Festival Makanan Indonesia

Setelah menunggu selama empat tahun, kini aku bisa hadir. Pada akhirnya aku bukan hanya sekedar hadir, tetapi ikut terlibat di dalamnya. Sebuah kehormatan dan tentu saja merupakan pengalaman yang sangat seru.

Ada sejumlah meja, dan aku tak sempat menghitungnya. Terlanjur kalap mendatangi lapak demi lapak untuk memesan ini dan itu.

Tak ada lapak yang berjualan makanan yang sama. Jadi semisal si A terkenal dengan telor ceplok, ya dia jualan telor ceplok. Meskipun si A juga bisa membuat telor dadar, tapi karena ada si B yang dikenal dengan telor dadar bikinannya yang ciamik, dan buka lapak di sana, si A gak diijinkan berjualan telor dadar. Misalnya begitu.

Pengunjung yang baru pertama kali datang diuntungkan dengan hal ini, karena gak perlu bingung dengan barang yang sama di beberapa lapak.

Hal lainnya, bahwa transaksi dilakukan dengan kupon, dengan demikian kontrol penjualan bisa terpusat. Banyak di antara mereka adalah pembuat makanan andalan yang memang sudak dikenal enak. Nah, mengenai transaksi dengan kupon ini, ada yang berkomentar “merepotkan.”

Kenapa?

Karena kudu menghitung jumlah perolehan kupon. Kalau jualannya sedikit, menghitung peroleh kupon mungkin bisa cepat. Tapi kalau jualannya banyak, kupon yang didapat ada satu tas belanjaan besar, ngitungnya sangat memakan waktu. Kalau pake duit, ngitungnya cepet.

Tentunya panitia punya alasan tersendiri kenapa kudu pake kupon.

Beberapa jenis makanan yang dijual cukup langka dan sulit ditemukan, kalau bukan di tanah air. Semisal tape, baik tape singkong maupun tape ketan item. Iyaaaa, tape sebetulnya gampang, bisa bikin sendiri selama ada ragi. Katanya lagi, di beberapa negara bagian dimana banyak tinggal orang Indonesia, masih bisa ditemukan penjual tape. Masalahnya, jarang yang jual ragi tape, dan aku tinggal di Minnesota, di Duluth lagi. Sudahlah Minnesota adalah negara bagian yang super dingin, orang Indonesianya gak terlalu banyak, eh akunya tinggal di Duluth, jauh dari kota besar. Jangankan restoran Indonesia, Asian Marketpun gak ada.

Di festival ini, sayangnya aku gak kebagian tape singkong, padahal lapak yang menjual tape singkong berada persis di sebelah lapakku.

Ada juga cabuk rambak, ini adalah pecel khas Solo dengan siraman bumbu hitam, karena bukan menggunakan kacang melainkan wijen hitam.

Selain itu ada tempe gembus, biasa disebut tempe menjes oleh kebanyakan orang Jawa Timur. Kalau tempe biasa sudah banyak yang jualan, bahkan bukan orang Indonesia saja, karena tempe mudah ditemukan di pasar pasar yang menjual bahan makanan organik. Banyak orang Amerika yang sudah jago membuat tempe. Tempe gembus ini buatan orang Temanggung yang bermukim di New York. Orangnya kreatif, lha wong atase cuma tempe gembus, kok ya niat niatnya bikin. Aku sendiri sebagai penggemar tempe gembus, mikir untuk bikin aja enggak, karena bahannya lumayan ribet, terbuat dari ampas tahu, artinya, bikin tahu dulu, dan kemudian ampasnya difermentasi persis seperti membuat tempe.

Dan bisa ditebak, yang pesan tempe gembus antrinya minta ampun. Bukan pesanan yang di bazaar ini ya, tetapi pesanan ke rumahnya. Menurut si pembuat tempe gembus, bahan bakunya didapatkan dari orang Korea.

Tak ketinggalan nasi gono, makanan khas dari Temanggung. Nasi dengan bumbu urap yang ditanak bersamaan, lantas dimakan dengan telor pindang, perkedel dan tak lupa rempeyeknya.

Di lapak jajanan pasar ada ketan dengan saus durian. Ketannya bukan sembarang ketan melainkan ketan biru. Ini termasuk makanan langka yang hanya ada di Jawa Tengah. Warna biru didapatkan dari bunga telang.

Mendampingi makanan makanan langka yang aku sebut di atas, tentunya ada juga makanan makanan populer yang mudah ditemukan, seperti pempek Palembang, masakan Padang, soto Betawi, nasi campur Bali, sate lilit, martabak telor, aneka gorengan, nasi goreng babat, bakso, gado gado dan lain sebagainya.

Di festival ini aku ketiban sampur membantu membuat klepon di lapak jajanan pasar, langsung di tempat, alias fresh from the panci. Jajanan pasar yang dijual berupa cenil [di Surabaya disebut klanthing], lupis ketan item, sentilin, ketan biru saus durian, rujak gobet [ada yang bilang rujak pasrah atau rujak serut], dan cireng mentah.

