Berburu gorengan di New York

Judulnya gak elit banget, jauh jauh ke New York City cari gorengan. Hahahahaha… Bodo amat.

7 tahun lalu, di pertengahan tahun 2009, aku berdua Menik backpacking keliling Amerika menyusuri jalur kereta api Amtrak selama 50 hari. Aku melakukan riset selama setahun dan perencanaan yang sangat detil untuk melakukan perjalanan tersebut.

Riset yang cukup lama, mengingat aku lakukan di sela sela tugas sebagai mahasiswa dan ibu rumah tangga.

Riset yang cukup lama, karena aku ingin meminimalisir penggunaan angkutan pribadi [taksi, rental mobil dan sebangsanya], memaksimalkan penggunaan angkutan publik, menginap di penginapan murah seperti hostel [waktu itu couchsurfing belum populer dan airbnb belum lahir] atau perkemahan [camp ground].

Perencanaan yang cukup matang karena aku ingin mengunjungi sejumlah taman [national park maupun state park] yang sudah aku incar sejak lama. Sebisa mungkin menghindari kota kota besar. Kalaupun harus menapak di kota besar, hanya sekedar transit beberapa hari untuk melepas lelah. Salah satu kota besar yang terpaksa harus aku injak untuk sekedar transit adalah New York. Hanya 3 hari kami di sana, dan keputusan tersebut belakangan aku sesali.

Ada beberapa alasan mengapa aku menyesal hanya berada di kota New York beberapa hari, ceritanya ada di blog yang aku rangkum dalam beberapa episode saking panjangnya. Iya panjang karena New York meninggalkan kesan mendalam untukku.

Siapa sangka tujuh tahun berselang, di penghujung tahun 2015, aku bekerja di bandara di kotaku  di bagian ground handling, yang mana urusannya dipegang oleh salah satu maskapai penerbangan terbesar di Amerika [bahkan di dunia].

Hubungannya apa?

Karena sebagai pegawai maskapai tersebut, salah satu benefit yang aku dapat adalah aku bisa terbang bolak balik tanpa batas sebanyak aku mau ke berbagai belahan dunia sepanjang maskapai tersebut ada rute penerbangan ke sana[*], dan itu termasuk ke New York. Dua kali aku ke New York dalam kurun waktu kurang dari 40 hari. Dua duanya dengan tujuan utama berburu makanan.

Itulah sebabnya judul tulisan ini bisa muncul. Jauh jauh ke New York cuma buat cari gorengan. Belakangan bukan cuma gorengan yang aku dapat, tapi saudara saudara baru yang menawarkan tempat menginap, informasi tukang pijet, dan sejumlah pembuat makanan Indonesia yang sudah moncer enaknya.

Selain itu, karena New York adalah tempat berkumpulnya banyak etnis dari segala penjuru dunia, bejibun pilihan makanan otentik dari berbagai negara, tentunya dari Indonesia pula. Salah satu yang menjadi favoritku adalah Asian Taste 86. Di restoran inilah aku menemukan tahu campur.

Tahu campur adalah makanan khas Lamongan Jawa Timur, banyak dijual di Surabaya, dari kelas kaki lima, penjaja keliling kampung sampai kelas restoran. Nah, di Asian Taste 86 inilah, aku cocok dengan rasa tahu campurnya, persis plek seperti rasa tahu campur langgananku yang lewat depan rumah. Petisnya bukan petis mahal cap ny. Siok, meskipun petis ny. Siok enak sekali dan berkualitas tinggi, namun petis ini kurang cocok untuk bumbu tahu campur.

Belakangan si pemilik restoran Asian Taste bilang kalau petisnya dikirim dari California.

Sayangnya tahu campur ini bukan menu harian tetapi menu spesial yang artinya hanya dibuat di hari hari tertentu saja.

Kali pertama ke New York di tahun 2016 adalah mengunjungi Festival Makanan Indonesia, dan kali kedua adalah menjemput pesanan makanan, dan itu termasuk nyambangi restoran Asian Taste 86, setiap hari. Yang ketiga aku mengirim Menik sebagai kurir untuk menjemput makanan. Dia seneng seneng aja jadi kurir, bisa ketemuan dengan temannya dan berburu obyek foto di belantara New York.

Kok ndak bosen ya?

