Kondisi ruangan dan kelakuan pegawai ATC

ATC = Air Traffic Controller, adalah tempat paling vital di bandara yang menangani lalu lintas pesawat terbang dimana sekian ratus nyawa manusia berada.

Sumber dari sini: www.facebook.com/groups/dahlaniskangroup/doc/422589767759437/

Sebetulnya gak kaget, pegawai pemerintah mana ada yang kerjanya bener? Bisanya korupsi, curhat geje, tilep sana sini gak ada dedikasinya, wis sing elek elek nemplok di pegawai negeri. Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. Tapi tetep aja, geram ngelihat kelakuan para pegawai yang kelakuannya menggampangkan nyawa ratusan manusia. Ruangan steril diperlakukan seperti warung. Ngerokok seenak jidat di ruangan berAC.

================

SIDAK ATC

Oleh: Siti Ita Nasyi’ah,

Minggu, pukul 06.00 wib, saat jalanan di Jakarta masih lengang, mobil Mercy L 1 JP melaju kencang menuju bandara Soekarto Hatta. Penumpangnya hanya berempat. Pak Menteri BUMN aku dan pak Jusak. Pak Dis duduk di depan kiri berdampingan dengan Zahidin, sopir pribadinya. Sedangkan aku dan pak Jusak, duduk di belakang. Kami berdua seperti juragan di mobil mewah itu. Terlihat beberapa botol air mineral dan camilan kecil tersedia rapi. Juga ada permen. ”Kita berangkat pagi, karena aku pingin mampir ATC (Air Traffic Controller) di Soeta,” kata pak menteri sambil menggulung lengan hem bergaris-garis warna biru yang dikenakan. Sesegera mungkin, tas kopor kutarik dan kumasukkan ke dalam bagasi mobil berwarna hitam metalik itu.

Sepinya jalanan ibukota, membuat Zahidin tancap gas full. Tidak sampai 1 jam, perjalanan menuju bandara Soeta dari Capital Residence, dilalui tanpa hambatan. Lucunya, saat sampai di pintu gerbang Perum Angkasa Pura (PAP), mobil melaju pelan. Pak menteri bergegas menurunkan kaca sambil menyapa sekurity dan satpam yang tengah berjaga. ”Pagi, pak. Permisi, ya” sapa pak Dis dengan ramah. Belum sempat menjawab, mobil yang membawa kita melaju menuju sebuah gedung paling ujung. Rupanya gedung ini adalah tempat paling vital milik PAP. Karena di gedung inilah letak berbagai mesin pengontrol lalu lintas udara yang ada di bandara Soeta.

Belum sampai di tempat parkir, terdengar peluit dari security yang kita lalui. Dari belakang, kulihat petugas jaga yang ada di pos, berlari-lari menghampiri mobil kami. Dengan wajah garang, seorang petugas berbadan agak tambun menyuruh mobil kami kembali. Alasannya, tempat terlarang dan tidakb oleh sembarangan orang masuk. Untuk urusuan itu, pak Dis menyerahkan pada Zahidin. Sepintas, kulihat ada adu argumentasi antara sopir pribadi pak Dis dengan petugas security. Sedangkan Pak Jusak buru-buru mencari toilet. Apa yang terjadi, aku tidak tahu pasti. Bagiku, mengikuti langkah pak Dis yang sangat cepat, lebih penting. Setengah berlari, kuikuti langkah pak Dis menuju sebuah gedung yang salah satu mejanya bertuliskan receptionis. ”Pagi, Assalamulaikum, permisi,” sapa pak Dis. Ternyata, ruangan itu kosong. Tak ada jawaban. Namun demikian, Pak Dis tetap bertahan dan berusaha memasuki ruang demi ruang yang ada sambil melihat-lihat keadaan. Kotor dan perlatan kantor berserakan tidak pada tempatnya. Disamping itu, terlihat meja kerja maupun meja tamu, terdapat botol air menieral, bekas piring makan dan satu lagi, asbak penuh puntung rokok. Padahal, ruangan itu full AC. Dingiiiiiin.

Bagiku, ini aneh. Meskipun minggu dikenal hari libur bagi masyarakat umum, tidak demikian dengan PAP dan dunia airline. Hari libur, justru hari-hari sibuk bagi instansi yang ada dalam salah satu BUMN tersebut. Makanya, ada 3 shif yang diberlakukan bagi karyawannya di bagian ini. Belum tuntas keanehanku, muncul suara nyanyian dari laki-laki yang ada di dalam ruangan yang ada di televisinya itu. Akupun kembali mengeraskan suaraku mengucapkan salam. Bukan jawaban salam, yang kuterima, malah semprotan sinis. ”Siapa sih lo, pagi-pagi gini. Berisik amat,” demikian jawab laki-laki berseragam dengan wajah ketus. Begitu melihat wajahku, laki-laki lain muncul dengan suara tak kalah garang. ”Siapa yang suruh masuk ke sini,” katanya dengan suara lebih keras. Akupun tak mau kalah. ”Mana bosmu, pak menteri pingin ketemu,” jawabku dengan tak kalah garang. MEndengar suara galakku, laki-laki yang ada di dalam, ikutan keluar. Sampai akhirnya ada lima orang lelaki yang bersiap menghadapiku. Saat kutoleh ke belakang, pak Dis buru-buru beranjak pergi. Pak Dis keluar dan mencari-cari sendiri ruangan ATC. Akupun bergegas mengikuti langkah gesitnya. ”Lho, bukannya itu pak Dahlan Iskan ya,” kata dua petugas yang masih muda dan ganteng. Tanpa menjawab, akupun pergi berlari menguntit langkah pak Dis dari belakang.

Kulihat, ada perubahan wajah pak Dis dari yang sebelumnya ramah, agak kecut. HP blakberr warna hitam dikeluarkan dan memencet nomor telepon. Sambil terus berjalan, pak Dis menelepon seseorang. ”Assalamulaikum, selamat pagi mas. Mohon maaf, menganggu libur anda ya. Sory, nih, saya nuwun sewu, dan kulo nuwun, ingin melihat ATC. Melihat komputer yang baru kita beli kemarin. Nuwun sewu lho, mas,” ucap pak menteri. Rupanya, pak Dis menelpon bos PAP yang tengah menikmati libur minggu. ”Tidak usah, tidak usah. Biar saya sendiri saja yang mencari. Saya sudah ada di dalam kantor anda kok ini. Cuma mencari-cari belum ketemu,” ucap pak menteri sambil terus membuka-buka pintu ruangan yang dilalui. Rupanya, sebelum itu, pak Dis sudah pernah berkunjung. Hanya saja, lupa tempatnya. Meski demikian, pak Dis tidak putus asa. SAmpai akhirnya, ada ruangan yang bertuliskan ATC. Bergegas, pak Dis masuk. ”Nah, ini dia,” ucapnya dengan wajah berbinar.

Akupun mengikuti langkah pakDis. BEnar. Di ruangan yang agak tersembunyi itu, terdapat sebuah ruangan khusus. Di dalam ruangan itu ada beberapa orang bekerja. Sambil mengucapkan salam, pak Dis menyalami satu persatu karyawan yang tengah bertugas. Tentu saja mereka kaget. Tidak mengira, jika ruangan mereka dikunjungi menteri. Beberapa orang yang tadinya santai, terlihat kembali ke komputernya. Begitu juga yang tengah merokok, meletakkan putung rokoknya di asbak yang ada di sampingnya. ”Wah, nglembur ya. Maaf, saya menganganggu,” ucap pak Dis sambil bertanya-tanya pada karyawan yang berkerja kala itu. Setelah meminta penjelasan bagian apa ruangan yang tengah didatangi, pak Dis minta ditunjukkan tangga menuju tower ATC. ”Wah, disini perokok semua ya,” kata pak Dis setengah menyindir. Kudengar ada yang menjawab dan ada yang membisu, sambil mematikan putung rokoknya. Beberapa orang, kulihat sibuk menelepon. Entah siapa yang ditelepon.

Pastinya, ada dua orang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai supervisor menjadi penunjuk jalan menuju tower. Kamipun berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan. ”Di sini pak. Mari,” ucap lelaki bertubuh tegap yang mengenakan hem kuning muda. Di depan pintu masuk ruangan itu, terdapat tulisan ”dilarang masuk” dan tulisan ”steril”. SElain itu juga ada tulisan ”jagalah kebersihan”.

