Kenapa harus ada kebencian?

Pagi pagi baca berita, dikejutkan dengan kabar yang meyeramkan. Seorang perempuan muslim imigran Irak terbunuh di rumahnya sendiri di negara bagian California.

Seorang perempuan imigran dari Irak bernama Shaima Alawadi yang sudah menjadi warga negara Amerika, ditemukan tak sadarkan diri di rumahnya dalam keadaan luka parah. Beberapa hari sebelumnya, ada catatan yang menempel di pintu rumahnya yang berbunyi kira kira dalam terjemahan bebasnya “Ini negaraku. Kau kembali sana ke negaramu, teroris.”

Si suami perempuan tersebut bermaksud untuk menghubungi polisi, tetapi dicegah istrinya. Alasannya, ini hanya lelucon anak anak remaja saja, gak perlu ditanggapi serius. Selang beberapa hari kemudian, sang istri ditemukan terbaring tak sadarkan diri dalam genangan darah dan luka berat di kepala. Tak jauh dari tubuhnya ditemukan tulisan dengan nada ancaman, mirip seperti tulisan yang ditemukan di pintu rumahnya seminggu sebelumnya. Tiga hari kemudian, nyawa Shaima tak terselamatkan.

Berita selengkapnya ada di harian The New York Times : Iraqi Immigrants in California Town Fear a Hate Crime in a Woman’s Killing
================


Iraqi Immigrants in California Town Fear a Hate Crime in a Woman’s Killing


Semoga segera ditemukan siapa pelakunya.

Padahal baru saja beberapa hari lalu seorang mahasiswa junalistik dari Northern Michigan University mewawancarai saya. Si mahasiswa yang bukan beragama Islam mengenakan hijab untuk bersimpati dan merasakan bagaimana rasanya menghadapi masyarakat yang rasis.

Di tempat lain, di California State University San Bernardino ada gerakan Take the hijab challenge, dimana mahasiswi mahasiswi non muslim diajak untuk mengenakan kerudung selama beberapa saat.



Sejak kejadian 9/11, kaum muslim hampir selalu menjadi sorotan. Tetapi untungnya selalu masih ada orang orang yang berwawasan luas dan terbuka untuk tidak menelan mentah mentah berita yang berseliweran. Bagaimanapun juga kejadian demi kejadian tersebut dilakukan oleh oknum, bukan karena agamanya. Banyak yang bersimpati kepada kaum muslim. Ini yang jarang disorot oleh media.

Seperti misalnya, di Duluth baru saja terbentuk sebuah organisasi bernama Interfaith Women yang anggotanya adalah para perempuan dari berbagai agama dimana salah satu anggotanya adalah saya sendiri. Tujuan dari organisasi ini adalah, untuk berperan serta dalam mendidik masyarakat bahwa apapun warna kulit kita, apapun agama kita, kita adalah manusia biasa yang ingin hidup damai dan bergaul dengan siapapun. Proyek pertama dari Interfaith Women ini adalah Dinner Fundraising untuk membantu para perempuan di negara negara yang dilanda perang dan konflik seperti Bosnia, Liberia, Irak, Afghanistan, Sudan, Columbia dan Rwanda. Mudah2an untuk ke depannya tidak terbatas pada negara negara yang disebut di atas, tapi semua perempuan yang tertindas dan memerlukan pertolongan. Amiin Ya Rabb.

Advertisements

87 thoughts on “Kenapa harus ada kebencian?

  1. aki2005 said: Kebencian “turun menurun”. Saat menghancurkan warga pertama Amerika, kemudian diteruskan dengan menteror ras Afro, sekarang kebencian terhadap warga Muslim.

    Enggak semuanya seperti itu deh Aki. Ulah oknum oknum tak berwawasan enggak mewakili semua bangsanya. Yang bersimpati juga banyak, seperti yang saya cantumkan lewat video di bawahnya.

  2. pandakuning said: Banyak org yg pikirannya picik tante sekarang iniGa bisa berwawasan luas, pgn tak jitak ajaMoga2 ga ada lg kejadian kyk giniApapun suku, ras, agama kita, kita tetep berhak utk hidup dan tinggal dimana saja

    Mudah2an kita dijauhkan dari sifat kayak gini. Sedih rasanya setiap saat melihat korban korban kepicikan.