Yahhh jarang jarang dapet kesempatan makan makanan Indonesia. Iya, saya bisa bikin sendiri, tapi kalau anggota keluarga cuma tiga orang, sekali masak sering berlebih, dimakan besoknya rada males. Akhirnya masuk kulkas. Mending beli aja, toh gak terlalu sering. Sekalian memanfaatkan jatah terbang toh

[*] Penerbangan domestik gak bayar apapun, dapet jatah bagasi sebanyak dua koli masing masing 50 lbs. Penumpang biasa kudu bayar $25 untuk koli pertama dan $35 untuk koli kedua, kecuali gratis untuk anggota Sky Priority sebanyak 3 koli.

Sedangkan penerbangan internasional, pada saat keluar dari Amerika tidak membayar apapun dan sekembali dari negara tujuan, dikenakan pajak yang nilainya berbeda beda tiap negara tergantung kebijaksanaan masing masing negara, contohnya United Kingdom pajaknya $100, jumlah yang sangat murah, apalagi kalau lagi beruntung, bisa duduk di First Class bahkan Business Class.

 

Advertisements

10 thoughts on “Berburu gorengan di New York

  1. Ngebayangin bisa terbang bolak-balik itu… wow!

    Jadi prosesnya gimana mbak? apakah kita harus persiapkan jauh-jauh hari jatah seatnya, atau hanya bisa dilakukan dekat hari H (dengan pertimbangan, liat seats sisa/kosong).

    Ke New York sambil makan bakwan atau tahu isi enak banget ya 😀

    • Gak harus persiapan jauh jauh hari sih Yan. Gak bisa diprediksikan, karena sebaga nonrev [Non Revenue] standby yang analoginya kayak hitch hike tapi di udara, kalau ada seat kosong baru bisa pergi. Jadi kudu pinter pinter menyiasati.
      Misalnya:
      1. Jangan pergi pas lagi high season, summer misalnya. Perginya pas lagi low season seperti di waktu bukan liburan sekolah, banyak seat kosong.
      2. Jangan berangkat tengah hari tetapi berangkatlah di penerbangan paling pagi, bila perlu yang berangkatnya jam 4 atau jam 3. Biasanya banyak yang kosong.
      3. Jangan ambil direct flight bila memungkinkan. Jadi misalnya, kalau mau rute Jakarta – Medan, ambil yang muter muter, misalnya Jakarta – Semarang – Balikpapan – Medan. Itu misalnya. Yang penting nyampe kan.

      Makin sering terbang, makin tahu triknya.

      Gimana bisa liat seatnya kosong banyak atau malah minus?
      Karena kami punya akses ke sistem, bisa memantau seat di semua penerbangan. Penerbangan internasional bisa diprediksi beberapa bulan sebelumnya karena orang kan beli tiket internasional jauh jauh hari karena tiketnya lebih murah kalau beli jauh jauh hari.
      Ada salah satu coworkerku, kapan hari ke Itali. Dari MSP ke Roma ada penerbangan langsung, tapi dia milih lewat Boston. Jadi rutenya MSP – BOS – Roma, karena dia pengen dapet First Class. Direct flight MSP – Rome banyak seat kosong tapi ekonomi, nah yang BOS – Rome banyak first class kosong, Dapet deh dia.

      Ada lagi coworkerku yang lain, terbang ke Shanghai lewat LA, dapet First Class. Perginya pas bukan high season, jadi kalau beruntung bisa dapet First Class. Asik kan.
      Dan itu semua gratis bookkkk.

      Kalau tiket domestik, ini yang susah, booking seminggu sebelumnya kondisinya masih banyak seat kosong, eh begitu hari H, udah minus aja statusnya, belum lagi daftar nonrev standby yang panjangnya kayak ular.

    • Wah iya ya?
      Mau dong alamatnya, pengen banget mampir ke sana.
      kan repot ya kalau gak ada penginapan, mosok ketok ketok pintu tiap rumah warga minta nunut nginep.

    • Sayangnya mereka gak punya rute ke Indonesia. Di Asia Tenggara yang paling dekat dengan Indonesia, si maskapai terbang ke Singapore.

      Tetapi, kalau aku udah kerja setahun, mereka punya satu program dimana si pegawai bisa menggunakan maskapai lain yang ada kerja sama dengan maskapaiku, kalau ini gak gratis tapi tetep aja murah sekali. Kalau ndak salah, bayarnya $50 gitu deh. Dan kalau kami gak jadi terbang, duitnya dikembaliin.

      Kata temen kerjaku, ada puluhan maskapai yang tergabung dalam program ini, dan Garuda masuk di program ini loh. Jadi aku terbang ke Hongkong atau Jepang gratis, dari sana ke Indonesia terbang pake Garuda.

Leave a reply [Please don't spam but OOT is highly appreciated :P]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s