi pegawai, menjadi tokoh masyarakat, kemudian saat ia sering diwawancara, dan terlihat potret dirinya, sempat membuat pertunangan cucunya tertunda kerena maresa malu, kenapa nenek mereka muncul di koran-koran.Mengenai buku kolaborasi kami, kami merencanakan dua kali perjalanan. Saya ingin mencari tiap daerah, namun itu sangat susah. Kami melihat hasil wawancara dan foto-foto dan membuat kami harus berdebat mana yang akan ditampilkan dalam buku. Kadang-kadang ada cerita yang menurut saya sangat menarik dan mewakili suatu kelompok tertentu dalam kasus jugun ianfu, tetapi kata Ian (Jan Banning), foto kurang penjiwaannya. Akhirnya kami ambil keputusan mana saja foto-foto yang masuk pameran. Sebagai fotografer, itu pilihan dia. Saya bilang pameran mewakili kisah yang berbeda, perempuan yang berbeda. Kami mengambil jalan tengah satu pameran dan mereka harus ada penjelasan, meski tidak harus lengkap. Dan bagi saya yang terpenting adalah menceritakan kisah para ibu yang belum ditulis. Cerita yang menarik,dan bisa menjelaskan apa yang terjadi. Akhirnya kami membuat dua buku, sebagai bentuk kompromis. Selain itu ada tambahan karya, yaitu film dokumenter dari perjalanan wawancara kami. Saya mencoba menunjukkan apa yang sesungguhnya terjadi dengan pintu masuk cerita para ibu ini. Saya menjelaskan sejarah mengapa terjadi sistem Jugun ianfu, namun ini bukan buku sejarah, ini adalah kesaksian, dan dalam situasi kontemporer.Saya menempatkan kombinasi situasi saat ini melalui penjelasan sejarah, lalu menempatkan kesan ibu-ibu itu yang dapat dirasakan saat ini, dan menjelaskan sejarah yang ini juga bagian dari sejarah orang Belanda, karena pembaca buku ini adalah untuk orang Belanda. Saya menjelaskan kasus troostmeijses di Indonesia, lalu saya mulai masuk menjelaskan perbedaan antara sistem bordir dan kerja paksa seksual, melalui cerita para ibu yang mewakili kelompok itu. Seperti kisah pertama adalah kisah ibu Emah yang mewakili kelompok bordir, dan yang terakhir adalah kisah para ibu setelah mereka dibebaskan, bagaimana mereka pulang. Dalam kata singkat, saya selalu harus introduksi setiap bagian babnya. Bab awal adalah sejarah lalu bergerak secara kronologis, dan bab terakhir situasi kontemporer.Para ibu
    itu banyak cerita tanpa kata. Bagaimana akan menuliskan sebuah kisah bila hanya tertangkap dengan sikap diam..diam.. kami tidak bicara sama sekali. Tidak ada cara untuk quote atas cerita mereka. Hal itu menunjukkan batapa sensifitas atas kisah mereka sangat kuat. Tidak bisa semua itu lantas menunjukkan bahwa tidak terjadi apa-apa. Semua fakta-fakta sudah tidak menarik lagi. Maka bagi saya, untuk mengungkapkan itu harus mencari cara yang lain. Supaya ada respon masa lalu yang berpengaruh hingga hari ini, maka masalah kompensasi adalah bagian yang saya ceritakan panjang lebar dalam buku saya. Ketika saya bertemu dengan peneliti dari Jepang, dia mengatakan bahwa masalah kompensasi, sangat berpengaruh, namun saya tidak punya bukti untuk menunjukkan bahwa isu itu berdampak khusus. Namun bagi saya, bagaimanapun kita harus melihat sejarah yang begitu sensitif ini ada hubungannya dengan upaya penegakkan HAM. Bagi saya, pemulihan Hak Asasinya para ibu ini layak untuk diperjuangkan. Melalui kasus jugun ianfu pembelajaran penegakkan HAM dapat dilakukan. Saya harap dengan pameran dan buku-buku ini sekali lagi, turut membantu membongkar kebisuan terhadap kekerasan seksualitas. Dengan melalui foto-foto nenek- nenek ini dapat menggugah keberanian kita semua. Kalau nenek saja berani bicara, apalagi kita yang masih muda-muda, bagaimana kita semua bisa membantu para nenek ini mengatasi trauma dengan baik. Meski trauma itu tetap ada, namun minimal ada trauma healing, dan membuat mereka menjadi percaya diri. (AM, Juli 2011)============

  10. fightforfreedom said: Menjadi jelas ketika menggali lebih jauh sikap pemerintah Indonesia (sampai saat ini), yaitu menganggap persoalan ini selesai. Woww… parah banget !

    Saya sih gak kaget. Dan saya sudah baca semuanya yang dipaparkan cak Iwan di atas, sebelum cak Iwan paparkan disini. Isi postingan saya di atas kan juga sudah menyebut mengenai Menteri Sosial Inten Suweno yang menerima dana santunan. Tapi dananya kemana, para korban gak pernah menerima tuh. Bener bener keparat deh pemerintah.Sama aja kayak kasus Rawagede, dimana setelah duitnya cair, para korban penerima santunan diminta menyerahkan separuhnya. Bener2 gak punya malu. http://regional.kompas.com/read/2011/12/21/11015167/Para.Janda.Diminta.Separuh.Santunannya.dari.Belanda.Mengharapkan pemerintah percuma, mendingan bertindak secara swasta. Dan dana kompensasinya lebih baik langsung ke tangan korban. Gak usah pake perantara. Saya pernah baca, lupa dimana (coba saya cari lagi artikelnya) bahwa dulu pernah ditawarkan oleh pemerintah Jepang, tapi pemerintah Indonesia mengatakan lebih baik melalui mereka (pemerintah Indonesia) supaya lebih bisa mengelola. That’s bull shit. Dan memang betul bull shit kan, seperti yang kita baca bahwa Menteri Sosial pada saat itu Inten Suweno menerima dana santunan. Jadi percuma, pemerintah mah gak bisa kerja, bisanya cuma memeras. Gak beda dengan preman.

  11. fightforfreedom said: mbak Evia pernah dengar kiprah Hilde Janssen?

    Thank you sharingnya, mbak Evia, baca-baca http://www.amnesty.org.au/comfort memang sampai saat ini Jepang gak mengakui dan berlepas diri soal itu, alasannya jugun ianfu dikelola oleh swasta.Menjadi jelas ketika menggali lebih jauh sikap pemerintah Indonesia (sampai saat ini), yaitu menganggap persoalan ini selesai. Woww… parah banget !Coba sampeyan simak di sini, Q&A ttg Jugun Ianfu: http://www.ianfuindonesia.webs.com/Bagaimana sikap politik Indonesia?Pemerintah Indonesia menganggap masalah Jugun Ianfu sudah selesai, bahkan mempererat hubungan bilateral dan ekonomi dengan Jepang paska perang Asia Pasifik. Namun hingga kini banyak organisasi non pemerintah terus memperjuangkan nasib Jugun Ianfu dan terus melakukan melobi ke tingkat internasional untuk menekan pemerintah Jepang agar menyelesaikan kasus perbudakan seksual ini. Kemudian upaya penelitian masih terus dilakukan untuk memperjelas sejarah buram Jugun Ianfu Indonesia, berpacu dengan waktu karena para korban yang sudah lanjut usia.Bagaimana sikap masyarakat Indonesia?Banyak masyarakat yang merendahkan, serta menyisihkan para korban dari pergaulan sosial. Kasus Jugun Ianfu dianggap sekedar kecelakaan perang dengan memakai istilah ransum Jepang. Mencap para korban sebagai pelacur komersial. Banyak juga pihak-pihak oportunis yang berkedok membela kepentingan Jugun Ianfu dan mengatasnamakan proyek kemanusiaan, namum mereka adalah calo yang mengkorupsi dana santunan yang seharusnya diterima langsung para korban.Apakah AWF?Juli 1995 Asian Womens Fund (AWF) didirikan oleh organisasi swasta Jepang. Organisasi ini dituduh sebagai agen penyuap untuk meredam protes masyarakat internasional dan tidak mewakili pemerintah Jepang secara resmi. Di masa pemerintahan Soeharto Tahun 1997 Menteri Sosial Inten Suweno menerima dana santunan bagi para korban sebesar 380 juta yen yang diangsur selama 10 tahun. Namun banyak para korban menyatakan tidak pernah menerima santunan tersebut. ******Jadi, ada masalah internal di Indonesia yg harus dibenahi terlebih dahulu:(1) Sikap inferior pemerintah kita.(2) Adanya calo & koruptor dana santunan.Dua hal ini kudu dibenahi terlebih dahulu dan mesti berpacu dg waktu, mengingat para pelaku sejarah sudah di ujung usianya.

  12. fightforfreedom said: mbak Evia pernah dengar kiprah Hilde Janssen?

    Ada lagi artikel di sini: http://www.amnesty.org.au/comfort, dimana dunia menekan pemerintah Jepang untuk meminta maaf, menggambarkan sistem perbudakan seksual dalam buku teks Jepang pada Perang Dunia II secara akurat, dan bukan memelintir sejarah yang mengatakan bahwa Jepang adalah pemersatu bangsa bangsa Asia. =======”In the run-up to the August anniversary of the end of World War II, Amnesty International is calling for justice for former ‘comfort women’ in Japan.During the war, up to 200,000 women and girls were forced into sexual slavery by the Japanese military. These women and girls were kept in ‘comfort stations’ in China, Taiwan, Borneo, Philippines, Singapore, Malaysia, Myanmar (formerly known as Burma), Indonesia and many of the Pacific Islands.Women were abducted, deceived or sold by extremely poor parents. The majority of woman were under the age of 20 and some were girls as young as 12. These women and girls were kept for months or years on end.The women who made it home at the end of the war often kept silent about their experiences and suffered severe psychological and emotional trauma. Many survivors died without talking about what happened to them. In recent years, however, a number of women, now very elderly, have courageously been speaking out. They hope that justice can still be achieved in their lifetime.The Japanese Government’s apologies so far have been inadequate and the government has refused to accept any legal responsibility. Over the past few years there has been growing international pressure on the Japanese Government to accept responsibility and apologise for the abuses of ‘comfort women’.Sixty years on, this lack of justice for ‘comfort women’ is a human rights abuse. Given the age of the survivors, there is an urgent need to act on this issue. We must never forget the atrocities committed against these women. Japan still has the opportunity to right this terrible wrong.We’re calling on the Australian Government to pass a motion in the House of Representatives urging the Government of Japan to:Accept full responsibility for the abuses of ‘comfort women’Officially apologise for the crimes committed against the womenProvide adequate compensation to ‘comfort women’ or their immediate familiesAccurately describe the sexual slavery system in Japanese textbooks on World War IISince 2007, the US, the Netherlands, the UK, Canada, the European Union (with 27 member countries), South Korea, Taiwan and three city councils in Japan have all passed similar motions. It’s time for Australia to do the same.”

  13. fightforfreedom said: mbak Evia pernah dengar kiprah Hilde Janssen?

    Belum pernah cak. Yang saya tahu adalah: Jan Ruff OHerne, warga negara Belanda yang juga menjadi jugun ianfu pada saat Jepang menduduki Indonesia. Jan Ruff O’Herne menerbitkan buku “Fifty Years of Silence: The Extraordinary Memoir of a War Rape Survivor” sebagai salah satu cara untuk memperjuangkan haknya. Seperti yang diceritakannya di sini: http://www.amnesty.org.au/comfort“Australian Jan Ruff O’Herne was 19 when she was taken from her home in Java to a house used as a brothel by the Japanese military. For the next three months, she was raped repeatedly:”For us the war never ended and the shame continued. You carry all the shame. You feel dirty, you feel sorry, you feel different and you feel unworthy. They’ve taken away our dignity.”She was warned that if she ever spoke out about what happened, she would be killed – as would her family. She broke her silence 50 years later, and now bravely speaks out about her experiences because she believes women deserve justice.”Di link yang saya beri di atas, juga ada videonya, silakan di klik, karena saya gak bisa attach di sini.Artikel terkait mengenai Jan Ruff O’Herne bisa dibaca juga di sini: http://www.skycitygallery.com/japan/JanRuff.html======”Statement of Jan Ruff OHerne AOFriends of Comfort Women in AustraliaSubcommittee on Asia, the Pacific, and the Global EnvironmentCommittee on Foreign Affairs U.S. House of RepresentativesHearing on Protecting the Human Rights of Comfort WomenThursday, February 15, 2007Chairman Faleomavaega and Members of the Subcommittee:Thank you for this holding this congressional hearing on the plight of Comfort Women. I am pleased to join with survivors Ms. Yong-Soo Lee of Korean Council for the Women Drafted for Japanese Military Sexual Slavery and Ms. Koon-Ja Kim of the National Korean American Service and Education Consortium to share our stories before you today.I would also like to thank Representative Michael Honda for introducing House Resolution 121, which demands that the Japanese government officially and unambiguously apologize and to take historical responsibility. And I thank Chairman Eni F.H Faleomavaega for inviting the witnesses to speak, to tell our stories to the world in the hope that it will bring us justice.My experience as a woman in war is one of utter degradation, humiliation and unbearable suffering. During World War II, I was forced to be a so-called Comfort Woman for the Japanese military, a euphemism for sex slave.The Forgotten OnesI was born in Java, in the former Dutch East Indies (now known as Indonesia) in 1923 of a fourth generation Dutch colonial family. I grew up on a sugar plantation and had the most wonderful childhood. I was educated in Catholic schools and graduated from Franciscan Teachers College in Semarang, Java.When I was 19 years old in 1942, Japanese troops invaded Java. Together with thousands of women and children, I was interned in a Japanese prison camp for three and a half years. Many stories have been told about the horrors, brutalities, suffering and starvation of Dutch women in Japanese prison camps. But one story was never told, the most shameful story of the worst human rights abuse committed by the Japanese during World War II: The story of the Comfort Women, the jugun ianfu, and how these women were forcibly seized against their will, to provide sexual services for the Japanese Imperial Army.I had been in the camp for two years, when in 1944 high ranking Japanese officers arrived at the camp. The order was given: all single girls from seventeen years up, had to line up in the compound. The officers walked towards us, and a selection process began. They paced up and down the line, eyeing us up and down, looking at our figures, at our legs, lifting our chins. They selected ten pretty girls. I was one of ten. We were told to come forward, and pack a small bag, as we were to be taken away. The whole camp protested, and our mothers tried to pull us back. I embraced my mother not knowing if I was ever going to see her again. We were hurled into an army truck. We were terrified and clung to our bags and to each other.The truck stopped in the city of Semarang, in front of a large Dutch Colonial house. We were told to get out. Entering the house we soon realized what sort of a house it was. A Japanese military told us that we were here for the sexual pleasure of the Japanese. The house was a brothel.We protested loudly. We said we were forced to come here, against our will. That they had no right to do this to us, and that it was against the Geneva Convention. But they just laughed at us and said that they could do with us as they liked. We were given Japanese names and these were put on our bedroom doors.We were a very innocent generation. I knew nothing about sex. The horrific memories of opening night of the brothel have tortured my mind all my life. We were told to go to the dining room, and we huddled together in fear, as we saw the house filling up with military. I got out my prayer book, and led the girls in prayer, in the hope that this would help us. Then they started to drag us away, one by one. I could hear the screaming coming from the bedrooms. I hid under the table, but was soon found. I fought him. I kicked him with all my might. The Japanese officer became very angry because I would not give myself to him. He took his sword out of its scabbard and pointed it at me, threatening me with it, that he would kill me if I did not give into him. I curled myself into a corner, like a hunted animal that could not escape. I made him understand that I was not afraid to die. I pleaded with him to allow me to say some prayers. While I was praying he started to undress himself. He had no intention of killing me. I would have been no good to him dead.He then threw me on the bed and ripped off all my clothes. He ran his sword all over my naked body, and played with me as a cat would with a mouse. I still tried to fight him, but he thrust himself on top of me, pinning me down under his heavy body. The tears were streaming down my face as he raped me in a most brutal way. I thought he would never stop.When he eventually left the room, my whole body was shaking. I gathered up what was left of my clothing, and fled into the bathroom. There I found some of the other girls. We were all crying, and in total shock. In the bathroom I tried to wash away all the dirt and the shame off my body. Just wash it away. But the night was not over yet, there were more Japanese waiting, and this went on all night, it was only the beginning, week after week, month after month.The house was completely guarded, there was no way to escape. At times I tried to hide, but was always found, and dragged back to my room. I tried everything, I even cut off all my hair, so I was totally bald. I thought if I made myself look ugly, nobody would want me. But it turned me into a curiosity object; they all wanted the girl that had cut off her hair. It had the opposite effect.Never did any Japanese rape me without a fight. I fought each one of them. Therefore, I was repeatedly beaten. In the so-called Comfort Station I was systematically beaten and raped day and night. Even the Japanese doctor raped me each time he visited the brothel to examine us for veneral disease. And to humiliate us even more the doors and windows were left open, so the Japanese could watch us being examined.During the time in the Comfort Station, the Japanese had abused me and humiliated me. I was left with a body that was torn and fragmented everywhere. The Japanese soldiers had ruined my young life. They had stripped me of everything. They had taken away my youth, my self-esteem, my dignity, my freedom, my possessions, and my family. But there was one thing that they could never take away from me. It was my
    religious faith and love for God. This was mine and nobody could take that away from me. It was my deep Faith that helped me survive all that the Japanese did to me.I have forgiven the Japanese for what they did to me, but I can never forget. For fifty years, the Comfort Women maintained silence; they lived with a terrible shame, of feeling soiled and dirty. It has taken 50 years for these womens ruined lives to become a human rights issue.The war never ended for the Comfort Women. We still have the nightmares. After the war I needed major surgery to restore my body.In 1992 the Korean Comfort Women broke their silence. Ms. Kim Hak Sun was the first to speak out. I watched them on TV as they pleaded for justice, for an apology and compensation from the Japanese government. I decided to back them up. I broke my silence at the International Public Hearing on Japanese War Crimes in Tokyo in December 1992 and revealed one of the worst human rights abuses of World War II, the forgotten holocaust.For the past 15 years, I have worked tirelessly for the plight of Comfort Women in Australia and overseas, and for the protection of women in war. Now the time is running out. After sixty years the Comfort Women deserve justice. They are worthy of a formal apology from the Japanese government, from Prime Minister Shinzo Abe himself. The Japanese government must take full responsibility for their war crimes.In 1995 they established the Asian Womens Fund, to compensate the victims. This Fund was an insult to the Comfort Women and they, including myself, refused to accept it. This fund was a private fund, the money came from private enterprise, and not from the government. Japan must come to terms with its history, and acknowledge their war time atrocities. They must teach the correct history of the mistakes made in the past.It is important that the surviving Comfort Women tell their stories. Mr. Chairman and members of the subcommittee, I thank you for this opportunity to share my story. I hope that by speaking out, I have been able to make a contribution to world peace and reconciliation, and that human rights violation against women will never happen again.Thank you.===========