  3. rengganiez said: Jadi inget di Malang sana ada kelompok yang mengembangkan praktik yang dinamakan LIVE IN, atau tinggal bersama antar keyakinan. Ini adalah hubungan untuk saling mengenal antar pemeluk keyakinan yang berbeda. Biasanya diadakan setahun sekali di bulan Februari. Para santri yang tinggal di komunitas Kristen datang ke gereja, begitu sebaliknya untuk tahu dan mengenalnya. Kalo mau ngecek bisa ke Pondok pesantren Shiratul Fuqoha atau ke Gereja Kristen Jawi Wetan untuk tanya2 soal program ini. Cita-citanya sederhana saja untuk saling berkomunikasi, menghilangkan prasangka dan memupus kebencian.

    kenapa sih suka banget mempermasalahin SARA gitu.. haaaaaah.. 😦

  4. rengganiez said: Jadi inget di Malang sana ada kelompok yang mengembangkan praktik yang dinamakan LIVE IN, atau tinggal bersama antar keyakinan. Ini adalah hubungan untuk saling mengenal antar pemeluk keyakinan yang berbeda. Biasanya diadakan setahun sekali di bulan Februari. Para santri yang tinggal di komunitas Kristen datang ke gereja, begitu sebaliknya untuk tahu dan mengenalnya. Kalo mau ngecek bisa ke Pondok pesantren Shiratul Fuqoha atau ke Gereja Kristen Jawi Wetan untuk tanya2 soal program ini. Cita-citanya sederhana saja untuk saling berkomunikasi, menghilangkan prasangka dan memupus kebencian.

    ternyata masih juga yah…teruskan perjuangannya mbakkk…

  5. rengganiez said: Jadi inget di Malang sana ada kelompok yang mengembangkan praktik yang dinamakan LIVE IN, atau tinggal bersama antar keyakinan. Ini adalah hubungan untuk saling mengenal antar pemeluk keyakinan yang berbeda. Biasanya diadakan setahun sekali di bulan Februari. Para santri yang tinggal di komunitas Kristen datang ke gereja, begitu sebaliknya untuk tahu dan mengenalnya. Kalo mau ngecek bisa ke Pondok pesantren Shiratul Fuqoha atau ke Gereja Kristen Jawi Wetan untuk tanya2 soal program ini. Cita-citanya sederhana saja untuk saling berkomunikasi, menghilangkan prasangka dan memupus kebencian.

    ya Allah… 😦

  6. rengganiez said: Jadi inget di Malang sana ada kelompok yang mengembangkan praktik yang dinamakan LIVE IN, atau tinggal bersama antar keyakinan. Ini adalah hubungan untuk saling mengenal antar pemeluk keyakinan yang berbeda. Biasanya diadakan setahun sekali di bulan Februari. Para santri yang tinggal di komunitas Kristen datang ke gereja, begitu sebaliknya untuk tahu dan mengenalnya. Kalo mau ngecek bisa ke Pondok pesantren Shiratul Fuqoha atau ke Gereja Kristen Jawi Wetan untuk tanya2 soal program ini. Cita-citanya sederhana saja untuk saling berkomunikasi, menghilangkan prasangka dan memupus kebencian.

    Kebencian “turun menurun”. Saat menghancurkan warga pertama Amerika, kemudian diteruskan dengan menteror ras Afro, sekarang kebencian terhadap warga Muslim.

  7. rengganiez said: Jadi inget di Malang sana ada kelompok yang mengembangkan praktik yang dinamakan LIVE IN, atau tinggal bersama antar keyakinan. Ini adalah hubungan untuk saling mengenal antar pemeluk keyakinan yang berbeda. Biasanya diadakan setahun sekali di bulan Februari. Para santri yang tinggal di komunitas Kristen datang ke gereja, begitu sebaliknya untuk tahu dan mengenalnya. Kalo mau ngecek bisa ke Pondok pesantren Shiratul Fuqoha atau ke Gereja Kristen Jawi Wetan untuk tanya2 soal program ini. Cita-citanya sederhana saja untuk saling berkomunikasi, menghilangkan prasangka dan memupus kebencian.

    kbencian itu mengerikan, tp kasih itu memaafkan..

