Ujian mengemudi sepeda motor

Ujian mendapatkan SIM cukup sekali seumur hidup saja. Setelah SIM di tangan, kudu selalu ingat untuk memperpanjang sebelum masa berlakunya habis. Kalau enggak, ya mulai proses dari awal termasuk ujian.

Bagi perantauan beda negara seperti saya, ujian sekali seumur hidup sepertinya gak bisa diterapkan karena SIM Indonesia gak berlaku di sini [Hamiriki Similikithi, negara dimana sekarang saya tinggal].

Jadilah saya berusaha mendapatkan SIM di sini. Karena SIM mobil adalah hal umum, ya saya ngambil SIM mobil. Setelah SIM mobil di tangan, saya merasa tidak perlu untuk mendapatkan SIM motor. Mulanya begitu.

Saya mulai terpikir untuk mendapatkan SIM motor setelah ada lowongan keliling Indonesia dengan sepeda motor. Cihui banget kan. Mau gak mau ya kudu punya SIM motor. Meskipun lowongan tersebut akhirnya tak bisa saya dapatkan, siapa tahu kesempatan yang sama bakal menyusul [Amin ya Robbal Alamin] dan pada saat itu saya  sudah memiliki SIM motor.

Terakhir ujian SIM C [surat ijin mengemudi sepeda motor] waktu saya masih SMA. Itu artinya puluhan tahun silam. Dah tuek ya. Ujiannya kolektif, kayaknya waktu itu dah pasti lulus. Lupa detilnya gimana. Setiap 5 tahun sekali, SIM diperbaharui, sehingga detil ujiannya banyak yang lupa.

SIM Indonesia saya sudah mati, dua duanya, baik SIM A [SIM Mobil] maupun SIM C. Gak masalah. Toh kalau mudik, udah ogah bawa mobil. Kemana mana naik angkot atau motor. Bukan motor sendiri tapi motor pinjaman. Kalau ke luar kota rame rame baru naik mobil, itupun nyewa mobil dan termasuk sopir. Ogah nyetir mobil, karena bawa mobil di Indonesia kayak uji nyali. Lah emang dari dulu begitu, kenapa sekarang dipermasalahkan? Adaaaaa yang komentar begitu. Bahkan ada seseorang yang komentar kalau saya sombong, mentang mentang sudah di Hamiriki. Saya sudah terbiasa dengan kedisiplinan mengemudi di sini, sudah beradaptasi dengan cara membawa kendaraan secara  beradab dan sesuai aturan.

Setiap kali mudik, kalau bawa motor hati gak nyaman, kuatir kalau ada razia. Kalau ketangkep gak lucu. Tapi mau ngurus SIM di Indonesia rada mikir karena salah satu syaratnya pake KTP dimana KTPku dah mati pula. Kudu ngurus dari awal, begitu pula SIM, kudu diurus dari awal termasuk ikut ujiannya.

Yang paling memungkinkan dan efisien adalah ujian SIM di sini. Kenapa begitu? Karena saya tinggal di sini, tentunya lebih mudah kan. Ngurus SIM di Indonesia, bukannya gak mungkin tapi sulit dan birokrasinya ribet. Pertama ngurus KTP dulu. Setelah KTP kelar, ngurus SIM yang prosedur awalnya sama seperti ngurus KTP. Itu artinya ngurus mulai dari RT, RW, Kelurahan, dst. Hadeuhhh ngebayanginnya udah males duluan.

Trus kapan berleha leha? Saya mudik ke Indonesia untuk senang senang, bukan untuk ribet urusan birokrasi. Cukup sekali saja berurusan dengan birokrasi di Indonesia waktu paspor saya habis masa berlakunya. Itupun karena memang pengen mencoba pelayanan imigrasi di Surabaya yang konon katanya sudah lebih baik. Nyatanya, saya dipingpong kemana mana. Meskipun saya berhasil mengurus sendiri dengan gagah berani, tapi embel embel berantem dengan petugasnya yang saya gak suka. Capek hati.

Balik ke urusan SIM motor.

