Berburu pekerjaan di Amiriki Similikithi [2]

Mestakung [2]

Mumpung lagi leyeh leyeh, mumpung lagi banyak persediaan makanan sisa potluck kemaren [jadi gak perlu masak kan], mumpung lagi nggak kerja, mari lanjuttt ceritanya.

Sampai mana kemaren?

Oh sampe cerita tentang kerjaanku yang sekarang ya?

Sebelum diterima jadi Ramp Agent, aku bekerja di beberapa tempat sekaligus, tadinya pegang tiga kerjaan.

Kerjaan pertama jadi on call sushi chef [dipanggil kalau dibutuhkan saja]. Kerjaan ini aku pegang sejak 2007. Tempat kerjanya berada di dalam superkampret, tetapi manajemennya berbeda dengan manajemen superkampret. Statusku di situ on off, maksudnya keluar masuk kayak umbel. Pemiliknya ganti, aku ya brenti kerja. Kalau pemilik baru sudah datang, biasanya nggak lama kemudian aku dipanggil atas rekomendasi dari superkampretnya. Dari tahun 2007 sampai tahun ini [2016] udah tiga kali ganti pemilik, dan tiga tiganya aku mengalami kerja bareng mereka.

Kerjaan berikutnya di superkampret dimana sushi itu nebeng. Jadi apa? Ngurusin kembang ama pernak pernik [gift shop]. Udah jamak kalau rata2 superkampret di sini jualan kembang potong dan buket. Dasar orang sini yang demen apa apa ngasih bunga, cocok dengan istilah [katakanlah dengan bunga]. Seneng ngliatin bunga2 seger yang dirangkai cantik cantik. Ditata di ember2 dengan rapi dan manis. Kerja jadi betah. Jadi aku kerja di dua kerjaan dalam satu atap dengan manajemen berbeda dan bayaran yang hm.. hmm.. juga berbeda. Mana yang paling tinggi? Yang sushi lah, karena gak dipotong pajak. Namun, sebagai warga negara yang baik semua pendapatan aku laporin ke pajak. Enaknya, di tempat sushi aku bisa bawa pulang sushi, entah bikin sendiri atau sushi yang gak laku dari penjualan hari sebelumnya. Ketimbang dibuang, aku bawa pulang.

Kerjaan ketiga jadi supir. Heh? Perempuan jadi supir?

Iya supir hotel pula, bukan supir perusahaan atau supir pribadi, dan bawa mobil gede yang kapasitasnya 11 penumpang plus tempat bagasi. Kerjaan utamanya antar jemput tamu hotel, kemanapun mereka inginkan selama masih dalam radius tertentu. Yah..namanya juga shuttle kan, gak mungkin juga nganterin mereka ke luar kota yang butuh waktu sampai sejam untuk mencapainya. Palingan ya sekitar Duluth ini aja. Sebagai kota turis, Duluth selalu sibuk di setiap musim, terutama musim panas. Setiap hari tamu gak brenti brenti, apalagi kalau ada event. Seperti misalnya tahun ini [2016], bakal ada Airshow dan Tall Ship Festival yang digelar di pertengahan musim panas. Selain itu ada acara tahunan GrandMa Marathon yang mampu menyedot belasan ribu turis, baik itu pesertanya maupun penontonnya. Dari minggu kedua bulan Desember 2015, kamar sudah penuh terisi untuk gelaran Grand Ma Marathon. Denger denger lari marathon ini salah satu favorit pelari, karena udaranya sejuk meski dilaksanakan di musim panas dan larinya di sepanjang garis pantai danau air tawar terbesar di dunia, danau Superior.

Selain musim panas yang bisa dipastikan rame setiap harinya, di musim musim lain tak kalah ramenya, biasanya di saat libur sekolah dan akhir minggu seperti di musim gugur, musim pertandingan hockey, musim dingin, musim semi. Kalau hari biasa di luar musim panas, ramenya pas kalau ada rapat, konferensi dan semacamnya.