  8. rengganiez said: Jadi inget di Malang sana ada kelompok yang mengembangkan praktik yang dinamakan LIVE IN, atau tinggal bersama antar keyakinan. Ini adalah hubungan untuk saling mengenal antar pemeluk keyakinan yang berbeda. Biasanya diadakan setahun sekali di bulan Februari. Para santri yang tinggal di komunitas Kristen datang ke gereja, begitu sebaliknya untuk tahu dan mengenalnya. Kalo mau ngecek bisa ke Pondok pesantren Shiratul Fuqoha atau ke Gereja Kristen Jawi Wetan untuk tanya2 soal program ini. Cita-citanya sederhana saja untuk saling berkomunikasi, menghilangkan prasangka dan memupus kebencian.

    Banyak org yg pikirannya picik tante sekarang iniGa bisa berwawasan luas, pgn tak jitak ajaMoga2 ga ada lg kejadian kyk giniApapun suku, ras, agama kita, kita tetep berhak utk hidup dan tinggal dimana saja

  9. rengganiez said: Jadi inget di Malang sana ada kelompok yang mengembangkan praktik yang dinamakan LIVE IN, atau tinggal bersama antar keyakinan. Ini adalah hubungan untuk saling mengenal antar pemeluk keyakinan yang berbeda. Biasanya diadakan setahun sekali di bulan Februari. Para santri yang tinggal di komunitas Kristen datang ke gereja, begitu sebaliknya untuk tahu dan mengenalnya. Kalo mau ngecek bisa ke Pondok pesantren Shiratul Fuqoha atau ke Gereja Kristen Jawi Wetan untuk tanya2 soal program ini. Cita-citanya sederhana saja untuk saling berkomunikasi, menghilangkan prasangka dan memupus kebencian.

    Wah bagus sekali programnya. Hal hal kayak gini yang musti sering diungkapkan untuk menularkan hal hal positif. Di dekat tempat tinggalnya ibuku ada GKJW mbak. Dari depan penampilannya khas, Jawa banget.

  10. rengganiez said: ini udah di depan komputer..*baca sik*

    Jadi inget di Malang sana ada kelompok yang mengembangkan praktik yang dinamakan LIVE IN, atau tinggal bersama antar keyakinan. Ini adalah hubungan untuk saling mengenal antar pemeluk keyakinan yang berbeda. Biasanya diadakan setahun sekali di bulan Februari. Para santri yang tinggal di komunitas Kristen datang ke gereja, begitu sebaliknya untuk tahu dan mengenalnya. Kalo mau ngecek bisa ke Pondok pesantren Shiratul Fuqoha atau ke Gereja Kristen Jawi Wetan untuk tanya2 soal program ini. Cita-citanya sederhana saja untuk saling berkomunikasi, menghilangkan prasangka dan memupus kebencian.

  11. haleygiri said: pakai rok mini dibilang asusila–pantas diperkosa, pakai jilbab dibilang teroris–layak dibunuh… Oh otak!!!

    itu makanya. Mirisssssss sekali bacanya.Tinggal di dunia apakah kita ini, serba ketakutan.Yang pake hoodie pantas dibunuh, yang dari negara lain pantas dibully. Astagaaaaa….

  12. fightforfreedom said: Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.Media-media yg mengobarkan dan menanamkan kebencian itu biasanya makin melahirkan banyak orang berpikiran sempit dan picik.

    Pembacanya musti pinter ya cak Iwan untuk menelaah berita berita yang bertebaran tersebut. Selain itu juga jangan membaca dari satu sumber saja, mediapun bisa disetir oleh yang berkepentingan.

  13. agamfat said: kalau pengalaman saya di Inggris dulu, orang Pakistan itu njelehi banget. meski seagama, saya lebih suka bergaul sama orang India. Pakistan itu tertutup, rada xenophobia, anti kebijakan pemerintah inggris, ya orang inggris asli juga banyak yg seperti itu, tapi banyak juga cerita mereka sengaja menggelapkan data supaya dapat benefit.