  14. dekmaniezt said: Walah, Nazi telah menjadi bubur..Aku lebih suka cerita salah satu istri soekarno yang dari Jepun itu. Pernah baca tentang Jugun Ianfu, klo gak di kompas ya di kartini skitar 2 taun lalu, dan berlalu disapu angin. Tapi yg kuinget asalnya bukan Jogja, dan kalo tidak salah tinggal di panti Jompo. Pernah juga diulas di acara, aku lupa. Mungkin Dorce show, ato setaranya. Tapi yg kulihat, media Indonesia ini juga mengidap semacam demam. Soalnya baru muncul di satu tabloid/majalah misal, ga lama akan muncul di media televisi. Biasanya dalam waktu sebulan lah, aku temuin nanti di koran juga, di portal berita pula, dan menyusul media-media social macam kompasiana. Intinya muncul bergantian timbul tenggelam dalam waktu yang singkat, lalu dilupakan kembali.Entah memang adatnya pemerintah memang melupakan sejarah apa ya mba, tmasuk salah satunya Jugun Ianfu ini. Soalnya, melihat kasus yg sebelom ini (dimenangkan Indonesia, di pengadilan International di Belanda), yg mana aku lupa nama kejadiannya, macam “Rangkas-rangkas” gitu di otakku, tidak ada dukungan bahkan secara moriil dari pemerintah Indonesia. Cuma ada gaung media Indonesia dan citizen journalism aja yang menggembor-gemborkan, tmasuk di MP juga. Ya gitu sih, pelitnya pemerintah Indonesia, bahkan hanya untuk sebuah dukungan moriil.Gitu aja sih dari gw yang kagak bisa tidur abis baca postingan ini. Sadis gelok, gimana gw bisa tidur tenang ni malem =”= oh bebeh..bener2 kepedean masuk postingan ini, hoeeek

    mbak Evia pernah dengar kiprah Hilde Janssen?Saya salut dg Hilde Janssen, seorang jurnalis dan antropolog Belanda, yg sangat concern dg Jugun Ianfu, bahkan ia juga menerbitkan buku yg mengupas detail soal itu. Upayanya patut kita apresiasi.Melalui pameran foto yg digelar di museum veteran Bronbek, kota Arnhem, Belanda, ia mensosialisakan pemahaman ttg Jugun Ianfu (wanita penghibur), dlm bahasa Belanda disebut Troostmeisjes, kepada dunia ia mengabarkan bahwa sebenarnya mereka korban kekerasan seksual tentara Jepang saat perang dunia kedua, bukan wanita penghibur. Ia ingin dunia tahu bahwa banyak perempuan Indonesia dipaksa melayani nafsu birahi tentara Jepang.Trailer dari film dokumenter yg dibikinnya …Alhamdulillah, masih ada orang baik di luar sana yg concern, meskipun bukan warga negara Indonesia. Nahh.. seperti ini yg saya maksud dg: me-rekonstruksi sejarah, mendokumentasikan, mengabarkan dan membicarakannya. Semoga Pemerintah RI serius menindaklanjutinya.

  15. dekmaniezt said: Walah, Nazi telah menjadi bubur..Aku lebih suka cerita salah satu istri soekarno yang dari Jepun itu. Pernah baca tentang Jugun Ianfu, klo gak di kompas ya di kartini skitar 2 taun lalu, dan berlalu disapu angin. Tapi yg kuinget asalnya bukan Jogja, dan kalo tidak salah tinggal di panti Jompo. Pernah juga diulas di acara, aku lupa. Mungkin Dorce show, ato setaranya. Tapi yg kulihat, media Indonesia ini juga mengidap semacam demam. Soalnya baru muncul di satu tabloid/majalah misal, ga lama akan muncul di media televisi. Biasanya dalam waktu sebulan lah, aku temuin nanti di koran juga, di portal berita pula, dan menyusul media-media social macam kompasiana. Intinya muncul bergantian timbul tenggelam dalam waktu yang singkat, lalu dilupakan kembali.Entah memang adatnya pemerintah memang melupakan sejarah apa ya mba, tmasuk salah satunya Jugun Ianfu ini. Soalnya, melihat kasus yg sebelom ini (dimenangkan Indonesia, di pengadilan International di Belanda), yg mana aku lupa nama kejadiannya, macam “Rangkas-rangkas” gitu di otakku, tidak ada dukungan bahkan secara moriil dari pemerintah Indonesia. Cuma ada gaung media Indonesia dan citizen journalism aja yang menggembor-gemborkan, tmasuk di MP juga. Ya gitu sih, pelitnya pemerintah Indonesia, bahkan hanya untuk sebuah dukungan moriil.Gitu aja sih dari gw yang kagak bisa tidur abis baca postingan ini. Sadis gelok, gimana gw bisa tidur tenang ni malem =”= oh bebeh..bener2 kepedean masuk postingan ini, hoeeek

    Kemenong aja Dek?Ya gitu deh, pemerintah Indonesia. Mudah2an kitanya juga jangan ketularan anget2 tahi ayam.

  16. erm718 said: Dulu saya waktu ambil salah satu mata kuliah disini, bbrp teman sekelas dr Korea, Jepang & Cina, yg dimana waktu membahas Japanese occupation memang terlihat uncomfortable. Yg jelas, dr teman2 Jepang mereka tahu kok dan pastinya mereka merasa malu akan sejarah bangsa mereka yg sangat keji tersebut.

    Mungkin karena orang orang Jepang yang mbak Ika temui adalah orang2 Jepang yang berada di luar negeri, yang wawasannya lebih luas ketimbang orang orang Jepang yang berada di negerinya sendiri. Sedangkan yang di dalam negeri, enggak tau juga pastinya karena ya itu tadi deh, pemerintahnya memberi informasi yang salah demi kepentingan mereka. Yang aku baca di beberapa komen di kaskus, ada teman2 mereka yang merupakan siswa pertukaran pelajar dari Jepang yang shock waktu mendapatkan pelajaran sejarah di Indonesia. Shock mendapati kenyataan bahwa bangsanya di masa lalu begitu keji karena selama ini yang mereka dapati di pelajaran sejarah di Jepang enggak seperti itu tetapi katanya adalah bangsa pemersatu. Si siswa Jepang tersebut menyangkal berkali kali. aku copas beberapa komennya ya============http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1550162&page=14gkakaskusergw pernah ngobrol ama temennya-temen gw.dia adalah murid pertukaran dari Jepang…gw pernah nyoba ngobrol-ngobrol tentang penjajahan jepang dan kekejaman jepang di INDONESIA (nenek gw salah satu saksi sejarah dimana alm.suaminya dibunuh (dipenggal kepalanya) didepan matanya oleh Jepang)dia (temen gw yang dari Jepang itu) mengaku bahwa dalam pendidikan mereka, g pernah diajarkan bahwa dulu Jepang pernah menginvasi dan menjajah Indonesia dengan segala kekejamannya.mereka didoktrin bahwa perang Asia Timur adalah perang pemersatu Asia.jadi mereka menganggap dan diajarkan bahwa kekejaman perang masa lalu g pernah ada.gila ya Jepang.http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1550162&page=19minnemannkaskus maniacini pengalaman gw waktu sma dulu,,ada murid pertukaran pelajar dari Jepang di kelas gw,,dia sempet di Cirebon juga setaun.jadi uda ngerti bhs Indonesia (klo ngomong masi rada belibet)..Pas pelajran sejarah,tentang romusha dll, dia lgsg ga percaya.Dia ampe nangis2,ngeyakinin bahwa itu ga bener dia bilang, di sekolahnya ga pernah sama sekali dbahas tentang ituMalah yg dia tau,jepang adalah pemersatu Asia dulunya,dan ahirnya jadi korban dari konspirasi sekutu..ga lama setelah itu,dia ga pernah sekolah lagi,dan kayanya balik ke Jepang

  17. enkoos said: Sori aja kalau saya bilang gak penting, karena memang gak berhubungan langsung. Dan saya gak mau bahas tentang holocaust Yahudi.

    Walah, Nazi telah menjadi bubur..Aku lebih suka cerita salah satu istri soekarno yang dari Jepun itu. Pernah baca tentang Jugun Ianfu, klo gak di kompas ya di kartini skitar 2 taun lalu, dan berlalu disapu angin. Tapi yg kuinget asalnya bukan Jogja, dan kalo tidak salah tinggal di panti Jompo. Pernah juga diulas di acara, aku lupa. Mungkin Dorce show, ato setaranya. Tapi yg kulihat, media Indonesia ini juga mengidap semacam demam. Soalnya baru muncul di satu tabloid/majalah misal, ga lama akan muncul di media televisi. Biasanya dalam waktu sebulan lah, aku temuin nanti di koran juga, di portal berita pula, dan menyusul media-media social macam kompasiana. Intinya muncul bergantian timbul tenggelam dalam waktu yang singkat, lalu dilupakan kembali.Entah memang adatnya pemerintah memang melupakan sejarah apa ya mba, tmasuk salah satunya Jugun Ianfu ini. Soalnya, melihat kasus yg sebelom ini (dimenangkan Indonesia, di pengadilan International di Belanda), yg mana aku lupa nama kejadiannya, macam “Rangkas-rangkas” gitu di otakku, tidak ada dukungan bahkan secara moriil dari pemerintah Indonesia. Cuma ada gaung media Indonesia dan citizen journalism aja yang menggembor-gemborkan, tmasuk di MP juga. Ya gitu sih, pelitnya pemerintah Indonesia, bahkan hanya untuk sebuah dukungan moriil.Gitu aja sih dari gw yang kagak bisa tidur abis baca postingan ini. Sadis gelok, gimana gw bisa tidur tenang ni malem =”= oh bebeh..bener2 kepedean masuk postingan ini, hoeeek

  18. enkoos said: Sori aja kalau saya bilang gak penting, karena memang gak berhubungan langsung. Dan saya gak mau bahas tentang holocaust Yahudi.

    Pernyataan saya yang ini bukan berarti mengecilkan arti kekejaman Nazi Jerman terhadap Yahudi. Bagaimanapun juga, perang dan penjajahan adalah kejam. Tapi fokusnya di sini bukan ke sana (holocaust Yahudi) tapi mengenai Jepang. Titik.

  19. rirhikyu said: sorry kl boleh nyimpulin, mungkin mba evi mau bahas ttg Penyangkalan Pemerintah Jepang terhadap Jugun Ianfu di negara2 asia dan menyatakan diri sebagai pemersatu asiapadahal jelas2 Jepang itu menjajah dan merendahkan asia yg laennya. dan korban2 Jugun Ianfu direndahkan karena mereka dianggap pelacur, padahal dipaksa.

    Nah itu dia maksudku.Makasih Feb sudah mengarahkan. Saking banyaknya bahasan, aku sendiri bingung mau dibawa kemana.

  20. subhanallahu said: marilah kita ambil sekali lagi, pembelajaran, belajarlah akan trik lawan supaya kita bisa buat trik yang lebih baik.

