Jatah bagasi vs gembolan gak mbejaji

Alhamdulillah, nyampe juga akhirnya di rumah dengan selamat setelah sekian lama keluar dari zona nyaman.

Capek? Jelas iya.
Puas? Ah manusia mana ada puasnya. 3 bulan lebih liburan, masih aja terasa kurang. Masih banyak hal yang ingin dilakukan dan tempat yang ingin dikunjungi. Tapi biarlah, itu untuk tabungan liburan berikutnya, supaya ada alasan untuk berkunjung lagi.

Jetlag?
Entahlah. Lho? Iya, karena saya tukang molor sampe sampe dijuluki pelor [nempel molor]. Siang hari mengantuk, bisa tidur sampe lama. Entah ini efek jetlag atau karena suka molor. Kalau jetlag, kenapa malamnya bisa tidur, meskipun baru bisa merem jam 12 ke atas.

Dua tahun sekali mudik ke tanah air, benar benar saya manfaatkan dengan maksimal. Bertemu teman teman, para sahabat dan handai tolan, selain juga menikmati setiap jengkal tanah air, tentu saja.

Benar benar maksimal, karena sekembalinya ke Amerika, gembolannya segambreng memanfaatkan jatah bagasi yang luar biasa banyak. Ogah rugi.
Kenapa bisa banyak?
Karena KSB pemegang Diamond Medallion di SkyMiles, yang jatah bagasinya 3 x 70 lbs [32 kg], total 96 kg. Sedap!

Kenapa KSB bisa punya Diamond Medallion? KSB sering melakukan perjalanan dinas, ya domestik ya internasional. Keanggotaan diSkyMiles terbagi dalam beberapa kategori, yang paling rendah Silver dan yang paling tinggi Diamond. Menghitungnya berdasarkan jarak tempuh dan harga tiket. Semakin panjang perjalanannya dan artinya semakin sering terbang dan semakin mahal harga tiket yang harus dibayar, semakin banyak pula tabungan poinnya.

Bagaimana dengan saya? Cukup puas dengan jatah 50 lbs [23kg]. Jadi total jatah bagasi untuk tiga orang [KSB, saya dan Menique] 142 kg[96 kg + 46 kg].

Sayang dong jatah bagasi 142 kg dibiarkan menganggur begitu saja. Dan biasanya yang memanfaatkan jatah bagasi bukan KSB, tapi saya. Kesempatan dong, kapan lagi mengangkut barang barang dari Indonesia dengan mudah dan murah.

Sayangnya saya gak bisa seenak jidat membawa bawaan karena dilarang membawa buah segar, tanaman, biji2an untuk ditanam, maupun makanan yang mengandung daging.

Larangan itu tentu memiliki dasar. Saya pernah membaca di situs US Customs & Border Protection, bahwa di tahun 1980an pernah ada wabah lalat buah di negara bagian California. Pemerintah menggelontorkan biaya sekitar 100 juta dolar Amerika untuk menumpas wabah tersebut. Apa yang menyebabkan wabah tersebut? Seorang penumpang pesawat membawa buah yang telah terkontaminasi.

Kali lain, saya membaca artikel yang berbeda namun kasus yang mirip. Wabah penyakit tanaman yang menyebabkan kerugian jutaan dolar. Setelah ditelusuri, pembawa hama tersebut adalah penumpang pesawat. Konon kabarnya, hama tanaman tersebut memiliki predator alami di tempat asalnya. Akhirnya, predator alami dari hama tersebut didatangkan dari negara asalnya.

Pepatah “dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung” relevan dipakai di sini. Rindu makanan kampung? Ya bikin sendiri aja, toh bahan bahan mentah tersedia melimpah di Amerika. Sekaligus mengasah kemampuan membuat makanan tanah air. Kepengen buah buahan tropis? Nikmati saja selagi di tanah air. Kepengen punya tanamannya sendiri? Beli aja bibitnya online. Ndak perlu repot repot bawa bibit dari tanah air. Risiko kalau ketahuan pihak CBP [Customs and Border Protection] akan dibuang ke tempat sampah. Beruntung kalau hanya dibuang ke tempat sampah saja, bahkan bisa kena denda yang jumlahnya gak sedikit. Bahkan mungkin malah dideportasi.