Festival dibuka teng jam 12 siang, gak ada jam karet. Awalnya masih sepi, tetapi semakin lama semakin membludak sampe sampe pengunjung harus antri untuk mendapatkan yang diinginkannya. Pengunjung yang datang cukup beragam, bisa dibilang 50 persen orang Indonesia, 50 persen orang non Indonesia.

Festival ditutup jam 5 sore, seperti tertulis di brosur yang telah disebar di beberapa tempat. Meskipun begitu, belum juga jam 4 sore bahkan masih jam 3 sore, hampir semua lapak ringkes ringkes karena jualannya habis bersih tak bersisa.

Satu hal penting yang perlu dicatat, bahwa hasil bersih dari festival ini disumbangkan untuk pendidikan anak anak nggak mampu di daerah Kalimantan. Setiap tahun pihak penyelenggara menyalurkan dana ke tempat yang berbeda tetapi kali ini karena keterbatasan waktu, dana disalurkan di tempat yang sama seperti tahun lalu. Mencicipi kuliner eksotis dan langka dari tanah air sekaligus beramal.

Bagaimana aku yang dari Minnesota bisa ujug ujug datang ke New York? Posisi Minnesota paling utara agak ke barat sedangkan New York di pesisir timur ke arah selatan. Lumayan jauh.

Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya, bahwa perlu waktu 4 tahun bagiku untuk mengunjungi festival makanan ini. Di tiga tahun pertama, meskipun aku selalu diberitahu tentang acara ini, sayangnya aku belum sempat berkunjung, walaupun saat itu aku puya waktu luang yang banyak [masih pengangguran bisa inclak inclik kemana aku suka]. Masalahnya adalah ke New York kan pake duit, bukan pake daun.

Tahun ini aku berkesempatan datang karena ndilalah aku bekerja di bandara di bagian ground handling, yang manajemennya dibawah salah satu maskapai penerbangan terbesar di Amerika, bahkan di dunia. Sebagai pegawai maskapai penerbangan tersebut akupun kecipratan benefitnya yaitu terbang gratis kemana saja tanpa perlu bayar sesenpun meskipun pajak *.

Tentunya kesempatan itu gak aku sia siakan, makanya begitu ada ajakan untuk mengunjungi festival makanan Indonesia tahunan ini, langsung aku iyakan, gak pake mikir. Jauh jauh ke New York cuma buat nyari makanan Indonesia?

Yeeee… aku kan bukan turis di sini. Jadi perantau bertahun tahun, ya wajar aja kalau kangen makanan tanah air terutama yang rumit rumit dan langka.

*Penerbangan domestik gak bayar apapun, dapet jatah bagasi sebanyak dua koli masing masing 50 lbs. Penumpang biasa kudu bayar $25 untuk koli pertama dan $35 untuk koli kedua, kecuali gratis untuk anggota Sky Priority sebanyak 3 koli.

Sedangkan penerbangan internasional, pada saat keluar dari Amerika tidak membayar apapun dan sekembali dari negara tujuan, dikenakan pajak yang nilainya berbeda beda tiap negara tergantung kebijaksanaan masing masing negara, contohnya United Kingdom pajaknya $100, jumlah yang sangat murah, apalagi kalau lagi beruntung, bisa duduk di First Class bahkan Business Class.

Karena gratisan, banyak pengalaman yang memacu adrenalin dan aku kudu pinter mensiasatinya.

Insya Allah bila gak males dan ada waktu akan aku tulis kisahnya.

Foto foto gak banyak, karena aku njaga lapak sekalian demo bikin klepon yang Alhamdulillah laris manis dikerubungi penggemar jajan pasar.

Ini tulisan lama, festivalnya Sabtu 30 April 2016. Baru sempet cerita sekarang setelah ubek ubek komputer, dan ternyata cerita ini ngendon sekian lama belum sempat diupload.

dsc_2681_smallres-copy

Makanan yang sempet aku beli dan dibawa pulang ke Duluth. Paling atas adalah rempeyek teri, rempeyek kacang, rempeyek kacang ijo dan sayur asem. Di bawahnya adalah rujak serut, nasi gono, gado gado, kering tempe. Di bawahnya lagi adalah gulai tunjang, sambel cumi dan cabuk rambak. Paling bawah adalah tape ketan item dan aneka gorengan (risoles, sosis solo, tempe menjes, martabak.

dsc_2630dsc_2632dsc_2639-dngdsc_2659

Advertisements

3 thoughts on “Festival Makanan Indonesia

  1. uih kalap rek kene panganan indonesoa tah byuh byuh nemen e rek
    cek sakno ne he he he
    lek ndek londo wes sampai mbelenger2 kabeh ono nggak ono seng gak ono asal gelem mbayar he he he
    yok opo kabat e cek anteng men gak tahu kirim2 kabar ceh ngoceh

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s