Karena tempatnya steril, tanpa diminta pak Dis mencopot sepatu ketsnya. Apalagi di tempat itu juga terdapat rak sepa
tu. ”Di sini tidak sembarang orang boleh masuk, pak,” kata petugas tadi menjelaskan ruangan khusus itu. Pak Dis hanya manggut-manggut. Setelah itu, kami diajak naik ke sebuah tangga. Kalau tidak salah, ada 10 anak tangga yang kami naiki. Di ujung anak tangga, terdapat sebuah ruangan yang dipintunya bertuliskan ”yang tidak berkepentingan di larang masuk”. Rupanya, kita diajak ke sebuah ruangan kontrol yang seluruh ruangannya full komputer. Suasananya ramai. Sedikitnya ada 30 komputer berbagai ukuran. Masing-masing komputer ada seorang operatornya. Cuma sayang, ruangan yang super dingin itu tidak sesteril, seperti selogan yang dituliskan. Buktinya, di samping meja komputer, ada beberapa makanan. Mulai makanan kecil, sampai piring bekas makan mie. Tragisnya, ruangan ber suhu super dingin itu terdapat beberapa asbak ukuran 1 meter. Sangat kontradiksi, memang.

STRES

Melihat ini semua, pak Dis bertanya-tanya. ”Kenapa masih ada rokok dan bekas makanan di ruangan ini? Katanya steril,” ucap pak Dis serius. Kulihat, leki-laki yang mengaku supervisor itu gelagapan. ”Oh, iya pak. Rokok itu untuk menghilangkan stres saja. Kalau tidak, temen-teman tidak bisa konsentrasi dalam memantau jalur-jalu penerbangan,” jawab lelaki itu sekenanya. ”Oh, gitu ya. Kalau stres ya gak usah bekerja saja. Cukup di rumah. Di sini kan butuh orang sehat. Bukan untuk orang stres,” jawab pak Dis tak mau kalah. Melihat jawaban itu, lelaki tadi tersenyum kecut. ”Iya, pak. Siap,” jawabnya dengan wajah pucat. ”Tolong ya, pak. yang stres diistirahatkan saja,” tambah pak Dis. Setelah itu, pak Dis minta penjelasan tentang komputer raksasa yang baru saja didatangkan oleh kementeriannya. Setelah itu, pak Dis berkeliling dan melihat sekeliling. Begitu melihat ada piring makan, sendok, mangkuk dan beberapa bekas pembungkus mie, pak Dis berucap lagi. ”Lebih komplit disini, dibuka kantin atau resto ya,” ucapnya sinis. Sindiran ini ternyata direspon positif. Buktinya, beberapa lelaki yang sebelumnya mengikuti langkah kita, buru-buru menugasi kawannya membersihkan bekas makanan, piring atau apa saja yang ada di meja sekitar komputer. Akupun hanya senyum-senyum melihat karyawan di bagian komputer itu kelabakan.

KONSER

Puas berkeliling, pak Dis minta ditunjukkan tower tempat mesin ATC berada. SEsuai namanya, Tower ini merupakan bagian tertinggi yang ada di bandara Soeta. Tower inilah tempat paling vital dari setiap bandara. Karena di tempat inilah komunikasi antara petugas dengan pilot pesawat untuk minta ijin landing atau take off pesawat. Sial. Meskipun tempat ini bisa dikatakan jantungnya bandara, tidak seperti yang digambarkan. Super sterilnya tidak tampak. Putung rokok juga masih ada di beberapa tempat. Bahkan, sebuah asbak tinggi, juga disiapkan. Pak menteri, kembali kecewa. Peralatan serba canggih dan super mahal, tidak diimbangi dengan atitu operatornya. Ketka ditanya mengapa masih ada putung dan asbak, petugas tadi berkata lugu.

”Biasanya kalau teman-teman panik, pelampiasannya memukul-mukul berbagai alat yang ada untuk pelampiasan kegalauan sambil menyanyi-nyanyi, pak. Apalagi jika cuacanya buruk seperti akhir-akhir ini,” ujar petugas yang bertanggung jawab di bagian tower. Pak Dis pun mendengar dengan serius jawaban petugas tersebut. ”Oh begitu. Bagus, bagus,” jawab menteri kelahiran Takeran sambil mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak, pak Dis minta penjelasan secara rinci, bagaimana dan apa keluhan yang dirasakan karyawan di bagian tower itu. Puas, pak Dis mengajak beberapa supervisor turun. Di sebuah ruangan kecil, pak Dis mengatakan, bahwa semua keluhan akan ditindak lanjuti. Utamanya, masalah stres dan menabuh bunyi-bunyian di bagian tower sebagai pelampiasan kegalauan karyawan.

”Ita, tolong, bapak-bapak ini anda beri penjelasan, bagaimana kinerja kita di Jawa Pos dulu. Bila perlu, besok, yang dibagian tower dibuatkan orkestra untuk konser musik. Anda kan mantan wartawan musik toh, jadi gampang untuk mengatur mereka,” kata pak Dis kepadaku. Mendengar ucapan pak Dis kepadaku, beberapa supervisor tadi hanya menganggukkan kepala.

Jelas sekali, jika pak Dis kecewa. Jelas, bila pak menteri gundah.

DOSEN

Sampai akhirnya, akupun angkat bicara. Pada saat pak menteri mengenakan sepatu, akupun memberi pencerahan. Seperti seorang guru, akupun mengisahkan bagaimana sterilnya ruangan redaksi Jawa Pos. BApak-bapak, kataku memulai ”ceramah” kecil”. Di Jawa Pos, peralatannya juga canggih karena ada alat cetak jarah jauh dan lain sebagainya yangberkaitan dengan satelit. Untuk menjaga itu semua, bukan berarti karyawan yang merokok tidak boleh merokok. Boleh. Asalkan di luar ruangan. Begitu juga dengan makan. Semuanya boleh dilakukan. Karena merupakan kebutuhan utama manusia. Namun, semuanya itu harus dilakukan pada tempatnya. Untuk merokok, haruslah di luar ruangan. Di dalam ruang redaksi, harus steril. Jadi, kataku lebih lanjut, tolong, di sediakan ruangan merokok bagi yang merokok. Sehingga, selain ruangan ber AC jadi segar dan bersih, peralatan super canggih yang dibelikan dengan uang rakyat bisa diperlihara dengan aman. Melihat aku berceramah seperti dosen di depan mahasiswa, pak Dis menahan senyum sambil pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya. Oalah….rek….rek. Dadi opo aku iki. Setelah itu, kamipun pamitan pulang. Di tengah perjalanan menuju mobil, kulihat ada seorang pejabat yang buru-buru hendak menemui kami. ”Mana pak menteri Dahlan,” tanyanya kepadaku. Akupun segera menunjukkan dengan tanganku ke arah belakang. Kulihat pak Dis sibuk menelpon di temani tiga orang supervisor yang tadi kukuliahi. Sayup-sayup, ku dengar, pejabat yang berlari-lari itu meminta maaf pada pak Dis karena keterlambatannya itu. ”Maaf pak. Tadi saya ada di tempat lain,” ucapnya memberi alasan. Akupun berlari menuju toilet karena dinginnya ruangan ”steril” tersebut.

(bandara Soeta medio februari 2012)

Edited

Sedang membaca komentar2nya yang mencapai 300 lebih. Banyak diantaranya adalah pekerja ATC. Sekalian aja dicopas di sini supaya ada pemberitaan yang berimbang.

Maheru Hendrawan Sebelumnya terima kasih kepada Bpk DIS, kpd team Penulis dan Para Pembaca setanah Air yang terkasih, karena telah membantu memperbaiki Dunia kami sbg ATC.