Langkah pertama, ujian tertulis di kantor DMV [Samsat kalau di Indonesia]. Sebelum ujian, saya latihan mengerjakan soal. Soal soalnya banyak tersedia di internet, salah satu yang terlengkap di situs http://driving-tests.org/minnesota/minnesota-motorcycle-permit-practice-test/, hampir semua negara bagian ada. Setelah puluhan kali latihan, dan berakhir dengan sukses, saya melangkah dengan mantap ke kantor DMV. Apakah harus latihan ujian? Gak harus sih, kalau udah merasa mahir dan tahu. Karena soal soal ujian yang keluar, sama persis dengan yang diujikan nantinya.

Meskipun saya latihan ujian, tetep aja gagal. Ujian yang kedua, baru lolos deh. Syaratnya, harus bener 80%. Kurang dari itu, ya ujian lagi. Mengulangi ujian sampe dua kali, masih gratis. Kalau sampe yang ketiga dan seterusnya, kudu bayar.

Langkah berikutnya, ujian praktek. Bisa langsung, bisa sekolah dulu. Untuk amannya saya sekolah dulu aja deh, karena ujiannya pake motor gede, rata rata minimal 200 CC. Bujubuneng gede banget menurut saya. Maklum ya biasa bawa motor bebek 100 CC.

Sekolahnya tiga hari.

Hari pertama, pelajaran di kelas. Kami belajar tentang beragam aturan, tips dan trik mengemudi kendaraan dan anatomi sepeda motor secara umum. Di akhir hari pertama ada ujian. Fiuhhh ujian lagi ujian lagi. Soalnya 50, salah maksimal 10 soal. Kalau gagal, boleh mengulang. Saya salah 10. Passss banget. Mepet.

Hari kedua, belajar di lapangan dengan menggunakan sepeda motor dari pihak penyelenggara. Muridnya dibatasi, maksimal 12 orang. Di kelas saya mayoritas laki laki. Perempuannya lima dan yang paling tua usianya sekitar pertengahan 50. Canggih juga ya. Motor yang digunakan rata rata 250 CC. Ada yang 200 CC tapi jenisnya dual sport [lebih dikenal dengan motor trail kalau di Indonesia]. Saya pake motor biasa, Suzuki GZ 250 CC,  bukan dual sport, karena kalau pake dual sport kaki saya gak nyampe karena motornya tinggi meskipun motornya lebih langsing dan ringan. Padahal alasan utama saya ambil SIM motor supaya bisa bawa dual sport. Ya sudahlah, ntar beli dual sport yang pendek.

Kami belajar benar benar dari dasar. Mulai bagaimana cara menaiki sepeda motor dengan benar, menyalakan dan mematikan mesin dengan benar, pindah gigi yang benar, ngecek mesin yang benar,  pindah jalur lalu lintas yang benar dan sebagainya. Hari kedua cuaca kurang bersahabat, tapi untung gak hujan. Cuma mendung dan sedikit berangin.

Hari ketiga cuaca memburuk. Hujan datang dan pergi, sesekali diselingi dengan jatuhan es dan angin ribut.. Menggigil kedinginan, sudah pasti. Lengkap rasanya penderitaan. Saya sudah berharap kelas bakal dibatalkan. Rasanya hadeuhhh tak tertahankan, saya sudah gak kuat. Terpapar hujan, menggigil, tangan kaku kedinginan tak berasa apa apa, meskipun badan terlindungi lengkap. Suhu udara meroket turun. Ternyata kelas jalan terus.

Peralatan perlindungan tubuh menjadi syarat mutlak, seperti helm, pelindung mata, sarung tangan, jaket, celana panjang dan sepatu boots yang minimal menutupi mata kaki. Helmnya juga gak boleh sembarang helm, kudu helm yang sudah lulus uji yang ditandai dengan stiker bertulisan DOT [Department of Transportation]. Gak memakai alat perlindungan tubuh, alamat disuruh pulang dan artinya gak lulus ujian.

