40 days in Europe

Kisah kelompok musik Indonesia menaklukkan daratan Eropa, penulis : Maulana Syuhada

“Kalian tidak akan pernah menginjakkan kaki di Eropa”

40 days in Europe

Buku ini berkisah tentang sekelompok anak muda yang berjuang untuk melakukan pertunjukan angklung kolosal keliling Eropa. Misi mereka adalah berpartisipasi dan berkompetisi di festival festival bergengsi di negara negara di Eropa dan menggondol penghargaan, sekaligus mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Sebagian besar dari mereka masih duduk di bangku SMA. Masih muda sekali tetapi semangat juangnya luar biasa.

Bagaimana tidak, memberangkatkan sekian banyak pemain angklung membutuhkan biaya yang tidak sedikit sedangkan mereka tidak memiliki dana yang memadai.

Mereka mulai bergerilya untuk mencari sponsor. Setelah mendapat dana yang cukup, mereka bisa fokus mempersiapkan pertunjukan. Nampak mudah.

Cerita mulai menarik, saat sponsor utama menarik diri hanya berselang beberapa minggu menjelang keberangkatan. Disinilah kekompakan mereka diuji.

Pendaftaran sudah dilakukan, begitu juga pemesanan tiket pesawat, penginapan dan transportasi selama mereka di Eropa dan segala tetek bengeknya sudah dilakukan dengan detil. Membatalkan keikutsertaan? Sudah terlanjur keluar uang banyak. Lagipula betapa malunya kalau sampai dibatalkan. Nama baik bangsa dipertaruhkan. Tak ada kata menyerah.

Tanpa memengesampingkan peran para anggotanya, Maulana Syuhada, si penulis, memiliki peran yang bisa dibilang sangat kunci. Enggak heran kalau kang Maul, panggilan akrabnya, diangkat sebagai koordinator grup ini. Kang Maul banyak berperan sebagai pembangkit semangat teman temannya. Salah satu contohnya, sewaktu tim hampir putus asa dan di ambang kegagalan untuk berangkat karena ketiadaan dana, dengan tenang kang Maul memompa semangat. Bagaimana caranya? Jualan suvernir, CD dan berbagai barang Indonesia. Bisakah? Diitung secara kasar, rasanya enggak mungkin karena targetnya terlalu tinggi, enggak realistis. Tetapi dengan optimis kang Maul menjawab “bisa”.

Pada akhirnya memang terbukti, target mereka enggak realistis, dan itu baru diungkapan kang Maul setelah rombongan tiba di Eropa. Tentu saja mereka kaget. Jawaban kang Maul sederhana saja “itu kan jawaban saya sebelum kalian datang kemari. Kalau misalnya saya bilang nggak realistis dari kemarin, kalian enggak akan pernah jadi berangkat ke sini. Kalian enggak akan pernah menginjakkan kaki di Eropa.” [halaman 301]

Tambahan informasi, saat itu kang Maul sedang kuliah S3 di Jerman sedangkan grup angklung berada di Bandung. Kang Maul yang riwa riwi di Eropa dan aktif berkomunikasi dengan pihak pihak terkait festival yang akan mereka ikuti di Eropa.

Lantas bagaimana jalan keluarnya? Sudah terlanjur nyampe di Eropa, dengan dana yang tipis pula. Dari dana yang ada, hanya cukup sampai Inggris, sedangkan jadwal setelahnya masih menanti. Bisa bisa mereka menyeberang pulang dengan berenang.

Baru juga tiba di hari pertama, masalah demi masalah berhamburan. Mulai dari bagasi mereka yang tertinggal di Bahrain [dimana isinya adalah angklung dan alat musik lainnya]. , pintu bis yang tidak sengaja dirusakkan oleh anggota grup, visa yang tak kunjung selesai, peralatan musik yang tak bisa masuk ke dalam bis, jalan macet yang tak bisa diprediksikan dan beberapa yang lain.

Di sinilah daya juang dan kekompakan mereka diuji. Membaca kisah perjuangan mereka, singkat saja komentar saya “mereka tim gila, benar benar tahan banting, benar benar tim juara. Walaupun dengan jatuh bangun, darah dan air mata terkuras, tetapi penampilan mereka tetap prima dan mendapat pujian dimana mana.

Kisah mereka berakhir bahagia, menyabet penghargaan dan mendapat pujian di banyak festival bergengsi. Denger denger diantara anggota grup ada yang terlibat cinta lokasi dan berlanjut ke pelaminan. 😀
Kalau kata orang Jawa, witing tresno jalaran soko ngglibhet.

Di halaman halaman awal, ceritanya terasa membosankan, tapi saya bertahan untuk meneruskan membacanya karena feeling saya mengatakan ini buku bagus, kisahnya layak diambil pelajaran. Bahkan beberapa kali saya kudu kembali ke halaman halaman awal yang membosankan tadi, hanya untuk mencari garis merah dengan kisah berikutnya.

Gak menyesal saya sampe beli dua bukunya. Lho? Kok bisa?

Saat buku itu diluncurkan pertama kali tahun 2008, saya pernah memilikinya. Pernah, karena sekarang menghilang. Belum dibaca sampai selesai. Bahkan baru dibaca beberapa halaman, lantas tertinggal di mobil seorang kawan karena keteledoran saya sendiri. Si teman ini seorang pelupa, gak beda jauh dengan saya.

Setelah itu, setiap kali mudik ke Indonesia, ada niat untuk memintanya. Tapi ya gitu deh, selalu saja lupa sampai akhirnya terlupakan dengan sendirinya. Hingga satu saat di tahun 2013, tiba tiba teringat lagi gara gara sang penulis terlibat diskusi tentang “Save Maryam”.

Dengan nada pesimis, saya menghubungi si penulis, siapa tahun masih menyimpan kopi buku tersebut, maklum sajalah, sudah 5 tahun berlalu. Ah yang namanya rejeki, Alhamdulillah masih ada, malah beberapa teman ikut memesan. Kali ini dapet bonus tanda tangan plus tali silaturahmi dari penulisnya langsung. Keren kan.

Lebih keren lagi, karena kisah mereka akan difilmkan. Rencananya, bersamaan dengan filmnya, akan diterbitkan pula bukunya [lagi]. Kata penulisnya, akan ada editan di bagian awal awal, yang katanya membosankan itu 🙂

Advertisements

22 thoughts on “40 days in Europe

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s