    Mbak Evi, generasi muda jepang pastinya tahu akan sejarah kelam bangsa mereka. Cuma pengenalannya pasti setahap demi setahap, yg pasti tidak mungkin murid SD dikasih info hardcore kebiadaban nenek moyangnya. Seperti juga jaman kita SD, pembahasan G30S PKI kan tidak dibahas detil, setelah kita makin dewasa baru detil2 nya terungkap meskipun ada yg bilang itu hoax (itu yg saya baca dari internet). Wis ra usah mbahas hoax maneh, ning kene mengko melenceng maneh :)Dulu saya waktu ambil salah satu mata kuliah disini, bbrp teman sekelas dr Korea, Jepang & Cina, yg dimana waktu membahas Japanese occupation memang terlihat uncomfortable. Yg jelas, dr teman2 Jepang mereka tahu kok dan pastinya mereka merasa malu akan sejarah bangsa mereka yg sangat keji tersebut. Mungkin saja kekejaman di Indonesia yg memang gaungnya kurang terdengar dibanding kekejaman di Cina & Korea. Kebetulan saya pernah melihat foto2 dokumentasi kekejaman Jepang di Cina yg sampe nemplok di kepala berhari2. Cuma didunia ini dgn adanya para skeptik, pastilah akan ada pertanyaan: itu original ato manipulasi?

  21. subhanallahu said: marilah kita ambil sekali lagi, pembelajaran, belajarlah akan trik lawan supaya kita bisa buat trik yang lebih baik.

    Saya sependapat, trik lawan sudah kadung dibahas panjang lebar di sini sbg contoh kasus :)Semoga bermanfaat.Kalo begitu, nanti saya kupas tuntas trik lawan itu di postingan jurnal saya aja, agar mbak Evia dan kita semua di sini bisa kembali fokus membahas masalah internal yg sudah diangkat dan sesuai dg harapan mbak Evia pemilik jurnal ini.Saya juga minta maaf, kalo komentar saya di sini tidak sesuai dg harapan mbak Evia. Peace yo, mbak 🙂

  22. enkoos said: Mas Widodo di awal komen malah justru menyinggung tentang holocaust Yahudi. Gak ada hubungannya blas sama kekejaman Jepang yang saya angkat di sini.

    hahaha, saya tadi masih di jalan dan baca komen ini ya ngakak Mba, maaf ya, ya itu yang saya maksud OOT, memang saya sukanya OOT yang serius seperti ini, dan lihatlah apa yang terjadi….. disaat semua komentar lebih mengarahkan akan kejadian kekejaman jepang, ternyata saya bisa memutarbalikkan keadaan supaya bisa beralih mendiskusikan holocaust nazi dengan hanya sedikit pancingan. Artinya itu juga sebenarnya sebagai pelajaran bagi kita semua, bahwa kaum yahudi itu jauh lebih pintar dari kita, maksudnya pintar muslihatnya sih… sehingga kebohongan pun bisa begitu mendapatkan perhatian dunia, bahkan kita di sini sangat terperpengaruh untuk memperbincangkannya. muslihat pengalihan perhatian ini kan sering digunakan oleh pejabat bejat bangsa ini untuk menutup-nutupi borok mereka.marilah kita ambil sekali lagi, pembelajaran, belajarlah akan trik lawan supaya kita bisa buat trik yang lebih baik.

  23. rirhikyu said: sorry kl boleh nyimpulin, mungkin mba evi mau bahas ttg Penyangkalan Pemerintah Jepang terhadap Jugun Ianfu di negara2 asia dan menyatakan diri sebagai pemersatu asiapadahal jelas2 Jepang itu menjajah dan merendahkan asia yg laennya.dan korban2 Jugun Ianfu direndahkan karena mereka dianggap pelacur, padahal dipaksa.

    Saya rasa memang seperti itu, mbak Feb, berupa informasi.Tapi apakah diskusi ini juga kemudian membahas soal solusi agar lepas dari masalah perendahan martabat itu, ya monggo mbak Evia dilanjutkan, saya siap bertukar pikiran, beberapa saya sudah menyisipkannya pada komentar2 di atas.

  24. fightforfreedom said: Tapi saya lantas bingung dg maksud dan komentar2 mbak Evia, yaitu arah diskusi mau dibawa kemana? :)Sementara, solusi sudah saya usulkan di atas. Pemerintah Jepang semena-mena memelintir sejarah adalah karena tidak ada tekanan internasional.

    sorry kl boleh nyimpulin, mungkin mba evi mau bahas ttg Penyangkalan Pemerintah Jepang terhadap Jugun Ianfu di negara2 asia dan menyatakan diri sebagai pemersatu asiapadahal jelas2 Jepang itu menjajah dan merendahkan asia yg laennya. dan korban2 Jugun Ianfu direndahkan karena mereka dianggap pelacur, padahal dipaksa.

  25. fightforfreedom said: Tapi saya lantas bingung dg maksud dan komentar2 mbak Evia, yaitu arah diskusi mau dibawa kemana? :)Sementara, solusi sudah saya usulkan di atas. Pemerintah Jepang semena-mena memelintir sejarah adalah karena tidak ada tekanan internasional.

    Sependek yang saya tahu, pemerintah Jepang takluk dan memenuhi tuntutan para korban yang berasal dari negara negara barat karena jugun ianfu gak hanya dari negara2 Asia. Beda dengan Indonesia, yang yah…sampeyan tahu sendiri.Diskusi ini mau dibawa kemana? Hmm…kemana ya? Terus terang saya tadinya mangkel, kok yang diomongin holocaust Yahudi ya padahal topiknya tentang Jepang. Sepertinya apa yang tampak di depan mata dan langsung menyentuh kita, enggak penting, malah ngabisin energi buat sesuatu yang menurut saya gak penting. Sori aja kalau saya bilang gak penting, karena memang gak berhubungan langsung. Dan saya gak mau bahas tentang holocaust Yahudi.

  26. fightforfreedom said: Baiklah, kalimat mbak Evia di bawah ini lebih tepatnya adalah cukup sbg Fakta:”Coba tanya yang tinggal di Jepang deh, bagaimana pelajaran sejarah di Jepang. Apa generasi mudanya tahu tentang kebiadaban pemerintahnya di masa lalu?”Maaf, kalo saya bilang menyalahkan, meski saya menyebutnya di level kedua dg kata “apalagi” 🙂

    Generasi mudanya enggak tahu karena pemerintahnya memelintir sejarah. Itu maksud saya kalau mau merunut kalimat saya yang sebelum sebelumnya.

  27. enkoos said: Saya ndak menyalahkan generasi muda Jepang. Apakah ada kalimat saya yang menyalahkan mereka?Saya menyalahkan pemerintah Jepang yang memelintir sejarah bahwa mereka adalah pemersatu bangsa Asia selama perang dunia kedua.

    Baiklah, kalimat mbak Evia di bawah ini lebih tepatnya adalah cukup sbg Fakta:“Coba tanya yang tinggal di Jepang deh, bagaimana pelajaran sejarah di Jepang. Apa generasi mudanya tahu tentang kebiadaban pemerintahnya di masa lalu?”Maaf, kalo saya bilang menyalahkan, meski saya menyebutnya di level kedua dg kata “apalagi” :)Tapi saya lantas bingung dg maksud dan komentar2 mbak Evia, yaitu arah diskusi mau dibawa kemana? :)Sementara, solusi sudah saya usulkan di atas. Pemerintah Jepang semena-mena memelintir sejarah adalah karena tidak ada tekanan internasional. Sedangkan, Jerman dan bank-bank Swiss bisa mengeluarkan dana rehabilitasi yg sedemikian besarnya dalam hitungan milyar USD, karena mendapat tekanan internasional untuk kesalahan masa lalunya.Kalo soal penindasan Jepang, kita sbg warga negara Indonesia pasti banyak yg tahu.

  28. fightforfreedom said: Jadi, tidak perlu menyalahkan Jepang apalagi generasi mudanya yg gak tahu apa-apa;

    Saya ndak menyalahkan generasi muda Jepang. Apakah ada kalimat saya yang menyalahkan mereka?Saya menyalahkan pemerintah Jepang yang memelintir sejarah bahwa mereka adalah pemersatu bangsa Asia selama perang dunia kedua. Pemerintah Jepang ikut andil dong dalam hal ini jadi menurut saya pantas disalahkan. Plus pemerintah Indonesia juga pantas disalahkan karena lembek dan korup.

  29. rirhikyu said: pernah baca, sama sekali ga tau dan mereka kaget kl dikasih tau ttg yg sebenarnyatapi yaaa.. sejarah dah di pelintir yupe, kerja rodi dan cerita yg mba evi sampaikan aku ga meragukannya

    Kerja rodi (romusha), perbudakan seks (jugun ianfu), memang benar adanya dan banyak saksinya. Dan itu perlu diluruskan (sejarahnya maksudnya).

  30. enkoos said: Point saya, seperti yang sudah saya tulis di awal postingan ini, gaung kekejaman Jepang terhadap negara2 yang dijajahnya tidak mendunia. Pun pemerintah Jepang memelintir kenyataan tentang perang dunia kedua. Coba tanya yang tinggal di Jepang deh, bagaimana pelajaran sejarah di Jepang. Apa generasi mudanya tahu tentang kebiadaban pemerintahnya di masa lalu?

    Nahh.. itu dia yg erat kaitannya dg komentar saya di atas, mbak Evia, bahwa (setahu saya) belum ada upaya secara serius penggalian dan rekonstruksi sejarah melalui pembuatan film dokumenter, foto-foto asli penindasan, dan bukti-bukti lainnya yg kemudian di sharing ke seluruh dunia, untuk kemudian dibicarakan bersama. Meniru langkah bagaimana membangun industri Holocaust. Lha, gimana para generasi muda Jepang itu tahu sejarah karena Indonesia kurang semangatnya mensosialisasikan masa lalu mereka di seluruh dunia? Negeri ini fokus ke internal dulu, membangun sikap pemerintah untuk masalah ini ini. Jadi, tidak perlu menyalahkan Jepang apalagi generasi mudanya yg gak tahu apa-apa; kecuali tidak ada respon positif dari mereka setelah upaya Indonesia melakukan sosialisasi.Langkah pertama saya rasa ini dulu, rekonstruksi sejarah, mendokumentasikannya, mengabarkan dan kemudian membicarakannya.Setelah berhasil, baru masuk langkah kedua, bagaimana mengelola dana rehabilitasi dengan baik agar tidak dikorupsi.

  31. enkoos said: Apa generasi mudanya tahu tentang kebiadaban pemerintahnya di masa lalu?

    pernah baca, sama sekali ga tau dan mereka kaget kl dikasih tau ttg yg sebenarnyatapi yaaa.. sejarah dah di pelintir yupe, kerja rodi dan cerita yg mba evi sampaikan aku ga meragukannya

  32. subhanallahu said: Setahu saya yang banyak komentar di sini sudah ikut membangun bangsa, klo ga percaya ya silahkan kunjungu empe mereka. Karya2 pak iwan dah banyak berkontribusi utk kemajuan bangsa. Klo saya? Yah lihat ajalah sendiri, ga mungkin saya koar-koar nanti dibilang sombong. Setiap permasalahn di dunia meskipun itu berkaitan dengan bangsa lain pasti ada pengaruhnya terhadap bangsa kita. Klo kita belajar sejarah meskipun bangsa kita dulu terjajah dan melarat ya tetap memikirkan bangsa lain yang senasib.

    Saya percaya mas Widodo. Di luar teman2 MPers sekalipun, saya percaya banyak orang yang sudah ikut membangun bangsa. Point saya, seperti yang sudah saya tulis di awal postingan ini, gaung kekejaman Jepang terhadap negara2 yang dijajahnya tidak mendunia. Pun pemerintah Jepang memelintir kenyataan tentang perang dunia kedua. Coba tanya yang tinggal di Jepang deh, bagaimana pelajaran sejarah di Jepang. Apa generasi mudanya tahu tentang kebiadaban pemerintahnya di masa lalu?

  33. fightforfreedom said: Sebenarnya ada hubungannya, mbak Evia,

    Yang bilang gak ada hubungannya siapa?Kan sudah saya tulis di atas, Lebih suka memperbincangkan tentang kebiadaban Nazi yang TIDAK SECARA LANGSUNG menyentuh Indonesia. Saya tekankan sekali lagi, TIDAK SECARA LANGSUNG.Point saya adalah, di sini kita membicarakan tentang kekejaman Jepang di saat perang dunia kedua terhadap negara2 di Asia yang dijajahnya termasuk Indonesia dimana korban2nya merana sampe sekarang. Udah pemerintahnya korup, dana kompensasi yang harusnya menjadi haknya dikorup, hidupnyapun terlunta lunta. Apa yang bisa kita lakukan? Malah ngutak atik kejadian di luar lingkup kita yang tidak menyentuh secara langsung. Sabar sih sabar, OOT gak dilarang, tapi saya tetep sedih dengan fenomena ini. Mas Widodo di awal komen malah justru menyinggung tentang holocaust Yahudi. Gak ada hubungannya blas sama kekejaman Jepang yang saya angkat di sini.

  34. erm718 said: Sekali lagi nyuwun ngapuro kalo saya menuh2in postingan mb Evi & isinya jadi melenceng dari apa yg mb Evi tujukan. Saya setuju sekali kalo pemikiran2 yg sangat kritis lebih baik untuk membahas masalah2 yg ada di Indonesia. Masih banyak kebohongan2 di Indonesia yg masih ditutup2in & perlunya pembenahan bangsa ini utk maju kedepan. Fokus utk membangun bangsa masih belum diutamakan, tapi malah ngurusin hal2 yg tidak berimbas positif. Kapan mau maju ya bangsa kita kalo maunya ngurusin hal2 luar, tp hal2 intern malah makin terpuruk?

    Setahu saya yang banyak komentar di sini sudah ikut membangun bangsa, klo ga percaya ya silahkan kunjungu empe mereka. Karya2 pak iwan dah banyak berkontribusi utk kemajuan bangsa. Klo saya? Yah lihat ajalah sendiri, ga mungkin saya koar-koar nanti dibilang sombong. Setiap permasalahn di dunia meskipun itu berkaitan dengan bangsa lain pasti ada pengaruhnya terhadap bangsa kita. Klo kita belajar sejarah meskipun bangsa kita dulu terjajah dan melarat ya tetap memikirkan bangsa lain yang senasib.

  35. erm718 said: Sekali lagi nyuwun ngapuro kalo saya menuh2in postingan mb Evi & isinya jadi melenceng dari apa yg mb Evi tujukan. Saya setuju sekali kalo pemikiran2 yg sangat kritis lebih baik untuk membahas masalah2 yg ada di Indonesia. Masih banyak kebohongan2 di Indonesia yg masih ditutup2in & perlunya pembenahan bangsa ini utk maju kedepan. Fokus utk membangun bangsa masih belum diutamakan, tapi malah ngurusin hal2 yg tidak berimbas positif. Kapan mau maju ya bangsa kita kalo maunya ngurusin hal2 luar, tp hal2 intern malah makin terpuruk?

    Saya enggak nyalahkan siapa siapa mbak Ika. Diskusi di atas memberi pelajaran buat kita meskipun tetep bikin saya sedih.