    Aku gak bisa bedain antara Pakistan dan India. hehehehehhe…Komunitas Muslim disini banyak dari dua negara itu plus juga dari Afrika dan Middle East.

  14. tintin1868 said: xenophobia di amerika juga ada.. masih malah.. :(ku pernah baca juga di jerman kasusnya sama nih, seorang wanita yang pake jilbab ditembak.. dan koran sana ga pernah “membesarbesarkan” gitu..ku cari linknya dulu..

    Dimana mana ada Tin, gak cuma di Amerika. Di Indonesia juga ada.

  15. anazkia said: Media adakalanya juga menjadi mediator utama kebencian yah, Mbak? :(Bad news is good news…

    Ho oh Naz, menyedihkan. Bad news memang lebih menarik dan seksi ketimbang good news.

  16. penuhcinta said: Yang mengelola halaman Facebook ini memang pintar nulis juga mbak, pesan-pesannya kena banget.

    Iya, aku tadi baca banyak pesan pesan di sana. Bagus bagus ya. Udah 8,590 nih yang nge like.

  17. darnia said: Merinding bca artikelnya, merinding baca coppast yang di bawah.Mbak, mau nanya. Kalo pas peringatan 9/11 umat Muslim di sana pas itu gimana? Biasa aja ato malah ada himbauan untuk tinggal di rumah biar gak kenapa2?

    Ada peringatan seperti anniversary gitu. BUkan himbauan.Tahun lalu di Duluth ada anniversary dan komunitas Muslim datang. Sebelumnya sempet ada yang protes. Tapi yang protes ini bisa diredam. Yang meredam bukan komunitas muslim saja tapi orang2 kristenpun juga ikut membantu.

  18. itsmearni said: Aduh… Sedih dengar berita seperti iniKenapa sih masih ada saja orang-orang yang tak bisa menerima perbedaanTak bisa belajar melihat keindahan dari perbedaanTak bisa menciptakan harmoni dari perbedaanTurut berduka cita, atas meninggalnya ShaimaSekaligus hilangnya hati nurani si pelaku—————–Btw, mb evi, itu ada yg salah ketik”luka berat di kelapa.”Maksudnya kepala kali ya?

    Itu dia Arni, banyak orang picik di sekeliling kita. Eh salah ketik ya. Makasih yaaa.Sik tak editnya.

  19. intan0812 said: Turut berduka atas meninggalnya shaima, semoga saja semakin banyak org yg terbuka pikirannya…. Spy hidup di dunia ini jd lebih aman, nyaman dan tentram

    Iya Intan. *gak pake uni lagi*Amiin. Mudah2an makin banyak orang yang melek dan gak gampang kepengaruh isu isu gak jelas.

  20. moestoain said: Yo ngunu kui lah sing tak lakoni senyam senyum hehehe.. Tapi malah disoloti, wong kok gak duwe pendirian hahaha kacau balau wes dadine hehehe

    Tuh kan, ngomong salah, ngguyu salah, meneng salah. Gak ono benere. Wis dikek’i senyum termanis ae.

  21. beautterfly said: Mbak evi. Kalo berkenan, mbok nulis ttg bgmn penanganan anak ketika dibully, khususny menik. Sepertiny menarik neh*maunyaaa guru yg satu ini hehehe

    Pendidikan dari rumahnya bu guruh. Maksudnya diajarin berani, kalau diganggu jangan diem aja. Kalau udah keterlaluan, laporin gurunya. Trus kalau anaknya perempuan, jangan terlalu dikasih batesan2. Eh anak laki juga deng. Kan biasa tuh orang2 suka memberi batasan perempuan gak boleh begini gak boleh begitu. Laki laki gak boleh begini gak boleh begitu. Akibatnya kalau perempuan rada berani dibilang gak feminin, kasar dsb.

  22. tintin1868 said: cantik ya..

    kalau pengalaman saya di Inggris dulu, orang Pakistan itu njelehi banget. meski seagama, saya lebih suka bergaul sama orang India. Pakistan itu tertutup, rada xenophobia, anti kebijakan pemerintah inggris, ya orang inggris asli juga banyak yg seperti itu, tapi banyak juga cerita mereka sengaja menggelapkan data supaya dapat benefit.

