Balada besek besek

Beberapa saat lalu saya memunguti sejumlah besek di rumah sepupu saya di Jogjakarta. Sewaktu ditanya untuk apa, saya jawab akan saya bawa pulang ke Amerika dan digunakan untuk wadah bumbu dapur. Melongolah si saudara sepupu. Karena katanya besek besek tersebut sejatinya akan masuk tong sampah. Wedehhh…. Kalau orang Jawa bilang, leles.
Sepulangnya dari rumah mereka, si sepupu minta maaf karena gak bisa memberi oleh oleh yang pantas. Saya bilang, besek besek tersebut adalah oleh oleh dan merupakan barang berharga buat saya. Apalagi saat ini relatif sulit untuk mendapatkannya.

DSC_0058editlabel

Hal ini mengingatkan saya akan sebuah peristiwa di Jakarta, beberapa hari sebelum saya berada di rumah sepupu di Jogja itu. Saat itu sedang ada acara kopi darat Multiply, akhir bulan Juni. Untung makan siangnya saya berinistiatif memesan makan siang dalam kotak dengan menggunakan besek sebagai kotaknya dan alas makanan dari daun pisang. Pokoknya tak ada unsur kertas dan plastik sama sekali. Ternyata bukan hal yang mudah. Setelah mencari ke sana ke mari, pihak katering mendapatkan besek namun dengan harga yang minta ampun mahalnya. Sepasang besek (wadah dan tutupnya) dihargai 10ribu rupiah. Menurut teman saya, di Jogjakarta hanya 500rupiah per biji, kalau dengan tutupnya seribu rupiah. Cari untungnya kebangetan. Walhasil kamipun memesan dari Jogjakarta. Untungnya, ada mbak Niez waktu itu sedang ke Jogja jadi bisa sekalian nitip. Sedih juga sebetulnya karena besek yang buatan tangan dan ramah lingkungan dihargai lebih murah ketimbang kertas (berapa pohon yang kudu ditebang) dan plastik yang tidak ramah lingkungan. Saking murahnya, setelah digunakan masuk ke tong sampah. Wedehhh …

DSC_0026editlabel

Besek, karung goni, karung tepung dan sejenisnya kalau sudah masuk Michaels (toko kerajinan) dan Pier 1 Import (toko peralatan rumah tangga kelas tinggi), bikin geleng geleng kepala karena mahal. Buat saya, rugi deh beli di toko toko tersebut wong saya bisa mendapatkannya dengan mudah dan murah di tanah air.

Tadi siang saya mendapat kiriman barang langka, cemilan khas dari kampung bapak saya, Parakan Temanggung. Macam macam cemilan yang berbahan dasar singkong dengan bentuk bervariasi dan nama lucu lucu. Ada slondok, lentheng, puyur. Saya sudah memperkirakan apa isinya karena sudah dapet bocoran sebelumnya. Yang membuat saya mak nyesssss saking terharu, barang barang tersebut dibungkus dalam besek. Selain makanan, ada pisau cap Gareng buatan Kusman di Kudus. cap Gajah buatan Kusman di Mbareng, Kudus. Ini mungkin gegara si pengirim tahu kalau dapur saya cuma punya dua pisau. Hahahahaha.
Elhadalah, begitu suami tahu kalau ada pisau ini, malah dipake untuk makan steak, padahal itu pisau dapur.

Terima kasih Elika Rosilawati yang sudah mengirim paket harta karun ke ndeso Duluth. Tadi sore beberapa criping langsung saya goreng. Enggak banyak, hanya pengen tahu apa bedanya antara slondok, puyur dan lentheng. Selain dari bentuk tentunya.

food beseklabel

Advertisements

32 thoughts on “Balada besek besek

  1. di rumahku daerah sleman py kebun bambu. Ada bambu apus (buat besek) dan jg bambu petung (bs buat bikin rumah2 unik. Yang jelas kalo musim rebung…wow…banyak sekali rebungnya. dimasak gudheg jg enak, sayur lodeh jg mak nyus….dibikin megono jg uenak luar biasa. Juga buat isi lumpia…. uenak nan.

      • Coba pesan ke Jogja, atau ke Madiun kalau butuhnya banyak dan pengiriman teratur. Hunting ke pasar pasar.

        Dulu aku belinya di pasar Pacarkeling yang darurat. Entah sekarang, coba cari di dalam pasar Pacarkeling.

  2. hi mbak… pa kabar? duh udah aku follow dari dulu napa nggak pernah masuk di reader aku yah? sik ileng karo saya kah mbak? syukurlah nemu kembali di komen teman2.

    keknya salah satu gambar besek itu ada yg dibuat dari daun pandan yah? yg buat tikar ituuu. klo yg dari bambu mah sering.

    • Alhamdulillah kabar baik. Hmm… kenapa ya gak pernah masuk? Lho balik bertanya malahan 😀
      Itu bambu semua, gak ada yang pandan. Kalau pandan lebih lemes dan tipis.

  3. Dulu kalau dapat berkat selametan pake besek ginian.. bisa jadi wadah bumbu, berganti kemudian besek dr plastik, tempat bumbu pun ganti.. eeeh skrng malah pake kerdus.. tempat bumbu gak ganti kerdus 🙂

  4. Dulu mah kalo orang selametan, nasinya diwadahin pake besek. Sekarang gak pernah lagi saya nemu yang begitu. Termasuk di kampung saya di tasik, selalu dus yang dipake.

    Jadi mana yang lebih enak antara slondok, puyur dan lentheng?

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s