  36. enkoos said: Terima kasih buat semua yang sudah menyediakan waktunya untuk berdiskusi di mari. Tapi saya semakin sedih, karena dari sekian banyak komen dan diskusi di sini namun hanya sedikit yang menyinggung kekejaman tentara Jepang di perang dunia kedua terhadap negara negara jajahannya di Asia. Seperti yang saya tulis di bagian pembuka postingan ini <Kebiadaban bangsa Jepang di masa perang dunia kedua kurang terdengar gaungnya bila dibandingkan dengan kebiadaban Nazi Jerman terhadap Yahudi.ternyata di sini, di Indonesiapun juga demikian. Lebih suka memperbincangkan tentang kebiadaban Nazi yang tidak secara langsung menyentuh Indonesia. Saya tekankan sekali lagi, tidak secara langsung.

    Sebenarnya ada hubungannya, mbak Evia, yaitu sebuah PELAJARAN; makanya diskusi saya tutup dg video talkshow bersama Norman G. Finkelstein.Yahudi yg merasa tertindas, melalui American Jewish Organization mampu membangun “The Holocaust Industry”, sehingga mampu menarik begitu besar dana untuk rehabilitasi para korban (meski sebagian lainnya untuk biaya agresi militer). Pembangunan industri ini diawali dengan film dokumenter tentang penindasan Yahudi di kamp-kamp konsentrasi (spt yg di-sharing mbak erm718). Film dokumenter ini disebarkan ke seluruh dunia untuk kemudian dibicarakan bersama.Indonesia juga bisa, kalo meniru jejaknya. Sebenarnya sudah dipancing mas Widodo di awal-awal komennya lho untuk diskusi soal ini. Namun saat beliau komen itu contoh kasusnya belum diangkat dalam diskusi. Ya namanya diskusi, memang kudu sabar, mbak :)Kembali ke soal Jugun Ianfu dan korban penindasan Jepang lainnya… Sayangnya, jejak-jejak penindasan Jepang di Indonesia masih sedikit sekali digali. Kecuali penayangan film-film komersil yg dibumbui fiksi, seperti: “Serangan Fajar”, “Lebak Membara”, “Budak Nafsu”, dll.. yang menceritakan ttg penjajahan Jepang, namun tidak bernilai apa-apa di mata internasional. Akhirnya film tsb tak lebih dari sekedar hiburan. (Setahu saya) belum ada upaya penggalian dan rekonstruksi sejarah melalui pembuatan film dokumenter, foto-foto asli penindasan, dan bukti-bukti lainnya.Ketika dokumentasi jejak-jejak itu minim, ditambah lagi lemahnya diplomasi Indonesia di mata internasional, jadinya para korban penindasan Jepang tidak mendapatkan rehabilitasi dg baik. Dan peristiwanya dilupakan dan hilang dalam sejarah Indonesia.Kalo visinya adalah Indonesia mendapatkan ganti kerugian yg layak akibat penindasan Jepang, maka bisa meniru langkah spt bagaimana Industri Holocaust itu berhasil dengan baik dibangun. Kalo itu visinya lho…Okey, ini awal dari diskusi… monggo dilanjut.

  37. enkoos said: Terima kasih buat semua yang sudah menyediakan waktunya untuk berdiskusi di mari. Tapi saya semakin sedih, karena dari sekian banyak komen dan diskusi di sini namun hanya sedikit yang menyinggung kekejaman tentara Jepang di perang dunia kedua terhadap negara negara jajahannya di Asia. Seperti yang saya tulis di bagian pembuka postingan ini <Kebiadaban bangsa Jepang di masa perang dunia kedua kurang terdengar gaungnya bila dibandingkan dengan kebiadaban Nazi Jerman terhadap Yahudi. ternyata di sini, di Indonesiapun juga demikian. Lebih suka memperbincangkan tentang kebiadaban Nazi yang tidak secara langsung menyentuh Indonesia. Saya tekankan sekali lagi, tidak secara langsung. Berapa banyak dari kalian semua yang kakek neneknya atau bapak ibunya menjadi saksi atau malah mengalami sendiri kekejaman Jepang ketimbang kekejaman Nazi? Penjajahan Jepang yang HANYA 3.5 tahun, kekejamannya melebihi penjajahan Belanda yang 350 tahun. Apapun itu, yang namanya penjajahan adalah tidak benar. Dan saya juga tidak bermaksud untuk mengungkit luka lama dan membalas dendam, tetapi mencoba memaparkan sejarah. Kalau kenyataannya memang kejam, ya memang kejam adanya dan gak perlu ditutup tutupi. Salah satu yang dituntut para korban kekejaman bangsa Jepang, pelajaran sejarah di Jepang jangan dipelintir bahwa bangsa Jepang adalah bangsa pemersatu. Katakan yang sebenarnya bahwa di perang dunia kedua Jepang memang biadab, dan Jugun Ianfu itu memang ada. Seperti halnya kekejaman tentara Indonesia terhadap Timor Timur.

    Sekali lagi nyuwun ngapuro kalo saya menuh2in postingan mb Evi & isinya jadi melenceng dari apa yg mb Evi tujukan. Saya setuju sekali kalo pemikiran2 yg sangat kritis lebih baik untuk membahas masalah2 yg ada di Indonesia. Masih banyak kebohongan2 di Indonesia yg masih ditutup2in & perlunya pembenahan bangsa ini utk maju kedepan. Fokus utk membangun bangsa masih belum diutamakan, tapi malah ngurusin hal2 yg tidak berimbas positif. Kapan mau maju ya bangsa kita kalo maunya ngurusin hal2 luar, tp hal2 intern malah makin terpuruk?

  38. enkoos said: Terima kasih buat semua yang sudah menyediakan waktunya untuk berdiskusi di mari. Tapi saya semakin sedih, karena dari sekian banyak komen dan diskusi di sini namun hanya sedikit yang menyinggung kekejaman tentara Jepang di perang dunia kedua terhadap negara negara jajahannya di Asia. Seperti yang saya tulis di bagian pembuka postingan ini <Kebiadaban bangsa Jepang di masa perang dunia kedua kurang terdengar gaungnya bila dibandingkan dengan kebiadaban Nazi Jerman terhadap Yahudi. ternyata di sini, di Indonesiapun juga demikian. Lebih suka memperbincangkan tentang kebiadaban Nazi yang tidak secara langsung menyentuh Indonesia. Saya tekankan sekali lagi, tidak secara langsung. Berapa banyak dari kalian semua yang kakek neneknya atau bapak ibunya menjadi saksi atau malah mengalami sendiri kekejaman Jepang ketimbang kekejaman Nazi? Penjajahan Jepang yang HANYA 3.5 tahun, kekejamannya melebihi penjajahan Belanda yang 350 tahun. Apapun itu, yang namanya penjajahan adalah tidak benar. Dan saya juga tidak bermaksud untuk mengungkit luka lama dan membalas dendam, tetapi mencoba memaparkan sejarah. Kalau kenyataannya memang kejam, ya memang kejam adanya dan gak perlu ditutup tutupi. Salah satu yang dituntut para korban kekejaman bangsa Jepang, pelajaran sejarah di Jepang jangan dipelintir bahwa bangsa Jepang adalah bangsa pemersatu. Katakan yang sebenarnya bahwa di perang dunia kedua Jepang memang biadab, dan Jugun Ianfu itu memang ada. Seperti halnya kekejaman tentara Indonesia terhadap Timor Timur.

    Mbak Evia, saya selalu mengatakan bahwa kekejaman Jepang, sama halnya kejamnya bangsa Jerman, dan kalaupun Jepang memutar balikkan fakta, tapi dunia tahu bagaimana kejamnya Jepang di Asia.

  39. erm718 said: terimakasih buat link ttg Fred Leucher di wikipedia, boleh saya copas yg mungkin mas kelewatan baca?

    Terima kasih buat semua yang sudah menyediakan waktunya untuk berdiskusi di mari. Tapi saya semakin sedih, karena dari sekian banyak komen dan diskusi di sini namun hanya sedikit yang menyinggung kekejaman tentara Jepang di perang dunia kedua terhadap negara negara jajahannya di Asia. Seperti yang saya tulis di bagian pembuka postingan ini <Kebiadaban bangsa Jepang di masa perang dunia kedua kurang terdengar gaungnya bila dibandingkan dengan kebiadaban Nazi Jerman terhadap Yahudi. ternyata di sini, di Indonesiapun juga demikian. Lebih suka memperbincangkan tentang kebiadaban Nazi yang tidak secara langsung menyentuh Indonesia. Saya tekankan sekali lagi, tidak secara langsung. Berapa banyak dari kalian semua yang kakek neneknya atau bapak ibunya menjadi saksi atau malah mengalami sendiri kekejaman Jepang ketimbang kekejaman Nazi? Penjajahan Jepang yang HANYA 3.5 tahun, kekejamannya melebihi penjajahan Belanda yang 350 tahun. Apapun itu, yang namanya penjajahan adalah tidak benar. Dan saya juga tidak bermaksud untuk mengungkit luka lama dan membalas dendam, tetapi mencoba memaparkan sejarah. Kalau kenyataannya memang kejam, ya memang kejam adanya dan gak perlu ditutup tutupi. Salah satu yang dituntut para korban kekejaman bangsa Jepang, pelajaran sejarah di Jepang jangan dipelintir bahwa bangsa Jepang adalah bangsa pemersatu. Katakan yang sebenarnya bahwa di perang dunia kedua Jepang memang biadab, dan Jugun Ianfu itu memang ada. Seperti halnya kekejaman tentara Indonesia terhadap Timor Timur.

  40. erm718 said: terimakasih buat link ttg Fred Leucher di wikipedia, boleh saya copas yg mungkin mas kelewatan baca?

    Tidak terlewatkan bacanya, mbak, adalah wajar kalo ada penelitian, maka akan ada yang menguji kredibilitas penelitian itu.Miris sekali membaca nasib Fred Leuchter pasca merilis Leuchter Report-nya.http://www.revisionists.com/revisionists/leuchter.htmlLeuchter was blacklisted in the U.S. and hounded by the Holocaust lobby and the world’s lapdog media. He was arrested and jailed in Germany while visiting there to appear on a television show.As a result of intense Jewish pressure, Leuchter lost his livelihood. Since making known his findings, he also has been libelled, slandered, and financially ruined.******Namun demikian, perjuangan para Revisionist tetap berlanjut, tidak akan padam, meski banyak diantara mereka yg berakhir di penjara, upaya percobaan pembunuhan (spt yg dialami Robert Faurisson) dan mendapatkan tekanan batin dan mendapatkan label yg buruk melalui media-media Yahudi. Namun, Alhamdulillah ada yang mendapatkan hidayah dan kemudian memeluk agama Islam seperti Roger Garaudy. Subhanallah…Sungguh sebuah bangkai tidak akan bisa disembunyikan.

  41. enkoos said: Homepage saya tampak putih seperti gak ada theme’nya. Setiap kali membalas dan tekan submit, cuma berputar putar begitu saja. Mencoba buka dari laptop satunya, sami mawon hasilnya.

    Duh, kmrn jumat dah buka niy Postingan tp blum sempet baca tuntas. Skrg baca pake hape, mumet liat komennya. Ntar liat lg plus baca komen2nya deh, cuma ga brani nonton filmnya.

  42. enkoos said: Homepage saya tampak putih seperti gak ada theme’nya. Setiap kali membalas dan tekan submit, cuma berputar putar begitu saja. Mencoba buka dari laptop satunya, sami mawon hasilnya.

    Lho kok sama dg kasusku kemaren di sini: http://fightforfreedom.multiply.com/notes/item/19Tapi, sekarang sudah sembuh :)Sedangkan saya amati di grup MUDS dan grup User Support, sampai saat ini makin banyak yg melaporkan dg kasus yg sama. Sungguh misteri 🙂

  43. erm718 said: Adapun info2 yg saya dapat, dimata anda tidak “sah” karena sudah dianggap terkontaminasi oleh media Yahudi atopun sudah direkayasa. Sedangkan info2 yg anda dapatkan sendiri dikumpulkan oleh kelompok yg jelas2 membenci yahudi. Jadi kalo dibilang bias informasi2 tsb kan sah2 saja kan? Mau menggali sedalam apapun sampai DNAnya orang2 yg disebutkan didiskusi ini kalo pemahaman anda sudah lain & susah “terkontaminasi” media barat/yahudi ya ga mungkin mau menerima.Just stand with your point of view & I will do with mine.

    Kalo begini, sampai dg kondisi saat ini kita bakal sulit bertemu ya, hehehe…Okey, just stand with your point of view & i will do with mine.Saya tetap berharap para revisionist itu mampu menghentikan kebohongan yang sungguh tidak masuk akal itu. Segala upaya penyingkapan dan metodologi yang dipakai semoga ilmunya mencerdaskan kita semua.

  44. erm718 said: mas, kamp2 konsentrasi itu tidak cuma di Jerman ya… juga tersebar di negara2 Eropa lainnya. Tolong di lihat di peta, mungkin jangan liat di google map, krn kalo di google map Auschwitz itu letaknya di Polandia bukan Jerman.

    He he he… aduh maaf, salah ketik, memang yang benar Auschwitz ada di Polandia. Makanya komen selanjutnya saya berlanjut membahas ttg pengujian kuburan massal di Treblinka, Polandia.Terimakasih koreksinya, mbak, dengan ini saya ralat.Namun demikian tetap tidak mengubah keyakinan saya tentang jumlah orang Yahudi di kamp konsentrasi di kota kecil Auschwitz yang angkanya fantastis itu.Kamp konsentrasi memang tersebar di penjuru negeri Eropa yang dikuasai Nazi. Tapi sampai sejauh ini tidak pernah ditemukan dokumen tentang rencana Nazi yang membantai habis atau melakukan genocide terhadap Yahudi di Eropa.

  45. fightforfreedom said: Dan berdasarkan penelitian dari ahli konstruksi dan instalasi alat eksekusi dari AS, Fred Leuchter, yg pergi ke Auschwitz dan mengadakan penyelidikan serta tes di tempat itu, menyimpulkan bahwa kamar gas di Auschwitz tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang. Fakta!

    Gpp mba evia, hehe… *klo boleh mewakili

  46. fightforfreedom said: Dan berdasarkan penelitian dari ahli konstruksi dan instalasi alat eksekusi dari AS, Fred Leuchter, yg pergi ke Auschwitz dan mengadakan penyelidikan serta tes di tempat itu, menyimpulkan bahwa kamar gas di Auschwitz tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang. Fakta!

    Untuk yang kedua kalinya, saya minta maaf ya teman teman semuanya. Bukan bermaksud melarikan diri atau menganggurkan teman teman, tapi memang karena MP saya entah lagi ngambek atau mabok. Homepage saya tampak putih seperti gak ada theme’nya. Setiap kali membalas dan tekan submit, cuma berputar putar begitu saja. Mencoba buka dari laptop satunya, sami mawon hasilnya. Padahal situs lain enggak apa apa, cuma lelet aja dari biasanya.