  23. anazkia said: Media adakalanya juga menjadi mediator utama kebencian yah, Mbak? :(Bad news is good news…

    xenophobia di amerika juga ada.. masih malah.. :(ku pernah baca juga di jerman kasusnya sama nih, seorang wanita yang pake jilbab ditembak.. dan koran sana ga pernah “membesarbesarkan” gitu..ku cari linknya dulu..

  24. anazkia said: Media adakalanya juga menjadi mediator utama kebencian yah, Mbak? :(Bad news is good news…

    @mbak Sum : ooo gitu. Soalnya dulu pernah punya kenalan via blog ABG imigran dari Afghanistan. Kalo pas 9/11 dia sama gurunya disuruh di rumah aja gak usah sekolah dulu. Soalnya, pas awal-awal kejadian itu dia kalo ke sekolah dia dibully habis2-an. Mulai dilemparin kertas sampe dijejelin sandwich daging babiTapi aku lupa di negara bagian mana dia. Gak tau apakah itu karangan dia sendiri ato beneran…

  25. darnia said: Mbak, mau nanya. Kalo pas peringatan 9/11 umat Muslim di sana pas itu gimana? Biasa aja ato malah ada himbauan untuk tinggal di rumah biar gak kenapa2?

    Nyamber jawab. Kalau di Dearborn, Michigan, yang komunitas Arab dan Islamnya banyak, mereka mengadakan upacara peringatan di stadium dan muslimnya datang. Di tempatku gak ada peringatan kayak gini (yang besar2an).

  26. enkoos said: Sejak kejadian 9/11, kaum muslim hampir selalu menjadi sorotan. Tetapi untungnya selalu masih ada orang orang yang berwawasan luas dan terbuka untuk tidak menelan mentah mentah berita yang berseliweran. Bagaimanapun juga kejadian demi kejadian tersebut dilakukan oleh oknum, bukan karena agamanya. Banyak yang bersimpati kepada kaum muslim. Ini yang jarang disorot oleh media.

    Media adakalanya juga menjadi mediator utama kebencian yah, Mbak? :(Bad news is good news…

  27. enkoos said: Ho oh. Kan dirimu kontakku, jadi yang nongol duluan adalah kontak kita. HSku nongol gak? Lho…iki kok mbahas thongol2an.Anyway,aku baca komen2nya, terharu Sum. Ini aku copas salah satunya. Sum mungkin sudah baca.==========This is Jean. She is an office manager at a local Christian church. Jean took this picture to support the friends and family of Shaima Alawadi and made it her profile picture. She plans to wear it to her church during services and urges others to do the same.Jean is not alone. Many women are submitting their stories on this page and people from around the world are joining the movement.Regardless of the circumstances surrounding the case of Shaima Alawadi (police report pending) no one can deny that it is very hard to be Muslim in America and in many other countries. And Muslim women are not the only target.Xenophobia, racism, bigotry and misogyny put the focus on the victim instead of the perpetrator:”He got killed BECAUSE he was wearing a hoodie.””She got raped BECAUSE she was wearing a mini-skirt.””She got beaten BECAUSE she was wearing a headscarf.””He got bullied BECAUSE he was from another country.”This is not the world we want to live in and we are doing something about it.Jean is wearing a hijab to her Church. Do you have any doubt that people will ask her why and Jean will get to talk to them about it? What can YOU do to impact your community?Whatever it is, tell us here and we will support you.Thank you.=========

    Yang mengelola halaman Facebook ini memang pintar nulis juga mbak, pesan-pesannya kena banget.

  28. enkoos said: Semoga kita dijauhkan dari sifat sifat seperti ini yo cak.

    Merinding bca artikelnya, merinding baca coppast yang di bawah.Mbak, mau nanya. Kalo pas peringatan 9/11 umat Muslim di sana pas itu gimana? Biasa aja ato malah ada himbauan untuk tinggal di rumah biar gak kenapa2?

  29. enkoos said: Semoga kita dijauhkan dari sifat sifat seperti ini yo cak.