Judul Sidak ATC.
Kepada Penulis Catatan Dahlan Iskan Yth :
Ini tentang Penerbangan apa tentang kebersihan ?
Mungkin alangkah baiknya banyak dikupas tentang dunia ATCnya, bukan sekedar rokok dan bungkus indomienya.
Kalo cara penulisannya seperti ini, maka seluruh Pembaca hanya melihat sisi buruk dari apa yang ditulis.
Kamera dan Audio Recorder terbatas, pikiran Penulispun terbatas, hanya dari 1 sudut pandang.
Menurut saya tulisan spt ini hanya menumbuhkan kebencian pada para Pembaca.
Saya seorang ATC, bukan di SuTa, tp di bandara lain.
Saya aja yang sesama ATC misal didudukkan di Su-Ta, ga usah 1 jam, 15 menit aja, belum tentu saya bisa handle traffic, karena beban kerja memang sangat berat.
Sekedar info aja, salah satu profesi dgn tingkat stress tertinggi adalah ATC.
Dan beban kerja ATC Su-Ta terhadap traffic IFR secara individual paling tinggi di dunia, karena telah mengalahkan Beban kerja ATC USA.
Alangkah baiknya Para Penulis catatan dahlan iskan lebih berimbang dalam menulis dan Pembaca lebih bijaksana dalam menanggapi tulisan2 spt ini.
Semoga Penerbangan Indonesia semakin baik.
Salam

Imam Syaff ATC…….

banyak yang pengin istirahat sebentar saja nggak sempat.
apakah tahu bahwa di INDINESIA negei tercinta ini kekurangan tenaga ATC hampir dua kali lipat jumlah yang ada saat ini
monggo orang mau menggantikan jadi ATC silakan masuk jadi ATC, out sourcing atau apalah istilahnya
Istilah kentut aja nggak smpat itudari mbak deasy adalah metamorfora
Setiap atc harus menanggung beban kerja tiga kali lipat dari yang seharusnya
Penambahan jumlah ATC,
tanyakan saja mungkin ke yang berkompeten kenapa kok gak di tambah tambah……
Coba tanyakan saja berapa lama untuk membuat seorang ATC sehingga qualified pegang mike di Soeta

STRESS…

Coba bayangkan berangkat atau pulang dari kanto jika bekerja di Jakarta, stres atau tidak jika harus menghadapi kemacetan selama beberapa jam, bagi para jurnalis, stress atau nggak klo harus mengejar dead line

demikian pula ATC, ketika harus menanggung beban kerja yang besarnya dua atau tiga kali lipat dari beban yang seharusnya di tanggung yaitu dengan jumlah pesawat yang harus diatur di wilayah tanggung jawabnyadengan peralatan yang (maaf) banyak yang jadul dibandingkan dengan negara lain, stres yang dialami rekan rekan ATC saat bekerja harus segera dilepaskan agar tetap bisa bekerja

semoga sedikit bisa berguna apa yang saya tulis


Arie Harsa memang hrs diakui ada sisi baiknya pak dis melakukan sidak,apalg ini soal kebersihan,sy sgt setuju dgn kebersihan. yg jd mslh adalah tulisan ini sendiri yg sepertinya hanya menonjolkan sisi buruknya saja dari ATC,juga bbrp komentar negatif rekan2 diatas yg berkomentar sangat tendensius hanya krn membaca tulisan ini saja.


sy mau mambagi bbrp pengalaman sy selama bertugas sbg ATC,bukan utk menyombongkan diri,tp semata2 hanya ingin memberi tahu kpd rekan2 disini sedikit mengenai apa yg telah kami lakukan utk org lain. semua hal pasti ada sisi baik buruknya,nah kali ini sy mau membagi cerita baiknya,biar adil 🙂

sy pernah bertugas di bandara pattimura ambon,anda semua tau ambon pernah bergolak krn kerusuhan rasial. pada saat itulah cobaan tanggung jawab kami diuji,kami dituntut utk tetap melayani keselamatan penerbangan meskipun keselamatan jiwa kami sendiri taruhannya. bahkan menginap di kantor krn tdk bisa pulang kermh adalah hal yg biasa waktu itu,masak,makan,tidur,dikantor,sudah biasa,demi tetap melayani penerbangan yg akan take off/landing di ambon. bahkan pernah suatu ketika sy pulang dari berdinas,ditengah jalan sy dicegat sekelompok org yg membawa parang panjang, diswiping, ditanyain ini itu dll…tp Tuhan masih melindungi sy.

anda pun tau gunung merapi meletus bbrp saat lalu,tahukah anda bahwa dampak dari letusan itu terimbas pada kami juga? saat itu sy sudah berdinas di bandara hasanuddin makassar sampai skrg. ratusan bahkan ribuan penerbangan yg seblmnya menggunakan rute normal melintasi pulau jawa menjadi beralih memasuki kawasan udara wilayah pengawasan makassar (wil ind timur) krn menghindari abu merapi,yang menjadikan kepadatan wilayah udara ini menjadi berkali2 lipat besarnya,sangat super sibuk sekali,berhari2,berminggu2. dan tahukah anda dalam keadaan spt itu tidak ada insiden yang terjadi? semua penerbangan aman selamat sampai tujuan krn kami selalu lakukan tugas kami dgn sebaik2nya sesuai prosedur ilmu ATC yang kami dapat. dan bukan penerbangan domestik saja yg kami layani,penerbangan lintas benua pun yg tadinya tdk melintas wilayah makassar jdnya jg memasuki wilayah udara makassar krn menghindar dari abu merapi.

tahukah anda bahwa tenaga ATC di indonesia masih sangat kurang? dalam keadaan minim personil spt skrg ini,pengendalian penerbangan toh tetap berjalan. mslh kekurangan personil tiap shift yg menjadikan beban kerja kami bertambah besar,bbrp dari kami tidak ada hari libur,bahkan kadang dalam sehari bisa berdinas 2x,pagi dan malam,atau pagi dan siang.

tahukah anda bahwa peralatan penunjang pekerjaan kami ini sudah tua2? kami bekerja dgn peralatan yg seharusnya sudah diperbarui. ratusan penerbangan kami layani bahkan dengan keadaan radio komunikasi yg kualitasnya kurang baik,bahasa rusianya “kemresek”,bahkan kadang ada bocoran frekwensi lain yg masuk ke frekwensi kami,lagu dangdutlah…org ngobrol lah… ya begitulah keadaannya,disaat kami ingin bertugas secara maksimal,tp kondisi peralatannya tdk maksimal.

bbrp hal2 ini lah yg membuat kami stress dlam bertugas. kami selalu dituntut PERFECT, ZERO ACCIDENT, namun penunjang pekerjaan kami tdk diperlakukan sama.

Apakah sudah sedemikian membudayanya di indonesia utk membicarakan kejelakan org lain? mengenali sesuatu krn keburukannya bukan krn prestasinya?. mohon kpd rekan2 disini,jgn asal berkomentar sebelum pengetahuan datang kpd anda,berpikirlah secara obyektif dan adil,carilah informasi seblm berkomentar apalgi yg negatif. tidak ada gunanya anda berkomentar miring thd ATC krn belum tentu anda lebih baik dari kami dan bisa melaksanakan tugas kami meskipun anda berpengatahuan ilmu ATC,krn tidak semua org bisa duduk di kursi panas menghadapi serangan traffic penerbangan yg jumlahnya ratusan sampai ribuan dalam sehari. mari budayakan saling menghargai satu sama lain,krn apa yg kita dgr blm tentu sama dgn apa yg kita lihat dan dapatkan. malulah kpd umur anda, lebih bijaklah dalam bertutur kata, berpikirlah dulu sblm berbuat

perlu sy tegaskan bahwa tulisan sy ini bukan mau sewot dgn sidak yg pak Dis lakukan,tp lebih kpd menanggapi komentar2 negatif di forum ini mengenai profesi ATC. saya sgt mencintai profesi ini,dan bagi saya adalah ladang pahala di profesi ini krn berkaitan dgn keselamatan jiwa manusia,setiap hari saya menolong ratusan manusia yg tidak saya kenal, terbang melakukan perjalanan melintas diatas laut dan samudra yg maha luas,dari pulau ke pulau,dari benua satu ke benua lain. saya tidak mengenal mereka,tp dgn sangat senang hati saya menolong mereka. saya bangga menjd seorang petugas ATC,meskipun sebagian dari anda melihat dgn sebelah mata saja

Advertisements

65 thoughts on “Kondisi ruangan dan kelakuan pegawai ATC

  1. HIDUP ATC…
    Saya berharap masih ada kesempatan di umur saya yg sudah 25 tahun ini untuk menjadi seorang ATC seperti om saya yg kini sudah menjadi Dirut di Airnav, Semoga ATC Indonesia banyak pahalanya ya 😀

  2. Memberi komentar lebih mudah dari menjalankannya. Makan di luar ruangan, merokok di area merokok, dan sebagainya. Kalau dilihat dari beban kerja para petugas ATC yang membayangkannya saja sudah membuat saya geleng-geleng kepala karena saya sudah menjamin saya pasti sangat stress bekerja dengan beban kerja seperti itu,, dimana setiap kata saja dalam instruksi yang saya berikan adalah penentu keselamatan nyawa ratusan orang. Lihatlah akar permasalahannya. Jumlah ptugas yg kurang, jadwal kerja yang sangat padat sampai2 bisa 2x shift dalam sehari, sehingga pekerjaan mereka sangat melelahkan, menjenuhkan, penuh tekanan, dan akhirnya yang menyebabkan kebersihan ruangan tidak terjaga. itu salah siapa? Apakah salah petugas ATC nya?