  47. fightforfreedom said: Dan berdasarkan penelitian dari ahli konstruksi dan instalasi alat eksekusi dari AS, Fred Leuchter, yg pergi ke Auschwitz dan mengadakan penyelidikan serta tes di tempat itu, menyimpulkan bahwa kamar gas di Auschwitz tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang. Fakta!

    terimakasih buat link ttg Fred Leucher di wikipedia, boleh saya copas yg mungkin mas kelewatan baca?”His study for Zndel’s trial is referred to as the Leuchter report after it was published by Zndel as such[1][4] and is often framed as a scientifically based work of Holocaust denial, though his research methods and findings have been DISCREDITED.””In 1988, Leuchter traveled to several sites of structures identified as gas chambers, where, although he did not have permission to do so, he collected samples from walls, ceilings and floors, using a chisel and hammer to chip and scrape off pieces of the masonry. He took copious notes about the floor plans and layout, and all of his actions were videotaped by a cameraman. (Leuchter, who had been married for about one month before the trip, told his wife that the trip to Auschwitz-Birkenau was their honeymoon.[2]) Leuchter then brought the samples back to Boston, where he presented them to Alpha Analytical Laboratories, a chemical laboratory, for testing. Leuchter told Alpha only that the samples were to be used as evidence in a court case about an industrial accident. The lab tested them for exposure to cyanide and found trace amounts in the crematoria, which Leuchter DISMISSED IN HIS REPORT: It is notable that almost all the samples were negative and that the few that were positive were very close to the detection level (1mg/kg); 6.7 mg/kg at Krema III; 7.9 mg/kg at Krema I. The absence of any consequential readings at any of the tested locations as compared to the control sample reading 1050 mg/kg supports the evidence that these facilities were not execution gas chambers. The small quantities detected would indicate that at some point these buildings were deloused with Zyklon B as were all the buildings at all these facilities.”Leuchter did not examine the walls of the gas chambers until 50 years after they had been used; his critics note that it would have been virtually impossible to discover any cyanide at all using his method. In fact, tests conducted on ventilation grates immediately after the end of the war showed substantial amounts of cyanide. The chambers were demolished by the Nazis when they abandoned Auschwitz, and the facilities Leuchter examined were, in fact, partially reconstructed. Leuchter was unaware that part of the camp and chambers were reconstructed, so he had no way of knowing if the bricks he was scraping were actually part of the original gas chamber.”ini saya kutip dari link yg mas cantumkan ya.

  48. fightforfreedom said: Kalau memang benar peristiwa Holocaust itu, maka negeri Jerman akan dipenuhi ratusan kamp konsentrasi untuk menampung jutaan orang Yahudi yg akan dibantai.

    mas, kamp2 konsentrasi itu tidak cuma di Jerman ya… juga tersebar di negara2 Eropa lainnya. Tolong di lihat di peta, mungkin jangan liat di google map, krn kalo di google map Auschwitz itu letaknya di Polandia bukan Jerman. Jadi memang fakta yg benar kalo kota Auschwitz di Jerman tidak mungkin digunakan utk membunuh orang 🙂

  49. erm718 said: Balik ke point sebelumnya, memang yg terekspos di holocaust kaum yahudi, tapi semua data2 yang anda berikan kan isinya penyangkalan kejadian holocaust? penyangkalan kalo kaum yahudi berjumlah jutaan memang dibinasakan oleh hitler?

    Wah, thanks berat atas penjelasan panjang lebar Pak Iwan, sekaligus mewakili ibu erm718 🙂 salut untuk usahanya. Dan harusnya penjelasan detail ini dihargai atas kebohongan yang juga dibuat dengan sangat serius.

  50. erm718 said: Balik ke point sebelumnya, memang yg terekspos di holocaust kaum yahudi, tapi semua data2 yang anda berikan kan isinya penyangkalan kejadian holocaust? penyangkalan kalo kaum yahudi berjumlah jutaan memang dibinasakan oleh hitler?

    terima kasih buat pemaparan “fakta2” yg komplit. Pertanyaan saya yg sederhana diawal2 jadi terjawab kan? Apakah karena Holocaust itu korbannya Yahudi makanya ada yg bilang “katanya” Hoax? Ga usah arguing the whole day, tapi to the point aja: jawabnya YA! Kalo korbannya etnis lain, apakah pengikut anti semitik atau kelompok2 lain akan bersusah payah melakukan “riset” & pengumpulan data ttg penyangkalan etnis yg terbantai? jawabnya TIDAK.Memang saya bukan saksi sejarah & belum sempat mengunjungi tempat2 peristiwa tragis tsb secara langsung. Adapun info2 yg saya dapat, dimata anda tidak “sah” karena sudah dianggap terkontaminasi oleh media Yahudi atopun sudah direkayasa. Sedangkan info2 yg anda dapatkan sendiri dikumpulkan oleh kelompok yg jelas2 membenci yahudi. Jadi kalo dibilang bias informasi2 tsb kan sah2 saja kan? Mau menggali sedalam apapun sampai DNAnya orang2 yg disebutkan didiskusi ini kalo pemahaman anda sudah lain & susah “terkontaminasi” media barat/yahudi ya ga mungkin mau menerima.Just stand with your point of view & I will do with mine. Sounds good? Better use the smart thought to think about our own nation which has more problems rather than finding out about hoaxes.Have a nice weekend too,

  51. erm718 said: Balik ke point sebelumnya, memang yg terekspos di holocaust kaum yahudi, tapi semua data2 yang anda berikan kan isinya penyangkalan kejadian holocaust? penyangkalan kalo kaum yahudi berjumlah jutaan memang dibinasakan oleh hitler?

    Dear All,Sebagai selingan untuk menemani hari minggu bersama keluarga Anda, ini saya sertakan video sebagai bahan diskusi bersama pasangan Anda masing-masing :)Talk Show “Michael Coren Live” menghadirkan Norman G. Finkelstein yang membahas tema “The Holocoust Industry” ini mengungkap skandal terbesar abad ini, yaitu Penipuan dan Pemerasan Atas Nama Pembantaian Bangsa YahudiNorman G. Finkelstein dalam talk show ini berusaha untuk mengungkap kebohongan besar tentang peristiwa Holocaust Yahudi, yang kemudian cerita hoax itu digunakan untuk membenarkan pencurian tanah Israel, agresi militer, dan genocide secara sistematis terhadap Palestina dan ekstraksi kompensasi yang digunakan organisasi organisasi Yahudi untuk melakukan pemerasan atas nama holocaust terhadap Jerman dan bankir – bankir di Swiss.Anda akan mendapatkan kenyataan yang mengejutkan apa dibalik politik kotor melalui rekayasa sejarah ini. All are about money! (Betul, seperti yg dibilang mas Widodo dalam komen di atas). Makanya klaim number sangat penting bagi mereka. Dan Anda semua akan tahu kemana uang hasil pemerasan itu larinya.Selamat menyimak. Ada 6 bagian video, tinggal klik lanjutannya pada rail kanan youtube.Tentang nara sumber bisa ditelusuri dalam official web-nya: http://www.normanfinkelstein.comDunia memang perlu orang-orang pemberani seperti Dr. Norman Finkelstein ini.Have a nice weekend 🙂

  52. erm718 said: Balik ke point sebelumnya, memang yg terekspos di holocaust kaum yahudi, tapi semua data2 yang anda berikan kan isinya penyangkalan kejadian holocaust? penyangkalan kalo kaum yahudi berjumlah jutaan memang dibinasakan oleh hitler?

    Olah TKP sudah pernah dilakukan.Selama 6 hari pada Oktober 1999, sebuah tim Australia yg dipimpin oleh Richard Krege -seorang insinyur elektronik terkemuka- melakukan pengujian terhadap tanah pada bekas kamp Treblinka II di Polandia, di mana para sejarawan Holocaust meyakini jutaan orang Yahudi dibunuh di kamar gas kemudian dikubur secara massal.Bagaimana hasilnya setelah olah TKP?Silakan simak jurnal dari penelitinya langsung Richard Krege di sini:The 1999 Krege Report on the Treblinka Extermination Camp, by Richard KregeResults:Found:Almost all of the ground consists of undisturbed soil, sand and rocks. The trees are over 50 years old.Not found:Individual or mass graves, fragments of skeletons, human ashes, wood ashes, ground irregularities, construction compounds or remnants, remains of trees or stumps, cavities, golden teeth.**********Ini salah satu upaya yg dilakukan para pencari kebenaran, yg kenyataannya tidak mendapatkan bukti apapun, kecuali kebohongan sejarah.

  53. erm718 said: udah liat video diatas lom pak? itu gundukan mayat apa kalo gitu?apakah video td jg dikategorikan hoax?

    Alhamdulillah, dg kemampuan koneksi yg terbatas akhirnya bisa men-download filmnya utuh, awalnya kulihat langsung tapi tiba-tiba streaming-nya tersendat-sendat dan berhenti. Malam minggu gini trafiknya tinggi di sini :)Baiklah, ini komentar saya untuk film tsb, sebenarnya saya juga pernah menonton sebelumnya (terbagi dalam beberapa part), tapi demi komen yg tidak ngasal kusimak lebih detail lagi, dari Reel 1 sampai Reel 6. Reel 2, dalam link film tsb dimulai pada menit 08:08Hampir secara keseluruhan dalam film dokumenter ini selalu menampilkan mayat-mayat telanjang orang-orang kurus berbalut tulang yg diklaim sbg korban-korban holocaust. Asli-kah itu semua?Apakah mbak pernah menonton film Tragedi Mesuji, yg katanya peristiwa itu berlangsung di Lampung, tapi kenyataannya adegan pemenggalan kepala itu ada di Pattani, Thailand.Film Mesuji yg beredar di Youtube itu penuh tambal sulam agar meyakinkan pemirsa bahwa itu adalah nyata. Meskipun tanpa video aspal, peristiwa Mesuji adalah nyata namun mengandung beberapa hoax.Ya… seperti itulah teknik yg digunakan pembuat film dokumenter Camp Concentration Nazi ini demi keberhasilan propaganda. Berdasarkan kesaksian para saksi mata dan pelaku sejarah, yang kemudian dijadikan narasumber Arthur Butz, dan kemudian juga Norman G. Finkelstein yg menulis buku “The Holocaust Industry”, mengatakan bahwa: mayat-mayat dalam film Camp Concentration Nazi tsb adalah bukan korban Holocaust. Melainkan orang-orang yg meninggal karena: (1) Korban pengeboman udara Sekutu. (2) Penyakit menular yg susah disembuhkan dan kelaparan selama masa perang.Dan kebanyakan di poin (1) dan (2) adalah justru warga Jerman.Namun, liciknya, mayat-mayat yg dikubur secara masal itu di-klaim sbg korban Holocaust.Coba mbak perhatikan perhatikan bangunan atau rumah di sekitarnya sepanjang film tsb. Lokasi tempat mayat-mayat itu ditumpuk bukan di kamp konsentrasi Yahudi, melainkan di tengah kota dimana banyak gedung yg hancur. Kamar gas dalam film itu (menit ke 46:15-48:00), juga bukan untuk membantai orang Yahudi. Kejanggalannya: lubang ventilasinya besar-besar, seandainya benar dibantai dg gas sianida tentu yg meninggal gak hanya di situ, tapi juga di luar termasuk orang-orang Nazi.Ada yg aneh lagi di menit 40:00-42:00, pada bagian Buchenwald, ada kap lampu yg terbuat dari kulit manusia. Woww..Dalam film digambarkan tumpukan mayat yg begitu banyak yg kemudian diklaim sampai jumlahnya 9 juta, bahkan ada koran yg menyebutkan 15 juta.Untuk membantai orang sebegitu banyaknya itu tentunya diperlukan waktu bertahun-tahun. Sungguh tidak masuk di akal. Dan berdasarkan penelitian dari ahli konstruksi dan instalasi alat eksekusi dari AS, Fred Leuchter, yg pergi ke Auschwitz dan mengadakan penyelidikan serta tes di tempat itu, menyimpulkan bahwa kamar gas di Auschwitz tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang. Fakta!.mbak erm718,DKI Jakarta dgn luas 661,52 km?, jumlah penduduk berdasarkan sensus penduduk tahun 2011 adalah sekitar 10 Juta. Kita merasakan begitu padatnya penduduk di sana. Faktanya: Negeri Jerman dengan luas hanya 357,021 km?, separo dari luas DKI Jakarta, dan Kota Austchwitz di Jerman adalah kota kecil. Kalau memang benar peristiwa Holocaust itu, maka negeri Jerman akan dipenuhi ratusan kamp konsentrasi untuk menampung jutaan orang Yahudi yg akan dibantai.Kenyataannya tidak demikian, jumlah kamp yang tersebar di sana tidak sampai segitu, dan jumlah orang yahudi yg tersebar di Eropa hanya empat ratusan ribu. Kalo perhitungannya hanya di Jerman, Polandia, dan Austria tentu lebih sedikit lagi.Kesimpulan dari saya video itu mengandung rekayasa, penuh tambal sulam agar kelihatan nyata, untuk kemudian digunakan untuk mendukung program “The Holocaust Industry”.

  54. erm718 said: oke, jadi semua yg anda paparkan itu termasuk “katanya” kan? berarti tidak kredibel juga info2 yg anda dapat.

    *pause dulu film-nya, ketinggalan komen yg ini.Karena saya bukan pelaku sejarah, jelas dong yang bisa saya (atau sebagian besar dari kita di sini) lakukan adalah menganalisa tulisan para pelaku sejarah atau yang erat dengan data-data yang melingkupi para penulis.Kalo mbak juga bukan pelaku sejarah, tentu tidak salah kalo juga termasuk “katanya” :)Mengenai kredibilitas info, mari kita masing-masing mengujinya.

  55. fightforfreedom said: tapi juga peristiwanya yg mengharu-biru itu yang sesungguhnya tidak ada”

    “Peristiwa”-nya yang saya maksud adalah: “bahwa tidak ada pembunuhan masal di kamp-kamp konsentrasi”Kamp konsentrasi memang ada, tapi pembunuhan massal itu tidak ada. Kamp konsentrasi itu ada seperti biasanya ada dalam kondisi perang manapun. Kalopun ada yang dibunuh dan disiksa pun hanya mereka yang membangkang, bukan secara massal yang melibatkan warga sipil atau petugas kesehatan.

  56. erm718 said: saya kutip juga komen pak Iwan diatas, yg bikin saya bingung: “Bukan hanya number, tapi peristiwanya yg mengharu-biru itu yang sesungguhnya tidak ada”jadi ini yg hoax number ato peristiwanya?