    Aduh… Sedih dengar berita seperti iniKenapa sih masih ada saja orang-orang yang tak bisa menerima perbedaanTak bisa belajar melihat keindahan dari perbedaanTak bisa menciptakan harmoni dari perbedaanTurut berduka cita, atas meninggalnya ShaimaSekaligus hilangnya hati nurani si pelaku—————–Btw, mb evi, itu ada yg salah ketik”luka berat di kelapa.”Maksudnya kepala kali ya?

  30. penuhcinta said: Loh, kok ada HSku? Oh, apa yang like terus nongol di situ ya?

    Ho oh. Kan dirimu kontakku, jadi yang nongol duluan adalah kontak kita. HSku nongol gak? Lho…iki kok mbahas thongol2an.Anyway,aku baca komen2nya, terharu Sum. Ini aku copas salah satunya. Sum mungkin sudah baca.==========This is Jean. She is an office manager at a local Christian church. Jean took this picture to support the friends and family of Shaima Alawadi and made it her profile picture. She plans to wear it to her church during services and urges others to do the same.Jean is not alone. Many women are submitting their stories on this page and people from around the world are joining the movement.Regardless of the circumstances surrounding the case of Shaima Alawadi (police report pending) no one can deny that it is very hard to be Muslim in America and in many other countries. And Muslim women are not the only target.Xenophobia, racism, bigotry and misogyny put the focus on the victim instead of the perpetrator:”He got killed BECAUSE he was wearing a hoodie.””She got raped BECAUSE she was wearing a mini-skirt.””She got beaten BECAUSE she was wearing a headscarf.””He got bullied BECAUSE he was from another country.”This is not the world we want to live in and we are doing something about it.Jean is wearing a hijab to her Church. Do you have any doubt that people will ask her why and Jean will get to talk to them about it? What can YOU do to impact your community?Whatever it is, tell us here and we will support you.Thank you.=========

  31. enkoos said: Hadapi dengan senyum aja deh kalau masih ngeyel gitu Mus. Percuma juga berdebat karena akan berlarut larut.

    Turut berduka atas meninggalnya shaima, semoga saja semakin banyak org yg terbuka pikirannya…. Spy hidup di dunia ini jd lebih aman, nyaman dan tentram

  32. enkoos said: Hadapi dengan senyum aja deh kalau masih ngeyel gitu Mus. Percuma juga berdebat karena akan berlarut larut.

    Yo ngunu kui lah sing tak lakoni senyam senyum hehehe.. Tapi malah disoloti, wong kok gak duwe pendirian hahaha kacau balau wes dadine hehehe

  33. enkoos said: Aku udah klik, langsung ada HSmu di sana, nyodok mata. hahahahahaha…..upssss…

    Mbak evi. Kalo berkenan, mbok nulis ttg bgmn penanganan anak ketika dibully, khususny menik. Sepertiny menarik neh*maunyaaa guru yg satu ini hehehe

  34. penuhcinta said: Eh, sebulan kalo gak salah aku pernah baca di link Facebook gerakan ini. Tapi coba cek lagi. Siapa tahu aku salah. Ada Facebooknya mbak dan update tentang wanita2 Amerika yang satu per satu mengenakan hijab (sementara) sebagai pernyataan simpati pada Shaima Alawadi. Terharu kalau lihat foto dan pernyataan simpati mereka. Aku kemarin sudah nulis tapi hilang gara2 inet kacrut, makanya dapet sumber2 ini. https://www.facebook.com/pages/One-Million-Hijabs-for-Shaima-Alawadi/137306256397032

    Iya, Menik juga dikasih tau temennya yang non muslim mengenai gerakan itu. Banyak yang bersimpati.

  35. moestoain said: Jadi orang Islam sekarang itu banyak godaannya, tidak mengucapkan selamat di hari umat yang berbeda keyakinan. katanya rasislah atau apalah. Giliran muslimat memakai jilbab, hijab, dsb dibilangnya teroris entah sesama muslim atau tidak. Beristri lebih dari 2 dibilangnya penjahat kelaminlah, siraja nafsulah dst. Namun ketika menjalankan penutupan tempat porstitusi yang telah dizini pihak berwajib malah dibilang melanggar HAM dll.