  3. Betul se x petugas atc sangat berat tugas dan tangungjwb nya tdk sembarangan. Masa mandu lalulintas di tingal ngerokok di ruang rokok, lah pesawat nya sapa yg control, kdng orang jenuh rokok kdang jdi solusi ketenangan bgi yg ngerokok. Sya salut dgn pekerjaan satu itu ATC krn menyelamatkan ribuan bahkan jutaan manusia. Tau atc ada nilai kemanusiaan nya saya dulu masuk ATC hehe tpi allah berkehendak lain saya akhir nya menjadi pendidik alias oemar bakri. tpi jujur saya sangat bangga melihat petugas atc.ATC go Head…..

  4. Baca komen2nya yang udah mencapai 356 per hari satu jam yang lalu (29 Mei 2012 22:22 waktu nDuluth), ada yang protes,

    Dheny Purwo: Sodara2 saya ATC d seluruh Indonesia mohon tidak terprovokasi dengan tulisan beserta komen di atas, mereka sesungguhnya tidak tahu pada saat rekan2 berkeringat di ruangan ber AC karena harus mengatur jarak aman ratusan pesawat ketika para penumpang pesawat tertidur nyenyak, mereka juga tidak tahu jam makan yg tidak teratur demi manjamin keselamatan pesawat yang take off dan landing sebanyak lebih dari 60 pergerakan dalam satu jam, mereka juga tidak tahu saat rekan2 tersenyum bangga cuma karena mendapat ucapan terimakasih dari pilot meskipun hanya lewat radio komunikasi..

    Sodaraku, tugas kita lebih mulia dari pada ngurusin komen dari orang yang belum paham dengan profesi ini..Kita tidak perlu dikenal kalau hanya untuk sebuah pujian.. Keselamatan manusia di udara lebih penting dan sangat bergantung kepada rekan2, sekali lagi jangan mengurangi semangat cuma gara2 komen dan tulisan d atas..

    Biarlah Allah yang menilai..Bravo ATC Indonesia..

    Deasy Indrakusuma: Kl ATCnya diistirahatkan,lhaa yg ngontrol pesawatnya siapa pak??? Msh mending pelarian stressnya cm ke rokok,kl (maaf) main cewek..ya kasian anak istrinya lah pak..dimaklumi saja utk hal2 spt itu pak,yg penting kan fungsi dan tanggungjwbnya sbg ATC bs dia laksanakan dgn baik..kejadian sukhoi ini teguran keras buat pemerintah utk berttindak cepat dlm membenahi infrastruktur penerbangan di endonesah yg sdh sangat usang..apa musti nunggu kejadian yg sama terulang lg baru bertindak..bnr2 gak bs belajar dr pengalaman..hadeeeeh

    Dijawab salah satu komentator
    Ratih Indrati: heran deh.. wong disidak kok jadi sewot gitu.. itu kan utk perbaikan ke depannya.. setiap pekerjaan ada resikonya.. kalo ndak mau stress ya jgn bekerja.. coba deh kerja dipabrik, apalagi yg pabrik swasta yg ketat, yg salah sedikit bisa dipecat.. coba saja kerja jd buruh outsourcing…. aturan dibuat kan utk ditaati, jgn dilanggar.. coba pikir yg kerja di UGD RS, apa itu jg ndak stress.. apalagi kalo sdh menyangkut nyawa manusia.. coba kerja deh di bagian chemical, yg salah sedikit campuran kimianya bisa meledak.. coba kerja dibagian pengeboran, kalo salah bisa jadi kayak lumpur lapindo itu yg menyengsarakan orang banyak.. orang kok mengeluh terus.. jadi pegawai negeri mah enak, tdk sembarang bisa dipecat.. mbok mikir bersyukur.. mintanya diberi hak terus tp kewajiban ndak dilaksanakan..

    Deasy Indrakusuma: ‎@mbak Ratih Indrati..kayaknya mbak musti ngerasain jd ATC dl deh br kasih komentar…(maaf) kentut aja gak sempet mba kl traffic lg sibuk..bisa bayangin kan gmn sibuk dan beratnya beban kerja ATC..

    Ratih Indrati ‎@mbak Deasy: lha kalo emang sampe kentut aja nggak bisa, lha ngapain kerja disitu.. keluar aja.. cari kerja yg enak.. jgn beban kerjaan jd alasan.. wong kerja itu pilihan kok.. kalo ada pilihan yg enak, ngapain cari yg nggak enak.. cari alasan mah memang mudah.. itu menandakan orang yg nggak profesional.. trading aja kayak saya, kentut sembarangan, dpt duit banyak…

  5. eddyjp said: petugas ATC harus ditambah, kurang entah karena kurang peminat ATAU jangan jangan rekruitmentnya dipersulit supaya eksklusif *ciri khas orang Indo* :((

    Nah tuh kan, sikap apatisnya muncul.Sepertinya untuk jadi petugas ATC enggak gampang, itu kalau aku baca dari komentar2nya. Butuh waktu tahunan katanya.

  6. eddyjp said: Via, daku sebenarnya agak heran pak Dis ini dielu elukan selama ini yah dengan hobi sidak sana sini, menurut daku itu adalah sesuatu yang “sangat biasa” dan sangat normal, apakah mungkin karena ini tak pernah dilakukan oleh petinggi lainnya, jadi keliatannya luar biasa :))

    memang betul Ed, ini suatu hal yang biasa dan wajib dilakukan oleh pejabat negara. Jarang sekali pejabat kayak gini makanya banyak yang mengelu elukan, tapi banyak juga yang apatis dan curiga ada apa di balik ini. Seperti cari muka, pencitraan dan cap cap negatif lainnya.Bagiku, yang penting ada tindakan gak cuma omong doang. Dan sebaiknya diikuti dengan langkah langkah kongkrit untuk menyelesaikan masalah. Contohnya mengenai ATC ini, aku baca di Tempo bahwa ATC akan berdiri sendiri dan langsung berada di bawah Kementrian Perhubungan. Tuh kan.

  7. enkoos said: dan suka membulet mbuletkan birokrasi

    petugas ATC harus ditambah, kurang entah karena kurang peminat ATAU jangan jangan rekruitmentnya dipersulit supaya eksklusif *ciri khas orang Indo* :((

  8. enkoos said: dan suka membulet mbuletkan birokrasi

    Via, daku sebenarnya agak heran pak Dis ini dielu elukan selama ini yah dengan hobi sidak sana sini, menurut daku itu adalah sesuatu yang “sangat biasa” dan sangat normal, apakah mungkin karena ini tak pernah dilakukan oleh petinggi lainnya, jadi keliatannya luar biasa :))

  9. enkoos said: dan suka membulet mbuletkan birokrasi

    Catatan tambahan yang bikin saya salut akan pak Dahlan Iskan.dicopas mentah2 tanpa diedit, mau pencitraan atau bukan, yang penting ada tindakan dan gak omdo. Siti Ita Nasyi’ah:Komitmen pengabdiannya pada tugas sudah ditunjukkan dengan cara tidak mengambil gajim tunjungan dan semua fasilitas sebagai Dirut PLN selama 20 bulan. Sampai skrbpun Abah Dsi tidak tahu, berapa gaji dan tunjngan yang berhak diterima karena disimpan di rekening bank yang dipegang salah satu teman PLN. Semua itu dilakukan sebagai bentuk terima kasih pada ALLAH kaerna telah memberi hidup untuk kali yang kedua, setelah sukses ganti hati di tahun 2007 lalu.**************************************************************************************************Masya Allah….. akhirnya ada juga pjabat yg mencerahkn hati :)he is man of this year ya mba !saya sayang sama abah dis dibanding semua para tukang omdo….mudah2an beliau selalu sehat dan dilindungi Allah SWT. Amin.