    Kalo ada kalimat “Bukan hanya A, tapi B” itu berarti A & B.Tapi kalo kalimat “Bukan A, tapi B” itu berarti BJadi, berdasarkan pernyataan saya di atas itu berarti dua-duanya, A dan B,sehingga number dan peristiwanya, mbak :)eh, tapi saya akui ada kata yang kurang dituliskan, seharusnya: “Bukan hanya A, tapi juga B”. Kurang kata “juga”.Sehingga seharusnya:”Bukan hanya number, tapi juga peristiwanya yg mengharu-biru itu yang sesungguhnya tidak ada”

  57. agamfat said: tragedi 911 itu buatan yahudi? tsunami aceh buayan amerika? bom bali itu micronuke? come on….

    oke, jadi semua yg anda paparkan itu termasuk “katanya” kan? berarti tidak kredibel juga info2 yg anda dapat.saya kutip juga komen pak Iwan diatas, yg bikin saya bingung: “Bukan hanya number, tapi peristiwanya yg mengharu-biru itu yang sesungguhnya tidak ada”jadi ini yg hoax number ato peristiwanya? Setahu saya (ini menurut info dr sumber saya, jadi menurut point of view saya) yahudi itu menyebar di Eropa, jadi korban nazi itu memang paling besar european jews, lainnya ya para freaks dimata hitler seperti kaum homosexual, kaum gipsy… malah sumber saya menyebutkan korban holocaust mencapai 11 juta & memang yg ditekankan yg 6 juta yg lainnya kurang terdengar. Balik ke point sebelumnya, memang yg terekspos di holocaust kaum yahudi, tapi semua data2 yang anda berikan kan isinya penyangkalan kejadian holocaust? penyangkalan kalo kaum yahudi berjumlah jutaan memang dibinasakan oleh hitler?kalo percaya data dari video youtube diatas yg merupakan dokumentari bukan film, disebutkan korban jiwa di setiap kamp konsentrasi, kalo kita total pastilah lebih dr 300rb… tapi ya itulah, kalo sudah tidak mempercayai fakta dari amerika ya susah 🙂

  58. agamfat said: tragedi 911 itu buatan yahudi? tsunami aceh buayan amerika? bom bali itu micronuke? come on….

    mas Agam, ini bakal melebar kemana-mana, poinnya tidak disitu 🙂 Karena harus bisa dibedakan antara Yahudi dengan Zionist.

  59. agamfat said: tapi soal holocaust itu hoax, rasanya “kebencian terhadpa suatu kaum jangan membutakan matamu terhadap fakta”.

    mas Agam, semoga tidak salah paham letak hoax-nya dimana, silakan baca penegasan saya terhadap mbak erm718 di atas (March 17; 08.38 pm)

  60. erm718 said: seperti komen saya diawal2, apa karena korban holocaust itu yahudi makanya dibilang hoax? kalo korban holocaust itu etnik lain, apakah anda juga akan punya data2 komplit?komen diatas sebelumnya sangat mengena, kalo memang saking bencinya dgn kaum yahudi apakah perlu sampe membutakan fakta? apa karena kita punya tetangga, teman yahudi, trus kita harus benci dgn mereka karena suatu perbedaan? itu namanya RASIS 🙂

    mbak erm718, sebelum Anda semakin jauh dari pemahaman pokok bahasan.Saya quote lagi sebagian comments saya:fightforfreedom saidKamp konsentrasi Nazi memang ada, tapi informasi yg disampaikan melalui Tragedi Holocaust oleh Nazi adalah hoax, di sana terlalu dilebih-lebihkan, mengenai jumlah korban dan peristiwanya; dengan tujuan propaganda Yahudi untuk menarik simpati dunia. Holocaust yg berasal dari tulisan “The Diary of Anne Frank” itu ternyata penuh kepalsuan.kemudian…fightforfreedom said(1) Nazi memang kejam, saya tidak sangsikan itu, tapi bukan untuk kaum Yahudi saja.(2) Holocaust adalah kisah yg menjual, yang membalut kepalsuan. Dan Yahudi pinter jualan lewat media-media yg mereka kuasai, melalui program mind control, demi tercapai tujuan politiknya, salah satunya menerima zionisme.(3) Jepang memang kejam, dan kisah kekejamannya terhadap Jugun Ianfu bukanlah hoax. Sampai saat ini tidak ada yg membantahnya. Dan Jepang-pun mengakuinya.Disinilah kita belajar menerima mana informasi yang benar atau tidak. Jangan lantas kalau tidak sesuai harapan itu ditinggalkan.Sudah jelas, saya bilang kamp konsentrasi Nazi MEMANG ADA, dalam perang manapun kondisi adanya kamp konsentrasi semacam ini sudah biasa terjadi, baik di Vietnam, Afganistan, Bosnia, dll.. bahkan Indonesia.Sudah jelas, saya bilang kamp konsentrasi Nazi terhadap Yahudi MEMANG ADA, TAPI…saya telah katakan bahwa informasi jumlah dan peristiwa dalam holocaust adalah lebay, dilebih-lebihkan. Mengapa mereka tidak jujur? itu yang harusnya mbak erm718 tanyakan (kalau peduli).Sehingga holocaust yang lebay itu menutup mata dunia bahwa kekejaman tentara Israel terhadap Palestina saat ini adalah hal yang biasa, tidak sebanding dengan holocaust. Sehingga hanya sebagian kecil di dunia ini yang bergerak terhadap kekejaman Israel terhadap Palestina yang faktanya melebihi nilai-nilai kemanusiaan.Penjelasan saya bukan mengarah kepada mengamini Hitler, juga bukan cenderung terhadap rasis. Tapi menunjukkan tentang adanya ketidak kejujuran tentang data & fakta oleh media Yahudi dalam upaya politik zionismenya.Saya sependapat bahwa tidak semua orang Yahudi adalah jahat. Tapi fokusnya saat ini BUKAN di situ. Yang saya tekankan adalah politik zionisme yang menghalalkan segala cara, termasuk memalsukan fakta sejarah. Semoga Anda bisa memahaminya dimana letak bagian hoax-nya.

  61. erm718 said: setelah saya baca link yg anda cantumkan, isinya penyangkalan tentang holocaust yg mana mungkin camp nazi bisa membantai sebanyak itu. intinya, pada ga percaya kan ttg kejadian holocaust? seperti komen saya diawal2, apa karena korban holocaust itu yahudi makanya dibilang hoax? kalo korban holocaust itu etnik lain, apakah anda juga akan punya data2 komplit? komen diatas sebelumnya sangat mengena, kalo memang saking bencinya dgn kaum yahudi apakah perlu sampe membutakan fakta? apa karena kita punya tetangga, teman yahudi, trus kita harus benci dgn mereka karena suatu perbedaan? itu namanya RASIS 🙂

    mewakili Pak Iwan: terimakasih akhirnya sudah sudi membaca :-)coba deh Bu lihat lagi, siapa yang bilang bahwa adanya holocaust itu hoax? Saya kutip lagi deh komentar saya di paling awal: “”katanya” sebagian besar sejarah holocaust oleh Nazi adalah hoax…?” Jadi sebagian besarnya hoax, bisa saja dikatakan holocaust benar-benar terjadi, tapi jumlahnya korban 6 juta? inilah hoaxnya.Dan mari kita lihat definisi holocaust yang umum dikenal: The Holocaust (19331945)Holocaust is the term describing the Nazi annihilation of about 6 million Jews (two thirds of the pre-World War II European Jewish population), including 4,500,000 from Russia, Poland, and the Baltic; 750,000 from Hungary and Romania; 290,000 from Germany and Austria; 105,000 from The Netherlands; 90,000 from France; 54,000 from Greece.”atauThe Holocaust (from the Greek ?????????? holkaustos: hlos, “whole” and kausts, “burnt”), also known as the Shoah (Hebrew: ?????, HaShoah, “catastrophe”; Yiddish: ?????, Churben or Hurban, from the Hebrew for “destruction”), was the genocide of approximately six million European Jews during World War II, a programme of systematic state-sponsored murder by Nazi Germany, led by Adolf Hitler, throughout Nazi-occupied territory.Nyatanya holocaust itu memang tidak hanya terjadi pada yahudi, sehingga dasar: meng-hoaxkan sebagian besar rekayasa sejarah holocaust dikarenakan yahudi menjadi korban “terbesar?” adalah tidak benar. Saya paham kok Bu dengan adab/prinsip “janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum menjadikan kamu tidak berlaku adil kepada mereka”, karena ya itu memang yang diajarkan agama yang saya anut.Dan itu sudah saya jelaskan, yahudi mana yang harus dimusuhi… jadi harusnya sudah tidak ada masalah dengan prasangka Ibu itu 🙂 dan komen yang katanya mengena itu ya tidak cocok dialamatkan ke saya :-)berbicara masalah data, harus kita akui memang selalu menjadi polemik, setiap riset dan tulisan sejarah sebenarnya tidak ada yang netral. Namun fenomena sejarah, termasuk perilaku kaum yahudi yang memang keterlaluan itu adalah fakta yang dapat dirasakan dan dilihat sampai sekarang. Siapa yang banyak membunuh para nabi dan menyelisihi para nabi, adalah kaum yahudi, siapa yang sebenarnya mengobarkan peperangan-perangan besar? klo mau percaya dengan fakta dan pelaku sejarah, ya yahudi juga, termasuk masalah palestina yang sampai sekarang tidak pernah selesai, dan ini sangat erat dengan adanya modal awal yahudi dalam membesar-besarkan peristiwa holocaust. Sekali lagi saya bukan berbicara atas opini saya, tapi dari buku-buku yang saya baca dari para mantan peneliti keyahudian dan bahkan yang pernah terlibat organisasi rahasia mereka. Apa itu hoax, ya terserah Ibu menilainya, sekali lagiu fenomena rangkaian kejadian peristiwa yang akan berbicara pada akhirnya.dan akhirnya saya harus keluarkan juga alasan keyakinan saya mengenai pesan Tuhan melalui kitab suci agama saya bahwa kita memang harus mewaspadai yahudi (hapal ga ayatnya..?), mereka tidak akan pernah rela sampai sampai seluruh manusia mengikuti jalan mereka, meskipun tidak harus jadi yahudi atau tidak harus murtad, tapi cukup mendukung pemikiran mereka, membenarkan aksi-aksi mereka, dan terkontrol pikirannya oleh mereka, sehingga mereka tidak perlu jumlah besar untuk menguasai dunia karena memang mereka bangsa yahudi ini punya doktrin juga untuk tetap memurnikan genetik mereka.

  62. erm718 said: Memangnya revisionist pendukung Butz siapa aja yg kredibel? boleh saya tahu siapa saja?

    setelah saya baca link yg anda cantumkan, isinya penyangkalan tentang holocaust yg mana mungkin camp nazi bisa membantai sebanyak itu. intinya, pada ga percaya kan ttg kejadian holocaust? seperti komen saya diawal2, apa karena korban holocaust itu yahudi makanya dibilang hoax? kalo korban holocaust itu etnik lain, apakah anda juga akan punya data2 komplit? komen diatas sebelumnya sangat mengena, kalo memang saking bencinya dgn kaum yahudi apakah perlu sampe membutakan fakta? apa karena kita punya tetangga, teman yahudi, trus kita harus benci dgn mereka karena suatu perbedaan? itu namanya RASIS 🙂

  63. erm718 said: Memangnya revisionist pendukung Butz siapa aja yg kredibel? boleh saya tahu siapa saja?

    inikah sumber buat patokan anda mengetahui populasi yahudi? siapakah pemilik blogspot tsb? data2 yg dia peroleh apakah riset di perpustakaan? kenapa segala quote di blog yg dia peroleh tidak disertakan sumbernya? dia mencantumkan komentar dr media dibawah ternyata cuma sebagian quote, ga menyeluruh. jadi harus sabar juga kan membaca, ga cuma comot sana sini

  64. erm718 said: Memangnya revisionist pendukung Butz siapa aja yg kredibel? boleh saya tahu siapa saja?

    menurut saya, tidak ada komentar di sini yang mengamini kejahatan hitler, coba dilihat lagi Bu, tidak ada sama sekali yang mengamini perbuatan hitler, dan bukan hanya hitler kan yang penjajah dan melakukan, katakanlah pembantaian, ini konteks peperangan yang tidak bisa kita sangkal, ada di beberapa wilayah, genosida terjadi, tapi tidak dibuat lebay bin bombastis oleh mereka yang jadi korban. Yahudi sebagai bangsa yang sudah begitu tabiat sejak dahulu kala seharusnya membuat kita lebih waspada dengan tipu daya mereka. Saya katakan tidak semua yahudi jahat, hanya yang mendukung zionis yang harus dimusuhi karena memang sejarah mereka penuh dengan rekayasa yang kotor… jadi harusnya tanpa dijaweab pun point yang Ibu maksudkan sudah dihormati di sini :-)sedangkan point yang dimaksud oleh saya dan Pak Iwan adalah rekayasa mengenai peristiwa holocaust itu sendiri yang berlebihan dan menjadi amunisi balik bagi yahudi untuk menguasai dunia dengan berlagak sebagai kaum yang pantas dikasihani, jadi tidak ada double standard, karena memang point-nya berbeda… 🙂

  65. erm718 said: Memangnya revisionist pendukung Butz siapa aja yg kredibel? boleh saya tahu siapa saja?

    wah baru denger, amerika hebat banget bisa bikin tsunami… hehe… herannya people just swallowed the info 🙂

  66. erm718 said: Memangnya revisionist pendukung Butz siapa aja yg kredibel? boleh saya tahu siapa saja?

    holocaust memang ada. kekejaman Nazi memang nyata, dna korbannya tidak hanya Yahudi, tapi juga banyak warga negara eropa lainnya yg berbagai etnis.om iwan, memang yahudi menggunakan holocaust sbg alat ‘sandera’ kepada Inggris, Amerika dan Eropa non Jerman lainnya supaya mengasihani mereka, disisi lain juga menyetir mereka. juga penguasaan dunia keuangan oleh diaspora yahudi, yang juga melua ske dunia bisnis, ya memang ada,tapi soal holocaust itu hoax, rasanya “kebencian terhadpa suatu kaum jangan membutakan matamu terhadap fakta”.tragedi 911 itu buatan yahudi? tsunami aceh buayan amerika? bom bali itu micronuke? come on….

  67. erm718 said: Memangnya revisionist pendukung Butz siapa aja yg kredibel? boleh saya tahu siapa saja?

    sekali lagi, double standard… pendapat bias. saya bukan dari golongan yg mensupport yahudi ato membenci golongan lain. label yahudi menguasai media, juga tehnologi seperti apple, microsoft, itu saya dengar. tapi bikin ketawa aja, apa bill gates & steve jobs itu yahudi?

  68. erm718 said: Memangnya revisionist pendukung Butz siapa aja yg kredibel? boleh saya tahu siapa saja?

    mas2 sekalian, sekali lagi diskusi ini meleset dari point saya, yg saya tanyakan apakah karena “hanya” 300 ribu yahudi korban holocaust menurut sumber anda yg sangat terpercaya dibanding 6 juta dari sumber lain yg menurut anda hoax, yg terus ditekankan anda adalah number, apakah kita semua jadi mengamini tindakan Hitler membasmi yahudi? kejahatan diluar perikemanusiaan yg dilakukan hitler ato bangsa jepang ato bangsa kita sendiri itu yg tidak saya setujui apapun latar belakangnya. Ini point saya ya… jadi ditambahi data2 sana sinipun tidak akan merubah pendirian saya apa yg dilakukan nazi itu akan saya amini. Seperti halnya korban perang jepang, ato perang2 yg lain korban holocaust adalah penduduk sipil. Mereka tidak minta dilahirkan menjadi yahudi, tidak bisa milih kan? berdasarkan kebencian hitler yg menyulut aksinya itu apakah dia jadi berhak membasmi nyawa kaum yahudi? Mengenai si Butz, tentu saja anda sudah bersabar mencari tahu latar belakangnya. Seorang revisionist jelas2 saja pengikut anti Semitic, no brainer he wrote about holocoust hoax & no wonder people who hate jews will follow.Lha berarti kita sama2 sudah tercuci otak kan? dan semuanya double standard di diskusi ini. Semua data2 yg saya dapat dianggap sudah terkontaminasi yahudi. dan otak saya tidak bisa menerima data2 yg anda kirimkan karena menurut saya justru itu data2 yg dimanipulasi. Tapi yg saya tekankan tadi, point saya sejak awal dibawa jauh melenceng.

