Berkelana dengan Sandra, menyusuri Ulos Batak

Selama berjalan bersama Sandra sering aku berfikir bahwa dia memang “gila”. Belum pernah kujumpai dalam hidupku seorang ilmuwan seperti dia, membuat riset di satu daerah selama bertahun tahun lalu mengembalikan lagi hasil risetnya kepada daerah yang ditelitinya”.

DSC_0018edit

Larik larik kalimat di atas adalah cuplikan dari buku “Berkelana dengan Sandra. Menyusuri Ulos Batak”. Sebuah buku yang ditulis oleh MJA Nashir. Sandra Niessen, yang menjadi tokoh utama dalam buku tersebut adalah seorang antropolog berkebangsaan Kanada yang kini bermukim di Belanda. Buku tersebut berkisah tentang perjalanan “pulang kampung” Sandra di Tanah Batak.

Pulang Kampung?
Kenapa Pulang Kampung? Bukankah Sandra berkebangsaan Kanada?

Tahun 1979 Sandra pernah tinggal di tanah Batak untuk melakukan penelitian tentang tenunan Batak. Saat itu Sandra masih mahasiswa. Dalam melakukan penelitiannya, Sandra benar benar melebur dengan masyarakat dan tinggal bersama mereka dalam waktu yang cukup lama. Bahasa Batakpun sudah dikuasainya.

Seusai penelitian di tanah Batak, Sandra kembali ke negaranya dan menyelesaikan pendidikannya. Namun bukan berarti penelitian ulos Batak juga usai karena Sandra masih melakukan riset demi riset yang terkait dengan ulos Batak. Dan puncaknya di tahun 2009 kerja keras penelitiannya selama 30 tahun adalah sebuah masterpiece berupa buku “Legacy in Cloth: Batak textiles of Indonesia”

30 tahun adalah kurun waktu yang tidak bisa dibilang sebentar. Banyak hal telah terjadi. Meskipun begitu, Sandra memiliki pemikiran bahwa masyarakat Batak terutama para penenun yang menjadi sumber informasi penelitiannya berhak untuk mendapatkan hasil penelitiannya. Sandra menyadari bahwa ia baru akan benar benar tuntas bila telah menyerahkannya kepada para penenun Batak yang telah membantu penelitiannya (Prakata dari Sandra Niessen halaman ix).

Bukan hal yang mudah, sebab hasil penelitiannya yang berupa buku “Legacy in Cloth:Batak textiles of Indonesia” ini beratnya sekitar 3 kg dan terdiri dari 568 halaman setiap eksemplarnya (informasi ini saya baca di buku “Berkelana dengan Sandra. Menyusuri Ulos Batak” pada bab 2 halaman 17 – Menuju awal mula). Padahal Sandra bermaksud membagikan sebanyak 40 eksemplar (Bab 1 halaman xv – Pembuka). Selain berat buku tersebut juga tidak murah. Harga di Amazon sekitar USD 170 belum termasuk ongkos kirim, bahkan ada yang mematok USD 290.57 (info: http://www.amazon.com/gp/offer-listing/9067183156/ref=tmm_hrd_new_olp_sr?ie=UTF8&condition=new).

Itu sebabnya perjalaan Sandra menuju tanah Batak untuk menyerahkan hasil penelitiannya kepada sumber sumber informasinya dinamakan proyek Pulang Kampung, memulang kampungkan hasil penelitiannya.

Mampukah Sandra melakukannya? Dengan melakukan perjalanan Pulang Kampung ini, tuntaskah pekerjaan Sandra?

Jawabannya bisa ditemukan dalam buku “Berkelana dengan Sandra. Menyusuri Ulos Batak”. Melalui tulisan MJA Nashir yang menemani Sandra dalam proyek Pulang Kampung ini kita diajak untuk menyaksikan nasib dan masa depan ulos Batak, Bukan hanya itu saja, tetapi kita akan menyaksikan kepedulan yang tinggi dan cinta yang mendalam dari seorang Sandra akan ulos Batak.

DSC_0014edit

Buku ini tidak dipasarkan melalui toko buku melainkan lewat penulisnya langsung.Saya sendiri belum pernah bertemu muka dengan MJA Nashir maupun Sandra. Sebuah kecelakaan kecil yang menyenangkan telah mempertemukan kami dan berujung dengan melayangnya buku “Berkelana dengan Sandra. Menyusuri Ulos Batak.”

Saat ini saya juga sedang menanti kiriman masterpiece Sandra “Legacy in cloth: Batak Textiles of Indonesia.” Saya merasa beruntung karena bisa mendapatkan masterpiece tersebut dengan harga sangat bagus (USD 70), masih di situs Amazon.

DSC_0013edit

Advertisements

20 thoughts on “Berkelana dengan Sandra, menyusuri Ulos Batak

  1. Salam dari Parapat,
    saya ingin bertanya,
    harga buku Legacy in Cloth berapa?
    Dan dari mana saya bisa membelinya dengan mudah?
    mohon bantuannya,
    diatei tupa (terima kasih)

  2. Salut byat Sandra. Masalahnya sekarang, ada nggak orang kita yg bisa memanfaatkan hasil kerja keras Sandra untuk mengembangkan ulos? Jangan sampai nanti orang luar pula yg mengambil manfaatnya dan kita cuma bisa melongo.

    • Yang memanfaatkannya masih banyak, bahkan sangat dibutuhkan karena ulos Batak dipake dalam segala aspek kehidupan orang Batak, seperti kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Konon katanya setiap marga memiliki motif masing masing dan begitu juga setiap keperluan. Kemana selama ini orang2 Batak yang membutuhkan ulos untuk acara2 tsb? Ya beli.
      Coba bayangkan kalau sudah tidak ada lagi penenun ulos, mau menggunakan apa untuk acara2 tsb?

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s