  10. enkoos said: dan suka membulet mbuletkan birokrasi

    mbak, ini lho masih suka bikin gemes, apalagi jika pegawai tsb ditempatkan di bagian pelayanan, berhubungan langsung dengan masyarakatpepatah yg bilang kalau bisa dibikin sulit, kenapa dimudahkan ? itu bener bangetkita malah surprise kan kalau dapet pelayanan cepet dan gampang ….hihihi, karena sudah sangat terbiasa mendapatkan pelayanan yg mbulet :))

  11. miapiyik said: Sebetulnya gak kaget, pegawai pemerintah mana ada yang kerjanya bener? Bisanya korupsi, curhat geje, tilep sana sini gak ada dedikasinya, wis sing elek elek nemplok di pegawai negeri. Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. Tapi tetep aja, geram ngelihat kelakuan para pegawai yang kelakuannya menggampangkan nyawa ratusan manusia. Ruangan steril diperlakukan seperti warung. Ngerokok seenak jidat di ruangan berAC. ———————————————————–Serius aku sedih baca kalimat mba Evia yang iniSuamiku Pegawai pemerintah, jadi guruAyah Ibuku juga, ngobatin yg sakit, tapi mereka bekerja sebaik mereka bisaBahkan bapak Ibu kadang ngga dibayar jika ada pasien, sampai hari ini

    waktu makkhansa masih ngantor di graha pena surabaya, beberapa kali ketemu dengan pak dis, orangnya benar-benar sederhana. dan kantor graha pena sby memang bener2 kinclong, rapi dan bersih. 🙂

  12. miapiyik said: Sebetulnya gak kaget, pegawai pemerintah mana ada yang kerjanya bener? Bisanya korupsi, curhat geje, tilep sana sini gak ada dedikasinya, wis sing elek elek nemplok di pegawai negeri. Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. Tapi tetep aja, geram ngelihat kelakuan para pegawai yang kelakuannya menggampangkan nyawa ratusan manusia. Ruangan steril diperlakukan seperti warung. Ngerokok seenak jidat di ruangan berAC. ———————————————————–Serius aku sedih baca kalimat mba Evia yang iniSuamiku Pegawai pemerintah, jadi guruAyah Ibuku juga, ngobatin yg sakit, tapi mereka bekerja sebaik mereka bisaBahkan bapak Ibu kadang ngga dibayar jika ada pasien, sampai hari ini

    Aku makin minder aja jadi PNS, mudah2an g termasuk pns pemalas, geje, tilpun kiri kanan, tkg korupsi dan tkg tilep uang rakyat.. 🙂

  13. miapiyik said: Sebetulnya gak kaget, pegawai pemerintah mana ada yang kerjanya bener? Bisanya korupsi, curhat geje, tilep sana sini gak ada dedikasinya, wis sing elek elek nemplok di pegawai negeri. Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. Tapi tetep aja, geram ngelihat kelakuan para pegawai yang kelakuannya menggampangkan nyawa ratusan manusia. Ruangan steril diperlakukan seperti warung. Ngerokok seenak jidat di ruangan berAC. ———————————————————–Serius aku sedih baca kalimat mba Evia yang iniSuamiku Pegawai pemerintah, jadi guruAyah Ibuku juga, ngobatin yg sakit, tapi mereka bekerja sebaik mereka bisaBahkan bapak Ibu kadang ngga dibayar jika ada pasien, sampai hari ini

    Email itu udah saya baca beberapa minggu yang lalu, bikin sesak aja. Masalah itu sudah pernah juga dibahas di tempo.http://www.tempo.co/read/news/2012/05/21/173405003/Centang-perenang-Menara-Pengawas-Pesawat-ATC.

  14. miapiyik said: Sebetulnya gak kaget, pegawai pemerintah mana ada yang kerjanya bener? Bisanya korupsi, curhat geje, tilep sana sini gak ada dedikasinya, wis sing elek elek nemplok di pegawai negeri. Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. Tapi tetep aja, geram ngelihat kelakuan para pegawai yang kelakuannya menggampangkan nyawa ratusan manusia. Ruangan steril diperlakukan seperti warung. Ngerokok seenak jidat di ruangan berAC. ———————————————————–Serius aku sedih baca kalimat mba Evia yang iniSuamiku Pegawai pemerintah, jadi guruAyah Ibuku juga, ngobatin yg sakit, tapi mereka bekerja sebaik mereka bisaBahkan bapak Ibu kadang ngga dibayar jika ada pasien, sampai hari ini

    bwekekekek jawaban komentator yang ATC isinya cuman soal apa yang udah mereka kerjakan…dan sambat….oalaaaahhhh..*tepok jidat*

  15. miapiyik said: Sebetulnya gak kaget, pegawai pemerintah mana ada yang kerjanya bener? Bisanya korupsi, curhat geje, tilep sana sini gak ada dedikasinya, wis sing elek elek nemplok di pegawai negeri. Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. Tapi tetep aja, geram ngelihat kelakuan para pegawai yang kelakuannya menggampangkan nyawa ratusan manusia. Ruangan steril diperlakukan seperti warung. Ngerokok seenak jidat di ruangan berAC. ———————————————————–Serius aku sedih baca kalimat mba Evia yang iniSuamiku Pegawai pemerintah, jadi guruAyah Ibuku juga, ngobatin yg sakit, tapi mereka bekerja sebaik mereka bisaBahkan bapak Ibu kadang ngga dibayar jika ada pasien, sampai hari ini

    dan yang biasanya terjadi lebih sering pada jalur BUMN-PNS dan yang berhubungan dengan birokrat..

  16. miapiyik said: Sebetulnya gak kaget, pegawai pemerintah mana ada yang kerjanya bener? Bisanya korupsi, curhat geje, tilep sana sini gak ada dedikasinya, wis sing elek elek nemplok di pegawai negeri. Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. Tapi tetep aja, geram ngelihat kelakuan para pegawai yang kelakuannya menggampangkan nyawa ratusan manusia. Ruangan steril diperlakukan seperti warung. Ngerokok seenak jidat di ruangan berAC. ———————————————————–Serius aku sedih baca kalimat mba Evia yang iniSuamiku Pegawai pemerintah, jadi guruAyah Ibuku juga, ngobatin yg sakit, tapi mereka bekerja sebaik mereka bisaBahkan bapak Ibu kadang ngga dibayar jika ada pasien, sampai hari ini

    Sidak tersebut membuahkan hasil, seperti yang dimuat di koran Tempohttp://www.tempo.co/read/news/2012/05/27/090406418/Dahlan–ATC-Satu-Atap-Akan-Sejahterakan-KaryawanATC Satu Atap Akan Sejahterakan KaryawanTEMPO.CO, Jakarta – Dahlan Iskan mengatakan sistem pengawasan udara segera berbentuk Badan Usaha Milik Negara dalam satu atap. Salah satu alasan Menteri BUMN atas wacana itu adalah kesejahteraan para karyawan air traffic controller (ATC).”Gaji operator ATC harus setara pilot, tak mungkin kecil,” ujarnya seusai meluncurkan novel ”Sepatu Dahlan” di Bundaran HI, Jakarta, Ahad, 27 Mei 2012. Bila sejahtera tuturnya, pelayanan dan tanggung jawab akan semakin berkualitas.Dengan bentuk usaha BUMN, ada keterjaminan suntikan dana dari negara. Pengelolaan lalu lintas negara disebut Dahlan perlu keseriusan dan investasi yang besar.Sebelumnya Dahlan mengatakan akan membentuk BUMN baru berbentuk perusahaan umum (Perum) untuk menangani air traffic system (ATS) di Indonesia. Nantinya BUMN ini akan mengontrol seluruhnya lalu lintas udara di seluruh Indonesia. Saat ini kata Dahlan masih terjadi dualisme dalam pengaturan lalu lintas udara Nusantara.Tugas perum nirlaba itu adalah sinkronisasi sistem air traffic control di seluruh Indonesia. “Agar kita berdaulat penuh di wilayah udara Indonesia,” ujarnya.Dahlan optimistis pembentukan perum ini efektif menyelesaikan masalah peralatan, kemampuan tower, serta masalah psikologis pegawai ATC akibat gaji yang sebelumnya dirasa tak sesuai. Setelah terbentuk, Dahlan menyerahkan perihal kinerja menara pengawas udara satu atap itu kepada Kementerian Perhubungan. “Kami tak akan ikut campur. Aturannya nanti oleh Kemenhub,” ujar Dahlan tergesa meninggalkan kerubungan wartawan.