Sewaktu tiba di bandara di Amerika dan antri pemeriksaan barang bawaan, di depan saya ada 2 penumpang. Tampang Asia. Yang satu laki laki, bepergian sendirian. Semua tasnya dibongkar abis oleh petugas. Saya melihat petugas menenteng dua bungkusan plastik, yang satu berisi bulet bulet ijo, seperti jeruk nipis. Satunya lagi entah apa. Dari hasil nguping [bukan sengaja ya, tapi emang tempatnya terbuka], si penumpang enggak declare kalau membawa makanan. Kena denda deh, dan petugas gak mau tau meskipun si penumpang mengaku gak membawa uang cash sejumlah denda. Si penumpang disetrap di pojokan sampe dapet duit dendanya, entah bagaimana caranya.

Satunya lagi penumpang perempuan, bertiga. Bawaannya bukan koper tapi beberapa kotak kardus segede gajah. Lagi lagi dibongkar abis. Banyak sekali barang segar di sana, daun daunan dan entah apa lagi.

Saya sendiri bagaimana?
Aman deh. Saya declare apa aja bawaannya, termasuk makanan. Dan makanan yang saya bawa, bukan termasuk dalam daftar larangan.

Jadi apa aja yang saya bawa sampe 142 kg?
Bawaan segambreng dari Indonesia yang paling menyita tempat adalah buku.. Koper yang berisi buku, beratnya 26 kg. Sisanya baju baju, pisau, bumbu masakan dan makanan.

Ada 37 biji buku. Belum termasuk beberapa yang ditinggal di Surabaya karena sedang dibaca ibu.

Ada 37 biji buku. Belum termasuk beberapa yang ditinggal di Surabaya karena sedang dibaca ibu.

1. Bawang goreng [titipan teman, tapi saya juga beli untuk saya sendiri. Bawang gorengnya lebih enak ketimbang bawang goreng sini]
2. Ragi tempe [ini juga titipan teman]

3. Oleh oleh dari penduduk di kampung Tarak, Papua. Metik dari kebun sendiri. Ada kripik pisang, kripik keladi, kenari mentah, kenari telor [seperti kacang telor tapi kacangnya pake kenari] dan biji pala.

Tentang biji pala, sebetulnya saya berniat membeli.
Dua tahun lalu [2012] waktu saya kesana pertama kali, saya pernah mengutarakan untuk membawa pala. Semalam sebelum kepulangan saya, tahu tahu nongol dua kantong plastik besar berisi pala. Ah saya jadi rikuh. Itu makanya tahun ini [2014], saya gak bilang kalau pengen bawa pala [lagi]. Angga, Pengajar Muda yang sedang bertugas di Tarak, mengantarkan saya ke seorang petani, pedagang sekaligus pengepul pala di kampung. Saya bilang kalau saya akan membeli pala.

Saya [S]: Sa mau beli pace pu pala.
Pengepul [P]: Berapa karung?
S: Hah? Berapa karung? Sekarung ajagak nyampai. Sekilo saja, untuk oleh oleh.
P: Ah, kalau cuma sekilo ndak usahlah. Nanti sa pu anak antar ke rumah. Dann… malamnya pala diantar ke rumah bapak desa. Bukan sekilo tapi 2.7 kg.

4. Oleh oleh dari teman teman dan sayang kalau ditinggal [bumbu gado gado, mente goreng]
5. Rengginang Madura.
6. Vanilla bean.

Selain itu saya juga bawa barang gak mbejaji. Mungkin gak mbejaji buat di Indonesia, tapi bagi saya di sini, barang berharga. Ada pisau dapur[beli di pasar]. Ada anyaman bambu berbentuk pincuk, besek kampung, besek Bali, barang barang dari batok kelapa [sendok nasi, sendok, sayur], suthil kecil buatkue, mug kopi dari enamel, kobokan enamel. Ada juga parang, kalau ini bawaannya KSB, karena kepincut sama orang orang di Tarak yang kemana mana bawa parang. Dari anak anak sampe orang dewasa. Nah kan, gak mbejaji tho.

[4] Barang bawaan-002

Nah kan, gak mbejaji tho 😀

Terima kasih kepada teman teman yang sudi meluangkan waktu bertemu dengan saya di tengah kesibukan kalian. Terima kasih kepada teman teman baru atas uluran tali silaturahminya. Selama berada di tanah air, saya mohon maaf apabila kurang merespon sms,inbox maupun komentar yang ditujukan untuk saya, karena sering berada di jalanan atau tak ada sinyal.

Advertisements

14 thoughts on “Jatah bagasi vs gembolan gak mbejaji

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s