  69. erm718 said: Memangnya revisionist pendukung Butz siapa aja yg kredibel? boleh saya tahu siapa saja?

    Baca dulu bukunya, nanti akan tahu siapa saja associate-nya ada ditulis di situ, serta akan banyak menyelami siapa saja pendukungnya.Jangan buru-buru komentar dulu, itu yang saya bilang, bahwa dalam tabayyun perlu kesabaran.Have a nice weekend, mbak 🙂

  70. erm718 said: mmgnya masuk review di New York Times & setara?

    ini sama aja ngomong klo sebenarnya ibu ga ngerti sejarah penguasaan media oleh yahudi 🙂 makanya saya ga salah klo memang kita sebenarnya sudah takluk pikirannya oleh yahudi karena diinvasi terus secara halus oleh berbagai sarana yang kita tidak pernah duga. New York Times termasuk media utama yang dikuasai oleh yahudi. Makanya bacaannya ya harus seimbang, jangan meremhkan rekomedasi dari pihak lain dulu, artinya perlu membuka diri. Cari aja dah di google (yang sebenarnya perusahaan yahudi juga, hahaha…) dengan kata kunci “new york times media yahudi”, tanpa tanda kutipklo mau, saya ada juga buku e-book karya seorang barat juga, dari Canada: “yahudi menggenggam dunia”, tapi klo mau aja, klo ga mau ya udah ga perlu saya upload-kan 🙂 karena sepertinya lebih senang dengan hal-hal yang “nyaman”… 😀

  71. erm718 said: Henry S. BienenPresiden

    Bu, klo benar korban “holocaust” ini nyatanya cuma 300 ribuan, ya brarti itu sama saja dengan korban perang oleh penjajah lain selain jerman. Intinya memang bangsa yahudi ini lebay aja… 🙂

  72. erm718 said: Henry S. BienenPresiden

    haduhhhhhhmaap maap, yang mau diskusi silakan. Saya pengen nimbrung, apa daya MPnya bermasalah. Udah nulis panjang panjang, kemudian klik submit, cuma munyer munyer saja. Tampilan MP saya juga bermasalah, putih polos begitu saja. Bukan koneksinya saya rasa. Karena situs yang lain bisa dibuka dengan normal. Ini tadi udah log in. Klik postingan sendiri dari inbox, lha kok log out dengan sendirinya. *misuh misuh*Penyakitnya Safari yo ngene iki. Halah.malah curcol.

  73. erm718 said: Henry S. BienenPresiden

    mas, suami saya bukan yahudi ya, saya juga bukan… saya tawari mo beli bukunya. jawabnya: mmgnya masuk review di New York Times & setara? apakah banyak kritik kredibel yg mengulas? karena semua orang bisa nulis buku, dan kalo mengandalkan review pembaca pasti bias & mending ga usah beli.

  74. erm718 said: Henry S. BienenPresiden

    itu saya copas dr Wikipedia, dan menurut saya kebijaksanaan sebuah lembaga pendidikan yg mau memperkerjakan seorang revisionist kontroversial pasti banyak pertimbangannya. Sang president ga perlu ditelusuri DNAnya, karena hal2 spt ini pasti dibuat sbg pemicu detil2 yg memojokan.Memangnya revisionist pendukung Butz siapa aja yg kredibel? boleh saya tahu siapa saja?

  75. erm718 said: Henry S. BienenPresiden

    Akan berimbang informasinya jika kita mengungkap siapa Henry S. Bienen (seorang Ashkenazi Jew), dan seberapa kedekatannya dg Arthur Butz.Disinilah perlunya kesabaran dalam proses cek ‘n re-check. Bila tidak sabar, maka tak ubahnya kita membaca profil Nabi Muhammad SAW yg ditulis oleh kontributor faithfreedom.org.

  76. erm718 said: lha saya malah punya tetangga jewish couple, yg tangannya dikasih nomer… mau diinterview apa mas? mumpung yg istrinya masih hidup

    lho kalo saya yg interview nanti dibilang terkontaminasi lagi… kan mas ga percaya kalo penyiksaan terjadi?

  77. erm718 said: lha saya malah punya tetangga jewish couple, yg tangannya dikasih nomer… mau diinterview apa mas? mumpung yg istrinya masih hidup

    halah mas… memang si Butz lulusan MIT yg top makrotop… tp di universitasnya sendiri ada pernyataan, saya copas ya:Butz is a tenured associate professor in electrical engineering. Like all faculty members, he is entitled to express his personal views, including on his personal web pages, as long as he does not represent such opinions as the views of the University. Butz has made clear that his opinions are his own and at no time has he discussed those views in class or made them part of his class curriculum. Therefore, we cannot take action based on the content of what Butz says regarding the Holocaust – however odious it may be – without undermining the vital principle of intellectual freedom that all academic institutions serve to protect.Henry S. BienenPresidenitulah Amerika, meskipun mo njeplak semaunya tetap dihargai… bukan berarti pendapatnya dia disetujui.

  78. erm718 said: lha saya malah punya tetangga jewish couple, yg tangannya dikasih nomer… mau diinterview apa mas? mumpung yg istrinya masih hidup

    Silakan diinterview. Dengan senang hati saya akan menyimaknya.Apapun bentuknya perang, pasti meninggalkan luka dan trauma.

  79. erm718 said: sekali lagi, males chek & recheck kalo sumbernya ga kredibel… apalagi cuma copas sana sini. Ini mumpung saya lagi mood copas, silahkan dibaca: http://www.ushmm.org/museum/exhibit/focus/denial/

    Silakan gali info tentang Prof. Arthur Butz yg membuka jalan pertama kali menyingkap kebohongan peristiwa Holocaust, dimana saat itu belum booming internet.Kalo gak copas, ya gimana saya bisa memberikan bukunya pada mbak/mas ? susah khan? :)copas adalah alat bantu atau jembatan diskusi.

  80. erm718 said: number doesn’t justify what happened to the Jews during WW2.

    lha saya malah punya tetangga jewish couple, yg tangannya dikasih nomer… mau diinterview apa mas? mumpung yg istrinya masih hidup. ini jewish couple dari Polandia, semoga mudeng dgn yg saya maksud nomer. Karena mereka kayak sapi dinomerin, namanya tidak dianggap. Mereka masuk camp Nazi.

  81. erm718 said: number doesn’t justify what happened to the Jews during WW2.

    Bukan hanya number, tapi peristiwanya yg mengharu-biru itu yang sesungguhnya tidak ada.Bahkan dalam film “Nuremberg”, DVD-nya dijual bebas di sini, saya beli di Gramedia, saksi matanya menyangkal adanya peristiwa itu.Bacalah.

  82. erm718 said: nek nonton laporan PBS ttg Holocaust aci ora? aku mending nonton kuwi daripada moco laporan riset2…

    sekali lagi, males chek & recheck kalo sumbernya ga kredibel… apalagi cuma copas sana sini. Ini mumpung saya lagi mood copas, silahkan dibaca: http://www.ushmm.org/museum/exhibit/focus/denial/sekedar informasi, pembuat dokumentari ttg Holocaust di PBS ini ga cuma bersumber dari seorang professor yg berani berkontroversi. Tetapi historian yg titel profesornya mbladrah & juga kredibel… apa ini juga dibilang bikinan Amerika, pasti sudah terkontaminasi yahudi ya?Kalo ttg WTC apa punya data berapa orang Yahudi yg tidak masuk kerja saat kerjadian?

  83. erm718 said: nek nonton laporan PBS ttg Holocaust aci ora? aku mending nonton kuwi daripada moco laporan riset2…

    terserah mo dibilang saya tercuci otak oleh bangsa yahudi ato bangsa jepang, yg jelas number doesn’t justify what happened to the Jews during WW2. Got the point mas?

  84. erm718 said: nek nonton laporan PBS ttg Holocaust aci ora? aku mending nonton kuwi daripada moco laporan riset2…

    Woo.. saya kira Anda akan membacanya untuk perimbangan informasi, tapi nyatanya sudah menutup diri karena tidak sesuai dg harapan Anda. Padahal prinsip tabayyun atau cek ‘n re-cek itu perlu. Ya sudah kalo begitu :))(1) Nazi memang kejam, saya tidak sangsikan itu, tapi bukan untuk kaum Yahudi saja. (2) Holocaust adalah kisah yg menjual, yang membalut kepalsuan. Dan Yahudi pinter jualan lewat media-media yg mereka kuasai, melalui program mind control, demi tercapai tujuan politiknya, salah satunya menerima zionisme.(3) Jepang memang kejam, dan kisah kekejamannya terhadap Jugun Ianfu bukanlah hoax. Sampai saat ini tidak ada yg membantahnya. Dan Jepang-pun mengakuinya.Disinilah kita belajar menerima mana informasi yang benar atau tidak. Jangan lantas kalau tidak sesuai harapan itu ditinggalkan.

  85. erm718 said: nek nonton laporan PBS ttg Holocaust aci ora? aku mending nonton kuwi daripada moco laporan riset2… Yg jelas kalo korban Holocaust itu “cuma” 1 juta…. pasti salah ngitung.

    sayang memang kita sudah banyak yang tercuci otak oleh bangsa yahudi, Mba/Mas…. :-)coba klo berkenan baca di http://andhapasor.blogspot.com/2010/08/tv-perangkat-mind-control-kontrol.html tentang pengaruh film-film itu…menurut saya, memang harus dibedakan antara rasa sensitif terhadap korban yang benar-benar ada dengan tidak menggeneralisir dan membesar-besarkan situasi untuk dieksploitasi. Dalam hal ini memang Jepang bersalah besar terhadap Indonesia, namun seperti komentar teman sebelumnya, bahwa bangsa Indonesia karakternya secara umum lebih buruk dari bangsa Jepang. Sedang untuk Jerman, jelas sekali mereka terus dipolitisir oleh rasa bersalah mereka kepada bangsa Yahudi, meski dalam genosida itu tidak hanya orang yahudi yang dibunuh, riset yang “tidak dipercayai” memperkirakan cuma 300 ribuan dibandingkan dengan angka bombastis jutaan orang yang juga senantiasa direvisi jumlahnya. Kenapa kita lebih percaya riset? coba aja ini saya kopikan statistik jumlah orang yahudi waktu itu dan pasca peristiwa genosida: Coba perhatikan tabel berikut ini: http://dasdrittenreich.blogspot.com/2011/05/kebohongan-holocaust.html Tabel populasi Yahudi di seluruh dunia.Coba perhatikan diagram di tahun 1940 – 1945 dimana Perang Dunia 2 sedang berkecamuk hebat didaratan Eropa. Bandingkan populasi Yahudi di Eropa (warna biru muda), gak terjadi penurunan yang drastis kan? Seharusnya turun ekstrim karena jumlahnya ‘dibantai 6 juta jiwa’. Malah lebih konyolnya lagi, diagram biru muda itu meningkat sebesar 4%. Bener-bener gak masuk akal, kalau dibantai 6 juta jiwa kenapa malah jumlahnya meningkat? Baca selengkapnya disini.

  86. erm718 said: apakah gara2 korban Nazi itu Yahudi makanya dibilang hoax? internet memang banyak sumber2 informasi, tapi apakah itu benar2 akurat? Biasa kalo penulis kabar hoax itu bias, dibaca sama yg suka telan mentah2 informasi ya makin bikin orang buta akan kebenaran.

    wis banting ae, njaluk anyar karo Kapolda… sik yo, long day… komen dilanjut kapan2

  87. erm718 said: apakah gara2 korban Nazi itu Yahudi makanya dibilang hoax? internet memang banyak sumber2 informasi, tapi apakah itu benar2 akurat? Biasa kalo penulis kabar hoax itu bias, dibaca sama yg suka telan mentah2 informasi ya makin bikin orang buta akan kebenaran.

    nek nonton laporan PBS ttg Holocaust aci ora? aku mending nonton kuwi daripada moco laporan riset2… Yg jelas kalo korban Holocaust itu “cuma” 1 juta…. pasti salah ngitung.

  88. erm718 said: apakah gara2 korban Nazi itu Yahudi makanya dibilang hoax? internet memang banyak sumber2 informasi, tapi apakah itu benar2 akurat? Biasa kalo penulis kabar hoax itu bias, dibaca sama yg suka telan mentah2 informasi ya makin bikin orang buta akan kebenaran.

    titel profesor tidak menjamin kalo risetnya 100% akurat. Memang saya bukan spesialis Holocaust yg tahu number in details & saya ga koleksi buku2 tsb. Diulas dibbrp talk show karena itu hal yg kontroversial & itu biasa, tapi belum tentu benar toh?Terus terang bbrp komen diatas saya bilang tidak sensitif, apalagi kalo dibaca orang2 yg punya relasi dgn korban Holocaust, kebetulan disini mungkin yg baca postingan mbak Evi ga ada. Jadi foto2 bukti kekejaman Nazi kalo sampe dibilang hoax kan keterlaluan. Juga saya pernah baca ditempat lain, orang2 yg komen ngasal & malah mengelu2kan Hitler karena dia membasmi Yahudi, dan saya tahu kalo ada kelompok yang setuju dgn hal ini. Meskipun yg anda maksud mungkin “number” yg dibesar2kan, tapi apakah kekejaman yg dialami kaum Yahudi itu setimpal? jadi tidak perlu menggugah dunia utk menyorot kekejaman Nazi?

  89. erm718 said: apakah gara2 korban Nazi itu Yahudi makanya dibilang hoax? internet memang banyak sumber2 informasi, tapi apakah itu benar2 akurat? Biasa kalo penulis kabar hoax itu bias, dibaca sama yg suka telan mentah2 informasi ya makin bikin orang buta akan kebenaran.

    Tinggal dulu. ngademin otak ketimbang marah marah ngadepin MP yang lagi mabok.

  90. erm718 said: apakah gara2 korban Nazi itu Yahudi makanya dibilang hoax? internet memang banyak sumber2 informasi, tapi apakah itu benar2 akurat? Biasa kalo penulis kabar hoax itu bias, dibaca sama yg suka telan mentah2 informasi ya makin bikin orang buta akan kebenaran.

    Gak semuanya hoax mbakyu. Kamp konsentrasi itu memang ada. Dan kita harus pinter pinter memilah mana informasi yang benar dan mana yang hoax.

  91. emaknyamarc said: gak mau buka videonya, gak tegaaaaa………..baca cerita eyang mardiyem aja udh nyesek mau nangis……..