  17. miapiyik said: Sebetulnya gak kaget, pegawai pemerintah mana ada yang kerjanya bener? Bisanya korupsi, curhat geje, tilep sana sini gak ada dedikasinya, wis sing elek elek nemplok di pegawai negeri. Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. Tapi tetep aja, geram ngelihat kelakuan para pegawai yang kelakuannya menggampangkan nyawa ratusan manusia. Ruangan steril diperlakukan seperti warung. Ngerokok seenak jidat di ruangan berAC. ———————————————————–Serius aku sedih baca kalimat mba Evia yang iniSuamiku Pegawai pemerintah, jadi guruAyah Ibuku juga, ngobatin yg sakit, tapi mereka bekerja sebaik mereka bisaBahkan bapak Ibu kadang ngga dibayar jika ada pasien, sampai hari ini

    Iya pak dis, wartawan 68 h yg kriwil mbok ya diajak… 😀 *ngilang

  18. miapiyik said: Sebetulnya gak kaget, pegawai pemerintah mana ada yang kerjanya bener? Bisanya korupsi, curhat geje, tilep sana sini gak ada dedikasinya, wis sing elek elek nemplok di pegawai negeri. Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. Tapi tetep aja, geram ngelihat kelakuan para pegawai yang kelakuannya menggampangkan nyawa ratusan manusia. Ruangan steril diperlakukan seperti warung. Ngerokok seenak jidat di ruangan berAC. ———————————————————–Serius aku sedih baca kalimat mba Evia yang iniSuamiku Pegawai pemerintah, jadi guruAyah Ibuku juga, ngobatin yg sakit, tapi mereka bekerja sebaik mereka bisaBahkan bapak Ibu kadang ngga dibayar jika ada pasien, sampai hari ini

    tarik nafas aja deh….

  19. miapiyik said: Sebetulnya gak kaget, pegawai pemerintah mana ada yang kerjanya bener? Bisanya korupsi, curhat geje, tilep sana sini gak ada dedikasinya, wis sing elek elek nemplok di pegawai negeri. Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. Tapi tetep aja, geram ngelihat kelakuan para pegawai yang kelakuannya menggampangkan nyawa ratusan manusia. Ruangan steril diperlakukan seperti warung. Ngerokok seenak jidat di ruangan berAC. ———————————————————–Serius aku sedih baca kalimat mba Evia yang iniSuamiku Pegawai pemerintah, jadi guruAyah Ibuku juga, ngobatin yg sakit, tapi mereka bekerja sebaik mereka bisaBahkan bapak Ibu kadang ngga dibayar jika ada pasien, sampai hari ini

    Yo iki kamsute setetes tinta hitam mengubah kolam yang jernih..

  20. miapiyik said: Sebetulnya gak kaget, pegawai pemerintah mana ada yang kerjanya bener? Bisanya korupsi, curhat geje, tilep sana sini gak ada dedikasinya, wis sing elek elek nemplok di pegawai negeri. Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. Tapi tetep aja, geram ngelihat kelakuan para pegawai yang kelakuannya menggampangkan nyawa ratusan manusia. Ruangan steril diperlakukan seperti warung. Ngerokok seenak jidat di ruangan berAC. ———————————————————–Serius aku sedih baca kalimat mba Evia yang iniSuamiku Pegawai pemerintah, jadi guruAyah Ibuku juga, ngobatin yg sakit, tapi mereka bekerja sebaik mereka bisaBahkan bapak Ibu kadang ngga dibayar jika ada pasien, sampai hari ini

    Mia, coba dicermati lagi tulisanku itu.gak semuanya bukan?ada kalimat ini ” Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. “Dan itu artinya, tidak semua bukan.Tambahan.Saya menulis kalimat2 di atas, bukan asal njeplak. Belasan tahun berkarir di Indonesia, di berbagai perusahaan swasta yang banyak bersinggungan dengan pemerintah, sebagian besar pegawai pemerintah yang saya temui memiliki mental pemalas, tukang tilep dan suka membulet mbuletkan birokrasi. Mau itu pegawai rendahan maupun pegawai tinggi sami mawon. Yang berdedikasi ada, tapi persentasenya gak sebanyak tipe pegawai yang songong dan seenak udelnya.

  21. enkoos said: Tidak bijak sepertinya jika merokok di jadikan alasan untuk menghilangkan stress. Dulu saya berfikiran juga demikian tetapi sekarang tidak hubunganya stress dgn merokok.

    Nandain dulu.. Geraaam

  22. enkoos said: Tidak bijak sepertinya jika merokok di jadikan alasan untuk menghilangkan stress. Dulu saya berfikiran juga demikian tetapi sekarang tidak hubunganya stress dgn merokok.

    Seru nih bacanya. Stres dan beban kerja jadi alasan buat pelanggaran aturan. Nggak heran negara ini makin hari makin semrawut..

  23. enkoos said: Tidak bijak sepertinya jika merokok di jadikan alasan untuk menghilangkan stress. Dulu saya berfikiran juga demikian tetapi sekarang tidak hubunganya stress dgn merokok.

    Sebetulnya gak kaget, pegawai pemerintah mana ada yang kerjanya bener? Bisanya korupsi, curhat geje, tilep sana sini gak ada dedikasinya, wis sing elek elek nemplok di pegawai negeri. Yang kerjanya bener bisa dihitung jari doang. Tapi tetep aja, geram ngelihat kelakuan para pegawai yang kelakuannya menggampangkan nyawa ratusan manusia. Ruangan steril diperlakukan seperti warung. Ngerokok seenak jidat di ruangan berAC. ———————————————————–Serius aku sedih baca kalimat mba Evia yang iniSuamiku Pegawai pemerintah, jadi guruAyah Ibuku juga, ngobatin yg sakit, tapi mereka bekerja sebaik mereka bisaBahkan bapak Ibu kadang ngga dibayar jika ada pasien, sampai hari ini

  24. enkoos said: Tidak bijak sepertinya jika merokok di jadikan alasan untuk menghilangkan stress. Dulu saya berfikiran juga demikian tetapi sekarang tidak hubunganya stress dgn merokok.

    Catatan tambahan yang bikin saya salut akan pak Dahlan Iskan.dicopas mentah2 tanpa diedit, mau pencitraan atau bukan, yang penting ada tindakan dan gak omdo. Siti Ita Nasyi’ah:Komitmen pengabdiannya pada tugas sudah ditunjukkan dengan cara tidak mengambil gajim tunjungan dan semua fasilitas sebagai Dirut PLN selama 20 bulan. Sampai skrbpun Abah Dsi tidak tahu, berapa gaji dan tunjngan yang berhak diterima karena disimpan di rekening bank yang dipegang salah satu teman PLN. Semua itu dilakukan sebagai bentuk terima kasih pada ALLAH kaerna telah memberi hidup untuk kali yang kedua, setelah sukses ganti hati di tahun 2007 lalu.

  25. enkoos said: Tidak bijak sepertinya jika merokok di jadikan alasan untuk menghilangkan stress. Dulu saya berfikiran juga demikian tetapi sekarang tidak hubunganya stress dgn merokok.