    Hadapi dengan senyum aja deh kalau masih ngeyel gitu Mus. Percuma juga berdebat karena akan berlarut larut.

  36. nonragil said: Prihatin dengan apa yang menimpa Shaima, sekaligus prihatin dengan semakin tingginya orang-orang rasis di berbagai belahan dunia.

    Semoga kita dijauhkan dari sifat2 seperti itu ya Helene. Dan semakin banyak orang2 yang waras.

  37. myshant said: mbak, selain ikut serta dalam organisasi Interfaith Women, trus gimana lagi caranya ngadepin yg rasis gini mbak ? terutama anak2 yg masih usia sekolah pasti ketemu temen rasis yg suka nge-bully gitu*sedih*

    Ajari anak untuk berani. Kalau ngadepin bully, laporin ke gurunya.Anakku pernah dibully waktu sekolah di Shanghai. Yang ngebully siswa Korea. Waktu itu Aceh baru diterjang tsunami. Beritanya kemana mana. Waktu berita nyampe ke sekolah, temennya anakku yang Korea itu jingkrak jingkrak. Sukurin Indonesia kena bencana, kira kira gitu katanya. Untung gurunya tahu. Langsung dihardik, disuruh keluar kelas. Memang anakku gak begitu dekat dengan teman2 sekolahnya yang dari Korea. banyak banget tuh. Anakku malah lebih deket sama temen2nya yang dari Australia. Yang dari Korea lebih suka ngumpul sesama Korea, gak mau nyampur dari negara2 lain. Begitu juga emak2nya. Heran deh, sekolah Amerika tapi lebih banyak murid Korea. Tahun berikutnya aku pindahin ke sekolah lain. Alhamdulillah lebih bagus dan gak ada bully2an. Anakku gaul sama siapa aja.

  38. enkoos said: Ooo…sebulan yo Sum. Yang di California University gak disebut berapa lama.

    Eh, sebulan kalo gak salah aku pernah baca di link Facebook gerakan ini. Tapi coba cek lagi. Siapa tahu aku salah. Ada Facebooknya mbak dan update tentang wanita2 Amerika yang satu per satu mengenakan hijab (sementara) sebagai pernyataan simpati pada Shaima Alawadi. Terharu kalau lihat foto dan pernyataan simpati mereka. Aku kemarin sudah nulis tapi hilang gara2 inet kacrut, makanya dapet sumber2 ini. https://www.facebook.com/pages/One-Million-Hijabs-for-Shaima-Alawadi/137306256397032

  39. penuhcinta said: Mbak, note yang kedua berbunyi: Go back to your country! You are a terrorist!Padahal Shaima sudah menjadi warga dan tinggal di AS selama 22 tahun. Suaminya malah bekerja sebagai konsultan Angkatan Bersenjata AS. DIa melatih tentara2 AS yang ditugaskan ke Timur Tengah. Jadi, dimana terorisnya? Wong malah membantu pemerintah AS kok. Inidikasinya memang “hate crime,” kejahatan semata karena kebencian.

    Jadi orang Islam sekarang itu banyak godaannya, tidak mengucapkan selamat di hari umat yang berbeda keyakinan. katanya rasislah atau apalah. Giliran muslimat memakai jilbab, hijab, dsb dibilangnya teroris entah sesama muslim atau tidak. Beristri lebih dari 2 dibilangnya penjahat kelaminlah, siraja nafsulah dst. Namun ketika menjalankan penutupan tempat porstitusi yang telah dizini pihak berwajib malah dibilang melanggar HAM dll.Seakan akan Islam itu sudah dianggap sebagai organisasi ataupun negara yang harus dibumi hanguskan disebagian mata dunia. Padahal islam adalah keyakinan atau agama yang menghubungkan manusia kepada tuhannya (Allah), tuk mencari kedamaian didunia dan akhirat.