    Menyedihkan, udah jadi korban, ceritanya dimanfaatkan, gak dapat apa apa, eh masih juga dikorupsi. Gila ya pemerintah kita. Tega teganya..

  92. subhanallahu said: Nah…Saya khawatir indonesia berperilaku sama dengan yahudi dalam artian memanfaatkan kesalahan jepang dimasa lampau. Buktinya banyak hibah dari jepang kepada indonesia. Ini justru membuat indinesia berpotensi menjadi negara pemeras.

    Hibahnya gak langsung ke korban tapi melalui pemerintah dan dikorupsi pula. Banyak penggunaannya yang tidak pada tempatnya dan tidak melibatkan korbannya.

  93. srisariningdiyah said: kalo lihat benteng2 peninggalan belanda/portugis di seantero indonesia, kemudian diambil alih oleh jepang, memang metode penyiksaan jepang dalam ruang tahanan di benteng2 tersebut jauhhhhhh lebih kejam daripada belanda/portugis… btw ngeri banget pas bagian kulit ditarik paksa setelah direndam air panas…

    Aku gak wani nonton mbak. Cuma berani pas tangannya dicelup air panas. Abis itu tak pateni videonya. Langsung mual.

  94. fightforfreedom said: Kamp konsentrasi Nazi memang ada, tapi informasi yg disampaikan melalui Tragedi Holocaust oleh Nazi adalah hoax, di sana terlalu dilebih-lebihkan, mengenai jumlah korban dan peristiwanya; dengan tujuan propaganda Yahudi untuk menarik simpati dunia. Holocaust yg berasal dari tulisan “The Diary of Anne Frank” itu ternyata penuh kepalsuan.Ada blog yg isinya secara khusus detail mengupas detail ttg kebohongan2 (hoax) itu, di sini:http://exposing-the-holocaust-hoax-archive.blogspot.com/Kejanggalan-kejanggalan kebenaran holocaust bisa disimak di situ.

    Nah sekarang kayaknya dah mulai lancar.

  95. fightforfreedom said: Kamp konsentrasi Nazi memang ada, tapi informasi yg disampaikan melalui Tragedi Holocaust oleh Nazi adalah hoax, di sana terlalu dilebih-lebihkan, mengenai jumlah korban dan peristiwanya; dengan tujuan propaganda Yahudi untuk menarik simpati dunia. Holocaust yg berasal dari tulisan “The Diary of Anne Frank” itu ternyata penuh kepalsuan.Ada blog yg isinya secara khusus detail mengupas detail ttg kebohongan2 (hoax) itu, di sini:http://exposing-the-holocaust-hoax-archive.blogspot.com/Kejanggalan-kejanggalan kebenaran holocaust bisa disimak di situ.

    Terima kasih linknya cak Iwan.

  96. subhanallahu said: coba baca di http://dasdrittenreich.blogspot.com/2011/05/kebohongan-holocaust.html

    Tetapi bukan berarti pemerintah Jepang menghapus sejarah kekelaman bangsanya yang teramat keji ini. Memelintir kenyataan bahkan menyatakan bahwa mereka bangsa pemersatu Asia saat perang dunia kedua itu.Banyak generasi mudanya yang nggak tahu nggak tahu. ==========hadehhhhhhh… MP kenapa sehhhhhhh?ini tadi mengquote komennya mas Farid kok malah kequote postinganku dewe.komenku di atas mengomentari reply mas Farid yang ini:———Herannya saat ini yang saya lihat di masyarakat Jepang, mereka lebih ramah dan sopan. Sebagai pembanding aja, untuk urusan di jalan raya atau urusan ngantri, kelihatan lebih beradab daripada orang Indonesia.————–

  97. subhanallahu said: coba baca di http://dasdrittenreich.blogspot.com/2011/05/kebohongan-holocaust.html

    Terimakasih telah melengkapi, mas Wid.Saya kok jadi teringat dg ungkapan Orwell dalam novelnya “1984”Those who control the past, control the future; who controls the present controls the past.Makanya mitos holocaust itu tetap terpelihara, yg mengkritik-nya pun langsung ditangkap.Museum Auschwitz, museum tentang holocaust, selama 50 tahun lebih mengklaim bahwa 4 juta manusia dibunuh di sana, kemudian angka itu berkembang liar sampai 9 juta. Anehnya… (setelah kepalsuannya terbongkar) sekarang mereka malah mengklaim hanya 1 juta korban. Revisi klaim ini pun tidak didukung oleh dokumentasi 1 juta orang tersebut. Hal yg penting lagi adalah jika memang ada pembunuhan massal di sana dg jumlah yg spektakuler itu terhadap Yahudi tentu Palang Merah, Paus, pemerintah sekutu, negara netral, pemimpin terkemuka waktu itu akan tahu dan menyebutnya dan mengecamnya.

  98. wayanlessy said: Beberapa eyang eyang dan pinisepuh lain, kalau cerita jaman penjajahan dulu semua bilang kl Jepang sadis…jauh lebih sadis dari Belanda.

    Betul sekali Lessy. Di thread kaskus dimana aku menemukan salah satu artikel di atas ada yang cerita kalau mbahnya cerita sendok garpu aja digaruk. Mereka menculik perempuan2 muda di bawah umur.

  99. nonragil said: Aku dan suami selalu mengatakan bahwa Jepang adalah Jerman untuk Asia dengan kekejaman perangnya……

    Memang. Tapi Jepang kalah gaungnya ketimbang Jerman. Karena korbannya hanya di Asia. Dan sejarahpun diputarbalikkan oleh Jepang karena generasi muda di Jepang enggak tahu kekejaman bangsanya di masa lalu. Beda dengan Jerman yang mengakui kekejamannya di masa lalu.

  100. grasakgrusuk said: Merinding, ngebayangin ngegugurin kandungan tanpa obt bius, rusak pula rahim bu mardiyem. Takut mau buka pidionya.. 😦

    Koneksi lagi kacrut yo sampek tiga berturut turut Wet. Aku yo ra wani neruske, mual.

  101. mmamir38 said: Memang tampaknya Jepang dan Jerman unggul kalo soal penyiksaan waktu itu.Kalo soal video, tampaknya itu hasil rekam ulang, karena pada taun 40an, jangankan video berwarna, foto berwarna aja belon ada.

    Itu memang film pak Margono. Bukan rekaman kejadian yang sesungguhnya. Nama filmnya Man behind the sun.

  102. tintin1868 said: jadi ga pengen buka video itu.. *baru makan nih.. ntar aja..holocoust dimanamana jaman itu ya..

    Perang memang kejam. Penjajahan memang kejam. Tapi kelakuan Jepang dan Nazi Jerman sangat keterlaluan.

  103. erm718 said: Yg aku mau ingatkan, setelah membaca, nonton video tsb langsung rasa benci kita terhadap “Jepang” langsung melejit. Tapi tolong jangan gebyah uyah, tidak semua orang Jepang punya kekejaman seperti itu. Aku percaya penduduk sipil Jepang tidak seperti itu, yg disalahkan selalu goverment & militernya.

    Saya sangat setuju 🙂

  104. erm718 said: apakah gara2 korban Nazi itu Yahudi makanya dibilang hoax? internet memang banyak sumber2 informasi, tapi apakah itu benar2 akurat? Biasa kalo penulis kabar hoax itu bias, dibaca sama yg suka telan mentah2 informasi ya makin bikin orang buta akan kebenaran.

    Ayo gali lebih banyak informasi, banyak baca 🙂 Informasi holocaust hoax itu tidak berawal dari internet, tapi dari sebuah buku yg mengupasnya dan dirilis tahun 1976, dimana saat itu belum booming internet (atau bahkan belum terjangkau). Buku itu ditulis oleh seorang profesor. Semoga Anda bisa menemukan buku itu, world wide web is in your hand, right?!Juga sudah banyak diulas di beberapa talk show.

  105. mmamir38 said: Kalo soal video, tampaknya itu hasil rekam ulang, karena pada taun 40an, jangankan video berwarna, foto berwarna aja belon ada.

    mbak Evi, suwe ra komen yo… ;)memang Jepang sangat kejam dimasa perang, sama juga dengan Nazi… yg namanya perang itu pasti kejam. Penjajahan itu sangat jahat, ga cuma jaman dulu sekarangpun yg namanya perang pasti bikin hati miris. Ga usah jauh2 perang wis, udah lihat video kejadian Cikeusik? itu bangsa kita sendiri memperlakukan orang yg tidak punya keyakinan sama aja kayak gitu. Juga saat ini yg lagi rame si Joseph Kony, kekejamannya sangat luar biasa dgn menculik anak2 utk dijadikan serdadu & budak seks, sedangkan orang tua anak2 tsb dibunuh didepan mata. Berbicara mengenai kekejaman, ga cuma Nazi & Jepang, memang saat itu media belum seperti sekarang ini. Yg terjadi belum terlalu lama, ethnic cleansing di Bosnia… itu juga bikin hati miris.wah kok dadi tekan ngendi2 yo komennya… menurut pendapat pribadiku, Jepang memang berbuat diluar batas kemanusiaan saat perang dan itu telah terekam dalam sejarah. Kita tidak bisa memaafkan apa yg diperbuat pemerintah Jepang saat itu, menuntut kompensasi utk korban kekejaman serdadu Jepang sangatlah pantas. Yang bikin kompensasi ndrendet kemungkinan birokrasi dari government. Yg aku mau ingatkan, setelah membaca, nonton video tsb langsung rasa benci kita terhadap “Jepang” langsung melejit. Tapi tolong jangan gebyah uyah, tidak semua orang Jepang punya kekejaman seperti itu. Aku percaya penduduk sipil Jepang tidak seperti itu, yg disalahkan selalu goverment & militernya.

  106. mmamir38 said: Kalo soal video, tampaknya itu hasil rekam ulang, karena pada taun 40an, jangankan video berwarna, foto berwarna aja belon ada.

    apakah gara2 korban Nazi itu Yahudi makanya dibilang hoax? internet memang banyak sumber2 informasi, tapi apakah itu benar2 akurat? Biasa kalo penulis kabar hoax itu bias, dibaca sama yg suka telan mentah2 informasi ya makin bikin orang buta akan kebenaran.

  107. mmamir38 said: Kalo soal video, tampaknya itu hasil rekam ulang, karena pada taun 40an, jangankan video berwarna, foto berwarna aja belon ada.

    Iya, kekejaman tentara Jepang saat itu menyamai kekejaman Nazi.

  108. mmamir38 said: Kalo soal video, tampaknya itu hasil rekam ulang, karena pada taun 40an, jangankan video berwarna, foto berwarna aja belon ada.

    gak mau buka videonya, gak tegaaaaa………..baca cerita eyang mardiyem aja udh nyesek mau nangis……..

  109. mmamir38 said: Kalo soal video, tampaknya itu hasil rekam ulang, karena pada taun 40an, jangankan video berwarna, foto berwarna aja belon ada.

    Ga kebayang kalo penyiksaan itu mungkin masih ada sampai sekarang, bahkan lebih kejam..

  110. mmamir38 said: Kalo soal video, tampaknya itu hasil rekam ulang, karena pada taun 40an, jangankan video berwarna, foto berwarna aja belon ada.

    Nah…Saya khawatir indonesia berperilaku sama dengan yahudi dalam artian memanfaatkan kesalahan jepang dimasa lampau. Buktinya banyak hibah dari jepang kepada indonesia. Ini justru membuat indinesia berpotensi menjadi negara pemeras.

  111. mmamir38 said: Kalo soal video, tampaknya itu hasil rekam ulang, karena pada taun 40an, jangankan video berwarna, foto berwarna aja belon ada.

    kalo lihat benteng2 peninggalan belanda/portugis di seantero indonesia, kemudian diambil alih oleh jepang, memang metode penyiksaan jepang dalam ruang tahanan di benteng2 tersebut jauhhhhhh lebih kejam daripada belanda/portugis… btw ngeri banget pas bagian kulit ditarik paksa setelah direndam air panas…

  112. mmamir38 said: Kalo soal video, tampaknya itu hasil rekam ulang, karena pada taun 40an, jangankan video berwarna, foto berwarna aja belon ada.

    ya… itu khan film, Pak Amir, yg referensi filmnya di tulis di bagian bawah jurnal oleh mbak Evia 🙂

  113. subhanallahu said: “katanya” sebagian besar sejarah holocaust oleh Nazi adalah hoax…?

    Kamp konsentrasi Nazi memang ada, tapi informasi yg disampaikan melalui Tragedi Holocaust oleh Nazi adalah hoax, di sana terlalu dilebih-lebihkan, mengenai jumlah korban dan peristiwanya; dengan tujuan propaganda Yahudi untuk menarik simpati dunia. Holocaust yg berasal dari tulisan “The Diary of Anne Frank” itu ternyata penuh kepalsuan.Ada blog yg isinya secara khusus detail mengupas detail ttg kebohongan2 (hoax) itu, di sini:http://exposing-the-holocaust-hoax-archive.blogspot.com/Kejanggalan-kejanggalan kebenaran holocaust bisa disimak di situ.

  114. nonragil said: Aku dan suami selalu mengatakan bahwa Jepang adalah Jerman untuk Asia dengan kekejaman perangnya……

    Dulu emang pada jaman pendudukan Jepang, tentara Jepang sangat sadis dan kejam. Walau mungkin pemerintahnya tidak mau meminta maaf kepada bekas korban perang, tapi banyak para pelaku perang di masa tuanya menyesali apa yang telah mereka perbuat. Contohnya kakek Masayoshi ini. Sampai bersujud membungkuk kepada mahasiswa Indonesia yang sangat jauh lebih muda, mungkin pantas untuk jadi cucu, meminta maaf untuk perlakuan tentara Jepang di Indonesia di jaman penjajahan dulu. http://berbual.com/politik-dan-birokrasi/masayoshi/Herannya saat ini yang saya lihat di masyarakat Jepang, mereka lebih ramah dan sopan. Sebagai pembanding aja, untuk urusan di jalan raya atau urusan ngantri, kelihatan lebih beradab daripada orang Indonesia.

  115. nonragil said: Aku dan suami selalu mengatakan bahwa Jepang adalah Jerman untuk Asia dengan kekejaman perangnya……

    Mbak Eviaaa…aku ga berani nontonnya yaaa…udah ngeri duluan.Beberapa eyang eyang dan pinisepuh lain, kalau cerita jaman penjajahan dulu semua bilang kl Jepang sadis…jauh lebih sadis dari Belanda.

  116. nonragil said: Aku dan suami selalu mengatakan bahwa Jepang adalah Jerman untuk Asia dengan kekejaman perangnya……

    Aku inget bgt mbak Helene pernah nulis begini di salah satu komen lama. Iyah, bener mbak..pas aku bilang gini ke suamiku, ia juga sependapat.

  117. Memang tampaknya Jepang dan Jerman unggul kalo soal penyiksaan waktu itu.Kalo soal video, tampaknya itu hasil rekam ulang, karena pada taun 40an, jangankan video berwarna, foto berwarna aja belon ada.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s