    Semua kerjaan pasti membawa stress.. Tinggal kita saja yg tahu diri kl stress mau ngapai tentunya melakukan hal yg tidak merugikan yg lain..Apa merek gak tahu asap rokok lebih parah dari debu bila mengenai alat elektronik.. Apalagi diruang tertutup.Mengenai jawapos, memang ruangannya sangat steril, mus perna masuk di graha pena, mulai dari tempat redaksi sampai tempat mencetak.. SalutATC membuat stress, nah kalau gak siap stress ya jgn kerja. Apa gak lebih stress mereka yg kerja di pengeboran minyak ditengah laut, jau dari peradaban… Hehehe

  26. enkoos said: Tidak bijak sepertinya jika merokok di jadikan alasan untuk menghilangkan stress. Dulu saya berfikiran juga demikian tetapi sekarang tidak hubunganya stress dgn merokok.

    jadi ingat saya pengakuan seorang mahasiswi cakep yang berobat ke saya beberapa hari lalu, sudah satu tahun dia merokok mentol, datang dengan keluhan nyeri dada, saya tanya: masih merokok sekarang. jawabnya: ya sejak ada nyeri dada itu sudah engga dok…setres ya setres, tapi kok ya merokok, klo gitu entar klo saya setres pas operasi atau sedang dinas di ugd, saya bisa ambil morfin di apotek deh… gratis malah…

  27. anotherorion said: panjangeeeeeh

    Dan akhirnya, penulisnya muncul dan memberi komentar setelah sekian ratus komentar.Siti Ita Nasyi’ah ‎@All: wow….. luar biasa komen disini. Matur nuwun tanggapannya. Benar-benar hidup ya di grup ini. Sebagai jurnalis, bad news is a good news adalah salah satu falsafah. Dari yang bad itulah ada kebaikan. Kebaikan tidak bisa muncul, tanpa merasakan yang bad. Begitu juga dengan didikan Abah Dis. Terlalu kerdil jika menyikapi posting ini dengan sikap kerdil juga. Justru karena tingginya stressing dan beratnya beban teman2 di Soeta itulah, pak menteri memiliki gagasan menyendirikan ATC menjadi satu bagian, satu lembaga tersendiri dan tidak dalam bagian-bagian PAP. Kongkritnya pak menteri ingin menjadikan mendari. Untuk jadi mandiri itulah harus selalu dikontrol karena tugas ATC super berat. Karena yagn super2 itulah, maka pak Dis berkata” jika stres ya jangan disini. Artinya, hilangkan setres dulu di luar, baru kembali bekerja. Seperti kita di JP, untuk menghilangkan setres, kita keluar ruangan redaksi. Ada yag nmenyalurkan hobby menyanyi dengan mengambil alat musik dan nyanyi rame-rame di ruangan khusus. Yang merokok, juga keluar ruangan u menghabiskan rokoknya. BEgitu pula yang pingin makan, keluar ruangan makan dan menghabiskan makanannya sampai sekenyang-kenyangnya. Setelah itu,setres itu hilang, baru kembali ke depan komputer dan bekerja. Jika sudah demikian, saya yakin, konsentrasi kembali kembali utuh. Pekerjaan juga maksimal. Hasil lainnya, setiap ulang tahun Jawa Pos, muncul grup2 musik handal. Dari sini, lahir penulis lirik dan bahkan pemain sinetron atau film. Contohnya sudah ada. Bukti lain dari sikap tegas dan profesional pak Dis adalah JP berhasil menjadi media terbesar mengalahkan Surabaya Post hanya dalam waktu tidak sampai 5 th dari target 10 tahun. Ini bukti sebuah kesuksesan. Pak Dis hanya ingin, peralatan ATC atau apalah yang dibeli dari uang rakyat, bisa dimaksimalkan untuk kepentingan rakyat pula. Tidak ada yagn namanya penbitraan. Kalau pencitraan sudah pasti membawa wartawan. Terima kasih tanggapannya. Sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun, saya bisa mengambil kesimpulan, yagn pro dan kontra adalah sama-sama menginginkan perubahaan untuk negeri ini. Hanya saja, berbeda cara memandangnya. Matur nuwun semuanya. Ayo, kita bangun negeri ini dengan kemampuan masing-masing demi terciptanya negeri yang kita inginkan. Mohon maaf lahir batin..

  28. subhanallahu said: lebay…. mungkin langsung beol dia karena ga sempat kentut *ups

    iya lebay sangat. dikritik gak legowo.Ini ada yang komen dengan bijak, dari mantan perokok berat.Siswo Nugroho:menurut saya begini.segala macam pekerjaan pasti akan ada resiko, jika mau mengambil resiko itu maka harus siap dengan segala konsekuensinya tanpa ada alasan apapunDi ATC resikonya mungkin tekanan kerja serta tanggung jawab kerja tinggi. ya Itu adalah resiko yang harus ditanggung. Menjadi tentara, resikonya ya kalau terjun kedaerah konflik, nyawa taruhanya. Resiko lainya gajinya sedikit. Nah kalau siap menjadi tentara ya harus siap dengan resiko itu.Dan ketika sudah setuju akan resikonya. konsekuensinya tentu tidak mengeluh dan mau memperbaiki diri.Masalah rokok, saya mantan perokok berat. Dan Saya baru menyadari sebagian besar dari perokok itu suka buang abu rokok sembarangan.Dalam kasus ini saya tidak tau apakah abu rokok itu bisa berpengaruh terhadap perangkat ATC. Tapi seharusnya diruangan berAC tidak diperbolehkan merokok.Tidak bijak sepertinya jika merokok di jadikan alasan untuk menghilangkan stress. Dulu saya berfikiran juga demikian tetapi sekarang tidak hubunganya stress dgn merokok.Jadi saya fikir temen2 faham betapa tingginya tekanan kerja di ATC tetapi temen2 ATC juga harus legowo dan mau memperbaiki diri dengan tidak makan dan merokok di ruang kerja.Tingkat kedewasaan seseorang bisa dilihat dari reaksinya ketika di kritik/ditegur.

  29. enkoos said: silakan ngobrol ya teman, bingung saya mau meresponnya.hehehehehe…Sedang baca komentar2nya di sana.

    Lha….yang punya lapak juga bingung mau ngresponnya, aku ikutan baca aja wis, mbaké 🙂

  30. enkoos said: Sodara2 saya ATC d seluruh Indonesia mohon tidak terprovokasi dengan tulisan beserta komen di atas, mereka sesungguhnya tidak tahu pada saat rekan2 berkeringat di ruangan ber AC karena harus mengatur jarak aman ratusan pesawat ketika para penumpang pesawat tertidur nyenyak, mereka juga tidak tahu jam makan yg tidak teratur demi manjamin keselamatan pesawat yang take off dan landing sebanyak lebih dari 60 pergerakan dalam satu jam, mereka juga tidak tahu saat rekan2 tersenyum bangga cuma karena mendapat ucapan terimakasih dari pilot meskipun hanya lewat radio komunikasi..Sodaraku, tugas kita lebih mulia dari pada ngurusin komen dari orang yang belum paham dengan profesi ini..Kita tidak perlu dikenal kalau hanya untuk sebuah pujian.. Keselamatan manusia di udara lebih penting dan sangat bergantung kepada rekan2, sekali lagi jangan mengurangi semangat cuma gara2 komen dan tulisan d atas.. Biarlah Allah yang menilai..Bravo ATC Indonesia..

    kok kayak pernah dengar komentar seperti ini pas kasus STPDN dulu…

  31. rengganiez said: pak dis kenapa sih kalo sidak harus bawa wartawan? *kaburrrrrrrrrr*

    Mungkin yang vital2 seperti ini diswastakan saja. Setidaknya, kalo jadi pegawai swasta akan takut dipecat, jadi gak seenake udele dhewe. Saya pernah kerja ditrafic yang sangat tinggi. Tapi tetap saja, makanan, rokok, dll, ada tempatnya tersendiri. Semua rapih, bersih. Jadi kita pun belajar memenej emosi dengan baik.

  32. rengganiez said: pak dis kenapa sih kalo sidak harus bawa wartawan? *kaburrrrrrrrrr*

    Hmmm menakutkan juga yak? Antara takut petugasny meleng sm beban tiap petugasny yg katany 2kali lipat seharusny. Yg ak tangkep. Yg pro berpikiran ga mudah ngatur sistem yg memang udh amburadul. Yg kontra berpikiran lha suruh sapa mau kerja di sistem begitu. Namany udh tugas ya terima aja. Gitu yak?

  33. rengganiez said: pak dis kenapa sih kalo sidak harus bawa wartawan? *kaburrrrrrrrrr*

    Ya ampun, gak profesional. Orang pinter pda keblinger.Ntar puncaknya mgok kerja tuh mereka.Bner kata indri, pekerjaan itu pilihan.