Latihan praktek di hari ketiga semakin sulit tetapi juga semakin asik. Kami belajar belokan S, belokan U, tikungan tajam, melewati gundukan, dan mengerem tiba tiba. Yang terakhir ini rada sulit, karena jalanan licin oleh air hujan plus butiran butiran es batu. Kalau kurang trampil bisa terpeleset dan jatuh. Yang paling susah adalah belokan S.  Di sini saya bolak balik gagal. Kalau ndak kaki turun menginjak tanah, atau berbelok di luar kotak.

Dua jam menjelang berakhir, ujianpun dimulai. Dannn.. pengujinya adalah dua orang yang tadinya memberi pelatihan. Kali ini mereka bukan bertindak sebagai pelatih yang baik hati dan super perhatian tetapi berubah menjadi penguji yang galak dan tanpa kompromi. Siapapun yang tidak mengenakan alat pelindung tubuh dengan benar, langsung out, gagal ujian tanpa pertanyaan. Siapapun yang motornya terguling, langsung out tanpa basa basi meskipun awal awalnya mulus melewati berbagai rintangan.

Benar benar menegakkan peraturan. Dari 11 peserta latihan dan ujian, sudah dua orang yang gugur. Gugurnya dengan alasan yang jelas, motornya terguling pada saat berhenti mendadak. Alasan  jalan licin karena hujan tak bisa diterima. Toh yang lainnya juga bisa mulus melewati ujian ini tanpa terguling.

Sisa peserta yang tinggal 9 orang melewati segala rintangan dengan mulus tanpa perlu terguling.

Ujiannya berupa melewati belokan S, berhenti tiba tiba, ngepot dengan tiba tiba demi menghindari sesuatu dan tanpa mengurangi kecepatan dan belokan tajam. Dari semua materi ujian, yang paling susah saya lakukan adalah belokan S. Di titik ini saya kehilangan poin lumayan banyak. Saya sudah merasa bakal nggak lulus.

Setelah semuanya selesai, lantas berkumpul di kontainer. Dipanggil satu persatu dan diberitahu saat itu juga lulus atau tidaknya, plus dikasih tahu berapa nilainya. Rata rata kehilangan nilai 5 ke atas. Tapi gak ada yang sampe kehilangan nilai 10.

Tiba giliran saya, dengan suara cemas dan pasrah saya bertanya “Am I passing?” Pelatihnya cengar cengir gak yakin “I try to figure out” sambil ngitungin nilai di lembar penilaiannya.

Ketegangan menunggu yang membuat otot2 menegang dan tak rileks berubah menjadi lemas lunglai serasa tulang dilolosi semua saat si penguji sekaligus pelatih itu berkata ” You made it!! Congratulation!!”

Saya kehilangan poin 19, sedangkan maksimal poin yang hilang sebagai syarat kelulusan adalah 20. Fiuhhhhh… mepetttttt sekali. Dan saya kehilangan poin terbanyak di belokan S. Sudah saya duga. Sudahlah kaki menginjak tanah, beloknyapun tak pas di dalam kotak. Apakah motornya kebesaran? Entahlah.

Untungnya, kehilangan poin di materi ini, terkompensasi dengan materi materi lain yang bisa saya lewati dengan mulusssss… semulus kulit bayi, seperti berhenti mendadak, dengan menggunakan dua rem dan ganti gigi sekaligus, poin saya mulus di sini. Begitu juga di materi ngepot menghindari sesuatu tanpa menurunkan kecepatan, muluss sekali. Ah pokoknya Alhamdulillah deh.

Terbayar sudah, pengorbanan menggigil kedinginan terpapar hujan es, dari paha ke bawah basah oleh hujan, dan pulang membawa kelulusan. Besoknya, saya langsung ke kantor AAA untuk mengurus SIM Internasional. Dari sana langung ke kantor DMV untuk minta perubahan SIM lama supaya sepeda motornya bisa diendorse.  Yihaaaaaa.

Salah satu pesan dari pelatih / penguji yang saya ingat, selesai mengikuti pelatihan safety motorcycle ini, kalian akan lebih hati hati dalam mengendarai mobil.