Selain antar jemput tamu, tugas utama lainnya adalah antar jemput para awak udara [air crews]. Semua penerbangan komersial yang terbang ke Duluth maupun dari Duluth, para awak udaranya menginap di hotel tempatku bekerja.

Nah karena kerja jadi supir hotel inilah aku dapet kerjaan jadi ramp agent, dimana informasinya gak sembarangan keluar kalau gak bener bener mencari di belantara internet dengan kata kunci yang tepat.

Gimana kok bisa tahu informasinya?

Nah ceritanya, saat itu aku lagi menjemput awak udara yang akan datang. Kebiasaanku adalah menunggu di dalam bandara ketimbang menunggu di mobil. Kalau sopir sopir yang lain biasanya nunggu di mobil saja. Kalau aku enggak, soalnya dengan berada di dalam bandara, aku bisa mainan hape [karena di dalam ada wifi]. Kalau sedang musim dingin, di dalam bandara lebih hangat ketimbang nyekukruk di dalam mobil. Hal penting lainnya, aku bisa ngobrol sama beberapa penumpang yang lagi nunggu bagasi turun. Begitu para awak udara mulai turun dari tangga [dari jauh mah mereka udah keliatan jelas karena baju seragamnya, jadi gampang dikenali], seringkali mereka tolah toleh melongokkan kepala melihat keluar, nyari nyari mobil hotel yang sekujur tubuhnya dicat logo hotel gede gede [gampang mah dikenali dari satu kilometer]. Aku yang siap di bawah tangga langsung dadah dadah ke mereka [SKSD] ber hai hai dan menggiring ke mobil. Itu kebiasaanku.

Nah saat itu, kota Duluth berkabut selama hampir 3 hari 3 malam. Kabut sangat pekat, jarak pandangnya cuma dua meter saja. Akibatnya, hampir semua pesawat ditunda berkali kali dan bahkan sebagian besar diantaranya dibatalkan. Diriku yang biasanya sudah nongkrong di bandara karena mengantar awak udara ke bandara, dan menunggu kedatangan awak udara berikutnya, kepaksa ikutan nunggu tanpa tahu kepastian kapan pesawat akan datang. Kalau keterlambatannya berlarut larut, biasanya aku balik lagi ke hotel.

Saat itu larut malam, selain awak udara, ada beberapa penumpang yang kudu aku jemput. Saat menunggu, aku perhatikan banyak sekali koper teronggok tak bertuan di ban berjalan [conveyor belt]. Tak bertuan karena penumpangnya masih berada entah dimana, sedangkan bagasinya sudah terbang duluan. Penundaan atau pembatalan satu penerbangan, bisa mengakibatkan penerbangan lainnya juga ditunda atau batal. Domino effect. Tak berapa lama, seorang perempuan datang dengan mendorong troli, kemudian mengangkuti koper tersebut satu per satu dan ditumpuk di atas troli. Aku yakin seyakin yakinnya, perempuan itu salah satu petugas bandara. Masak iya koper segitu banyak miliknya? Tandanya, si perempuan itu berkalung tanda pengenal bandara.

Tanpa banyak cakap, aku geret koper koper sisanya dan ditumpuk di dekat si perempuan itu. Troli udah penuh, gak muat lagi. Seorang lelaki di belakangku mengikuti perbuatanku dengan menggeret koper koper lainnya.

Melongolah si perempuan itu [belakangan kami berkenalan dan namanya adalah si A], “ini punyamu tah bagasi bagasinya?” Ya tentu saja aku jawab “Enggak. Lah aku kan cuma mbantu kamu tho, bagasi sehohah gini digeret sendirian.”