  34. rengganiez said: pak dis kenapa sih kalo sidak harus bawa wartawan? *kaburrrrrrrrrr*

    katanya sering juga gak bawa wartawan kok.Lagian, mau bawa wartawan atau enggak, yang penting kinerjanya dong. Ketimbang ngomong doang, curhat geje sana sini gak ada tindakan.

  35. rawins said: aku bisa ngomong gini karena kerjaanku memang di belakang layar yang jarang dipuji manajemen saat sistem lancar dan produksi meningkat tapi seringkali dicaci maki hanya karena sebuah email nyangkut tidak terkirimkan. stres itu pasti. tapi bukan alasan untuk menyepelekan pekerjaan. kalo mumet dah ga ketahan yo mending minta cuti buat setor buntut ke rumah…

    Mantap ki komen’e.Stress kan sisi lain sebuah pekerjaan tho.

  36. fightforfreedom said: Si arieharsa (petugas ATC) malah jadi lebih sibuk membela diri dg kalimat2nya. Sepertinya alergi dg segala masukan.

    Ratih Indrati: heran deh.. wong disidak kok jadi sewot gitu.. itu kan utk perbaikan ke depannya.. setiap pekerjaan ada resikonya.. kalo ndak mau stress ya jgn bekerja.. coba deh kerja dipabrik, apalagi yg pabrik swasta yg ketat, yg salah sedikit bisa dipecat.. coba saja kerja jd buruh outsourcing…. aturan dibuat kan utk ditaati, jgn dilanggar.. coba pikir yg kerja di UGD RS, apa itu jg ndak stress.. apalagi kalo sdh menyangkut nyawa manusia.. coba kerja deh di bagian chemical, yg salah sedikit campuran kimianya bisa meledak.. coba kerja dibagian pengeboran, kalo salah bisa jadi kayak lumpur lapindo itu yg menyengsarakan orang banyak.. orang kok mengeluh terus.. jadi pegawai negeri mah enak, tdk sembarang bisa dipecat.. mbok mikir bersyukur.. mintanya diberi hak terus tp kewajiban ndak dilaksanakan..Deasy Indrakusuma: ‎@mbak Ratih Indrati..kayaknya mbak musti ngerasain jd ATC dl deh br kasih komentar…(maaf) kentut aja gak sempet mba kl traffic lg sibuk..bisa bayangin kan gmn sibuk dan beratnya beban kerja ATC..Ratih Indrati ‎@mbak Deasy: lha kalo emang sampe kentut aja nggak bisa, lha ngapain kerja disitu.. keluar aja.. cari kerja yg enak.. jgn beban kerjaan jd alasan.. wong kerja itu pilihan kok.. kalo ada pilihan yg enak, ngapain cari yg nggak enak.. cari alasan mah memang mudah.. itu menandakan orang yg nggak profesional.. trading aja kayak saya, kentut sembarangan, dpt duit banyak…hahaha suka deh sama ratih.. logis saja lah.. kalu ga mo stres ya jangan kerja.. cari kerja yang ga stres.. kerja itu butuh tanggung jawab, jangan mau enak dowang..

  37. enkoos said: mereka sesungguhnya tidak tahu pada saat rekan2 berkeringat di ruangan ber AC karena harus mengatur jarak aman ratusan pesawat ketika para penumpang pesawat tertidur nyenyak, mereka juga tidak tahu jam makan yg tidak teratur demi manjamin keselamatan pesawat yang take off dan landing sebanyak lebih dari 60 pergerakan dalam satu jam, mereka juga tidak tahu saat rekan2 tersenyum bangga cuma karena mendapat ucapan terimakasih dari pilot meskipun hanya lewat radio komunikasi..

    teramat banyak orang-orang yang sok narsis dan ingin dijadikan pahlawan seperti ini. mereka tak mau memahami bahwa cara menikmati kebanggaan sebagai pemain belakang layar itu berbeda dengan mereka yang didepan layar. sudah teramat jamak seorang sutradara, kameramen, kuli angkat junjung super sibuk sementara yang akan disebut orang adalah artis yang hanya muncul sesaat. kalo memang mengeluh jadi pemain belakang, kenapa tidak beralih profesi jadi artis saja..?aku bisa ngomong gini karena kerjaanku memang di belakang layar yang jarang dipuji manajemen saat sistem lancar dan produksi meningkat tapi seringkali dicaci maki hanya karena sebuah email nyangkut tidak terkirimkan. stres itu pasti. tapi bukan alasan untuk menyepelekan pekerjaan. kalo mumet dah ga ketahan yo mending minta cuti buat setor buntut ke rumah…

  38. rawins said: memang kaya gitu umumnya orang kita…ruangan server yang seharusnya paling steril aja suka jadi tempat ngumpet dan ngadem oleh karyawanuntuk ke staf, aku lebih gampang mengaturnyayang susah tuh kalo bos datang inspeksi sambil terus ngebul yang kemudian jadi pembenaran oleh kroco kroco dibawahnyabener tuh ucapannya. cari karyawan yang sehat saja jangan yang stres…

    Bos juga manusia, punya salah ya ditegur. Jangan mentang mentang bos trus dinengke wae. Bila perlu dibabat lebih kenceng, bos kok ngasih contoh jelek. Ngomong emang enak ya. Percayalah, aku sering ngadepin gitu. Risikonya emang rawan dipecat, tapi aku gak takut. Rejeki udah diatur Gusti Allah. Kalau bos emang salah ya dilawan. Lebih baik dipecat tapi punya harga diri dan kepala tegak ketimbang masih kerja tapi dengan muka tertunduk dan jadi pengecut.

  39. rawins said: dah ngintip setengah jam, kok belum dikomenin juga ya..?

    memang kaya gitu umumnya orang kita…ruangan server yang seharusnya paling steril aja suka jadi tempat ngumpet dan ngadem oleh karyawanuntuk ke staf, aku lebih gampang mengaturnyayang susah tuh kalo bos datang inspeksi sambil terus ngebul yang kemudian jadi pembenaran oleh kroco kroco dibawahnyabener tuh ucapannya. cari karyawan yang sehat saja jangan yang stres…

  40. rawins said: dah ngintip setengah jam, kok belum dikomenin juga ya..?

    hushhh… berisik.lagi moco komen2nya nih. Ada pihak2 dari ATC yang ngasih masukan. Ntar aku copas sekalian.

  41. itsmearni said: wuaaaaaaaaa pengen ngamuk rasanya baca inihaduh jadi deg2an deh klo mau naik pesawatmembayangkan ATC nya kayak gini :-((((

    dah ngintip setengah jam, kok belum dikomenin juga ya..?

  42. itsmearni said: wuaaaaaaaaa pengen ngamuk rasanya baca inihaduh jadi deg2an deh klo mau naik pesawatmembayangkan ATC nya kayak gini :-((((

    waduh abis baca komen2nya yg dicopsin mb evickckck……….buaknnya malu ya kerja gak profesionalmalah minta dimaklumi *geleng-geleng*

  43. itsmearni said: wuaaaaaaaaa pengen ngamuk rasanya baca inihaduh jadi deg2an deh klo mau naik pesawatmembayangkan ATC nya kayak gini :-((((

    Astaga..bgitu to keadaan disana..yg sring naik pswt hrs knceng doanya..kok ptugasnya slebor bngt ya, alesane stres trus..btul kt pak dahln klo stres di rmh saja..gila..

  44. itsmearni said: wuaaaaaaaaa pengen ngamuk rasanya baca inihaduh jadi deg2an deh klo mau naik pesawatmembayangkan ATC nya kayak gini :-((((

    wooooo.. dikritik kok marah yaaaa… padahal kalo ada tanda dilarang merokok ya jangan merokok. itu pada biaa baca ngga sih?*gemeesssss

  45. itsmearni said: wuaaaaaaaaa pengen ngamuk rasanya baca inihaduh jadi deg2an deh klo mau naik pesawatmembayangkan ATC nya kayak gini :-((((

    Emang kalau ngamuk2 protes didengerin mereka?Perasaan orang2 bandara pada bebal, sependek pengalamanku keluar masuk bandara.Pengumuman tentang bebas fiskal tempatnya tersembunyi, ntar tau tau ada orang datang nawarin jasa, yang tentunya gak murah. Berbekal pengalaman itu, tahun tahun berikutnya nyiapin fotokopi yang banyak. Belum lagi urusan pajak barang2 masuk yang informasinya simpang siur gak jelas.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s