Dan memang betul, setelah diperhatikan dan dirasakan aturan mengendarai motor lebih ketat dibanding mengendarai mobil. Bisa mengendarai motor, sudah tentu bisa mengendarai mobil. Bisa mengendarai mobil, belum tentu bisa mengendarai motor. Indikasinya, untuk mendapatkan SIM motor, kudu menunjukkan SIM mobil. Tanpa itu, jangan harap bisa ikut ujian SIM motor.

SIM Internasional. Terdiri dari 15 halaman dan 10 bahasa internasional. Terlihat capnya dua biji, karena satu untuk sepeda motor dan satu untuk  mobil. Masa berlakunya satu tahun saja.

SIM Internasional. Terdiri dari 15 halaman dan 10 bahasa internasional. Terlihat capnya dua biji, karena satu untuk sepeda motor dan satu untuk mobil. Masa berlakunya satu tahun saja.

 

Halaman belakang SIM keluaran sini.  Ada keterangan: endorsement motor cycle dan fire arm. Kalau gak ada keterangan apa apa, ya berarti cuma SIM mobil doang.  Nantinya punya saya akan tertulis : endorsement motorcycle.

Halaman belakang SIM keluaran sini. Ada keterangan: endorsement motor cycle dan fire arm. Kalau gak ada keterangan apa apa, ya berarti cuma SIM mobil doang.
Nantinya punya saya akan tertulis : endorsement motorcycle.

Advertisements

35 thoughts on “Ujian mengemudi sepeda motor

  1. Lebih ribet dari Indonesia ya urusan urus mengurus SIMnya..puas tp udah dptnya ya, jadi inget juga dulu dpt sim C jaman kuliah ya pakai SIM yg kolektif gitu..

  2. enkoos said:
    Bisa mengendarai motor, sudah tentu bisa mengendarai mobil. Bisa mengendarai mobil, belum tentu bisa mengendarai motor. Indikasinya, untuk mendapatkan SIM motor, kudu menunjukkan SIM mobil. Tanpa itu, jangan harap bisa ikut ujian SIM motor.

    Saya baru tahu di sana ada aturan seperti itu.
    Ngomong-ngomong… di sana kalo nembak, ada gak, atau gak mencolok sekali, atau memang gak ada? Kalo gak ada.. wah keren itu.

    • Ndak ada cak Iwan, memangnya Indonesia yang budaya nembak dah lumrah.

      Kalau gak lulus, ya gak lulus aja. No question, no basa basi. Mau anaknya jendral, mau anaknya walikota, gak ada pengecualian.

      Kalau kena tilang, kalau emang salah, ya ngaku saja. Tinggal bayar di bank. Kalau gak terima telah melakukan tilang, kudu datang ke pengadilan, adu argumentasi di sana. Kalau argumentasinya diterima, gak bayar tilang. Tapi kalau enggak, ya kudu bayar.

      Di sini gak ada tembak2an, gak ada sogok2an, birokrasi juga gak mbulet.
      Ngurus KTP [ID Card] cukup datang di kantor DMV, serahkan persyaratan dokumen yang diminta. Udah itu aja. Itu baru salah satu contoh saja [KTP]. Belum aku jabanin tentang ngurus paspor, ngurus anak sekolah, dsb. Gak ribet.

      Kalau bisa dipermudah, kenapa dipersulit.

      • syarat kelulusan sim di indonesia. soal wajib betul 60% saja.

        kursus mengemudi ada, tapi tidak diwajibkan. kalo di jepang (yang aku baca di Conan. eh di sponge bob juga) itu wajib, sebelum ambil sim.

        • Di Amerika, kursus mengemudi juga bukan kewajiban. Aku ambil kursus karena merasa perlu.

          Ada untungnya, karena pake mobil dari pihak penyelenggara kursus. Begitu juga motor, pake motor dari pihak penyelenggara, dan menggunakan motor gede yang 250 cc.

          Sebelum ambil kursus ini, aku belum bisa mengendarai sepeda motor cowok, apalagi motor gede. Nah ini kesempatan buatku untuk belajar.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s