  40. penuhcinta said: Mbak, note yang kedua berbunyi: Go back to your country! You are a terrorist!Padahal Shaima sudah menjadi warga dan tinggal di AS selama 22 tahun. Suaminya malah bekerja sebagai konsultan Angkatan Bersenjata AS. DIa melatih tentara2 AS yang ditugaskan ke Timur Tengah. Jadi, dimana terorisnya? Wong malah membantu pemerintah AS kok. Inidikasinya memang “hate crime,” kejahatan semata karena kebencian.

    Iya, Shaima dan keluarganya sudah menjadi warga negara US. Ya gitu deh kalau orang picik. Dan orang orang kayak gini banyak. Gampang disetir.

  41. beautterfly said: Huhuhuhu sedih. Smg arwah almarhumah diterima di sisi-Nya.Menarik bgt cerita ttg interfaith women ini. Ada linknya kah?Dimana2 slalu ada isu sara seperti ini. Smg kita semua dijauhkan dari segala bentuk perlakuan yg tidak adil. Amin

    Amiin Ya Rabb.Linknya belum ada, kan masih baru. Umurnya masih sebulan.

  42. miapiyik said: Sedihnya aku baca tulisan mba Evi dan artikel itu. Syukurnya tiap pindah2 kota/negara ngga pernah ngalamin masalah dgn tetangga/ lingkungan sekitar.Mestinya ancaman sekecil apapun dilaporkan ke polisi ya, duh….jadinya tewas

    Alhamdulillah kami sekeluarga juga gak pernah mengalami hal hal kayak gini.

  43. penuhcinta said: Iyo mbak, sedih banget deh pas baca beritanya aku nangis. Tahunya udah dr hari Minggu kemarin. Para simpatisan Shaima Alawadi dan Tryvon Martin bersatu dalam gerakan “Hijab dan Hoodie.” Jadi, memakai hijab, meskipun bukan muslimah dilakukan selama sebulan ini sebagai tanda simpati, sedangkan mengenakan hoodie dipakai sebagai tanda simpati terhadap Tryvon yang tewas karena prasangka rasis.

    Ooo…sebulan yo Sum. Yang di California University gak disebut berapa lama.

  44. enkoos said: Padahal baru saja beberapa hari lalu seorang mahasiswa junalistik dari Northern Michigan University mewawancarai saya. Si mahasiswa yang bukan beragama Islam mengenakan hijab untuk bersimpati dan merasakan bagaimana rasanya menghadapi masyarakat yang rasis

    mbak, selain ikut serta dalam organisasi Interfaith Women, trus gimana lagi caranya ngadepin yg rasis gini mbak ? terutama anak2 yg masih usia sekolah pasti ketemu temen rasis yg suka nge-bully gitu*sedih*

  45. Mbak, note yang kedua berbunyi: Go back to your country! You are a terrorist!Padahal Shaima sudah menjadi warga dan tinggal di AS selama 22 tahun. Suaminya malah bekerja sebagai konsultan Angkatan Bersenjata AS. DIa melatih tentara2 AS yang ditugaskan ke Timur Tengah. Jadi, dimana terorisnya? Wong malah membantu pemerintah AS kok. Inidikasinya memang “hate crime,” kejahatan semata karena kebencian.

  46. Huhuhuhu sedih. Smg arwah almarhumah diterima di sisi-Nya.Menarik bgt cerita ttg interfaith women ini. Ada linknya kah?Dimana2 slalu ada isu sara seperti ini. Smg kita semua dijauhkan dari segala bentuk perlakuan yg tidak adil. Amin

  47. Sedihnya aku baca tulisan mba Evi dan artikel itu. Syukurnya tiap pindah2 kota/negara ngga pernah ngalamin masalah dgn tetangga/ lingkungan sekitar.Mestinya ancaman sekecil apapun dilaporkan ke polisi ya, duh….jadinya tewas

  48. Iyo mbak, sedih banget deh pas baca beritanya aku nangis. Tahunya udah dr hari Minggu kemarin. Para simpatisan Shaima Alawadi dan Tryvon Martin bersatu dalam gerakan “Hijab dan Hoodie.” Jadi, memakai hijab, meskipun bukan muslimah dilakukan selama sebulan ini sebagai tanda simpati, sedangkan mengenakan hoodie dipakai sebagai tanda simpati terhadap Tryvon yang tewas karena prasangka rasis.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s