Langsung sejuta pujian keluar dari mulutnya dan membuatku bingung mau jawab apa. Untuk menutupi mukaku yang mekrok kembang kempis, aku bilang aja kalau angkat angkat koper mah pekerjaanku sehari hari sebagai sopir hotel. Meskipun enggak wajib, dan enggak diminta, penumpang akan senang. Apalagi kalau penumpangnya banyak, dan semuanya bawa bagasi, kudu supir yang mengatur bagasinya supaya bisa masuk semua dan tertata rapi. Kalau penumpangnya sendiri yang masukin bagasi, biasanya gak pake aturan. Main brak bruk aja asal masuk dan gak mau tau bagasi penumpang lainnya. Penumpang senang, aku juga senang karena aku anggap latihan angkat beban plus dapet tips. Hahahahaha…. Genap sebulan jadi supir, lenganku kenceng pek, bisa buat banting krupuk.

Secara sambil lalu, si A bilang kalau bandara butuh tambahan pegawai dan menawarkan posisi kepadaku. “Mau ya kerja di bandara?” Tawaran itu bukan ditujukan kepadaku saja, tetapi pada seorang lelaki di belakangku yang membantu menggeret geret koper tadi. Sepertinya si lelaki enggak tertarik. Aku aja yang antusias menjawab.

“Hah serius nih?”

“Bener serius. Mau ya?”

Gak pake nunggu lama, aku jawab “iyaaaaaaa.” Lantas aku digiring ke bagian check in, dan si A menghilang ke dalam. Tak lama kemudian muncul dengan secarik kertas yang berisi nama situs dimana aku kudu melamar.

Wohooo….Inikah yang namanya kebetulan yang sudah diatur Sang Maha Mendengar?

Mestakung = semesta mendukung

Pulang kerja, langsung aku menjelajah ke situs dimaksud. Bingung juga awalnya, kemana kudu ngeklik ya. Posisi apaan yang bakal aku lamar, namanya aja kagak mudeng. Ubek ubek kesana kemari, baru ketemu kalau posisi yang lowong namanya ramp agent. Beuhhh jabatan apa pulak itu. Baca deskripsinya, wahhhh kayaknya menarik sekali, seperti yang sudah aku jelaskan di Mestakung bagian pertama.

Singkat cerita, akupun melamar, dan beberapa minggu kemudian diwawancara. Kok ya ndilalah yang mewawancara si A sendiri plus seorang supervisor. Si A ini ternyata posisinya lumayan tinggi, setingkat manajer gitu deh.

Berbeda dengan cara mendapatkan kerjaan di ramp agent, sewaktu mendapatkan informasi lowongan supir hotel, aku tahunya dari situs dimana banyak orang udah negatif thinking duluan, Craigslist. Di situs itu, hotelnya cuma broadcast aja, ngasih tahu ada lowongan, sedangkan ngelamarnya kudu ke situs resmi mereka.

Yang bikin KSB takjub, selama ini belum pernah ketemu shuttle driver perempuan, dan sekalinya ada bojone dewek. Dari lima supir di tempat kerjaku, dua diantaranya perempuan. Hotel hotel lain di kota Duluth, sejauh yang aku tahu juga laki laki, belum pernah ketemu supir perempuan. Kalau supir taksi perempuan pernah ketemu beberapa kali.

Lantas setelah diterima jadi ramp agent, gimana kerjaan supir hotel? Dan juga sushi chef? Juga ngurusin kembang di superkampret?

Hoahemm… Turu maning

Advertisements

6 thoughts on “Berburu pekerjaan di Amiriki Similikithi [2]

  1. Halo mbak. Kayaknya orang surabaya/jawatimur nih kalo diliat dari dialeknya kalo nulis blog haha. Omong2 saya juga ramp agent juga loh di soekarno hatta. Dulu juga pernah kerja jadi juru masak di restoran juga. Ngeliat tulisan mba e ini jd pingin kerja masak lg, tapi sayang di soetta gaada cerita bisa ngatur shift huhu. Disini ada 3shift masing2 8jam kerja. Salam kenal mbak

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s