Cina adalah Asia tetapi Asia tidak selalu Cina

Sebentar lagi di kotaku – Duluth, Minnesota – akan ada Celebrate Asia, sebuah festival budaya yang disponsori oleh Duluth Public Schools. Festival ini didanai oleh pemerintah melalui APCC (Asia Pacific Cultural Center) dan diadakan secara rutin setahun sekali di salah satu sekolah.

Semenjak aku jadi penduduk Duluth (2007) sampai tahun lalu (2012) tema yang diusung gak jauh jauh dari RRC, dekorasi berbau RRC, poster dan flyer bahkan tarian pembukanya selalu tari barongsai. Satu kali aku pernah protes sama koordinator APCC, kenapa temanya itu itu melulu. Gantian tema dari negara lain, India kek, Malaysia kek, Jepang kek, Thailand kek atau kakek kek, Asia kan gede dan banyak negaranya gak melulu RRC. Protesku ditindak lanjuti di penyelenggaraan tahun berikutnya. Dekorasi panggungnya ada gambar siluet Menara Kembar Kuala Lumpur dan pagoda. Lumayanlah ada perubahan walaupun tarian pembukanya tetep aja barongsai. Mungkin karena kolosal dan heboh, sehingga tetep dirasakan cocok sebagai tarian pembuka festival. Walaupun mungkin dari negara negara lain ada yang heboh dan kolosal tetapi belum ada yang tahu atau belum ada yang yang berminat untuk tampil.

Tahun ini (2013) koordinator APCC sudah ganti, yang lama – orang Malaysia -mengundurkan diri dan penggantinya adalah orang Taiwan. Aku sebagai salah satu anggota komite APCC, diundang untuk rapat rutin yang diadakan sebulan sekali dan salah satunya adalah membahas Celebrate Asia. Salah satu anggota komite – seorang pelajar Malaysia program PhD – bersedia membuat disain poster dan flyer. Di rapat berikutnya, disain yang sudah jadi dibawa dan kemudian disandingkan dengan disain dari pihak Public School yang dibuat oleh salah satu pegawainya.

Hampir semua yang hadir di rapat tersebut menyukai disain si pelajar Malaysia karena warna warni eye catching dan mewakili beberapa negara. Di situ ada layangan khas dari Malaysia, rumah bagonjong dari Sumatra Barat (ada peserta rapat dari Thailand bilang kalau bangunan itu mirip dengan bentuk bangunan khas di Thailand), kipas (bisa khas dari Jepang maupun RRC). Berbeda dengan disain bikinan pegawai Public School yang hitam putih dan hanya berornamen khas dari RRC. Akhirnya sebagian besar peserta rapat sepakat untuk menggunakan disain si pelajar Malaysia.

Keesokan harinya aku dapat kabar dari si pelajar Malaysia bahwa disainnya tidak dipakai, sang koordinator akan menggunakan disain poster dan flyer dari pihak sekolah yang disainnya melulu berornamen RRC dengan alasan, karena disain itu dirancang oleh seorang pegawai sedangkan sang mahasiswa Malaysia hanyalah tenaga sukarela. Hidih…geram dong rasanya. Alasan yang menurutku mengada ada.  Tetapi yang membuatku heran, gak ada satupun yang protes.

Jadi inget beberapa peristiwa yang aku alami beberapa kali.

Peristiwa 1
A: Where are you from?
B: Indonesia
A: Where is that?
B: The country that is in Asia continent
A: You’re not look like Chinese
B: ????

Peristiwa 2
A: Where are you from?
B: Indonesia
A: I like travelling. Someday I want to go to your country India.
B: I’m not from India. I’m an Indonesian.
A: Ohh. In…errrrr what India?
B: Tape deeeee
A: What did you say?
B: Nothing *sambil cengengesan*

Peristiwa 3
A: What country are you from?
B: Indonesia
A: Oh, I’ve been in India before.
B: I’m not from India but Indonesia.
A: Oh I know that. I’m just telling you that I’ve been in India. India and Indonesia are close by, right?
B: Deket dari mBulan kali
A: Say again?
B: mBulan. Do you know mBulan?
A: ???????

Peristiwa 4
Beberapa tahun lalu aku mendaftarkan diri pada organisasi International Student di kampus dan salah satu tugasnya adalah memandu mahasiswa mahasiswa asing yang baru datang untuk orientasi. Suatu hari salah satu koordinator memberi tahu ada mahasiswa dari Korea yang baru saja datang dan aku diminta membantunya. Pemberitahuan itu datang melalui email. Dan isinya adalah:

“…Evia is going to be your mentor, and she is from China…”

What?????

Di peristiwa terakhir (4) sudah kulayangkan email balasan yang berisi koreksi bahwa aku bukan dari Cina melainkan Indonesia, tapi entah emailku dibaca atau enggak, tetep aja si pengirim menjelaskan ke pihak mahasiswa yang kubantu bahwa aku dari Cina. Repot emang ngadepin orang bebal.

Peristiwa demi peristiwa yang aku jabarkan di atas, mustinya bisa diminimalisir dengan cara memberikan edukasi dan penerangan, dan salah satunya adalah melalui Celebrate Asia, festival yang berlangsung setahun sekali.

Kembali ke disain Celebrate Asia. Karena gak ada yang protes, akupun melayangkan surat protes lewat email, dengan bahasa yang diperhalus dan tanpa menyebut kelompok kelompok tertentu. Intinya aku tidak setuju dengan disain yang hanya mewakili salah satu kelompok di Asia karena Asia terdiri dari beberapa negara. Selain itu misi dari Celebrate Asia yang memperkenalkan budaya dari berbagai macam negara menjadi kabur dengan hanya menampilkan salah satu kelompok saja.

Alhamdulillah protesku mendapat respon positif, disain menggunakan rancangan si mahasiswa Malaysia dengan sedikit modifikasi yang tidak terlalu mengganggu keseluruhan.

Celebrate Asia!

Advertisements

25 thoughts on “Cina adalah Asia tetapi Asia tidak selalu Cina

  1. kemarin di China sebulan juga kalo ditanya dari mana, dijawab dari Indonesia mereka nangkepnya India, padahal Indonesia sama India kan jauh banget ya, perlu dikasih peta kali ya mereka itu

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s